Kaskus

Story

yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
Pintu Mimpi (Prolog)
Pintu Mimpi (Prolog)


Bagaimana jadinya jika pintu ke Narnia itu memang ada? Tapi bukan sekadar dunia yang penuh makhluk aneh nan unik. Itu adalah dunia yang kau impikan. Melody Harris tak sengaja menemukannya, dan dia menemukan sebuah dunia yang betul-betul ia impikan. Mimpi yang merupakan kehidupannya yang sesungguhnya.

All rights reserved.
Yohana Ekky. 2018.

Karakter (berdasarkan urutan keluar):
- Melody Harris a.k.a Putri Miloslava Cuda

Keluarga Krasny
- Madeline Krasny
- Garreth Krasny
- Guinevere Krasny
- Terrence Krasny
- Kystof Krasny

Kerajaan Milos (Tahta)
- Putri Irenka Cuda
- Raja Bedoich Cuda
- Ratu Ladislava Cuda
- Pangeran Klement Cuda

Kerajaan Mocny
- Duta besar Matous Zeleznik
- Ksatria Bohumir Zeleznik
- Raja Honza Elias
- Pangeran Dominic Elias

Orang tua angkat Miloslava
- Paul Harris
- Jeanette Harris

INDEX:
#1 (Pertemuan)
#2 (Kehidupan Baru)
#3 (Sebuah Perjalanan Dimulai)
#4 (Jati Diri)
#5 (Terjebak)
#6 (Hubungan)
#7 (Usaha Melarikan Diri)
#8 (Melarikan Diri)
#9 (Merangkai Teka-teki)
#10 (Kebenaran Terungkap)
#11 (Menuju Garis Akhir)
#12 (Akhirnya)
#Epilog (Mimpi Yang Menjadi Nyata)
Diubah oleh yohanaekky 23-05-2019 15:33
someshitnessAvatar border
zixzaxfireAvatar border
indrag057Avatar border
indrag057 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
7.1K
47
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
#5
Pintu Mimpi #5 (Terjebak)

Semakin dalam, semakin jauh
Semakin aku ingin berpaling
Semakin aku tak dapat beranjak
Apa yang harus kulakukan?
-- Melody Harris


○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●

Aku duduk di sebelah Irenka, berhadapan dengan seorang pemuda yang mungkin seumuran denganku -- entah siapa dia, aku pasti akan segera mengetahuinya -- dan di sebelahnya duduk sang Ratu, serta di ujung meja ada sesosok pria yang tampak gagah -- meskipun seluruh rambutnya sudah berwarna abu-abu -- yang aku yakini adalah sang Raja. Kami semua duduk dalam ketenangan sampai akhirnya seseorang membuka percakapan.

"Sejak kapan kau pulang, Milos?" Raja bertanya padaku.

Sedikit terkejut membuatku gelagapan saat menjawab, "Uh, t-tadi pagi."

Raja mengangguk dan tersenyum. "Bagaimana dengan petualanganmu di luar sana? Kau menemukan sesuatu yang dapat dipelajari?" tanyanya.

Oh tidak. Apa yang harus kujawab? Jika aku menjawab ya, pasti aku akan mendapat lebih banyak pertanyaan yang mungkin dapat menjebakku sendiri, mengingat ucapan Irenka tadi di dalam kamar. Tetapi jika aku menjawab tidak, mungkin ada masalah lainnya.

"Ada apa? Mengapa kau terdiam begitu lama?" tanya Ratu. "Ada masalah?"

Mataku hampir lepas dari tempatnya mendengar pertanyaan Ratu. Irenka menyenggolku dengan kakinya seraya mengingatkanku agar tidak terlihat mencurigakan. "Tidak. Semua baik-baik saja. Uh, hanya saja terlalu banyak yang dapat diceritakan. Mungkin aku harus menulis buku."

Tak kusangka mendengar ucapanku, mereka semua tertawa.

"Lebih baik kau fokus saja pada penampilanmu bermain piano di acara ulang tahun duta besar dari Kerajaan Mocny. Jangan menulis buku. Barangkali ia akan menjadikanmu menantu jika ia menyukai permainan pianomu," pemuda yang duduk di hadapanku itu angkat suara dan tertawa.

Irenka berdecak. "Dasar kau ini, tukang ejek. Hei, Klement. Kau juga seharusnya sudah menikah sekarang. Dimana calon istrimu? Kau ini kakak tertua," ia ganti mengejek.

Baiklah. Jadi namanya Klement, dan ia adalah anak pertama di keluarga ini. Aku mengangguk-angguk sendiri tanpa sadar.

"Apa kau? Mengangguk-angguk, berkomplot dengan Irenka untuk menyerangku?" Klement meraih tanganku yang terletak di atas meja dan mencubitnya pelan.

Aku mengerang sedikit karena cubitannya cukup terasa.

Ratu memukul tangan Klement. "Kau ini," ucapnya mengingatkan.

Klement tertawa. "Ups, maaf adik kecil," ucapnya singkat.

"Baiklah. Sudahi candaan kalian. Ayo kita mengucapkan syukur." Raja menengahi. Dalam pimpinannya, kami semua menunduk sejenak untuk mengucap syukur sampai akhirnya menyantap hidangan yang ada.

Hidangan ini tampak berbeda dengan apa yang kulihat di rumah Madeline. Semuanya berwarna cerah sehingga menggugah selera. Dengan bantuan pelayan yang menuangkan beberapa menu makanan di atas piringku, aku menyantapnya dengan lahap. Makanan ini memang sungguh lezat.

"Ceritakan sedikit mengenai petualanganmu, Milos." Klement angkat bicara setelah ia selesai dengan makanannya.

Aku menelan ludah. Apa yang harus kuceritakan?

Ratu mendesis. "Klement, biarkan adikmu menyelesaikan makanannya lebih dulu." Ia mengingatkan.

"Ya, benar. Sebagai anggota kerajaan kita harus bersikap anggun. Tak boleh bicara saat makan belum selesai." Irenka menimpali.

Mendengar ucapan Ratu dan Irenka membuatku merasa lega. Ini adalah kesempatan untuk berpikir. Aku pun dengan sengaja memperlambat kecepatan makanku. Semakin lama, aku semakin dapat memikirkan apa saja yang ingin kuceritakan.

Seorang pria kurus dan tinggi yang kutemui tadi pagi di dekat pintu masuk menghampiri Raja dan membisikkan sesuatu padanya.

"Benarkah?" Raja kemudian menyeka mulutnya dan beranjak dari kursi.

"Ada apa, sayang?" tanya Ratu.

"Semuanya selesaikan makanan kalian dengan cepat. Kita kedatangan tamu penting." Raja memberitahukan.

"Siapa, pa?" tepat saat selesai meneguk minumannya, Irenka bertanya.

"Tuan Matous, duta besar Kerajaan Mocny." Raja menjawab.

"Oh? Baru saja kita membicarakan tentang dia," celetuk Klement. "Milos, bersiaplah."

Kukerutkan dahiku menanggapi gurauan Klement.

Raja meninggalkan ruang makan, diikuti oleh Ratu yang memberi wejangan kepada kami anak-anaknya agar juga bergegas. Klement menyusul meninggalkan aku dan Irenka berdua untuk menyelesaikan makan pagi kami.

Setelah selesai, kami keluar dari ruang makan. Tetapi kami tak segera pergi mengikuti Raja, Ratu dan Klement yang siap menyambut kedatangan duta besar itu. Irenka justru menarikku untuk mampir ke sebuah kamar yang tak jauh beda dari kamarku -- yang rupanya adalah kamarnya -- untuk merapikan diri. Ia berkata bahwa ia harus tampil cantik karena Tuan Matous pasti membawa putranya turut serta. Ia mengaku menyukai pemuda tersebut dan berharap untuk menjadi pendamping hidupnya.

Setelah merasa dirinya tampak mempesona, Irenka mengajakku untuk bergegas ke ruang tamu dimana Raja, Ratu, dan Klement sudah menunggu Tuan Matous dan putranya -- tepat seperti yang Irenka katakan.

"Selamat pagi, Raja Bedoich dan Ratu Ladislava, Pangeran Klement, Putri Irenka dan Putri Miloslava." Tuan Matous yang bertubuh gemuk itu membungkuk kepada kami diikuti oleh putranya.

Raja pun mengangkat tangan kanannya, menerima penghormatan yang diberikan oleh Tuan Matous. "Mari, silakan duduk Tuan Matous dan Ksatria Bohumir." Sesaat setelah Raja duduk, kami semua pun duduk. "Ada apa gerangan sampai Tuan Matous harus datang kemari secara langsung?"

Tuan Matous mengeluarkan tawa yang khas. "Ya Raja. Memang hamba memiliki tujuan khusus dengan datang kemari tanpa mengirim utusan," ia mengakui perihal kedatangannya. "Sebetulnya, Raja Honza dari Kerajaan Mocny, ingin meminang salah satu dari putri Raja Bedoich."

"Benarkah?" Raja tampak sedikit terkejut. Ia memandangan Ratu sekilas lalu kembali pada tuan Matous.

Sementara itu, Klement yang duduk di antara aku dan Irenka menyenggol kami masing-masing dengan kaki kanan dan kirinya. Kulihat Irenka menginjak kaki Klement sebagai balasan. Melihat tingkah mereka, Ratu melirik pada anak-anaknya seraya memberitahu agar bersikap sopan.

"Siapakah yang dimaksud oleh Raja Honza?" giliran Ratu bertanya.

"Putri Anda yang paling kecil, Putri Miloslava." Jawaban tuan Matous membuatku betul-betul tersentak.

Bagaimana ini? Mengapa semuanya menjadi rumit seperti ini? Besok aku sudah harus kembali ke rumah. Papa dan mama akan menjadi sangat khawatir padaku jika aku tidak kembali besok.

"Pada acara ulang tahun hamba lima hari mendatang, Raja Honza akan berbicara kepada Raja Bedoich secara langsung." Tuan Matous melanjutkan.

Raja Bedoich mengangguk. "Baiklah. Aku akan menunggu saatnya untuk dapat berbicara pada Raja Honza secara langsung," katanya. "Nah, bagaimana jika sekarang tuan Matous beristirahat? Perjalanan yang jauh pasti melelahkan. Pelayan akan menyediakan makan pagi untuk tuan Matous beserta Ksatria Bohumir."

Tuan Matous menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat. "Terima kasih banyak, Raja Bedoich, atas keramahan dan pelayanan yang diberikan kepada hamba."

Raja dan Ratu berdiri, diikuti oleh kami semua yang ada disana. Pria kurus dan tinggi yang pada akhirnya kuketahui sebagai kepala rumah tangga yang bernama Slavko menuntun Tuan Matous dan Ksatria Bohumir ke ruangan mereka atas instruksi Raja.

Saat mereka pergi, aku berpaling pada Irenka. "Bagaimana ini?" bisikku padanya. "Aku belum ingin menikah. Umurku masih 17 tahun."

"Yang merupakan umur sah untuk menikah." Klement menggoda. Ia membelai rambutku. "Adikku yang cantik, bersiaplah untuk memasuki bahtera rumah tangga."

Aku bergidik mendengar ucapannya. "Kau ini. Aku tak mau menikah," tanpa sadar volume suaraku terlalu keras hingga Ratu yang tadinya sudah berjalan pergi mengikuti Raja berpaling padaku.

Ratu kemudian berjalan menghampiriku. Ia meletakkan telunjuk tangan kanannya di depan bibir. "Jangan banyak bicara. Lebih baik diam saja. Karena tidak akan ada yang dirugikan disini, sayang. Percayalah." Ia membelai kepalaku lalu pergi lagi.

"Ingat, kalau mama sudah berkata seperti itu, berarti ia bersungguh-sungguh. Mungkin memang putra mahkota Kerajaan Mocny memang memiliki kualitas yang luar biasa." Klement lanjut menggodaku.

Aku mendesis. "Irenka, aku tidak mau menikah," aku mengadu padanya, berharap ia akan membelaku atau setidaknya sedikit menghiburku.

Tetapi Irenka justru melamun, entah apa yang dipikirkannya.

"Irenka!" aku berseru hingga membuatnya terkejut.

"Ada apa?" Ia sungguh-sungguh tak mendengar ucapanku rupanya.

"Lupakan saja," ucapku kesal.

Aku harus mencari cara agar rencana ini gagal. Mungkin, aku perlu melarikan diri.

○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Diubah oleh yohanaekky 23-05-2019 15:18
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.