- Beranda
- Stories from the Heart
Pintu Mimpi (Prolog)
...
TS
yohanaekky
Pintu Mimpi (Prolog)

Bagaimana jadinya jika pintu ke Narnia itu memang ada? Tapi bukan sekadar dunia yang penuh makhluk aneh nan unik. Itu adalah dunia yang kau impikan. Melody Harris tak sengaja menemukannya, dan dia menemukan sebuah dunia yang betul-betul ia impikan. Mimpi yang merupakan kehidupannya yang sesungguhnya.
All rights reserved.
Yohana Ekky. 2018.
Karakter (berdasarkan urutan keluar):
- Melody Harris a.k.a Putri Miloslava Cuda
Keluarga Krasny
- Madeline Krasny
- Garreth Krasny
- Guinevere Krasny
- Terrence Krasny
- Kystof Krasny
Kerajaan Milos (Tahta)
- Putri Irenka Cuda
- Raja Bedoich Cuda
- Ratu Ladislava Cuda
- Pangeran Klement Cuda
Kerajaan Mocny
- Duta besar Matous Zeleznik
- Ksatria Bohumir Zeleznik
- Raja Honza Elias
- Pangeran Dominic Elias
Orang tua angkat Miloslava
- Paul Harris
- Jeanette Harris
INDEX:
#1 (Pertemuan)
#2 (Kehidupan Baru)
#3 (Sebuah Perjalanan Dimulai)
#4 (Jati Diri)
#5 (Terjebak)
#6 (Hubungan)
#7 (Usaha Melarikan Diri)
#8 (Melarikan Diri)
#9 (Merangkai Teka-teki)
#10 (Kebenaran Terungkap)
#11 (Menuju Garis Akhir)
#12 (Akhirnya)
#Epilog (Mimpi Yang Menjadi Nyata)
Diubah oleh yohanaekky 23-05-2019 15:33
indrag057 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
7.1K
47
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yohanaekky
#4
Pintu Mimpi #4 (Jati Diri)
Aku harus mencari tahu siapa aku.
Mungkin aku bukan berasal dari dunia ini.
Mungkin semua ini hanyalah mimpi.
Tetapi aku akan menjalani kehidupanku disini...
sebaik mungkin.
-- Melody Harris
○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Semuanya berkilauan dan terang benderang, tetapi terangnya tak menyilaukan mataku. Bahkan sesungguhnya aku dapat melihat segala sesuatunya dengan jelas dan kupikir aku takkan pernah merasa bosan jika harus memandangi semua ini setiap hari.
Benar kata Madeline bahwa di sekitar Tahta terdapat banyak sekali makhluk yang unik dan menarik mata. Semenjak aku berada lebih dekat dengan Tahta, telah kulihat kuda putih bersayap, harimau putih bertotol ungu, burung elang berbulu merah, dan masih banyak lagi. Mengherankan bahwa aku mendapati semuanya ini begitu nyata.
"Kita sudah sampai, tuan Putri." Merpati itu berhenti melaju tetapi masih dalam posisi terbang.
Aku pun berhenti. "Baiklah. Tapi mengapa kita harus berhenti?"
Merpati itu tertawa.
"Mengapa kau tertawa?" kukerutkan dahiku.
"Tuan Putri memang suka bercanda. Rupanya benar apa yang orang-orang bicarakan tentang kau."
Aku hanya menyeringai, berpikir apakah aku memang orang yang seperti itu disini. Pasalnya aku lebih banyak menikmati candaan daripada menciptakannya dan membuat orang lain tertawa.
"Aku harap suatu kali nanti aku juga dapat masuk ke Tahta." Merpati itu terdengar sangat berharap, tetapi nada suaranya menunjukkan bahwa hal tersebut tidak mungkin dilakukan.
"Hei. Kau berkata aku adalah tuan Putri. Mengapa sebagai seorang tuan Putri aku tak dapat mengajak temanku masuk ke rumahku sendiri?"
Merpati tersenyum. "Jangan lakukan apa yang tidak disukai Raja, tuan Putri. Yang Mulia adalah seorang yang bijaksana. Ia tahu apa yang terbaik." Ia memberikanku wejangan singkat sekaligus sedikit informasi mengenai Raja -- yang mungkin ia maksudkan sebagai papaku.
"Memangnya adalah sebuah kesalahan jika seorang teman mengunjungi temannya?" aku masih ingin mengetahui alasannya. Aku sungguh tak mengerti.
Bahkan di duniaku saja aku menginginkan semua teman dekatku untuk dapat berkunjung ke rumah agar aku tak pernah kesepian. Tetapi sayangnya, ini satu-satunya hal yang papa dan mama tidak ijinkan. Jika disini aku juga tak dapat mengajak temanku untuk berkunjung, aku pasti akan merasa kesepian lagi. Bagaimana pula dengan Madeline dan keluarganya? Aku ingin mengajak mereka kemari. Belum lagi aku tak kenal siapapun disini.
"Masuklah, tuan Putri. Pasti seluruh anggota kerajaan telah menunggu kedatanganmu." Merpati mendorongku pelan dengan paruhnya.
Aku menggeleng.
"Nanti kita dapat bertemu lagi." Merpati itu meyakinkanku.
"Kau berjanji?"
"Iya, tuan Putri."
"Kapan?"
"Kau akan tahu. Masuklah." Merpati itu mendorongku lebih keras dan lucunya aku merasakan dorongan itu.
Dengan berat hati aku mengikuti perkataan merpati. Aku terbang lebih dekat kepada gerbang Tahta sambil sesekali menengok ke belakang pada merpati itu.
Ketika aku berada tepat di depan gerbang, suara berderit terdengar. Gerbang yang besar dan megah itu terbuka perlahan tanpa aku mengetuk atau berteriak atau memberikan tanda apapun agar gerbang dibuka, seolah-olah gerbang itu memang terbuka dengan sendirinya untuk aku. Kupikir pada awalnya ada penjaga di sekitar situ yang membukakan gerbang bagiku. Tetapi tak ada siapapun kecuali gerbang itu. Kulambaikan tanganku pada merpati saat aku masuk ke area Tahta dan gerbang mulai tertutup.
Tahta betul-betul tampak sangat megah dan indah. Di depanku terletak sebuah air mancur yang tinggi dengan hiasan berbentuk seorang pria berjubah yang sedang meniup terompet yang terbuat dari es bening. Di sekeliling pagar terdapat pohon-pohon cemara yang tegap dan tinggi, dan tak jauh dari air mancur terdapat pohon besar yang rimbun menaungi area taman itu sehingga memberikan kesan yang meneduhkan. Tak jauh, sebuah kastil yang tembok emasnya berkilauan berdiri dan menarik hatiku untuk pergi kesana.
Kali ini aku memutuskan untuk berjalan, walaupun aku sudah menikmati perjalanan dengan cara terbang. Aku ingin menikmati suasana yang indah ini dan mencari barangkali ada seseorang yang dapat kutanyai.
"Bagaimana petualanganmu di luar sana?" suara seorang wanita terdengar dari samping kiriku.
Kutengok kesana tapi tak kutemukan sesosok pun. Ketika aku kembali menoleh ke depan, aku terkejut hingga terjatuh ketika mendapati wajah seseorang berada tepat di depan wajahku.
Wanita itu tertawa terpingkal-pingkal. "Sebegitu terkejutnya kah kau hingga terjatuh?"
Aku tak tahu harus menanggapi bagaimana. Di satu sisi aku merasa kesal karena terjatuh, tetapi di sisi lain aku tak tahu siapa wanita itu dan apakah ia orang yang baik atau jahat kepadaku. Mengingat ucapan Madeline mengenai tidak pernah ada kejahatan di kota ini, aku pun merasa aman.
Wanita berambut pirang yang mengenakan gaun merah itu mengulurkan tangannya kepadaku. "Sini kubantu kau berdiri."
Kusambut tangannya dan ia membantuku berdiri. "Terima kasih." Lalu aku membersihkan gaunku dari daun-daun kecil yang menempel.
"Kemana saja kau selama seminggu ini? Apakah kau menikmati petualanganmu di luar sana?" tanya wanita itu.
Aku tersenyum lalu mengangguk.
"Ada apa kau ini? Mengapa kau menjadi lebih diam dari sebelumnya? Kau marah padaku karena membuatmu terjatuh? Atau telah terjadi sesuatu di luar sana?" wanita itu rupanya bertanya lebih banyak daripada Madeline.
"Uh, tidak. Semua baik-baik saja." Aku memaksakan senyuman lebar dengan deretan gigiku yang terpampang jelas agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Benarkah? Aku tidak yakin."
Aku mengangkat kedua bahuku. "Terserah."
Wanita itu tertawa lagi lalu merangkulku. "Iya, iya adik kecilku. Maafkan kakakmu ini ya." Ia mengacak-acak rambutku. "Ayo masuk ke dalam rumah. Lebih baik kita makan sarapan bersama. Kau datang di waktu yang tepat."
"Baiklah," ucapku kemudian berjalan di sebelahnya menuju ke dalam kastil menakjubkan itu yang disebutnya sebagai 'rumah'. Rumahku. Aku rasa aku sedang bermimpi.
Beberapa orang yang tampaknya seperti pelayan karena seragam mereka tampak sama, membungkukkan badan padaku saat aku berjalan lalu.
"Halo, tuan Putri Miloslava. Selamat datang kembali." Seorang pria kurus dan tinggi menyapaku sambil membungkuk sedikit.
Aku tersenyum padanya sambil berpikir siapa pria tersebut. "Terima kasih," ucapku lalu berjalan lagi bersama dengan wanita yang menyebut dirinya sebagai kakakku itu.
Sepanjang aku berjalan, kulihat banyak foto terpajang. Aku melihat beberapa foto keluarga, foto orang-orang yang tak kukenal, foto wanita di sebelahku ini, dan juga... fotoku.
Aku berhenti di depan foto itu dan memandanginya. Seorang gadis bermahkota perak sedang berpose duduk dengan anggun di atas sebuah kursi. Itu memang benar wajahku. Tetapi rasanya sungguh sulit untuk mempercayainya.
"Mengapa kau memandangi dirimu sendiri? Kau tidak akan membual tentang kecantikanmu lagi kan?" wanita itu membuyarkan pikiranku.
Aku menggeleng dan tertawa. Lalu aku melanjutkan perjalanan kembali bersama dengannya.
Setelah melewati lorong yang panjang dan beberapa ruangan besar di kanan dan kiri, kami akhirnya sampai di sebuah ruang makan. Ruangan ini benar-benar tampak seperti yang ada film Si Cantik dan Si Buruk Rupa.
"Duduklah," wanita itu memberitahuku.
Ketika aku hendak duduk, lengan kananku ditahan oleh seseorang. "Gantilah gaunmu lebih dulu, sayang. Kau ini seorang Putri tapi liha, kau begitu kotor sekarang." Seorang wanita paruh baya yang sangat rupawan berdiri di sampingku. Ia mengusap dahiku juga. "Nah, kau lihat dahimu bahkan kotor."
"Mungkin itu kesalahanku, ma."
Jadi ini sang Ratu?
"Tadi aku mengejutkan Milos saat kami ada di taman hingga ia terjatuh."
Ratu berdecak. "Irenka. Apa kau ini memang tak dapat mengendalikan sikap kekanak-kanakanmu sedikit? Ingat, umurmu sudah dua puluh empat tahun sekarang." Ia mengingatkan. "Bagaimana kau akan dapat suami jika kau masih seperti anak-anak?"
Kakakku yang rupanya bernama Irenka itu hanya terkekeh dan mengucap singkat, "Maaf."
"Kalau begitu, bantu adikmu berganti baju dengan cepat. Mama tak ingin kita terlambat makan. Jangan biarkan papamu menunggu terlalu lama." Ratu memberikan perintah pada Irenka yang kemudian menjalankannya.
Aku mengikuti Irenka di belakangnya kali ini, bukan di sampingnya seperti tadi. Ku amati setiap jalan yang kulewati, dan kuhafalkan semuanya agar tidak tersesat nantinya. Kami melewati sebuah tangga ke atas sebelum sampai ke sebuah ruangan yang disebut dengan kamarku itu.
Irenka membuka pintu lalu masuk ke dalam. Aku yang ada di belakangnya menutup pintu.
"Cepatlah pilih dan ganti pakaianmu. Kita tak mau mendengar mama mengomel lagi, bukan?" ucap Irenka.
Aku menggeleng dan tertawa kecil. "Kau ini. Mengapa kau justru terdengar santai bukannya takut kepada Ra-uh-mama?" kataku.
Irenka duduk di atas ranjang. "Kau seperti tidak tahu mama saja. Tampaknya cerewet tetapi betul-betul penyayang. Sungguh mengherankan ada seseorang seperti mama." Ia menerawang sejenak, dan aku memperhatikannya. "Hei, jangan memandangiku. Segera ganti pakaianmu." Ia melemparkan bantal padaku.
Kuambil bantal yang tergeletak di lantai itu dan kulemparkan kembali pada Irenka. "Baiklah." Aku pun membuka lemari dan melihat begitu banyak gaun indah bergantungan. Apa ini? Semuanya sutra. Persis seperti gaun yang kupakai sebelum berganti dengan gaun Madeline.
Mengingat aku tak punya banyak waktu, dengan asal kuambil salah satu gaun yang berwarna putih dengan corak biru di bagian pinggang. Aku hendak masuk ke dalam kamar mandi yang terlihat ada di sudut kamar untuk mengganti pakaian tetapi Irenka memanggil namaku; sebuah nama yang harus mulai terbiasa kuanggap sebagai namaku.
"Tak perlu ke kamar mandi. Gantilah gaunmu saja disini dan aku akann membantumu. Dengan begitu akan lebih cepat." Irenka menjelaskan.
Pada awalnya aku merasa ragu tetapi perkataan Irenka ada benarnya. Aku memang kesulitan memakai gaun. Ini bukan kaos dan celana jeans yang hanya dalam semenit saja bisa kulepas dan kupakai kembali. Karena itulah kubiarkan Irenka membantuku.
"Milos, apa yang terjadi dengan siku kirimu?" Irenka terdengar sangat terkejut setelah gaunku dilepaskan. "Apakah karena terjatuh tadi di taman?" Ia merasa bersalah.
Aku menggeleng. "Sebelum kembali kesini aku terjatuh saat terbang," jelasku.
"Apa?" Irenka terdengar lebih terkejut. "Mengapa kau melanggarnya?"
Melanggar apa maksudnya? Aku tak mengerti. Aku pun hanya diam dan tertegun, menunggu apa yang Irenka akan katakan selanjutnya.
"Kau diijinkan untuk keluar dari Tahta dan berpetualang karena janjimu untuk tak memperlihatkan jati dirimu. Mengapa kau melakukannya? Bagaimana jika papa dan mama mengetahuinya? Dan oh, siapa saja yang telah melihatmu terbang?" Irenka menembakkan banyak pertanyaan yang sukses membuatku tersudutkan.
Aku tak tahu harus mulai dari mana. "Uh, maaf, tapi aku -- hanya satu orang yang melihatku," ucapku terbata-bata.
Irenka memijat-mijat kepalanya. "Lalu kemana orang itu? Dan bagaimana reaksinya?" tanyanya ingin tahu lebih dalam.
"Ia berlari dan merasa ketakutan. Aku juga tak mengerti mengapa," kali ini aku berbicara tanpa berpikir. Kuungkapkan yang sebenarnya terjadi. "Pada awalnya kami sedang melihat matahari terbit. Tapi kemudian saat Milost menjatuhiku, aku berubah."
Irenka mendesah kesal. "Bagaimana bisa kau begitu ceroboh? Sudah kukatakan padamu berkali-kali untuk menghindari Milost. Penyamaranmu akan terungkap seketika hanya dengan satu titik Milost saja."
"Maaf," hanya itu yang dapat kukatakan sembari mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Suara ketukan terdengar di pintu kamar. "Permisi, tuan Putri Miloslava dan tuan Putri Irenka. Ratu memberi pesan agar segera kembali ke ruang makan." Suara seorang gadis -- yang mungkin adalah seorang pelayan -- terdengar dari luar kamar.
"Ya. Kami hampir selesai. Terima kasih." Irenka berseru. "Ayo. Kita harus bergegas." Ia kemudian membantuku memakai gaun yang telah kuambil dari dalam lemari.
Setelah aku tampak lebih rapi, kami bergegas keluar dari kamarku dan kembali menuju ruang makan. Irenka juga memberikan pesan padaku agar tak mengucapkan sepatah katapun mengenai kejadian di tebing yang melibatkan Madeline disana.
○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Hai! Sejauh ini adakah yang membaca? Boleh tinggalkan jejak dan kasi komentar buat cerita ini? Makasih ya sebelumnya.
Mungkin aku bukan berasal dari dunia ini.
Mungkin semua ini hanyalah mimpi.
Tetapi aku akan menjalani kehidupanku disini...
sebaik mungkin.
-- Melody Harris
○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Semuanya berkilauan dan terang benderang, tetapi terangnya tak menyilaukan mataku. Bahkan sesungguhnya aku dapat melihat segala sesuatunya dengan jelas dan kupikir aku takkan pernah merasa bosan jika harus memandangi semua ini setiap hari.
Benar kata Madeline bahwa di sekitar Tahta terdapat banyak sekali makhluk yang unik dan menarik mata. Semenjak aku berada lebih dekat dengan Tahta, telah kulihat kuda putih bersayap, harimau putih bertotol ungu, burung elang berbulu merah, dan masih banyak lagi. Mengherankan bahwa aku mendapati semuanya ini begitu nyata.
"Kita sudah sampai, tuan Putri." Merpati itu berhenti melaju tetapi masih dalam posisi terbang.
Aku pun berhenti. "Baiklah. Tapi mengapa kita harus berhenti?"
Merpati itu tertawa.
"Mengapa kau tertawa?" kukerutkan dahiku.
"Tuan Putri memang suka bercanda. Rupanya benar apa yang orang-orang bicarakan tentang kau."
Aku hanya menyeringai, berpikir apakah aku memang orang yang seperti itu disini. Pasalnya aku lebih banyak menikmati candaan daripada menciptakannya dan membuat orang lain tertawa.
"Aku harap suatu kali nanti aku juga dapat masuk ke Tahta." Merpati itu terdengar sangat berharap, tetapi nada suaranya menunjukkan bahwa hal tersebut tidak mungkin dilakukan.
"Hei. Kau berkata aku adalah tuan Putri. Mengapa sebagai seorang tuan Putri aku tak dapat mengajak temanku masuk ke rumahku sendiri?"
Merpati tersenyum. "Jangan lakukan apa yang tidak disukai Raja, tuan Putri. Yang Mulia adalah seorang yang bijaksana. Ia tahu apa yang terbaik." Ia memberikanku wejangan singkat sekaligus sedikit informasi mengenai Raja -- yang mungkin ia maksudkan sebagai papaku.
"Memangnya adalah sebuah kesalahan jika seorang teman mengunjungi temannya?" aku masih ingin mengetahui alasannya. Aku sungguh tak mengerti.
Bahkan di duniaku saja aku menginginkan semua teman dekatku untuk dapat berkunjung ke rumah agar aku tak pernah kesepian. Tetapi sayangnya, ini satu-satunya hal yang papa dan mama tidak ijinkan. Jika disini aku juga tak dapat mengajak temanku untuk berkunjung, aku pasti akan merasa kesepian lagi. Bagaimana pula dengan Madeline dan keluarganya? Aku ingin mengajak mereka kemari. Belum lagi aku tak kenal siapapun disini.
"Masuklah, tuan Putri. Pasti seluruh anggota kerajaan telah menunggu kedatanganmu." Merpati mendorongku pelan dengan paruhnya.
Aku menggeleng.
"Nanti kita dapat bertemu lagi." Merpati itu meyakinkanku.
"Kau berjanji?"
"Iya, tuan Putri."
"Kapan?"
"Kau akan tahu. Masuklah." Merpati itu mendorongku lebih keras dan lucunya aku merasakan dorongan itu.
Dengan berat hati aku mengikuti perkataan merpati. Aku terbang lebih dekat kepada gerbang Tahta sambil sesekali menengok ke belakang pada merpati itu.
Ketika aku berada tepat di depan gerbang, suara berderit terdengar. Gerbang yang besar dan megah itu terbuka perlahan tanpa aku mengetuk atau berteriak atau memberikan tanda apapun agar gerbang dibuka, seolah-olah gerbang itu memang terbuka dengan sendirinya untuk aku. Kupikir pada awalnya ada penjaga di sekitar situ yang membukakan gerbang bagiku. Tetapi tak ada siapapun kecuali gerbang itu. Kulambaikan tanganku pada merpati saat aku masuk ke area Tahta dan gerbang mulai tertutup.
Tahta betul-betul tampak sangat megah dan indah. Di depanku terletak sebuah air mancur yang tinggi dengan hiasan berbentuk seorang pria berjubah yang sedang meniup terompet yang terbuat dari es bening. Di sekeliling pagar terdapat pohon-pohon cemara yang tegap dan tinggi, dan tak jauh dari air mancur terdapat pohon besar yang rimbun menaungi area taman itu sehingga memberikan kesan yang meneduhkan. Tak jauh, sebuah kastil yang tembok emasnya berkilauan berdiri dan menarik hatiku untuk pergi kesana.
Kali ini aku memutuskan untuk berjalan, walaupun aku sudah menikmati perjalanan dengan cara terbang. Aku ingin menikmati suasana yang indah ini dan mencari barangkali ada seseorang yang dapat kutanyai.
"Bagaimana petualanganmu di luar sana?" suara seorang wanita terdengar dari samping kiriku.
Kutengok kesana tapi tak kutemukan sesosok pun. Ketika aku kembali menoleh ke depan, aku terkejut hingga terjatuh ketika mendapati wajah seseorang berada tepat di depan wajahku.
Wanita itu tertawa terpingkal-pingkal. "Sebegitu terkejutnya kah kau hingga terjatuh?"
Aku tak tahu harus menanggapi bagaimana. Di satu sisi aku merasa kesal karena terjatuh, tetapi di sisi lain aku tak tahu siapa wanita itu dan apakah ia orang yang baik atau jahat kepadaku. Mengingat ucapan Madeline mengenai tidak pernah ada kejahatan di kota ini, aku pun merasa aman.
Wanita berambut pirang yang mengenakan gaun merah itu mengulurkan tangannya kepadaku. "Sini kubantu kau berdiri."
Kusambut tangannya dan ia membantuku berdiri. "Terima kasih." Lalu aku membersihkan gaunku dari daun-daun kecil yang menempel.
"Kemana saja kau selama seminggu ini? Apakah kau menikmati petualanganmu di luar sana?" tanya wanita itu.
Aku tersenyum lalu mengangguk.
"Ada apa kau ini? Mengapa kau menjadi lebih diam dari sebelumnya? Kau marah padaku karena membuatmu terjatuh? Atau telah terjadi sesuatu di luar sana?" wanita itu rupanya bertanya lebih banyak daripada Madeline.
"Uh, tidak. Semua baik-baik saja." Aku memaksakan senyuman lebar dengan deretan gigiku yang terpampang jelas agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Benarkah? Aku tidak yakin."
Aku mengangkat kedua bahuku. "Terserah."
Wanita itu tertawa lagi lalu merangkulku. "Iya, iya adik kecilku. Maafkan kakakmu ini ya." Ia mengacak-acak rambutku. "Ayo masuk ke dalam rumah. Lebih baik kita makan sarapan bersama. Kau datang di waktu yang tepat."
"Baiklah," ucapku kemudian berjalan di sebelahnya menuju ke dalam kastil menakjubkan itu yang disebutnya sebagai 'rumah'. Rumahku. Aku rasa aku sedang bermimpi.
Beberapa orang yang tampaknya seperti pelayan karena seragam mereka tampak sama, membungkukkan badan padaku saat aku berjalan lalu.
"Halo, tuan Putri Miloslava. Selamat datang kembali." Seorang pria kurus dan tinggi menyapaku sambil membungkuk sedikit.
Aku tersenyum padanya sambil berpikir siapa pria tersebut. "Terima kasih," ucapku lalu berjalan lagi bersama dengan wanita yang menyebut dirinya sebagai kakakku itu.
Sepanjang aku berjalan, kulihat banyak foto terpajang. Aku melihat beberapa foto keluarga, foto orang-orang yang tak kukenal, foto wanita di sebelahku ini, dan juga... fotoku.
Aku berhenti di depan foto itu dan memandanginya. Seorang gadis bermahkota perak sedang berpose duduk dengan anggun di atas sebuah kursi. Itu memang benar wajahku. Tetapi rasanya sungguh sulit untuk mempercayainya.
"Mengapa kau memandangi dirimu sendiri? Kau tidak akan membual tentang kecantikanmu lagi kan?" wanita itu membuyarkan pikiranku.
Aku menggeleng dan tertawa. Lalu aku melanjutkan perjalanan kembali bersama dengannya.
Setelah melewati lorong yang panjang dan beberapa ruangan besar di kanan dan kiri, kami akhirnya sampai di sebuah ruang makan. Ruangan ini benar-benar tampak seperti yang ada film Si Cantik dan Si Buruk Rupa.
"Duduklah," wanita itu memberitahuku.
Ketika aku hendak duduk, lengan kananku ditahan oleh seseorang. "Gantilah gaunmu lebih dulu, sayang. Kau ini seorang Putri tapi liha, kau begitu kotor sekarang." Seorang wanita paruh baya yang sangat rupawan berdiri di sampingku. Ia mengusap dahiku juga. "Nah, kau lihat dahimu bahkan kotor."
"Mungkin itu kesalahanku, ma."
Jadi ini sang Ratu?
"Tadi aku mengejutkan Milos saat kami ada di taman hingga ia terjatuh."
Ratu berdecak. "Irenka. Apa kau ini memang tak dapat mengendalikan sikap kekanak-kanakanmu sedikit? Ingat, umurmu sudah dua puluh empat tahun sekarang." Ia mengingatkan. "Bagaimana kau akan dapat suami jika kau masih seperti anak-anak?"
Kakakku yang rupanya bernama Irenka itu hanya terkekeh dan mengucap singkat, "Maaf."
"Kalau begitu, bantu adikmu berganti baju dengan cepat. Mama tak ingin kita terlambat makan. Jangan biarkan papamu menunggu terlalu lama." Ratu memberikan perintah pada Irenka yang kemudian menjalankannya.
Aku mengikuti Irenka di belakangnya kali ini, bukan di sampingnya seperti tadi. Ku amati setiap jalan yang kulewati, dan kuhafalkan semuanya agar tidak tersesat nantinya. Kami melewati sebuah tangga ke atas sebelum sampai ke sebuah ruangan yang disebut dengan kamarku itu.
Irenka membuka pintu lalu masuk ke dalam. Aku yang ada di belakangnya menutup pintu.
"Cepatlah pilih dan ganti pakaianmu. Kita tak mau mendengar mama mengomel lagi, bukan?" ucap Irenka.
Aku menggeleng dan tertawa kecil. "Kau ini. Mengapa kau justru terdengar santai bukannya takut kepada Ra-uh-mama?" kataku.
Irenka duduk di atas ranjang. "Kau seperti tidak tahu mama saja. Tampaknya cerewet tetapi betul-betul penyayang. Sungguh mengherankan ada seseorang seperti mama." Ia menerawang sejenak, dan aku memperhatikannya. "Hei, jangan memandangiku. Segera ganti pakaianmu." Ia melemparkan bantal padaku.
Kuambil bantal yang tergeletak di lantai itu dan kulemparkan kembali pada Irenka. "Baiklah." Aku pun membuka lemari dan melihat begitu banyak gaun indah bergantungan. Apa ini? Semuanya sutra. Persis seperti gaun yang kupakai sebelum berganti dengan gaun Madeline.
Mengingat aku tak punya banyak waktu, dengan asal kuambil salah satu gaun yang berwarna putih dengan corak biru di bagian pinggang. Aku hendak masuk ke dalam kamar mandi yang terlihat ada di sudut kamar untuk mengganti pakaian tetapi Irenka memanggil namaku; sebuah nama yang harus mulai terbiasa kuanggap sebagai namaku.
"Tak perlu ke kamar mandi. Gantilah gaunmu saja disini dan aku akann membantumu. Dengan begitu akan lebih cepat." Irenka menjelaskan.
Pada awalnya aku merasa ragu tetapi perkataan Irenka ada benarnya. Aku memang kesulitan memakai gaun. Ini bukan kaos dan celana jeans yang hanya dalam semenit saja bisa kulepas dan kupakai kembali. Karena itulah kubiarkan Irenka membantuku.
"Milos, apa yang terjadi dengan siku kirimu?" Irenka terdengar sangat terkejut setelah gaunku dilepaskan. "Apakah karena terjatuh tadi di taman?" Ia merasa bersalah.
Aku menggeleng. "Sebelum kembali kesini aku terjatuh saat terbang," jelasku.
"Apa?" Irenka terdengar lebih terkejut. "Mengapa kau melanggarnya?"
Melanggar apa maksudnya? Aku tak mengerti. Aku pun hanya diam dan tertegun, menunggu apa yang Irenka akan katakan selanjutnya.
"Kau diijinkan untuk keluar dari Tahta dan berpetualang karena janjimu untuk tak memperlihatkan jati dirimu. Mengapa kau melakukannya? Bagaimana jika papa dan mama mengetahuinya? Dan oh, siapa saja yang telah melihatmu terbang?" Irenka menembakkan banyak pertanyaan yang sukses membuatku tersudutkan.
Aku tak tahu harus mulai dari mana. "Uh, maaf, tapi aku -- hanya satu orang yang melihatku," ucapku terbata-bata.
Irenka memijat-mijat kepalanya. "Lalu kemana orang itu? Dan bagaimana reaksinya?" tanyanya ingin tahu lebih dalam.
"Ia berlari dan merasa ketakutan. Aku juga tak mengerti mengapa," kali ini aku berbicara tanpa berpikir. Kuungkapkan yang sebenarnya terjadi. "Pada awalnya kami sedang melihat matahari terbit. Tapi kemudian saat Milost menjatuhiku, aku berubah."
Irenka mendesah kesal. "Bagaimana bisa kau begitu ceroboh? Sudah kukatakan padamu berkali-kali untuk menghindari Milost. Penyamaranmu akan terungkap seketika hanya dengan satu titik Milost saja."
"Maaf," hanya itu yang dapat kukatakan sembari mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Suara ketukan terdengar di pintu kamar. "Permisi, tuan Putri Miloslava dan tuan Putri Irenka. Ratu memberi pesan agar segera kembali ke ruang makan." Suara seorang gadis -- yang mungkin adalah seorang pelayan -- terdengar dari luar kamar.
"Ya. Kami hampir selesai. Terima kasih." Irenka berseru. "Ayo. Kita harus bergegas." Ia kemudian membantuku memakai gaun yang telah kuambil dari dalam lemari.
Setelah aku tampak lebih rapi, kami bergegas keluar dari kamarku dan kembali menuju ruang makan. Irenka juga memberikan pesan padaku agar tak mengucapkan sepatah katapun mengenai kejadian di tebing yang melibatkan Madeline disana.
○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Hai! Sejauh ini adakah yang membaca? Boleh tinggalkan jejak dan kasi komentar buat cerita ini? Makasih ya sebelumnya.
Diubah oleh yohanaekky 25-05-2019 10:00
masbroo15 dan f.t. memberi reputasi
2