Kaskus

Story

yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
Pintu Mimpi (Prolog)
Pintu Mimpi (Prolog)


Bagaimana jadinya jika pintu ke Narnia itu memang ada? Tapi bukan sekadar dunia yang penuh makhluk aneh nan unik. Itu adalah dunia yang kau impikan. Melody Harris tak sengaja menemukannya, dan dia menemukan sebuah dunia yang betul-betul ia impikan. Mimpi yang merupakan kehidupannya yang sesungguhnya.

All rights reserved.
Yohana Ekky. 2018.

Karakter (berdasarkan urutan keluar):
- Melody Harris a.k.a Putri Miloslava Cuda

Keluarga Krasny
- Madeline Krasny
- Garreth Krasny
- Guinevere Krasny
- Terrence Krasny
- Kystof Krasny

Kerajaan Milos (Tahta)
- Putri Irenka Cuda
- Raja Bedoich Cuda
- Ratu Ladislava Cuda
- Pangeran Klement Cuda

Kerajaan Mocny
- Duta besar Matous Zeleznik
- Ksatria Bohumir Zeleznik
- Raja Honza Elias
- Pangeran Dominic Elias

Orang tua angkat Miloslava
- Paul Harris
- Jeanette Harris

INDEX:
#1 (Pertemuan)
#2 (Kehidupan Baru)
#3 (Sebuah Perjalanan Dimulai)
#4 (Jati Diri)
#5 (Terjebak)
#6 (Hubungan)
#7 (Usaha Melarikan Diri)
#8 (Melarikan Diri)
#9 (Merangkai Teka-teki)
#10 (Kebenaran Terungkap)
#11 (Menuju Garis Akhir)
#12 (Akhirnya)
#Epilog (Mimpi Yang Menjadi Nyata)
Diubah oleh yohanaekky 23-05-2019 15:33
someshitnessAvatar border
zixzaxfireAvatar border
indrag057Avatar border
indrag057 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
7.1K
47
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
#3
Pintu Mimpi #3 (Sebuah Perjalanan Dimulai)
Siapa aku? Inikah kehidupan yang aku miliki?
Siapa aku? Benarkah aku dilahirkan seperti ini?
Seandainya tidak, dapatkan aku berharap semua ini nyata?

-- Melody Harris

○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●

Aku bangun pada pukul 5 pagi dan saat ini aku bersama dengan Madeline dan Garreth yang menyetir sebuah mobil yang tampak seperti Mini Cooper jika dibandingkan dengan apa yang ada di dunia nyata. Kami menuju ke suatu tempat dimana Garreth bekerja dan ia berkata hanya 10 menit jaraknya dari rumah. Kami melewati satu jalan besar saja kemudian sisanya hanyalah jalan sempit yang di kanan kirinya terdapat pepohonan.

"Hei Mel, lihat," Madeline menunjuk pada sisi kananku dan aku menoleh kesana.

Disana kulihat seekor makhluk yang sangat cantik. Tampaknya seperti burung merak tetapi bulunya berwarna emas dan mahkota di kepalanya asli. Aku tak dapat berkata-kata kecuali mengagakan mulut.

"Apakah ini pertama kalinya kau melihat makhluk cantik itu?"

Aku tak menoleh sedikit pun pada Madeline yang duduk di jok depan, di sebelah Garreth, dan aku mengangguk atas pertanyaannya.

"Namanya adalah Merak yang Agung," Madeline memberitahu tanpa perlu aku bertanya. Karena aku ingin mendengar lebih lagi mengenai makhluk itu dan mobil sudah semakin jauh dari merak tersebut, aku pun menoleh pada Madeline dan mendengarkan penjelasannya. "Itu adalah satu-satunya merak yang tampak cantik. Ia dapat terbang tinggi melebihi merak-merak lainnya. Ia tinggal di dekat Tahta. Saat kita mendekati Tahta, kau akan melihat jauh lebih banyak makhluk yang menakjubkan."

"Benarkah?" Kedua pupil mataku membesar saat mendengarnya. Aku tak sabar untuk melihat lebih banyak lagi.

"Tapi kalian tak bisa melewati batas, oke?" Garreth mengingatkan kami untuk kedua kalinya sekarang dan Madeline menjadi kesal.

Mengamati tingkah laku mereka membuatku tersenyum sendiri. Aku merasakan kehangatan di antara mereka. Mungkin begini rasanya jika aku memiliki seorang saudara.

Mobil terus melaju dengan kecepatan yang stabil pada saat menanjak dan akhirnya membawa kami tempat kerja Garreth. Tempat itu tampak begitu sepi karena memang tak ada seorang pun yang bekerja di hari libur ini. Garreth menurukan aku dan Madeline disana lalu meninggalkan kami.

Tanpa menunggu lama, Madeline menarik tanganku dan berjalan ke arah yang lebih tinggi. Ini yang ia sebutkan sebagai bukit. Ia berjalan begitu lincah tanpa merasa takut tersandung meskipun hari masih lumayan gelap. Awalnya aku hampir tersandung tetapi Madeline memberikan aku instruksi untuk melangkah ke kanan atau ke kiri atau melompat dan nyatanya itu berguna hingga aku tak tersandung lagi.

Kami berhenti di tepi bukit. Madeline melompat ke atas geladak tanpa merasa takut sama sekali sementara kakiku sedikit bergetar saat melangkah ke geladak tersebut. Tentu saja, karena tepat di bawah kami terletak jurang yang dalam.

"Jangan kuatir, Melody. Tidak akan ada hal buruk terjadi. Disini hal itu hampir tidak pernah ada. Ketakutanmu sama sekali tidak berarti disini. Jadi, tenang saja." Senyuman Madeline merekah dan ia tampak cantik sekali ketika angin menarik rambutnya ke belakang.

Entah bagaimana, perkataan Madeline membuatku tenang. Sambil menutup mata, aku menghirup nafas dalam-dalam udara yang begitu menyejukkan ini sebelum aku tak bisa lagi karena harus kembali lagi ke rumah dimana ada polusi mengotori udara.

"Lihat, Mel. Lampu-lampu di seluruh kota. Tampak indah, bukan?" Madeline membuatku terpaksa membuka mata saat masih menikmati suasana.

Namun ia memang benar. Seluruh kota tampak berkilau dan indah. Lampu-lampunya tidak terlihat redup seperti di duniaku. Aku pernah melihat kota dari atas bukit seperti ini dulu, tetapi kali ini sungguh berbeda.

"Dalam waktu lima, empat, tiga, dua, satu, semua lampu mati." Tepat saat Madeline selesai bicara, semua lampu itu mati, dan cahaya matahari mulai masuk. "Dan hari baru sudah dimulai."

Menakjubkan sekali melihat semua ini. Semuanya terlihat begitu teratur sampai Madeline pun tahu saat yang tepat dimana lampu dimatikan dan matahari muncul. Benarkah dunia seperti ini nyata? Aku masih tak percaya.

"Sebentar lagi kau tak boleh mengedipkan mata. Tahan selama lima detik saja. Ada sesuatu yang tak boleh kau lewatkan." Madeline memberikanku sebuah instruksi baru.

Entah ke arah mana aku harus melihat, tetapi aku benar-benar waspada dan menjaga agar mataku tak melewatkan sesuatu pun. Pada saat yang tak disangka-sangka, sebuah percikan berwarna pelangi muncul dari matahari dan semuanya keluar menjatuhi seluruh kota termasuk tempat dimana aku dan Madeline berdiri.

"Namanya Milost." Madeline menjawab pertanyaanku yang tersembunyi.

"Apa itu?"

"Setiap pagi semesta mengirimkan kami percikan ini agar kami menjalani sepanjang hari ini dengan baik. Ini seperti... hadiah." Madeline menjelaskan. Ia tampak begitu merona, berbeda dari sebelumnya. "Dan ketika kau sudah menerimanya, kau akan melihat setiap orang tampak bahagia. Sama seperti yang kau lihat denganku, bukan?"

Aku mengangguk-angguk. "Apakah aku juga tampak seperti itu?" tanyaku penasaran karena disini tak ada cermin untukku melihat diri sendiri, apalagi kamera ponsel.

Madeline hendak berbicara ketika ia tiba-tiba terbungkam saat melihatku. Matanya jelas menampakkan sesuatu telah terjadi.

"Mengapa ekspresimu seperti itu? Ada apa denganku?" aku meraba wajahku, cemas jika ada sesuatu yang tidak baik.

Madeline menelan ludah. Ia berjalan mundur menjauhiku.

"Madeline, ada apa?" tanyaku dan merasa ketakutan sendiri. Aku memandangi diriku sendiri. Kulihat gaunku, tidak ada yang berubah. Tanganku dan kakiku, semuanya tetap sama. Tetapi apa yang menyebabkan Madeline bersikap seperti itu?

Madeline membalikkan badannya lalu berlari meninggalkanku tanpa sesuatupun dikatakannya.

"Madeline!" Aku berseru seraya mengejarnya. Tapi sedetik kemudian aku terkejut ketika mendapati diriku tidak berlari di tanah tetapi terbang. Aku begitu ketakutan sehingga terjatuh ke tanah dengan cukup keras.

Madeline sudah terlalu jauh berlari dan aku merasa sangat kesakitan di lengan kiriku. Dengan bersusah payah aku berusaha menegakkan diriku dan duduk bersandar di sebuah batu yang cukup besar disana.

Aku menghela nafas dalam-dalam, sambil menata emosiku. Pasalnya aku merasa takut dan bingung dalam waktu yang sama. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apa yang harus kulakukan sekarang? Matahari sudah lebih meninggi dan tak ada seorang pun ada disana untuk menolongku.

Setelah merasa cukup tenang, aku bangkit dan mulai berjalan menyusuri lokasi itu tanpa tahu ke arah mana aku harus pergi. Kudapati kaki kiriku juga terasa nyeri sehingga aku berjalan sedikit tertatih-tatih.

"Tolong! Ada seseorang disini?" Aku memutuskan untuk mencari bantuan. Barangkali ada seseorang di dekat sini yang dapat menolongku.

"Apa yang dapat aku bantu, tuan Putri?"

Aku menoleh ke arah sumber suara itu dan merasa senang karena pada akhirnya ada yang dapat menolongku. Tetapi senyumanku pudar ketika tak kudapati seorang pun disana.

"Aku disini." Seekor burung merpati terbang dan berhenti di atas sebuah dahan yang tak terlalu tinggi di depanku.

Seolah nafasku berhenti ketika aku melihat siapa yang sedang berbicara padaku. "K--kau dapat bicara?" Aku tak percaya akan apa yang kulihat.

"Mengapa kau bertanya seperti itu, tuan Putri? Semua mahkluk disini berbicara." Merpati itu berbicara lagi.

Tak tahu apa yang harus aku katakan, aku berjalan mendekati merpati itu dan berusaha menyentuhnya. Tetapi merpati itu justru terbang dan hinggap di tangan kananku.

"Apakah tuan Putri tersesat?" tanya merpati itu.

Darimana aku harus bercerita? Dan apa yang harus aku ceritakan? Aku rasa tidak mungkin aku menceritakan yang sebenarnya.

"Tampaknya memang tuan Putri tersesat. Biarkan aku mengantarkanmu kembali ke rumah," merpati itu menawarkan.

"Memangnya kau tahu dimana rumahku?" tanyaku penasaran. Rasa-rasanya ia berkata bahwa aku memang berasal dari sini. "Dan mengapa kau memanggilku tuan Putri?"

Merpati itu tampak terkejut -- entah bagaimana aku dapat melihat ekspresi itu dari seekor burung yang rasanya mustahil dilakukan jika itu di duniaku yang sesungguhnya. "Apakah tuan Putri sedang menyamar? Dan apakah aku melakukan kesalahan?" ia bertanya dengan sedikit gelisah seolah takut telah berbuat salah.

Daripada harus mengarang cerita, aku menggunakan situasi yang merpati itu sebutkan. "Bisa dibilang begitu."

"Maafkan aku, tuan Putri." Merpati itu menyesal.

"Hei, tak apa. Jangan kuatir." Aku memberitahunya. "Kau tahu siapa aku, tahu rumahku, berarti kau juga tahu namaku?"

Merpati itu terkikik mendengar pertanyaanku. "Siapa yang tidak tahu tuan Putri Miloslava? Semua orang disini sudah pasti langsung mengetahui bahwa ini adalah tuan Putri. Mahkotamu, pakaianmu, sayapmu."

Sayap? Aku menoleh ke belakang dan mendapati bahwa aku memang memiliki sayap. Ini seperti di film, karena aku dapat melihat sayap berwarna putih keemasan menempel di punggungku.

"Jika tuan Putri ingin menyamar demi menjelajahi kota, setidaknya kendalikan sayapmu agar tidak nampak. Jadilah seperti rakyat lainnya." Merpati itu memberikanku sebuah saran.

"Bagaimana caranya?" tanyaku. Bahkan aku sendiri tak menyadari aku memiliki sayap, bagaimana aku dapat mengendalikannya?

Merpati itu tersenyum. Lagi-lagi aku dapat melihatnya, meskipun sesungguhnya paruh tak dapat membentuk sebuah senyuman. "Pikiranmu, tuan Putri. Kau harus mengendalikan pikiranmu. Seperti biasanya ketika kamu memikirkan untuk menggunakan sayap, maka sayapmu akan keluar. Jika tidak, maka sayapmu akan hilang dan tersembunyi." Terdengar suara tawa darinya. "Lucu sekali seekor merpati seperti aku ini mengajarimu bagaimana caranya mengendalikan sayap, tuan Putri."

Entah aku harus tertawa akan hal ini atau bagaimana -- karena sesungguhnya aku tidak merasa dapat tertawa saat ini melihat keanehan yang terjadi padaku -- tapi daripada ia merasa curiga padaku, lebih baik aku ikut tertawa.

"Baiklah. Jika begitu, apakah tuan Putri ingin kembali ke rumah? Perlukah bantuanku?" merpati itu kembali menawarkan.

Bagaimana ini? Satu-satunya yang kukenal adalah Madeline dan keluarganya. Tetapi saat ini, aku juga tak dapat pergi kemana pun. Haruskah aku ikut bersama merpati ini ke tempat yang disebut sebagai "rumahku" ini yang bahkan aku tidak tahu?

"Sebaiknya memang aku antarkan. Lihat, lenganmu terluka, tuan Putri. Mari terbang bersamaku." Merpati itu terbang dari lenganku.

Bagaimana caranya terbang? Ah. Aku bisa gila.

"Gunakan pikiranmu, tuan Putri. Aku tahu tuan Putri merasa sakit di bagian lengan, tetapi sayapmu baik-baik saja. Jadi terbanglah bersamaku."

Kucoba untuk melakukan apa yang merpati itu katakan. Kugunakan pikiranku, memerintah sayapku untuk bekerja. Dan aku... benar-benar terbang. Aku jelas sedang bermimpi.

Merpati itu terbang di depanku sementara aku mengikutinya. Ia menuntunku ke arah yang pada awalnya tidak kuketahui, tetapi makin lama aku makin tahu bahwa kami sedang terbang menuju... Tahta.

○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Diubah oleh yohanaekky 25-05-2019 06:59
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.