Kaskus

Story

yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
Pintu Mimpi (Prolog)
Pintu Mimpi (Prolog)


Bagaimana jadinya jika pintu ke Narnia itu memang ada? Tapi bukan sekadar dunia yang penuh makhluk aneh nan unik. Itu adalah dunia yang kau impikan. Melody Harris tak sengaja menemukannya, dan dia menemukan sebuah dunia yang betul-betul ia impikan. Mimpi yang merupakan kehidupannya yang sesungguhnya.

All rights reserved.
Yohana Ekky. 2018.

Karakter (berdasarkan urutan keluar):
- Melody Harris a.k.a Putri Miloslava Cuda

Keluarga Krasny
- Madeline Krasny
- Garreth Krasny
- Guinevere Krasny
- Terrence Krasny
- Kystof Krasny

Kerajaan Milos (Tahta)
- Putri Irenka Cuda
- Raja Bedoich Cuda
- Ratu Ladislava Cuda
- Pangeran Klement Cuda

Kerajaan Mocny
- Duta besar Matous Zeleznik
- Ksatria Bohumir Zeleznik
- Raja Honza Elias
- Pangeran Dominic Elias

Orang tua angkat Miloslava
- Paul Harris
- Jeanette Harris

INDEX:
#1 (Pertemuan)
#2 (Kehidupan Baru)
#3 (Sebuah Perjalanan Dimulai)
#4 (Jati Diri)
#5 (Terjebak)
#6 (Hubungan)
#7 (Usaha Melarikan Diri)
#8 (Melarikan Diri)
#9 (Merangkai Teka-teki)
#10 (Kebenaran Terungkap)
#11 (Menuju Garis Akhir)
#12 (Akhirnya)
#Epilog (Mimpi Yang Menjadi Nyata)
Diubah oleh yohanaekky 23-05-2019 15:33
someshitnessAvatar border
zixzaxfireAvatar border
indrag057Avatar border
indrag057 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
7.1K
47
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.6KAnggota
Tampilkan semua post
yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
#2
Pintu Mimpi #2 (Kehidupan Baru)
Semuanya indah, semuanya terasa damai.
Apakah semuanya ini nyata?
Jika iya, dapatkah aku bertahan disini selamanya?

--Melody Harris

○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●

"Dimana kau tinggal?"

Akhirnya pertanyaan itu datang. Sebuah pertanyaan yang tak dapat kujawab sama sekali. Aku dapat mengarang jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan lainnya, tetapi tidak dengan yang satu ini.

Aku bertanya kembali padanya. "Mengapa kau ingin tahu?" Demi menutupi ketidaktahuanku mengenai sebuah tempat yang dinamakan ‘rumahku’, aku menghindar untuk menjawab dengan mengembalikan pertanyaan padanya.

"Maaf atas pertanyaanku. Aku tahu sangat tidak sopan untuk menanyakan hal itu. Selain itu, aku takkan pernah diijinkan untuk menginjakkan kaki di area kerajaan." Madeline tampak sedih. Ia menggerak-gerakkan jari kakinya.

Kusentuh lengannya. "Aku akan mengajakmu ke rumahku suatu kali nanti. Tetapi aku tidak ingin kembali ke rumah untuk beberapa hari --"

"Oh? Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi dalam keluargamu?" Madeline memotong perkataanku dan membuatku terkejut.

Memikirkan orang tuaku yang tak pernah berkelahi bahkan berdebat satu sama lain dan betapa romantisnya mereka setiap hari, sangat mustahil akan terjadi sesuatu yang buruk pada keluargaku. Hanya aku saja yang merasa bosan dengan kehidupanku. Aku saja yang tak bersyukur atas karunia dalam rupa orang tua yang luar biasa.

Aku menggelengkan kepala dan memberitahunya, "Tidak. Segala sesuatunya baik-baik saja. Aku hanya, um, bebas untuk pergi sendiri untuk beberapa waktu lamanya."

"Itu terdengar melegakan." Madeline menepuk dadanya pelan. "Aku tak suka mendengar cerita yang menyedihkan."

Kejujurannya membuatku tertawa. "Aku juga."

"Jadi, kemana kita akan pergi sekarang? Sudah hampir gelap." Madeline bertanya padaku.

Mengetahui bahwa aku tak memiliki pilhan untuk pergi kemanapun, aku berniat untuk meminta ijin tinggal bersamanya seperti yang sudah kurencanakan sebelumnya. "Apakah boleh jika aku tinggal di rumahmu?"

Madeline beranjak dari bangku yang selama ini kami duduki dan menggandeng tanganku. "Ayo! Keluargaku pasti akan sangat senang untuk menyambutmu dalam keluarga kami," ia memberitahuku dengan riang.

"Benarkah?" Ini sungguh di luar dugaanku. Aku bangkit dan berdiri, siap untuk pergi. “Baiklah. "

Ia kemudian menuntunku ke rumahnya yang tak jauh letaknya dari tempat kami saat ini. Kami melewati sebuah jalan yang sempit tetapi tampak sangat bersih. Aku bahkan yakin aku tak melihat satu sampah pun di jalan.

Kami sampai di depan sebuah rumah yang tampak seperti rumah-rumah di daerah tempat tinggalku. Hanya satu hal saja yang membuatnya tampak berbeda, yaitu bahan bangunan tersebut. Rumah itu terbuat seperti kayu dan sesuatu yang tampak seperti karet. Ketika aku menyentuh dan mencubitnya, rasanya begitu lembut dan elastis.

"Semuanya, aku pulang!" Madeline berteriak ketika kami memasuki rumah.

Dalam waktu singkat, empat orang asing keluar dan berjalan ke tempat dimana aku dan Madeline sedang berdiri.

"Pa, ma, Garreth dan adik kecilku yang manis, Terrence, ini adalah Melody. Dan Mel, ini adalah keluargaku." Madeline memperkenalkanku kepada keluarganya.

Aku mengangguk pelan dan memberikan senyuman terbaikku pada mereka."Senang bertemu dengan kalian semua," aku menyapa mereka.

"Senang berkenalan denganmu juga," papa Madeline menyapa kembali, sementara anggota keluarga yang lain mendukung ucapannya dengan tersenyum padaku.

"Ia akan bermalam disini. Apakah tidak masalah?" Madeline meminta ijin kepada orang tuanya, walaupun sesungguhnya lebih terdengar seperti memberikan informasi.

Mama Madeline yang sedang menggendong anak termuda dalam keluarga memberikan ijin. "Mengapa tidak? Kau dapat tidur di kamar tamu kami," katanya.

"Tidak. Biarkan ia tidur bersamaku. Aku akan menjaganya." Madeline memohon.

"Ijinkan saja, pa, ma. Bagus untuknya karena pada akhirnya ia memiliki seorang teman, bukan?" Garreth, seorang pemuda yang adalah kakak Madeline berkata seraya memberikannya cubitan kecil.

Madeline memeluk kakaknya. "Itulah mengapa aku sayang padamu, kak." Ia membuat semuanya tertawa. Pemandangan ini sungguh membuat hatiku bahagia.

"Baiklah, jadi--"

"Terima kasih!" Madeline berteriak dengan riangnya, memotong perkataan papanya dan menarik tanganku, mengajakku ke dalam kamarnya. Kudengar mereka tertawa akan kegirangannya dan ini membuatku menggelengkan kepala dalam tawa bisu pula.

Aku berjalan ke dalam ruang kamar yang kecil dan penuh dengan dekorasi berwarna merah jambu. Ia sudah pasti seorang gadis yang feminim. Betul-betul kebalikan dari aku. Aku bukan apa-apa jika dibandingkan dengannya. Ia rapi dan aku berantakan. Pasti kamar ini sudah berantakan jika ini adalah milikku.

"Tempat tidurku cukup besar. Jadi kita berdua dapat tidur bersam-sama." Ia menunjuk pada ranjangnya yang rapi. "Kau dapat mandi sekarang dan aku akan menyusul setelahmu. Kita akan makan malam dalam satu jam."

"Um, Mad," aku menunjuk pada gaunku, berharap ia mengerti apa yang aku maksudkan.

"Ah, benar. Kau tak membawa satupun gaun." Madeline mengerti. "Kau dapat memakai gaunku jika tidak masalah bagimu memakai gaun yang tidak berbahan sutra."

"Jangan kuatir. Aku akan memakai apapun." Aku meyakinkannya. Aku tak memiliki apapun untuk dipakai, bukan? Lagipula tak satupun pakaianku berbahan sutra.

Madeline membuka lemari kecilnya. Ia mengambil sebuah gaun miliknya dan memberikannya padaku. Yang berwarna merah jambu. Sesungguhnya aku tak begitu suka akan pilihan warnanya, tetapi aku tak punya hak untuk menolak.

Aku menuju ke dalam kamar mandi yang letaknya dekat dengan ruang kamar Madeline. Aku berencana untuk mandi dengan cepat agar tak membuat yang lainnya menunggu, tetapi melepaskan dan memakai gaun adalah bagian yang tersulit. Pada akhirnya aku menghabiskan waktu lebih lama di kamar mandi daripada yang telah aku rencanakan.

Ketika aku melangkah keluar dari dalam kamar mandi, kudapati Madeline telah berdiri di depan pintu. "Apakah kau sudah ada disini selama ini?" Aku bertanya penasaran.

"Kau harus terbiasa akan hal itu. Dia benar-benar penuh kejutan." Garreth memberitahuku saat ia berjalan lalu.

Madeline menyeringai tak berdosa dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu dari dalam.

"Wow." Kurasa aku harus menyetujui Gareth bahwa adiknya memang penuh kejutan.

"Anggaplah sebagai rumahmu sendiri, semoga kau merasa nyaman." Itulah ucapan terakhirnya sebelum ia meninggalkanku.

Aku kembali ke dalam kamarku -- kamar Madeline -- dan duduk di atas ranjang. Kulipat rapi gaunku dan meletakkannya di atas ranjang. Kemudian aku berhenti melakukan apapun untuk merenungkan apa yang sesungguhnya terjadi padaku.

"Rasanya seperti mimpi." kucubit lenganku dan terasa sakit disana. "Ah. aku tidak bermimpi. Jadi semua ini nyata? Tempat apa ini sebenarnya? Bagaimana bisa aku baru menyadari ada dunia yang lain?" Aku terus berbicara pada diriku tetapi berhenti seketika saat kudengar ketukan pintu.

Mama Madeline muncul. Ia tersenyum dan menghampiriku.

Aku pun tersenyum pula padanya. "Halo, Bu--" Baru saja aku menyadari bahwa aku tak tahu siapa namanya.

"Panggil saja Guinevere," ucapnya. Saat ia memandangku, kudapati manik matanya yang berwarna merah kecoklatan tampak sangat mempesona tetapi meneduhkan.

"Guine apa?"

"Guinevere," ia mengulang namanya saat ia duduk menyebelahiku di atas ranjang.

Kuanggukkan kepalaku. "Guinevere, Guinevere, Guinevere." aku berbisik pada diriku sendiri berulang kali demi mengingat namanya yang begitu sulit. Aku harap aku takkan lupa karena aku sangat buruk dalam menghafal. Tidak heran aku gagal dalam mata pelajaran Sejarah.

Ia tertawa kecil melihatku melakukannya dan kemudian menyisakan sebuah senyuman. "Jadi, kau berasal dari luar kota?"

Aku mengangguk. Kurasa au mulai terbiasa untuk memberikan jawaban yang sama setiap kali orang menanyakan tentang asalku. Tapi apa namanya? Oh tidak. Aku sudah lupa. Aku harap Guinevere tidak bertanya dimana tepatnya aku tinggal.

"Sangat nyaman untuk tinggal disini. Percayalah. Banyak orang ingin sekali untuk tinggal disini, tetapi hanya orang-orang terpilih saja yang mendapatkan ijin untuk pindah kesini." Entah bagaimana pernyataan Guinevere membuatku sedikit bangga jadinya.

Ketika suasana menjadi hening, suara gemuruh di perutku mengganggu tanpa diinginkan.

Guinevere tersenyum dengan lebar. "Mari ke ruang makan. Kau tak perlu menunggu Madeline. Ia bisa saja selesai dalam satu jam kemudian." Ia berdiri dan merentangkan tangan kanannya seolah menunjukkan kemana aku harus berjalan.

Aku berdiri, meninggalkan gaun sutraku di atas ranjang dan berjalan di samping Guinevere.

Yang lain telah duduk mengelilingi meja saat aku sampai ke ruang makan. Mereka menyambutku dengan senyuman yang hangat. Guinevere mengarahkanku untuk duduk di kursi yang kosong di sebelah Garreth.

Di atas meja terdapat bermacam-macam makanan. Aku tak yakin makanan apa itu karena kurasa aku tak pernah melihatnya sebelum ini. Ya, aku tahu sayuran dan daging ayam, tetapi cara penyajiannya sama sekali belum pernah kulihat. Aku harap rasanya enak karena aku tak pernah suka menantang diriku sendiri untuk mencoba makanan baru.

"Aku disini!" Madeline berseru, membuat kami semua menoleh padanya.

Mereka tampak begitu terkejut melihat Madeline telah datang karena Guinevere berkata bahwa ia biasanya akan menghabiskan banyak waktu di dalam kamar mandi.

Madeline duduk di sebelahku. Ia tersenyum dan berkata, "Kau pasti akan menyukai semua makanan ini."

Tentu saja. Ia adalah pembaca pikiran. Ia tahu apa yang tadi kupikirkan. Kuberikan padanya sebuah senyuman karena hal itu.

"Baiklah. Mari kita mengucapkan syukur," Papa Madeline membuka tangan kanan dan kirinya, memimpin kami semua untuk bergadengan tangan. Ia mengucapkan syukur dan kemudian kami semua diijinkan untuk menyantap hidangan.

Sungguh mengejutkan ketika Madeline meletakkan sayuran dan daging ke atas piringku tanpa bertanya padaku terlebih dahulu. "Apakah ini cukup? Atau kau ingin lebih?" tanyanya.

Aku menggerakkan tanganku tanda tak mau lagi, "Cukup. Ini cukup. Terima kasih."

Madeline berhenti melayaniku dan kemudian melayani dirinya sendiri. Ia mengambil porsi yang banyak yang segera ia santap dengan lahap.

Lalu kupandangi makanan di piringku. Dengan ragu, aku mencicipi saus yang menutupi sayuran itu. Ternyata aku menyukai rasanya. Kucoba pula dagingnya dan aku sungguh merasa ini enak. Madeline benar.

"Garreth, kau tidak bekerja besok, bukan? Tapi maukah kau mengantarkan aku dan Melody ke tempat dimana kau bekerja? Karena disana dekat dengan bukit. Aku ingin menunjukkannya sebuah pemandangan yang tak dapat ia lihat dari manapun." Madeline -- yang sepertinya sudah menyelesaikan makan malamnya -- mulai berkicau seperti burung kembali. Ia sungguh tak bisa berhenti bicara.

Garreth menyeka mulutnya dengan serbet. "Tentu. Tetapi aku sudah memiliki rencana dengan temanku pada pukul 6 pagi. Jadi kita harus berangkat pagi-pagi." Ia memberitahu adiknya.

"Itu jauh lebih baik!" Madeline terdengar sangat gembira. Ia menoleh padaku kemudian. "Kau akan menyukainya, Melody. Kau akan melihat matahari, dan seluruh kota, dan juga Tahta dalam jarak yang cukup dekat."

"Tapi jangan pernah mencoba untuk melewati batas, ya sayang?" Guinevere mengingatkan putrinya sembari memberi makan bayinya.

"Ma, aku tahu itu. Aku tak akan pernah lupa." Madeline terdengar sedikit kesal. Tampaknya begitu mirip denganku saat mama mengingatkanku untuk membeli sayuran di toko Bu Mason.

Garreth dan papanya tertawa melihat Madeline tampak kesal. Sementara Guinevere hanya tersenyum seolah tak ada sesuatu yang terjadi.

Keluarga ini begitu indah, seperti keluargaku. Melihat mereka membuatku merindukan kedua orang tuaku sembari berpikir bagaimana tanggapan mereka saat aku menceritakan pengalamanku disini. Mereka mungkin tak akan mempercayainya. Lihat saja nanti ketika aku kembali ke rumah yang berarti lusa.

"Madeline berkata kau berasal dari keluarga kerajaan," Garreth memulai percakapan baru denganku.

Aku menoleh padanya dan mengangguk.

"Apa nama keluargamu? Aku tahu hampir semua keluarga kerajaan baik di kota ini maupun di kota-kota yang dekat sini," ia memberikan sebuah pertanyaan yang tak dapat kujawab.

"Itu.. uh, Harris," Kusebutkan nama keluargaku dengan ragu.

Garreth mengernyit. "Harris?" Jawabanku membuatnya terdiam untuk beberapa saat.

Biasanya, nama keluarga mewakili nama baik keluarga itu sendiri. Di dunia ini, aku tak tahu apakah Harris nama yang baik atau buruk. Inilah yang menjadi pertanyaanku. Aku memperhatikan ekspresi wajah Garreth tapi tak bisa menebak apa yang ia pikirkan mengenai nama keluargaku.

"Kau berasal dari Ochrana? Aku pikir tak ada keluarga kerajaan bernama Harris sejauh yang aku tahu," Tanggapan Garreth membuatku merasa cemas.

"Mungkin karena keluarganya adalah salah satu keluarga kerajaan yang identitasnya disembunyikan." Papanya memberi pernyataan baru sehingga membuat semuanya berpaling padaku seolah meminta kepastian.

Ekspresi wajah mereka tampak serius. Ini membuatku merasa takut. Keringatku mungkin sudah tampak sebesar biji jagung dan aku tak tahu sudah berapa kali aku menelan ludah.

"Sudah hentikan," Guinevere memberitahu keluarganya dan mereka tertawa. Saat itulah aku tahu bahwa mereka hanya bercanda dan tak menganggapnya serius.

Oleh sebab itu, aku hanya dapat bersyukur. Kupikir wajah serius mereka menandakan masalah serius disini. Aku tak dapat membayangkan jika aku harus masuk ke dalam penjara di suatu tempat disini yang aku tak ketahui hingga aku tak dapat pulang ke rumah.

Saat kami selesai makan malam, kami berpisah satu sama lain. Sambil menggandeng tanganku, Madeline buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Kami duduk di atas ranjang sampai pukul sepuluh malam sambil bercerita akan banyak hal -- atau lebih tepatnya, ia bercerita dan aku mendengarkan -- sebelum pada akhirnya kami menutup mata dan terlelap.

○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Diubah oleh yohanaekky 31-08-2018 14:13
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.