- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.6K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#647
Quote:
PART 41
Langit kian pekat, suasana di rumah mewah Tuan Vegar masih terasa tegang lantaran Medina tak kunjung pulang.
Sang Istri sudah berkali – kali membujuknya untuk menjemput Medina, yang di yakini pergi menjenguk Adam di rumah sakit. Tapi tuan Vegar lebih memilih mengabaikan hal itu. Baginya asal sudah tahu ada dimana anak itu sekarang, sudah lebih dari cukup. Ia yakin Medina akan pulang dengan sendirinya jika ia sudah merasa bosan.
“ Andai saja dulu kamu tidak bertindak sembrono, keluarga kita tidak akan berantakan seperti ini, Mas," ucap Sang Istri yang membuat suasana kian memanas.
“ Aku melakukannya untuk kebaikan mereka," sahut Tuan Vegar dingin.
“ Mengabaikan mereka hingga belasan tahun, apa itu juga untuk kebaikan mereka?”
“ Kamu tahu persis seperti apa kondisi saat itu? Aku tidak mungkin membiarkan anak – anak terlibat dalam rencana kita.”
“ Itu karena kamu terlalu takut, rencana kamu untuk merebut harta warisan itu berantakan!!”
“ Karena aku tidak ingin mereka tumbuh dewasa deengan ayah perampok seperti aku!!”
Sang istri terdiam mendengar ucapan lantang tuan Vegar. Selama belasan tahun ia mengira suaminya adalah ayah yang paling biadab karena membuang anaknya sendiri demi mengejar ambisinya. Belasan tahun pula ia harus menahan diri untuk tidak menemui anaknya karena larangan dari tuan Vegar.
Ternyata ini jawabannya, suaminya hanya tidak ingin kedua buah hatinya menyaksikan dosa yang di lakukan ayahnya. Tapi...apa alasan itu cukup unuk memaklumi kesalahan yaang ia perbuat?
“ Harusnya papa tidak melakukan itu sejak awal” sahutan seseorang menyela pembicaraan keduanya.
Seorang pemuda bermata sayu memasuki ruang tamu dan berjalan mendekati keduanya. Dia Adam. Kedatangannya ke rumah ini, langsung di sambut dengan perdebatan kedua orang tuanya sekaligus menjawab pertanyaan Adam yang telah ia simpan selama 17 tahun. ‘kenapa ia dan Medina di tinggalkan?’. Dan ia mendapat jawabannya hari ini. Tapi entah kenapa ia justru semakin kecewa dengan kedua orang tuanya.
“ Harusnya papa dan mama tidak berencana merebut hak orang lain untuk kebahagiaan sendiri.”
“ Itu semua untuk kalian berdua.”
“ Terima kasih untuk pengakuan dari papa yang barusan aku dengar. Tapi maaf, aku tidak merasa bangga sama sekali,” Adam memandangi sang ayah dengan tatapan dingin.
“ Adam...jaga bicara kamu!!” hardik sang ayah lantang.
“ Kebahagiaan tidak sebatas pada nominal uang yang papa punya. Apa dengan merebut seluruh hak kak Andra, papa dan mama bahagia?” tanya Adam dan sukses membungkam mulut kedua orang tuanya.
Mereka memang punya segalanya, tapi hal itu justru membuat mereka kehilangan anak – anaknya. Kebahagiaan seperti apa yang pantas mereka harapkan setelah mengabaikan kedua anaknya hingga belasan tahun? Tidak ada.
“ Nggakkan?”
“ Adam, niat papa kamu baik.” Kali ini justru sang ibu yang bersuara.
“ Baik? Berusaha menciptakan kebahagiaan semu untuk aku dan Medina dengan merampas hak orang lain, apa itu yang mama sebut sebagai niat baik?” Adam balik bertanya dengan tatapan nanar.
“ Bagaimana dengan kak Andra? Tante Fika? Yang bertahun – tahun harus hidup kekurangan, banting tulang sana sini hanya karena keegoisan papa yang di kamuflase sebagai niat baik? Apa mama dan papa tidak memikirkan mereka?!!” sambung Adam lagi dengan suara bergetar. Perasaan kecewa, sedih, sekaligus marah menjadi kombinasi yang menguasai hati dan pikirannya saat ini.
“ Adam setidaknya hargai yang papa kamu lakukan untuk membuat masa depan, kamu, Medina, dan kita semua menjadi lebih baik.” Sang Ibu masih terlihat membela ayahnya mati – matian.
Adam tidak mengerti apa yang ada di pikiran ibunya saat ini. Apapun tujuannya, yang di lakukan sang ayah jelas tidak bisa ia tolerir.
“ Ada begitu banyak hal yang bisa membuat sebuah keluarga bahagia. Dan yang mama dan papa lakukan bukan salah satunya, permisi,” Adam berlalu pergi dengan mata yang mulai terasa panas, ia bahkan tidak menggubris panggilan sang ibu.
Niat Adam yang tadinya ingin datang meminta maaf, nyatanya berubah haluan karena situasi tegang yang terjadi antara dirinya dengan sang ayah.
Apalagi setelah tanpa sengaja mendengar pengakuan ayahnya tadi, Adam semakin tidak bisa mengontrol emosinya sendiri. Berkali – kali batin Adam memaki dirinya sendiri, karena tindakannya yang terus menyulut emosi orang tuanya. Berkali – kali pula batinnya terus berteriak meminta maaf, walau pada akhirnya kata maaf itu hanya bertahan di ujung lidah.
Sesulit inikah memaafkan?
“ Adam kamu mau kemana? Kembalilah ke rumah, kami semua merindukan kamu,” lirih sang ibu sambil mengikuti langkah cepat Adam. Tangan rampingnya terus saja menggenggam pergelangan tangan Adam, berharap itu bisa menghentikan langkah Adam.
“ Sudahlah Ma, biarkan dia pergi. Aku tidak butuh anak yang tidak tahu berterima kasih seperti dia,” ucapan sang ayah dengan suara cukup lantang, mengalahkan suara sang ibu dan sukses menghentikan langkah Adam yang sudah berada di ambang pintu.
“ Pa...berhenti bertingkah egois!!” sergah sang ibu dengan air mata yang terus berlinang.
Adam menatap sendu sang ibu, ia tidak tega melihat ibunya itu kembali menangis karena ulahnya. Tapi keemudian ia mengalihkan pandangannya pada sang ayah yang tengah melemparkan tatapan tajam ke arahnya.
“ Tunggu apa lagi? Pergi kalau memang itu yang kamu mau!!”
Adam menghela nafas pelan, ia mencoba untuk tetap tenang,” Pergi darimana? Bukannya sudah 17 tahun aku tidak pernah berada di keluarga ini?”
“ Kamu benar – benar sudah membuat kesabaran papa habis!!” sergah sang Ayah sambil melempar vas bunga yang terletak di atas meja ke sembarang arah. “ Tujuh belas tahun di tinggalkan nyatanya tidak membuat kamu bersyukur karena sudah bertemu kami,” sambung tuan Vegar masih di selimuti emosi yang menggebu – gebu, langkahnya cepat mendekati Adam.
Adam masih tetap tenang sekalipun kini kedua tangan sang ayah sudah mencengkram kerah kemeja hitam yang ia kenakan,” Apa yang patut di syukuri dari pertemuan yang tidak di inginkan sama sekali?!"
Perkataan Adam semakin menaikkan kadar emosi sang ayah,” ANAK KURANG AJAR!!” Tuan Vegar berniat melayangkan satu pukulan pada Adam, tapi niat itu tertahan karena tiba – tiba saja sebuah tangan menepis pukulan itu.
;
“ Nando,” ucap Adam sedikit terkejut dengan kehadiran Nando yang mendadak bahkan langsung bertindak sok jagoan menghadapi ayahnya yang terkenal tidak kenal ampun. Bukan hanya Adam, ibunya juga sama kagetnya.
Kedatangan Nando tentunya juga memancing kehadiran para bodyguard yang berjaga di luar rumah untuk masuk ke dalam. Mereka memang sudah sejak tadi berusaha menangkap Nando yang masuk tanpa permisi. Jika bukan karena aba – aba dari bos besarnya tentu mereka sudah menyeret paksa Nando untuk keluar sejak tadi.
“ Tuan Vegar yang terhormat, saya tidak bermaksud kurang ajar karena berniat melawan anda. Tapi, apa yang anda lakukan sama kak Adam itu tidak mencerminkan sosok ayah yang baik sama sekali,” tutur Nando dengan sedikit penekanan pada setiap kata – katanya.
Lucunya, ucapan itu hanya di tanggapi tuan Vegar dengan senyum sinis. Namun sepertinya itu tidak membuat cowok berkacamata ini gentar, ia terus saja mengoceh seenaknya.
“ Maaf, jika penilaian saya salah. Tapi apa yang saya lihat belakangan ini, saya semakin yakin kalau Om butuh lebih banyak waktu untuk belajar menjadi ayah yang baik,”
Raut wajah tuan Vegar seketika berubah berang, tangannya terlihat mengepal erat hingga menampakkan buku – buka jarinya. Nando berhasil menyulut emosi tuan Vegar.
“ Ayah mana yang tega menelantarkan anak – anaknya sendiri? Ayah mana yang tega memukul anaknya hingga terkapar di rumah sakit? Ayah mana yang-,”
“ Nando cukup, lo nggak berhak ikut campur dalam urusan ini,” ucap Adam bernada tegas.
“ Kak Adam gue cuman ngebelain lo.” Sahut Nando masih memfokuskan pandangannya pada tuan Vegar, ia sama sekali tak tertarik memandangi wajah Adam, yang tentu saja sedang mencoba menghentikan aksinya.
“ Sebelum mengurusi urusan orang lain. Lebih baik selesaikan dulu urusan kamu dengan ayah kamu.”
Kata – kata ringan tuan Vegar , sedikit menyentil amarah Nando. Walau ia sendiri tidak tahu apa maksudnya. Bahkan ia juga tidak pernah tahu jika ayahnya kenal dengan tuan Vegar.
“ Apa maksud om?”
Tuan Vegar tertawa kecil, seakan meledek Nando yang sedang bingung,” Apa ayah kamu tidak pernah cerita? Dimana keberadaan ibu kamu?”
“ Ibu saya sudah meninggal sejak saya berumur 3 tahun,” jawab Nando yakin.
Mendengar itu tawa tuan Vegar semakin meledak – ledak. Baik Nando, Adam, bahkan mungkin semua yang ada di sana juga merasa heran dengan kelakuan tuan Vegar. Hal lucu apa yang bisa membuatnya tertawa seperti itu?
“ Anak bodoh, kamu itu sudah di bohongi. Ibu kamu belum meninggal. Dia masih hidup dan dia-,” tuan Vegar sengaja menggantung kalimatnya, tampak ingin memancing rasa penasaran Nando.-“ Gila,” sambungnya dan di susul dengan tawa lepas.
“ Nggak mungkin,” sergah Nando dengan emosi sambil mendorong tubuh tuan Vegar hingga membuat pria itu jatuh menghantam lantai.
Keadaan semakin tegang, Adam yang melihat itu spontan menarik Nando agar tidak bertindak lebih jauh lagi.
“ PAPA NGGAK MUNGKIN BOHONG. KALAUPUN IBU SAYA MASIH HIDUP, DIA NGGAK MUNGKIN GILA!!” Bukannya berhenti Nando semakin emosi dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Adam, agar ia bisa leluasa meluapkan emosinya pada tuan Vegar. Mungkin sedikit melayangkan pukulan kecil di rahangnya. Tapi Adam tentu tidak akan membiarkannya. Bagaimanapun tiaan Vegar adalah orang tua yang harus di hormati.
“ SERET MEREKA KELUAR!! Perintah tuaan Vegar pada para bodyguardnya.
“ Nggak perlu. Kita udah tahu jalan keluarnya,” Kali ini Adam yang kembali bersuara. Ia menyeret paksa Nando meninggalkan ruang tamu. Nando terlihat memberontak, tapi fisik Adam jelas lebih kuat darinya. Nando hanya bisa pasrah dan membiarkan emosinya meluap dengan sendirinya.
“ Untuk kamu, Adam. Jangan pernah temui adik kamu lagi. Kehadiran kamu hanya akan membawa pengaruh buruk buat Medina.”
Kalimat terakhir yang Adam dengar dari sang Ayah sempat membuat langkahnya terhenti untuk beberapa saat.
Tapi setelah dia pikirkan, sepertinya itu lebih baik untuk Medina. Adiknya sudah lama hidup menderita dan berkelurangan selama ini, dengan tinggal bersama kedua orang tua kandungnya, ia yakin Medina akan lebih bahagia.
Adam kembali meneruskan langkahnya menjauhi rumah di iringi dengan tangisan sang ibu, yang berusaha mencegahnya tapi sudah di hadang oleh barisan bodyguard sang suami. Adam tak mempedulikan hal itu, ia yakin semuanya akan kembali membaik setelah ia pergi.
●●●
1
Kutip
Balas