- Beranda
- Stories from the Heart
A Born Beauty (The Sequel)
...
TS
yohanaekky
A Born Beauty (The Sequel)

Bukanlah sesuatu yang tidak mungkin bagi gadis yang berpenampilan tomboy ini untuk meraih segala impiannya. Pasalnya, dia adalah pejuang keras. Apapun yang ia inginkan selalu dikejarnya sampai dapat. Tidak heran, banyak prestasi yang ia raih di sepanjang perjalanan hidupnya, baik secara akademis maupun secara bakat.
Charice Patricia Lee, namanya. Jika remaja seusianya tidak pernah melepaskan gadgetdari tangannya, Charice justru seringkali melupakannya dan bahkan meninggalkannya di rumah. Hanya ada satu hal yang tak pernah ia lepaskan dari tangannya. Gitar yang sejak umur tujuh tahun dibelikan oleh Jackson, papanya.
Kecintaannya bermusik diturunkan dari kedua orang tuanya. Sejak pertama kali menyentuh gitar, tidak pernah satu hari pun ia melepaskannya. Setiap waktu senggang yang ia miliki selalu ia isi dengan bermain gitar. Bahkan ketika ia sibuk pun, sebisa mungkin ia menyediakan waktu luang setidaknya lima sampai sepuluh menit untuk sekedar memetik gitar. Itulah mengapa Charice sangat mahir memainkan gitar, bahkan melebihi pemuda yang lebih tua darinya.
Namun, kedua orang tuanya tidak lantas membiarkannya bergelut di dunia musik tanpa menyeimbangkan dengan sekolahnya. Charice dididik untuk mengerti prioritasnya dengan baik. Sekolah adalah yang utama, bakat adalah...
"Sama-sama utama." Begitulah jawab Charice ketika Ifone menanyainya mengenai prioritas yang benar untuk kesekian kalinya. Sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak pernah merubah pendapatnya mengenai hal ini.
Mendengarnya, Ifone hanya menggeleng-geleng heran.
"Anak papa ini memang keras kepala." Jackson yang sekilas mendengar percakapan istri dan anaknya di ruang keluarga, melewati Charice lalu mengacak-acak rambutnya.
Charice mengerucutkan bibirnya. "Siapa yang bikin coba? Bukannya papa juga gitu?" Ia tak mau kalah begitu saja.
Jackson menertawai tanggapan putrinya itu. "Bukan cuma papa yang keras kepala, tapi mamamu juga."
Lantas, sebuah bantal dilemparkan pada Jackson dari tangan Ifone, mengenai tepat di lengan kanannya.
"Nah, mulai deh. Papa sama mama nunjukin kemesraannya lagi." Brandon menyeletuk saat masuk ke dalam ruang keluarga, bergabung dengan keluarganya untuk bersenda gurau selepas belajar.
"Iya ih, papa mama." Charice ikut tidak terima. "Kak Brandon nanti jadi kepingin punya pacar lho, pa, ma. Tahu nggak sih? Dia juga udah suka sama cewek loh."
Brandon kemudian mencubit pelan pipi adiknya. "Apaan sih, dek?"
Yang dicubit pun mengerang lalu memukul lengan kakaknya hingga dengan cepat Brandon melepaskannya.
"Tapi kan aku udah dua puluh tahun. Udah boleh pacaran, ya kan, pa, ma?" Brandon meminta persetujuan yang kemudian ditanggapi dengan anggukan oleh kedua orang tuanya. "Cuma aku emang mau fokus sama sekolah sambil kerja-kerja dikit. Biar kalo nanti waktunya punya calon istri tuh udah siap segala materi yang diperluin. Kaya papa dulu. Ya nggak, pa?"
"Cakep," Jakcson yang kini sudah duduk menyebelahi istrinya itu mengacungkan jempol.
Charice mengangkat sebelah alisnya. "So what? Emangnya aku buru-buru mau punya pacar apa?" Ia memprotes ucapan kakaknya yang seakan sedang menyindirnya.
"Nah itu sih masalahnya. Kamu tuh terlalu cuek tahu nggak jadi cewek? Tar cowok-cowok pada pergi ninggalin kamu karena takut loh. Kamu udah kelas dua belas juga. Berubah dong." Brandon mengomentari balik. Ia menggerak-gerakkan kedua alisnya kepada papa mamanya seakan sedang saling berkomunikasi dalam pikiran.
Charice menunjukkan ekspresi khas-nya; ditariknya lidahnya keluar dan bibirnya membentuk persegi. "Apaan sih kak? 'Serah lah mau bilang apa."
"Udah, udah." Ifone menengahi sebelum suasana berubah menjadi tidak enak. Pasalnya kedua anaknya itu pernah bertikai hanya karena hal yang sepele. "Gimana kalo kita nge-jam sekarang?"
"Ayo." Brandon dan Charice menyahut bersamaan.
Momen bermain musik dan bernyanyi bersama adalah hal yang paling keluarga ini sukai. Terlebih karena ini hari Jumat dimana Charice dan Brandon sama-sama terbebas dari tugas sekolah atau kuliah.
Segera masing-masing mengambil bagian mereka. Jackson dengan bass, Ifone dengan piano, Brandon dengan drum dan Charice dengan gitar. Sama-sama memiliki suara yang bagus, mereka bernyanyi ria sampai larut malam.
~ ABB2
Hai! Sekuel dari A Born Beauty akhirnya hadir buat kamu yang udah setia baca buku pertamanya. Belum baca yang pertama? Baca disini 》A Born Beauty (Berkat atau Kutukan)
Kali ini karakter yang sempat disebut di ending cerita buku pertama jadi pemeran utamanya disini. Penasaran sama ceritanya? Ikutin terus ya. Jangan lupa komen ya! Thanks a lot!
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh yohanaekky 30-08-2018 08:00
anasabila memberi reputasi
1
4.8K
36
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yohanaekky
#34
A Born Beauty (The Sequel) - Chapter 11
Perjuangan semalam tidak sia-sia. Mereka mendapatkan posisi nomor satu dalam festival musik itu. Hadiah uang yang didapatkan mereka simpan dalam rekening khusus band seperti biasanya untuk segala macam keperluan.
Termasuk dalam keperluan itu dalam mengeluarkan single pertama mereka. Hari Sabtu ini jam sepuluh pagi mereka berkumpul di basecamp untuk menggarap lagu mereka lebih dalam.
Jika biasanya Charice selalu datang paling awal setiap kali ada pertemuan, kali ini dia adalah orang nomor dua. Angga sudah hadir lebih dulu di basecamp. Ketika Charice masuk ke dalam studio, Angga sedang memetik gitarnya sambil bersenandung.
Tanpa berhenti melakukan aktivitasnya, Angga tersenyum menyambut kedatangan Charice. Ia berfokus pada sebuah buku di depannya dan sesekali berhenti memainkan gitarnya untuk menulis sesuatu di atasnya.
Charice merasa penasaran akan apa yang dilakukan temannya itu. Ia berdiri di dekat Angga untuk melihat pekerjaannya. "Kamu bikin lagu?" tanyanya ketika melihat untaian kata indah disertai notasi musik di atasnya.
Angga hanya mengangguk. Ia kemudian kembali menyanyikan bagian lagu yang telah ia tulis.
Mendengarkan lagu ciptaan Angga, Charice merasa bahwa melodi serta liriknya betul-betul menyentuh. Baru sekali saja mendengar, ia yakin bahwa ia menyukainya.
Ku kan tetap disini bersamamu
Meski jalan yang kita lalui begitu terjal
Genggamlah tanganku, oh kasih
Biarkan aku jadi pelindungmu
Selamanya
"Wow, bagus banget, Ngga!" Charice bertepuk tangan riang ketika Angga menyelesaikan lagunya.
Angga berpaling pada Charice sambil tersenyum. "Kamu suka?"
"Iya lah. Lagu bagus kaya gitu," ungkap Charice jujur. "Kok bisa sih?"
Angga mengerutkan dahinya. "Bisa, apa?" tanyanya tak mengerti.
"Itu, lagu ciptaanmu tuh bisa bikin jatuh hati buat orang yang denger," ucap Charice menjelaskan.
"Kamu dong," celetuk Angga yang membuat mulut Charice terkatup rapat. Pemuda itu mengusap rambut Charice. "Becanda."
Charice tersenyum canggung tanpa berkomentar karena takut salah mengucap.
"HALO!" sebuah sapaan riang dan keras terdengar dari arah pintu masuk studio.
Charice dan Angga menoleh mendapati James datang bersama dengan Jerry. Kedua pemuda kembar itu membawa masing-masing di tangannya sebuah plastik berisi kudapan dan juga minuman ringan dalam botol.
"Kirain kita berdua yang dateng telat, eh nyatanya si cewek satu itu belum nongol juga," komentar Jerry ketika tidak melihat keberadaan Mila.
Charice berdiri menghampiri James yang membawa minuman dan melihat apa saja yanh dibawanya. "Ini susu kotak cuman satu ya? Ada yang mau nggak? Kalo enggak, untuk aku ya?" ia bertanya pada ketiga temannya.
"Itu memang untuk kamu, Rice," ucap James yang juga mengambil salah satu minuman botol mengandung susu dan yoghurt.
Charice menyeringai senang. Ditusukkannyalah sedotan pada kotak susunya dan kemudian menikmati rasa plain seperti yang ia suka.
"Kalian ngapain aja tadi?" tanya Jerry yang sudah duduk di atas sofa sambil memakan keripik kentang pedas. "Deket-dekatan gitu lagi. Angga lagi PDKT sama Charice ya?"
Angga mendatangi Jerry dan duduk di sebelahnya. Diambilnya keripik kentang kepunyaan Jerry lalu berkata, "Kalo iya kenapa? Terus kalo enggak kenapa?" dan memakannya.
"Ya, itu namanya cunta sogotega," ucap Jerry tak jelas.
"Ngomong apaan sih? Telen dulu napa?" protes Angga. Ia kemudian membuka botol minuman soda yang sudah ia ambil sebelumnya.
"CINTA SEGITIGA!"
"Tapi nggak usah keras-keras kali, bro!" Angga menoyor kepala Jerry.
Pura-pura tidak mendengar, Charice berkutat pada hapenya sambil menikmati roti sobek. Beruntung sofa yang ia duduki berjarak dua meter dari teman-temannya. Namun usahanya itu gagal ketika Jerry memanggil namanya.
"Eh, Rice!" untuk yang kedua kalinya Jerry menyebut nama Charice sampai mau tak mau gadis itu menoleh padanya.
"Gimana?" Charice masih berupaya berpura-pura tidak mengerti.
"Kamu nyadar nggak kalo ada cinta segit--" ucapan Jerry terhenti ketika James menyumpal mulutnya dengan roti yang cukup besar.
"Nggak papa, Rice. Nggak usah didengerin. Nyampah aja nih Jerry," ucap James menghentikan informasi yang tidak diinginkan untuk sampai ke telinga Charice meski ia sebetulnya sudah mendengar.
Charice menaikkan sebelah alisnya lalu terkikik sedikit. "Aneh deh," komentarnya lalu berpaling dari ketiga pemuda itu dan memutuskan untuk menelepon Mila yang tak kunjung datang.
Belum lama, Mila datang dengan penampilan yang begitu menarik. Wajahnya dirias dengan riasan natural tetapi menampakkan keanggunannya.
"Wueh, ada acara apa nih kamu dandanan segala?" Mulut Jerry memang tidak dapat berhenti berkata-kata. Ia mengomentari penampilan Mila sehingga gadis itu tampak sedikit gusar.
"Eh, nggak usah mulai, ya. Biarin kek. Dandan gini sih normal," balas Mila yang kemudian meletakkan tasnya di dekat Charice dan mengambil makanan dan minuman ringan yang sudah menggoda lidahnya. Setelah itu, ia menjatuhkan dirinya di atas sofa, di sebelah Charice.
Charice senang melihat teman perempuannya itu. Ia berpikir bahwa Mila betul-betul memiliki pesona yang begitu mengagumkan.
"Napa ngeliatin aku sampe segitunya?" tanya Mila menyadari dirinya diperhatikan. "Mau ngeledek kaya si cecunguk satu itu?"
Charice terkekeh. "Posthink kali. Aku kan cuman terpesona aja ngeliatin kamu," ucapnya. "Sebenernya si Jerry tuh juga terpesona, tapi dia aja yang nggak bisa ngungkapin. Iya nggak, Jer?"
Jerry memasang jelek dengan menarik ujung hidungnya ke atas dengan satu jari.
"Huh! Dasar," gerutu Mila.
"Udah yuk, kita mulai garap single kita," Angga menengahi.
Kelima orang itu pun bergerak menempatkan diri di posisi masing-masing. Mereka mulai melatih lagu yang sudah semakin matang dalam hal aransemen. Tidak banyak perubahan yang dibuat kali ini. Pada akhir latihan mereka merasa senang dengan hasilnya.
"Kayanya kita udah siap ya," ucap Mila meninggalkan keyboard menuju ke sofa yang ada di dekatnya.
Yang lainnya pun turut meninggalkan alat musik mereka lalu duduk di dekat Mila.
"Eh, temen-temen, Angga punya lagu bagus loh," Charice memberitahu. Ia menoleh pada Angga. "Boleh kan?"
Angga mengangguk.
"Oh ya? Coba dong mainin," Mila tampak sangat antusias untuk mendengarnya.
Angga pun meraih gitar akustik yang tak jauh darinya serta membuka buku catatan lagunya. Ia memposisikan gitar serta buku itu sehingga ia merasa nyaman untuk menyenandungkan lagunya.
Menemukanmu adalah suatu keajaiban
Mencintaimu adalah suatu kehormatan
Apa yang lebih kuinginkan dari semua ini?
Lebih dari cukup
Tinggal bersamamu sungguh lebih dari cukup
Ku kan tetap disini bersamamu
Meski jalan yang kita lalui begitu terjal
Genggamlah tanganku, oh kasih
Biarkan aku jadi pelindungmu
Selamanya
"Masih belum sempurna sih," komentar Angga seusai memperdengarkan lagunya.
Mila bertepuk tangan kagum. "Itu keren banget, Ngga. Aku jadi meleleh," pujinya.
"Tuh kan, Ngga, bener kataku. Yang denger pasti langsung suka," ucap Charice pada Angga. Ia lalu berpaling pada si kembar. "Kalo kalian gimana, James, Jerry?"
"Aku denger curhatan, impian, pengakuan cinta, yah itulah, dari lagumu. Aku bener kan?" tanggapan Jerry membuat keempat temannya menggeleng kepala.
"Skip," James menghalangi siapapun untuk membalas ucapan Jerry. "Kalo menurutku itu bagus, cuman kalo bagian reff-nya nadanya agak dibuat gini, biarkan aku jadi pelindungmu. Jadi waktu pelindungmu nadanya masuk ke mayor."
"James, kamu punya suara bagus banget ya ternyata?" Charice menyela. "Sori, aku sela. Aku jadi punya ide. Kalo untuk single kita kamu duet sama aku gimana?"
"Setuju!" Mila menimpali secepat kilat. "Nanti lagu kita bakalan laku keras soalnya memang lagu kita tuh ceritain tentang kisah dua orang yang lagi jatuh cinta kan? Pas banget kalo duet."
"Aku juga setuju," sahut Jerry.
"Ngikut," sambung Angga.
Charice tersenyum senang idenya disetujui. "Jadi? Gimana, James? Mau?"
"It's a pleasure for me to sing with the princess," James berlagak seperti seorang ajudan memberi hormat pada putri raja yang dilayaninya.
"Oke. Sip. Beres. Nanti kita latihan lagi. Sekarang balik ke Angga." Charice menutup topik yang ia buka. "Kalo menurutku ya, lagunya Angga bisa kita jadiin single kedua. Gimana? Itupun kalo nggak masalah sama kamu, Ngga."
Angga mengangkat kedua bahunya. "Ya, nggak masalah sih. Aku seneng-seneng aja."
"Kalo gitu kita garap habis kelarin yang pertama, oke?" ucap Charice yang disetujui oleh semuanya.
Waktu menunjukkan pukul dua belas lebih. Mereka sepakat untuk selesai berlatih. Masing-masing kemudian merapikan alat musik yang sudah dipakai.
"Kamu ada acara nggak habis ini?" Mila berdiri di sebelah Charice saat ia menggulung kabel mikrofon.
Charice menggeleng. "Gimana, Mil?"
"Aku... mau minta tolong sesuatu," bisik Mila. "Mendesak."
~ ABB2
Mila minta tolong apa ya?
Tungguin update selanjutnya ya.
Vomment if you like it! Thanks!
Termasuk dalam keperluan itu dalam mengeluarkan single pertama mereka. Hari Sabtu ini jam sepuluh pagi mereka berkumpul di basecamp untuk menggarap lagu mereka lebih dalam.
Jika biasanya Charice selalu datang paling awal setiap kali ada pertemuan, kali ini dia adalah orang nomor dua. Angga sudah hadir lebih dulu di basecamp. Ketika Charice masuk ke dalam studio, Angga sedang memetik gitarnya sambil bersenandung.
Tanpa berhenti melakukan aktivitasnya, Angga tersenyum menyambut kedatangan Charice. Ia berfokus pada sebuah buku di depannya dan sesekali berhenti memainkan gitarnya untuk menulis sesuatu di atasnya.
Charice merasa penasaran akan apa yang dilakukan temannya itu. Ia berdiri di dekat Angga untuk melihat pekerjaannya. "Kamu bikin lagu?" tanyanya ketika melihat untaian kata indah disertai notasi musik di atasnya.
Angga hanya mengangguk. Ia kemudian kembali menyanyikan bagian lagu yang telah ia tulis.
Mendengarkan lagu ciptaan Angga, Charice merasa bahwa melodi serta liriknya betul-betul menyentuh. Baru sekali saja mendengar, ia yakin bahwa ia menyukainya.
Ku kan tetap disini bersamamu
Meski jalan yang kita lalui begitu terjal
Genggamlah tanganku, oh kasih
Biarkan aku jadi pelindungmu
Selamanya
"Wow, bagus banget, Ngga!" Charice bertepuk tangan riang ketika Angga menyelesaikan lagunya.
Angga berpaling pada Charice sambil tersenyum. "Kamu suka?"
"Iya lah. Lagu bagus kaya gitu," ungkap Charice jujur. "Kok bisa sih?"
Angga mengerutkan dahinya. "Bisa, apa?" tanyanya tak mengerti.
"Itu, lagu ciptaanmu tuh bisa bikin jatuh hati buat orang yang denger," ucap Charice menjelaskan.
"Kamu dong," celetuk Angga yang membuat mulut Charice terkatup rapat. Pemuda itu mengusap rambut Charice. "Becanda."
Charice tersenyum canggung tanpa berkomentar karena takut salah mengucap.
"HALO!" sebuah sapaan riang dan keras terdengar dari arah pintu masuk studio.
Charice dan Angga menoleh mendapati James datang bersama dengan Jerry. Kedua pemuda kembar itu membawa masing-masing di tangannya sebuah plastik berisi kudapan dan juga minuman ringan dalam botol.
"Kirain kita berdua yang dateng telat, eh nyatanya si cewek satu itu belum nongol juga," komentar Jerry ketika tidak melihat keberadaan Mila.
Charice berdiri menghampiri James yang membawa minuman dan melihat apa saja yanh dibawanya. "Ini susu kotak cuman satu ya? Ada yang mau nggak? Kalo enggak, untuk aku ya?" ia bertanya pada ketiga temannya.
"Itu memang untuk kamu, Rice," ucap James yang juga mengambil salah satu minuman botol mengandung susu dan yoghurt.
Charice menyeringai senang. Ditusukkannyalah sedotan pada kotak susunya dan kemudian menikmati rasa plain seperti yang ia suka.
"Kalian ngapain aja tadi?" tanya Jerry yang sudah duduk di atas sofa sambil memakan keripik kentang pedas. "Deket-dekatan gitu lagi. Angga lagi PDKT sama Charice ya?"
Angga mendatangi Jerry dan duduk di sebelahnya. Diambilnya keripik kentang kepunyaan Jerry lalu berkata, "Kalo iya kenapa? Terus kalo enggak kenapa?" dan memakannya.
"Ya, itu namanya cunta sogotega," ucap Jerry tak jelas.
"Ngomong apaan sih? Telen dulu napa?" protes Angga. Ia kemudian membuka botol minuman soda yang sudah ia ambil sebelumnya.
"CINTA SEGITIGA!"
"Tapi nggak usah keras-keras kali, bro!" Angga menoyor kepala Jerry.
Pura-pura tidak mendengar, Charice berkutat pada hapenya sambil menikmati roti sobek. Beruntung sofa yang ia duduki berjarak dua meter dari teman-temannya. Namun usahanya itu gagal ketika Jerry memanggil namanya.
"Eh, Rice!" untuk yang kedua kalinya Jerry menyebut nama Charice sampai mau tak mau gadis itu menoleh padanya.
"Gimana?" Charice masih berupaya berpura-pura tidak mengerti.
"Kamu nyadar nggak kalo ada cinta segit--" ucapan Jerry terhenti ketika James menyumpal mulutnya dengan roti yang cukup besar.
"Nggak papa, Rice. Nggak usah didengerin. Nyampah aja nih Jerry," ucap James menghentikan informasi yang tidak diinginkan untuk sampai ke telinga Charice meski ia sebetulnya sudah mendengar.
Charice menaikkan sebelah alisnya lalu terkikik sedikit. "Aneh deh," komentarnya lalu berpaling dari ketiga pemuda itu dan memutuskan untuk menelepon Mila yang tak kunjung datang.
Belum lama, Mila datang dengan penampilan yang begitu menarik. Wajahnya dirias dengan riasan natural tetapi menampakkan keanggunannya.
"Wueh, ada acara apa nih kamu dandanan segala?" Mulut Jerry memang tidak dapat berhenti berkata-kata. Ia mengomentari penampilan Mila sehingga gadis itu tampak sedikit gusar.
"Eh, nggak usah mulai, ya. Biarin kek. Dandan gini sih normal," balas Mila yang kemudian meletakkan tasnya di dekat Charice dan mengambil makanan dan minuman ringan yang sudah menggoda lidahnya. Setelah itu, ia menjatuhkan dirinya di atas sofa, di sebelah Charice.
Charice senang melihat teman perempuannya itu. Ia berpikir bahwa Mila betul-betul memiliki pesona yang begitu mengagumkan.
"Napa ngeliatin aku sampe segitunya?" tanya Mila menyadari dirinya diperhatikan. "Mau ngeledek kaya si cecunguk satu itu?"
Charice terkekeh. "Posthink kali. Aku kan cuman terpesona aja ngeliatin kamu," ucapnya. "Sebenernya si Jerry tuh juga terpesona, tapi dia aja yang nggak bisa ngungkapin. Iya nggak, Jer?"
Jerry memasang jelek dengan menarik ujung hidungnya ke atas dengan satu jari.
"Huh! Dasar," gerutu Mila.
"Udah yuk, kita mulai garap single kita," Angga menengahi.
Kelima orang itu pun bergerak menempatkan diri di posisi masing-masing. Mereka mulai melatih lagu yang sudah semakin matang dalam hal aransemen. Tidak banyak perubahan yang dibuat kali ini. Pada akhir latihan mereka merasa senang dengan hasilnya.
"Kayanya kita udah siap ya," ucap Mila meninggalkan keyboard menuju ke sofa yang ada di dekatnya.
Yang lainnya pun turut meninggalkan alat musik mereka lalu duduk di dekat Mila.
"Eh, temen-temen, Angga punya lagu bagus loh," Charice memberitahu. Ia menoleh pada Angga. "Boleh kan?"
Angga mengangguk.
"Oh ya? Coba dong mainin," Mila tampak sangat antusias untuk mendengarnya.
Angga pun meraih gitar akustik yang tak jauh darinya serta membuka buku catatan lagunya. Ia memposisikan gitar serta buku itu sehingga ia merasa nyaman untuk menyenandungkan lagunya.
Menemukanmu adalah suatu keajaiban
Mencintaimu adalah suatu kehormatan
Apa yang lebih kuinginkan dari semua ini?
Lebih dari cukup
Tinggal bersamamu sungguh lebih dari cukup
Ku kan tetap disini bersamamu
Meski jalan yang kita lalui begitu terjal
Genggamlah tanganku, oh kasih
Biarkan aku jadi pelindungmu
Selamanya
"Masih belum sempurna sih," komentar Angga seusai memperdengarkan lagunya.
Mila bertepuk tangan kagum. "Itu keren banget, Ngga. Aku jadi meleleh," pujinya.
"Tuh kan, Ngga, bener kataku. Yang denger pasti langsung suka," ucap Charice pada Angga. Ia lalu berpaling pada si kembar. "Kalo kalian gimana, James, Jerry?"
"Aku denger curhatan, impian, pengakuan cinta, yah itulah, dari lagumu. Aku bener kan?" tanggapan Jerry membuat keempat temannya menggeleng kepala.
"Skip," James menghalangi siapapun untuk membalas ucapan Jerry. "Kalo menurutku itu bagus, cuman kalo bagian reff-nya nadanya agak dibuat gini, biarkan aku jadi pelindungmu. Jadi waktu pelindungmu nadanya masuk ke mayor."
"James, kamu punya suara bagus banget ya ternyata?" Charice menyela. "Sori, aku sela. Aku jadi punya ide. Kalo untuk single kita kamu duet sama aku gimana?"
"Setuju!" Mila menimpali secepat kilat. "Nanti lagu kita bakalan laku keras soalnya memang lagu kita tuh ceritain tentang kisah dua orang yang lagi jatuh cinta kan? Pas banget kalo duet."
"Aku juga setuju," sahut Jerry.
"Ngikut," sambung Angga.
Charice tersenyum senang idenya disetujui. "Jadi? Gimana, James? Mau?"
"It's a pleasure for me to sing with the princess," James berlagak seperti seorang ajudan memberi hormat pada putri raja yang dilayaninya.
"Oke. Sip. Beres. Nanti kita latihan lagi. Sekarang balik ke Angga." Charice menutup topik yang ia buka. "Kalo menurutku ya, lagunya Angga bisa kita jadiin single kedua. Gimana? Itupun kalo nggak masalah sama kamu, Ngga."
Angga mengangkat kedua bahunya. "Ya, nggak masalah sih. Aku seneng-seneng aja."
"Kalo gitu kita garap habis kelarin yang pertama, oke?" ucap Charice yang disetujui oleh semuanya.
Waktu menunjukkan pukul dua belas lebih. Mereka sepakat untuk selesai berlatih. Masing-masing kemudian merapikan alat musik yang sudah dipakai.
"Kamu ada acara nggak habis ini?" Mila berdiri di sebelah Charice saat ia menggulung kabel mikrofon.
Charice menggeleng. "Gimana, Mil?"
"Aku... mau minta tolong sesuatu," bisik Mila. "Mendesak."
~ ABB2
Mila minta tolong apa ya?
Tungguin update selanjutnya ya.
Vomment if you like it! Thanks!
0