- Beranda
- Stories from the Heart
A Born Beauty (The Sequel)
...
TS
yohanaekky
A Born Beauty (The Sequel)

Bukanlah sesuatu yang tidak mungkin bagi gadis yang berpenampilan tomboy ini untuk meraih segala impiannya. Pasalnya, dia adalah pejuang keras. Apapun yang ia inginkan selalu dikejarnya sampai dapat. Tidak heran, banyak prestasi yang ia raih di sepanjang perjalanan hidupnya, baik secara akademis maupun secara bakat.
Charice Patricia Lee, namanya. Jika remaja seusianya tidak pernah melepaskan gadgetdari tangannya, Charice justru seringkali melupakannya dan bahkan meninggalkannya di rumah. Hanya ada satu hal yang tak pernah ia lepaskan dari tangannya. Gitar yang sejak umur tujuh tahun dibelikan oleh Jackson, papanya.
Kecintaannya bermusik diturunkan dari kedua orang tuanya. Sejak pertama kali menyentuh gitar, tidak pernah satu hari pun ia melepaskannya. Setiap waktu senggang yang ia miliki selalu ia isi dengan bermain gitar. Bahkan ketika ia sibuk pun, sebisa mungkin ia menyediakan waktu luang setidaknya lima sampai sepuluh menit untuk sekedar memetik gitar. Itulah mengapa Charice sangat mahir memainkan gitar, bahkan melebihi pemuda yang lebih tua darinya.
Namun, kedua orang tuanya tidak lantas membiarkannya bergelut di dunia musik tanpa menyeimbangkan dengan sekolahnya. Charice dididik untuk mengerti prioritasnya dengan baik. Sekolah adalah yang utama, bakat adalah...
"Sama-sama utama." Begitulah jawab Charice ketika Ifone menanyainya mengenai prioritas yang benar untuk kesekian kalinya. Sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak pernah merubah pendapatnya mengenai hal ini.
Mendengarnya, Ifone hanya menggeleng-geleng heran.
"Anak papa ini memang keras kepala." Jackson yang sekilas mendengar percakapan istri dan anaknya di ruang keluarga, melewati Charice lalu mengacak-acak rambutnya.
Charice mengerucutkan bibirnya. "Siapa yang bikin coba? Bukannya papa juga gitu?" Ia tak mau kalah begitu saja.
Jackson menertawai tanggapan putrinya itu. "Bukan cuma papa yang keras kepala, tapi mamamu juga."
Lantas, sebuah bantal dilemparkan pada Jackson dari tangan Ifone, mengenai tepat di lengan kanannya.
"Nah, mulai deh. Papa sama mama nunjukin kemesraannya lagi." Brandon menyeletuk saat masuk ke dalam ruang keluarga, bergabung dengan keluarganya untuk bersenda gurau selepas belajar.
"Iya ih, papa mama." Charice ikut tidak terima. "Kak Brandon nanti jadi kepingin punya pacar lho, pa, ma. Tahu nggak sih? Dia juga udah suka sama cewek loh."
Brandon kemudian mencubit pelan pipi adiknya. "Apaan sih, dek?"
Yang dicubit pun mengerang lalu memukul lengan kakaknya hingga dengan cepat Brandon melepaskannya.
"Tapi kan aku udah dua puluh tahun. Udah boleh pacaran, ya kan, pa, ma?" Brandon meminta persetujuan yang kemudian ditanggapi dengan anggukan oleh kedua orang tuanya. "Cuma aku emang mau fokus sama sekolah sambil kerja-kerja dikit. Biar kalo nanti waktunya punya calon istri tuh udah siap segala materi yang diperluin. Kaya papa dulu. Ya nggak, pa?"
"Cakep," Jakcson yang kini sudah duduk menyebelahi istrinya itu mengacungkan jempol.
Charice mengangkat sebelah alisnya. "So what? Emangnya aku buru-buru mau punya pacar apa?" Ia memprotes ucapan kakaknya yang seakan sedang menyindirnya.
"Nah itu sih masalahnya. Kamu tuh terlalu cuek tahu nggak jadi cewek? Tar cowok-cowok pada pergi ninggalin kamu karena takut loh. Kamu udah kelas dua belas juga. Berubah dong." Brandon mengomentari balik. Ia menggerak-gerakkan kedua alisnya kepada papa mamanya seakan sedang saling berkomunikasi dalam pikiran.
Charice menunjukkan ekspresi khas-nya; ditariknya lidahnya keluar dan bibirnya membentuk persegi. "Apaan sih kak? 'Serah lah mau bilang apa."
"Udah, udah." Ifone menengahi sebelum suasana berubah menjadi tidak enak. Pasalnya kedua anaknya itu pernah bertikai hanya karena hal yang sepele. "Gimana kalo kita nge-jam sekarang?"
"Ayo." Brandon dan Charice menyahut bersamaan.
Momen bermain musik dan bernyanyi bersama adalah hal yang paling keluarga ini sukai. Terlebih karena ini hari Jumat dimana Charice dan Brandon sama-sama terbebas dari tugas sekolah atau kuliah.
Segera masing-masing mengambil bagian mereka. Jackson dengan bass, Ifone dengan piano, Brandon dengan drum dan Charice dengan gitar. Sama-sama memiliki suara yang bagus, mereka bernyanyi ria sampai larut malam.
~ ABB2
Hai! Sekuel dari A Born Beauty akhirnya hadir buat kamu yang udah setia baca buku pertamanya. Belum baca yang pertama? Baca disini 》A Born Beauty (Berkat atau Kutukan)
Kali ini karakter yang sempat disebut di ending cerita buku pertama jadi pemeran utamanya disini. Penasaran sama ceritanya? Ikutin terus ya. Jangan lupa komen ya! Thanks a lot!
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh yohanaekky 30-08-2018 08:00
anasabila memberi reputasi
1
4.8K
36
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yohanaekky
#32
A Born Beauty (The Sequel) - Chapter 9
Jam istirahat pertama selesai. Bersama dengan Natalia, Charice kembali ke kelasnya. Ia mengobrol dengan beberapa temannya yang sedang berkumpul di meja guru mengenai PR Kimia lalu menuju ke bangkunya.
Sebuah amplop merah muda bertuliskan 'To my love: Charice' adalah yang pertama menarik perhatiannya. Ia segera mengambil amplop itu, mengangkatnya lalu bertanya pada teman-temannya.
"Ada yang tahu nggak siapa yang naruh ini di mejaku?" Suaranya yang lantang terdengar di seluruh ruang kelasnya.
Teman-temannya menoleh pada Charice, tapi hanya gelengan kepala yang ia dapati.
Penasaran, Charice pun membuka isi amplop itu.
Charice mendengus disertai tawa kecil. "Apa nih? Cheesybanget," gumamnya. "Love, someone pula. Ya Tuhan." Ia kemudian memasukkan amplop itu begitu saja ke dalam tasnya. Entah akan dibuang nantinya atau tetap disimpan untuk diperlihatkan pada Natalia.
Dikesampingkannya pikirannya mengenai amplop itu, lalu Charice memfokuskan pikirannya pada tiga pelajaran terakhir hari itu. Ia betul-betul belajar dengan baik karena ingin mendapatkan prestasi sebagai murid dengan nilai terbaik. Ia sudah berencana untuk mengajukan beasiswa kuliah ke Amerika. Baginya, tidak boleh ada gangguan apapun.
//ABB2//
Selama lima bulan berturut-turut Charice selalu menerima amplop yang isinya menyatakan cinta padanya. Ia heran, tapi tidak memiliki niat untuk menyelidiki siapa di balik surat yang demikian banyaknya ini. Jika semua amplop itu dikumpulkan, hampir satu kardus penuh banyaknya.
Namun bukan Charice namanya jika tidak bisa fokus secara penuh dalam prestasi akademiknya. Ujian nasional, ujian sekolah, ujian praktek, semua dilahapnya habis bak makanan lezat yang tidak boleh dilewatkan. Kerja kerasnya pun pada akhirnya membuahkan hasil.
Pada awal bulan Mei, pengumuman nilai ujian sudah ditempel di papan pengumuman sekolah. Seperti yang diharapkannya, Charice mendapatkan peringkat yang pertama.
"Charice, selamat ya!!!" sorak Natalia sehingga menyita perhatian murid lain yang ada di sekitarnya.
Akibatnya, beberapa murid mendatangi Charice lalu mengucapkan selamat padanya.
"Aku kan udah bilang, kamu pasti peringkat pertama. Jadi, kamu harus traktir aku ya." Natalia tampak girang karena seminggu lalu ia menantang sahabatnya untuk mentraktirnya jika Charice mendapat peringkat satu.
Charice menjulurkan lidahnya. "Enak banget," ucapnya.
"Alah, ayolah. Traktir sekalian tuh temen band kamu, Angga, terus ajakin anak OSIS, terus bapak ibu guru--"
"Yeee, itu sih bikin aku bangkrut tar,"
"Kan orang tuamu berduit, nggak masalah harusnya," Natalia masih berusaha merayu Charice tapi perkataannya kali ini justru membuatnya kesal.
Jari telunjuk Charice dituding-tudingkan pada Natalia. "Ini nih kesalahan anak muda jaman sekarang. Sukanya minta duit sama orang tua buat hura-hura. Aku sih mending pake uangku sendiri." Ia memberikan kritikan pedas.
Wajah Natalia pun berubah. Senyuman menghilang dari wajahnya dan digantikan dengan kerutan-kerutan bersalah. "Ya maaf. Nggak maksud apa-apa. Bercanda doang," ujarnya sedih.
Melihat sahabatnya seperti itu, Charice pun tertawa terbahak-bahak saking puasnya. Ia suka sekali mengerjai Natalia. Ia memang terlalu mudah dijebak.
"Kok ketawa gitu sih?" Natalia bertanya kesal.
Charice menoyor pipi Natalia. "Nggak usah terlalu dibawa serius gitu kali. Aku nggak beneran marah," ucapnya. "Yuk kita ke kelas. Menikmati saat-saat terakhir kita di sekolah."
Natalia kemudian merentangkan tangannya yang sebelah untuk merangkul sahabatnya. Mereka berjalan berdampingan sambil menyenandungkan lagu tema program TV anak-anak di masa kecil mereka dulu.
Namun tidak lama, Natalia melepaskan tangannya dari bahu Charice saat seorang pemuda yang tak diharapkan datang merangkulnya.
"Halo, Charice sayang. Sekolah kan udah kelar, kamu jadi punya waktu untuk aku kan?" Stanley menampakkan ekspresi menggoda dengan guratan senyum di wajahnya.
Sontak Charice mengibaskan tangan Stanley dan menjauh darinya. "Apaan sih kamu? Nggak sopan banget!" serunya tidak suka.
"Ih, kejem banget sih jadi cewek?" Stanley mencondongkan badannya, mendekatkan wajahnya pada wajah Charice.
Selangkah mundur lebih jauh, Charice bergerak menghindari Stanley. Ia kemudian teringat pada sekian banyak surat yang sudah didapatkannya selama ini. Ia langsung menebak bahwa semuanya berasal dari Stanley.
"Stanley, dengerin baik-baik ya. Aku nggak punya perasaan sama kamu. Jadi tolong berhenti kejar aku," Charice menegaskan; telunjuk tangan kanannya mengarah pada pemuda itu.
"Aku bisa bikin kamu jatuh cinta sama aku. Kalo harus, aku bakalan nyingkirin Angga supaya nggak jadi penghalang buat kita berdua," ucapnya dengan nada meninggi.
"Kenapa bawa-bawa Angga segala?"
"Aku ngelakuin hal yang sama kaya Angga ngerangkul kamu kemaren. Tapi waktu dirangkul sama dia kamu nggak menghindar. Jadi itu artinya dia penghalang buat aku," Staynley tampak begitu marah. Ia kemudian menarik kedua tangan Charice.
Secepat kilat Charice melepaskan kedua tangannya dari genggaman kuat Stanley. "Berhenti, Stanley. Sampe kapanpun aku nggak bakalan suka sama kamu. Nggak peduli kamu singkirin siapapun yang kamu anggap penghalang. Dan itulah sikap yang bikin aku lebih nggak suka sama kamu," ia dengan lugas mengutarakan rasa kesal serta penolakan yang jelas atas lerasaan Stanley.
Wajah Stanley berwarna lebih merah karena wajahnya yang terlalu putih untuk ukuran laki-laki.
Charice kemudian menggandeng Natalia. "Dan berhenti kirimin surat-surat cinta nggak jelas ke aku ngerti?" Dengan langkah cepat, ia beserta Natalia meninggalkan Stanley.
Natalia tidak tahu mau dibawa kemana oleh Charice yang kini merasa kesal. Pasalnya kelas mereka harusnya berbelok ke arah kanan tapi mereka justru berjalan lurus. Ia tidak memberontak, tapi hanya terdiam mengikutinya.
Sampai di suatu titik, dimana lorong belakang sekolah tampak sepi, Charice berhenti. Ia melepaskan tangan Natalia yang kemudian mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah akibat terlalu kencang dipegang oleh sahabatnya.
"Nat, aku beneran kesel banget. Asli. Aku nggak tahu harus gimana," Charice begitu gusar sehingga ia berjalan mondar-mandir tanpa henti.
Natalia tak tahu harus berkata apa sehingga yang keluar dari mulutnya justru, "kamu mau aku beliin minuman dingin? Untuk ngademin suasana hatimu."
Charice mengangguk cepat. Lantas, Natalia pergi meninggalkan sahabatnya yang masih berjalan mondar-mandir, tidak bisa berhenti.
Lima menit berlalu, Charice merasa agak lelah. Ia kemudian duduk bersandar pada dinding dan menyelonjorkan kedua kakinya. Untuk meredakan rasa pening di kepalanya ditutupnya kedua matanya, membiarkan alunan musik alam menghibur dirinya.
Belum lama berselang, suara dedaunan yang ditiup angin itu menjadi bernada. Awalnya ia merasa bahwa pening di kepalanya meningkatkan daya imajinasinya. Namun pada akhirnya ia tersadar bahwa itu bukanlah sekedar imajinasinya. Seseorang telah duduk di sampingnya sambil memetik gitar, memainkan lagu 'One Call Away.'
Charice terkejut ketika mendapati Angga di sampingnya. Ia mengelus-elus dada lega karena ia bukan orang yang tidak diinginkan kehadirannya.
"Kok disini sih?" tanya Charice. "Mana main gitar lagi. Ngagetin aja."
Angga terkekeh. "Kamu tuh yang justru harusnya aku tanyain kenapa disini. Aku kan habis nge-jam sama temen-temen di ruang musik."
Charice baru menyadari bahwa tempat dimana ia duduk sekarang berada dekat dengan ruang musik yang hanya dikunjungi ketika ada ekstra musik.
"Terus? Kenapa kamu disini?" Angga kembali menegaskan pertanyaannya yang belum dijawab Charice.
Charice menghela nafas. "Tuh si Stanley bikin kesel lagi."
"Oh," komentar Angga singkat.
"Kok 'oh' doang?"
Angga terkikik. "Terus mau gimana lagi?" tanyanya.
"Ngomong apa gitu kek yang bikin aku jadi lega. Bisa nggak kesel lagi," ujar Charice. Ditariknya kedua kakinya dan dipeluknya, lalu disandarkannya kepalanya di atas lutut.
"Selama kamu masih single ya dia bakalan kejar kamu," singgung Angga. "Tapi kalo kamu udah ada ikatan sama orang lain, baru dia nggak bakalan ngejar lagi."
Charice mendesis. "Apanya yang nggak bakalan ngejar, orang tadi dia bilang bakalan nyingkirin siapapun yang jadi penghalang buat dia untuk ngedapetin aku," ungkapnya kesal.
"Dia nggak bisa nyingkirin aku," ucap Angga ringan.
"Nyingkirin kamu? Kenap--" Charice berhenti ketika menyadari maksud dari ucapan temannya itu.
Angga memiringkan badannya, memposisikan diri menghadap Charice. "Aku bakalan ngelindungin kamu, dan sebisa mungkin nggak akan terkalahkan."
Charice terkikik. "Kamu kok kedengerannya kaya superman gitu sih? Nggak terkalahkan," candanya.
"I'm only one call away," Angga bersenandung dengan suara pas-pasannya sembari memetik gitar, "I'll be there to save the day. Superman's got nothing on me. I'm only one call away." Ia pun tersenyum.
Charice tahu benar apa maksud Angga. Pemuda itu sedang menyatakan perasaannya. Namun bagi Charice, tidak ada perasaan lebih dari sekedar seorang teman. Ia tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya karena tidak mau membuat Angga kecewa.
"Kamu nggak harus jawab apa-apa kok," ucap Angga seakan membalas apa yang Charice pikirkan baru saja.
Charice pun tersenyum. "Makasih ya, Angga," ia merasa begitu lega.
//ABB2//
"Kemana aja sih? Kok tadi nggak balik-balik? Katanya mau beliin minuman dingin buat aku," Charice menegur Natalia saat menghampirinya di kelas untuk mengajaknya pulang.
Hari ini Natalia tidak dijemput oleh mamanya seperti biasanya. Maka Charice dimintanya untuk mengantar pulang karena rumah keduanya searah.
"Ya maaf. Aku soalnya nggak enak aja gangguin kamu sama Angga. Sampe kamu bisa ketawa lagi gitu," ucap Natalia jujur.
Charice mendorong lengan Natalia pelan. "Nggak enak segala. Emangnya segitunya aku sama Angga tadi sampe kamu nggak mau ganggu aku? Dasar."
"Habisnya ngeliatin kalian berdua tuh rasanya nyenengin gitu. Kaya pasangan serasi. Cocok banget beneran," tukas Natalia yakin.
"Huss. Ngarang aja. Aku sama dia nggak ada apa-apa," sergah Charice. Ia kemudian menekan tombol kunci mobil yang otomatis membuka pintu.
Sambil memasang sabuk pengaman sementara Charice memanaskan mesin, Natalia melanjutkan pada topik yang sama. "Kalo saranku ya, mending kamu pacaran sama Angga. Biar ada yang ngelindungin kamu. Soalnya aku nyadar aku nggak bisa. Kekuatanmu sama kekuatanku aja gedean kamu. Biasa ngangkat galon juga makanya."
Charice menoyor pipi Natalia. "Makanya olahraga. Biar kuat. Kerjaan cuman suka males-malesan di rumah sih tiap kali ada waktu senggang," sindirnya yang kemudian menancap gas, meninggalkan area sekolah.
"Yee, aku nggak ngomongin itu keles," ujar Natalia kesal. "Lagipula apa kurangnya Angga coba? Ganteng, pinter, main gitar keren. Aku kalo jadi kamu sih langsung terima dia waktu dia nyatain perasaannya ke kamu kaya tadi."
"Eh?" Charice menoleh pada Natalia dengan kedua bola matanya yang seolah hampir lepas dari tempatnya. "Kok?"
"Nggak sengaja denger tadi," ungkap Natalia. "Makanya harusnya kamu paca--"
"Stop. Nggak usah ngomongin itu terus. Kalo enggak kamu aku turunin disini dan nggak aku traktir makan di Mek-Di loh," ancam Charice yang kemudian mau tidak mau diikuti oleh Natalia.
~ ABB2
Ini dia! Silakan dinikmati. Menurut kamu sejauh ini ceritanya gimana? Selain vote, komen juga yaaa.. Makasih. 😄😄
Sebuah amplop merah muda bertuliskan 'To my love: Charice' adalah yang pertama menarik perhatiannya. Ia segera mengambil amplop itu, mengangkatnya lalu bertanya pada teman-temannya.
"Ada yang tahu nggak siapa yang naruh ini di mejaku?" Suaranya yang lantang terdengar di seluruh ruang kelasnya.
Teman-temannya menoleh pada Charice, tapi hanya gelengan kepala yang ia dapati.
Penasaran, Charice pun membuka isi amplop itu.
---
Semua yang ada padamu hanyalah keindahan
Matamu, wajahmu, cara bicaramu, dan bahkan caramu berjalan
Aku berharap ingin mengenalmu lebih dalam
Namun aku tidak yakin aku mampu mendekatimu
Aku merasa tidak layak mendapatkanmu
Semoga suatu kali nanti kita menjadi dekat jika memang kita ditakdirkan bersama
Love,
Someone.
---
Semua yang ada padamu hanyalah keindahan
Matamu, wajahmu, cara bicaramu, dan bahkan caramu berjalan
Aku berharap ingin mengenalmu lebih dalam
Namun aku tidak yakin aku mampu mendekatimu
Aku merasa tidak layak mendapatkanmu
Semoga suatu kali nanti kita menjadi dekat jika memang kita ditakdirkan bersama
Love,
Someone.
---
Charice mendengus disertai tawa kecil. "Apa nih? Cheesybanget," gumamnya. "Love, someone pula. Ya Tuhan." Ia kemudian memasukkan amplop itu begitu saja ke dalam tasnya. Entah akan dibuang nantinya atau tetap disimpan untuk diperlihatkan pada Natalia.
Dikesampingkannya pikirannya mengenai amplop itu, lalu Charice memfokuskan pikirannya pada tiga pelajaran terakhir hari itu. Ia betul-betul belajar dengan baik karena ingin mendapatkan prestasi sebagai murid dengan nilai terbaik. Ia sudah berencana untuk mengajukan beasiswa kuliah ke Amerika. Baginya, tidak boleh ada gangguan apapun.
//ABB2//
Selama lima bulan berturut-turut Charice selalu menerima amplop yang isinya menyatakan cinta padanya. Ia heran, tapi tidak memiliki niat untuk menyelidiki siapa di balik surat yang demikian banyaknya ini. Jika semua amplop itu dikumpulkan, hampir satu kardus penuh banyaknya.
Namun bukan Charice namanya jika tidak bisa fokus secara penuh dalam prestasi akademiknya. Ujian nasional, ujian sekolah, ujian praktek, semua dilahapnya habis bak makanan lezat yang tidak boleh dilewatkan. Kerja kerasnya pun pada akhirnya membuahkan hasil.
Pada awal bulan Mei, pengumuman nilai ujian sudah ditempel di papan pengumuman sekolah. Seperti yang diharapkannya, Charice mendapatkan peringkat yang pertama.
"Charice, selamat ya!!!" sorak Natalia sehingga menyita perhatian murid lain yang ada di sekitarnya.
Akibatnya, beberapa murid mendatangi Charice lalu mengucapkan selamat padanya.
"Aku kan udah bilang, kamu pasti peringkat pertama. Jadi, kamu harus traktir aku ya." Natalia tampak girang karena seminggu lalu ia menantang sahabatnya untuk mentraktirnya jika Charice mendapat peringkat satu.
Charice menjulurkan lidahnya. "Enak banget," ucapnya.
"Alah, ayolah. Traktir sekalian tuh temen band kamu, Angga, terus ajakin anak OSIS, terus bapak ibu guru--"
"Yeee, itu sih bikin aku bangkrut tar,"
"Kan orang tuamu berduit, nggak masalah harusnya," Natalia masih berusaha merayu Charice tapi perkataannya kali ini justru membuatnya kesal.
Jari telunjuk Charice dituding-tudingkan pada Natalia. "Ini nih kesalahan anak muda jaman sekarang. Sukanya minta duit sama orang tua buat hura-hura. Aku sih mending pake uangku sendiri." Ia memberikan kritikan pedas.
Wajah Natalia pun berubah. Senyuman menghilang dari wajahnya dan digantikan dengan kerutan-kerutan bersalah. "Ya maaf. Nggak maksud apa-apa. Bercanda doang," ujarnya sedih.
Melihat sahabatnya seperti itu, Charice pun tertawa terbahak-bahak saking puasnya. Ia suka sekali mengerjai Natalia. Ia memang terlalu mudah dijebak.
"Kok ketawa gitu sih?" Natalia bertanya kesal.
Charice menoyor pipi Natalia. "Nggak usah terlalu dibawa serius gitu kali. Aku nggak beneran marah," ucapnya. "Yuk kita ke kelas. Menikmati saat-saat terakhir kita di sekolah."
Natalia kemudian merentangkan tangannya yang sebelah untuk merangkul sahabatnya. Mereka berjalan berdampingan sambil menyenandungkan lagu tema program TV anak-anak di masa kecil mereka dulu.
Namun tidak lama, Natalia melepaskan tangannya dari bahu Charice saat seorang pemuda yang tak diharapkan datang merangkulnya.
"Halo, Charice sayang. Sekolah kan udah kelar, kamu jadi punya waktu untuk aku kan?" Stanley menampakkan ekspresi menggoda dengan guratan senyum di wajahnya.
Sontak Charice mengibaskan tangan Stanley dan menjauh darinya. "Apaan sih kamu? Nggak sopan banget!" serunya tidak suka.
"Ih, kejem banget sih jadi cewek?" Stanley mencondongkan badannya, mendekatkan wajahnya pada wajah Charice.
Selangkah mundur lebih jauh, Charice bergerak menghindari Stanley. Ia kemudian teringat pada sekian banyak surat yang sudah didapatkannya selama ini. Ia langsung menebak bahwa semuanya berasal dari Stanley.
"Stanley, dengerin baik-baik ya. Aku nggak punya perasaan sama kamu. Jadi tolong berhenti kejar aku," Charice menegaskan; telunjuk tangan kanannya mengarah pada pemuda itu.
"Aku bisa bikin kamu jatuh cinta sama aku. Kalo harus, aku bakalan nyingkirin Angga supaya nggak jadi penghalang buat kita berdua," ucapnya dengan nada meninggi.
"Kenapa bawa-bawa Angga segala?"
"Aku ngelakuin hal yang sama kaya Angga ngerangkul kamu kemaren. Tapi waktu dirangkul sama dia kamu nggak menghindar. Jadi itu artinya dia penghalang buat aku," Staynley tampak begitu marah. Ia kemudian menarik kedua tangan Charice.
Secepat kilat Charice melepaskan kedua tangannya dari genggaman kuat Stanley. "Berhenti, Stanley. Sampe kapanpun aku nggak bakalan suka sama kamu. Nggak peduli kamu singkirin siapapun yang kamu anggap penghalang. Dan itulah sikap yang bikin aku lebih nggak suka sama kamu," ia dengan lugas mengutarakan rasa kesal serta penolakan yang jelas atas lerasaan Stanley.
Wajah Stanley berwarna lebih merah karena wajahnya yang terlalu putih untuk ukuran laki-laki.
Charice kemudian menggandeng Natalia. "Dan berhenti kirimin surat-surat cinta nggak jelas ke aku ngerti?" Dengan langkah cepat, ia beserta Natalia meninggalkan Stanley.
Natalia tidak tahu mau dibawa kemana oleh Charice yang kini merasa kesal. Pasalnya kelas mereka harusnya berbelok ke arah kanan tapi mereka justru berjalan lurus. Ia tidak memberontak, tapi hanya terdiam mengikutinya.
Sampai di suatu titik, dimana lorong belakang sekolah tampak sepi, Charice berhenti. Ia melepaskan tangan Natalia yang kemudian mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah akibat terlalu kencang dipegang oleh sahabatnya.
"Nat, aku beneran kesel banget. Asli. Aku nggak tahu harus gimana," Charice begitu gusar sehingga ia berjalan mondar-mandir tanpa henti.
Natalia tak tahu harus berkata apa sehingga yang keluar dari mulutnya justru, "kamu mau aku beliin minuman dingin? Untuk ngademin suasana hatimu."
Charice mengangguk cepat. Lantas, Natalia pergi meninggalkan sahabatnya yang masih berjalan mondar-mandir, tidak bisa berhenti.
Lima menit berlalu, Charice merasa agak lelah. Ia kemudian duduk bersandar pada dinding dan menyelonjorkan kedua kakinya. Untuk meredakan rasa pening di kepalanya ditutupnya kedua matanya, membiarkan alunan musik alam menghibur dirinya.
Belum lama berselang, suara dedaunan yang ditiup angin itu menjadi bernada. Awalnya ia merasa bahwa pening di kepalanya meningkatkan daya imajinasinya. Namun pada akhirnya ia tersadar bahwa itu bukanlah sekedar imajinasinya. Seseorang telah duduk di sampingnya sambil memetik gitar, memainkan lagu 'One Call Away.'
Charice terkejut ketika mendapati Angga di sampingnya. Ia mengelus-elus dada lega karena ia bukan orang yang tidak diinginkan kehadirannya.
"Kok disini sih?" tanya Charice. "Mana main gitar lagi. Ngagetin aja."
Angga terkekeh. "Kamu tuh yang justru harusnya aku tanyain kenapa disini. Aku kan habis nge-jam sama temen-temen di ruang musik."
Charice baru menyadari bahwa tempat dimana ia duduk sekarang berada dekat dengan ruang musik yang hanya dikunjungi ketika ada ekstra musik.
"Terus? Kenapa kamu disini?" Angga kembali menegaskan pertanyaannya yang belum dijawab Charice.
Charice menghela nafas. "Tuh si Stanley bikin kesel lagi."
"Oh," komentar Angga singkat.
"Kok 'oh' doang?"
Angga terkikik. "Terus mau gimana lagi?" tanyanya.
"Ngomong apa gitu kek yang bikin aku jadi lega. Bisa nggak kesel lagi," ujar Charice. Ditariknya kedua kakinya dan dipeluknya, lalu disandarkannya kepalanya di atas lutut.
"Selama kamu masih single ya dia bakalan kejar kamu," singgung Angga. "Tapi kalo kamu udah ada ikatan sama orang lain, baru dia nggak bakalan ngejar lagi."
Charice mendesis. "Apanya yang nggak bakalan ngejar, orang tadi dia bilang bakalan nyingkirin siapapun yang jadi penghalang buat dia untuk ngedapetin aku," ungkapnya kesal.
"Dia nggak bisa nyingkirin aku," ucap Angga ringan.
"Nyingkirin kamu? Kenap--" Charice berhenti ketika menyadari maksud dari ucapan temannya itu.
Angga memiringkan badannya, memposisikan diri menghadap Charice. "Aku bakalan ngelindungin kamu, dan sebisa mungkin nggak akan terkalahkan."
Charice terkikik. "Kamu kok kedengerannya kaya superman gitu sih? Nggak terkalahkan," candanya.
"I'm only one call away," Angga bersenandung dengan suara pas-pasannya sembari memetik gitar, "I'll be there to save the day. Superman's got nothing on me. I'm only one call away." Ia pun tersenyum.
Charice tahu benar apa maksud Angga. Pemuda itu sedang menyatakan perasaannya. Namun bagi Charice, tidak ada perasaan lebih dari sekedar seorang teman. Ia tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya karena tidak mau membuat Angga kecewa.
"Kamu nggak harus jawab apa-apa kok," ucap Angga seakan membalas apa yang Charice pikirkan baru saja.
Charice pun tersenyum. "Makasih ya, Angga," ia merasa begitu lega.
//ABB2//
"Kemana aja sih? Kok tadi nggak balik-balik? Katanya mau beliin minuman dingin buat aku," Charice menegur Natalia saat menghampirinya di kelas untuk mengajaknya pulang.
Hari ini Natalia tidak dijemput oleh mamanya seperti biasanya. Maka Charice dimintanya untuk mengantar pulang karena rumah keduanya searah.
"Ya maaf. Aku soalnya nggak enak aja gangguin kamu sama Angga. Sampe kamu bisa ketawa lagi gitu," ucap Natalia jujur.
Charice mendorong lengan Natalia pelan. "Nggak enak segala. Emangnya segitunya aku sama Angga tadi sampe kamu nggak mau ganggu aku? Dasar."
"Habisnya ngeliatin kalian berdua tuh rasanya nyenengin gitu. Kaya pasangan serasi. Cocok banget beneran," tukas Natalia yakin.
"Huss. Ngarang aja. Aku sama dia nggak ada apa-apa," sergah Charice. Ia kemudian menekan tombol kunci mobil yang otomatis membuka pintu.
Sambil memasang sabuk pengaman sementara Charice memanaskan mesin, Natalia melanjutkan pada topik yang sama. "Kalo saranku ya, mending kamu pacaran sama Angga. Biar ada yang ngelindungin kamu. Soalnya aku nyadar aku nggak bisa. Kekuatanmu sama kekuatanku aja gedean kamu. Biasa ngangkat galon juga makanya."
Charice menoyor pipi Natalia. "Makanya olahraga. Biar kuat. Kerjaan cuman suka males-malesan di rumah sih tiap kali ada waktu senggang," sindirnya yang kemudian menancap gas, meninggalkan area sekolah.
"Yee, aku nggak ngomongin itu keles," ujar Natalia kesal. "Lagipula apa kurangnya Angga coba? Ganteng, pinter, main gitar keren. Aku kalo jadi kamu sih langsung terima dia waktu dia nyatain perasaannya ke kamu kaya tadi."
"Eh?" Charice menoleh pada Natalia dengan kedua bola matanya yang seolah hampir lepas dari tempatnya. "Kok?"
"Nggak sengaja denger tadi," ungkap Natalia. "Makanya harusnya kamu paca--"
"Stop. Nggak usah ngomongin itu terus. Kalo enggak kamu aku turunin disini dan nggak aku traktir makan di Mek-Di loh," ancam Charice yang kemudian mau tidak mau diikuti oleh Natalia.
~ ABB2
Ini dia! Silakan dinikmati. Menurut kamu sejauh ini ceritanya gimana? Selain vote, komen juga yaaa.. Makasih. 😄😄
0