- Beranda
- Stories from the Heart
Gunung Hutan Dan Puisi
...
TS
arga.mahendraa
Gunung Hutan Dan Puisi
Pada pekat kabut yang menjalar di hamparan tanahtanah tinggi
Kulantunkan katakata sebagai penggalan doa
Untukmu yang kini telah sempurna hadir..
Pada peluh yang telah mengalir
Ketika kita ayunkan langkahlangkah
Menuju tempattempat teduh
Untuk menyemayamkan rasamu dan rasaku
Kini telah menyatu sudah
dan beku udara ini akan semakin kuat mengikatnya
Kita memang sering berbeda dalam banyak Hal
Namun Gunung, Hutan Dan Puisi selalu mampu menyatukannya..
***
Kulantunkan katakata sebagai penggalan doa
Untukmu yang kini telah sempurna hadir..
Pada peluh yang telah mengalir
Ketika kita ayunkan langkahlangkah
Menuju tempattempat teduh
Untuk menyemayamkan rasamu dan rasaku
Kini telah menyatu sudah
dan beku udara ini akan semakin kuat mengikatnya
Kita memang sering berbeda dalam banyak Hal
Namun Gunung, Hutan Dan Puisi selalu mampu menyatukannya..
***

Sebelumnya ijinkan saya untuk ikut berbagi cerita di forum ini. Forum yang sudah lumayan lama saya ikuti sebagai SR.. Salam kenal, saya Arga..
Cerita saya mungkin tidak terlalu menarik dan membahana seperti cerita-cerita fenomenal di SFTH ini. Hanya cerita biasa dari bagian kisah hidup saya. Semoga masih bisa dibaca dan dinikmati.
Seperti biasa, seluruh nama tokoh, dan tempat kejadian disamarkan demi kebaikan semuanya. Boleh kepo, tapi seperlunya saja ya.. seperti juga akan seperlunya pula saya menanggapinya..
Update cerita tidak akan saya jadwalkan karena saya juga punya banyak kesibukan. Tapi akan selalu saya usakan update sesering mungkin sampai cerita inI tamat, jadi jangan ditagih-tagih updetannya yaa..
Baiklah, tidak perlu terlalu berpanjang lebar, kita mulai saja...
****
Medio 2005...
Hari itu sore hari di sela kegiatan pendidikan untuk para calon anggota baru organisasi pencinta alam dan penempuh rimba gunung yang aku rintis tujuh tahun yang lalu sekaligus sekarang aku bina. Aku sedang santai sambil merokok ketika salah satu partnerku mendatangiku.
"Ga, tuh ada salah satu peserta cewek yg ikut pendidikan cuma karena Ada pacarnya yang ikut, kayaknya dia ga beneran mau ikut organisasi deh, tapi cuma ngikut pacarnya"
"Masak sih? Yang mana? Kok aku ga perhatiin ya" jawabku
"Kamu terlalu serius mikirin gimana nanti teknis di lapangan sih Ga, malah jadi ga merhatiin pesertamu sendiri" lanjutnya
"Coba deh nanti kamu panggil aja trus tanyain bener apa ga, namanya Ganis.. aku ke bagian logistik dulu" Kata temanku sambil meninggalkanku
"OK, nanti coba aku tanya" jawabku
"Pulangin aja kalo emang bener Ga.. ga bener itu ikut organisasi cuma buat pacaran" sahutnya lagi dari kejauhan sambil teriak
Dan aku pun cuma menjawab dengan acungan jempol saja
***
Pada malam harinya aku mengumpulkan seluruh peserta pendidikan di lapangan. Malam itu ada sesi pengecekan logistik peserta sekaligus persiapan untuk perjalanan ke gunung besok pagi untuk pendidikan lapangan.
Kurang lebih 2 jam selesai juga pengecekan logistik seluruh peserta pendidikan. Dan aku pun memulai aksiku.
"Yang merasa bernama Ganis keluar dari barisan dan maju menghadap saya sekarang..!!!" Teriakku di depan mereka
Tak lama keluarlah seorang cewek dari barisan dan menghadapku. Aku tidak terlalu memperhatikan wajahnya, entah cantik atau biasa saja aku tak terlalu peduli karena aku sudah sedikit emosi sejak sore tadi temanku mengatakan kalau dia ikut kegiatan ini cuma karena pacarnya ikut.
"Benar kamu yang bernama Ganis?"
"Ya benar, Kak"
"Kamu ngapain ikut kegiatan ini!?"
"Karena saya ingin jadi anggota Kak"
"Dasar pembohong..!!!" Bentakku seketika
Dan dia pun langsung menunduk
"Hey, siapa suruh nunduk?? Kalau ada yang ngomong dilihat!! Kamu tidak menghargai seniormu!!"
"Siap, maaf Kak" jawabnya sambil langsung melihatku
"Saya dengar kamu ikut kegiatan ini karena pacar kamu ikut juga!! Benar begitu? Jawab!!"
"Siap, tidak Kak, saya ikut karena saya sendiri ingin ikut, tidak ada hubungannya dengan pacar!" Jawabnya tegas
"Tapi pacar kamu juga ikut kan!?"
"Siap benar"
"Siapa namanya!?"
"Alan Kak"
"Yang merasa bernama Alan, maju ke depan" teriakku di depan peserta lainnya
Kemudian datanglah cowok bernama Alan itu di depanku
"Benar kamu yang bernama Alan?" Tanyaku pada cowok itu
"Siap, benar Kak" jawabnya
"Benar kamu pacarnya Ganis?"
"Siap benar Kak"
"Kamu ikut kegiatan ini cuma buat ajang pacaran!!?? Kamu cuma mau cari tempat buat pacaran??"
"Tidak Kak"
"Kalian berdua masih mau jadi anggota organisasi ga!!?"
"Siap, masih mau Kak" jawab mereka berdua
"Baik, saya berikan pilihan, kalian berdua saat ini juga putus dan lanjut ikut pendidikan, atau tetap pacaran tapi sekarang juga pulang tidak usah lanjut ikut pendidikan dan jadi anggota organisasi.. silahkan tentukan pilihan sekarang!!"
***
Spoiler for INDEX:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 10 suara
Siapakah yang bakal jadi istri TS?
Rika
30%
Winda
20%
Dita
0%
Ganis
40%
Tokoh Yang Belum Muncul
10%
Diubah oleh arga.mahendraa 20-10-2018 13:37
kimpoijahat dan anasabila memberi reputasi
3
31.6K
264
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
arga.mahendraa
#177
38. First Kiss
"Aku gak ada hubungan apa-apa sama dia, Om" Ucap Ganis.
"........" Aku tidak berkata apapun. Aku masih menunggu kelanjutan penjelasan dari Ganis.
"Dia yang mulai chat aku duluan, Om. Aku pikir dia temen kamu, makanya aku respon baik"
"......."
"Tapi aku sama sekali gak ada rasa apa-apa sama dia. Aku cuma menanggapi seperlunya"
"......."
"Aku cuma sayang sama kamu, Om. Gak ada yang lain"
"......"
"Kok kamu diem aja Om? Kamu marah sama aku?"
"Udah begitu aja? Terus kalau kamu gak ada rasa apa-apa, kenapa balasan kamu terkesan manja dan ngasih harapan gitu?" Ucapku.
"Kalau kamu memang suka dengan dia, kamu bilang terus terang tidak apa-apa, Til. Asal kamu tau, prinsipku, kalau aku punya cewek, terus cewekku suka sama orang lain aku bakal ikhlasin kok, asal mau bilang terus terang. Tapi kalau ada yang deketin cewekku tapi cewekku gak suka bahkan risih, aku bisa aja hajar orang itu" sambungku.
"Hik.. hik.. maafin aku om... Aku gak suka sama dia, om.. aku berani sumpah.. aku cuma sayang sama kamu om.. aku janji gak bakal respon dia lagi" ucap Ganis sambil menangis.
"Jangan terlalu mudah ngucapin janji, Til. Kalau kamu gak yakin bisa nepatin, dosa besar nanti. Udah, anggap aja aku percaya sama kamu. Aku cuma minta satu hal. Kalau dia chat kamu lagi dengan ngerayu-rayu kamu, aku minta kamu tegasin ke dia kalau kamu gak ada rasa apapun ke dia dan minta jangan chat seperti itu lagi. Sekedar berteman biasa tidak masalah. Tapi kalau kamu masih respon dia seperti itu, ya mendingan kamu sama dia aja gpp, til" ucapku.
"Jangan bilang kayak gitu om.. aku gak mau pisah sama kamu. Iya aku bakal bilang ke dia. Jangan tinggalin aku om" ucapnya masih sambil menangis.
"Aku gak akan pernah ninggalin kamu, Til. Gak tau kalo kamu" sahutku.
"Aku gak akan ninggalin kamu, Om.. aku sayang sama kamu" tangisannya semakin pecah.
"Ini ada apa? Ganis kamu apain, Arga? Sampai nangis begini" ucap mamaku yang tiba-tiba berada di sini.
"Gpp, ma. Udah sana" ucapku.
"Awas kalau kamu apa2in anak gadis orang" sahut mamaku.
"Udah2 gpp.. udah beres.. hus.. sana2" ucapku.
"Dasar bocah sableng.. mamanya sendiri diusir" ucap mamaku.
"Hehehe.. peace, ma.. udah ih sana.. ini Ganis gak diem2 kalo mama masih di sini" ucapku.
Mamaku pun kembali ke dapur dengan bersungut-sungut.
"Udah, Til. Gak usah nangis lagi. Gak enak dilihat mama" ucapku pada Ganis.
"Tapi kamu sayang kan sama aku, Om? Jangan tinggalin aku ya" ucapnya.
"Iya iya.. udah"
"Bilang sayang dulu" ucapnya.
"Iyaaa"
"Apa sih susahnya bilang sayang, om?" Ucapnya lagi sambil cemberut.
"Yang terpenting perbuatan, Til" ucapku.
"Tau ah.." ucapnya sambil beranjak menuju ke dapur.
"Cuci muka dulu.. muka kamu kusut abis nangis gitu" ucapku.
"Bodo..." Sahutnya sambil berlalu.
Entah bagaimana, aku tidak bisa marah dengan Ganis. Kalaupun jengkel, itu pun hanya sebentar. Aku tidak tau apakah Ganis benar mencurangiku atau tidak. Dari tatapan matanya aku bisa menangkap rasa sayang yang tulus padaku. Tapi aku tidak tau apa yang dia perbuat di belakangku. Bukti chat di hpnya sebenarnya sedikit menunjukkan kalau dia masih cukup terbuka kepada orang lain untuk masuk juga ke dalam hatinya. Tapi aku memilih untuk mempercayainya saja. Aku memang lemah dalam hal seperti ini. Aku akan lihat dulu sampai beberapa hari ke depan. Apakah dia masih tetap terbuka seperti ini atau tidak.
***
Beberapa hari berikutnya, tepatnya hari sabtu aku dan Ganis berniat hendak pergi mendaki gunung berdua. Entah bagaimana caranya, dia bisa mendapatkan ijin dari ortunya untuk mendaki gunung sendiri, bukan kegiatan organisasi. Yang jelas dia meyakinkan aku bahwa dia tidak kabur dari rumah. Tetap ijin meskipun tidak bilang pergi bersamaku. Kalau dia bilang pergi bersamaku, sudah bisa dipastikan tidak akan diijinkan. Aku tidak ambil pusing, yang penting kami bisa pergi berdua. Urusan lainnya dipikir belakangan.
Jam 10 pagi Ganis sudah berada di rumahku dan sudah membawa semua perlengkapan dan perbekalannya untuk mendaki gunung. Sedangkan aku masih tidur ketika Ganis datang. Alhasil diapun mencak-mencak di dalam kamarku untuk membangunkanku. Ganis memang bebas keluar masuk kamarku. Orang tuaku tidak mempermasalahkan, asal tidak menginap dan tidur sekamar aja. Karena Ganis memang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh orang tuaku.
"Bangun om... Udah siang ini" ucapnya sambil menggoncang-goncangkan tubuhku.
"Apaan sih, Til. Masih pagi banget ini. Aku habis subuh tadi baru tidur. Kamu nonton tv dulu sana" jawabku sedikit kesal.
"Siapa suruh tidur habis subuh? Emang malam ngapain aja?? Bangun pokoknya.. males aku nonton tv sendirian" ucapnya sambil terus menggoncang-goncangkan badanku.
Aku masih diam karena masih malas bangun. Masih ngantuk berat karena sehabis subuh tadi baru bangun. Aku memang punya kebiasaan buruk selalu bergadang tiap malam. Biasanya nongkrong di angkringan sampai dinihari. Setelah pulang lanjut utak-atik komputer sampai subuh baru selesai, sehabis sholat subuh aku baru tidur. Begitu terus setiap hari. Apapun aku kerjakan karena aku memang sedang semangat semangatnya mempelajari apa saja yang berkaitan dengan komputer. Sejak sekolah sampai kuliah aku tidak pernah mendapatkan pelajaran komputer ataupun ikut kursus. Pengetahuanku tentang komputer awalnya benar-benar nol. Karena aku punya minat yang besar untuk belajar tapi tidak punya biaya (sebut saja malas) untuk kursus, akhirnya aku belajar sendiri secara otodidak berbekal tanya sana-sini, baca buku tutorial, lalu dipraktekkan. Banyak hal yang kupelajari, mulai dari desain grafis sampai ke software-hardware komputer. Dari kebiasaan buruk bergadang setiap malam itu ternyata bermanfaat sangat besar di masa depan, atau masa sekarang. Dari hasil belajarku secara otodidak itulah akhirnya bisa mengantarkanku pada karir yang cukup bagus di masa depan.
"Bangun om... Aduuuh susah banget sih dibangunin" ucap Ganis lagi sangat berisik.
Saking jengkelnya akhirnya aku pun bangun secara tiba-tiba lalu merangkul Ganis dan menjatuhkan tubuhnya di sebelahku lalu memeluknya erat. Terlihat ekspresi kaget dari Ganis tapi tidak ada penolakan darinya. Entah kerasukan setan dari mana, aku langsung menciumi pipinya lalu bibirnya. Ganis sempat sedikit menjauhkan kepalanya karena kaget, tapi setelah sadar dari rasa kaget dia justru membalas ciumanku. Kami pun berciuman dengan hasrat yang memuncak pagi itu. Sebagai catatan, sejak awal jadian aku belum pernah sekalipun mencium bibir Ganis. Kalau cium pipi dan pelukan memang sering. Jadi ini adalah ciuman bibir pertama kami.
Beberapa menit kami masih berciuman. Dalam hal seperti ini memang kita tidak memerlukan guru, secara spontan kami langsung mahir berbalas cium dengan permainan lidah. Tanganku pun secara otomatis bergerak menuju tempat-tempat yang bisa semakin membangkitkan hasrat. Perlahan tangan kananku masuk ke sela baju Ganis dan menuju ke dua bukit indah idaman semua laki-laki untuk mendaki menuju puncaknya.
"Tadi kamu tutup pintunya gak Til?" Ucapku pelan.
"Aku tutup Om" jawabnya.
"Mama dimana?"
"Di dapur lagi masak"
Tanpa menjawab lagi, aku pun melanjutkan urusan ciuman panas tadi. Tanganku yang sudah berada di dalam baju Ganis perlahan merangsek ke sela-sela sempit bra yang dikenakannya. Merasa sedikit sesak, Ganis pun melepas pengait bra di punggungnya. Kini tanganku sudah lebih leluasa menjelajahi setiap inci bukit indah di tubuh Ganis. Beberapa menit kemudian aku melepas ciumanku dan menarik kembali tanganku dari dalam bajunya.
"Maaf Til. Aku kelepasan" ucapku
"Gpp kok om. Aku juga ikhlas. Aku sayang sama kamu Om" ucapnya.
"Gak Til. Gak sepantasnya kita begini. Kalau sekedar ciuman sih gak masalah. Kalau lebih dari itu berbahaya. Belum saatnya kita berbuat itu" ucapku.
Ganis pun seketika memelukku dan mengucapkan terima kasih. Setelah dia merapikan bajunya yang sedikit berantakan, aku pun mengajaknya keluar kamar.
"Kamu bantu mama masak dulu sana. Aku mandi dulu" ucapku.
"Iya om" jawabnya kemudian berlalu menuju ke dapur.
Entah apa yang ada dalam pikiran kami tadi ketika berada di dalam kamar. Untung saja aku segera sadar dan menghentikan berbuatan kami sebelum terlalu jauh. Jujur saja, sering secara tiba-tiba nafsuku bergejolak ketika berada di dekat Ganis, terutama jika dia memelukku. Tapi selalu saja bisa kutahan. Tapi tadi entah setan dari mana yang merasuki kami sampai kami hampir melakukan perbuatan yang belum sepantasnya kami lakukan. Saat ini aku masih berfikir bahwa Ganis adalah seorang gadis belia yang lugu karena dia masih SMA. Tapi entah setahun atau dua tahun lagi ketika dia sudah lebih dewasa. Bisa saja kami melakukannya. Entahlah, biarkan saja takdir yang berbicara nantinya.
Usai mandi aku segera menyiapkan barang-barang yang hendak kubawa mendaki gunung nanti. Sedangkan Ganis masih di dapur bersama mamaku. Beberapa barang penting aku keluarkan dulu dari lemari. Seperti tenda dome, sleeping bag, jaket gunung, celana lapangan, baju flannel, kaos, sarung tangan, kupluk, slayer dan lain-lain. Sedangkan peralatan masak seperti kompor lapangan dan nesting aku simpan di dapur, belum kuambil. Nanti sajalah pas mau packing. Usai memastikan semua barang yang hendak kubawa sudah lengkap, aku pun membongkar tas ransel Ganis untuk memeriksa barang yang dia bawa apakah sudah lengkap, apakah ada yang perlu ditambah atau dikurangi. Di sela aku memeriksa barang-barang Ganis aku lihat layar hp Ganis yang ditinggal di meja dalam kamarku menyala. Teryata ada sms masuk. Aku pun membuka sms itu yang ternyata dari kakaknya (tepatnya suami kakaknya tapi sms menggunakan nomor kakaknya). Aku membaca isi sms itu yang isinya mengingatkan Ganis jangan sampai bohong katanya pergi bersama teman-temannya ternyata pergi bersamaku. Banyak sms-sms dari nomor kakaknya itu yang isinya sebagian besar mempengaruhi Ganis untuk menjauhiku. Ada rasa jengkel juga saat kakaknya mengatakan hal yang tidak benar mengenai diriku. Yang dibilang berandalan lah, masa depan tidak jelas lah, orang tuaku yang bukan siapa-siapa lah, dan masih banyak lagi hal negatif yang diucapkan kakaknya tentang aku. Bagaimana aku bisa tau kalau yang mengirim sms itu suami kakaknya, bukan kakaknya sendiri? Sedikit banyak aku tau kakaknya Ganis. Dia tidak punya karakter merendahkan orang lain seperti itu, sedangkan suaminya iya. Aku memang belum mengenal suami kakaknya, tapi dari cerita Ganis, suami kakaknya punya karakter seperti itu dan pelit. Jadi aku menyimpulkan sms itu bukan kakaknya yang mengirim, tapi suaminya. Di samping itu juga ada dua tipe kalimat dari sms yang dikirim nomor kakaknya. Satu bertipe lembut, santai dan tidak menjelek-jelekanku, yang pastinya dari kakaknya sendiri yang mengirim, dan satu lagi bertipe kasar yang pastinya suami kakaknya yang mengirim. Usai membaca sms dari nomor kakaknya, aku pun membuka aplikasi mig33. Aku penasaran apakah masih ada chat mencurigakan seperti tempo hari. Ternyata orang itu masih sering mengirim chat rayuan-rayuannya, tapi Ganis sudah tidak pernah menanggapi. Dan beberapa hari yang lalu Ganis sempat balas chat dia dengan mengatakan untuk tidak mengganggunya lagi karena dia sudah punya pacar yaitu aku dan dia sangat menyayangiku. Good job, Til, batinku. Setelah selesai semua urusanku di kamar, aku pun keluar kamar dan menuju ke dapur.
"Masak apa mah?" Tanyaku pada mamaku ketika aku sudah sampai di dapur.
"Bikin garang asem ayam, kesukaanmu" ucap mamaku.
"Asiik.. nanti aku bawa buat bekal naik gunung ya ma" ucapku
"Bawa aja, tapi sisain buat papa sama Astri" jawab mamaku.
"Emang Astri pulang nanti?" Ucapku.
"Pulang dia. Paling sore sampai. Bawa pacarnya katanya" jawab mama
"Haaa?? Astri punya pacar? Kok gak pernah bilang?" Ucapku kaget.
"Yeee.. kamu sibuk sendiri sih Om. Jarang perhatian sama Kak Astri sekarang. Aku aja udah tau kalo Kak Astri punya pacar" sahut Ganis. Ganis memang masih memanggil adikku dengan sebutan 'Kak' karena umur Ganis memang lebih muda. Padahal Ganis calon kakak ipar Astri (semoga).
"Eh, Ganis bantuin masak gak tadi, ma? Apa bantu berantakin aja?" Ucapku.
"Sembarangan.. aku bantuin.. nih lihat buktinya. Aku kan lagi belajar masak dari mama. Iya kan ma?" Ucap Ganis.
"Berisik kamu, Ga. Ganggu orang masak aja. Iya gak nduk..? udah sana pergi" ucap mamaku membela Ganis dan mengusirku.
"Wleee..." Ganis menjulurkan lidahnya gestur mengejekku karena merasa menang sudah dibelain mamaku.
Aku pun pergi meninggalkan dapur. Lebih baik menghindar saja karena melawan dua wanita sama saja sendirian melawan dua peleton pasukan di medan perang. Apalagi dua wanita itu adalah Mama dan Ganis.
"........" Aku tidak berkata apapun. Aku masih menunggu kelanjutan penjelasan dari Ganis.
"Dia yang mulai chat aku duluan, Om. Aku pikir dia temen kamu, makanya aku respon baik"
"......."
"Tapi aku sama sekali gak ada rasa apa-apa sama dia. Aku cuma menanggapi seperlunya"
"......."
"Aku cuma sayang sama kamu, Om. Gak ada yang lain"
"......"
"Kok kamu diem aja Om? Kamu marah sama aku?"
"Udah begitu aja? Terus kalau kamu gak ada rasa apa-apa, kenapa balasan kamu terkesan manja dan ngasih harapan gitu?" Ucapku.
"Kalau kamu memang suka dengan dia, kamu bilang terus terang tidak apa-apa, Til. Asal kamu tau, prinsipku, kalau aku punya cewek, terus cewekku suka sama orang lain aku bakal ikhlasin kok, asal mau bilang terus terang. Tapi kalau ada yang deketin cewekku tapi cewekku gak suka bahkan risih, aku bisa aja hajar orang itu" sambungku.
"Hik.. hik.. maafin aku om... Aku gak suka sama dia, om.. aku berani sumpah.. aku cuma sayang sama kamu om.. aku janji gak bakal respon dia lagi" ucap Ganis sambil menangis.
"Jangan terlalu mudah ngucapin janji, Til. Kalau kamu gak yakin bisa nepatin, dosa besar nanti. Udah, anggap aja aku percaya sama kamu. Aku cuma minta satu hal. Kalau dia chat kamu lagi dengan ngerayu-rayu kamu, aku minta kamu tegasin ke dia kalau kamu gak ada rasa apapun ke dia dan minta jangan chat seperti itu lagi. Sekedar berteman biasa tidak masalah. Tapi kalau kamu masih respon dia seperti itu, ya mendingan kamu sama dia aja gpp, til" ucapku.
"Jangan bilang kayak gitu om.. aku gak mau pisah sama kamu. Iya aku bakal bilang ke dia. Jangan tinggalin aku om" ucapnya masih sambil menangis.
"Aku gak akan pernah ninggalin kamu, Til. Gak tau kalo kamu" sahutku.
"Aku gak akan ninggalin kamu, Om.. aku sayang sama kamu" tangisannya semakin pecah.
"Ini ada apa? Ganis kamu apain, Arga? Sampai nangis begini" ucap mamaku yang tiba-tiba berada di sini.
"Gpp, ma. Udah sana" ucapku.
"Awas kalau kamu apa2in anak gadis orang" sahut mamaku.
"Udah2 gpp.. udah beres.. hus.. sana2" ucapku.
"Dasar bocah sableng.. mamanya sendiri diusir" ucap mamaku.
"Hehehe.. peace, ma.. udah ih sana.. ini Ganis gak diem2 kalo mama masih di sini" ucapku.
Mamaku pun kembali ke dapur dengan bersungut-sungut.
"Udah, Til. Gak usah nangis lagi. Gak enak dilihat mama" ucapku pada Ganis.
"Tapi kamu sayang kan sama aku, Om? Jangan tinggalin aku ya" ucapnya.
"Iya iya.. udah"
"Bilang sayang dulu" ucapnya.
"Iyaaa"
"Apa sih susahnya bilang sayang, om?" Ucapnya lagi sambil cemberut.
"Yang terpenting perbuatan, Til" ucapku.
"Tau ah.." ucapnya sambil beranjak menuju ke dapur.
"Cuci muka dulu.. muka kamu kusut abis nangis gitu" ucapku.
"Bodo..." Sahutnya sambil berlalu.
Entah bagaimana, aku tidak bisa marah dengan Ganis. Kalaupun jengkel, itu pun hanya sebentar. Aku tidak tau apakah Ganis benar mencurangiku atau tidak. Dari tatapan matanya aku bisa menangkap rasa sayang yang tulus padaku. Tapi aku tidak tau apa yang dia perbuat di belakangku. Bukti chat di hpnya sebenarnya sedikit menunjukkan kalau dia masih cukup terbuka kepada orang lain untuk masuk juga ke dalam hatinya. Tapi aku memilih untuk mempercayainya saja. Aku memang lemah dalam hal seperti ini. Aku akan lihat dulu sampai beberapa hari ke depan. Apakah dia masih tetap terbuka seperti ini atau tidak.
***
Beberapa hari berikutnya, tepatnya hari sabtu aku dan Ganis berniat hendak pergi mendaki gunung berdua. Entah bagaimana caranya, dia bisa mendapatkan ijin dari ortunya untuk mendaki gunung sendiri, bukan kegiatan organisasi. Yang jelas dia meyakinkan aku bahwa dia tidak kabur dari rumah. Tetap ijin meskipun tidak bilang pergi bersamaku. Kalau dia bilang pergi bersamaku, sudah bisa dipastikan tidak akan diijinkan. Aku tidak ambil pusing, yang penting kami bisa pergi berdua. Urusan lainnya dipikir belakangan.
Jam 10 pagi Ganis sudah berada di rumahku dan sudah membawa semua perlengkapan dan perbekalannya untuk mendaki gunung. Sedangkan aku masih tidur ketika Ganis datang. Alhasil diapun mencak-mencak di dalam kamarku untuk membangunkanku. Ganis memang bebas keluar masuk kamarku. Orang tuaku tidak mempermasalahkan, asal tidak menginap dan tidur sekamar aja. Karena Ganis memang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh orang tuaku.
"Bangun om... Udah siang ini" ucapnya sambil menggoncang-goncangkan tubuhku.
"Apaan sih, Til. Masih pagi banget ini. Aku habis subuh tadi baru tidur. Kamu nonton tv dulu sana" jawabku sedikit kesal.
"Siapa suruh tidur habis subuh? Emang malam ngapain aja?? Bangun pokoknya.. males aku nonton tv sendirian" ucapnya sambil terus menggoncang-goncangkan badanku.
Aku masih diam karena masih malas bangun. Masih ngantuk berat karena sehabis subuh tadi baru bangun. Aku memang punya kebiasaan buruk selalu bergadang tiap malam. Biasanya nongkrong di angkringan sampai dinihari. Setelah pulang lanjut utak-atik komputer sampai subuh baru selesai, sehabis sholat subuh aku baru tidur. Begitu terus setiap hari. Apapun aku kerjakan karena aku memang sedang semangat semangatnya mempelajari apa saja yang berkaitan dengan komputer. Sejak sekolah sampai kuliah aku tidak pernah mendapatkan pelajaran komputer ataupun ikut kursus. Pengetahuanku tentang komputer awalnya benar-benar nol. Karena aku punya minat yang besar untuk belajar tapi tidak punya biaya (sebut saja malas) untuk kursus, akhirnya aku belajar sendiri secara otodidak berbekal tanya sana-sini, baca buku tutorial, lalu dipraktekkan. Banyak hal yang kupelajari, mulai dari desain grafis sampai ke software-hardware komputer. Dari kebiasaan buruk bergadang setiap malam itu ternyata bermanfaat sangat besar di masa depan, atau masa sekarang. Dari hasil belajarku secara otodidak itulah akhirnya bisa mengantarkanku pada karir yang cukup bagus di masa depan.
"Bangun om... Aduuuh susah banget sih dibangunin" ucap Ganis lagi sangat berisik.
Saking jengkelnya akhirnya aku pun bangun secara tiba-tiba lalu merangkul Ganis dan menjatuhkan tubuhnya di sebelahku lalu memeluknya erat. Terlihat ekspresi kaget dari Ganis tapi tidak ada penolakan darinya. Entah kerasukan setan dari mana, aku langsung menciumi pipinya lalu bibirnya. Ganis sempat sedikit menjauhkan kepalanya karena kaget, tapi setelah sadar dari rasa kaget dia justru membalas ciumanku. Kami pun berciuman dengan hasrat yang memuncak pagi itu. Sebagai catatan, sejak awal jadian aku belum pernah sekalipun mencium bibir Ganis. Kalau cium pipi dan pelukan memang sering. Jadi ini adalah ciuman bibir pertama kami.
Beberapa menit kami masih berciuman. Dalam hal seperti ini memang kita tidak memerlukan guru, secara spontan kami langsung mahir berbalas cium dengan permainan lidah. Tanganku pun secara otomatis bergerak menuju tempat-tempat yang bisa semakin membangkitkan hasrat. Perlahan tangan kananku masuk ke sela baju Ganis dan menuju ke dua bukit indah idaman semua laki-laki untuk mendaki menuju puncaknya.
"Tadi kamu tutup pintunya gak Til?" Ucapku pelan.
"Aku tutup Om" jawabnya.
"Mama dimana?"
"Di dapur lagi masak"
Tanpa menjawab lagi, aku pun melanjutkan urusan ciuman panas tadi. Tanganku yang sudah berada di dalam baju Ganis perlahan merangsek ke sela-sela sempit bra yang dikenakannya. Merasa sedikit sesak, Ganis pun melepas pengait bra di punggungnya. Kini tanganku sudah lebih leluasa menjelajahi setiap inci bukit indah di tubuh Ganis. Beberapa menit kemudian aku melepas ciumanku dan menarik kembali tanganku dari dalam bajunya.
"Maaf Til. Aku kelepasan" ucapku
"Gpp kok om. Aku juga ikhlas. Aku sayang sama kamu Om" ucapnya.
"Gak Til. Gak sepantasnya kita begini. Kalau sekedar ciuman sih gak masalah. Kalau lebih dari itu berbahaya. Belum saatnya kita berbuat itu" ucapku.
Ganis pun seketika memelukku dan mengucapkan terima kasih. Setelah dia merapikan bajunya yang sedikit berantakan, aku pun mengajaknya keluar kamar.
"Kamu bantu mama masak dulu sana. Aku mandi dulu" ucapku.
"Iya om" jawabnya kemudian berlalu menuju ke dapur.
Entah apa yang ada dalam pikiran kami tadi ketika berada di dalam kamar. Untung saja aku segera sadar dan menghentikan berbuatan kami sebelum terlalu jauh. Jujur saja, sering secara tiba-tiba nafsuku bergejolak ketika berada di dekat Ganis, terutama jika dia memelukku. Tapi selalu saja bisa kutahan. Tapi tadi entah setan dari mana yang merasuki kami sampai kami hampir melakukan perbuatan yang belum sepantasnya kami lakukan. Saat ini aku masih berfikir bahwa Ganis adalah seorang gadis belia yang lugu karena dia masih SMA. Tapi entah setahun atau dua tahun lagi ketika dia sudah lebih dewasa. Bisa saja kami melakukannya. Entahlah, biarkan saja takdir yang berbicara nantinya.
Usai mandi aku segera menyiapkan barang-barang yang hendak kubawa mendaki gunung nanti. Sedangkan Ganis masih di dapur bersama mamaku. Beberapa barang penting aku keluarkan dulu dari lemari. Seperti tenda dome, sleeping bag, jaket gunung, celana lapangan, baju flannel, kaos, sarung tangan, kupluk, slayer dan lain-lain. Sedangkan peralatan masak seperti kompor lapangan dan nesting aku simpan di dapur, belum kuambil. Nanti sajalah pas mau packing. Usai memastikan semua barang yang hendak kubawa sudah lengkap, aku pun membongkar tas ransel Ganis untuk memeriksa barang yang dia bawa apakah sudah lengkap, apakah ada yang perlu ditambah atau dikurangi. Di sela aku memeriksa barang-barang Ganis aku lihat layar hp Ganis yang ditinggal di meja dalam kamarku menyala. Teryata ada sms masuk. Aku pun membuka sms itu yang ternyata dari kakaknya (tepatnya suami kakaknya tapi sms menggunakan nomor kakaknya). Aku membaca isi sms itu yang isinya mengingatkan Ganis jangan sampai bohong katanya pergi bersama teman-temannya ternyata pergi bersamaku. Banyak sms-sms dari nomor kakaknya itu yang isinya sebagian besar mempengaruhi Ganis untuk menjauhiku. Ada rasa jengkel juga saat kakaknya mengatakan hal yang tidak benar mengenai diriku. Yang dibilang berandalan lah, masa depan tidak jelas lah, orang tuaku yang bukan siapa-siapa lah, dan masih banyak lagi hal negatif yang diucapkan kakaknya tentang aku. Bagaimana aku bisa tau kalau yang mengirim sms itu suami kakaknya, bukan kakaknya sendiri? Sedikit banyak aku tau kakaknya Ganis. Dia tidak punya karakter merendahkan orang lain seperti itu, sedangkan suaminya iya. Aku memang belum mengenal suami kakaknya, tapi dari cerita Ganis, suami kakaknya punya karakter seperti itu dan pelit. Jadi aku menyimpulkan sms itu bukan kakaknya yang mengirim, tapi suaminya. Di samping itu juga ada dua tipe kalimat dari sms yang dikirim nomor kakaknya. Satu bertipe lembut, santai dan tidak menjelek-jelekanku, yang pastinya dari kakaknya sendiri yang mengirim, dan satu lagi bertipe kasar yang pastinya suami kakaknya yang mengirim. Usai membaca sms dari nomor kakaknya, aku pun membuka aplikasi mig33. Aku penasaran apakah masih ada chat mencurigakan seperti tempo hari. Ternyata orang itu masih sering mengirim chat rayuan-rayuannya, tapi Ganis sudah tidak pernah menanggapi. Dan beberapa hari yang lalu Ganis sempat balas chat dia dengan mengatakan untuk tidak mengganggunya lagi karena dia sudah punya pacar yaitu aku dan dia sangat menyayangiku. Good job, Til, batinku. Setelah selesai semua urusanku di kamar, aku pun keluar kamar dan menuju ke dapur.
"Masak apa mah?" Tanyaku pada mamaku ketika aku sudah sampai di dapur.
"Bikin garang asem ayam, kesukaanmu" ucap mamaku.
"Asiik.. nanti aku bawa buat bekal naik gunung ya ma" ucapku
"Bawa aja, tapi sisain buat papa sama Astri" jawab mamaku.
"Emang Astri pulang nanti?" Ucapku.
"Pulang dia. Paling sore sampai. Bawa pacarnya katanya" jawab mama
"Haaa?? Astri punya pacar? Kok gak pernah bilang?" Ucapku kaget.
"Yeee.. kamu sibuk sendiri sih Om. Jarang perhatian sama Kak Astri sekarang. Aku aja udah tau kalo Kak Astri punya pacar" sahut Ganis. Ganis memang masih memanggil adikku dengan sebutan 'Kak' karena umur Ganis memang lebih muda. Padahal Ganis calon kakak ipar Astri (semoga).
"Eh, Ganis bantuin masak gak tadi, ma? Apa bantu berantakin aja?" Ucapku.
"Sembarangan.. aku bantuin.. nih lihat buktinya. Aku kan lagi belajar masak dari mama. Iya kan ma?" Ucap Ganis.
"Berisik kamu, Ga. Ganggu orang masak aja. Iya gak nduk..? udah sana pergi" ucap mamaku membela Ganis dan mengusirku.
"Wleee..." Ganis menjulurkan lidahnya gestur mengejekku karena merasa menang sudah dibelain mamaku.
Aku pun pergi meninggalkan dapur. Lebih baik menghindar saja karena melawan dua wanita sama saja sendirian melawan dua peleton pasukan di medan perang. Apalagi dua wanita itu adalah Mama dan Ganis.
0