- Beranda
- Stories from the Heart
SULAKSMI
...
TS
meta.morfosis
SULAKSMI

PROLOG
“ semoga ini awal yang baik untuk karir gw dalam berwiraswasta...”
yaa...itulah sepenggal kalimat kebahagian yang terucap dari mulut bagus disaat sebuah berita baik terucap dari mulut bapak dan mamah, keinginan bagus untuk mempunyai sebuah usaha sendiri selepas masa perkuliahannya, kini mulai terwujud seiring dengan keinginan mamah yang menginginkan bagus untuk mengelola sebuah rumah yang merupakan rumah peninggalan dari orang tua mamah dan telah lama terbengkalai
kini bersama ketiga sahabat baiknya, bagus berusaha mewujudkan mimpinya itu menjadi sebuah kenyataan, seiring dengan berjalannnya waktu, akan kah semua usaha bagus itu akan membuahkan hasil yang memuaskan, atau kah ada sisi lain dari rumah tersebut yang bagus tidak ketahui dan akan menjadi penghambat usaha bagus untuk mewujudkan mimpinya tersebut....
Note :
* dilarang copy paste tanpa seizin penulis
* apa yang ane tuliskan hanyalah sebuah bentuk karya seni tanpa memperdebatkan nyata/fiksi
* update disesuaikan dengan RL penulis
terima kasih & selamat membaca

@meta.morfosis
Chapter demi chapter :
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
EPILOG
Diubah oleh meta.morfosis 16-01-2019 19:25
bonita71 dan 35 lainnya memberi reputasi
36
65.1K
197
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
meta.morfosis
#105
Chapter 13
“ dari awal, sebenarnya gw udah enggak setuju dengan apa yang kita lakukan ini....” ucap gw setibanya gw dihadapan iyan dan doni, terlihat sella masih meronta ronta mencoba melepaskan diri dari ikatannya, dan sepertinya apa yang telah gw lakukan pada nampan sesajian itu kini tidak dengan serta merta menghilangkan bau busuk yang masih tercium di dalam ruangan
“ ahhh bagaimana sih lu gus...seharusnya kalau memang lu enggak setuju, sebaiknya lu bilang dari awal...bukannya setelah kejadian seperti ini...kalau memang pada waktu awal lu bilang enggak setuju, gw dan doni pasti akan mendukung keputusan lu itu.....” ujar iyan dengan rasa kesalnya seraya memperlihatkan beberapa luka goresan di tangannya, dan sepertinya luka goresan tersebut disebabkan oleh cakaran sella sewaktu pergulatan yang terjadi tadi
“ sorry don...yan, gw hanya enggak enak dengan mang edo, dan sepertinya waktu itu juga mang edo merasa yakin sekali kalau apa yang di usulkannya itu akan berhasil....”
“ iya berhasil...berhasil membuat tangan gw luka baret seperti ini....” gerutu iyan yang berbalas gelak tawa dari gw doni, untuk beberapa saat lamanya kini kami hanya terdiam, mencoba meredakan kelelahan yang kami rasakan sewaktu pergulatan dengan sella tadi, hingga akhirnya kini kami mendengar suara deru mesin sepeda motor yang memasuki halaman penginapan, mendapati hal tersebut, tampak iyan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju teras depan dengan penuh emosi, setelah beberapa saat gw mendengar suara perdebatan yang terjadi di teras depan, kini gw melihat kehadiran iyan, mang edo, serta seorang lelaki berumur separuh baya, berjalan menghampiri gw, doni dan sella, sesampainya di hadapan gw dan doni, kini nampak lelaki berumur separuh baya itu menampakan keterkejutannya begitu melihat sella yang terbaring di lantai dengan tangan yang terikat
“ astagfirullah....sebaiknya kita bantu teman kalian ini dulu...kasihan teman kalian kalau terlalu lama seperti ini...” seiring dengan perkataan yang terlontar dari mulutnya, kini lelaki berumur paruh baya tersebut, mengambil posisi duduk bersila di sisi sella, sebuah rapalan yang kini terucap dari mulutnya, seakan akan mengiringi gerakan tangannya yang seperti menarik sesuatu dari tubuh sella lalu melepaskannya, hingga akhirnya setelah beberapa kali lelaki paruh baya tersebut mengulangi melakukan hal yang serupa kepada sella, kini terlihat sella mulai tersadar, mendapati hal tersebut, tampak lelaki paruh baya itu melepaskan ikatan kain sarung yang mengikat tangan sella, untuk beberapa saat lamanya, sella nampak kebingungan begitu mendapati dirinya dalam keadaan terbaring di atas lantai
“ ya tuhan....gw kenapa...?” tanya sella seraya mengeluarkan isak tangisnya, dari ekspresi wajah yang diperlihatkan oleh sella, sepertinya sella memang tengah mengalami kelelahan yang teramat sangat akibat sesuatu yang merasuki tubuhnya tadi, kini setelah beberapa saat lelaki paruh baya itu mencoba menenangkan sella, sebuah jawaban yang menerangkan kalau sella telah mengalami gangguan mahluk ghaib kini terlontar dari mulut lelaki paruh baya itu, mendapati jawaban tersebut, kini terlihat sella kembali menangis
“ memangnya tadi lu lihat apa sel...?” tanya iyan dengan ragunya, untuk beberapa saat sella hanya terdiam dalam tangisnya, hingga akhirnya sella mulai menceritakan tentang apa yang telah dialaminya tadi
“ hahhh..masa sih sel...tadi gw sama sekali enggak melihat ada apa apa...” ujar doni yang merasa terkejut dengan apa yang telah diceritakan oleh sella
“ benar don....tadi itu saat mang edo telah selesai melakukan ritual sesajiannya, gw melihat seperti ada seorang wanita yang tengah membungkuk dan mengacak acak nampan sesajian itu, dan gw sangat yakin kalau wanita tersebut bukanlah wanita seperti apa yang telah dilihat oleh doni atau pun iyan....wanita itu terlihat sangat buruk, dengan luka basah yang menghiasi sekujur tubuhnya...” sebuah keterangan yang terucap dari mulut sella, kini sedikit banyak telah mengungkap tentang asal muasal bau busuk yang tercium di ruangan ini, dan sepertinya bau busuk tersebut memang berasal dari luka basah wanita buruk itu, hal ini semakin dapat dibuktikan dengan tersadarnya sella yang diikuti oleh lenyapnya bau busuk dari ruangan ini
“ jadi bagaimana mang edo.....apakah mang edo masih percaya kalau prosesi ritual sesajian itu akan menghilangkan bentuk gangguan ghaib yang terjadi di penginapan ini....?” tanya gw yang berbalas kebisuan mang edo, hingga akhirnya setelah beberapa saat terdiam, mang edo mulai menjelaskan tentang alasannya kabur setelah melihat kejadian yang menimpa sella
“ tadi sebenarnya saya enggak berniat kabur kang....tapi melihat keadaan neng sella yang seperti itu, saya langsung berpikir untuk memanggil pak syarif, karena memang saya tidak mengerti jika sudah menyangkut hal hal kerasukan seperti itu....” terang mang edo yang berbalas senyum yang mengembang di wajah pak syarif
“ lagian udah tau enggak mengerti dengan hal hal seperti itu, pakai sok tahu mengadakan acara ritual seperti ini...” gerutu iyan dengan masih menunjukan rasa kesalnya, terlihat pak syarif mencoba menangkan iyan dengan cara menepuk nepukan tangannya di punggung iyan
“ sebanarnya kalian enggak bisa juga menyalahkan mang edo seperti itu, tujuan mang edo itu sebenarnya baik, untuk membantu kalian...tapi langkah yang dilakukannya salah....” ucap pak syarif yang berbalas kebingungan di wajah gw, iyan dan doni
“ salah bagaimana pak...?” tanya gw dengan penuh keingintahuan, kini sebelum pak syarif menerangkan tentang apa kesalahan yang telah dilakukan oleh mang edo untuk menangani permasalahan ini, terlihat pak syarif meminta doni untuk mengantarkan sella kedalam kamar untuk beristirahat, seiring dengan langkah doni yang mengantarkan sella ke dalam kamar, kini pak syarif kembali melanjutkan penjelasannya
“ jadi ritual sesajian yang dilakukan oleh mang edo itu salah pak.....?” tanya iyan seraya mengarahkan pandangannya ke wajah mang edo, mendapati hal tersebut tampak mang edo menundukan kepalanya
“ ya jelas salah....apa yang telah kalian lakukan itu justru malah memanggil kehadiran dari mahluk mahluk ghaib diluar sana untuk hadir di rumah ini, coba kalian bayangkan, andaikan ada sebuah jamuan makan gratis yang di sediakan di suatu tempat, apakah itu enggak akan menarik minat dari orang orang yang melihatnya...?” mendapati pertanyaan pak syarif tersebut, kini gw, iyan dan mang edo hanya bisa terdiam seraya mencoba memaknai akan arti dari pertanyaan pak syarif tadi, dan sepertinya kini gw telah mengerti dengan maksud pertanyaan itu
“ jadi kira kira seperti itulah perumpamaannya, apa yang telah teman kalian lihat tadi bukanlah sesosok wanita yang selama ini telah memberikan gangguannya di rumah ini...justru sesosok wanita yang telah dilihat oleh teman kamu itu adalah sosok ghaib yang sangat buruk dan dia tidak menempati rumah ini....sedangkan untuk sosok wanita yang selama ini telah mengganggu kalian, firasat saya mengatakan bahwa dia masih ada di tempat ini...” mendengar penjelasan yang terucap dari mulut pak syarif, bayangan gw akan adanya seseorang yang mempunyai keilmuan yang tinggi dan bisa menangani semua permasalah ini, kini seperti terwujud dihadapan mata gw ini, dan hal ini tentu tidak akan gw sia siakan
“ maaf pak, andaikan memang sosok wanita itu masih ada di rumah ini, apakah pak syarif bersedia untuk membantu kami mengusirnya....?” tanya gw kepada pak syarif dan berharap adanya jawaban kebersediaan dari pak syarif untuk menangani masalah ini, kini setelah terdiam beberapa, tampak pak syarif kembali mengembangkan senyumnya ke arah gw
“ sebelumnya saya ingin menjelaskan kepada kang bagus, sebenarnya saya ini bukanlah seseorang yang ahli dengan permasalahan seperti itu, walaupun mungkin tadi saya bisa mengeluarkan sesuatu yang ghaib dari tubuh teman kalian, bukan berarti saya juga bisa untuk mengusir ataupun membunuh mahluk ghaib tersebut, sebenarnya yang bisa menangani hal ini adalah diri kalian sendiri...”
“ diri kalian sendiri....?” tanya gw memotong perkataan pak syarif, dan sepertinya pak syarif memaklumi atas apa yang telah gw lakukan itu
“ ya diri kalian sendiri....kalian dapat melakukan penanganan itu dimulai dengan membentengi diri kalian sendiri dengan ibadah dan doa, dan setelah itu barulah kalian bisa mencari tahu tentang kejadian buruk yang mungkin pernah terjadi di rumah ini...mudah mudahan...andaikan kalian mungkin bisa menyingkap kejadian buruk yang pernah terjadi di rumah ini dan memperbaikinya, bukanlah hal yang tidak mungkin jika kejadian buruk yang selama ini terjadi, tidak akan terjadi lagi di rumah ini...” seiring dengan berakhirnya penjelasan pak syarif, kini gw melihat kehadiran doni yang keluar dari dalam kamar dan langsung bergabung dalam pembicaraan ini
“ tapi bagaimana caranya kami bisa mengetahui tentang kejadian buruk yang terjadi di masa lalu itu pak...?” tanya gw kembali dan berharap pak syarif dapat memberikan gw sebuah langkah awal untuk mengatasi semua permasalahan ini
“ berdoalah....dan yakinlah dengan doa itu kalian akan mendapatkan sebuah petunjuk....”
yaa...itulah sebuah kalimat akhir yang terucap dari mulut pak syarif, sebuah kalimat bijak sederhana yang sarat dengan makna, bahwasanya dengan doa yang terucap dari mulut ini setidaknya akan dapat menambah keyakinan diri kita untuk bisa menghadapi segala tantangan dan rintangan yang menghalangi laju langkah kita dalam menapaki roda kehidupan
setelah sebulan berlalu dari kejadian buruk yang telah menimpa sella, beberapa kejadian aneh masih saja terjadi di penginapan yang tengah gw rintis ini, dan hal tersebut benar benar berimbas negatif pada sisi psikologis kami dalam mengelola penginapan ini, harapan gw akan adanya kemajuan dari usaha yang sedang gw rintis ini sepertinya kini hanya menjadi sebuah harapan
“ lu yakin gus mengizinkan gw untuk pulang....?” tanya sella diantara hembusan angin pagi yang masuk melalui jendela kamar yang terbuka, kini nampak sella telah memasukan sebagian bajunya ke dalam tas besar yang diletakannya di lantai
“ yakin sel, lu tenang aja, lagi pula penginapan kita juga belum ada tamunya lagi......” jawab gw sambil menghela nafas panjang, melihat hal tersebut tampak sella mengembangkan senyum kecilnya
“ gw yakin koq gus...pada suatu saat nanti pasti penginapan ini akan ramai....”
“ iya sel...suatu saat nanti, dan gw enggak tau...kapan suatu saat nanti itu akan datang, sedangkan sekarang ini aja, gw masih belum bisa untuk menangani permasalahan yang mengganggu penginapan ini.....” ujar gw yang merasa pesimis dengan perkataan sella
“ duh gus...gw jadi merasa enggak enak nih, meninggalkan kalian dalam situasi seperti ini, kesannya gw hanya mau ada disaat kalian senang aja....”
“ udah lah sel, lu enggak usah berpikiran sesempit seperti itu, dengan masih terjadinya gangguan gangguan ghaib di penginapan ini, gw berpikir langkah untuk memulangkan lu ini adalah langkah terbaik...karena gw merasa, setelah lu mengalami kesurupan itu....lu menjadi orang yang paling sering mengalami gangguan ghaib di penginapan ini....” mendengar perkataan gw terlihat sella hanya terdiam, mungkin dia merasa bahwa apa yang telah gw katakan itu memang benar adanya
“ kalau memang itu alasannya gus....ya gw enggak bisa berkata apa apa lagi, karena sejujurnya gw memang merasa kalau sekarang ini gw menjadi target yang paling lemah untuk mengalami gangguan ghaib di penginapan ini..... “ ujar sella seraya memasukan baju terakhirnya ke dalam tas
“ lantas setelah kepulangan gw nanti...kalian semua akan melakukan apa untuk mengatasi gangguan ini....?”
“ entahlah sel....gw belum berpikir langkah apa yang akan gw ambil, sepertinya tuhan masih belum berkenan menjawab doa gw....” seiring perkataan yang terlontar dari mulut gw, suara ketukan yang terdengar dari pintu, kini memperlihatkan mang edo yang tengah berdiri di depan pintu kamar
“ ehh mang edo, ada apa mang...?” tanya sella begitu melihat mang edo agak ragu untuk mengatakan sesuatu
“ maaf neng sella, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan kang bagus....” jawab mang edo yang berbalas permintaan sella agar mang edo memasuki kamar, untuk sesaat mang edo kembali terdiam dalam keraguan, hingga akhirnya gw meminta mang edo mengatakan apa yang ingin dikatakannya tanpa harus merahasiakannya dari sella
“ sebenarnya ada sesuatu yang ingin mang edo sampaikan kepada kang bagus, dan itu terhubung dengan masa lalu rumah ini....”
entah kalimat apa yang harus gw tuliskan untuk menggambarkan suasana hati yang gw rasakan saat ini, sebuah kabar yang mungkin terhubung dengan sejarah masa lalu rumah ini kini laksana sebuah kabar menyejukan diantara kegelisahan yang gw rasakan selama ini
“ jadi mang edo tau, apa yang sebenarnya telah terjadi di rumah ini....?” tanya gw dengan penuh keantusiasan
“ sebenarnya bukan mang edo yang tahu kang....tapi teman mang edo yang memberitahukan kalau ada seseorang yang mengetahui tentang masa lalu rumah ini, dan orang itu dulu adalah bekas pekerja lepas perkebunan milik orang tua kang bagus....”
“ alhamdulillah mang, berarti sebentar lagi kita akan bisa mengetahui tentang apa yang telah terjadi di rumah ini....” ujar gw yang berbalas ekspresi kegembiraan di wajah sella
“ ohh iya mang, kapan dan dimana saya bisa menemui orang itu....?”
“ terserah kang bagus, lagi pula orang yang saya maksud itu adalah warga kampung sini juga, intinya kang bagus bisa menemuinya kapan aja....” mendengar jawaban mang edo yang menyatakan bahwa orang itu bisa ditemui kapan saja, akhirnya gw memutuskan untuk menemui orang itu hari ini juga, karena gw tidak mau kalau masalah ini akan terus berlarut larut dan tidak mempunyai titik akhir, kini setelah mang edo mendengar permintaan gw yang menginginkan agar mang edo mengantarkan gw ke rumah orang yang dimaksud tadi, mang edo segera melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar
“ jangan meragukan tuhan gus...buktinya sekarang doa lu langsung terjawab....” sindir sella yang berbalas senyuman gw
tepat setengah jam setelah mang edo mengabarkan kabar baik yang akan menjadi titik awal bagi gw untuk menyingkap tabir misteri rumah ini, gw memutuskan untuk pergi ke rumah orang tersebut dengan menggunakan sepeda motor yang dikendarai oleh mang edo, dengan terlebih dahulu melepas kepulangan sella yang diantarkan oleh doni
seiring dengan laju sepeda motor yang mulai menembus jalan setapak kampung, bayangan gw akan kabar berita yang sebentar lagi akan gw dengar, kini seperti memacu detak jantung gw untuk berdegup semakin kencang, untuk sesekali tampak mang edo menyapa beberapa warga kampung yang kebetulan berpapasan dengan sepeda motor yang dikendarainya, hingga akhirnya ketika sepeda motor yang mang edo kendarai memasuki sebuah halaman rumah, kini gw melihat keberadaan seseorang yang sedang berdiri di samping rumah, dan sepertinya orang tersebut tengah memberikan pakan ternak pada ayam ayam peliharaannya, tampak orang tersebut kini memperhatikan kehadiran kami yang turun dari sepeda motor, dan sepertinya orang tersebut mengenali mang edo walaupun hanya sebatas mengenali wajah mang edo
“ assalamualaikum...” salam mang edo yang berbalas jawaban salam dari orang tersebut, kini setelah berbasa basi sebentar untuk memperkenalkan diri, gw baru mengetahui kalau orang tersebut bernama pak toha, dari gambaran tubuh dan kerutan wajah yang diperlihatkan oleh pak toha, sepertinya pak toha telah berusia sekitar lima puluh delapan tahun, ya...sebuah usia yang panjang untuk mengetahui lika liku kehidupan yang terjadi di dunia ini
“ ayo masuk do...gus...” ucap pak toha mempersilahkan kami untuk memasuki rumahnya, dan sesuai dengan adat kebiasaan warga perkampungan yang selalu ramah dengan tamu yang diterimanya, tampak pak toha meminta istrinya untuk membuatkan tiga gelas kopi yang diperuntukan untuk menemani perbincangan ini
“ ohh iya do, sebenarnya ada apa ya...koq tumben banget mampir kesini...” tanya pak toha seraya mempersilahkan gw dan mang edo untuk meminum kopi yang telah terhidang di meja, sebungkus rokok kretek kini dikeluarkan oleh pak toha dari saku celananya, seiring dengan perkataan yang terucap dari mulut pak toha kini gw bisa melihat keberadaan sebuah bingkai photo tua yang tergantung di dinding, dan sepertinya bingkai photo tersebut membingkai sebuah photo yang terlihat telah usang
“ maaf pak toha, sebenarnya maksud kedatangan saya ke rumah ini adalah ingin mengetahui tentang sejarah dari penginapan tempat saya bekerja sekarang ini, kebetulan kang bagus ini adalah anak dari pemilik penginapan itu....” jawaban yang terlontar dari mulut mang edo, kini mengantarkan kepulan asap rokok yang keluar dari mulut pak toha
“ penginapan...?” tanya pak toha kepada mang toha dengan menunjukan ekspresi rasa bingung, belum sempat mang toha menjawab, kini gw segera bangkit dari kursi dan berjalan menuju dinding tempat dimana photo usang itu terpajang
“ pak toha...kalau boleh saya tahu, apakah photo ini adalah photo bapak sewaktu bekerja di perkebunan...?” tanya gw seraya memandang ke sebuah photo yang menggambarkan pak toha dengan beberapa kawannya tengah memanen hasil perkebunan, mendengar pertanyaan gw tersebut, tampak kini pak toha bangkit dari duduknya dan berjalan ke sisi gw, kini tatapannya memandang ke arah photo
“ iya...betul, itu adalah photo saya ketika memanen hasil strawbery, memangnya kenapa nak bagus...?” sebuah jawaban yang terucap dari mulut pak toha kini berbuah sebuah pertanyaan, yang juga terucap dari mulut pak toha, sepertinya pak toha merasa heran dengan pertanyaan gw yang menanyakan tentang perihal photo usang tersebut
“ apakah pak toha mengenal ibu diah astuti....?” seiring dengan keterkejutannya begitu mendengar pertanyaan gw, kini pak toha terdiam sesaat, pandangan matanya tetap terarah lurus pada photo usang yang terpajang di dinding
“ nak bagus mengenal ibu diah....?” tanya pak toha yang berbalas anggukan kepala gw
kenal pak, ibu diah itu adalah mamah tiri saya....” seiring dengan jawaban yang terucap dari mulut gw, sekali lagi terlihat ekspresi keterkejutan di wajah pak toha
“ hahh...berarti yang dimaksud dengan penginapan tempat edo bekerja itu adalah rumah ibu diah yang telah lama di kosongkan itu....ya ampun, saya benar benar enggak tahu, kalau rumah itu sekarang sudah jadi penginapan.....”
“ benar pak...dan sekarang saya yang mengelola rumah itu...” ucap gw seraya memperhatikan pak toha yang kembali duduk di kursinya, dan sepertinya ekspresi wajah pak toha menunjukan rasa ketidaknyamanannya begitu mengetahui penginapan yang dimaksud mang edo tadi adalah rumah dari mamah tiri gw
“ jujur saja pak, sebenarnya maksud dan tujuan kami ke rumah pak toha adalah ingin menanyakan tentang sejarah masa lalu dari rumah milik mamah tiri saya itu......” ucap gw seraya menghempaskan tubuh ini di kursi
“ sejarah masa lalu....?”
regmekujo dan 13 lainnya memberi reputasi
14