- Beranda
- Stories from the Heart
50 Episode Keistimewaan
...
TS
arako.santo93
50 Episode Keistimewaan

Di thread ini aku akan menceritakan pengalamanku bersama keistimewaan (atau kutukan) yang aku miliki. Pada awalnya aku enggan membagi pengalamanku ini karena muak sudah rasanya dianggap sebagai seorang penipu, pembohong, pencari sensasi atau apapun itu. Sedari awal aku pengen ingatkan ke temen- temen bahwa aku tidak memiliki bukti apapun dan tidak akan mencoba membuktikan apapun. Aku hanya ingin temen-temen merasakan sedikit perjalananku yang notabene adalah makhluk amphibi karena hidup di dua dunia. Well at least aku bisa melihat kedua dunia.
Sekali lagi motivasi saya hanya untuk membagi cerita. Jadi maaf kalau nantinya saya mendapat banyak comment atau pesan yang tidak saya balas.
Janji saya:
Saya akan menyelesaikan cerita ini sampai tuntas (episode ke 50), dan saya akan menghilang (dalam artian apapun) setelah cerita ini selesai saya bagi.
INDEX:
Prologue
Episode 1: Level 8
Episode 2: Kado Kelulusan
Episode 3: Perkenalan SMP
Episode 4: Pemain ke-15
Episode 5: Penjaga Rumah
Episode 6: Bencana
Episode 7: Jurit Malam
Episode 8: Penghuni Candi
Episode 9: Penghuni Candi bag.2
Episode 10: Lik Sri
Episode 11: Resep Rahasia
Episode 12: Peneman Tak Diundang
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 11 suara
Sisi apa yang temen-temen pengen baca secara detail?
Horror
73%
Asmara
9%
Keluarga
18%
Diubah oleh arako.santo93 05-02-2019 10:07
anasabila memberi reputasi
1
5.5K
39
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
arako.santo93
#25
Episode 7
Jurit Malam
Halo temen- temen pagi ini aku sudah cukup sehat untuk meninggalkan rumah sakit. Masih ingat suster Kanako? Dia mengantarku sampai depan gerbang rumah sakit tadi. Dia tersenyum manis, tapi kata-kata terakhirnya yang membuatku merinding sampai saat ini. Dia mengatakan “kondo watashi asobini iku ne (lain waktu gantian aku yang main ke tempatmu)”. Di sini sudah hampir jam 11 malam sekarang dan aku masih was was apa benar dia akan mendatangiku. Semoga tidak. Well lanjut ke pengalamanku saja ya.
Saat itu aku belajar di tingkat 2 sekolah menengah. Kisah itu dimulai ketika kami mengadakan perkemahan di area belakang komples perumahan TNI AU (kini menjadi rumahsakit milik TNI AU). Di sana kami menghabiskan satu malam, dan itu adalah malam yang sangat panjang bagiku. Kami berkumpul di SMP kami pada pukul 8 pagi. Kami berangkat menggunakan bus. Bukan bus pariwisata yang dingin dan nyaman, tapi bis kota yang di charter dengan kursi sekeras kepala kakakku. Namun itu tidak mampu membendung semangat anak-anak yang akan menghabiskan waktu bersama para sahabatnya semalam penuh. Kami bernyanyi bersama sepanjang jalan sambil menikmati semilir angin dari jendela yang sengaja kami buka untuk mengusir hawa panas kota gudeg kala itu.
Kurang lebih 45 menit kami sampai di tempat perkemahan. “Wah bagusnya tempatnya”, “Wah bisa liat hutan dari sini”, “Wah ada kolamnya”. Begitulah kira-kira ekspresi teman-temanku begitu kami sampai di tempat perkemahan. Setelah menghabiskan nasi dus dengan isi ayam goreng, capcay dan telor balado dengan lahap, kami secara berkelompok mendirikan tenda. Anggota kelompokku kala itu berisi anak malas semua. Tenda kami lebih menyerupai baliho kampanye yang dipasang miring yang roboh setiap 15 menit sekali. Akhirnya kami memutuskan untuk menyerah dan menignap di tenda teman lain saja nanti malam.
Tibalah saat kami harus melakukan jurit malam. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok terdiri dari 3 laki-laki dan 3 perempuan. Inilah list anggota kelompokku:
Wicak: Cowok jawa yang keranjingan anime jepang
Yoga: Kalau kalian bertemu dia pasti kalian akan mengiranya orang-orangan sawah yang tersambar petir lalu hidup karena dia sama sekali tidak punya ekspresi saat bicara. Datar terus
Fitri: Well kalian kenal temanku satu ini
Gaby: Cewek, eh cowok, eh cewek tapi lebih sangar dari cowok
Putri: Cewek manis yang sangat perhatian ke semua orang
Kami semua menyiapkan barang-barang yang akan di bawa ke jurit malam.
Fitri: “Eh jangan lupa senter, koyo, sarung, masker…”
Aku: “Kompor, kulkas, rice cooker…” kataku memotong karena Fitri terus nerocos tanpa ada jeda. Namun itu semua berbuah cubitan yang bekasnya baru hilang seminggu kemudian
Putri: “Kita berdoa bareng dulu yuk sebelum berangkat”
Semua anak menangguk. Kami berpegangan tangan sambil berdoa. Sumpah aku sama sekali tidak khusuk kala itu karena aku menggandeng tangan Putri. Aku deg-deg an bercampur bahagia. Tapi semua tidak berlangsung lama. Wicak tiba-tiba berdiri di sebelahku dan menggandeng tanganku satunya. Dia ini saking keranjingannya sama anime jepang akhirnya membuat agama baru yang kejepang-jepangan. Kalu berdoa tangannya gerak-gerak. Katanya niruin mantra nya Naruto.
Aku: “Cak, ndonga ora pecicilan! (kalo berdoa jangan banyak tingkah)
Wicak: “Ora iso, engko bunshin ku ora manjur (engga bisa nanti jurusku nggak manjur)”
Aku: “Kowe kakehan polah tak jurus dadi cebong! (Kamu kalau banyak tingkah aku ubah jadi kecebong)”
Wicak ketakutan kala itu dan menjadi tenang. Dia satu-satunya anak yang percaya aku pernah berguru di sekolah ninja dan bisa merubah manusia menjadi kecebong. Jadi kala itu aku yakin dia benar-benar ketakutan bukan hanya pura-pura.
Tim kami berangkat paling depan. Aku yang berada di barisan depan, Wicak dan Yoga di paling belakang, dan para perempuan di tengah. Seperti jurit malam pada umumnya, kami harus melalui beberapa pos dan menjalankan instruksi yang tertera di setiap pos. Pos pertama hanya beberapa meter dari garis start. Di situ tertulis “Ambil lilin, dan HT lalu letakkan semua barang bawaan di sini”.
Fitri: “Eh mampus semua yang kita siapin ga bisa dibawa”
Aku: “Aku kan udah bilang tadi jurit malam mana boleh bawa senter”
Putri: “Yauda semua ditaruh tapi buat jaga-jaga obat-obatan tetep dibawa ya”
Semua anak meletakkan barang bawaannya. Lalu tibalah saatnya sang patung sawah (Yoga) meletakkan bawaannya. Tau apa yang dia taruh? Blangkon! Semua lantas tertawa terbahak-bahak.
Wicak: “kowe ngopo nggawa blangkon ndes hahaha (kamu kenapa bawa blangkon)”
Yoga: “Ben anget” jawabannya begitu datar
Jawaban Yoga itu membuat kami semakin terpingkal. Puas dengan rasa sakit di perut karena tertawa, kami semua melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Jaraknya sekitar 500 meter. Kami harus melewati sungai kecil dengan batu-batu untuk menyebrang. Kami berpegangan tangan agar tidak ada yang terpeleset. Dan semua kengerian berawal di sini. Sungai kecil itu sangat dangkal, mungkin hanya sedalam mata kaki. Tapi aku yang kala itu menyebrang terakhir melihat seklebat bayangan di dasar sungai, dan aku sangat yakin itu adalah bayangan seekor buaya. Matanya berwarna orange dengan duri-duri besar di sepanjang punuknya. Kalau aku kira-kira dari ujung ekor sampai ke kepala mungkin panjangnya sekitar 5 meter. Aku langsung meloncat dari sungai itu. Aku melihat lagi dasar sungai dan buaya itu sudah tidak ada. Untuk pertama kali aku bersyukur itu adalah makhluk gaib. Aku akan sangat histeris jika itu ternyata adalah buaya sungguhan.
Kami menyusuri hutan dan melihat ada sebuah cahaya. “Nah itu dia posnya” kata Gaby dengan bersemangat. Kita semua lantas bergegas menuju pos tersebut.
Fitri: “Malem kak. Kami dari kelompok 1 melapor untuk instruksi”
Pembina: “Kalian ambil kain itu dan gunakan untuk menyelimuti kalian di perjalanan”
Aku: “Loh gak ada tugasnya kak?”
Pembina hanya menggeleng. Kami mengambil kain selembar per orang. Kain itu berwarna putih bersih tapi wangi. Tiba-tiba saja aku memiliki firasat buruk tentang ini. Aku memutuskan untuk menaruh kain ku di ransel untuk menyimpan obat-obatan.
Wicak: “Untung ya entuk iki dadi anget (untung ya dapat kain ini jadi anget)” ucapnya seraya membungus lengan dan badannya dengan kain
Gaby: “Ho oh dadi ora masuk angin (iya jadi gak masuk angin)” katanya sambil mengalungkan kain itu ke lehernya
Perjalanan menuju pos ke tiga kami lalui dengan hening. Kami semua sudah kelelahan. Jarak pos kali ini terasa begitu jauh. Hingga pada suatu titik aku menyadari bahwa kami telah melewati pohon beringin yang sama dua kali. Tapi aku tidak begitu yakin kala itu, jadi aku memutuskan untuk meletakan satu lilin di dekat pohon itu secara diam-diam agar yang lain tidak curiga. Beberapa saat kami meneruskan perjalanan, kami tiba di pohon yang sama. “Kalian tunggu sebentar” kataku sembari berjalan menuju pohon itu. Benar! Lilin yang tadi aku taruh ada di situ. “Sial kami dikerjain” batinku. Aku kemudian kembali ke teman-ku. “1..2..3, lhoh kok hanya kalian bertiga! Wicak sama gaby di mana!” teriakku.
Fitri: “Haahhh. Tadi mereka di belakangku kok!”
Putri: “Astaghfirullah, apa mereka tersesat ya”
Yoga hanya diam dan berdoa kala itu. “Kita kontak pembina lewat HT!” perintahku kala itu. Yang setelah itu terjadi hanya menambah kengerian kami semua kala itu. Tombol volume HT kami putar, “Kak, teman kami hilang” ucapku berusaha memberi tahu pembina yang ada di saluran seberang. Tidak ada jawaban. “Hallo kak, ini Ara dari kelompok 1, teman kami hilang”. Dan masih tidak ada jawaban juga. Fitri kemudian menyaut HT itu lalu berbicara. “Kak tolong dua teman kami hilang” katanya. Sesaat itu juga ada jawaban dari HT. “Kak tolong dua teman kami hilang hahahaha” jawaban dari HT tersebut menirukan ucapan Fitri. Suaranya seperti anak-anak kecil yang bergerombol dan berbicara bersama-sama.
Fitri: “Lhoh ini siapa? Mana kakak pembina?” tanyanya
HT: “Mana kakak pembina hahahahaha” suaranya seperti meledek
Aku: “Woy jangan main-main! Teman kami hilang! Kasih ke pembina HTnya!” teriakku marah
Saat itu juga aku menyesali yang aku lakukan. Suara anak-anak tadi berubah menjadi suara orang tua yang sangat berat. Dia menggeram seperti ingin mengeluarkan dahak, lalu dia mengucapkan “Temanku hilang, temanku hilang, temanku hilang”. Kata itu terus diulang-ulang. Tapi nadanya seolah semakin keras setiap ucapannya. Hingga akhirnya gema suara tidak hanya terdengar di HT namun menggema di sekeliling kami. Tidak, bukan kami. Tapi aku! Ya, ketika aku melihat sekelilingku semua temanku sudah menghilang. Aku yang panik hanya bisa terdiam kala itu. Lalu dari belakang pohon beringin yang berdiri kokoh itu muncul seekor buaya dengan badan yang sangat besar. Mulutnya menganga mengeluarkan warna merah kecoklatan. Di dalam mulutnya aku melihat teman-temanku terbalut kain putih tadi yang kini sudah berwarna merah terbasahi darah segar. Entah dari mana datangnya keberanianku, aku yang sedari tadi ketakutan mengumpat makhluk itu “makhluk kotor jangan berani kamu menyentuh teman-temanku! Kalau berani lawan aku!”. Perlu temen-temen tahu aku sama sekali tidak pernah berguru untuk mengasah tenaga dalam atau sebagainya. Jadi kala itu aku seperti menjemput mautku sendiri. Buaya itu meraung dengan sangat keras. Lalu sedetik kemudian aku lihat puluhan buaya dengan wujud yang tidak semestinya mengelilingiku. Ada yang rahanya terbuka sangat lebar hingga menyobek rongga mulutnya, ada yang giginya sangat panjang hingga menusuk mulut bagian atasnya. Seketika itu juga semua keberanianku menciut.
Di tengah ketakutanku aku mendengar bisikan dari belakang. Entah suara perempuan atau laki-laki aku tidak ingat. Suara itu berkata “kain dan lilin”. Seperti mendapat sebuah petunjuk yang sangat jelas, aku segera mengeluarkan kain yang aku simpan di kotak obat tadi dan menodongkan ke atas lilin. “Kembalikan teman-temanku atau aku bakar kain ini!” hardikku ke buaya itu. Buaya itu meraung semakin keras. Tanpa pikir panjang aku bakar kain itu. Buaya tadi meraung kesakitan. Entah aku salah dengar atau tidak tapi raungan buaya itu seperti meneriakkan “Toloong! Ampuun!”. Cahaya api dari kain tadi sangat menyilaukan, seperti ada senter yang disorot langsung ke mata. Ketika semua cahaya tadi padam, makhluk-makhluk tadi sudah hilang. Anehnya adalah aku masih berada di tempat yang sama namun langit sudah berwarna jingga menandakan matahari segera terbit. Sayup-sayup aku mendengar suara adzan subuh.
Aku segera bergegas kembali ke tempat perkemahan. Terlihat smua teman-temanku sudah terbangun dan bersiap untuk beribadah.
Wicak: “Heh kowe turu angler tenan! (kamu tidur pules banget)” katanya mengagetkanku
Aku: “hah? Tidur? Pules?” kataku bingung
Wicak: “Ho oh kowe tak gugah sholat subuh ora tangi-tangi (iya tadi aku bangunin sholat subuh gak bangun-bangun” katanya
Lalu Fitri datang dari kejauhan dan menyapaku.
Fitri: “Eh si kebo bangun juga. Kamu dah balik normal belum?” ledeknya
Aku: “Normal? Maksudmu?” tanyaku semakin bingung
Fitri: “Kamu tuh aneh dari semalem kita api unggun kamu cuma senyum-senyum aja terus tiba-tiba ketawa kenceng banget gitu. Terus kamu akhirnya masuk tenda duluan terus tidur sampe ngebo” jelasnya
Sumpah aku bingung kala itu. Bagaimana aku bisa menghadiri api unggun dan tidur bersama mereka ketika aku terus terjaga sampai pagi karena makhluk-makhluk tadi? Apa mungkin yang bersama mereka tadi....ah sudahlah! Tidak mau pikir panjang, kemudian aku menuju toilet untuk membasuh muka dan wudhu. Setelah membasuh muka, aku mendongak dan dari cermin aku bisa lihat jelas dan 100% yakin bahwa aku melihat bayanganku berdiri di belakangku. Hanya diam menghadap ke samping. Jadi di cermin tersebut aku tidak melihat bayanganku tepat di depanku seperti layaknya cermin, namun bayanganku berdiri jauh di belakangku. Bayangku itu kemudian menghadapku dengan tatapan kosong. Lalu sedetik kemudian dia berlari dengan sangat cepat ke arahku. Aku yang sangat ketakutan berlari keluar kamar mandi.
Jadi sebenarnya waktu itu yang menghilang karena ulah makhluk gaib teman-temanku atau aku?
Aku juga tidak bisa menemukan jawabannya hingga saat ini.
Jurit Malam
Halo temen- temen pagi ini aku sudah cukup sehat untuk meninggalkan rumah sakit. Masih ingat suster Kanako? Dia mengantarku sampai depan gerbang rumah sakit tadi. Dia tersenyum manis, tapi kata-kata terakhirnya yang membuatku merinding sampai saat ini. Dia mengatakan “kondo watashi asobini iku ne (lain waktu gantian aku yang main ke tempatmu)”. Di sini sudah hampir jam 11 malam sekarang dan aku masih was was apa benar dia akan mendatangiku. Semoga tidak. Well lanjut ke pengalamanku saja ya.
Saat itu aku belajar di tingkat 2 sekolah menengah. Kisah itu dimulai ketika kami mengadakan perkemahan di area belakang komples perumahan TNI AU (kini menjadi rumahsakit milik TNI AU). Di sana kami menghabiskan satu malam, dan itu adalah malam yang sangat panjang bagiku. Kami berkumpul di SMP kami pada pukul 8 pagi. Kami berangkat menggunakan bus. Bukan bus pariwisata yang dingin dan nyaman, tapi bis kota yang di charter dengan kursi sekeras kepala kakakku. Namun itu tidak mampu membendung semangat anak-anak yang akan menghabiskan waktu bersama para sahabatnya semalam penuh. Kami bernyanyi bersama sepanjang jalan sambil menikmati semilir angin dari jendela yang sengaja kami buka untuk mengusir hawa panas kota gudeg kala itu.
Kurang lebih 45 menit kami sampai di tempat perkemahan. “Wah bagusnya tempatnya”, “Wah bisa liat hutan dari sini”, “Wah ada kolamnya”. Begitulah kira-kira ekspresi teman-temanku begitu kami sampai di tempat perkemahan. Setelah menghabiskan nasi dus dengan isi ayam goreng, capcay dan telor balado dengan lahap, kami secara berkelompok mendirikan tenda. Anggota kelompokku kala itu berisi anak malas semua. Tenda kami lebih menyerupai baliho kampanye yang dipasang miring yang roboh setiap 15 menit sekali. Akhirnya kami memutuskan untuk menyerah dan menignap di tenda teman lain saja nanti malam.
Tibalah saat kami harus melakukan jurit malam. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok terdiri dari 3 laki-laki dan 3 perempuan. Inilah list anggota kelompokku:
Wicak: Cowok jawa yang keranjingan anime jepang
Yoga: Kalau kalian bertemu dia pasti kalian akan mengiranya orang-orangan sawah yang tersambar petir lalu hidup karena dia sama sekali tidak punya ekspresi saat bicara. Datar terus
Fitri: Well kalian kenal temanku satu ini
Gaby: Cewek, eh cowok, eh cewek tapi lebih sangar dari cowok
Putri: Cewek manis yang sangat perhatian ke semua orang
Kami semua menyiapkan barang-barang yang akan di bawa ke jurit malam.
Fitri: “Eh jangan lupa senter, koyo, sarung, masker…”
Aku: “Kompor, kulkas, rice cooker…” kataku memotong karena Fitri terus nerocos tanpa ada jeda. Namun itu semua berbuah cubitan yang bekasnya baru hilang seminggu kemudian
Putri: “Kita berdoa bareng dulu yuk sebelum berangkat”
Semua anak menangguk. Kami berpegangan tangan sambil berdoa. Sumpah aku sama sekali tidak khusuk kala itu karena aku menggandeng tangan Putri. Aku deg-deg an bercampur bahagia. Tapi semua tidak berlangsung lama. Wicak tiba-tiba berdiri di sebelahku dan menggandeng tanganku satunya. Dia ini saking keranjingannya sama anime jepang akhirnya membuat agama baru yang kejepang-jepangan. Kalu berdoa tangannya gerak-gerak. Katanya niruin mantra nya Naruto.
Aku: “Cak, ndonga ora pecicilan! (kalo berdoa jangan banyak tingkah)
Wicak: “Ora iso, engko bunshin ku ora manjur (engga bisa nanti jurusku nggak manjur)”
Aku: “Kowe kakehan polah tak jurus dadi cebong! (Kamu kalau banyak tingkah aku ubah jadi kecebong)”
Wicak ketakutan kala itu dan menjadi tenang. Dia satu-satunya anak yang percaya aku pernah berguru di sekolah ninja dan bisa merubah manusia menjadi kecebong. Jadi kala itu aku yakin dia benar-benar ketakutan bukan hanya pura-pura.
Tim kami berangkat paling depan. Aku yang berada di barisan depan, Wicak dan Yoga di paling belakang, dan para perempuan di tengah. Seperti jurit malam pada umumnya, kami harus melalui beberapa pos dan menjalankan instruksi yang tertera di setiap pos. Pos pertama hanya beberapa meter dari garis start. Di situ tertulis “Ambil lilin, dan HT lalu letakkan semua barang bawaan di sini”.
Fitri: “Eh mampus semua yang kita siapin ga bisa dibawa”
Aku: “Aku kan udah bilang tadi jurit malam mana boleh bawa senter”
Putri: “Yauda semua ditaruh tapi buat jaga-jaga obat-obatan tetep dibawa ya”
Semua anak meletakkan barang bawaannya. Lalu tibalah saatnya sang patung sawah (Yoga) meletakkan bawaannya. Tau apa yang dia taruh? Blangkon! Semua lantas tertawa terbahak-bahak.
Wicak: “kowe ngopo nggawa blangkon ndes hahaha (kamu kenapa bawa blangkon)”
Yoga: “Ben anget” jawabannya begitu datar
Jawaban Yoga itu membuat kami semakin terpingkal. Puas dengan rasa sakit di perut karena tertawa, kami semua melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Jaraknya sekitar 500 meter. Kami harus melewati sungai kecil dengan batu-batu untuk menyebrang. Kami berpegangan tangan agar tidak ada yang terpeleset. Dan semua kengerian berawal di sini. Sungai kecil itu sangat dangkal, mungkin hanya sedalam mata kaki. Tapi aku yang kala itu menyebrang terakhir melihat seklebat bayangan di dasar sungai, dan aku sangat yakin itu adalah bayangan seekor buaya. Matanya berwarna orange dengan duri-duri besar di sepanjang punuknya. Kalau aku kira-kira dari ujung ekor sampai ke kepala mungkin panjangnya sekitar 5 meter. Aku langsung meloncat dari sungai itu. Aku melihat lagi dasar sungai dan buaya itu sudah tidak ada. Untuk pertama kali aku bersyukur itu adalah makhluk gaib. Aku akan sangat histeris jika itu ternyata adalah buaya sungguhan.
Kami menyusuri hutan dan melihat ada sebuah cahaya. “Nah itu dia posnya” kata Gaby dengan bersemangat. Kita semua lantas bergegas menuju pos tersebut.
Fitri: “Malem kak. Kami dari kelompok 1 melapor untuk instruksi”
Pembina: “Kalian ambil kain itu dan gunakan untuk menyelimuti kalian di perjalanan”
Aku: “Loh gak ada tugasnya kak?”
Pembina hanya menggeleng. Kami mengambil kain selembar per orang. Kain itu berwarna putih bersih tapi wangi. Tiba-tiba saja aku memiliki firasat buruk tentang ini. Aku memutuskan untuk menaruh kain ku di ransel untuk menyimpan obat-obatan.
Wicak: “Untung ya entuk iki dadi anget (untung ya dapat kain ini jadi anget)” ucapnya seraya membungus lengan dan badannya dengan kain
Gaby: “Ho oh dadi ora masuk angin (iya jadi gak masuk angin)” katanya sambil mengalungkan kain itu ke lehernya
Perjalanan menuju pos ke tiga kami lalui dengan hening. Kami semua sudah kelelahan. Jarak pos kali ini terasa begitu jauh. Hingga pada suatu titik aku menyadari bahwa kami telah melewati pohon beringin yang sama dua kali. Tapi aku tidak begitu yakin kala itu, jadi aku memutuskan untuk meletakan satu lilin di dekat pohon itu secara diam-diam agar yang lain tidak curiga. Beberapa saat kami meneruskan perjalanan, kami tiba di pohon yang sama. “Kalian tunggu sebentar” kataku sembari berjalan menuju pohon itu. Benar! Lilin yang tadi aku taruh ada di situ. “Sial kami dikerjain” batinku. Aku kemudian kembali ke teman-ku. “1..2..3, lhoh kok hanya kalian bertiga! Wicak sama gaby di mana!” teriakku.
Fitri: “Haahhh. Tadi mereka di belakangku kok!”
Putri: “Astaghfirullah, apa mereka tersesat ya”
Yoga hanya diam dan berdoa kala itu. “Kita kontak pembina lewat HT!” perintahku kala itu. Yang setelah itu terjadi hanya menambah kengerian kami semua kala itu. Tombol volume HT kami putar, “Kak, teman kami hilang” ucapku berusaha memberi tahu pembina yang ada di saluran seberang. Tidak ada jawaban. “Hallo kak, ini Ara dari kelompok 1, teman kami hilang”. Dan masih tidak ada jawaban juga. Fitri kemudian menyaut HT itu lalu berbicara. “Kak tolong dua teman kami hilang” katanya. Sesaat itu juga ada jawaban dari HT. “Kak tolong dua teman kami hilang hahahaha” jawaban dari HT tersebut menirukan ucapan Fitri. Suaranya seperti anak-anak kecil yang bergerombol dan berbicara bersama-sama.
Fitri: “Lhoh ini siapa? Mana kakak pembina?” tanyanya
HT: “Mana kakak pembina hahahahaha” suaranya seperti meledek
Aku: “Woy jangan main-main! Teman kami hilang! Kasih ke pembina HTnya!” teriakku marah
Saat itu juga aku menyesali yang aku lakukan. Suara anak-anak tadi berubah menjadi suara orang tua yang sangat berat. Dia menggeram seperti ingin mengeluarkan dahak, lalu dia mengucapkan “Temanku hilang, temanku hilang, temanku hilang”. Kata itu terus diulang-ulang. Tapi nadanya seolah semakin keras setiap ucapannya. Hingga akhirnya gema suara tidak hanya terdengar di HT namun menggema di sekeliling kami. Tidak, bukan kami. Tapi aku! Ya, ketika aku melihat sekelilingku semua temanku sudah menghilang. Aku yang panik hanya bisa terdiam kala itu. Lalu dari belakang pohon beringin yang berdiri kokoh itu muncul seekor buaya dengan badan yang sangat besar. Mulutnya menganga mengeluarkan warna merah kecoklatan. Di dalam mulutnya aku melihat teman-temanku terbalut kain putih tadi yang kini sudah berwarna merah terbasahi darah segar. Entah dari mana datangnya keberanianku, aku yang sedari tadi ketakutan mengumpat makhluk itu “makhluk kotor jangan berani kamu menyentuh teman-temanku! Kalau berani lawan aku!”. Perlu temen-temen tahu aku sama sekali tidak pernah berguru untuk mengasah tenaga dalam atau sebagainya. Jadi kala itu aku seperti menjemput mautku sendiri. Buaya itu meraung dengan sangat keras. Lalu sedetik kemudian aku lihat puluhan buaya dengan wujud yang tidak semestinya mengelilingiku. Ada yang rahanya terbuka sangat lebar hingga menyobek rongga mulutnya, ada yang giginya sangat panjang hingga menusuk mulut bagian atasnya. Seketika itu juga semua keberanianku menciut.
Di tengah ketakutanku aku mendengar bisikan dari belakang. Entah suara perempuan atau laki-laki aku tidak ingat. Suara itu berkata “kain dan lilin”. Seperti mendapat sebuah petunjuk yang sangat jelas, aku segera mengeluarkan kain yang aku simpan di kotak obat tadi dan menodongkan ke atas lilin. “Kembalikan teman-temanku atau aku bakar kain ini!” hardikku ke buaya itu. Buaya itu meraung semakin keras. Tanpa pikir panjang aku bakar kain itu. Buaya tadi meraung kesakitan. Entah aku salah dengar atau tidak tapi raungan buaya itu seperti meneriakkan “Toloong! Ampuun!”. Cahaya api dari kain tadi sangat menyilaukan, seperti ada senter yang disorot langsung ke mata. Ketika semua cahaya tadi padam, makhluk-makhluk tadi sudah hilang. Anehnya adalah aku masih berada di tempat yang sama namun langit sudah berwarna jingga menandakan matahari segera terbit. Sayup-sayup aku mendengar suara adzan subuh.
Aku segera bergegas kembali ke tempat perkemahan. Terlihat smua teman-temanku sudah terbangun dan bersiap untuk beribadah.
Wicak: “Heh kowe turu angler tenan! (kamu tidur pules banget)” katanya mengagetkanku
Aku: “hah? Tidur? Pules?” kataku bingung
Wicak: “Ho oh kowe tak gugah sholat subuh ora tangi-tangi (iya tadi aku bangunin sholat subuh gak bangun-bangun” katanya
Lalu Fitri datang dari kejauhan dan menyapaku.
Fitri: “Eh si kebo bangun juga. Kamu dah balik normal belum?” ledeknya
Aku: “Normal? Maksudmu?” tanyaku semakin bingung
Fitri: “Kamu tuh aneh dari semalem kita api unggun kamu cuma senyum-senyum aja terus tiba-tiba ketawa kenceng banget gitu. Terus kamu akhirnya masuk tenda duluan terus tidur sampe ngebo” jelasnya
Sumpah aku bingung kala itu. Bagaimana aku bisa menghadiri api unggun dan tidur bersama mereka ketika aku terus terjaga sampai pagi karena makhluk-makhluk tadi? Apa mungkin yang bersama mereka tadi....ah sudahlah! Tidak mau pikir panjang, kemudian aku menuju toilet untuk membasuh muka dan wudhu. Setelah membasuh muka, aku mendongak dan dari cermin aku bisa lihat jelas dan 100% yakin bahwa aku melihat bayanganku berdiri di belakangku. Hanya diam menghadap ke samping. Jadi di cermin tersebut aku tidak melihat bayanganku tepat di depanku seperti layaknya cermin, namun bayanganku berdiri jauh di belakangku. Bayangku itu kemudian menghadapku dengan tatapan kosong. Lalu sedetik kemudian dia berlari dengan sangat cepat ke arahku. Aku yang sangat ketakutan berlari keluar kamar mandi.
Jadi sebenarnya waktu itu yang menghilang karena ulah makhluk gaib teman-temanku atau aku?
Aku juga tidak bisa menemukan jawabannya hingga saat ini.
Diubah oleh arako.santo93 28-08-2018 21:22
0