Kaskus

Story

arako.santo93Avatar border
TS
arako.santo93
50 Episode Keistimewaan
50 Episode Keistimewaan
Di thread ini aku akan menceritakan pengalamanku bersama keistimewaan (atau kutukan) yang aku miliki. Pada awalnya aku enggan membagi pengalamanku ini karena muak sudah rasanya dianggap sebagai seorang penipu, pembohong, pencari sensasi atau apapun itu. Sedari awal aku pengen ingatkan ke temen- temen bahwa aku tidak memiliki bukti apapun dan tidak akan mencoba membuktikan apapun. Aku hanya ingin temen-temen merasakan sedikit perjalananku yang notabene adalah makhluk amphibi karena hidup di dua dunia. Well at least aku bisa melihat kedua dunia.

Sekali lagi motivasi saya hanya untuk membagi cerita. Jadi maaf kalau nantinya saya mendapat banyak comment atau pesan yang tidak saya balas.

Janji saya:
Saya akan menyelesaikan cerita ini sampai tuntas (episode ke 50), dan saya akan menghilang (dalam artian apapun) setelah cerita ini selesai saya bagi.

INDEX:
Prologue
Episode 1: Level 8
Episode 2: Kado Kelulusan
Episode 3: Perkenalan SMP
Episode 4: Pemain ke-15
Episode 5: Penjaga Rumah
Episode 6: Bencana
Episode 7: Jurit Malam
Episode 8: Penghuni Candi
Episode 9: Penghuni Candi bag.2
Episode 10: Lik Sri
Episode 11: Resep Rahasia
Episode 12: Peneman Tak Diundang
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 11 suara
Sisi apa yang temen-temen pengen baca secara detail?
Horror
73%
Asmara
9%
Keluarga
18%
Diubah oleh arako.santo93 05-02-2019 10:07
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
5.5K
39
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
arako.santo93Avatar border
TS
arako.santo93
#17
Episopde 6
Bencana

Jumat, 26 Mei 2006. Malam itu adalah malam yang sangat tenang. Aku dan keluarga berkumpul di ruang tengah sembari bercanda. Nikmatnya ketela rebus dengan kuah santan menemani hangatnya susu panas yang kami santap bersama. Sebelum menuju ke peraduan mimpi, Ayahku berpesan “besok pagi Ayah dan Ibu mau lari pagi, kalian bangun pagi biar gak dimarahin Nenek”. Aku dan kakakku adalah dua orang pemalas nomor wahid di rumah. Mungkin kalau ada perlombaan ngebo kami akan bersaing ketat untuk menjadi yang pertama.

Tidak ada yang aneh sama sekali malam itu. Saya tertidur dengan sangat lelap. Hingga saya terbangun sekitar pukul 3 pagi. Kalian pernah dengar kata tindihan? Secara biologis itu dijelaskan sebagai tahap di mana otak terjaga mendahului badan yang masih di dalam fase tidur. Namun ada juga yang mengaitkannya dengan sesuatu yang mistis. Yang mana yang benar? Silahkan teman-teman memilih sendiri mana yang kalian yakini. Singkat cerita aku terbangun dengan badan kaku seperti papan. Mataku terbuka lebar namun badanku sama sekali tidak bisa digerakkan. Aku berusaha membangunkan kakakku yang tidur di sampingku, namun rahangku seperti terkunci. Lalu mataku terfokus pada sudut kamarku. Di sana ada sebuah celah di antara dua lemari kayu. Dari situ aku melihat seorang wanita dengan paras cantik mengenakan selendang jawa. “Tidak salah lagi! Itu adalah wanita yang di lukisan ruang tamu” batinku.

Di ruang tamuku ada sebuah lukisan seorang penari jawa. Lukisan itu kami dapat dari perlombaan di Prambanan tahun 1994 di mana Ayahku adalah jurinya kala itu. Setelah perlombaan selesai semua lukisan dititipkan sementara di rumah lamaku. Ketika semua lukisan diambil oleh pemiliknya, satu lukisan ini sama sekali tidak pernah di klaim oleh siapapun. Ayahku berusaha mengkonfirmasi pelukis yang bernama Sukino (tertulis di lukisan), namun di lembar registrasi tidak pernah ada nama itu. Ayah dan Ibuku memutuskan untuk menyimpan dan memajangnya. Ada Ustadz yang mengatakan bahwa dia adalah penjaga yang sangat baik, dan malam itu pertama kali aku bertemu face-to-face dengannya. Sumpah dia benar-benar cantik. Mukanya mirip Desi Ratnasari waktu masih muda. Tapi secantik-cantiknya dia, makhluk gaib tetap saja selalu membuatku ngeri. Dia berjalan anggun mendekatiku dan kemudian membisikkan “Cah bagus, sesuk esuk sholat subuh ojo lali. Jama’ah karo kabeh nggih (Besok pagi jangan lupa sholat subuh, berjama’ah dengan yang lain)”. Setelah kata-kata itu selesai terucap, aku terperanjat dari kasurku. Kunyalakan lampu untuk memastikan dia sudah hilang, dan sepanjang malam kubiarkan lampu menyala untuk menemaniku terlelap sampai pagi.

Sabtu, 27 Mei 2006 pukul 4:45. Aku terbangun dari tidurku, dan tidak seperti biasanya aku langsung bergegas mengambil air wudhu. Sholat ku pagi itu begitu khusuk. Tepat jam 5:15 aku selesai menunaikan sholatku dan bergegas untuk mandi. Pukul 5:50 aku yang tengah menikmati air hangat yang membasahi badan, tiba-tiba dikejutkan oleh bisikan tepat di belakang telingaku “Cah bagus lali to? (kamu pasti lupa kan”. Aku terperanjat hingga hampir terpeleset ke dalam bak. Aku yang masih memburu nafas karena tersontak dan kebingunan apa maksud bisikan itu, kembali dikejutkan oleh suara kakakku yang berteriak dari luar “Setaaaan! Ono setaaaan! (ada hantu)”. Aku kemudian buru-buru mengambil handuk dan bersiap keluar kamar mandi. Sebelum aku sempat membuka pintu kamar mandi, pukul 5:55 kota istimewa ini dikejutkan dengan bencana alam yang sangat dahsyat. Bencana yang memporak-porandakan jutaan beton kokoh, dan memulangkan ratusan ribu arwah hamba ke yang empunya. Semua terjadi begitu cepat. Aku, kakakku, dan nenekku berlari keluar rumah. Di tengah pelarian terdengar suara dentuman “blaaaarrr”, yang kemudian aku tau itu adalah suara kamar tidurku yang roboh hingga rata dengan tanah. Beton cor-coran menghancurkan tempat tidurku hingga berkeping-keping.

Tak berapa lama Ayah dan Ibuku kembali dengan wajah penuh kekhawatiran. Kami semua berpelukan dengan erat. Ibuku menangis sejadi-jadinya kala itu karena kekhawatirannya yang tidak terbendung. Dari kejauhan ku lihat di ambang pintu rumahku sang penari jawa berdiri dan tersenyum ke arahku. Detik itu juga aku tersadar apa yang aku lupa. Aku lupa mengajak yang lain sholat berjama’ah. Aku juga sadar mengapa dia mengatakan aku harus mengajak semuanya sholat berjama’ah. Agar semua terbangun dan selamat dari bencana itu. Rupanya dia juga yang membangunkan kakakku 5 menit sebelum gempa datang dan meluluh lantakkan kamar tidurku. Jika tidak dia bangunkan, aku tidak tahu akan menjadi apa kakakku di bawah reruntuhan beton itu. Aku sempatkan mengucapkan terimakasih di dalam hati karena dia telah membantu keluargaku untuk selamat dari bencana tersebut.
Hari itu berakhir dengan haru. Rasa syukur kami panjatkan atas kebaikan Allah yang masih menghendaki kami semua untuk bersama-sama dan selamat dari bencana. Sungguh kita hanyalah sebutir debu hadapan Allah.

Ketika aku berfikir hari itu akan berakhir dengan tenang, aku salah. Selama 40 hari aku terus mendengar teriakan minta tolong, jeritan keputusasaan hingga dimintai banyak bantuan. Bukan hanya dari manusia, namun juga dari mereka yang tidak bisa selamat dari bencana tersebut. Aku benar-benar tidak ingin berinteraksi dengan siapapun kala itu. Bukan karena aku seorang anti-sosial, namun karena sungguh aku tidak bisa membedakan mana manusia dan mana arwah dari orang yang sudah meninggal dunia.

Ada seorang anak kecil berlarian di depan rumahku, kemudian dia berhenti dan berkata kepadaku “mas aku mau digendong Ibu”. Aku kemudian menjawab “Lhoh Ibu di mana dek?”. Dia kemudian menunjuk ke ujung gang rumahku. Tanpa berfikir macam-macam kuantarkan dia ke sana. “Kuwi mas Ibukku (itu mas Ibukku)” katanya sambil menunjuk seorang perempuan berjilbab hitam yang sedang menangis. “Bu, niki dipadosi putrane (Bu, ini dicari anaknya)”kataku. Betapa terkejutnya aku ketika Ibu itu menoleh. Bukan. Ibu itu bukan makhluk gaib. Yang membuatku terkejut adalah sesosok jenazah yang dia peluk ternyata adalah gadis kecil yang tadi aku antarkan ke sini. Aku yang tidak tahu harus berbuat apa semerta-merta berjalan menjauhi Ibu dan jenazah anaknya itu. Ketika aku menoleh ke belakang sekali lagi, gadis itu memeluk lengan Ibunya dari samping dan melempar senyum kepadaku. Senyum itu tentu bukan senyum yang ingin aku ingat.

Lalu ada juga seorang tetanggaku yang dinyatakan hilang setelah gempa menghancurkan rumahnya. Suatu sore dia kembali dan duduk di depan teras rumahnya. Saya sapa dirinya dan menanyakan kabar. Dia tidak banyak bicara kala itu. Singkat cerita kami kemudian merokok bersama di teras rumahnya. Tidak ada yang aneh hingga aku menyadari rokoknya semakin dihisap semakin panjang. Aku kemudian terus memperhatikan rokoknya, hingga dia memregokiku dan mengatakan “penak to neng alam kene, rokok e ora tau entek (enak kan di alam sini, rokok nya tidak pernah habis” diikuti dengan tawa yang menggelegar dan hilang seperti tersapu angin. Rokok yang aku terima darinyapun lenyap, hanya menyisakan sisa abu warna hitam di tanganku yang bau nya sangit seperti kemenyan.

Kalau aku ceritakan semua di saat gempa aku yakin akan habis seluruh 50 episode ini. Benar-benar tidak ada jeda mereka muncul. Hingga pernah aku ingin pergi ke orang pintar untuk menutup kemampuanku ini. Namun itu aku urungkan mengingat jika bukan karena keistimewaanku ini, mungkin aku tidak akan pernah menyadari peringatan Allah melalui penari jawa itu.

Puncaknya dalah hari ke-40. Kami menggelar tirakatan kala itu di lapangan selatan rumahku. Cuaca mendung setelah adzan maghrib. Ketika doa-doa dipanjatkan, dari kejauhan aku melihat sebercak cahaya. Cahaya itu bergoyang-goyang layaknya gerak api. Semakin lama semakin besar dan jelas. “Itu obor tidak salah lagi” kataku dalam hati. Di belakang obor itu kulihat ribuan manusia (atau arwah dari mereka) berjalan berbanjar menuju ke arah barat. Wajah mereka pucat, tatapan mereka kosong. Hingga pada suatu titik mereka semua memudar seiring dengan memudarnya cahaya obor tadi. Di sela doaku aku sempatkan memohon agar mereka diberi kelancaran dan ketenangan dalam perjalanan kembali ke pada-Nya.

Terakhir, buat sahabatku Wahyu. Kurang ajar kamu memang! Hanya sebatas inikah nilai persahabatan kita bagi kamu? Rumah kita hanya berjarak 2km. Seenggan itu kamu menemui ku untuk sekedar menanyakan kabarku! Berani-beraninya kamu pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan. Aku menunggu kamu 40 hari, tidak, bukan hanya 40 hari. Aku menunggumu hingga saat ini! Aku harap kamu menemui ku untuk mengucapkan selamat tinggal atau bahkan hanya sebuah senyuman pun aku juga ikhlas. Tidak kusangka kamu tidak seperduli itu dengan sahabat yang selalu menghabiskan setahun terakhir untuk curhat, nongkrong, ngopi bersama kamu ini. Tapi seperti kamu tahu sahabatmu ini adalah orang yang lapang dada. Aku tidak akan marah lagi kepadamu. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Selamat jalan Wahyu Riko Kuntara, aku sungguh berharap kamu juga menjadi salah satu yang selamat dari bencana itu. Namun Allah sayang kamu, Dia mengangkat derajatmu kini. Tenanglah kamu di sana. Tunggu sampai aku menyusulmu dan aku akan menjitak kepalamu karena kamu pergi tanpa seucap katapun. Al-fatihah.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.