- Beranda
- Stories from the Heart
SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU
...
TS
kata.namnam
SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU

SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU
Selamat datang pada thread sederhana tentang sebuah cerita yang mengatasnamakan rindu sebagai awal dari sebuah percakapan penuh komedi.
Spoiler for PERKENALAN DIRI:
Spoiler for JADWAL UPDATE:
Spoiler for FAQ:
Spoiler for PERATURAN UNTUK PEMBACA:
Spoiler for DAFTAR ISI:
enjoyed
Diubah oleh kata.namnam 18-08-2018 02:34
bukhorigan dan anasabila memberi reputasi
2
22.3K
172
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kata.namnam
#141
PART 8 - JOGGING
Sepulang sekolah, lagi-lagi Rahmat meminta pamit untuk pergi bersama Yudi. Dan seperti biasanya juga, aku mempersilahkannya. Sebenarnya kerasa beda sih tanpa Rahmat. Akhir-akhir ini Rahmat lebih memilih bergabung dengan Yudi dan kawan-kawannya. Tapi, tak apalah. Selagi Rahmat memang nyaman bersama mereka.
Sebaiknya aku menghampiri Mishel ke kelasnya. Kukira dia belum pulang. Aku belum melihatnya lewat. Memang sudah biasa juga sih, kelas IPA sering pulang telat. Kala itu, Bel tak bersifat mutlak. Sekalipun sudah berbunyi, guru lebih mutlak mengatur siswanya. Enggak tahu kalo sekolah sekarang kayak gimana.
Aku berlai kecil. Baru hendak sampai di kelas Mishel, kulihat anak-anak sedang berhamburan keluar kelas. Kutunggu saja di depan kelas. Riffa lewat di depan mataku. Ia langsung masuk kelas. Penasaran, aku mengintip dari jendela.
“Jadi, Shel?” ujar Riffa, memberhentikan langkah Mishel yang hendak keluar kelas.
“Maksudmu, Kak?” Kulihat Mishel seperti kebingungan.
“Katanya mau nyari buku puisi bareng?”
“Oh iya lupa kak, he, sekarang?”
“Ya kalau mau sih …”
Mishel menganggukan kepala. Tanda setuju.
Ah, sial. Keduluan. Aku menyandar pada dinding. Alasannya klasik banget. Nyari buku puisi bareng. Ngomong aja mau ngajak jalan!
Sesaat Mishel dan Riffa keluar kelas dan melihatku.
“Jaka … ”, panggil Mishel.
“Eh, iya Shel.”
“Lagi ngapain kamu di sini?”
Riffa dan Mishel menatapku terheran.
“Habis ngintip kalian tadi.”
“Ngintip …?” Tanya Mishel sedikit ragu.
“Iyah, kalian mau ke toko buku kan?”
“Iyah”, jawab Riffa, “Pasti tadi pengen ngajak Mishel pulang bareng?”. Gaya ucapan Riffa sedikit meledek. Mungkin, ia merasa menang sebab lebih dulu akan jalan bersama Mishel.
“Iya sih. Cuma kan sudah sama lo bang, ya udah gak jadi”
“Polos banget”, sindir Riffa.
“Bukan polos bang … saya laki-laki, jadi gak suka basa-basi”, tungkasku.
Setelah mengucapkan hal itu di depan muka Riffa, aku berbalik badan dan berjalan pulang.
“Maksudmu apa ngomong gitu?”, teriak Riffa.
Aku tak menengoknya, hanya mengangkat tanganku. “Hati-hati di jalan bang!”
***
Hari sabtu, jam pertama, adalah jam kelas olahraga. Lagi-lagi Rahmat menghilang. Sudah kuduga, dia pasti kabur ke belakang sekolah bersama Yudi dan kawan-kawannya. Kenapa tak menunggu waktu istirahat saja sih? Lama-lama kesal juga melihat Rahmat jadi begini.
Aku menuju halaman sekolah. Sesuai intruksi guru olahraga. Setelah kumpul, guru mengabsen. Dan, ah, Rahmat.
“Ke toilet, Pak”, sambarku, “Ganti baju!”
“Kan sudah bapak bilang, kalian itu olahraganya jam pertama, kenapa harus salin dulu. Pake baju olahraganya dari rumah saja.”
“Perasaan tadi aku lihat Rahmat ke arah belakang sekolah”, bisik Bella.
“Engga, ke toilet…”
“Beneran Jaka!”, bisikannyaa sedikit ngotot.
“Terus?”
“Ya artinya kamu bohong.”
“Enggak bohong kok.” Tiba-tiba Rahmat nongol dari belakang. Dugaanku dia datang dari tadi. Buktinya, nyambung dengan obrolan kami.
“Maaf, Mat” tutur Bella setelah tertangkap basah.
Sepertinya Rahmat tak memperhatikan Bella. Ia tak sedikitpun menatap Bella. Suasana tetiba dingin. Kami pun melanjutkan kegiatan olahraga. Tanpa ada suara. Sampai pada akhirnya berganti jam pelajaran.
***
Saat bel istirahat terdengar keras, kuputuskan untuk menghampiri Mishel. kali ini tak mungkin keduluan dengan Riffa.
Syukurlah, ternyata Mishel masih di dalam kelas. Ia sedang bersama teman kelasnya. Melingkar dalam satu meja.
“Eh, tadi pelajaran apa?” Tanyaku pada seseorang yang duduk di sebelah Mishel. Sementara Rahmat berdiri di belakangku.
“Fisika.”, jawabnya singkat.
“Kenapa?”, Tanya Mishel, kurasa dia kaget saat aku tahu-tahu ada di sini.
“Shel, Fisika ada PR?”
“Engga ada sih, kenapa?”
“Boleh aku minjem bukunya?”
“Buat apa?”
“Boleh engga?”
Mishel kiranya menampakkan wajah percayanya. Segera mengambil buku catatan di tasnya.
“Lo kan IPS bang? Buat apa buku fisika”, Tanya seorang teman Mishel. aku sih tidak kenal siapa dia. Tapi, ya mungkin dia kenal siapa aku. Bodo.
“Makasih”, ucapku saat buku catatannya sudah kupegang.
Teman-teman Mishel, dan paastinya Mishel melongo melihat aku dan Rahmat keluar kelas.
***
Waktu bergulir. Malam tiba. Aku mengajak Rahmat untuk menemaniku ke rumah Mishel. Ia tak menolak, tapi sayang sekali, katanya sudah berjanji pada Yudi untuk keluar di malam minggu. Aku keduluaan lagi.
Ya bukan masalah juga sih. Vespaku, sebenarnya cukup menemaniku malam ini untuk apel. Sekitar lima belas menitan aku sudah sampai di rumah Mishel. dari cela gerbang, kulihat ada Ayah dan Mang Kardi sedang main catur. Dalam benak aku bertanya, kok aku gak pernah lihat ibunya Mishel ya?”
Bel kutekaan dua kali sekaligus. Beberapa saat Mang Kardi yang membukakan pintu. Namun, mata ayah menghadap ke arah gerbang.
“Jaka?”
“Malam Mang” Aku tersenyum.
“Malam … nyari Mishel?”
“Siapa Diiiii? Suruh masuk aja!”, teriak ayah sedikit kencang tanpa merubah posisinya duduk.
“Ayo Jak masuk aja.”
Aku tersenyum menang.
“Assalamu’alaikum …”
“Wa’alaikumussalam”, jawab ayah sambil meremang melihatku, “Jaka ya?”
“Masih inget om?”
“Kemarin manggil pak, sekarang om, besok apa?”
“Hari minggu.”
“Ha ha ha”
“Kok ketawa, Yah? Benerkan besok hari minggu?”
Aku ikut tertawa.
Belum habis sisa ketawanya, Ayah masuk ke dalam rumah. Ayah sendiri yang memanggil Mishel. Sementara aku dan Mang Kardi hanya ngobrol-ngobrol ringan.
Beberapa saat Mishel datang. Kami berempat duduk dalam satu meja.
“Jaka, mau ngajak Mishel keluar malam mingguan?”, Tanya Ayah dengan muka sedikit meneka-neki.
“Engga kok, Yah.”
“Terus?”
“Ya tetep ngajak Mishel keluar sih, Yah… tapi pagi minggunya, Yah. Boleh?”
“Boleh boleeeh! Tapi, besok mau kemana?”
“Jogging, Yah”
“Ide bagus!”, jawab Ayah senyum, “Ayah ikut ya?”
Mishel kaget mendengar ucapan Ayah.
Aku hanya tersenyum, “oke, Yah!”
Aku dan Mishel dipersilahkan ayah duduk di kursi halaman rumah. Berdua saja dengan Mishel. tapi, tetap diawasi Ayah.
Kulihat geriknya, Ayah tak sabar main catur dengan Mang Kardi. Sesegera ia memulai pertarungannya.
“Yakin jogging sama Ayah?”, Tanya Mishel.
“Yakin lah!”
“Oiah, ini…”, aku mengasihkan buku fisika yang kupinjam.
“Buat apa sih, Jak?”
“Tadinya buat alasan biar bisa basa-basi ke ayahmu, alternatif kalo ditanya pengen ngapain kesini”
“Terus kok tadi engga?”
“Lupa, eh”, aku meringis. Mishel tersenyum.
“Jak, biasanya malam minggu kamu ngapain?”
“Makan bareng keluarga”
“Terus?”
“Cuci tangan, kalo selesai”
“Terus?”
“Denger suara adzan Isya”
“Sholat?”
“Sholatlah! Bareng-bareng…”
“Terus?”
“Abis sholat ya zakat, puasa, terus haji, kamu gak hafal rukun islam ya?”
“Ha ha”
Setelah sekiranya cukup, aku langsung inisiatif izin pulang. Ini adalah apel pertamaku. Jadi, biarlah sedikit mengambil tindakan yang sopan.
“Ayah, Jaka pamit, Yah”
“Eh, buru-buru amat”
“Iya Jak, mending gabung dulu main catur”, Mang Kardi nimbrung.
“Mang Kardi aneh nih!”, ujarku.
“Kok aneh?”
“Main catur itu kan untuk dua orang, masa bertiga!”
“Ha ha, ya karuan itu mah!”, Mang kardi ngekek, “Maksudnya gentian Jakaaaaaa!”
“Hehe, lain waktu aja ya, Ayah, Mang Kardi, Shel… saya ditungguin istri.”
“Istri?”, ucap Ayah, sambil meyakinkan pendengarannya.
“Yaaa istrinya bapak saya, emang siapa lagi?”
“Ha ha, ibu gitu!”
“Ibu saya sama istri bapak saya, beda engga?”
“ajgydsgdbzzhgyt38kjag?”
***
Sebaiknya aku menghampiri Mishel ke kelasnya. Kukira dia belum pulang. Aku belum melihatnya lewat. Memang sudah biasa juga sih, kelas IPA sering pulang telat. Kala itu, Bel tak bersifat mutlak. Sekalipun sudah berbunyi, guru lebih mutlak mengatur siswanya. Enggak tahu kalo sekolah sekarang kayak gimana.
Aku berlai kecil. Baru hendak sampai di kelas Mishel, kulihat anak-anak sedang berhamburan keluar kelas. Kutunggu saja di depan kelas. Riffa lewat di depan mataku. Ia langsung masuk kelas. Penasaran, aku mengintip dari jendela.
“Jadi, Shel?” ujar Riffa, memberhentikan langkah Mishel yang hendak keluar kelas.
“Maksudmu, Kak?” Kulihat Mishel seperti kebingungan.
“Katanya mau nyari buku puisi bareng?”
“Oh iya lupa kak, he, sekarang?”
“Ya kalau mau sih …”
Mishel menganggukan kepala. Tanda setuju.
Ah, sial. Keduluan. Aku menyandar pada dinding. Alasannya klasik banget. Nyari buku puisi bareng. Ngomong aja mau ngajak jalan!
Sesaat Mishel dan Riffa keluar kelas dan melihatku.
“Jaka … ”, panggil Mishel.
“Eh, iya Shel.”
“Lagi ngapain kamu di sini?”
Riffa dan Mishel menatapku terheran.
“Habis ngintip kalian tadi.”
“Ngintip …?” Tanya Mishel sedikit ragu.
“Iyah, kalian mau ke toko buku kan?”
“Iyah”, jawab Riffa, “Pasti tadi pengen ngajak Mishel pulang bareng?”. Gaya ucapan Riffa sedikit meledek. Mungkin, ia merasa menang sebab lebih dulu akan jalan bersama Mishel.
“Iya sih. Cuma kan sudah sama lo bang, ya udah gak jadi”
“Polos banget”, sindir Riffa.
“Bukan polos bang … saya laki-laki, jadi gak suka basa-basi”, tungkasku.
Setelah mengucapkan hal itu di depan muka Riffa, aku berbalik badan dan berjalan pulang.
“Maksudmu apa ngomong gitu?”, teriak Riffa.
Aku tak menengoknya, hanya mengangkat tanganku. “Hati-hati di jalan bang!”
***
Hari sabtu, jam pertama, adalah jam kelas olahraga. Lagi-lagi Rahmat menghilang. Sudah kuduga, dia pasti kabur ke belakang sekolah bersama Yudi dan kawan-kawannya. Kenapa tak menunggu waktu istirahat saja sih? Lama-lama kesal juga melihat Rahmat jadi begini.
Aku menuju halaman sekolah. Sesuai intruksi guru olahraga. Setelah kumpul, guru mengabsen. Dan, ah, Rahmat.
“Ke toilet, Pak”, sambarku, “Ganti baju!”
“Kan sudah bapak bilang, kalian itu olahraganya jam pertama, kenapa harus salin dulu. Pake baju olahraganya dari rumah saja.”
“Perasaan tadi aku lihat Rahmat ke arah belakang sekolah”, bisik Bella.
“Engga, ke toilet…”
“Beneran Jaka!”, bisikannyaa sedikit ngotot.
“Terus?”
“Ya artinya kamu bohong.”
“Enggak bohong kok.” Tiba-tiba Rahmat nongol dari belakang. Dugaanku dia datang dari tadi. Buktinya, nyambung dengan obrolan kami.
“Maaf, Mat” tutur Bella setelah tertangkap basah.
Sepertinya Rahmat tak memperhatikan Bella. Ia tak sedikitpun menatap Bella. Suasana tetiba dingin. Kami pun melanjutkan kegiatan olahraga. Tanpa ada suara. Sampai pada akhirnya berganti jam pelajaran.
***
Saat bel istirahat terdengar keras, kuputuskan untuk menghampiri Mishel. kali ini tak mungkin keduluan dengan Riffa.
Syukurlah, ternyata Mishel masih di dalam kelas. Ia sedang bersama teman kelasnya. Melingkar dalam satu meja.
“Eh, tadi pelajaran apa?” Tanyaku pada seseorang yang duduk di sebelah Mishel. Sementara Rahmat berdiri di belakangku.
“Fisika.”, jawabnya singkat.
“Kenapa?”, Tanya Mishel, kurasa dia kaget saat aku tahu-tahu ada di sini.
“Shel, Fisika ada PR?”
“Engga ada sih, kenapa?”
“Boleh aku minjem bukunya?”
“Buat apa?”
“Boleh engga?”
Mishel kiranya menampakkan wajah percayanya. Segera mengambil buku catatan di tasnya.
“Lo kan IPS bang? Buat apa buku fisika”, Tanya seorang teman Mishel. aku sih tidak kenal siapa dia. Tapi, ya mungkin dia kenal siapa aku. Bodo.
“Makasih”, ucapku saat buku catatannya sudah kupegang.
Teman-teman Mishel, dan paastinya Mishel melongo melihat aku dan Rahmat keluar kelas.
***
Waktu bergulir. Malam tiba. Aku mengajak Rahmat untuk menemaniku ke rumah Mishel. Ia tak menolak, tapi sayang sekali, katanya sudah berjanji pada Yudi untuk keluar di malam minggu. Aku keduluaan lagi.
Ya bukan masalah juga sih. Vespaku, sebenarnya cukup menemaniku malam ini untuk apel. Sekitar lima belas menitan aku sudah sampai di rumah Mishel. dari cela gerbang, kulihat ada Ayah dan Mang Kardi sedang main catur. Dalam benak aku bertanya, kok aku gak pernah lihat ibunya Mishel ya?”
Bel kutekaan dua kali sekaligus. Beberapa saat Mang Kardi yang membukakan pintu. Namun, mata ayah menghadap ke arah gerbang.
“Jaka?”
“Malam Mang” Aku tersenyum.
“Malam … nyari Mishel?”
“Siapa Diiiii? Suruh masuk aja!”, teriak ayah sedikit kencang tanpa merubah posisinya duduk.
“Ayo Jak masuk aja.”
Aku tersenyum menang.
“Assalamu’alaikum …”
“Wa’alaikumussalam”, jawab ayah sambil meremang melihatku, “Jaka ya?”
“Masih inget om?”
“Kemarin manggil pak, sekarang om, besok apa?”
“Hari minggu.”
“Ha ha ha”
“Kok ketawa, Yah? Benerkan besok hari minggu?”
Aku ikut tertawa.
Belum habis sisa ketawanya, Ayah masuk ke dalam rumah. Ayah sendiri yang memanggil Mishel. Sementara aku dan Mang Kardi hanya ngobrol-ngobrol ringan.
Beberapa saat Mishel datang. Kami berempat duduk dalam satu meja.
“Jaka, mau ngajak Mishel keluar malam mingguan?”, Tanya Ayah dengan muka sedikit meneka-neki.
“Engga kok, Yah.”
“Terus?”
“Ya tetep ngajak Mishel keluar sih, Yah… tapi pagi minggunya, Yah. Boleh?”
“Boleh boleeeh! Tapi, besok mau kemana?”
“Jogging, Yah”
“Ide bagus!”, jawab Ayah senyum, “Ayah ikut ya?”
Mishel kaget mendengar ucapan Ayah.
Aku hanya tersenyum, “oke, Yah!”
Aku dan Mishel dipersilahkan ayah duduk di kursi halaman rumah. Berdua saja dengan Mishel. tapi, tetap diawasi Ayah.
Kulihat geriknya, Ayah tak sabar main catur dengan Mang Kardi. Sesegera ia memulai pertarungannya.
“Yakin jogging sama Ayah?”, Tanya Mishel.
“Yakin lah!”
“Oiah, ini…”, aku mengasihkan buku fisika yang kupinjam.
“Buat apa sih, Jak?”
“Tadinya buat alasan biar bisa basa-basi ke ayahmu, alternatif kalo ditanya pengen ngapain kesini”
“Terus kok tadi engga?”
“Lupa, eh”, aku meringis. Mishel tersenyum.
“Jak, biasanya malam minggu kamu ngapain?”
“Makan bareng keluarga”
“Terus?”
“Cuci tangan, kalo selesai”
“Terus?”
“Denger suara adzan Isya”
“Sholat?”
“Sholatlah! Bareng-bareng…”
“Terus?”
“Abis sholat ya zakat, puasa, terus haji, kamu gak hafal rukun islam ya?”
“Ha ha”
Setelah sekiranya cukup, aku langsung inisiatif izin pulang. Ini adalah apel pertamaku. Jadi, biarlah sedikit mengambil tindakan yang sopan.
“Ayah, Jaka pamit, Yah”
“Eh, buru-buru amat”
“Iya Jak, mending gabung dulu main catur”, Mang Kardi nimbrung.
“Mang Kardi aneh nih!”, ujarku.
“Kok aneh?”
“Main catur itu kan untuk dua orang, masa bertiga!”
“Ha ha, ya karuan itu mah!”, Mang kardi ngekek, “Maksudnya gentian Jakaaaaaa!”
“Hehe, lain waktu aja ya, Ayah, Mang Kardi, Shel… saya ditungguin istri.”
“Istri?”, ucap Ayah, sambil meyakinkan pendengarannya.
“Yaaa istrinya bapak saya, emang siapa lagi?”
“Ha ha, ibu gitu!”
“Ibu saya sama istri bapak saya, beda engga?”
“ajgydsgdbzzhgyt38kjag?”
***

sydney89 memberi reputasi
1