- Beranda
- Stories from the Heart
Gunung Hutan Dan Puisi
...
TS
arga.mahendraa
Gunung Hutan Dan Puisi
Pada pekat kabut yang menjalar di hamparan tanahtanah tinggi
Kulantunkan katakata sebagai penggalan doa
Untukmu yang kini telah sempurna hadir..
Pada peluh yang telah mengalir
Ketika kita ayunkan langkahlangkah
Menuju tempattempat teduh
Untuk menyemayamkan rasamu dan rasaku
Kini telah menyatu sudah
dan beku udara ini akan semakin kuat mengikatnya
Kita memang sering berbeda dalam banyak Hal
Namun Gunung, Hutan Dan Puisi selalu mampu menyatukannya..
***
Kulantunkan katakata sebagai penggalan doa
Untukmu yang kini telah sempurna hadir..
Pada peluh yang telah mengalir
Ketika kita ayunkan langkahlangkah
Menuju tempattempat teduh
Untuk menyemayamkan rasamu dan rasaku
Kini telah menyatu sudah
dan beku udara ini akan semakin kuat mengikatnya
Kita memang sering berbeda dalam banyak Hal
Namun Gunung, Hutan Dan Puisi selalu mampu menyatukannya..
***

Sebelumnya ijinkan saya untuk ikut berbagi cerita di forum ini. Forum yang sudah lumayan lama saya ikuti sebagai SR.. Salam kenal, saya Arga..
Cerita saya mungkin tidak terlalu menarik dan membahana seperti cerita-cerita fenomenal di SFTH ini. Hanya cerita biasa dari bagian kisah hidup saya. Semoga masih bisa dibaca dan dinikmati.
Seperti biasa, seluruh nama tokoh, dan tempat kejadian disamarkan demi kebaikan semuanya. Boleh kepo, tapi seperlunya saja ya.. seperti juga akan seperlunya pula saya menanggapinya..
Update cerita tidak akan saya jadwalkan karena saya juga punya banyak kesibukan. Tapi akan selalu saya usakan update sesering mungkin sampai cerita inI tamat, jadi jangan ditagih-tagih updetannya yaa..
Baiklah, tidak perlu terlalu berpanjang lebar, kita mulai saja...
****
Medio 2005...
Hari itu sore hari di sela kegiatan pendidikan untuk para calon anggota baru organisasi pencinta alam dan penempuh rimba gunung yang aku rintis tujuh tahun yang lalu sekaligus sekarang aku bina. Aku sedang santai sambil merokok ketika salah satu partnerku mendatangiku.
"Ga, tuh ada salah satu peserta cewek yg ikut pendidikan cuma karena Ada pacarnya yang ikut, kayaknya dia ga beneran mau ikut organisasi deh, tapi cuma ngikut pacarnya"
"Masak sih? Yang mana? Kok aku ga perhatiin ya" jawabku
"Kamu terlalu serius mikirin gimana nanti teknis di lapangan sih Ga, malah jadi ga merhatiin pesertamu sendiri" lanjutnya
"Coba deh nanti kamu panggil aja trus tanyain bener apa ga, namanya Ganis.. aku ke bagian logistik dulu" Kata temanku sambil meninggalkanku
"OK, nanti coba aku tanya" jawabku
"Pulangin aja kalo emang bener Ga.. ga bener itu ikut organisasi cuma buat pacaran" sahutnya lagi dari kejauhan sambil teriak
Dan aku pun cuma menjawab dengan acungan jempol saja
***
Pada malam harinya aku mengumpulkan seluruh peserta pendidikan di lapangan. Malam itu ada sesi pengecekan logistik peserta sekaligus persiapan untuk perjalanan ke gunung besok pagi untuk pendidikan lapangan.
Kurang lebih 2 jam selesai juga pengecekan logistik seluruh peserta pendidikan. Dan aku pun memulai aksiku.
"Yang merasa bernama Ganis keluar dari barisan dan maju menghadap saya sekarang..!!!" Teriakku di depan mereka
Tak lama keluarlah seorang cewek dari barisan dan menghadapku. Aku tidak terlalu memperhatikan wajahnya, entah cantik atau biasa saja aku tak terlalu peduli karena aku sudah sedikit emosi sejak sore tadi temanku mengatakan kalau dia ikut kegiatan ini cuma karena pacarnya ikut.
"Benar kamu yang bernama Ganis?"
"Ya benar, Kak"
"Kamu ngapain ikut kegiatan ini!?"
"Karena saya ingin jadi anggota Kak"
"Dasar pembohong..!!!" Bentakku seketika
Dan dia pun langsung menunduk
"Hey, siapa suruh nunduk?? Kalau ada yang ngomong dilihat!! Kamu tidak menghargai seniormu!!"
"Siap, maaf Kak" jawabnya sambil langsung melihatku
"Saya dengar kamu ikut kegiatan ini karena pacar kamu ikut juga!! Benar begitu? Jawab!!"
"Siap, tidak Kak, saya ikut karena saya sendiri ingin ikut, tidak ada hubungannya dengan pacar!" Jawabnya tegas
"Tapi pacar kamu juga ikut kan!?"
"Siap benar"
"Siapa namanya!?"
"Alan Kak"
"Yang merasa bernama Alan, maju ke depan" teriakku di depan peserta lainnya
Kemudian datanglah cowok bernama Alan itu di depanku
"Benar kamu yang bernama Alan?" Tanyaku pada cowok itu
"Siap, benar Kak" jawabnya
"Benar kamu pacarnya Ganis?"
"Siap benar Kak"
"Kamu ikut kegiatan ini cuma buat ajang pacaran!!?? Kamu cuma mau cari tempat buat pacaran??"
"Tidak Kak"
"Kalian berdua masih mau jadi anggota organisasi ga!!?"
"Siap, masih mau Kak" jawab mereka berdua
"Baik, saya berikan pilihan, kalian berdua saat ini juga putus dan lanjut ikut pendidikan, atau tetap pacaran tapi sekarang juga pulang tidak usah lanjut ikut pendidikan dan jadi anggota organisasi.. silahkan tentukan pilihan sekarang!!"
***
Spoiler for INDEX:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 10 suara
Siapakah yang bakal jadi istri TS?
Rika
30%
Winda
20%
Dita
0%
Ganis
40%
Tokoh Yang Belum Muncul
10%
Diubah oleh arga.mahendraa 20-10-2018 13:37
kimpoijahat dan anasabila memberi reputasi
3
31.5K
264
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•2Anggota
Tampilkan semua post
TS
arga.mahendraa
#120
27. Winda VS Ganis VS .............?
Suatu malam di bulan Agustus, 2016
"Kamu lagi baca apa sih, Pa dari tadi melototin HP terus" ucap istriku ketika kami sedang santai berdua di tempat tidur.
"Ini ada cerita bagus di Kaskus" jawabku.
"Kaskus? Kaskus apaan? Sodaranya toilet?" Sahutnya
"Dih.. ini lho forum di internet.. isinya macem-macem.. dari info-info gak penting sampe ada cerita-cerita pengalaman hidup orang" jawabku.
"Aku juga udah tau kali.. hahahahaha.. tapi gak pernah buka.. emang cerita apaan?"
"Yeeee.... Udah tau masih pake nanya. Ya macem-macem.. kebanyakan kisah nyata kehidupan orang sih.. dia cerita kisah hidupnya gitu"
"Emang gak malu apa ya, cerita hidupnya diceritain ke orang kayak gitu.. kalo misal aib kan malu-maluin"
"Kan disamarkan namanya, sama tempatnya, jadi orang gak tau"
"Eh tapi lucu juga kali ya kalo kisah kita diceritain juga" ucapnya.
"Yakin?"
"Asal jangan sampai orang tau siapa kita sebenernya ga pa2 kali, Pa"
"Oke.. aku jamin gak ada yang tau.. terus ceritanya mau dimulai dari mana?"
"Dari awal lah"
"Awal mana?"
"Terserah kamu, Pa. Menurut kamu awalnya dari Mana? Sejak kejadian ini juga ga pa2" ucapnya lagi sembil memegang bekas luka di lengan kiriku.
Aku hanya tersenyum padanya lalu mengecup keningnya dan mengelus perutnya.
Sejak percakapan malam itu aku jadi sering berfikir apakah aku juga akan ikut menceritakan kisah hidupku di sini? Tapi kan kisah hidupku gak sedahsyat kisah hidup orang-orang yang sudah membaginya di SFTH ini? Yasudahlah mungkin bisa dicoba, urusan bagus atau jelek dipikir nanti. Tapi kapan mau mulai? Mulai dari mana? Aku masih saja bingung ketika hendak memulai menulis cerita di sini. Aku mengawali dengan membuat ID baru tiga bulan setelah percakapan dengan istriku malam itu, dan baru mulai menulis dua tahun berikutnya. Sampai saat ini istriku belum tau kalau aku sudah mulai menulis. Nanti saja kalau sudah selesai baru aku kasih tau, paling juga dia males baca.
***
Juli, 2006
Sejak pertemuanku dengan Winda, sekarang hampir setiap hari dia juga main ke basecamp. Ganis pun begitu, masih hampir tidak pernah absen mampir ke basecamp setiap pulang sekolah. Aku sih tidak mempermasalahkan, malah seneng aja karena basecamp jadi rame setiap hari. Selain mereka berdua, terkadang anak-anak organisasi juga mampir ke basecamp untuk sekedar nongkrong. Jam kedatangan Winda dan Ganis di Basecamp jarang bersamaan. Biasanya Winda datang pagi sebelum berangkat kuliah mampir dulu membawakan sarapan untukku, hasil masakannya sendiri. Tapi tak jarang pula mereka bertemu kalau Winda kebetulan pulang kuliah lebih awal dan mampir lagi ke basecamp. Mereka berdua seolah sedang berlomba untuk menarik perhatianku. Jiaaaah PD banget kamu, Ga.. biarin lah, kenyataannya seperti itu, dan memang itu bukti ketampananku.. hahahahahaha. Tapi aku tetap menanggapi seperlunya. Keduanya aku berikan perhatian dengan porsi yang sama.
===
"Kak Winda kayaknya suka sama kamu tuh, Kak" ucap Ganis padaku ditengah percakapan via telpon suatu malam.
"Sok tau kamu" ucapku
"Yeee dibilangin.. kelihatan banget kali Kak. Dia perhatian banget sama Kak Arga. Dari cara dia mandang Kak Arga juga kelihatan kalo Kak Winda suka sama Kak Arga"
"Kalopun suka ya biarin lah. Itu kan hak dia. Lagian aku kan ganteng, jadi banyak yang suka.. hahahaha" jawabku.
===
"Ganis kayaknya suka sama kamu, Ga" ucap Winda suatu sore di teras basecamp.
"Hahahaha.. tau dari mana kamu Win? Ganis tuh anak kecil, aku anggap dia adek. Umurnya sama Astri aja masih tuaan Astri" ucapku.
"Orang suka mah gak mandang umur kali, Ga. Aku dan Ganis sama-sama cewek, Ga. Aku Tau apa yang dia rasakan dari sorot matanya ketika melihat kamu" ucapnya
"Yaudah sih kalo emang dia suka sama aku. Biarin aja. Itu kan hak dia" jawabku.
"Kamu pake pelet apa sih, Ga, sampe banyak cewek suka sama kamu? Padahal ganteng juga standar, gak jelek sih, tapi gak ganteng banget juga. Penampilan acak-acakan gini, rambut gondrong. Heran aku" ucapnya
"Banyak? Yang kamu bilang tadi kan cuma Ganis? Aku balik bertanya.
"Selain Ganis sebenernya masih Ada lagi loh.. setidaknya ada dua orang lagi yang suka sama kamu" ucapnya.
"Dua orang? Siapa aja?"
"Ada deh pokoknya.. suatu saat juga kamu tau sendiri"
"Ya udah biarin aja lah.. aku juga masih males pacaran" jawabku.
"Kayaknya saingannya berat" gumamnya lirih, tapi aku masih bisa mendengarnya.
"Apaan Win? Kamu ngomong apa?" Ucapku pura-pura tidak mendengar ucapannya barusan.
"Gak.. gak pa2.. udah gak usah dipikirin"
===
Aku tidak habis pikir dengan cewek-cewek ini. Tapi dari ucapan Winda masih ada dua lagi cewek yang suka padaku. Salah satunya mungkin Winda, berdasarkan ucapan Ganis tempo hari. Satu lagi kira-kira siapa ya? Apa anak organisasi juga? Apa Rika? Bisa jadi. Tapi sepertinya tidak mungkin. Aaaah... Pusing aku memikirkannya. Lebih baik aku seduh kopi pahit saja.
***
Pagi itu aku dibangunkan oleh sebuah tepukan lembut seseorang di pipiku. Setelah aku membuka mata, ternyata Winda yang membangunkanku. Masih dengan nyawa yang baru terkumpul setengah, aku pun memaksakan untuk bangun.
"Ada apa Win? Pagi-pagi banget kamu udah sampai sini. Jam berapa sekarang?" Tanyaku.
"Jam 7. Bangun, Ga. Buruan mandi terus sarapan. Itu aku bawain sarapan buat kamu. Habis itu anterin aku ke kampus" ucapnya.
"Emang kamu gak bawa motor?" Tanyaku lagi.
"Bawa. Kamu anter aku pake motorku, habis itu kamu bawa aja motorku. Nanti pulang kuliah kamu jemput aku lagi" ucapnya.
"Hufffftttt... Ribet banget kayaknya. Kenapa gak berangkat sendiri aja?" Ucapku
"Lagi males naik motor aku, Ga. Pengennya diboncengin. Udah buruan aaah.. nanti telat aku" ucapnya sambil menarikku secara paksa.
"Iya-iya... Emang kamu kuliah jam berapa?"
"Jam 9"
"Masih lama juga. Perjalanan paling setengah jam. Aku tidur lagi bentar yaa" ucapku.
"Gak bisa.. bangun pokoknya.. buruan mandi" paksanya lagi. Dan aku pun terpaksa menurutinya.
Pagi itu aku mengantar Winda ke kampusnya. Jadi, dari rumah Winda bawa motor, lalu jemput aku ke basecamp, lalu aku mengantarnya ke kampus pakai motornya, lalu aku pulang bawa motornya, lalu sorenya aku jemput dia lagi ke kampusnya pakai motornya. Ribet. Dan di hari-hari berikutnya, kejadian ini akhirnya terus berulang. Semakin hari semakin sering dan pada akhirnya hampir setiap hari seperti itu.
***
Rutinitasku setiap hari kini sedikit ada perubahan. Setiap pagi aku harus mengantar Winda kuliah pakai motornya. Kenapa tidak pakai motorku sendiri? Motorku butut bro.. cuma Astrea grand tahun 1991. Masak cewek cakep diboncengin pakai motor butut? Kalau Rika dan Ganis sih udah biasa. Setelah mengantar Winda, aku kembali ke basecamp. Kalau ada kerjaan ya aku kerjakan, kalau tidak ada ya cuma nongkrong, gitaran, ngopi, nonton tv dan lain-lain yang penting bisa membunuh waktu. Siangnya Ganis datang, masih tetap nongkrong/kerja. Sore jemput Winda ke kampus. Malam nongkrong lagi. Tengah malam telponan dengan Ganis sampai menjelang subuh. Begitu saja setiap hari sampai negara api menyerang.
"Kayaknya Kak Winda makin lengket sama kamu ya Kak" ucap Ganis siang itu.
"Biasa aja sih, Nis. Aku nganggapnya biasa aja"
"Tapi kan tiap hari kamu antar jemput dia ke kampus Kak" ucapnya lagi.
"Dia yang minta. Katanya suka kecapekan kalo tiap hari naik motor sendiri ke kampus. Kampusnya kan lumayan jauh" jawabku.
"Kalo aku minta tiap hari di antar jemput juga, Kak Arga mau gak?" Ucapnya lagi.
"Kalo rumah kamu jauh ya aku mau aja. Tapi rumah kamu kan deket. Jadi gak perlu lah" ucapku.
"Ya udah deh" ucapnya Dan terlihat ada perubahan di raut wajahnya seperti kecewa.
"Setelah naik kelas 2 nanti aku gak tau apa masih bisa aktif di organisasi atau tidak Kak" ucapnya lagi mengganti topik.
"Kenapa emangnya?" Tanyaku.
"Papaku gak ngasih ijin aku ikut kegiatan ini Kak" ucapnya.
"Alasannya?"
"Gak jelas sih. Katanya bahaya, banyak yang mati di gunung. Dan kuatir juga soalnya kan kegiatannya kayak bebas gitu cowok cewek tidur setenda"
"Kalo soal bahaya, kamu jelasin lah kalau kegiatan kita aman soalnya ada pembinanya. Ada pendamping dari sekolah juga. Kalo soal bebas, kenyataannya kan kita tidak pernah ada kejadian asusila meskipun tidur bareng-bareng setenda" ucapku.
"Aku udah coba jelasin Kak. Tapi papaku gak mau tau" jawabnya.
"Tapi kamu sendiri gimana? Masih pengen gabung gak?
"Masih lah Kak. Masih pengen banget. Aku udah mohon-mohon sama Papa sampe aku nangis-nangis. Tapi Papa malah marah-marah" jawabnya.
"Kamu coba beri pengertian dulu pelan-pelan ke Papa kamu. Kalau masih sulit, nanti aku minta bantuan ke Pak Wahyu untuk bilang ke Papa kamu" ucapku memberi solusi.
Pak Wahyu adalah salah satu guru di SMA Ganis yang sekaligus orang yang selalu mendampingi kegiatan organisasiku. Beliau juga hobi mendaki gunung sejak masih muda dulu.
"Iya aku coba dulu Kak. Kalo Papa masih gak ijinin, aku minta tolong ya Kak. Aku gak mau keluar dari organisasi. Aku udah nyaman banget di sini. Kekeluargaannya erat banget. Semua seniornya juga baik" ucapnya.
"Iya nanti aku Bantu. Yang penting sekarang kamu harus tunjukin ke keluarga kamu, terutama papa. Meskipun kamu aktif di organisasi, prestasi sekolah kamu tidak menurun, bahkan terus naik. Kamu juga harus tunjukin ada perubahan sikap ketika di rumah menjadi lebih baik, lebih rajin" ucapku memberi nasehat.
"Iya Kak" jawabnya.
***
Sore itu ketika aku sedang santai di teras basecamp ada SMS masuk dari Rika.
Tidak ada balasan lagi dari Rika. Tumben Rika minta dijemput di kost. Padahal sejak punya pacar biasanya dia diantar pacarnya pulang ke rumah tiap sabtu. Ya udah lah, mungkin dia kangen denganku karena memang akhir-akhir ini aku agak jarang ketemu Rika kecuali dia minta aku datang. Aku menjaga perasaan pacarnya sih. Meskipun aku dan Rika hanya sahabatan, pasti ada rasa cemburu juga dari pacarnya kalau Rika terlalu sering bersamaku.
Tiba di hari sabtu. Siang ini aku sedang bersiap untuk menjemput Rika ke kostnya menggunakan motor bututku. Kebetulan hari ini Ganis dan Winda juga ada di basecamp.
"Mau kemana Kak?" Tanya Ganis ketika aku sedang memakai jaket.
"Ini mau jemput Rika ke kost lalu nganter pulang ke rumahnya" jawabku.
"Ajak kesini Kak. Aku kangen sama Kak Rika" ucap Ganis lagi.
"Gampang. Kalo dia mau. Kalo gak mau ya lain kali aja" ucapku.
"Mau malmingan sama Rika ya, Ga?" Ucap Winda.
"Gak tau. Kalo dia ngajak jalan ya jalan, kalo gak ya langsung pulang. Aku pergi dulu ya" ucapku sekalian pamitan dengan mereka.
"Hati-hati Kak, Salam buat Kak Rika ya" sahut Ganis.
"Hati-hati, Ga" ucap Winda.
Aku pun segera meluncur menuju kost Rika. Tidak lupa aku mengabarkan padanya kalau aku sudah OTW kesana.
Kurang lebih satu setengah jam waktu yang harus kutempuh untuk perjalanan menuju ke kost Rika. Lokasi kampus sekaligus kost Rika memang lumayan jauh. Terletak di ujung kota sebelah, di lokasi pegunungan. Jadi waktu tempuhnya pun lumayan lama. Sesampainya di kostnya aku memarkirkan di tempat parkir yang tersedia. Terlihat Rika sedang duduk di teras kostnya sambil mainan HP. Dia pun segera tersenyum ketika menyadari kedatanganku.
"Duduk dulu sini, Ga" ucapnya ketika aku menghampirinya.
"Mau minum apa?" Sambungnya.
"Air putih aja Rik. Lagi agak gak enak tenggorokanku" ucapku.
"Kamu lagi sakit?" Tanyanya sampil memegang keningku.
"Cuma flu dikit aja kok Rik. Ga pa2" jawabku.
Memang beberapa hari ini badanku sedikit drop. Mungkin karena sedang masa perubahan musim atau sering dibilang pancaroba.
"Panas gini, Ga. Kamu kok gak bilang. Tau kamu sakit mendingan gak usah kesini" cerocosnya.
"Lha kamu gak nanya. Udah sampe sini juga baru bilang gitu. Lagian ga pa2 kok Rik. Cuma flu biasa. Udah sana ambilin minum" ucapku dan Rika pun langsung masuk ke dalam kostnya untuk mengambil minum untukku.
"Nih diminum dulu" ucapnya sambil memberikan segelas air putih dan aku langsung meminumnya.
"Lain kali kalo lagi sakit tuh bilang, jadi aku gak nyuruh kamu kesini. Kalo ada apa-apa dijalan gimana?" Sambungnya.
"Udah diem. Udah sampe sini juga masih ngomel-ngomel. Dibilang ga pa2 cuma flu biasa juga. Habis ini mau jalan dulu apa langsung pulang? Ucapku.
"Langsung pulang aja. Kamu lagi gak enak badan gitu. Tadinya aku mau ngajak jalan dulu, tapi lain kali aja" jawabnya.
"Kalo emang pengen jalan ya jalan aja dulu ga pa2 Rik" ucapku.
"Nggak. Langsung pulang aja. Nanti ngobrol di rumah aja" ucapnya.
Setelah cukup beristirahat, kami pun segera pergi meninggalkan kost Rika meluncur menuju ke rumahnya. Aku mengendarai motor dengan santai dan Rika memelukku erat dari belakang. Kurang lebih satu jam kami sudah sampai di rumah Rika.
"Tumben minta aku jemput Rik? Andi kemana?" Tanyaku pada Rika ketika kami sedang ngobrol di teras rumahnya. Andi adalah nama pacarnya.
"Lagi berantem aku sama dia" jawabnya.
"Ooh.. Pantesan aja nyari aku. Taunya lagi berantem sama mas pacar. Hahahaha"
"Sialan.. ya gak gitu juga kali, Ga"
"Emang ada masalah apa? Boleh tau gak?"
"Masalah kecil sebenernya sih. Cuma dia nganggepnya besar" ucapnya mulai bercerita.
"Dia sekarang mulai protektif. Aku mau ngapain aja dibatasi. Gak boleh ini gak boleh itu. Dan dia juga agak kurang suka kalo aku deket sama kamu, Ga" sambungnya.
"Saking sayangnya dia sama kamu Rik. Makanya dia kayak gitu" ucapku.
"Tapi gak gitu caranya, Ga. Aku gak suka diperlakuin kayak gitu. Puncaknya 3 hari yang lalu dia buka-buka HPku. Dia baca sms2 dari kamu. Trus dia bilang "bisa gak kalo kamu agak jaga jarak dengan Arga?" Ya jelas aja aku gak mau lah. Terus dia marah dan sampe sekarang gak mau sms atau telpon aku. Makanya aku minta kamu jemput aku" ucapnya.
"Gini Rik. Kita ini kan semakin dewasa. Sudah bukan ABG lagi. Meskipun kita deket, kita sahabatan. Suatu saat kita akan sampai pada satu titik dimana kita harus membatasi diri kita masing-masing untuk tidak terlalu dekat lagi. Maksudnya, Kita pastinya nanti kan bakal punya kehidupan sendiri, punya keluarga sendiri. Jadi kita pasti tidak akan selamanya seperti ini. Kita harus bisa saling menjaga perasaan pasangan kita masing-masing. Kalau memang sekarang waktunya aku harus memulai itu, aku tidak masalah untuk membatasi saling smsan saling telpon atau membatasi bertemu hanya berdua saja. Kalau kita ngumpul bawa pasangan masing-masing sih gak masalah. Tapi kan aku jomblo. Jadi sebaiknya aku menjauh dulu tidak masalah. Tapi kita masih tetap sahabatan kok. Selamanya. Kamu gak perlu kuatir" ucapku panjang lebar padanya.
"Nggak.. aku gak mau" ucapnya dan sekarang terlihat matanya mulai berkaca-kaca.
"Kalo disuruh milih, mendingan aku putus daripada harus jauh dari kamu, Ga. Kalo dia masih mau jadi pacarku, dia harus mau nerima kalo aku juga dekat sama kamu" ucapnya lagi dan kini air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Sekarang aku mau tanya, Rik. Kamu sebenernya sayang gak sama Andi?" Ucapku.
"Sebenernya aku sayang sama dia, Ga. Dia baik, perhatian, sopan dan memperlakukan aku dengan terhormat. Cuma satu yang aku gak suka yaitu sifatnya yang protektif, terutama ngelarang aku buat deket sama kamu. Karena aku juga........" Rika tidak melanjutkan ucapannya.
"Juga apa Rik?" Ucapku.
"Kamu lagi baca apa sih, Pa dari tadi melototin HP terus" ucap istriku ketika kami sedang santai berdua di tempat tidur.
"Ini ada cerita bagus di Kaskus" jawabku.
"Kaskus? Kaskus apaan? Sodaranya toilet?" Sahutnya
"Dih.. ini lho forum di internet.. isinya macem-macem.. dari info-info gak penting sampe ada cerita-cerita pengalaman hidup orang" jawabku.
"Aku juga udah tau kali.. hahahahaha.. tapi gak pernah buka.. emang cerita apaan?"
"Yeeee.... Udah tau masih pake nanya. Ya macem-macem.. kebanyakan kisah nyata kehidupan orang sih.. dia cerita kisah hidupnya gitu"
"Emang gak malu apa ya, cerita hidupnya diceritain ke orang kayak gitu.. kalo misal aib kan malu-maluin"
"Kan disamarkan namanya, sama tempatnya, jadi orang gak tau"
"Eh tapi lucu juga kali ya kalo kisah kita diceritain juga" ucapnya.
"Yakin?"
"Asal jangan sampai orang tau siapa kita sebenernya ga pa2 kali, Pa"
"Oke.. aku jamin gak ada yang tau.. terus ceritanya mau dimulai dari mana?"
"Dari awal lah"
"Awal mana?"
"Terserah kamu, Pa. Menurut kamu awalnya dari Mana? Sejak kejadian ini juga ga pa2" ucapnya lagi sembil memegang bekas luka di lengan kiriku.
Aku hanya tersenyum padanya lalu mengecup keningnya dan mengelus perutnya.
Sejak percakapan malam itu aku jadi sering berfikir apakah aku juga akan ikut menceritakan kisah hidupku di sini? Tapi kan kisah hidupku gak sedahsyat kisah hidup orang-orang yang sudah membaginya di SFTH ini? Yasudahlah mungkin bisa dicoba, urusan bagus atau jelek dipikir nanti. Tapi kapan mau mulai? Mulai dari mana? Aku masih saja bingung ketika hendak memulai menulis cerita di sini. Aku mengawali dengan membuat ID baru tiga bulan setelah percakapan dengan istriku malam itu, dan baru mulai menulis dua tahun berikutnya. Sampai saat ini istriku belum tau kalau aku sudah mulai menulis. Nanti saja kalau sudah selesai baru aku kasih tau, paling juga dia males baca.
***
Juli, 2006
Sejak pertemuanku dengan Winda, sekarang hampir setiap hari dia juga main ke basecamp. Ganis pun begitu, masih hampir tidak pernah absen mampir ke basecamp setiap pulang sekolah. Aku sih tidak mempermasalahkan, malah seneng aja karena basecamp jadi rame setiap hari. Selain mereka berdua, terkadang anak-anak organisasi juga mampir ke basecamp untuk sekedar nongkrong. Jam kedatangan Winda dan Ganis di Basecamp jarang bersamaan. Biasanya Winda datang pagi sebelum berangkat kuliah mampir dulu membawakan sarapan untukku, hasil masakannya sendiri. Tapi tak jarang pula mereka bertemu kalau Winda kebetulan pulang kuliah lebih awal dan mampir lagi ke basecamp. Mereka berdua seolah sedang berlomba untuk menarik perhatianku. Jiaaaah PD banget kamu, Ga.. biarin lah, kenyataannya seperti itu, dan memang itu bukti ketampananku.. hahahahahaha. Tapi aku tetap menanggapi seperlunya. Keduanya aku berikan perhatian dengan porsi yang sama.
===
"Kak Winda kayaknya suka sama kamu tuh, Kak" ucap Ganis padaku ditengah percakapan via telpon suatu malam.
"Sok tau kamu" ucapku
"Yeee dibilangin.. kelihatan banget kali Kak. Dia perhatian banget sama Kak Arga. Dari cara dia mandang Kak Arga juga kelihatan kalo Kak Winda suka sama Kak Arga"
"Kalopun suka ya biarin lah. Itu kan hak dia. Lagian aku kan ganteng, jadi banyak yang suka.. hahahaha" jawabku.
===
"Ganis kayaknya suka sama kamu, Ga" ucap Winda suatu sore di teras basecamp.
"Hahahaha.. tau dari mana kamu Win? Ganis tuh anak kecil, aku anggap dia adek. Umurnya sama Astri aja masih tuaan Astri" ucapku.
"Orang suka mah gak mandang umur kali, Ga. Aku dan Ganis sama-sama cewek, Ga. Aku Tau apa yang dia rasakan dari sorot matanya ketika melihat kamu" ucapnya
"Yaudah sih kalo emang dia suka sama aku. Biarin aja. Itu kan hak dia" jawabku.
"Kamu pake pelet apa sih, Ga, sampe banyak cewek suka sama kamu? Padahal ganteng juga standar, gak jelek sih, tapi gak ganteng banget juga. Penampilan acak-acakan gini, rambut gondrong. Heran aku" ucapnya
"Banyak? Yang kamu bilang tadi kan cuma Ganis? Aku balik bertanya.
"Selain Ganis sebenernya masih Ada lagi loh.. setidaknya ada dua orang lagi yang suka sama kamu" ucapnya.
"Dua orang? Siapa aja?"
"Ada deh pokoknya.. suatu saat juga kamu tau sendiri"
"Ya udah biarin aja lah.. aku juga masih males pacaran" jawabku.
"Kayaknya saingannya berat" gumamnya lirih, tapi aku masih bisa mendengarnya.
"Apaan Win? Kamu ngomong apa?" Ucapku pura-pura tidak mendengar ucapannya barusan.
"Gak.. gak pa2.. udah gak usah dipikirin"
===
Aku tidak habis pikir dengan cewek-cewek ini. Tapi dari ucapan Winda masih ada dua lagi cewek yang suka padaku. Salah satunya mungkin Winda, berdasarkan ucapan Ganis tempo hari. Satu lagi kira-kira siapa ya? Apa anak organisasi juga? Apa Rika? Bisa jadi. Tapi sepertinya tidak mungkin. Aaaah... Pusing aku memikirkannya. Lebih baik aku seduh kopi pahit saja.
***
Pagi itu aku dibangunkan oleh sebuah tepukan lembut seseorang di pipiku. Setelah aku membuka mata, ternyata Winda yang membangunkanku. Masih dengan nyawa yang baru terkumpul setengah, aku pun memaksakan untuk bangun.
"Ada apa Win? Pagi-pagi banget kamu udah sampai sini. Jam berapa sekarang?" Tanyaku.
"Jam 7. Bangun, Ga. Buruan mandi terus sarapan. Itu aku bawain sarapan buat kamu. Habis itu anterin aku ke kampus" ucapnya.
"Emang kamu gak bawa motor?" Tanyaku lagi.
"Bawa. Kamu anter aku pake motorku, habis itu kamu bawa aja motorku. Nanti pulang kuliah kamu jemput aku lagi" ucapnya.
"Hufffftttt... Ribet banget kayaknya. Kenapa gak berangkat sendiri aja?" Ucapku
"Lagi males naik motor aku, Ga. Pengennya diboncengin. Udah buruan aaah.. nanti telat aku" ucapnya sambil menarikku secara paksa.
"Iya-iya... Emang kamu kuliah jam berapa?"
"Jam 9"
"Masih lama juga. Perjalanan paling setengah jam. Aku tidur lagi bentar yaa" ucapku.
"Gak bisa.. bangun pokoknya.. buruan mandi" paksanya lagi. Dan aku pun terpaksa menurutinya.
Pagi itu aku mengantar Winda ke kampusnya. Jadi, dari rumah Winda bawa motor, lalu jemput aku ke basecamp, lalu aku mengantarnya ke kampus pakai motornya, lalu aku pulang bawa motornya, lalu sorenya aku jemput dia lagi ke kampusnya pakai motornya. Ribet. Dan di hari-hari berikutnya, kejadian ini akhirnya terus berulang. Semakin hari semakin sering dan pada akhirnya hampir setiap hari seperti itu.
***
Rutinitasku setiap hari kini sedikit ada perubahan. Setiap pagi aku harus mengantar Winda kuliah pakai motornya. Kenapa tidak pakai motorku sendiri? Motorku butut bro.. cuma Astrea grand tahun 1991. Masak cewek cakep diboncengin pakai motor butut? Kalau Rika dan Ganis sih udah biasa. Setelah mengantar Winda, aku kembali ke basecamp. Kalau ada kerjaan ya aku kerjakan, kalau tidak ada ya cuma nongkrong, gitaran, ngopi, nonton tv dan lain-lain yang penting bisa membunuh waktu. Siangnya Ganis datang, masih tetap nongkrong/kerja. Sore jemput Winda ke kampus. Malam nongkrong lagi. Tengah malam telponan dengan Ganis sampai menjelang subuh. Begitu saja setiap hari sampai negara api menyerang.
"Kayaknya Kak Winda makin lengket sama kamu ya Kak" ucap Ganis siang itu.
"Biasa aja sih, Nis. Aku nganggapnya biasa aja"
"Tapi kan tiap hari kamu antar jemput dia ke kampus Kak" ucapnya lagi.
"Dia yang minta. Katanya suka kecapekan kalo tiap hari naik motor sendiri ke kampus. Kampusnya kan lumayan jauh" jawabku.
"Kalo aku minta tiap hari di antar jemput juga, Kak Arga mau gak?" Ucapnya lagi.
"Kalo rumah kamu jauh ya aku mau aja. Tapi rumah kamu kan deket. Jadi gak perlu lah" ucapku.
"Ya udah deh" ucapnya Dan terlihat ada perubahan di raut wajahnya seperti kecewa.
"Setelah naik kelas 2 nanti aku gak tau apa masih bisa aktif di organisasi atau tidak Kak" ucapnya lagi mengganti topik.
"Kenapa emangnya?" Tanyaku.
"Papaku gak ngasih ijin aku ikut kegiatan ini Kak" ucapnya.
"Alasannya?"
"Gak jelas sih. Katanya bahaya, banyak yang mati di gunung. Dan kuatir juga soalnya kan kegiatannya kayak bebas gitu cowok cewek tidur setenda"
"Kalo soal bahaya, kamu jelasin lah kalau kegiatan kita aman soalnya ada pembinanya. Ada pendamping dari sekolah juga. Kalo soal bebas, kenyataannya kan kita tidak pernah ada kejadian asusila meskipun tidur bareng-bareng setenda" ucapku.
"Aku udah coba jelasin Kak. Tapi papaku gak mau tau" jawabnya.
"Tapi kamu sendiri gimana? Masih pengen gabung gak?
"Masih lah Kak. Masih pengen banget. Aku udah mohon-mohon sama Papa sampe aku nangis-nangis. Tapi Papa malah marah-marah" jawabnya.
"Kamu coba beri pengertian dulu pelan-pelan ke Papa kamu. Kalau masih sulit, nanti aku minta bantuan ke Pak Wahyu untuk bilang ke Papa kamu" ucapku memberi solusi.
Pak Wahyu adalah salah satu guru di SMA Ganis yang sekaligus orang yang selalu mendampingi kegiatan organisasiku. Beliau juga hobi mendaki gunung sejak masih muda dulu.
"Iya aku coba dulu Kak. Kalo Papa masih gak ijinin, aku minta tolong ya Kak. Aku gak mau keluar dari organisasi. Aku udah nyaman banget di sini. Kekeluargaannya erat banget. Semua seniornya juga baik" ucapnya.
"Iya nanti aku Bantu. Yang penting sekarang kamu harus tunjukin ke keluarga kamu, terutama papa. Meskipun kamu aktif di organisasi, prestasi sekolah kamu tidak menurun, bahkan terus naik. Kamu juga harus tunjukin ada perubahan sikap ketika di rumah menjadi lebih baik, lebih rajin" ucapku memberi nasehat.
"Iya Kak" jawabnya.
***
Spoiler for SMS from Rika:
Sore itu ketika aku sedang santai di teras basecamp ada SMS masuk dari Rika.
Spoiler for SMS to Rika:
Spoiler for SMS from Rika:
Spoiler for SMS to Rika:
Spoiler for SMS from Rika:
Spoiler for SMS to Rika:
Tidak ada balasan lagi dari Rika. Tumben Rika minta dijemput di kost. Padahal sejak punya pacar biasanya dia diantar pacarnya pulang ke rumah tiap sabtu. Ya udah lah, mungkin dia kangen denganku karena memang akhir-akhir ini aku agak jarang ketemu Rika kecuali dia minta aku datang. Aku menjaga perasaan pacarnya sih. Meskipun aku dan Rika hanya sahabatan, pasti ada rasa cemburu juga dari pacarnya kalau Rika terlalu sering bersamaku.
Tiba di hari sabtu. Siang ini aku sedang bersiap untuk menjemput Rika ke kostnya menggunakan motor bututku. Kebetulan hari ini Ganis dan Winda juga ada di basecamp.
"Mau kemana Kak?" Tanya Ganis ketika aku sedang memakai jaket.
"Ini mau jemput Rika ke kost lalu nganter pulang ke rumahnya" jawabku.
"Ajak kesini Kak. Aku kangen sama Kak Rika" ucap Ganis lagi.
"Gampang. Kalo dia mau. Kalo gak mau ya lain kali aja" ucapku.
"Mau malmingan sama Rika ya, Ga?" Ucap Winda.
"Gak tau. Kalo dia ngajak jalan ya jalan, kalo gak ya langsung pulang. Aku pergi dulu ya" ucapku sekalian pamitan dengan mereka.
"Hati-hati Kak, Salam buat Kak Rika ya" sahut Ganis.
"Hati-hati, Ga" ucap Winda.
Aku pun segera meluncur menuju kost Rika. Tidak lupa aku mengabarkan padanya kalau aku sudah OTW kesana.
Kurang lebih satu setengah jam waktu yang harus kutempuh untuk perjalanan menuju ke kost Rika. Lokasi kampus sekaligus kost Rika memang lumayan jauh. Terletak di ujung kota sebelah, di lokasi pegunungan. Jadi waktu tempuhnya pun lumayan lama. Sesampainya di kostnya aku memarkirkan di tempat parkir yang tersedia. Terlihat Rika sedang duduk di teras kostnya sambil mainan HP. Dia pun segera tersenyum ketika menyadari kedatanganku.
"Duduk dulu sini, Ga" ucapnya ketika aku menghampirinya.
"Mau minum apa?" Sambungnya.
"Air putih aja Rik. Lagi agak gak enak tenggorokanku" ucapku.
"Kamu lagi sakit?" Tanyanya sampil memegang keningku.
"Cuma flu dikit aja kok Rik. Ga pa2" jawabku.
Memang beberapa hari ini badanku sedikit drop. Mungkin karena sedang masa perubahan musim atau sering dibilang pancaroba.
"Panas gini, Ga. Kamu kok gak bilang. Tau kamu sakit mendingan gak usah kesini" cerocosnya.
"Lha kamu gak nanya. Udah sampe sini juga baru bilang gitu. Lagian ga pa2 kok Rik. Cuma flu biasa. Udah sana ambilin minum" ucapku dan Rika pun langsung masuk ke dalam kostnya untuk mengambil minum untukku.
"Nih diminum dulu" ucapnya sambil memberikan segelas air putih dan aku langsung meminumnya.
"Lain kali kalo lagi sakit tuh bilang, jadi aku gak nyuruh kamu kesini. Kalo ada apa-apa dijalan gimana?" Sambungnya.
"Udah diem. Udah sampe sini juga masih ngomel-ngomel. Dibilang ga pa2 cuma flu biasa juga. Habis ini mau jalan dulu apa langsung pulang? Ucapku.
"Langsung pulang aja. Kamu lagi gak enak badan gitu. Tadinya aku mau ngajak jalan dulu, tapi lain kali aja" jawabnya.
"Kalo emang pengen jalan ya jalan aja dulu ga pa2 Rik" ucapku.
"Nggak. Langsung pulang aja. Nanti ngobrol di rumah aja" ucapnya.
Setelah cukup beristirahat, kami pun segera pergi meninggalkan kost Rika meluncur menuju ke rumahnya. Aku mengendarai motor dengan santai dan Rika memelukku erat dari belakang. Kurang lebih satu jam kami sudah sampai di rumah Rika.
"Tumben minta aku jemput Rik? Andi kemana?" Tanyaku pada Rika ketika kami sedang ngobrol di teras rumahnya. Andi adalah nama pacarnya.
"Lagi berantem aku sama dia" jawabnya.
"Ooh.. Pantesan aja nyari aku. Taunya lagi berantem sama mas pacar. Hahahaha"
"Sialan.. ya gak gitu juga kali, Ga"
"Emang ada masalah apa? Boleh tau gak?"
"Masalah kecil sebenernya sih. Cuma dia nganggepnya besar" ucapnya mulai bercerita.
"Dia sekarang mulai protektif. Aku mau ngapain aja dibatasi. Gak boleh ini gak boleh itu. Dan dia juga agak kurang suka kalo aku deket sama kamu, Ga" sambungnya.
"Saking sayangnya dia sama kamu Rik. Makanya dia kayak gitu" ucapku.
"Tapi gak gitu caranya, Ga. Aku gak suka diperlakuin kayak gitu. Puncaknya 3 hari yang lalu dia buka-buka HPku. Dia baca sms2 dari kamu. Trus dia bilang "bisa gak kalo kamu agak jaga jarak dengan Arga?" Ya jelas aja aku gak mau lah. Terus dia marah dan sampe sekarang gak mau sms atau telpon aku. Makanya aku minta kamu jemput aku" ucapnya.
"Gini Rik. Kita ini kan semakin dewasa. Sudah bukan ABG lagi. Meskipun kita deket, kita sahabatan. Suatu saat kita akan sampai pada satu titik dimana kita harus membatasi diri kita masing-masing untuk tidak terlalu dekat lagi. Maksudnya, Kita pastinya nanti kan bakal punya kehidupan sendiri, punya keluarga sendiri. Jadi kita pasti tidak akan selamanya seperti ini. Kita harus bisa saling menjaga perasaan pasangan kita masing-masing. Kalau memang sekarang waktunya aku harus memulai itu, aku tidak masalah untuk membatasi saling smsan saling telpon atau membatasi bertemu hanya berdua saja. Kalau kita ngumpul bawa pasangan masing-masing sih gak masalah. Tapi kan aku jomblo. Jadi sebaiknya aku menjauh dulu tidak masalah. Tapi kita masih tetap sahabatan kok. Selamanya. Kamu gak perlu kuatir" ucapku panjang lebar padanya.
"Nggak.. aku gak mau" ucapnya dan sekarang terlihat matanya mulai berkaca-kaca.
"Kalo disuruh milih, mendingan aku putus daripada harus jauh dari kamu, Ga. Kalo dia masih mau jadi pacarku, dia harus mau nerima kalo aku juga dekat sama kamu" ucapnya lagi dan kini air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Sekarang aku mau tanya, Rik. Kamu sebenernya sayang gak sama Andi?" Ucapku.
"Sebenernya aku sayang sama dia, Ga. Dia baik, perhatian, sopan dan memperlakukan aku dengan terhormat. Cuma satu yang aku gak suka yaitu sifatnya yang protektif, terutama ngelarang aku buat deket sama kamu. Karena aku juga........" Rika tidak melanjutkan ucapannya.
"Juga apa Rik?" Ucapku.
0