Kaskus

Story

arako.santo93Avatar border
TS
arako.santo93
50 Episode Keistimewaan
50 Episode Keistimewaan
Di thread ini aku akan menceritakan pengalamanku bersama keistimewaan (atau kutukan) yang aku miliki. Pada awalnya aku enggan membagi pengalamanku ini karena muak sudah rasanya dianggap sebagai seorang penipu, pembohong, pencari sensasi atau apapun itu. Sedari awal aku pengen ingatkan ke temen- temen bahwa aku tidak memiliki bukti apapun dan tidak akan mencoba membuktikan apapun. Aku hanya ingin temen-temen merasakan sedikit perjalananku yang notabene adalah makhluk amphibi karena hidup di dua dunia. Well at least aku bisa melihat kedua dunia.

Sekali lagi motivasi saya hanya untuk membagi cerita. Jadi maaf kalau nantinya saya mendapat banyak comment atau pesan yang tidak saya balas.

Janji saya:
Saya akan menyelesaikan cerita ini sampai tuntas (episode ke 50), dan saya akan menghilang (dalam artian apapun) setelah cerita ini selesai saya bagi.

INDEX:
Prologue
Episode 1: Level 8
Episode 2: Kado Kelulusan
Episode 3: Perkenalan SMP
Episode 4: Pemain ke-15
Episode 5: Penjaga Rumah
Episode 6: Bencana
Episode 7: Jurit Malam
Episode 8: Penghuni Candi
Episode 9: Penghuni Candi bag.2
Episode 10: Lik Sri
Episode 11: Resep Rahasia
Episode 12: Peneman Tak Diundang
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 11 suara
Sisi apa yang temen-temen pengen baca secara detail?
Horror
73%
Asmara
9%
Keluarga
18%
Diubah oleh arako.santo93 05-02-2019 10:07
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
5.5K
39
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
arako.santo93Avatar border
TS
arako.santo93
#3
Episode 2
Kado Kelulusan

Sejak meninggalnya sopirku, entah seperti menjadi trigger dari keistimewaanku, aku mulai melihat makhluk-makhluk itu setiap waktu. Pernah satu waktu aku harus kehilangan tiga kuku jari ku karena salah satu dari mereka menyeretku dan aku sekuat tenaga mencengkram ubin kamarku. Tapi aku tidak akan menceritakannya satu persatu. Karena tidak akan muat untuk menuangkan semua pengalamanku ke 50 episode yang aku janjikan (coba aku memilih judul 1,000 episode pasti muat emoticon-Big Grin).

Well di cerita kali ini aku akan menceritakan satu-satunya pengalaman tentang keistimewaanku yang sama sekali tidak menakutkan. Justru membuatku menangis sedih dan bahagia jika mengingatnya lagi. Tahun 2002, tepat sebelum aku naik ke tingkat 4 sekolah dasar, orang yang sangat aku sayangi, yang selalu menemani dan menyamankanku saat aku putus asa harus diambil Sang Pencipta. Dia adalah kakek ku. Beliau adalah orang yang luar biasa bagiku. Tidak akan pernah bisa aku lupakan jasa beliau bagiku. Hanya satu penyesalanku, dia mengatakan satu hal sebelum pergi dan tersesat lalu meninggal di tepi sungai kala itu. Kalau saja aku menyadarinya sedari dulu, mungkin beliau masih bersama kami hingga saat ini. Beliau berkata “le aku nemoni pak sugeng sik (saya menemui pak sugeng dulu)”. Jika kalian masih ingat, Pak Sugeng adalah sopir ku yang meninggal karena kebakaran beberapa bulan sebelum Kakek ku meninggal. “bodoh bodoh bodoh!” hanya itu yang aku katakan kepada diriku ketika aku menyadari apa yang beliau katakan kala itu. Tapi tidak ada gunanya menyesal sedalam apapun. Kita memiliki waktu tapi tidak akan bisa mengendalikannya.

Singkat cerita hari itu adalah hari di mana aku menuntaskan jenjang sekolah dasarku. Pesta kesenian dan perpisahan digelar di pendapa sekolahku. Kami bergembira dan haru di saat yang sama.
Tibalah di saat aku harus menyanyi lagu perpisahan di depan para tamu (aku dulu penyanyi terkenal di sekolah dasar emoticon-Big Grin). Seluruh bait aku nyanyikan selaras dengan partitur dan alunan musik. Tepuk tangan tamu membuat rasa hangat di dada. Hingga pada saat semua tepuk tangan berhenti, satu tepuk tangan terus berlanjut. Suaranya begitu bergema seolah orang yang melakukannya sangat antusias melakukannya.
Satu yang aneh, orang sekitarku seolah tidak mendengar suara itu. Aku tau itu pasti bukanlah turunan adam yang melakukannya. Ku cari sumber suara yang terus bergema itu. Hingga pandanganku jatuh pada sudut pendapa, tepat di bawah pilar terujung sebelah selatan. Aku melihat sosok memakai baju putih, celana hijau tua dan sandal kulit necis ala tahun 80an. Ku picikan mataku, dan itu beliau!
Itu adalah kakek ku!

Beliau tersenyum lebar sambil menepuk tangannya dengan bersemangat, sampai lengannya pun mengayun demi menunjukan betapa bersemangatnya beliau melihat ku menyanyikan lagu tadi. Aku hanya terdiam tidak bisa berkata-kata. Sampai sebelum aku melangkah untuk mendekat beliau berkata namun tidak bersuara. Dari bibir beliau, aku tau bahwa beliau mengatakan “Selamat le, saiki uwis gede, uwis pinter (selamat nak, sekarang udah besar, udah pinter)”. Sesaat itu juga lemas lutut dan persendianku. Semua kekuatan serasa hilang terenggut sesuatu yang aku tak tau apa. Bukan karena makhluk gaib, tapi karena aku menangis sejadi-jadinya. Aku teringat dulu beliau pernah berjanji bahwa demi apapun, beliau akan hadir saat aku lulus dari jenjang sekolah dasarku.
Aku mendongak sekali lagi, beliau masih di sana. Dengan perlahan memudar, satu kata terakhir beliau katakan “lunas ya le”.

Itu benar-benar saat terakhir aku melihat beliau. Sampe saat ini aku masih terus berharap suatu saat aku akan bertemu beliau lagi. Dan kalau saat itu tiba aku akan pastikan untuk memeluk beliau sekali lagi.
Diubah oleh arako.santo93 16-08-2018 12:10
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.