Kaskus

Story

karjodalvinAvatar border
TS
karjodalvin
Babysitter
Di sebuah halte di satu sudut Bekasi, jam 7 malam.

"Be.., bes.., besar", "Pan..jang..kan", "A..lat", "Vi...tal", "Besar panjangkan alat vital", "Yeay! Aku bisa bacanya Om"

"Kamu baca apa?", gua ngomong dengan mulut penuh cilok

"Itu om", Dalvin menunjuk sebuah poster

"Oh", gua tanggepin sekenanya, cilok lebih menarik daripada ngeliatin bocah umur 6 tahun yang lagi seneng ngebacain apapun yang dia liat di jalan.

"Om, itu yang paling atas aku ga bisa bacanya"

"Itu bacanya se-pon-tan", "Tapi bacanya yang cepet", "Spontan!", "Gitu..."

Dalvin ngangguk-ngangguk dengan huruf O di bibirnya.

Gua lirik sekilas, Dalvin menggumam-gumamkan sesuatu entah apa.

"SPONTAN BESAR PANJANGKAN ALAT VITAL", "Aku bisa baca Om!"

Dalvin ngucapin kalimat barusan dengan volume suara kayak muadzin masjid raya.

Dan semua orang di halte ngelirik ke gua...
Anjrit!

"Dalvin, ngucapinnya jangan kenceng-kenceng"

"OM! ALAT VITAL ITU APAAN?"

Dan semua orang ngelirik lagi ke gua...

Dalvin langsung gua peluk, "Dalvin, jangan kenceng-kenceng ngomongnya", gua berbisik di daun telinganya

"Om...", Dalvin menurunkan volume suaranya, "Alat vital itu apa?"

Baru mau gua jawab, tapi ada satu sedan hitam menepi di depan halte. Seorang Ibu muda berhijab dari sisi kemudi membuka pintu mobil tergopoh-gopoh menghampiri kami.

"Besok Om jelasin, sekarang tuh Mama kamu udah nyampe"

Dengan senyum mengembang Ibu itu menyapa anaknya "Assalamualaikum Dalvin"

"Mama!", Dalvin berlari menyambut Mamanya

Dan kejadian rutin terjadi : mereka berpelukan, saling cium pipi dan bibir, dan hidung mereka saling gusal gusel.

Mamanya Dalvin ngehampirin gua, "Kar, sorry ya jadi telat nih saya ngejemputnya, tadi macet banget di tol"

"Gapapa kok Tante", gua senyum lebar

"Kamu ikut kita makan yuk"

"Tadi saya udah makan", dengan halus gua menolak

"Ayo Om Karjo", Dalvin menyela, "Kita makan dulu"

"Tuh...Dalvin juga pengen Om Karjo ikut kan?"

Dalvin mengangguk.

"Iya deh Tan, tapi saya cuma minum aja ya"

"Nah gitu dong. Yuk cepetan, kamu ikutin mobil Tante aja ya"

Gua ngangguk, sembari bersiap pakai jaket.

"Mama... Tadi Dalvin nanya ke Om Karjo"

"Nanya apa sayang?", lembut Mamanya bertanya

"Dalvin nanya, alat vital itu apa?"

Gua balik badan pura-pura ga denger....
***

Nama gua Kardinal Jovanka, biasa dipanggil Karjo.
Karjo itu singkatan nama beraroma kampret yang diciptain kakak gua sejak jaman dahulu kala.

Umur gua 17 tahun, kelas 2 SMA.

Udah 2 bulan ini gua punya pekerjaan tetap jadi pengasuh bocah umur 6 tahun bernama Dalvin Abimanyu.

Mamanya Dalvin bernama Dina, umur 31 tahun. Gua udah biasa manggil dia Tante.

Bapaknya Dalvin meninggal saat umur Dalvin belum genap 2 tahun.

Oke, segitu dulu info yang bisa gua kasih karena gua harus buru-buru nyetater motor buat ngikutin mobil anak-beranak Dina-Dalvin.

Satu hal yang pasti : hari ini adalah tanggal gua GAJIAN!

-Bersambung-

Part 2
Part 3
Part 4a
Part 4b Uler Tangga
Part 4c Babysitter
Part 5a
Part 5b Telor
Part 5c Ultraman
Part 5d Speaker
Part 5e Nobar
Part 6 Headset






Diubah oleh karjodalvin 07-09-2018 04:01
anasabilaAvatar border
pulaukapokAvatar border
pulaukapok dan anasabila memberi reputasi
21
121.9K
436
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
karjodalvinAvatar border
TS
karjodalvin
#104
Part 5d Speaker

Gua lari diatas eskalator turun ke lantai 2.

Gua melangkah tergesa menyusuri koridor mol. Pandangan tajam ke semua arah. Nafas gua memburu..., kepanikan utuh nyelimutin diri gua

Dari kejauhan nampak seorang satpam, gua lari ke arahnya, "Pak! Anak saya hilang. Mol ini ada speakernya kan? Gimana caranya supaya saya bisa ngumumin ke semua orang ciri-ciri anak saya?"

Si satpam terperangah, "Sabar sabar Mas, pelan-pelan ngomongnya. Mas ceritakan dulu kejadiannya seperti apa, supaya saya bisa bantu"

Gua ceritakan lengkap kejadiannya.

Dia mengangguk, "Oke saya paham. Sekarang saya akan antar Mas ke kantor saya, supaya Mas bisa memberi ciri-ciri lengkap anak Mas, lalu nanti diumumkan pakai speaker"

"Bagaimana kalau begini Pak, saya cukup berikan ciri-ciri anak saya ke bapak entah ditulis kertas, atau pakai catatan di hp, terus nanti Bapak bisa umumin, sementara saya akan terus nyari anak saya"

"Mas, begini lho, kejadian anak hilang disini sudah sering. Saya sarankan Mas menunggu saja di kantor, karena nanti semua security akan membantu mencari anak yang ciri-cirinya sesuai"

Penjelasannya sedikit melegakan gua. Gua setuju ikut ke kantornya.

Sesampainya disana ada satpam perempuan, setelah paham duduk perkaranya, dia langsung menyiapkan kertas dan pulpen, "Ciri-ciri anaknya bagaimana Mas? Biar saya catat"

"Namanya Dalvin Abimanyu, usia 6 tahun, pakai kemeja putih motif polka hitam..."

"Motif polka itu apa ya?"

"Itu loh Bu, motif titik-titik polkadot"

"Oww... Oke. Celananya?"

"Celana jeans biru, pakai sepatu yang di sol-nya ada lampunya, terus kalo diinjek nyala-nyala gitu..."

Dia kemudian mengaktifkan sound system, lalu bicara di depan mikrofon sambil membaca catatannya,
Pengumuman, telah hilang seorang anak bernama Dalvin Abimanyu, dengan ciri-ciri, usia 6 tahun, memakai kemeja putih bermotif polkadot hitam, celana jeans biru, dan sepatu yang kalau diinjak nyala-nyala gitu...
Bagi yang menemukan harap segera mengantar anak tersebut ke kantor security.
Terima kasih.


Gua ngerasa ada kata yang aneh dalam narasi pengumumannya, tapi biarlah.

"Nah Mas sekarang silahkan tunggu disini, nanti tiap 5 menit kita ulang pengumumannya"

Gua ngangguk.

Waktu berjalan seperti siput...

Gua mikir sejenak, lalu bicara ke satpam, "Bu, mohon nanti tiap 5 menit pengumumannya diulang ya. Saya mau keliling nyari anak saya", gua bergegas keluar

Melangkah tergesa gua susuri semua sudut mol.

Tanpa henti gua panggil namanya.

Nyaris setiap orang gua tanya, berharap satu diantara mereka ada yang melihat Dalvin.

Gua terus melangkah tanpa arah. Berlari naik turun eskalator, menyusuri tiap toko, masuk ke tiap toilet, memanggil namanya di tiap pintu wc yang tertutup.

...setiap ada anak kecil gua tengok wajahnya berharap itu Dalvin kesayangan gua...

Di satu sudut gua berhenti.
Gua mengatur nafas, kaos gua basah, tenggorokan gua kering.
Gua ambil botol minum di dalam tas, gua tenggak habis.

"DALVIN!", gua teriak

Orang-orang memandang aneh ke gua, gua ngga peduli, "DALVIN!"

Pengeras suara itu berbunyi lagi entah sudah yang keberapa kali.
Pengumuman, telah hilang seorang anak bernama Dalvin Abimanyu, dengan ciri-ciri...

Gua melangkah lagi menyusuri mol. Meniti meter demi meter di tiap lantainya, sampai gua keluar di sebuah pintu, tenaga gua habis tuntas, gua bersandar ke tembok. Tenggorokan gua terlampau kering hingga menelan ludahpun menyakiti kerongkongan gua.

Disebrang sana ada beberapa orang sedang berwudhu, gua bangkit menuju tempat itu, menghampiri sebuah keran, membukanya, lalu gua minum airnya.

...kepanikan telah berubah menjadi keletihan dan keputusasaan...

Sekarang saatnya gua menghubungi Tante Dina.
Gua tercenung..., jika karena ini Tante Dina menuntut gua ke polisi sampai akhirnya gua masuk penjara... Gua ikhlas, gua bener-bener ikhlas.

Gua raih hp di saku celana, membuka kontak, memilih nama Tante Dina, lalu baru saja gua hendak menekan call, muncul pengumuman...

Pengumuman, diinformasikan kepada Bapak Karjo.
Anaknya yang bernama Dalvin Abimanyu sudah ditemukan dan sekarang berada di kantor security.
Kami ulangi, diinformasikan kepada Bapak Karjo.
Anaknya yang bernama Dalvin Abimanyu sudah ditemukan...


Gua batalkan menghubungi Tante Dina.
Hp gua simpan lagi ke saku, satu kata gua ucap pelan..., "Alhamdulillah"

Gua berlari menuju kantor security.

Gua harus menuliskan ini : rasa sayanglah yang mentenagai gua hingga masih sanggup berlari untuk bertemu Dalvin

Gua buka pintunya, Dalvin sedang duduk disana.

"Dalvin...", suara gua parau

Dalvin gua peluk erat.

Pelukan gua lepas, "Kamu ngga apa-apa kan?", dengan tatapan tajam gua cecar tiap jengkal bagian tubuh Dalvin, khawatir terjadi sesuatu pada dirinya.

"Aku ngga kenapa-kenapa Om"

"Kenapa kamu tadi pergi? Kamu marah sama Om?"

Dalvin menggeleng.

"Om minta maaf ya Dal, Om minta maaf", gua peluk Dalvin makin erat, "Om sayang sama Dalvin"

"Aku juga sayang sama Om Karjo"

"Tadi Om takut Dal..., Om takut kamu diculik, Om takut kamu kenapa-kenapa, Om minta maaf ngga bisa jaga kamu dengan baik ya", tubuh gua menggigil, ada yang berlinang di mata gua...

"Om ngga salah kok, tadi aku pergi karena ngeliat Kak Vina, tadi tangan Om udah kutarik-tarik, tapi Om nya ngga nengok-nengok"

"Kak Vina itu siapa?"

"Ini", Dalvin menunjuk seseorang yang berdiri disampingnya.

Gua beralih pandang kearahnya, dia mematung dengan senyum tipis tersungging, "Hai, saya Vina"

Gua coba mengingat-ingat, sepertinya gua ngga asing dengan wajah Vina.
Gadis berwajah oval, dengan rambut bob sebahu berponi, bermata bulat, hidung mancung, dan bibir mungil.

Gua usap-usap mata dan pipi gua yang masih becek, lalu tersenyum dan mengulurkan tangan, "Mba, saya Karjo. Tadi Mba Vina yang ngantar Dalvin kesini?"

"Iya Mas, jadi ceritanya tadi tuh gini, saya kan baru selesai nonton, terus saya langsung ke lift, nah pas pintu lift udah mau ketutup, tau-tau ada Dalvin lagi manggil-manggil saya, reflek saya tarik Dalvin masuk ke dalem, takutnya Dalvin kejepit di pintu lift, setelah itu saya sama Dalvin naik lagi ke xxi, ternyata Mas udah ga ada, abis itu ada pengumuman kehilangan anak, disebutin kan nama anak yang hilang itu Dalvin, makanya saya langsung ajak Dalvin kesini"

"Oh gitu ya", gua menghela nafas, "Saya ngga tau nih mesti gimana, tapi yang pasti saya berterima kasih banget sama Mba Vina udah mau nganterin Dalvin kesini"

"Saya jadi ga enak juga sih Mas, gara-gara saya jadi ngerepotin banyak orang"

"Sebenernya sih ini semua gegara Dalvin Mba", gua ngelirik ke Dalvin. Dia nyengir

Sesaat kemudian salah satu satpam mengklarifikasi kejadian, memastikan tidak ada kerugian baik moril maupun materiil ke gua, Dalvin, dan Vina. Lalu urusan dianggap beres.

Gua ngelangkah keluar kantor security sambil ngegendong Dalvin, sementara Vina dibelakang gua.

"Mba Vin, kayaknya kita pernah ketemu ya?", tanya gua

"Iya Mas, di rumah makan. Saya kirain Mas udah lupa"

Pas udah diluar, ternyata ada tiga orang temannya Vina lagi nunggu, "Gimana Vin? Udah kelar?", tanya salah satunya
***

Bersambung

pulaukapok
JabLai cOY
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.