Kaskus

Story

twnty1gunsAvatar border
TS
twnty1guns
Sebuah Kisah Jomblo Ngesot (Komedi, Cinta)
Halo gan n sist. Perkenalkan ane member baru di Kaskus. Jadi, di sini ane mau menyalurkan hobi ane yaitu menulis cerita. Sekaligus juga ane pengen berbagi keresahan-keresahan ane selama ini. Yang ane tulis dalam bentuk cerita yang dibuat sendiri. Dan ane juga pengen mendapat penilaian dari agan n sist soal cerita yang ane buat.

Ceritanya tentang seorang cowok bego yang pengen punya pacar, tapi gak tau caranya gimana, dia juga selalu disesatkan sama saran temennya sendiri. Karena ane baru sekali buat thread di kaskus, maaf kalo masih berantakan. Nanti ane pelajarin lagi hehehe emoticon-Embarrassment

Semoga agan n sist suka.... Selamat membaca!

Spoiler for Index:
Diubah oleh twnty1guns 04-08-2018 17:42
HellenOktaviaAvatar border
bukhoriganAvatar border
junti27Avatar border
junti27 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
13K
76
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
twnty1gunsAvatar border
TS
twnty1guns
#50
BAB 2 - Kepintaran Yang Tak Selevel - Part 4
"Dibales sekali doang," jawab gue dengan lesu.

"Kayak gimana? Ditanya balik gak?"

Gue menghela napas, lalu mengambil handphone gue untuk melihat apa yang Mila jawab tadi malem. "Dia nanya gue siapa, yaudah gue kenalin diri gue sendiri."

Galih manggut-manggut, gak lama kemudian dia diem.. Seperti lagi mikirin solusi hebatnya yang berguna buat gue. "Bego! Jangan kasi tau dulu! Ini pasti gara-gara dia tau nilai ulangan lo jelek," ujar Galih, mulai berspekulasi.

"Apa hubungannya?" Edo menanggapi santai.

Suasana hening seketika. Karena Galih gak nyautin pertanyaan dari Edo. Sekitar kami saat ini mulai rame. Banyak anak sekolahan gue dan anak sekolah lain dateng ke warung ini. Warung ini emang tempat yang asik buat ngumpul. Gue merasa Galih lagi kayak manggil seseorang. Gak lama kemudian, seseorang bertampang sangat dengan rambutnya yang kayak anak mos, menghampiri tempat gue duduk.

"Mana Mila?" Galih nanya tanpa basa-basi.

"Biasa sibuk belajar," cowok tersebut merespon cepat.

Gue tetep nyimak, soalnya gak kenal sama nih cowok yang diajak ngomong. Juga gue gak kenal siapa pun selain temen sekelas. Jangkauan pertemanan gue cuma sampai... kelas sendiri. Berbeda dengan Galih yang cukup populer di sekolah gue. Mulai dari adik kelas, kakak kelas, bahkan sampai yang di luar sekolah juga kenal dia. Kadang gue ngerasa isi ngeliat dia yang dikenal banyak orang. Gue sendiri mentok-mentok terkenal di Warnet. Itu pun karena gue ngerusakin keyboard sama cheat billing di sana.

"Pernah pacaran gak dia?" tiba-tiba Galih nanya.

Cowok yang daritadi berdiri, kini nyari tempat buat duduk. Sebelah gue emang kosong, jadi dia duduk di sana. "Jadi gini..." Cowok itu menghentikan ucapannya. "kata Putri, pacar gue----"

"Udah tau, gausah pamer!" Galih menyela omongan Cowok itu.

Cowok itu nyengir, nyaris tertawa. "Katanya sih banyak cowok yang deketin Mila. Tapi semua kena tolak. Mungkin karena kepintarannya gak selevel," ujar si cowok. Gue dan yang lain pada manggut-manggut. "ngapain nanya soal dia? Jangan-jangan lo naksir sama Mila ya, Lih?" Cowok itu menuding Galih, tatapannya serius.

"Enggak. Gue lagi bantuin temen gue nih," ujar Galih, menunjuk gue yang ada di depannya.

Cowok itu menoleh ke gue. "Oh jadi lo mau deketin Mila?" tanya cowok tersebut sambil tersenyum. Karena gak tau mau jawab apa, gue hanya mengangguk. Mendadak cowok itu mengulurkan tangannya. "Gue Adi," kata dia, keliatan ramah.

Biar keliatan ramah juga gue ikut ngulurin tangan. "Komo. Lo ganteng juga," kata gue, memuji cowok yang bernama Adi itu. Menurut buku yang gue baca, pujilah orang lain setinggi-tingginya, biar dia mau temenan. Walaupun Adi sendiri keliatan kayak korban abis digebukin warga

"Biasa aja kali. Lo juga," jawab Adi, nyengir lebar.

"Ganteng?" gue nanya penuh harap, baru kali ini ada orang yang bilang gue cakep.

"Maksud gue, lo juga sama biasa aja," ujar Adi sambil ketawa.

Saking asiknya bercanda sampai gue lupa ada Galih di depan gue yang cemberut. "Lo harus keliatan pinter!" ucap Galih pada gue dengan serius.

"Gimana caranya?" gue melihat sekeliling yang makin lama makin padat. Belum lagi pada berisik, ditambah asap rokok yang makin parah. Karena udah sesak, dan takut mati dikeroyok asap, gue berdiri dari tempat duduk, menggendong tas sekolah gue.

"Mau ke mana lo?" Edo nanya. "Kalo pulang, boleh gue numpang gak?"

Gue langsung cabut lari tanpa menggubris Edo dan yang lain. Udah dari dulu gue emang gak bisa menghirup asap rokok. Gue takut mati, takut mati sebagai jomblo abadi. Di rumah, ternyata ada Nyokap yang tumben banget pulang. Nyokap lagi nonton tv.

"Mamah udah balik kerja?" tanya gue pada Nyokap, yang kemudian menoleh dari sofa.

Nyokap mengangguk. "Iya, mama baru aja balik. Kerjaan udah pada beres. Muka mu kok kayak orang sekarat gitu?" Nyokap nanya balik.

Gue cengengesan. "Nyaris mati karena rokok, Ma," jawab gue santai.

Nyokap membuka mulutnya lebar. "Kamu dijahatin orang pake rokok?" Nyokap nanya, panik tiba-tiba.

Gue menggeleng. "Bukan, Ma. Tapi asap rokok," jawab gue, langsung bergegas pergi meninggalkan Nyokap di ruang tamu.

Di kamar gue rebahan, memegang ponsel di tangan. Gue memeriksa pesan, ternyata ada sebuah pesan dari Mila."Oh. Kenapa ya?"

Kemudian gue bingung mau bales apa. Gak seharusnya gue pergi ninggalin temen yang lain. Kehadiran mereka sangat membantu banyak hal dalam hidup. Alasannya cukup simpel: gue bego. Balik ke sekolah buat nanya ke mereka juga gak mungkin. Kalo udah kayak gini gue gak ada pilihan lain selain berusaha sendiri. Kali ini gue gak mau gagal lagi seperti yang dulu-dulu. Waktunya gue untuk berpikir. 2 menit berlalu gue bengong. 5 menit lagi masih belum dapet ide. 10 menit kemudian gue...ngantuk. Gue mengetik jawaban lalu mengirimkannya pada Mila.

"Enggak apa. Lo udah nyuci?" jawab gue asal di pesan.

Pesan balasan itu pun enggak dibales juga sampai malem. Keesokan harinya gue seperti biasa membuat laporan harian kepada temen-temen yang lain.
"Gak dibales lagi?" Galih bereaksi ketika ngedengerin cerita gue. "Emang lo bilang apa semalem?"

Gue meneguk es jeruk perlahan sampai habis. "Paling gue cuma nanya 'lo udah nyuci belom?' Soalnya gue belum."

Edo tersenyum, mengacungkan jempolnya pada gue. "Bagus. Perhatian banget lo!"

Berarti jawaban gue udah bener, buktinya Edo aja keliatan bangga sama gue. Yang gue tunggu sekarang respon dari Galih yang diem aja dari tadi, jarinya ngetokin meja. "Jelas aja gak dibales, pertanyaan lo aneh kayak gitu," kata Galih. "temen gue pernah nanya kayak gitu, abis itu dia kena gampar sama ceweknya," ujar Galih, menirukan gesture seakan kena tampar.

"Kok bisa?" tanya gue, kagrt ngedengernya.

Galih mengusap rambutnya. "Soalnya dia ketahuan nyolong jemuran," Galih diam sejenak. "tapi bukan pakaiannya."
pulverulenta
bomtwo
bomtwo dan pulverulenta memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.