- Beranda
- Stories from the Heart
Gunung Hutan Dan Puisi
...
TS
arga.mahendraa
Gunung Hutan Dan Puisi
Pada pekat kabut yang menjalar di hamparan tanahtanah tinggi
Kulantunkan katakata sebagai penggalan doa
Untukmu yang kini telah sempurna hadir..
Pada peluh yang telah mengalir
Ketika kita ayunkan langkahlangkah
Menuju tempattempat teduh
Untuk menyemayamkan rasamu dan rasaku
Kini telah menyatu sudah
dan beku udara ini akan semakin kuat mengikatnya
Kita memang sering berbeda dalam banyak Hal
Namun Gunung, Hutan Dan Puisi selalu mampu menyatukannya..
***
Kulantunkan katakata sebagai penggalan doa
Untukmu yang kini telah sempurna hadir..
Pada peluh yang telah mengalir
Ketika kita ayunkan langkahlangkah
Menuju tempattempat teduh
Untuk menyemayamkan rasamu dan rasaku
Kini telah menyatu sudah
dan beku udara ini akan semakin kuat mengikatnya
Kita memang sering berbeda dalam banyak Hal
Namun Gunung, Hutan Dan Puisi selalu mampu menyatukannya..
***

Sebelumnya ijinkan saya untuk ikut berbagi cerita di forum ini. Forum yang sudah lumayan lama saya ikuti sebagai SR.. Salam kenal, saya Arga..
Cerita saya mungkin tidak terlalu menarik dan membahana seperti cerita-cerita fenomenal di SFTH ini. Hanya cerita biasa dari bagian kisah hidup saya. Semoga masih bisa dibaca dan dinikmati.
Seperti biasa, seluruh nama tokoh, dan tempat kejadian disamarkan demi kebaikan semuanya. Boleh kepo, tapi seperlunya saja ya.. seperti juga akan seperlunya pula saya menanggapinya..
Update cerita tidak akan saya jadwalkan karena saya juga punya banyak kesibukan. Tapi akan selalu saya usakan update sesering mungkin sampai cerita inI tamat, jadi jangan ditagih-tagih updetannya yaa..
Baiklah, tidak perlu terlalu berpanjang lebar, kita mulai saja...
****
Medio 2005...
Hari itu sore hari di sela kegiatan pendidikan untuk para calon anggota baru organisasi pencinta alam dan penempuh rimba gunung yang aku rintis tujuh tahun yang lalu sekaligus sekarang aku bina. Aku sedang santai sambil merokok ketika salah satu partnerku mendatangiku.
"Ga, tuh ada salah satu peserta cewek yg ikut pendidikan cuma karena Ada pacarnya yang ikut, kayaknya dia ga beneran mau ikut organisasi deh, tapi cuma ngikut pacarnya"
"Masak sih? Yang mana? Kok aku ga perhatiin ya" jawabku
"Kamu terlalu serius mikirin gimana nanti teknis di lapangan sih Ga, malah jadi ga merhatiin pesertamu sendiri" lanjutnya
"Coba deh nanti kamu panggil aja trus tanyain bener apa ga, namanya Ganis.. aku ke bagian logistik dulu" Kata temanku sambil meninggalkanku
"OK, nanti coba aku tanya" jawabku
"Pulangin aja kalo emang bener Ga.. ga bener itu ikut organisasi cuma buat pacaran" sahutnya lagi dari kejauhan sambil teriak
Dan aku pun cuma menjawab dengan acungan jempol saja
***
Pada malam harinya aku mengumpulkan seluruh peserta pendidikan di lapangan. Malam itu ada sesi pengecekan logistik peserta sekaligus persiapan untuk perjalanan ke gunung besok pagi untuk pendidikan lapangan.
Kurang lebih 2 jam selesai juga pengecekan logistik seluruh peserta pendidikan. Dan aku pun memulai aksiku.
"Yang merasa bernama Ganis keluar dari barisan dan maju menghadap saya sekarang..!!!" Teriakku di depan mereka
Tak lama keluarlah seorang cewek dari barisan dan menghadapku. Aku tidak terlalu memperhatikan wajahnya, entah cantik atau biasa saja aku tak terlalu peduli karena aku sudah sedikit emosi sejak sore tadi temanku mengatakan kalau dia ikut kegiatan ini cuma karena pacarnya ikut.
"Benar kamu yang bernama Ganis?"
"Ya benar, Kak"
"Kamu ngapain ikut kegiatan ini!?"
"Karena saya ingin jadi anggota Kak"
"Dasar pembohong..!!!" Bentakku seketika
Dan dia pun langsung menunduk
"Hey, siapa suruh nunduk?? Kalau ada yang ngomong dilihat!! Kamu tidak menghargai seniormu!!"
"Siap, maaf Kak" jawabnya sambil langsung melihatku
"Saya dengar kamu ikut kegiatan ini karena pacar kamu ikut juga!! Benar begitu? Jawab!!"
"Siap, tidak Kak, saya ikut karena saya sendiri ingin ikut, tidak ada hubungannya dengan pacar!" Jawabnya tegas
"Tapi pacar kamu juga ikut kan!?"
"Siap benar"
"Siapa namanya!?"
"Alan Kak"
"Yang merasa bernama Alan, maju ke depan" teriakku di depan peserta lainnya
Kemudian datanglah cowok bernama Alan itu di depanku
"Benar kamu yang bernama Alan?" Tanyaku pada cowok itu
"Siap, benar Kak" jawabnya
"Benar kamu pacarnya Ganis?"
"Siap benar Kak"
"Kamu ikut kegiatan ini cuma buat ajang pacaran!!?? Kamu cuma mau cari tempat buat pacaran??"
"Tidak Kak"
"Kalian berdua masih mau jadi anggota organisasi ga!!?"
"Siap, masih mau Kak" jawab mereka berdua
"Baik, saya berikan pilihan, kalian berdua saat ini juga putus dan lanjut ikut pendidikan, atau tetap pacaran tapi sekarang juga pulang tidak usah lanjut ikut pendidikan dan jadi anggota organisasi.. silahkan tentukan pilihan sekarang!!"
***
Spoiler for INDEX:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 10 suara
Siapakah yang bakal jadi istri TS?
Rika
30%
Winda
20%
Dita
0%
Ganis
40%
Tokoh Yang Belum Muncul
10%
Diubah oleh arga.mahendraa 20-10-2018 13:37
kimpoijahat dan anasabila memberi reputasi
3
31.5K
264
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
arga.mahendraa
#42
13. Diksarjut & Pelantikan #2
Kurang lebih jam 09.30 kami sudah sampai di lokasi camp pertama. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, lokasi camp pertama ini berada di sekitar basecamp gunung. Tepatnya di belakang bangunan posko Basecamp. Lokasi ini memang biasa digunakan untuk camping ground. Sesampainya di lokasi, para peserta dan panitia beristirahat sejenak karena sudah lumayan kecapekan karena habis berjalan kaki dari tempat diturunkannya mereka dari kendaraan. Mereka memang tidak diantar sampai ke lokasi, selain jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui truk, hanya bisa kendaraan roda 2, mereka diwajibkan jalan kaki supaya lebih terasa suasana Diksarnya. Setelah dirasa cukup istirahatnya, kegiatan kembali dilanjutkan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Aku beserta para senior dan alumni mengambil tempat di ruangan Basecamp. Karena memang ruangan ini disediakan khusus untuk kami oleh para pengelola gunung ini.
"Kalian yang tadi malam gak ikut kegiatan di sekolah bagi tugas sendiri ya, siapa yang mendampingi peserta dan panitia kegiatan. Aku sama temen-temen yang semalam begadang mau istirahat dulu. Jangan diganggu ya.. kecuali darurat" ucapku pada mereka.
"Siap Kak" jawab mereka serempak
Dan akupun mencari tempat ternyaman untuk memejamkan mata sejenak mengistirahatkan tubuh supaya stamina kembali terisi untuk melanjutkan kegiatan yang lebih berat sampai 3 hari ke depan. Begitu juga kawan-kawan lainnya yang semalam ikut begadang juga ikut beristirahat, termasuk Sandi dan Rika.
Sore sekitar jam 4 aku terbangun. Aku lihat di sekitarku anak-anak yang lain sudah tidak ada di ruangan ini, artinya mereka juga sudah bangun, kecuali Sandi yang masih ngiler di sebelahku. Aku pun beranjak mengambil minum lalu membakar rokok. Lama juga aku tertidur sampai terlewat makan siang dan sekarang perutku terasa melilit karena lapar. Aku pun keluar dari ruangan ini mencari anak-anak organisasiku. Sesampainya di teras posko, aku melihat beberapa orang panitia.
"Din, panggilkan Irwan. Aku mau dengar laporan" ucapku pada Adine.
"Siap Kak" jawabnya lalu segera pergi mencari Irwan.
Tak lama, Irwan pun datang sambil berlari kecil menghampiriku di teras posko.
"Kegiatan hari ini simulasi navigasi darat berdasarkan soal dari Kak Arga kemarin. Tadi dipandu sama Kak Majid. Dimulai jam 10.00 selesai jam 15.30 Kak. Tadi sempat jeda sebentar jam 13.00-13.30 untuk ishoma. Sekarang peserta sedang ishoma ashar. Selesai ishoma nanti kegiatannya pendirian bivak untuk tempat mereka istirahat malam ini" ucapnya memberi laporan tanpa aku minta terlebih dahulu.
"Kendala?" Tanyaku
"Tidak ada kendala berarti Kak. Secara teknis semua lancar tanpa kendala. Paling cuma peserta yang masih sedikit bingung dengan navigasi darat. Belum sepenuhnya menguasai mereka Kak" jawab Irwan.
"Ya sudah tidak masalah. Biasa itu. Ya udah dilanjutkan kegiatannya sesuai jadwal. Sekarang carikan aku makan. Dua ya, buat Kak Sandi sekalian itu" ucapku.
"Siap Kak. Saya pamit" jawabnya lalu pergi.
"Ya" jawabku juga.
Usai makan, badanku terasa lebih fit. Ya semua karena asupan energi sudah didapat. Dan sudah cukup beristirahat juga. Akupun keluar menuju ke lokasi camp anak-anak. Ternyata semua bivak peserta sudah berdiri. Bivak merupakan tempat tinggal darurat yang dibuat dengan jas hujan jenis ponco atau peralatan lain yang bisa dimanfaatkan atau dengan bahan dari alam (ranting dan daun atau yang lainnya). Untuk para peserta memang diwajibkan mendirikan bivak untuk tempat istirahat mereka. Bivak yang dibuat dengan benar bisa membantu mengurangi hawa dingin karena angin dan tentunya melindungi dari hujan. Penggunaan bivak dimaksudkan sebagai bagian dari simulasi jungle survival. Karena ketika Kita dihadapkan pada situasi bertahan hidup dengan kondisi perlengkapan yang minim, maka kemampuan membuat bivak akan sangat sangat diperlukan. Sedangkan untuk panitia, senior dan alumni menggunakan tenda dome. Aku lihat di lokasi camp beberapa alumni berkumpul entah membicarakan apa. Yang lainnya berkeliling melihat situasi dan kondisi sambil menikmati pemandangan bentang alam yang sangat indah. Sedangkan para peserta sedang beristirahat di area camp mereka masing-masing. Ada yang sedang memasak, ada yang beres-beres barang-barang mereka, Ada yang duduk-duduk saja dan lain-lain. Aku biarkan saja mereka melakukan yang mau mereka lakukan karena memang sekarang jam istirahat/bebas untuk mereka. Yang penting mereka tetap berada di lokasi camp dan tidak melakukan pelanggaran apapun. Aku pun bergabung dengan kawan-kawan alumni yang lain dan ikut ngobrol santai dengan mereka. Tidak ada obrolan yang teramat penting, paling seputaran aktifitas mereka sehari-hari, seputaran pengalaman mendaki gunung mereka dan lain-lain. Moment kegiatan Diksarjut seperti ini memang sekaligus mereka manfaatkan untuk reuni, karena biasanya mereka bisa bertemu dan berkumpul bersama kawan-kawan seorganisasi ya di moment Diksarjut ini. Hal itu dikarenakan kesibukan mereka sehari-hari menjadi kendala untuk bisa bertemu setiap waktu. Ada yang masih kuliah, ada yang sudah bekerja bahkan berumah tangga. Dan di moment Diksarjut begini biasanya mereka meluangkan waktu mengambil cuti untuk bisa mengikuti kegiatan sekaligus untuk ber-reuni.
Menjelang petang cuaca tiba-tiba berubah dari yang sebelumnya cerah tidak ada tanda-tanda mendung atau hujan, tiba-tiba angin berhembus cukup kencang membawa mendung kelabu menggantung dan tidak lama hujan turun dengan derasnya. Kami yang sedang duduk santai di rerumputan terpaksa berhamburan mencari tempat berteduh. Ada yang masuk ke tenda, ada yang ke posko. Aku pun sama, segera berlari ke posko. Tapi tidak lama aku keluar lagi setelah mengenakan rain coat. Aku menuju ke lokasi camp peserta. Mengamati dan memastikan mereka semua aman. Meskipun hujan deras, tempat mereka berlindung harus tetap di dalam bivak yang mereka dirikan. Jika bivak mereka dirikan dengan tidak benar, maka sudah menjadi resiko akan jadi basah. Aku lihat anak-anak panitia juga berada di lokasi camp peserta untuk mengamati dan menjaga, sekaligus memberikan bantuan kecil untuk mereka para peserta. Di sela aktifitas mereka aku menginstruksikan untuk memindahkan salah satu tenda dome panitia ke dekat lokasi camp peserta, dengan tujuan supaya memudahkan untuk pos pengawasan terhadap peserta. Karena bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya para peserta berada di gunung ini, jadi kami harus memastikan keamanan mereka dan memastikan mereka tidak berbuat sesuatu yang sifatnya teledor. Usai mengkoordinir, mengontrol dan merasa sudah cukup mengendalikan situasi, aku pun kembali ke posko. Di dalam posko ada Sandi, Rika dan beberapa kawan alumni lainnya. Sisanya pada masuk ke tenda.
"Gimana Men?" Tanya Sandi ketika aku melepas rain coat ku.
"Apanya yang gimana?" Tanyaku balik
"Ya kondisinya dodol" ucapnya
"Aman.. udah pada masuk bivak mereka. Udah Ada anak-anak senior yang jaga di sana" jawabku
"Lagian loe bukannya bantuin, malah mojok di sini sama Rika" sambungku
"Abisnya dingin sih.. ya ga Rik" jawabnya sambil menandang Rika dengan gestur berkedip satu mata. Dan Rika langsung menoyor kepala Sandi.
"Hahahahaha.. rasain tuh" ucapku
"Bikin kopi gih sana Rik" sambungku
Tanpa menjawab, Rika pun beranjak ke dapur untuk menyeduh kopi dan aku duduk di sebelah Sandi.
"San keluarin kompor mini, nyalain depan sini buat angetan" ucapku pada Sandi
"Bener kan.. kayaknya rada ga beres ini suasananya men. Siang sampe sore cerah gitu, tau-tau hujan aja gini" ucap Sandi sambil menata kompor gas mini.
"Gw juga ngerasa San. Tapi yakin aja lah ga ada apa-apa. Yang penting kita waspada aja" ucapku
"Eh dasar kerak panci nih kalian berdua. Nyalain kompor begitu kan mendingan tadi sekalian masak air buat dibikin kopi.. mubadzir itu gasnya dibuat nyala doang" ucap Rika ketika masuk ke ruangan sambil membawa 2 gelas kopi.
"Ini buat angetan ya ga mubadzir lah Rik" jawab Sandi
"Nih kopinya Ga" ucap Rika sambil memberikan segelas kopi padaku.
"Satunya buat aku ya Rik" sahut Sandi
"Enak aja.. buat aku lah.. bikin sendiri sana" jawab Rika. Dan Sandi cuma memonyongkan bibirnya.
Sambil menikmati kopi, kami membicarakan tentang situasi terkini sambil membuat rencana cadangan jika kondisinya tidak memungkinkan untuk kegiatan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Aku mengumpulkan seluruh personil senior, alumni dan perwakilan panitia. Sebagian panitia lainnya bertugas menjaga dan mengawasi peserta.
"Nanti kita lihat dulu situasi dan kondisinya. Kalo misal cuaca makin buruk ya terpaksa kita semua menginap di sini malam ini. Yang penting tim logistik sudah jalan duluan tadi sore sebelum hujan. Seharusnya sekarang mereka sudah sampai di lokasi. Semoga tidak ada kendala" ucapku pada mereka.
"Peserta gimana Kak? Apa mereka tetap di bivak?" Tanya Suryo, salah satu panitia.
"Itulah gunanya kalian mengawasi. Jadi kalian ini mengawasi bukan sekedar mengawasi saja. Tapi juga harus tau perkembangan kondisi mereka. Baik kondisi fisik, mental, maupun peralatan. Berikan laporan setiap 30 menit jika kondisinya Aman dan segera laporan jika kondisinya tidak aman. Mengerti?"
"Siap.. paham Kak" jawabnya lagi
"Yang lainnya selalu siaga ya. Bisa jadi malam ini akan menjadi malam yang panjang. Aku butuh tenaga kalian sepenuhnya. Untuk alumni, nanti dibawah komando Sandi ya. Tugas-tugas kalian nanti dari Sandi. Selebihnya nanti keputusan ada di aku, kita mau buat seperti apa kegiatan ini, yang terpenting kita amati dulu situasi dan kondisinya" ucapku lagi.
"Siap" jawab mereka hampir bersamaan.
"Ada lagi yang mau ditanyakan?" Tanyaku lagi.
Mereka semua hanya diam, menandakan tidak Ada yang akan bertanya.
"Baik, kalo tidak ada pertanyaan, Kita tutup briefing singkat malam ini. Sebelum ditutup kita berdoa bersama supaya seluruh kegiatan kita bisa berjalan dengan lancar, aman, sukses tanpa suatu kendala berarti. Berdoa mulai..."
"Selesai.. Ok silahkan yang sedang ada tugas segera di selesaikan yang tidak ada tugas boleh ambil waktu istirahat" ucapku lagi dan mereka membubarkan diri.
Waktu terus berjalan dan malam semakin larut. Kondisi cuaca masih belum berubah menjadi baik, malah semakin memburuk. Hujan yang sejak petang tadi turun kini semakin deras ditambah angin kencang dan kabut tebal. Aku merasa semakin gelisah dengan kondisi ini. Bagaimanapun keamanan dan keselamatan anak-anak adalah hal yang paling utama. Sekitar jam 9 malam aku dengar laporan dari pengelola gunung ini bahwa kondisi di atas lebih parah. Badai cukup besar yang menumbangkan beberapa pohon pinus. Dan mereka menyarankan supaya malam ini jangan melakukan perjalanan ke atas. Karena sangat berbahaya. Melihat kondisi seperti ini, aku pun memutuskan untuk tetap di sini sampai pagi. Tidak lama kemudian aku dengar suara langkah terburu-buru dari samping posko dan sekejap kemudian salah satu panitia masuk ke dalam posko melapor padaku.
"Kak peserta ada yang pingsan"
*Bersambung
"Kalian yang tadi malam gak ikut kegiatan di sekolah bagi tugas sendiri ya, siapa yang mendampingi peserta dan panitia kegiatan. Aku sama temen-temen yang semalam begadang mau istirahat dulu. Jangan diganggu ya.. kecuali darurat" ucapku pada mereka.
"Siap Kak" jawab mereka serempak
Dan akupun mencari tempat ternyaman untuk memejamkan mata sejenak mengistirahatkan tubuh supaya stamina kembali terisi untuk melanjutkan kegiatan yang lebih berat sampai 3 hari ke depan. Begitu juga kawan-kawan lainnya yang semalam ikut begadang juga ikut beristirahat, termasuk Sandi dan Rika.
Sore sekitar jam 4 aku terbangun. Aku lihat di sekitarku anak-anak yang lain sudah tidak ada di ruangan ini, artinya mereka juga sudah bangun, kecuali Sandi yang masih ngiler di sebelahku. Aku pun beranjak mengambil minum lalu membakar rokok. Lama juga aku tertidur sampai terlewat makan siang dan sekarang perutku terasa melilit karena lapar. Aku pun keluar dari ruangan ini mencari anak-anak organisasiku. Sesampainya di teras posko, aku melihat beberapa orang panitia.
"Din, panggilkan Irwan. Aku mau dengar laporan" ucapku pada Adine.
"Siap Kak" jawabnya lalu segera pergi mencari Irwan.
Tak lama, Irwan pun datang sambil berlari kecil menghampiriku di teras posko.
"Kegiatan hari ini simulasi navigasi darat berdasarkan soal dari Kak Arga kemarin. Tadi dipandu sama Kak Majid. Dimulai jam 10.00 selesai jam 15.30 Kak. Tadi sempat jeda sebentar jam 13.00-13.30 untuk ishoma. Sekarang peserta sedang ishoma ashar. Selesai ishoma nanti kegiatannya pendirian bivak untuk tempat mereka istirahat malam ini" ucapnya memberi laporan tanpa aku minta terlebih dahulu.
"Kendala?" Tanyaku
"Tidak ada kendala berarti Kak. Secara teknis semua lancar tanpa kendala. Paling cuma peserta yang masih sedikit bingung dengan navigasi darat. Belum sepenuhnya menguasai mereka Kak" jawab Irwan.
"Ya sudah tidak masalah. Biasa itu. Ya udah dilanjutkan kegiatannya sesuai jadwal. Sekarang carikan aku makan. Dua ya, buat Kak Sandi sekalian itu" ucapku.
"Siap Kak. Saya pamit" jawabnya lalu pergi.
"Ya" jawabku juga.
Usai makan, badanku terasa lebih fit. Ya semua karena asupan energi sudah didapat. Dan sudah cukup beristirahat juga. Akupun keluar menuju ke lokasi camp anak-anak. Ternyata semua bivak peserta sudah berdiri. Bivak merupakan tempat tinggal darurat yang dibuat dengan jas hujan jenis ponco atau peralatan lain yang bisa dimanfaatkan atau dengan bahan dari alam (ranting dan daun atau yang lainnya). Untuk para peserta memang diwajibkan mendirikan bivak untuk tempat istirahat mereka. Bivak yang dibuat dengan benar bisa membantu mengurangi hawa dingin karena angin dan tentunya melindungi dari hujan. Penggunaan bivak dimaksudkan sebagai bagian dari simulasi jungle survival. Karena ketika Kita dihadapkan pada situasi bertahan hidup dengan kondisi perlengkapan yang minim, maka kemampuan membuat bivak akan sangat sangat diperlukan. Sedangkan untuk panitia, senior dan alumni menggunakan tenda dome. Aku lihat di lokasi camp beberapa alumni berkumpul entah membicarakan apa. Yang lainnya berkeliling melihat situasi dan kondisi sambil menikmati pemandangan bentang alam yang sangat indah. Sedangkan para peserta sedang beristirahat di area camp mereka masing-masing. Ada yang sedang memasak, ada yang beres-beres barang-barang mereka, Ada yang duduk-duduk saja dan lain-lain. Aku biarkan saja mereka melakukan yang mau mereka lakukan karena memang sekarang jam istirahat/bebas untuk mereka. Yang penting mereka tetap berada di lokasi camp dan tidak melakukan pelanggaran apapun. Aku pun bergabung dengan kawan-kawan alumni yang lain dan ikut ngobrol santai dengan mereka. Tidak ada obrolan yang teramat penting, paling seputaran aktifitas mereka sehari-hari, seputaran pengalaman mendaki gunung mereka dan lain-lain. Moment kegiatan Diksarjut seperti ini memang sekaligus mereka manfaatkan untuk reuni, karena biasanya mereka bisa bertemu dan berkumpul bersama kawan-kawan seorganisasi ya di moment Diksarjut ini. Hal itu dikarenakan kesibukan mereka sehari-hari menjadi kendala untuk bisa bertemu setiap waktu. Ada yang masih kuliah, ada yang sudah bekerja bahkan berumah tangga. Dan di moment Diksarjut begini biasanya mereka meluangkan waktu mengambil cuti untuk bisa mengikuti kegiatan sekaligus untuk ber-reuni.
Menjelang petang cuaca tiba-tiba berubah dari yang sebelumnya cerah tidak ada tanda-tanda mendung atau hujan, tiba-tiba angin berhembus cukup kencang membawa mendung kelabu menggantung dan tidak lama hujan turun dengan derasnya. Kami yang sedang duduk santai di rerumputan terpaksa berhamburan mencari tempat berteduh. Ada yang masuk ke tenda, ada yang ke posko. Aku pun sama, segera berlari ke posko. Tapi tidak lama aku keluar lagi setelah mengenakan rain coat. Aku menuju ke lokasi camp peserta. Mengamati dan memastikan mereka semua aman. Meskipun hujan deras, tempat mereka berlindung harus tetap di dalam bivak yang mereka dirikan. Jika bivak mereka dirikan dengan tidak benar, maka sudah menjadi resiko akan jadi basah. Aku lihat anak-anak panitia juga berada di lokasi camp peserta untuk mengamati dan menjaga, sekaligus memberikan bantuan kecil untuk mereka para peserta. Di sela aktifitas mereka aku menginstruksikan untuk memindahkan salah satu tenda dome panitia ke dekat lokasi camp peserta, dengan tujuan supaya memudahkan untuk pos pengawasan terhadap peserta. Karena bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya para peserta berada di gunung ini, jadi kami harus memastikan keamanan mereka dan memastikan mereka tidak berbuat sesuatu yang sifatnya teledor. Usai mengkoordinir, mengontrol dan merasa sudah cukup mengendalikan situasi, aku pun kembali ke posko. Di dalam posko ada Sandi, Rika dan beberapa kawan alumni lainnya. Sisanya pada masuk ke tenda.
"Gimana Men?" Tanya Sandi ketika aku melepas rain coat ku.
"Apanya yang gimana?" Tanyaku balik
"Ya kondisinya dodol" ucapnya
"Aman.. udah pada masuk bivak mereka. Udah Ada anak-anak senior yang jaga di sana" jawabku
"Lagian loe bukannya bantuin, malah mojok di sini sama Rika" sambungku
"Abisnya dingin sih.. ya ga Rik" jawabnya sambil menandang Rika dengan gestur berkedip satu mata. Dan Rika langsung menoyor kepala Sandi.
"Hahahahaha.. rasain tuh" ucapku
"Bikin kopi gih sana Rik" sambungku
Tanpa menjawab, Rika pun beranjak ke dapur untuk menyeduh kopi dan aku duduk di sebelah Sandi.
"San keluarin kompor mini, nyalain depan sini buat angetan" ucapku pada Sandi
"Bener kan.. kayaknya rada ga beres ini suasananya men. Siang sampe sore cerah gitu, tau-tau hujan aja gini" ucap Sandi sambil menata kompor gas mini.
"Gw juga ngerasa San. Tapi yakin aja lah ga ada apa-apa. Yang penting kita waspada aja" ucapku
"Eh dasar kerak panci nih kalian berdua. Nyalain kompor begitu kan mendingan tadi sekalian masak air buat dibikin kopi.. mubadzir itu gasnya dibuat nyala doang" ucap Rika ketika masuk ke ruangan sambil membawa 2 gelas kopi.
"Ini buat angetan ya ga mubadzir lah Rik" jawab Sandi
"Nih kopinya Ga" ucap Rika sambil memberikan segelas kopi padaku.
"Satunya buat aku ya Rik" sahut Sandi
"Enak aja.. buat aku lah.. bikin sendiri sana" jawab Rika. Dan Sandi cuma memonyongkan bibirnya.
Sambil menikmati kopi, kami membicarakan tentang situasi terkini sambil membuat rencana cadangan jika kondisinya tidak memungkinkan untuk kegiatan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Aku mengumpulkan seluruh personil senior, alumni dan perwakilan panitia. Sebagian panitia lainnya bertugas menjaga dan mengawasi peserta.
"Nanti kita lihat dulu situasi dan kondisinya. Kalo misal cuaca makin buruk ya terpaksa kita semua menginap di sini malam ini. Yang penting tim logistik sudah jalan duluan tadi sore sebelum hujan. Seharusnya sekarang mereka sudah sampai di lokasi. Semoga tidak ada kendala" ucapku pada mereka.
"Peserta gimana Kak? Apa mereka tetap di bivak?" Tanya Suryo, salah satu panitia.
"Itulah gunanya kalian mengawasi. Jadi kalian ini mengawasi bukan sekedar mengawasi saja. Tapi juga harus tau perkembangan kondisi mereka. Baik kondisi fisik, mental, maupun peralatan. Berikan laporan setiap 30 menit jika kondisinya Aman dan segera laporan jika kondisinya tidak aman. Mengerti?"
"Siap.. paham Kak" jawabnya lagi
"Yang lainnya selalu siaga ya. Bisa jadi malam ini akan menjadi malam yang panjang. Aku butuh tenaga kalian sepenuhnya. Untuk alumni, nanti dibawah komando Sandi ya. Tugas-tugas kalian nanti dari Sandi. Selebihnya nanti keputusan ada di aku, kita mau buat seperti apa kegiatan ini, yang terpenting kita amati dulu situasi dan kondisinya" ucapku lagi.
"Siap" jawab mereka hampir bersamaan.
"Ada lagi yang mau ditanyakan?" Tanyaku lagi.
Mereka semua hanya diam, menandakan tidak Ada yang akan bertanya.
"Baik, kalo tidak ada pertanyaan, Kita tutup briefing singkat malam ini. Sebelum ditutup kita berdoa bersama supaya seluruh kegiatan kita bisa berjalan dengan lancar, aman, sukses tanpa suatu kendala berarti. Berdoa mulai..."
"Selesai.. Ok silahkan yang sedang ada tugas segera di selesaikan yang tidak ada tugas boleh ambil waktu istirahat" ucapku lagi dan mereka membubarkan diri.
Waktu terus berjalan dan malam semakin larut. Kondisi cuaca masih belum berubah menjadi baik, malah semakin memburuk. Hujan yang sejak petang tadi turun kini semakin deras ditambah angin kencang dan kabut tebal. Aku merasa semakin gelisah dengan kondisi ini. Bagaimanapun keamanan dan keselamatan anak-anak adalah hal yang paling utama. Sekitar jam 9 malam aku dengar laporan dari pengelola gunung ini bahwa kondisi di atas lebih parah. Badai cukup besar yang menumbangkan beberapa pohon pinus. Dan mereka menyarankan supaya malam ini jangan melakukan perjalanan ke atas. Karena sangat berbahaya. Melihat kondisi seperti ini, aku pun memutuskan untuk tetap di sini sampai pagi. Tidak lama kemudian aku dengar suara langkah terburu-buru dari samping posko dan sekejap kemudian salah satu panitia masuk ke dalam posko melapor padaku.
"Kak peserta ada yang pingsan"
*Bersambung
0