- Beranda
- Stories from the Heart
Hidoep Itoe Perdjoeangan Mentjapai Tjita Tjita (war story)
...
TS
vigojinggo
Hidoep Itoe Perdjoeangan Mentjapai Tjita Tjita (war story)
Ini adalah cerita epos perjuangan panjang demi mencapai kemerdekaan yang dicita citakan.

" CERITAKAN TENTANG KAMI KEPADA MEREKA DAN SAMPAIKANLAH BAHWA UNTUK HIDUPMU SAAT INI KAMI BERIKAN HIDUP KAMI DI MASA LAMPAU "

" CERITAKAN TENTANG KAMI KEPADA MEREKA DAN SAMPAIKANLAH BAHWA UNTUK HIDUPMU SAAT INI KAMI BERIKAN HIDUP KAMI DI MASA LAMPAU "
Quote:
Past Life Regression
Permoelaan Perdjoeangan
Dai Nippon Berkoeasa chapter I
Dai Nippon Berkoeasa chapter II
Merdeka Ataoe Mati
Soerabaja Membara chapter I
Soerabaja Membara chapter II
Soerabaja Membara chapter III
Soerabaja Membara chapter IV
Soerabaja Membara chapter V
Soerabaja Membara chapter VI
Soerabaja Membara chapter VII
Soerabaja Membara chapter VIII
Soerabaja Membara chapter IX
Mental Disorientation + Stigmata
Belanda Masih Maoe Berkoeasa
Mendjaga Malang chapter I
Mendjaga Malang chapter II
Mendjaga Malang chapter III
Mendjaga Malang chapter IV
Doeri Doeri PKI chapter I
Doeri Doeri PKI chapter II
Gerilja Masoek Hoetan
Penghoedjoeng Perdjoeangan
Quote:
Diubah oleh vigojinggo 10-04-2022 03:50
bobbob107 dan 13 lainnya memberi reputasi
14
44.2K
Kutip
210
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
vigojinggo
#3
Permoelaan Perdjoeangan
Quote:
Darmanto awalnya cuma seorang petani miskin yang tinggal di Madiun , karena ingin merubah nasib akhirnya ia merantau ke Payakumbuh Sumatera Barat untuk menjadi buruh perkebunan sawit milik Belanda , namun ketika sudah berada di sana ia justru mendapati keadaan yang menyedihkan , centeng centeng pengawas kebun selalu memperlakukan para buruh dengan semena mena , selain gaji tak dibayar para buruh yang sebagian besar menderita malaria dipaksa untuk bekerja terus terusan , kalau ada buruh yang lamban bekerja para centeng akan mencambuki tanpa belas kasihan , sementara kalau ada buruh yang mati mayatnya langsung dibuang di sungai.
Pernah juga Darmanto melawan seorang centeng yang sedang mencambuki buruh lain , berbekal ilmu silat yang dipelajari dari perguruan SH ia menghajar centeng itu hingga terluka parah , namun karena aksinya diketahui centeng lain ia langsung diringkus dan dihajar beramai ramai hingga babak belur , nasib yang sama juga dialami buruh buruh lain yang mencoba melawan para centeng.

Pada akhirnya para buruh tidak tahan berlama lama bekerja di situ sehingga mereka merencanakan pemberontakan dengan cara mengeroyok para centeng dan membunuhnya satu persatu , setelah itu para buruh melarikan diri dari kebun sawit dan bersembunyi di desa terdekat , namun meneer pemilik kebun sawit telah mengetahui kalau centeng centengnya mati dibunuh sehingga dikerahkan pasukan KNIL untuk menangkap para buruh yang bersembunyi di desa , beruntung Darmanto dan beberapa buruh lain berhasil melarikan diri ke daerah terpencil yang berada di sekitar lembah Harau , disana mereka berguru pada seorang datuk yang merupakan guru besar silek tuo harimau Minangkabau , lama kelamaan kemampuan silat Darmanto jadi semakin terasah hingga ia menguasai beragam jurus yang mematikan , tak cuma sekedar jurus tangan kosong tapi juga ada jurus yang menggunakan senjata tajam kerambik , ketika sudah khatam berguru sang datuk menyuruh Darmanto dan teman temannya untuk ikut serta dalam perjuangan melawan penjajah.

Darmanto dan teman temannya berjuang bersama para milisi yang biasa bergerilya dari hutan ke hutan , sasaran mereka adalah truk pengangkut amunisi dan logistik milik tentara KNIL yang biasanya hendak menuju markas markas yang berada di pedesaan , aksi demi aksi selalu berhasil dilakukan namun pada suatu waktu para milisi dijebak oleh seorang pengkhianat yang mengatakan tempat persembunyian mereka kepada pasukan KNIL , tak lama setelah itu para milisi kocar kacir diserbu pasukan KNIL yang berjumlah banyak dan bersenjata lengkap , untungnya Darmanto dan sejumlah milisi berhasil melarikan diri sementara yang lainnya tewas atau dijatuhi hukuman gantung.



Pada tahun 1939 Darmanto yang usianya hampir menginjak 20 tahun akhirnya berpindah ke Palembang , di kota ini ia bertemu dengan seorang perempuan Minang yang kemudian langsung dinikahinya , sementara untuk menyambung hidup Darmanto terpaksa menjadi kuli panggul di pelabuhan yang upahnya sangat sedikit dan tidak sebanding dengan beratnya pekerjaan , setiap hari ia harus memanggul karung karung berisi biji kopi yang beratnya mencapai puluhan kilo , kalau ada kuli panggul yang kelelahan dan menjatuhkan karung para mandor akan langsung menendangi sambil memaki maki , kesengsaraan seperti itu terpaksa dijalani selama berbulan bulan sebelum akhirnya Darmanto merasa tidak tahan dan menikam seorang mandor hingga mati , kejadian ini menyebabkan dirinya dijebloskan ke penjara dan harus menerima penderitaan yang lebih pahit , tiap hari para sipir selalu memperlakukannya dengan kejam , belum lagi kepala penjara kerap mengadakan pertarungan antar tahanan sebagai semacam hiburan atau bahan taruhan bagi orang orang Belanda yang bekerja di penjara itu , tak jarang pertarungan antar tahanan berakhir dengan luka luka serius yang tak pernah diobati , lebih buruknya lagi tahanan yang kalah bertarung akan direndam dalam kubangan besar yang berisi tai.

Dalam kondisi yang sudah putus asa Darmanto tetap berusaha menjaga harapan , ia meyakini ramalan Jayabaya yang mengatakan bahwa orang orang kate akan mengusir orang orang berkulit kuning yang menguasai Nusantara , ramalan itu oleh sebagian besar orang Jawa diyakini akan segera terjadi tak lama lagi.
Pernah juga Darmanto melawan seorang centeng yang sedang mencambuki buruh lain , berbekal ilmu silat yang dipelajari dari perguruan SH ia menghajar centeng itu hingga terluka parah , namun karena aksinya diketahui centeng lain ia langsung diringkus dan dihajar beramai ramai hingga babak belur , nasib yang sama juga dialami buruh buruh lain yang mencoba melawan para centeng.

Pada akhirnya para buruh tidak tahan berlama lama bekerja di situ sehingga mereka merencanakan pemberontakan dengan cara mengeroyok para centeng dan membunuhnya satu persatu , setelah itu para buruh melarikan diri dari kebun sawit dan bersembunyi di desa terdekat , namun meneer pemilik kebun sawit telah mengetahui kalau centeng centengnya mati dibunuh sehingga dikerahkan pasukan KNIL untuk menangkap para buruh yang bersembunyi di desa , beruntung Darmanto dan beberapa buruh lain berhasil melarikan diri ke daerah terpencil yang berada di sekitar lembah Harau , disana mereka berguru pada seorang datuk yang merupakan guru besar silek tuo harimau Minangkabau , lama kelamaan kemampuan silat Darmanto jadi semakin terasah hingga ia menguasai beragam jurus yang mematikan , tak cuma sekedar jurus tangan kosong tapi juga ada jurus yang menggunakan senjata tajam kerambik , ketika sudah khatam berguru sang datuk menyuruh Darmanto dan teman temannya untuk ikut serta dalam perjuangan melawan penjajah.

Darmanto dan teman temannya berjuang bersama para milisi yang biasa bergerilya dari hutan ke hutan , sasaran mereka adalah truk pengangkut amunisi dan logistik milik tentara KNIL yang biasanya hendak menuju markas markas yang berada di pedesaan , aksi demi aksi selalu berhasil dilakukan namun pada suatu waktu para milisi dijebak oleh seorang pengkhianat yang mengatakan tempat persembunyian mereka kepada pasukan KNIL , tak lama setelah itu para milisi kocar kacir diserbu pasukan KNIL yang berjumlah banyak dan bersenjata lengkap , untungnya Darmanto dan sejumlah milisi berhasil melarikan diri sementara yang lainnya tewas atau dijatuhi hukuman gantung.



Pada tahun 1939 Darmanto yang usianya hampir menginjak 20 tahun akhirnya berpindah ke Palembang , di kota ini ia bertemu dengan seorang perempuan Minang yang kemudian langsung dinikahinya , sementara untuk menyambung hidup Darmanto terpaksa menjadi kuli panggul di pelabuhan yang upahnya sangat sedikit dan tidak sebanding dengan beratnya pekerjaan , setiap hari ia harus memanggul karung karung berisi biji kopi yang beratnya mencapai puluhan kilo , kalau ada kuli panggul yang kelelahan dan menjatuhkan karung para mandor akan langsung menendangi sambil memaki maki , kesengsaraan seperti itu terpaksa dijalani selama berbulan bulan sebelum akhirnya Darmanto merasa tidak tahan dan menikam seorang mandor hingga mati , kejadian ini menyebabkan dirinya dijebloskan ke penjara dan harus menerima penderitaan yang lebih pahit , tiap hari para sipir selalu memperlakukannya dengan kejam , belum lagi kepala penjara kerap mengadakan pertarungan antar tahanan sebagai semacam hiburan atau bahan taruhan bagi orang orang Belanda yang bekerja di penjara itu , tak jarang pertarungan antar tahanan berakhir dengan luka luka serius yang tak pernah diobati , lebih buruknya lagi tahanan yang kalah bertarung akan direndam dalam kubangan besar yang berisi tai.

Dalam kondisi yang sudah putus asa Darmanto tetap berusaha menjaga harapan , ia meyakini ramalan Jayabaya yang mengatakan bahwa orang orang kate akan mengusir orang orang berkulit kuning yang menguasai Nusantara , ramalan itu oleh sebagian besar orang Jawa diyakini akan segera terjadi tak lama lagi.
Diubah oleh vigojinggo 06-09-2019 20:37
bobbob107 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Kutip
Balas