- Beranda
- Stories from the Heart
Sebuah Kisah Jomblo Ngesot (Komedi, Cinta)
...
TS
twnty1guns
Sebuah Kisah Jomblo Ngesot (Komedi, Cinta)
Halo gan n sist. Perkenalkan ane member baru di Kaskus. Jadi, di sini ane mau menyalurkan hobi ane yaitu menulis cerita. Sekaligus juga ane pengen berbagi keresahan-keresahan ane selama ini. Yang ane tulis dalam bentuk cerita yang dibuat sendiri. Dan ane juga pengen mendapat penilaian dari agan n sist soal cerita yang ane buat.
Ceritanya tentang seorang cowok bego yang pengen punya pacar, tapi gak tau caranya gimana, dia juga selalu disesatkan sama saran temennya sendiri. Karena ane baru sekali buat thread di kaskus, maaf kalo masih berantakan. Nanti ane pelajarin lagi hehehe
Semoga agan n sist suka.... Selamat membaca!
Ceritanya tentang seorang cowok bego yang pengen punya pacar, tapi gak tau caranya gimana, dia juga selalu disesatkan sama saran temennya sendiri. Karena ane baru sekali buat thread di kaskus, maaf kalo masih berantakan. Nanti ane pelajarin lagi hehehe

Semoga agan n sist suka.... Selamat membaca!
Spoiler for Index:
Diubah oleh twnty1guns 04-08-2018 17:42
junti27 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
12.9K
76
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
twnty1guns
#48
BAB 2 - Kepintaran Yang Tak Selevel - Part 2
“Nilai ulangan gue jelek, padahal gue nyontek sama lo!” gue langsung to the point.
"Yaampun! Lo nyontek sama gue?" Karin menepok jidatnya, saking terkejutnya. Gue merespon dengan anggukan. "Kita kan beda paket!"
Gue membatu, lalu ngejauh dari Karin. Sepulang sekolah gue sama yang lain ngumpul di Kantin. Seperti biasa, ngomongin cewek. Gue duduk bersama Edo, Galih, Dodi, sedangkan Jimi pulang duluan karena dijemput adiknya yang duluan bisa naik motor.
"Tugas lo gimana?" Galih sengaja ngingetin gue, padahal dikumpul minggu depan.
"Jangan ngomongin tugas lah, bete gue," gue menjawab malas-malasan.
"Eh, tadi Mila yang diomongin di kelas itu anak 11 ips 1 kan?" Dodi tiba-tiba membelokkan topik pembicaraan ke cewek.
Galih mengangguk. Sedangkan gue cuma menyimak aja, penasaran kenapa Dodi bisa ngomongin cewek tiba-tiba. "Udah pinter, cantik, enak lagi," kata Dodi, mulai kumat penyakit cabulnya.
Galih menoleh ke gue. "Mo, cowok kayak lo butuh cewek pinter, Lo deketin dia, siapa tau lo bisa ikutan pinter," ujar Galih.
Gue menggelengkan kepala, tanda gak mau. Udah kapok cinta-cintaan lagi. "Coba aja dulu, dia baik kok." Galih terus berupaya membujuk gue. “kalo gak percaya, besok ikut gue beli nasi di kelas 11 ips 1.” lanjutnya.
Gue mengiyakan aja. Besoknya pas istirahat gue ikutan Galih beli nasi di salah satu penjual nasi terpandang di sekolah gue. Penjualnya nasi tersebut anak kelas 11 ips 1, bernama Bambang. Kebetulan di kelas 11 ips 1 lagi sepi, karena banyak yang ke Kantin. Di depan gue ada Galih yang menuntun jalan menuju Bambang sang penjual nasi. Langkah Galih berhenti tepat di depan cowok kurus, berambut keriting.
“Bro, beli nasinya dua ya,” Galih berkata pada Bambang.
Bambang mengambil dua nasi bungkus dari kresek merah, lalu menaruhnya di atas meja. “Berapa?” tanya Galih, mengeluarkan dompetnya.
“Sepuluh ribu keduanya. Kalo lo mau semua informasi Mila, jadinya 20 ribu.” jawab Bambang.
Gue dan Galih kaget. Galih mungkin kaget karena Bambang bisa tiba-tiba nyebut Mila. Sedangkan gue kaget, karena Galih mau bayarin gue nasi. “Tau dari mana lo?” tanya Galih.
Bambang senderan di kursinya. “Setiap cowok yang mau deketin Mila, pasti nanya ke gue. Saking banyaknya cowok yang nanya informasi tentang dia, gue mikir. Kenapa gak gue jadiin bisnis aja? Jadi, kalo kalian mau tau, bayar dulu 10 ribu,” ujar Bambang.
“Kampret! Dasar otak pedagang!” Galih mengumpat kesal, lalu menoleh ke gue. “Kasih aja uangnya, lo mau punya pacar gak?”
Entah kenapa, mendengar kalimat, ‘lo mau punya pacar ga?’ bikin gue jadi luluh. Jiwa kelembutan dalam diri gue seakan keluar semua. Gak perlu nunggu lama, tangan gue merogoh saku celana, ngeluarin duit 20 ribu. Lalu gue ngasih uang tersebut ke Bambang. Setelah menerima uang, giliran Bambang ngasih sebuah kertas penuh tulisan.
“Itu semua ada informasi Mila. Mulai dari contactnya, apa yang dia suka, hobi, pokoknya lengkap deh,” Bambang berkata mantap.
Gue tersenyum, sedangkan Galih keliatan sebel. ”Lo tuh sebenernya pedagang nasi atau pedagang manusia sih?”
“Kalo nasi gak laku, yaudah gue dagang manusia aja,” jawab Bambang dengan santai.
Gue ketawa, Galih langsung ngajak gue cabut. Pas jalan di depan pintu kelas, dari arah depan ada seorang cewek memakai kacamata bulet, rambutnya lurus, dan cantik. Satu tangannya memegang plastic es teh, satunya lagi megang buku. Jangan-jangan dia Mila yang sering dibilang banyak orang? Ketika berpapasan, gue jadi salah tingkah.
Di dalam kertas yang dikasih Bambang, tertera segala informasi tentang Mila. Mulai dari makanan favoritnya, hobinya, sampai jumlah jendela di rumahnya. Ini pedagang nasi atau maling sih sebenernya? Gue seneng banget karena langkah gue dalam pdkt dipermudah dengan segala macam informasi Mila. Kesenangan itu gak bertahan lama, ketika gue menyadari kalo tadi gue bayarin nasi Galih.
Sepulang sekolah, gue dan temen-temen yang lain membicarakan soal Mila. Tempat nongkrong dan mengatur strategi bukan lagi di Kantin. Kata Galih, banyak cowok-cowok lain yang juga deketin Mila. Biar strategi gak kebaca lawan, juga biar gak ditiru lawan, Rumah gue pun dijadikan tempat untuk ngumpul.
Kini gue, Galih, dan Edo, duduk di sofa rumah gue. “Mau minum gak?” gue bertanya sama yang lain. Yang lain mengangguk. “Mbak Mina, tolong bikinin minum 3 ya!” gue berteriak, biar kedengeran.
“Bentar mas, masih upload foto,” jawab mbak Mina, di dapur.
“Mana kertas tadi? Biar gue liat,” ucap Galih.
Gue ngeluarin kertas tadi, lalu menaruhnya di atas meja. Biar diteliti oleh Galih, dia emang pakar dalam urusan beginian. Sebelahnya ada Edo, yang kegunaannya… gak ada. Perlahan Galih mengamati kertas tersebut, lalu dia memegang dagunya. “Sekarang lo chat dia! Tanya tentang materi pelajaran apa aja!” Galih menyuruh gue untuk melaksanakan perintahnya.
Lalu gue ngambil hape, mengetikkan nama akun Mila yang tertera di kertas. Setelah ketemu, seperti biasa gue bingung sendiri. “Ngomong apa nih?” gue meminta saran Galih.
"Yaampun! Lo nyontek sama gue?" Karin menepok jidatnya, saking terkejutnya. Gue merespon dengan anggukan. "Kita kan beda paket!"
Gue membatu, lalu ngejauh dari Karin. Sepulang sekolah gue sama yang lain ngumpul di Kantin. Seperti biasa, ngomongin cewek. Gue duduk bersama Edo, Galih, Dodi, sedangkan Jimi pulang duluan karena dijemput adiknya yang duluan bisa naik motor.
"Tugas lo gimana?" Galih sengaja ngingetin gue, padahal dikumpul minggu depan.
"Jangan ngomongin tugas lah, bete gue," gue menjawab malas-malasan.
"Eh, tadi Mila yang diomongin di kelas itu anak 11 ips 1 kan?" Dodi tiba-tiba membelokkan topik pembicaraan ke cewek.
Galih mengangguk. Sedangkan gue cuma menyimak aja, penasaran kenapa Dodi bisa ngomongin cewek tiba-tiba. "Udah pinter, cantik, enak lagi," kata Dodi, mulai kumat penyakit cabulnya.
Galih menoleh ke gue. "Mo, cowok kayak lo butuh cewek pinter, Lo deketin dia, siapa tau lo bisa ikutan pinter," ujar Galih.
Gue menggelengkan kepala, tanda gak mau. Udah kapok cinta-cintaan lagi. "Coba aja dulu, dia baik kok." Galih terus berupaya membujuk gue. “kalo gak percaya, besok ikut gue beli nasi di kelas 11 ips 1.” lanjutnya.
Gue mengiyakan aja. Besoknya pas istirahat gue ikutan Galih beli nasi di salah satu penjual nasi terpandang di sekolah gue. Penjualnya nasi tersebut anak kelas 11 ips 1, bernama Bambang. Kebetulan di kelas 11 ips 1 lagi sepi, karena banyak yang ke Kantin. Di depan gue ada Galih yang menuntun jalan menuju Bambang sang penjual nasi. Langkah Galih berhenti tepat di depan cowok kurus, berambut keriting.
“Bro, beli nasinya dua ya,” Galih berkata pada Bambang.
Bambang mengambil dua nasi bungkus dari kresek merah, lalu menaruhnya di atas meja. “Berapa?” tanya Galih, mengeluarkan dompetnya.
“Sepuluh ribu keduanya. Kalo lo mau semua informasi Mila, jadinya 20 ribu.” jawab Bambang.
Gue dan Galih kaget. Galih mungkin kaget karena Bambang bisa tiba-tiba nyebut Mila. Sedangkan gue kaget, karena Galih mau bayarin gue nasi. “Tau dari mana lo?” tanya Galih.
Bambang senderan di kursinya. “Setiap cowok yang mau deketin Mila, pasti nanya ke gue. Saking banyaknya cowok yang nanya informasi tentang dia, gue mikir. Kenapa gak gue jadiin bisnis aja? Jadi, kalo kalian mau tau, bayar dulu 10 ribu,” ujar Bambang.
“Kampret! Dasar otak pedagang!” Galih mengumpat kesal, lalu menoleh ke gue. “Kasih aja uangnya, lo mau punya pacar gak?”
Entah kenapa, mendengar kalimat, ‘lo mau punya pacar ga?’ bikin gue jadi luluh. Jiwa kelembutan dalam diri gue seakan keluar semua. Gak perlu nunggu lama, tangan gue merogoh saku celana, ngeluarin duit 20 ribu. Lalu gue ngasih uang tersebut ke Bambang. Setelah menerima uang, giliran Bambang ngasih sebuah kertas penuh tulisan.
“Itu semua ada informasi Mila. Mulai dari contactnya, apa yang dia suka, hobi, pokoknya lengkap deh,” Bambang berkata mantap.
Gue tersenyum, sedangkan Galih keliatan sebel. ”Lo tuh sebenernya pedagang nasi atau pedagang manusia sih?”
“Kalo nasi gak laku, yaudah gue dagang manusia aja,” jawab Bambang dengan santai.
Gue ketawa, Galih langsung ngajak gue cabut. Pas jalan di depan pintu kelas, dari arah depan ada seorang cewek memakai kacamata bulet, rambutnya lurus, dan cantik. Satu tangannya memegang plastic es teh, satunya lagi megang buku. Jangan-jangan dia Mila yang sering dibilang banyak orang? Ketika berpapasan, gue jadi salah tingkah.
Di dalam kertas yang dikasih Bambang, tertera segala informasi tentang Mila. Mulai dari makanan favoritnya, hobinya, sampai jumlah jendela di rumahnya. Ini pedagang nasi atau maling sih sebenernya? Gue seneng banget karena langkah gue dalam pdkt dipermudah dengan segala macam informasi Mila. Kesenangan itu gak bertahan lama, ketika gue menyadari kalo tadi gue bayarin nasi Galih.
Sepulang sekolah, gue dan temen-temen yang lain membicarakan soal Mila. Tempat nongkrong dan mengatur strategi bukan lagi di Kantin. Kata Galih, banyak cowok-cowok lain yang juga deketin Mila. Biar strategi gak kebaca lawan, juga biar gak ditiru lawan, Rumah gue pun dijadikan tempat untuk ngumpul.
Kini gue, Galih, dan Edo, duduk di sofa rumah gue. “Mau minum gak?” gue bertanya sama yang lain. Yang lain mengangguk. “Mbak Mina, tolong bikinin minum 3 ya!” gue berteriak, biar kedengeran.
“Bentar mas, masih upload foto,” jawab mbak Mina, di dapur.
“Mana kertas tadi? Biar gue liat,” ucap Galih.
Gue ngeluarin kertas tadi, lalu menaruhnya di atas meja. Biar diteliti oleh Galih, dia emang pakar dalam urusan beginian. Sebelahnya ada Edo, yang kegunaannya… gak ada. Perlahan Galih mengamati kertas tersebut, lalu dia memegang dagunya. “Sekarang lo chat dia! Tanya tentang materi pelajaran apa aja!” Galih menyuruh gue untuk melaksanakan perintahnya.
Lalu gue ngambil hape, mengetikkan nama akun Mila yang tertera di kertas. Setelah ketemu, seperti biasa gue bingung sendiri. “Ngomong apa nih?” gue meminta saran Galih.
0