- Beranda
- Stories from the Heart
Berbeda Agama
...
TS
natgeas2
Berbeda Agama
~Berbeda Agama~
Saya cuma seorang anak penjual pastel yang mencoba mencari peruntungan untuk mengubah nasib dimulai dengan kuliah di Universitas Gedhe Mbayare, salah satu kampus tertua di yogyakarta bahkan di indonesia. Langkah yang cukup berani menurut saya, karena bagi seorang anak penjual pastel yang penghasilannya hanya cukup untuk sehari-hari, tidak sedikit yang mencibir bahkan memandang rendah bahwa saya dan keluarga tidak akan mampu menyelesaikan kuliah saya.
Udah segitu aja, karena saya bingung mau bikin prolog apa, ga pernah bikin prolog, ngikutin thread lain bagus-bagus prolognya, tapi saya ga bisa ternyata
Udah segitu aja, karena saya bingung mau bikin prolog apa, ga pernah bikin prolog, ngikutin thread lain bagus-bagus prolognya, tapi saya ga bisa ternyata

Daftar Karakter :

Arjuna
Karakter saya, ya bisa dilihat potongan saya seperti gambar diatas, tinggi, tegap, kepala cepak. ya walaupun gak mirip-mirip banget sama pak miller, tapi karena banyak orang yang bilang saya mirip pak miller ini, maka saya pasang saja foto pak miller sebagai representasi diri saya.

Ibu&Ayah
Ibu saya bernamaSri Hartuti, ayah saya bernama lengkap Hendrikus Leon. ibu ras jawa, ayah ras indonesia timur. mereka berbeda agama, walaupun pas nikah ayah pindah menjadi muslim, tak beberapa lama setelah menikah ayah kembali ke keyakinan asalnya. Ayah saya dulunya pengusaha kontraktor di bidang maintenance elektrikal, namun saat ini nganggur. ibu saya penjual pastel yang dititipkan di setiap warung sarapan pagi disekitar rumah.
Adik-Adik
Saya punya dua adik, satu bernama Desi, perempuan usianya lebih muda dari saya yang lebih mirip ayah saya warna kulitnya sehingga sering dipanggil Rihanna, dan satu lagi Henrysepuluh tahun lebih muda dari saya, walau secara kasat lebih mirip ayah, namun warna kulitnya mengambil warna kulit ibu.

Annisa
Perempuan idaman saya, berjilbab walaupun menurut sebagian manhaj tidak syar'i jilbabnya. wajahnya teduh, adem. siapapun yang memandangnya pasti akan jatuh cinta dengan wajah sendu-sendunya. pipinya bisa sangat merah jika tertawa dan malu.

Ibu dan Ayah Annisa
Ayahnya bernama santoso, seorang pengacara yang cukup terkenal di jakarta. ibunya, kita panggil saja ibu. ayahnya merupakan teman baik ayah saya dan ibunya merupakan teman satu kampung masa kecil ibu saya.

Dhanin
Walaupun wajahnya agak oriental, namun dhanin bukan lah ras china atau keturunan. dia lahir bandung, besar dijakarta. ayahnya seorang kristen yang taat dan seorang pengusaha besar yang bergerak dibidang properti dan perkebunan sawit. ibunya meninggal karena kecelakaan tragis di satu ruas jalan tol saat mengendarai mobil saat dhanin masih kecil.
Ayah Dhanin
Telah dijelaskan sebelumnya. oh iya tambahan, walaupun pengusaha yang bergerak dibidang properti, sebenarnya beliau adalah sarjana kedokteran hewan. keahlian bisnisnya didapat dari orang tuanya yaitu kakek dhanin yang berasal dari sumatra barat yang mempunyai bisnis kelapa sawit dan neneknya aseli bandung pengusaha properti yang masih merupakan keturunan raden patah.

Felisiana
Seorang wanita aseli solo. wajahnya khas wajah aseli cantiknya seorang wanita jawa. siapapun yang didekatnya pasti jatuh cinta dibuatnya. ayah dan ibunya adalah seniman internasional dibidang seni lukis dan fashion designer. entah mengapa dia berkuliah dijurusan teknik tidak mengikuti kedua orang tuanya.

Fauziyyah
Perempuan cantik berjilbab syar'i, walaupun kelakuannya agak sedikit maskulin. perbedaan keyakinan tidak menghalanginya menjadi "Teman baik" felisiana.
Yusuf
Teman felisiana dari SMA dulu, agak kemayu walaupun laki-laki. namun cukup bersih dan rapih dalam segala hal terutama perawatan wajah.

Annchi / Angchi
Seorang wanita chinese yang energik. salah satu anggota resimen mahasiswa kampus. kakeknya seorang pedagang terkenal dikawasan malioboro dan saya bekerja paruh waktu disana. oh iya dia menyukai salah satu teman kos saya.

Valerie
Agamis, professional, Pekerja Keras dan cantik, kombinasi sempurna dari seorang wanita idaman untuk pria yang mencari seorang istri, minus, menurut saya ya, walaupun sebenarnya bukan poin minus, pandangan islam dan politiknya bisa dibilang garis keras (PKS)
Band Saya

Ini adalah band saya yang beranggotakan enam orang,
Intan: Vokalis, badannya tinggi putih, rambutnya agak ikal dibawah dan panjang terurai, suaranya kayak mulan jameela.
Galih : Gitaris yang skillnya setingkat paul gilbert. mantap lah pokoknya ni orang.
Adi: Tambun, gemuk berkacamata, gak ganteng, tapi dialah otak dibalik semua lagu band kami.
Tanco/Ardi: salah satu personil paling tampan, putih ganteng, cuma sayang agak telmi.
Arrie: Drummer bermuka arab, walau aselinya dari sumatra utara medan.

Temen-temen Kos
Putra : Jawa timur, kalo ngomong kaya ngajak berantem bagi yang baru kenal, tapi sebetulnya baik.
Viki : Bocah gamers dari tangerang. pinter boy.
Mas Peri : Jenius. namanya memang benar2 hanya PERI, di KTPnya juga begitu, chinese.
Didit
Ternyata saudaranya fauziah, ga ada yang spesial

Myrna
Saudara kembarnya indra, campuran sunda banjarmasin, wajahnya ayu dan sangat putih, putihnya putih bening ya, bukan kaleng-kaleng apalagi pake pemutih yang bikin muka kaya zombi, macem orang-orang kota lah, dia nih cantiknya 100% natural.
Indra
Saudara kembarnya myrna, wajahnya mirip, ini laki-laki tapi cantik kalo saya mau bilangg, bersih, pinter, kutu buku, tapi doyan mabok, aduh susah dah dibilanginnya

Ciput
Si gingsul yang keibuan, pengertian dan penengah konflik yang handal
Nanti saya update lagi kalau ada tokoh-tokoh baru yang masuk dalam cerita, hehehe.. sementara itu dulu. mohon maaf jika ada kesalahan link pada index yang saya buat, karena baru dalam perapihan. biar enak dibaca awal-awalnya seperti thread2 yang lain hehehe...

Quote:
Diubah oleh natgeas2 03-01-2020 21:28
8
105.9K
694
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natgeas2
#160
TEMPAT SAMPAH
"oke, sekarang maunya pada gimana nih?" tanya saya kepada enam orang yang tiba-tiba menyerang kami.
mereka tidak bergeming sedikit pun. kemudian mereka membagi formasi menjadi tiga orang mengepung saya, dan tiga orang mengepung annchi. tanpa pikir panjang saya langsung mendekat kearah annchi dan berusaha mendorong orang-2orang yang mengepung annchi.
"LARI CHI" teriak saya sambil mendorong beberapa orang yang mencoba menyerang annchi.
Annchi dan saya berlari menuruni tangga sebuah gang di bantaran kali code melewati gang-gang sempit untuk menghindari kejaran enam orang tadi. ternyata mereka tetap mengejar kami, walau hanya tiga orang yang membuntuti kami. beberapa orang yang kami lewati sepanjang kali code tidak ada yang bergeming melihat kami sedang dikejar-kejar.
"Belok kanan naik keatas" perintah saya sambil menunjuk gang di sebelah kanan dimana ada tangga naik lumayan tinggi untuk menuju jalan raya.
kami bersusah payah menaiki tangga itu, rupanya orang yang mengejar kami tidak rajin berolahraga sepertinya, mereka berhenti di tengah tangga seperti keleleahan sementara kami berhasil melarikan diri dari mereka. di seppanjang jalan raya yang mulai sepi, kami menyusuri jalan yang siangnya merupakan pusat buku murah menuju pospolisi diperempatan bank BTN.
sialnya, di ujung jalan, tiga blok sebelum sebelum pos polisi, tiga motor ternyata telah menunggu kami. dibelakang kami, 3 orang juga sedang berlari mengejar ke arah kami. di sebelah kiri kami ada sebuah pagar yang mengarah ke rumah sakit mata dr.yap yang tinggi. saya merapatkan tangan saya kemudian annchi menginjak tangan dan melompat ke arah pagar. diatas pagar dia menarik saya agar bisa ikut naik ke atas pagar.
Setelahnya, kami berlari menyusuri lorong rumah sakit mata peninggalan belanda ini. berharap memang rumah sakit sudah terkunci dan tidak diikuti lagi. di ujung lorong kami melihat sepertinya petugas keamanan rumah sakit sedang berpatroli.
"pak tolong pak," ucap saya meminta tolong.
"kalian ngapain disini?" ujar petugas kemanan itu dengan nada marah.
"kami dikejar-kejar klitih pak," ujar annchi.
"klitih dimana, kalian masuk dari mana?" tanya petugas itu balik
kemudian tangan kami digenggam dan kami ditarik ke arah keluar rumah sakit.
"pak tolong pak, biarkan kami disini dulu," ucap saya memohon.
"udah cepet-cepet keluar" ucapnya,
ternyata didepan pintu keluar, petugas keamanan yang lain sedang menunggu di pos pintu masuk.
"bawa anak-anak ini keluar," ucap petugas kemanan yang menyeret kami,"saya mau cek siapa tau masih ada orang didalam".
kami pun diserahkan ke petugas keamanan yang satunya dan digiring kedalam pos. di pos kami ditanya-tanya kenapa bisa berada di lingkungan rumah sakit malam hari. kami menjelaskan semua kepada petugas keamanan itu, namun tampaknya dia kurang yakin dengan keterangan kami dan segera menelepon polisi.
Akhirnya kami dijemput polisi dan digelandang ke polres kotabaru dengan mobil sedan patroli milik polisi yang tak lama kemudian tiba. di pos kami disuruh duduk di depan meja dan sebuah mesin tik besar dengan seorang polisi yang sudah siap memnggunakannya.
"ini tolong di urus," ujar salah seorang polisi yang membawa kami.
"ceklek," loh juna?" tanya seorang polisi yang baru saja masuk pintu.
"eh om," rupanya itu omnya felisiana yang waktu itu menolong saya saat dikeroyok pengawal ayahnya annchi.
"ada apa ini?" tanya omnya felisiana kepada polisi yang sedang mengintrograsi kami.
"ini ndan, 2 orang ini tengah malam menyelinap di rumah sakit mata dr.yap"
"ngapain kalian memangnya?" tanya omnya felisiana.
saya pun menjelaskan dengan rinci apa yang terjadi dan kenapa kami bisa sampai menyelinap malam-malam di rumah sakit itu. kali ini sepertinya omnyaa felisiana percaya dengan cerita kami. dia pun menyuruh membatalkan pemeriksaan kami dan menyuruh salah seorang polisi untuk mengantar kami dengan mobil patroli.
"tapi om, motor teman saya ini masih ada di jembatan kali code,"
"yaudah biar om yang urus"
kami pun diantar masuk kedalam mobil patroli yang dikemudikan dua orang polisi yang duduk didepan. suara radio patroli mengiringi perjalanan kami meniggalkan polres kotabaru menuju arah kampus UGM. akhirnya, saya yang diantarkan duluan ke kos saya dan kemudian mobil patroli itu berlanjut mengantar annchi, tak beberapa lama, annchi menigirimi sms pada saya bahwa ia sudah sampai rumahnya.
***
"Jun..! Jun...!!" Brak-brak-brak, suara pintu saya di gedor dengan keras.
"iya put ada apa?" tanya saya sambil mengucek-ngucek mata karena masih ngantuk.
"Semalem kan kata kamu annchi sudah sampai rumah ya?"
"iya, emang kenapa?"
"aku telepon dari semalam ga diangkat, pagi ini aku samperin ke rumahnya pun, ga ada, kata kakeknya abis nganter kamu belom pulang dia?"
"kerumah orang tuanya udah belom? semalem ga jelas dia diantar kemana, rumah kakeknya apa rumah orang tuanya," jawab saya sambil menguap."kenapa sih?"
"gue khawatir jun!"
"rileks pun, sebentar gue ganti baju, kita ke rumah orang tuanya"
saya langsung ganti baju dan kita langsung cus kerumah annchi dikawasan belakang pasar bringharjo. udara dingin dan kabut masih menyelimuti pagi ini di jogja karena memang sedang musim kemarau. karena baru tidur sebentar, badan saya masih berasa greges saat di bonceng putra.
akhirnya kami tiba di rumah annchi, sebuah rumah berbentuk ruko dengan cat oranye bertingkat tiga. putra langsung turun dari motor dan mengetok-ngetok pintu.
Taak beberapa lama, ayahnya annchi keluar dengan tampang agak tidak mengenakan,"kalian ngapain disini?"
"maaf om, saya mau tanya annchinya ada?"
bapaknya annchi menggumam ga jelas kelihatannya sambil marah-marah dengan bahasa manddarin. saya tidak begitu mengerti apa yang diucapkannya, namun sepertinya dia mengatai kami dengan sebutan tiko yang terdengar jelas berkali-kali oleh saya. mungkin dia masih kesal digelandang ke kantor polisi dan sempat mendekam selama beberapa jam dibalik jeruji besi karena memukuli saya. hehehe mampus!
"kalian itu pengganggu, hama" ujarnya
"saya cuma mau tanya om, annchinya ada?"
"saya sudah bilang sama annchi agar tidak menemui kamu lagi, apa annchi tidak pernah bilang?"
DEG, yah, sama aja lu put kaya gue, hehehe. aduh kasian juga, saya lihat putra langsung terdiam dan menunduk kebawah. di mengambil langkah mundur menuruni tangga didepan pintu ruko dengan langkah lemas. bapaknya annchi masih marah-marah dengan bahasa yang tak jelas karrena waktu itu belum populer yang namanya google translate.
putra sesaat membalikan badannya, "saya cuma mau tanya om, apakah annchi ada dirumah dan baik-baik saja,"
"kalau anak saya tidak dalam keadaan baik, saya pasti tidak ada disini"
"udah put, ayo pulang" ajak saya sambil merangkul putra, "selow, jangan diambil pusing"
perjalanan pulang, saya yang mengendarai motor. saya rasa putra sedang memikirkan sesuatu. dia nampak diam dan melamun disepanjang jalan. saat sampai kos pun dia masih diam dan laangsung berbaring di kamarnya.
"lu gapapa put?"
"gapapa jun"
Viki dan mas peri yang baru terbangun langsung menanyai saya perihal kejadian yang mereka lewatkan. setelah saya jelaskan, mereka langsung bubar jalan untuk bersiap kuliah. bukan bermaksud tidak berempati, tapi lebih kepada membiarkan putra untuk tenang dan berfikir jernih dulu sendiri, ketimbang kita menjadi motivator andalan untuk menghibur hatinya. kami rasa, kami sudah dewasa dan butuh waktu untuk berfikir jernih tanpa ada embel-embel penyemangat.
Drrrtttt
ternyata sms dari annchi
"sampaikan salam pada putra, maaf tadi aya sayah marah-marah, saya tidak berani sms dia langsung"
"kamu ada dirumah tadi"
"iya, sampaikan maaf saya ya jun,"
"kamu aja yang sms langsung"
"aku ga bisa jun,"
"ok nanti aku sampaikan, aku sudah otw kampus nih"
****
"kamu udah survey untuk lokasi bakti sosial ramadhan besok jun?" tanya mas syahril, ketua Jamaah Shalahudin yang berperawakan kurus dan wajah yang teduh dengan jenggot jarang-jarang menghiasi bawah dagunya.
"belum mas, rencananya hari ini"
"terus untuk buka puasa dan kajian tematik ramadhan?"
"sudah saya serahkan ke mas arul dan mba puji untuk buka puasanya, progress sih 70 persen untuk konsepnya"
"30 hari lagi sebelum ramadhan ya jun, jangan lupa"
"iya mas"
"terus siapa PIC bakti sosial?"
"Dindi mas, cuma yang bersangkutan sepertinya sedang sakit, jadi saya terpaksa ambil alih,"
"oke, kabari ya," ujar mas syahril seraya berlalu meninggalkan pelataran masjid menuju sepedanya.
itu mas syahril, dia hapal alquran cukup banyak, perawakannya teduh dan membuat suasana adem dengan suaranya. entahlah saya pikir dia bagus jika menjadi penyanyi, namun kenapa tidak ya? dia juga menganggap musik itu haram, sedangkan saya? ehehhehe.
"afwan pak juna, mohon segera untuk survey ke daerah piyungan" ucap seseorang dengan nada sinis dari belakang saya.
"iya iya ri, ga usah sewot gitu"
"soalnya sudah dekat, rencana bakti sosial kan minggu ke dua ramadhan, kita juga harus koordinasi sama pak lurah dan pak camat kan? tidak sebentar loh itu" ujar perempuan dengan gamis coklat yang ternyata valerie.
"gini aja deh, saya kan ketua ya? saya suruh kamu deh yang survey, nanti hasilnya kamu kabari saya" perintah saya
"afwan kalau itu mau bapak, yaudah saya yang berangkat"
niat saya sih bercanda, eh ternyata dia serius menanggapinya. dia langsung menaiki motor maticnya dan memakai jaket kemudian berangkat menuju entah kemana. dia juga kan belum tau alamatnya, tapi kalau dia ke piyungan bagus lah, eh tapi tega juga gue ya. oke oke gue susul, gue susuuul!! yaelah! assuuww
yaudah akhirnya saya langsung menyusul valeri dengan motor juga. saya meminjam motor mas arul untuk menyusulnya. gak punya sim? bodo amat dah. tapi sepertinya tidak terkejar, valerie sudah jauh, yaudah saya jalan santai aja. muter-muter dulu mengelilingi jogja. lagian ga buru-buru banget, masih siang juga.
"Drrrt." saya menepikan motor, sepertinya ada telepon
"halo jun?"
"walalaikum salam fel,"
"lagi apa,"
"lagi dijalan, kamu udah ga marah kah?"
"maafin aku ya"
"aku yang salah, aku yang minta maaf"
"kamu lagi dimana?"
"aku lagi survey ke arah piyungan"
"oh gitu, sama siapa?"
"sendiri"
"aku sebenernya mau ngomong sesuatu"
"yaudah ngomong aja"
"tapi aku mau ngomong langsung"
"yaudah nanti ya fel,"
"aku kangen sama kamu jun,"
"aku juga"
"maaf ya aku cemburu,"
"iya gapapa, aku juga yang salah, nanti aja di omongin ya, aku juga mau ngomong sesuatu dari tiga hari yang lalu,"
"apa itu jun?"
"nanti aja fel"
"yaudah kamu hati-hati"
saya menutup telepon dan melanjutkan perjalanan. akhirnya saya tiba di piyungan. tempat pembuangan sampah akhir di jogja. sebuah lokasi dengan kawah berbentuk celah berisi timbunan sampah seluruh jogja dengan bau yang sangat menyengat sampai ke dalam syaraf pusat. di sebelah atas bukit jika kita berdiri disana, kita dapat melihat hamparan sampah dengan sapi-sapi yang sedang mengais makanan diantara gunungan sampah. anak-anak pun berlarian di sekitaran jalan batu dan sampah yang berserajabn. tanpa merasa risih dengan baunya. saat itu, kepala saya langsung pening, mengingat baru pertama kali ini saya tiba disini.
"permisi pak,"
"iya ada apa dek?"
"kepala dusun disini dimana ya?"
"oh yang itu dek," tunjuk bapak tadi ke arah rumah yang terlihat agak bagus."tadi juga ada perempuan yang kesitu,"
"oh terima kasih pak,"
saya pun menuju rumah itu dan benar ternyata didalam rumah itu sudah ada valerie yang lebih dulu tiba.
"salamualaikum" ucap saya, yang kemudian disambut oleh pria tua berkumis dan berkopiah item."masuk mas"
saya duduk dikursi seberang valerie yang keliatannya tampak kesal dengan kehadiran saya. yaudahlah lupakan, saya tidak ambil pusing juga. kami pun mulai membahas masalah bakti sosial sebagai agenda utama kunjungan kami kesini.
kami diajak berkeliling oleh pak kades untuk melihat keadaan sekitar dan mengunjungi beberapa warga yang bermukim disini. baunya yang awalnya tampak menyengat sekarang sudah mulai hilang. sepertinya hidung saya sudah beradaptasi dengan lingkungan ini, walaupun masih terasa samar-samar sedikit dengan lalat yang berterbangan mengelilingi kami. tanpa terasa, matahari sudah mulai turun ke balik bukit. setelah solat ashar pun kami memutuskan untuk pulang.
"yaudah pak, kami permisi dulu"
"iya dek, hati-hati kalian"
Saya menyalakan motor, tapi motor tidak mau menyala dan distarter. saya mencoba mengotak atik dan mmenyalakannya secara manual namun tetap tidak bisa.
"afwan pak juna, saya duluan" ujar valeri.
"yaudah hati-hati"
"salamualaikum, pak kades, pak juna"
"wa'alaikum salam"
valeri pun pergi meninggalkan saya dan pak kades yang lagi mengutak-ngatik motor berusaha menghidupkannya. beberpa pemuda kampung pun menghampiri saya berusaha membantu mencari tau kerusakan yang dialami motor saya.
"drrttt"(suara telepon)
"halo jun? udah selesai?"
"belum gel, motor saya mogok nih, saya lagi di pyungan masih"
"oh yaudah, kalau udah sampai kabari ya"
"oke"
saya pun mematikan telepon. tak beberapa lama, ada sebuah motor kembali, ternyata itu valerie.
"belum nyala juga?"
"belum, kamu ngapain balik lagi? tanya saya
"saya mau ambil dompet, sepertinya ketinggalan di kursi"
"oh sebentar dek, bapak ambilkan" kata pak kades yang langsung masuk kedalam rumah.
"kamu mau bareng?" tanyanya kepada saya.
"entar aja nunggu motor ini, gak enak sama mas arul,"
"ini dek, domptenya," ujar pak kades sambil menyerahkan dompetnya valeri
"yaudah kalau ga mau," jawabnya sambil menerima dompet dari pak kades.
"gini aja mas juna, ini motor tinggal aja, takutny lama, biar besok saya yang antar ke kampus mas juna, sambil saya bawa-berkas2 ktp dan KK warga, takutnya lama, dan iini sudah mau malem" ucap pak kades menyarankan ide.
"ehmm.. tapi.."
"tenang aja mas, aman kok motornya"
sayapun menelpon mas arul dan mas arul membolehkan motornya untuk ditinggal karena memang dia tau motornya sering mogok. sayapun berpamitan pulang dengan pak kades. motor saya yang kendarai dengan valeri membonceng dibelakang saya. kami menyusuri jalan yang mulai gelap dengan sawah-sawah yang tampak menghitam ditelan gelapnya malam. binatang-binatang tak jelas berterbangan disekitar wajah saya dan beberapa kali menghantam helm saya.
"afwan pak juna, kita sholat magrib dulu" ujar valerie pelan.
"iya nanti kita cari mushola"
"JEDEEERRR" tiba-tiba kilat menyambar di kejauhan yang membuat saya kaget dan agak sedikit oleh, kemudian hujan deras datang beramai-ramai mengguyur kami dari atas. saya pun berinisiatif menepi di sebuah warung yang sudah tutup di pinggir jalan yang memang sangat sepi dan tidak ada lampu sama sekali.
"haduh basah deh" keluh saya sambil turun dari motor.
saya lihat valeri tampak mengibas-ngibaskan pakainnya yang sedikit basah. gamis tebalnya nampak sangat lepek dan kutup karena memang hujan yang turun sangat tiba-tiba dan tempat saya berteduh lumayan jauh dari saat hujan pertama turun. saya membuka tas saya, dan mengeluarkan jaket putih smoker "one Piece" kesayangan saya dan memberikan kepadanya.
"ini pakai, takut dingin,"
"tidak apa-apa tidak usah"
saya mendorong pintu warung warung dan ternyata terbuka. saya langsung mengambil pakaian salin saya. saya memang selalu membawa baju salin ketika ke masjid kampus. karena biasanya setelah dari kampus saya selalu jalan dengan felisiana dan gak mungkin juga masih pakai gamis dan belum ganti baju, hehehe.
"ini baju pakai"saya menyodorkan baju dan celana dari dalam tas.
"tidak usah pak juna"
"itu baju kamu kan lebar banget, basah banget pula, kalau kamu ga ganti nanti masuk angin, kaus saya ini lengan pendek, tapi kamu bisa pakai jaket untuk nutupnya."
"tidak usah pak juna"
"pakai sudah takut hujannya lama, ganti bajunya didalam warung, saya gak akan ngintip juga, demi kebaikan kamu, 30 hari sebelum ramadhan jangan sampai nanti malah sakit jadi nyusahin"
"yaudah sin" jawabnya sewot mengambil baju ditangan saya dan masuk kedalam warung.
Hujan sepertinya masih akan sangat lama karena suara derasnya makin bertambah. langit menjadi semakin gelap. hanya satu dua mobil yang lewat karena memang ini daerah sepi yang jauh dari pusat kota. angin kencang berhembus membuat baju gamis saya yang tipis malah jadi cepat kering. ya walaupun gak kering-kering amat, anyep lah bisa dibilang.
valeri keluar dari dalam warung setelah ganti baju dan sudah mengenakan jaket saya.
"afwan pak juna, terimakasih, saya nunggunya didalam saja ya"
"ok"
"telepon saya juga lowbat, jadi tidak bisa telepon untuk minta jemput"
"yaudah kamu tunggu didalam saja sampai hujan berhenti"
Akhirnya yang saya lakukan cuma duduk sambil memandangi derasnya hujan dan hamparan sawah yang hitam. benar-benar pekat dan gelap saat itu tanpa penerangan cahaya sedikitpun. petir beberapa kali menggelegar mengusir sunyinya suasana namun tetap saja tidak bisa membuat hari tenang. karena, ini hujan lama banget!!.
"oke, sekarang maunya pada gimana nih?" tanya saya kepada enam orang yang tiba-tiba menyerang kami.
mereka tidak bergeming sedikit pun. kemudian mereka membagi formasi menjadi tiga orang mengepung saya, dan tiga orang mengepung annchi. tanpa pikir panjang saya langsung mendekat kearah annchi dan berusaha mendorong orang-2orang yang mengepung annchi.
"LARI CHI" teriak saya sambil mendorong beberapa orang yang mencoba menyerang annchi.
Annchi dan saya berlari menuruni tangga sebuah gang di bantaran kali code melewati gang-gang sempit untuk menghindari kejaran enam orang tadi. ternyata mereka tetap mengejar kami, walau hanya tiga orang yang membuntuti kami. beberapa orang yang kami lewati sepanjang kali code tidak ada yang bergeming melihat kami sedang dikejar-kejar.
"Belok kanan naik keatas" perintah saya sambil menunjuk gang di sebelah kanan dimana ada tangga naik lumayan tinggi untuk menuju jalan raya.
kami bersusah payah menaiki tangga itu, rupanya orang yang mengejar kami tidak rajin berolahraga sepertinya, mereka berhenti di tengah tangga seperti keleleahan sementara kami berhasil melarikan diri dari mereka. di seppanjang jalan raya yang mulai sepi, kami menyusuri jalan yang siangnya merupakan pusat buku murah menuju pospolisi diperempatan bank BTN.
sialnya, di ujung jalan, tiga blok sebelum sebelum pos polisi, tiga motor ternyata telah menunggu kami. dibelakang kami, 3 orang juga sedang berlari mengejar ke arah kami. di sebelah kiri kami ada sebuah pagar yang mengarah ke rumah sakit mata dr.yap yang tinggi. saya merapatkan tangan saya kemudian annchi menginjak tangan dan melompat ke arah pagar. diatas pagar dia menarik saya agar bisa ikut naik ke atas pagar.
Setelahnya, kami berlari menyusuri lorong rumah sakit mata peninggalan belanda ini. berharap memang rumah sakit sudah terkunci dan tidak diikuti lagi. di ujung lorong kami melihat sepertinya petugas keamanan rumah sakit sedang berpatroli.
"pak tolong pak," ucap saya meminta tolong.
"kalian ngapain disini?" ujar petugas kemanan itu dengan nada marah.
"kami dikejar-kejar klitih pak," ujar annchi.
"klitih dimana, kalian masuk dari mana?" tanya petugas itu balik
kemudian tangan kami digenggam dan kami ditarik ke arah keluar rumah sakit.
"pak tolong pak, biarkan kami disini dulu," ucap saya memohon.
"udah cepet-cepet keluar" ucapnya,
ternyata didepan pintu keluar, petugas keamanan yang lain sedang menunggu di pos pintu masuk.
"bawa anak-anak ini keluar," ucap petugas kemanan yang menyeret kami,"saya mau cek siapa tau masih ada orang didalam".
kami pun diserahkan ke petugas keamanan yang satunya dan digiring kedalam pos. di pos kami ditanya-tanya kenapa bisa berada di lingkungan rumah sakit malam hari. kami menjelaskan semua kepada petugas keamanan itu, namun tampaknya dia kurang yakin dengan keterangan kami dan segera menelepon polisi.
Akhirnya kami dijemput polisi dan digelandang ke polres kotabaru dengan mobil sedan patroli milik polisi yang tak lama kemudian tiba. di pos kami disuruh duduk di depan meja dan sebuah mesin tik besar dengan seorang polisi yang sudah siap memnggunakannya.
"ini tolong di urus," ujar salah seorang polisi yang membawa kami.
"ceklek," loh juna?" tanya seorang polisi yang baru saja masuk pintu.
"eh om," rupanya itu omnya felisiana yang waktu itu menolong saya saat dikeroyok pengawal ayahnya annchi.
"ada apa ini?" tanya omnya felisiana kepada polisi yang sedang mengintrograsi kami.
"ini ndan, 2 orang ini tengah malam menyelinap di rumah sakit mata dr.yap"
"ngapain kalian memangnya?" tanya omnya felisiana.
saya pun menjelaskan dengan rinci apa yang terjadi dan kenapa kami bisa sampai menyelinap malam-malam di rumah sakit itu. kali ini sepertinya omnyaa felisiana percaya dengan cerita kami. dia pun menyuruh membatalkan pemeriksaan kami dan menyuruh salah seorang polisi untuk mengantar kami dengan mobil patroli.
"tapi om, motor teman saya ini masih ada di jembatan kali code,"
"yaudah biar om yang urus"
kami pun diantar masuk kedalam mobil patroli yang dikemudikan dua orang polisi yang duduk didepan. suara radio patroli mengiringi perjalanan kami meniggalkan polres kotabaru menuju arah kampus UGM. akhirnya, saya yang diantarkan duluan ke kos saya dan kemudian mobil patroli itu berlanjut mengantar annchi, tak beberapa lama, annchi menigirimi sms pada saya bahwa ia sudah sampai rumahnya.
***
"Jun..! Jun...!!" Brak-brak-brak, suara pintu saya di gedor dengan keras.
"iya put ada apa?" tanya saya sambil mengucek-ngucek mata karena masih ngantuk.
"Semalem kan kata kamu annchi sudah sampai rumah ya?"
"iya, emang kenapa?"
"aku telepon dari semalam ga diangkat, pagi ini aku samperin ke rumahnya pun, ga ada, kata kakeknya abis nganter kamu belom pulang dia?"
"kerumah orang tuanya udah belom? semalem ga jelas dia diantar kemana, rumah kakeknya apa rumah orang tuanya," jawab saya sambil menguap."kenapa sih?"
"gue khawatir jun!"
"rileks pun, sebentar gue ganti baju, kita ke rumah orang tuanya"
saya langsung ganti baju dan kita langsung cus kerumah annchi dikawasan belakang pasar bringharjo. udara dingin dan kabut masih menyelimuti pagi ini di jogja karena memang sedang musim kemarau. karena baru tidur sebentar, badan saya masih berasa greges saat di bonceng putra.
akhirnya kami tiba di rumah annchi, sebuah rumah berbentuk ruko dengan cat oranye bertingkat tiga. putra langsung turun dari motor dan mengetok-ngetok pintu.
Taak beberapa lama, ayahnya annchi keluar dengan tampang agak tidak mengenakan,"kalian ngapain disini?"
"maaf om, saya mau tanya annchinya ada?"
bapaknya annchi menggumam ga jelas kelihatannya sambil marah-marah dengan bahasa manddarin. saya tidak begitu mengerti apa yang diucapkannya, namun sepertinya dia mengatai kami dengan sebutan tiko yang terdengar jelas berkali-kali oleh saya. mungkin dia masih kesal digelandang ke kantor polisi dan sempat mendekam selama beberapa jam dibalik jeruji besi karena memukuli saya. hehehe mampus!
"kalian itu pengganggu, hama" ujarnya
"saya cuma mau tanya om, annchinya ada?"
"saya sudah bilang sama annchi agar tidak menemui kamu lagi, apa annchi tidak pernah bilang?"
DEG, yah, sama aja lu put kaya gue, hehehe. aduh kasian juga, saya lihat putra langsung terdiam dan menunduk kebawah. di mengambil langkah mundur menuruni tangga didepan pintu ruko dengan langkah lemas. bapaknya annchi masih marah-marah dengan bahasa yang tak jelas karrena waktu itu belum populer yang namanya google translate.
putra sesaat membalikan badannya, "saya cuma mau tanya om, apakah annchi ada dirumah dan baik-baik saja,"
"kalau anak saya tidak dalam keadaan baik, saya pasti tidak ada disini"
"udah put, ayo pulang" ajak saya sambil merangkul putra, "selow, jangan diambil pusing"
perjalanan pulang, saya yang mengendarai motor. saya rasa putra sedang memikirkan sesuatu. dia nampak diam dan melamun disepanjang jalan. saat sampai kos pun dia masih diam dan laangsung berbaring di kamarnya.
"lu gapapa put?"
"gapapa jun"
Viki dan mas peri yang baru terbangun langsung menanyai saya perihal kejadian yang mereka lewatkan. setelah saya jelaskan, mereka langsung bubar jalan untuk bersiap kuliah. bukan bermaksud tidak berempati, tapi lebih kepada membiarkan putra untuk tenang dan berfikir jernih dulu sendiri, ketimbang kita menjadi motivator andalan untuk menghibur hatinya. kami rasa, kami sudah dewasa dan butuh waktu untuk berfikir jernih tanpa ada embel-embel penyemangat.
Drrrtttt
ternyata sms dari annchi
"sampaikan salam pada putra, maaf tadi aya sayah marah-marah, saya tidak berani sms dia langsung"
"kamu ada dirumah tadi"
"iya, sampaikan maaf saya ya jun,"
"kamu aja yang sms langsung"
"aku ga bisa jun,"
"ok nanti aku sampaikan, aku sudah otw kampus nih"
****
"kamu udah survey untuk lokasi bakti sosial ramadhan besok jun?" tanya mas syahril, ketua Jamaah Shalahudin yang berperawakan kurus dan wajah yang teduh dengan jenggot jarang-jarang menghiasi bawah dagunya.
"belum mas, rencananya hari ini"
"terus untuk buka puasa dan kajian tematik ramadhan?"
"sudah saya serahkan ke mas arul dan mba puji untuk buka puasanya, progress sih 70 persen untuk konsepnya"
"30 hari lagi sebelum ramadhan ya jun, jangan lupa"
"iya mas"
"terus siapa PIC bakti sosial?"
"Dindi mas, cuma yang bersangkutan sepertinya sedang sakit, jadi saya terpaksa ambil alih,"
"oke, kabari ya," ujar mas syahril seraya berlalu meninggalkan pelataran masjid menuju sepedanya.
itu mas syahril, dia hapal alquran cukup banyak, perawakannya teduh dan membuat suasana adem dengan suaranya. entahlah saya pikir dia bagus jika menjadi penyanyi, namun kenapa tidak ya? dia juga menganggap musik itu haram, sedangkan saya? ehehhehe.
"afwan pak juna, mohon segera untuk survey ke daerah piyungan" ucap seseorang dengan nada sinis dari belakang saya.
"iya iya ri, ga usah sewot gitu"
"soalnya sudah dekat, rencana bakti sosial kan minggu ke dua ramadhan, kita juga harus koordinasi sama pak lurah dan pak camat kan? tidak sebentar loh itu" ujar perempuan dengan gamis coklat yang ternyata valerie.
"gini aja deh, saya kan ketua ya? saya suruh kamu deh yang survey, nanti hasilnya kamu kabari saya" perintah saya
"afwan kalau itu mau bapak, yaudah saya yang berangkat"
niat saya sih bercanda, eh ternyata dia serius menanggapinya. dia langsung menaiki motor maticnya dan memakai jaket kemudian berangkat menuju entah kemana. dia juga kan belum tau alamatnya, tapi kalau dia ke piyungan bagus lah, eh tapi tega juga gue ya. oke oke gue susul, gue susuuul!! yaelah! assuuww
yaudah akhirnya saya langsung menyusul valeri dengan motor juga. saya meminjam motor mas arul untuk menyusulnya. gak punya sim? bodo amat dah. tapi sepertinya tidak terkejar, valerie sudah jauh, yaudah saya jalan santai aja. muter-muter dulu mengelilingi jogja. lagian ga buru-buru banget, masih siang juga.
"Drrrt." saya menepikan motor, sepertinya ada telepon
"halo jun?"
"walalaikum salam fel,"
"lagi apa,"
"lagi dijalan, kamu udah ga marah kah?"
"maafin aku ya"
"aku yang salah, aku yang minta maaf"
"kamu lagi dimana?"
"aku lagi survey ke arah piyungan"
"oh gitu, sama siapa?"
"sendiri"
"aku sebenernya mau ngomong sesuatu"
"yaudah ngomong aja"
"tapi aku mau ngomong langsung"
"yaudah nanti ya fel,"
"aku kangen sama kamu jun,"
"aku juga"
"maaf ya aku cemburu,"
"iya gapapa, aku juga yang salah, nanti aja di omongin ya, aku juga mau ngomong sesuatu dari tiga hari yang lalu,"
"apa itu jun?"
"nanti aja fel"
"yaudah kamu hati-hati"
saya menutup telepon dan melanjutkan perjalanan. akhirnya saya tiba di piyungan. tempat pembuangan sampah akhir di jogja. sebuah lokasi dengan kawah berbentuk celah berisi timbunan sampah seluruh jogja dengan bau yang sangat menyengat sampai ke dalam syaraf pusat. di sebelah atas bukit jika kita berdiri disana, kita dapat melihat hamparan sampah dengan sapi-sapi yang sedang mengais makanan diantara gunungan sampah. anak-anak pun berlarian di sekitaran jalan batu dan sampah yang berserajabn. tanpa merasa risih dengan baunya. saat itu, kepala saya langsung pening, mengingat baru pertama kali ini saya tiba disini.
"permisi pak,"
"iya ada apa dek?"
"kepala dusun disini dimana ya?"
"oh yang itu dek," tunjuk bapak tadi ke arah rumah yang terlihat agak bagus."tadi juga ada perempuan yang kesitu,"
"oh terima kasih pak,"
saya pun menuju rumah itu dan benar ternyata didalam rumah itu sudah ada valerie yang lebih dulu tiba.
"salamualaikum" ucap saya, yang kemudian disambut oleh pria tua berkumis dan berkopiah item."masuk mas"
saya duduk dikursi seberang valerie yang keliatannya tampak kesal dengan kehadiran saya. yaudahlah lupakan, saya tidak ambil pusing juga. kami pun mulai membahas masalah bakti sosial sebagai agenda utama kunjungan kami kesini.
kami diajak berkeliling oleh pak kades untuk melihat keadaan sekitar dan mengunjungi beberapa warga yang bermukim disini. baunya yang awalnya tampak menyengat sekarang sudah mulai hilang. sepertinya hidung saya sudah beradaptasi dengan lingkungan ini, walaupun masih terasa samar-samar sedikit dengan lalat yang berterbangan mengelilingi kami. tanpa terasa, matahari sudah mulai turun ke balik bukit. setelah solat ashar pun kami memutuskan untuk pulang.
"yaudah pak, kami permisi dulu"
"iya dek, hati-hati kalian"
Saya menyalakan motor, tapi motor tidak mau menyala dan distarter. saya mencoba mengotak atik dan mmenyalakannya secara manual namun tetap tidak bisa.
"afwan pak juna, saya duluan" ujar valeri.
"yaudah hati-hati"
"salamualaikum, pak kades, pak juna"
"wa'alaikum salam"
valeri pun pergi meninggalkan saya dan pak kades yang lagi mengutak-ngatik motor berusaha menghidupkannya. beberpa pemuda kampung pun menghampiri saya berusaha membantu mencari tau kerusakan yang dialami motor saya.
"drrttt"(suara telepon)
"halo jun? udah selesai?"
"belum gel, motor saya mogok nih, saya lagi di pyungan masih"
"oh yaudah, kalau udah sampai kabari ya"
"oke"
saya pun mematikan telepon. tak beberapa lama, ada sebuah motor kembali, ternyata itu valerie.
"belum nyala juga?"
"belum, kamu ngapain balik lagi? tanya saya
"saya mau ambil dompet, sepertinya ketinggalan di kursi"
"oh sebentar dek, bapak ambilkan" kata pak kades yang langsung masuk kedalam rumah.
"kamu mau bareng?" tanyanya kepada saya.
"entar aja nunggu motor ini, gak enak sama mas arul,"
"ini dek, domptenya," ujar pak kades sambil menyerahkan dompetnya valeri
"yaudah kalau ga mau," jawabnya sambil menerima dompet dari pak kades.
"gini aja mas juna, ini motor tinggal aja, takutny lama, biar besok saya yang antar ke kampus mas juna, sambil saya bawa-berkas2 ktp dan KK warga, takutnya lama, dan iini sudah mau malem" ucap pak kades menyarankan ide.
"ehmm.. tapi.."
"tenang aja mas, aman kok motornya"
sayapun menelpon mas arul dan mas arul membolehkan motornya untuk ditinggal karena memang dia tau motornya sering mogok. sayapun berpamitan pulang dengan pak kades. motor saya yang kendarai dengan valeri membonceng dibelakang saya. kami menyusuri jalan yang mulai gelap dengan sawah-sawah yang tampak menghitam ditelan gelapnya malam. binatang-binatang tak jelas berterbangan disekitar wajah saya dan beberapa kali menghantam helm saya.
"afwan pak juna, kita sholat magrib dulu" ujar valerie pelan.
"iya nanti kita cari mushola"
"JEDEEERRR" tiba-tiba kilat menyambar di kejauhan yang membuat saya kaget dan agak sedikit oleh, kemudian hujan deras datang beramai-ramai mengguyur kami dari atas. saya pun berinisiatif menepi di sebuah warung yang sudah tutup di pinggir jalan yang memang sangat sepi dan tidak ada lampu sama sekali.
"haduh basah deh" keluh saya sambil turun dari motor.
saya lihat valeri tampak mengibas-ngibaskan pakainnya yang sedikit basah. gamis tebalnya nampak sangat lepek dan kutup karena memang hujan yang turun sangat tiba-tiba dan tempat saya berteduh lumayan jauh dari saat hujan pertama turun. saya membuka tas saya, dan mengeluarkan jaket putih smoker "one Piece" kesayangan saya dan memberikan kepadanya.
"ini pakai, takut dingin,"
"tidak apa-apa tidak usah"
saya mendorong pintu warung warung dan ternyata terbuka. saya langsung mengambil pakaian salin saya. saya memang selalu membawa baju salin ketika ke masjid kampus. karena biasanya setelah dari kampus saya selalu jalan dengan felisiana dan gak mungkin juga masih pakai gamis dan belum ganti baju, hehehe.
"ini baju pakai"saya menyodorkan baju dan celana dari dalam tas.
"tidak usah pak juna"
"itu baju kamu kan lebar banget, basah banget pula, kalau kamu ga ganti nanti masuk angin, kaus saya ini lengan pendek, tapi kamu bisa pakai jaket untuk nutupnya."
"tidak usah pak juna"
"pakai sudah takut hujannya lama, ganti bajunya didalam warung, saya gak akan ngintip juga, demi kebaikan kamu, 30 hari sebelum ramadhan jangan sampai nanti malah sakit jadi nyusahin"
"yaudah sin" jawabnya sewot mengambil baju ditangan saya dan masuk kedalam warung.
Hujan sepertinya masih akan sangat lama karena suara derasnya makin bertambah. langit menjadi semakin gelap. hanya satu dua mobil yang lewat karena memang ini daerah sepi yang jauh dari pusat kota. angin kencang berhembus membuat baju gamis saya yang tipis malah jadi cepat kering. ya walaupun gak kering-kering amat, anyep lah bisa dibilang.
valeri keluar dari dalam warung setelah ganti baju dan sudah mengenakan jaket saya.
"afwan pak juna, terimakasih, saya nunggunya didalam saja ya"
"ok"
"telepon saya juga lowbat, jadi tidak bisa telepon untuk minta jemput"
"yaudah kamu tunggu didalam saja sampai hujan berhenti"
Akhirnya yang saya lakukan cuma duduk sambil memandangi derasnya hujan dan hamparan sawah yang hitam. benar-benar pekat dan gelap saat itu tanpa penerangan cahaya sedikitpun. petir beberapa kali menggelegar mengusir sunyinya suasana namun tetap saja tidak bisa membuat hari tenang. karena, ini hujan lama banget!!.
Diubah oleh natgeas2 27-07-2018 13:46
0