Kaskus

Story

kata.namnamAvatar border
TS
kata.namnam
SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU
SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU

SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU
Selamat datang pada thread sederhana tentang sebuah cerita yang mengatasnamakan rindu sebagai awal dari sebuah percakapan penuh komedi.

Spoiler for PERKENALAN DIRI:


Spoiler for JADWAL UPDATE:


Spoiler for FAQ:


Spoiler for PERATURAN UNTUK PEMBACA:


Spoiler for DAFTAR ISI:


enjoyed
Diubah oleh kata.namnam 18-08-2018 02:34
anasabilaAvatar border
bukhoriganAvatar border
bukhorigan dan anasabila memberi reputasi
2
22.2K
172
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
kata.namnamAvatar border
TS
kata.namnam
#106
PART 7 - AKU DAN RAHMAT
Malam ini Rahmat minta nginep di rumahku lagi. Katanya, biasalah ingin istirahat dari suara pertengkaran orang tuanya. Sesingkat itu ia menjelaskannya.

Memang, sebenarnya aku ingin menanyakan yang sebenar-benarnya terjadi. Aku sih PD, mengatakan bahwa aku adalah sahabat terdekatnya. Sedari SMP coy. Kalian pasti nebaknya, kedekatan kami akan membuat Rahmat bercerita segalanya. Tapi, kurasa tidak.

Perihal keluarganya, hanya sedikit yang kuketahui. Kalian ingat saat aku menceritakan keinginan ibu Rahmat yang ingin jadi arsitek? Kurasa itu baru dugaanku sementara tentang penyebab pertengkaran mereka. Tapi, dugaan kuatku lagi, ada masalah yang lebih vital daripada itu. Tapi ya, sudahlah. Aku pengen ngelarin makan dulu.

“Bu, Jaka telornya nambah”, aku mejulurkan piring ke ibu.

“Ambil sendiri juga bisa”, sindir Rahmat tak ingin melihatku memanja. Ibu hanya diam.


Terpaksa aku ngambil sendiri dengan muka kecut. Telor tinggal satu bulat. Aku mencoba berbaik hati menawarkan telor pada Rahmat, bisa bagi dua, mungkin.

“Mat, mau nambah telor juga?”

“Mau mau!”, senyum Rahmat


Kubelah telor di atas piringku jadi dua. Lalu memakannya dengan tenang.

Rahmat terus menatapku.

“Jak tadi nawarin telor? Sini!”

“Laah cuma nawarin doang kan?”

“Sih dibelah jadi dua!”, Rahmat berang.


Lalu, kupotong telor itu jadi empat. Dan melanjutkan makan lagi.

(Ayah dan ibu tetap makan dengan tenang. Keributan kami sudah biasa. Ayah memaklumi. Ibu? Ngambil telor aja gak mau, apalagi ngambil pusing!)

“Woi Jak!”

“Apa lagi? Sini telornya!”

“Tadi dibelah jadi dua diprotes, sekarang udah jadi empat masih protes, kenapa kenapa?, ujarku sambil menahan tawa.

“Tau ah!”, Rahmat tambah berang.


Aku hanya bisa tertawa dan segera kuberikan sebagian telor itu. Jujur, dari awal aku memang pengen ngasih Rahmat. Cuma, lumayanlah. Ada sela untuk membuat Rahmat jengkel.

Kalian tahu betapa asyiknya mainin teman sampai jengkel? Semoga kalian benar-benar pernah merasakannya. Sebab, yang kurasa disinilah persahabatan semakin tulus. Di mana ego kita tak ikut campur. Sekalipun marah, akan clear hanya dengan hitungan detik. Kalian punya sahabat bukan? Sesekali dimainin, jangan dikhianatin!

***

“Jak, kok aku enggak bisa ngelupain Bella ya?”, Tanya Rahmat saat kami hendak tidur. Kami tidur satu ranjang. Dan saling menghadap ke langit-langit.

“Bella terlalu hebat, Mat”, ucapku. Rahmat hanya diam bingung menatapku.

Aku menarik nafas lumayan panjang, “Bella terlalu hebat, jika lo lawan hanya dengan modal beberapa cara melupakan”

“Huuu, sok puitis lo!”

“Yeee serius!”, aku menatapnya.

“Terus solusianya?”

“Solusinya… hm, ngobrolin Mishel!”, usulku.

“Laah?”

“Ya gimana mau lupa, kalo curhatan lo isinya Bella terus?”

“iya jugaa sih”, Rahmat reda sejenak, “eh, tapi kok lo cepet banget buat suka sama Mishel?”

“Ya aku suka ketawa aja, kalo liat tahi-lalat di tengah hidungnya, kayak orang India”, jelasku tanpa ekspresi.

“Gak masuk akal!”, tungkas Rahmat,”suka tuh yak karena cinta! Kayak gue!”

“Lah? Cinta itu cukup ketawa, selebihnya bikin gembira, Rahmaaaat!”

“Ha ha, paling bisa ya lo Jak. Padahal baru ngerasain pacaran!”

“Belum Maat! Kan belum gue tembak”

“Terus rencananya kapan?”

“Hari minggu”

“Kenapa minggu?”

“Kalo senin ya upacara!”

“Ha ha ha”


***

Aku dan Rahmat akhirnya tidur. Capek juga bercanda terus. Tapi, eh, mungkin kalian sedikit jijik membaca cara persahabatan kami. Dua orang lelaki yang curhat perihal perempuan di sebuah kamar. Tapi, entahlah. Pada saat itu, tahun 2004, aku pikir berbeda dengan sekarang. Tema-tema percintaan, masih sering jadi perbincangan anak-anak remaja, baik laki maupun perempuan. Tidak seperti sekarang, yang udah ada Media sosial.

Sebelum matahari terbit. Di mana langit masih sedikit gelap, Rahmat membangunkanku. Dia ngajakin aku lari pagi. Aku sih mau aja nerima ajakannya.

“Jak… Jakaaa. Lari pagi yuk?”

Aku mulai terbangun, “Lah? Masih pagi banget!”

“Berani engga bangun pagi?”

“Beraniii…”

“Ya ayo, lari pagi?”

“ada syaratnya”, kali ini aku benar-benar membuka mata lebar-lebar.

“Apa?”

“Mandi dulu? yo?”

“engga deh”

“Kenapa?”

“lo masih ngantuk kan? Pengen tidur lagi kan?”

“Iya… kenapa?”

“Yuk aku ikut”, Rahmaat menarik selimutnya kembali.


Begitulah. Aku susah untuk bangun pagi, Rahmat takut mandi pagi. Sampai pada waktunya, ibulah yang membangunkan kami sebelum jam 7 pagi, untuk sekolah. Biasanya Rahmat cuma sekedar cuci muka doang. Paling banter disabunin doang mukanya. Tapi kok bisa ya, muka Rahmat selalu lebih putih dari aku? Aneh.

***

Suasana sekolah begitu indah, ketika hendak beranjak pada pukul tujuh. Anak-anak sedikit lari. Di halaman bejibun siswa berkelompok-kelompok. Suara saling sahut-menyahut. Tapi, eh, aku melihat Mishel masuk ke kelasnya.

“Masih ada waktu”, kulirik Rahmat, “Mat, aku nemuin Mishel dulu”

Langsung saja tanganku ditariknya, “jangan Jak!”

Aku sedikit kesal, “Tenang… gak bakal telat, sebentar doang kok!”

“Bukan itu maksudnya, tuh lihat!” , mata Rahmat mengarah pada bagian bawah perutku.

“Astagfirulllah!”, segera aku menutupnya.


Ternyata resletingku belum ditutup. Wah, malu snagat aku. Rahmat ketawa puas. Boro-boro mau lanjut nemuin Mishel ini mah, udah ah! Masuk kelas sendiri aja. Tapi, anak-anak yang lewat tadi merhatiin enggak ya? Bodo!

Suasana kelas masih dalam keadaan ribut. Enggak kayak kelasnya si Mishel, jam segini biasanya rapih. Paling hanya ada ribut-ribut kecil. Maklum saja lah. Kelasku, kelas IPS. Sedangkan Mishel, kelas IPA. Dulu, antara IPS dan IPA saat kentara dalam pergaulannya. Kelas IPS atau anak sosial, mendapat predikat gembong siswa-siswi yang tak sepintar anak IPA. Itu halusnya. Kalo pengen benar-benar jujur, dulu, anak sosial adalah gembonngnya siswa-siswi yang susah diatur. Enggak tahu kalo sekarang. Jadi harus inget terus ya! kisah ini, kenangan tahun 2004 yang lalu.

Aku sedikit heran dengan Rahmat akhir-akhir ini. setiap jam pelajaran pertama, pasti saja ia izin ke toilet. Malahan sedikit lama. Sekitaran lima belas menitan. Rutin. Sebenarnya apa iya ia selalu mules setiap jam pertama?

Kali ini, setelah Rahmat keluar. Aku pun juga izin. Aku mengikuti Rahmat. Guru sedikit tak percaya sih, tapi aku sedikit memaksa. Sebab, sudah tak tahan, kataku.

Aku mengikuti Rahmat. Wah sudah jangggal. Mukanya dia merindik melewati kantor guru. Kepalanya, ditundukan, seperti orang rukuk dalam sholat. Maklum kantor guru memiliki jendela yang tingginya kisaran seleher siswa. Jadi, jika ingin aman melewatinya, kita harus merunduk.

Di sebelah kantor sekolah, ada sebuah lorong, yang menghubungkan halaman belakang sekolah. Rahmat terus berjalan. Aku terus mengikutinya. Halaman belakang sekolah tak terlalu luas, hanya satu langkah orang dewasa. Tapi cukup panjang.

Aku memberhentikan langkah, saat dari kejauhan kulihat ada segerombolan anak sekolah yang sudah berada di belakang sekolah. Tak salah lagi, dari remang-remangnya sekumpulan anak-anak itu gengnya Yudi.

Aku mengumpat. Menyandar pada dinding sekolah.

“Sebenarnya ada apa ini?”

Ah sudahlah. Nanti aku akan cari tahu sendiri. Sekarang, aku balik saja ke kelas.

“Jakaaaa”, Pak Toto memanggil, saat aku baru saja masuk ke kelas.

“Kok enggak basah? Katanya mules”

“Oh, lupa!”, aku mengernyit dahi. “aku—”

“Kamu belummm…”, Tanya Pak Toto melongo dan ragu.


Anak-anak serentak menutup hidungnya. Sedangkan Pak Toto terhenyak langsung keluar kelas. Memang Pak Toto ini sedikit agak keperempuanan gitu, eh keceplosan. Jadi, maklum kalo rada gelian sama hal-hal yang kedengarannya jorok.

Anak-anak lain terus menutup hidung, dan menyorakiku.

“Stop stooooooop!”, gentakku.

“Gue tadi boro-boro ke WC!”, jelasku, “tadi pengen rada guyon sama Pak Toto, eh dianggep serius!”

“Serius?”, Tanya Rina.

“Nih periksa, mau?”

“Jijik!”


Anak-anak tertawa. Mereka akhirnya bersorak. Akhirnya, tak ada jam kelas untuk pelajaran Pak Toto. Mereka kembali ribut.

Beberapa menit kemudian Rahmat datang, dan langsung bertanya keras di depan kelas, “Eh, Pak Toto kemana?”

“Wah parah lo Mat”, kata Sandi.

“Ih, bakal dihukum lo!”, sambar Nana.

“Eh, Pak Toto nyusulin lo ke toilet!”, tegasku.

“Serius?”, muka Rahmat menegang.


Langsung saja Rahmat berlari keluar kelas, mungkin mau ke toilet. Anak-anak kembali tertawa, melihat Rahmat ketipu. Ah, ada-ada saja…


kaskus-image
sydney89
sydney89 memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.