- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.5K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#445
Quote:
PART 36
Dua minggu berlalu, perang dingin antara Adam dan Medina masih saja menjadi topik hangat di kampus.
Semua orang sibuk menerka – nerka, siapa diantara keduanya yang akan mengibarkan berdera tanda damai lebih dulu.
Bukan apa – apa, ini adalah kali pertama keduanya saling diam dalam waktu yang cukup lama. Menariknya, Adam yang terkenal mudah mengalah dan pintar membujuk Medina tak tergerak sedikitpun untuk memperbaiki keadaan di antara mereka. Diamnya Adam kali ini justru semakin membuat gemas para kaum hawa seantero kampus, sedikit banyak ia merasa prihatin dengan Medina. Tapi di sisi lain, mereka juga menyalahkan Medina yang tak mau minta maaf lebih dulu.
Ah...publik selalu punya kebebasan berpendapat walau mereka tidak tahu persis duduk persoalannya seperti apa.
“ MEDINA!!” pekikan seorang perempuan berambut blonde, menghentikan langkah Medina yang baru saja memasuki koridor utama kampus. Bahkan bukan hanya Medina yang memusatkan perhatiannya pada gadis ini, tapi juga semua orang yang ada disana.
Medina tak peduli jika teriakan perempuan itu membuatnyaa jadi pusat perhatian, yang ia pedulikan sekarang ada hal penting apa hingga Tasya memanggilnya dengan tatapan penuh emosi seperti saat ini.
“ Apa?” tanya Medina agak malas dengan tangan bersidekap. Jangan lupakan permen karet yang saat ini tengah ia kunyah, membuatnya semakin terlihat jauh berbeda dari Medina yang kemarin. Membuatnya terlihat lebih menyebalkan di mata Tasya.
“ Lo apa – apa’an sih? Mau sampai kapan lo perang dingin sama kakak lo sendiri? Mau sampai kapan kalian diem – dieman kayak gini?!” tanya Tasya dengan nada tinggi.
Medina tidak mengerti kenapa Tasya jadi begitu emosi untuk masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Ini masalah pribadi gue, Mak Lampir.
“ Suka – suka gue donk. Urusannya sama lo apa? Lo siapanya gue? Saudara bukan, teman juga bukan, kenapa lo sok sibuk ngurusin masalah gue?” sahut Medina dengan kata – kata tak kalah tajam.
“ Masalahnya Adam sekarang jadi nyuekin gue, jadi makin pendiem, dan-,”
“ Tunggu...tunggu,” Medina mengangkat kedua tangannya, sebagai kode agar Tasya menghentikan ocehannya. “ Perasaan kakak gue, emang nggak pernah peduli tu sama lo.”
“ Ta-tapikan-,”
Jentikan jari Medina tepat didepan wajahnya, memaksa Tasya menyudahi ucapannya.
“ Bangun woi, mau sampai kapan lo ngimpi jadi pacarnya abang gue? Sekalipun gue lagi perang sama kak Adam, gue nggak akan pernah setuju lo sama dia.”
“ Lo tu-,” Tasya berniat melayangkan tamparannyaa ke arah Medina, tapi terlambat Medina telah menahannya lebih dulu dengan mencengkeram erat tangan mungil Tasya yang masih mengawang di udara. Tak hanya itu Medina kini juga tengah melayangkan tatapan tajamnya pada Tasya, membuat nyali Tasya kian menciut. Mahasiswa lain yang melihat juga kian penasaran dan bertanya – tanya, ‘apa lagi yang akan terjadi setelah ini?’.
“ Denger ya, jangan pernah ikut campur sama urusan gue dan kak Adam lagi! Lo nggak punya hak!” tutur Medina pelan namun dengan penekanan di setiap kalimatnya, seakan ingin menunjukkan jika ia tidak suka dengan yang di lakukan Tasya barusan.
Medina kemudian melangkah pergi begitu saja tanpa peduli dengan perasaan kesal Tasya yang kini sudah mencapai ubun – ubun.
Tasya hanya diam, ia tak punya pilihan lain selain menahan perasaan dongkolnya pada Medina di dalam hati. Ia tahu kapasitas dirinya, adu fisik dengan Medina bukanlah jalan keluar, Medina bukan tandingannya.
***
Lepas dari Tasya, Medina kembali dipertemukan dengan seseorang yang sangat ingin ia hindari, Nando.
Ia tak sengaja melihat Nando di kantin. Medina yang pada awalnya sangat ingin makan siomay kesukaannya pagi ini, terpaksa mengurungkan niat lantaran Nando ada di gerai tersebut.
“ Makan mi ayam, mang Jupri aja deh,” gumam Medina pasrah sambil memutar arah, menuju ke gerai mang Jupri yang terletak di bagian paling pojok.
Beruntung gerai mang Jupri tidak begitu ramai, jadi Medina tak perlu berdesak – desakan dengan yang lain hanya untuk memesan semangkok mi Ayam.
“ Mang, mi ayamnya satu. Kayak biasa!” pinta Medina saat tiba di depan gerai.
“ Maaf neng, Juprinya lagi keluar,” sahut seseorang langsung membuat Medina menoleh cepat ke sumber suara.
Bukan mang Jupri melainkan ibu paruh baya berjilbab, yang tak lain adalah ibunya mang Jupri. Sejauh yang Medina tahu, beliau memang biasa menemani Mang Jupri berjualan, tidak begitu sering hanya sesekali, tidak heran jika ia tidak tahu pesanan mi Ayam Medina seperti apa.
“ Hmm gitu ya bu,”
“ Memang pesanan neng biasanya seperti apa? Ntar ibu bikinin.”
“ Pesanan mi ayam saya itu-,”
“ Banyakin sayur, ayamnya sedikit, kuah sama bawang gorengnya di banyakin, dan...krupuk pangsitnya di pisah.”
Kehadiran Adam sukses membuat Medina tercengang. Entah sejak kapan kakaknya itu sudah berdiri persis di sampingnya dan langsung menyela obrolan antara ia dan ibunya Mang Jupri.
“ Ya udah, kalau gitu tunggu sebentar ya neng.”
Medina tak menyahut, ia masih sibuk dalam diam mendapati kakaknya masih punya rasa peduli kepadanya. Padahal selama dua minggu ini, Medina tak pernah sedikitpun menunjukkan hal yang sama, ia justru semakin mengabaikan keberadaan kakaknya.
“ Kak A-,” Belum juga Medina menyudahi kalimatnya, Adam sudah berlalu pergi sambil membawa sebotol air mineral yang ia beli dari gerai mang Jupri. Seakan ia tak ingin terlibat pembicaraan lebih dengan Medina.
Tiba – tiba Medina merasa, yang terjadi sekarang kian menyakiti ia dan Adam secara bergantian. Tapi...mau bagaimana lagi sifat keras kepala yang di miliki keduanya justru menjadi jalan buntu.
“ Neng...ini mi ayamnya,” suara ibu mang Jupri memecah lamunan Medina.
“ Iya bu. Terima kasih,” Medina menyambut nampan yang berisi pesanannya. Ia kemudian memindai keadaan sekitar berusaha menemukan meja yang kosong.
Dan ketemu...tapi kenapa harus di sebelah Nando??? Kantin yang terlalu sempit apa gimana sih?
“ Medina!!” teriakan seseorang dari arah tengah kantin, membuat Medina menoleh.
Ada Tirta di sana, ia sedang bersama teman – temannya. Memang ada satu kursi kosong di sana. Tapi...apa harus ia kesana? Hubungan ia dengan Tirta juga tak begitu baik pasca kejadian waktu itu.
Tapi jika harus di suruh memilih, rasanya lebih baik untuk saat ini ia duduk di sebelah Tirta, daripada Nando. Terlalu beresiko bagi Medina jika ia terlalu dekat dengan cowok manis berkacamata itu, ia tak ingin melukai perasaan sahabatnya.
Dengan langkah yakin , Medina berjalan menuju ke arah meja Tirta.
Nando yang tak sengaja melihat itu hanya tersenyum tipis. Ia sadar betul alasan kenapa Medina keukeuh ingin menjauhinya. Dan Nando tidak mungkin memaksakan kehendaknya. Pernah dekat dan menjadi sahabat gadis itu saja, Nando sudah bersyukur.
“ Santai aja, gue tahu Medina seperti apa.” Suara Adam membuat Nando tersentak dari lamunannya. Cowok itu kini telah duduk di kursi kosong yang ada di sebelahnya sambil sesekali meneguk air mineralnya.
“ Apa karena itu juga lo ngejauhin dia? Karena lo tahu dia bakal balik lagi kayak dulu? Karena lo tahu kalau belakangan ini dia hanya pura – pura marah?”
“ Dia nggak lagi pura – pura Ndo. Dia benaran marah sama gue, untuk beberapa alasan.”
“ Lalu kalimat lo tadi maksudnya apa? Cuma buat nenangin hati gue biar nggak panas liat mereka? Iya?”
“ Nggak juga,”
“ Terus apa’an? Lama – lama lo bikin hati gue panas juga nih,” kesal Nando sambil mengubek – ubek siomaynya dengan sendok dan garpu. Selera makannya sudah hilang sejak Medina memutuskan duduk satu meja dengan Tirta.
“ Gue tahu Medina kalau udah cinta sama satu orang nggak akan semudah itu jatuh cinta lagi sama orang lain.”
“ Ha seriusan?” seru Nando dengan mata sedikit melotot. Terkejut. “ Medina pernah jatuh cinta?”
“ Pernahlah.”
“ Sama siapa? Gue bukan?”
“ Kenapa jadi lo yang ke’PD’an sih?” sungut Adam melihat Nando tampak semringah tidak jelas.
Nando mencebik,” Berharap dikit , nggak apa – apa kalik.”
Adam hanya tersenyum tipis, tapi senyum itu sirna seiring dengan satu pesan singkat yang baru saja masuk ke ponselnya.
Air muka Adam yang tadinya cerah karena ulah Nando, seketika meredup hanya karena satu pesan mengejutkan dari pak Wahyu.
Nando yang melihat perubahan itu, heran bercampur ingin tahu. Tapi...ia belum berani bertanya bahkan saat Adam bergegas pergipun, Nando tak sedikitpun bereaksi. Ia masih diam melihat kecemasan Adam.
Di sisi lain ternyata Medina juga memperhatikan kepergian Adam yang tampak buru - buru. Kak Adam kenapa?
" Na gimana?" suara Tirta membuat Medina agak kaget.
" Gimana apanya?"
" Lo bakal pergi ke kantor bokap gue kan?"
" Iya. Gue bakal ke sana nanti." jawab Medina sekedarnya, pikirannya masih terfokus pada kecemasan Adam yang ia lihat tadi.
●●●
2
Kutip
Balas