Kaskus

Story

meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
SULAKSMI
SULAKSMI



PROLOG




“ semoga ini awal yang baik untuk karir gw dalam berwiraswasta...”
yaa...itulah sepenggal kalimat kebahagian yang terucap dari mulut bagus disaat sebuah berita baik terucap dari mulut bapak dan mamah, keinginan bagus untuk mempunyai sebuah usaha sendiri selepas masa perkuliahannya, kini mulai terwujud seiring dengan keinginan mamah yang menginginkan bagus untuk mengelola sebuah rumah yang merupakan rumah peninggalan dari orang tua mamah dan telah lama terbengkalai
kini bersama ketiga sahabat baiknya, bagus berusaha mewujudkan mimpinya itu menjadi sebuah kenyataan, seiring dengan berjalannnya waktu, akan kah semua usaha bagus itu akan membuahkan hasil yang memuaskan, atau kah ada sisi lain dari rumah tersebut yang bagus tidak ketahui dan akan menjadi penghambat usaha bagus untuk mewujudkan mimpinya tersebut....

Note :

* dilarang copy paste tanpa seizin penulis
* apa yang ane tuliskan hanyalah sebuah bentuk karya seni tanpa memperdebatkan nyata/fiksi
* update disesuaikan dengan RL penulis


terima kasih & selamat membaca emoticon-coffee
@meta.morfosis

Chapter demi chapter :
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
EPILOG


Diubah oleh meta.morfosis 16-01-2019 19:25
indrag057Avatar border
bukhoriganAvatar border
bonita71Avatar border
bonita71 dan 35 lainnya memberi reputasi
36
65.3K
197
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54.3KAnggota
Tampilkan semua post
meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
#68
Chapter 12



“ tadi itu gus, disaat kami menemukan lu di gudang, posisi lu waktu itu dalam keadaan terbaring di tanah, wajah lu terlihat pucat dengan tatapan mata kosong memandang tanpa arah yang jelas, hampir beberapa kali lu terlihat menggeliatkankan tubuh seraya mencakar bagian dada lu itu....nah...hal itu jelas enggak kami temukan di saat waktu itu vina mengalami kesurupan.....” terang iyan yang berbalas keterkejutan gw, tampak mang edo menganggukan kepalanya sebagai tanda membetulkan perkataan iyan
“ ya tuhan...masa sih yan....” ucap gw sambil memeriksa keadaan dada, dan mendapati beberapa luka cakaran menghiasi dada gw, kini setelah beberapa saat gw terdiam seraya mengamati luka cakaran di dada ini, sebuah cerita mengenai rentetan kejadian yang gw alami di gudang itu segera mengalir dari mulut gw, dan sepertinya seiring dengan berakhirnya cerita gw ini, tampak ekpresi keterkejutan yang bercampur dengan rasa takut begitu tergambar jelas di wajah iyan, doni, sella serta mang edo
“ wahh ini sih udah parah gus....ini namanya udah mencapai serangan phisik...” ujar doni yang untuk pertama kalinya merespon cerita yang terucap dari mulut gw
“ iya gus, kita harus segera mengambil tindakan....kalau kita diam aja seperti ini, gangguan gangguan itu pasti akan terus datang dan membuat kita mati konyol...” seakan menyetujui perkataan iyan, tampak sella menganggukan kepalanya, untuk beberapa saat lamanya gw hanya terdiam mencoba memikirkan perkataan iyan dan doni tadi, mungkin memang ada benarnya dengan apa yang telah dikatakan oleh iyan doni tadi, sebuah tindakan nyata memang dibutuhkan saat ini, tapi untuk tindakan apa yang akan dilakukan untuk mengantisipasi kejadian aneh ini, gw sama sekali tidak mengerti, karena selama ini gw belum pernah mengalami kejadian aneh seperti ini apalagi sampai harus mengantisipasinya
“ jujur aja gw enggak mengerti dengan hal hal yang menyangkut kejadian aneh seperti ini, tapi kalau kalian memang mempunyai ide untuk mengantisipasi masalah ini, gw sih akan mengikutinya aja...” mendengar perkataan yang terlontar dari mulut gw, tampak iyan, sella dan doni saling bertukar pandang, sepertinya mereka sendiri tidak mempunyai ide untuk mengantisipasi masalah ini
“ cobalah gus, kita mengadakan selametan dengan mengundang orang yang ahli dengan masalah ini, ya siapa tahu kita akan mendapatkan solusinya disitu...”ujar sella yang berbalas persetujuan iyan dan doni, tapi tampaknya hal itu tidak terlihat di ekspresi wajah yang diperlihatkan oleh mang edo, dan sepertinya mang edo mempunyai alternatif lain untuk mengatasi kejadian ini
mang edo kenapa....?” tanya gw kepada mang edo, dan berharap mang edo akan menjelaskan tentang apa yang tengah dipikirkannya
“ begini kang bagus....bukannya mang edo enggak setuju dengan usul neng sella tadi, tapi menurut mang edo kalau acara selametan itu ditujukan untuk meminta berkah dan keselametan atas usaha ataupun acara yang kita lakukan di suatu tempat, sedangkan untuk kejadian ini sepertinya berbeda....” jawaban yang terlontar dari mulut mang edo kini telah memunculkan ekspresi kebingungan di wajah gw, sella, doni serta iyan
“ maksud mang edo bagaimana sih...saya jadi enggak ngerti...” ujar iyan dan berharap adanya penjelasan dari mang edo
“ maksud saya begini kang iyan, kalau menurut saya pribadi, apa yang terjadi selama ini mungkin memang akibat kesalahan kita yang tidak melakukan acara selametan itu, dan sekarang ada kemungkinan para penunggu lama ditempat ini enggak suka dengan kehadiran kita di sini....bahasa kasarnya kita enggak menghormati dan meminta izin kepada mereka untuk menjalankan usaha disini...” terang mang edo seraya mengembangkan senyum puasnya karena telah berhasil menjelaskan maksud dari perkataannya tadi
“ lantas kalau udah begitu kita harus bagaimana mang....?” tanya gw kepada mang edo, karena sejujurnya gw masih belum mengerti arah dan tujuan dari penjelasan mang edo tadi
“ sebaiknya kita memberikan sesajian kang untuk meminta maaf kepada mereka....” jawab mang edo yang berbalas keterkejutan gw atas ide konyol ini
“ hahhh...sesajian...mang edo enggak lagi salah ngomong kan...?” tanya gw kembali
“ enggak kang, hal seperti itu dulu pernah saya lakukan juga disaat teman saya ada yang mempunyai masalah yang sama dengan kejadian ini, dan itupun atas petunjuk orang pintar yang memang biasa menangani hal seperti ini....” jawab mang edo dengan keyakinannya yang tinggi
“ tapi mang...”
“ ini hanya masukan saya aja kang, ya kalau memang kang bagus enggak setuju dengan masukan saya ini, kang bagus mungkin bisa melakukan cara lain untuk mengatasi masalah ini....” ucap mang edo memotong perkataan gw, dan sepertinya ucapan mang edo ini adalah ungkapan ketidaksukaannya atas perkataan gw yang terkesan tidak mempercayai dengan apa yang dulu pernah dilakukan oleh mang edo
lama gw kembali terdiam mencoba memikirkan masukan yang telah diberikan oleh mang edo tadi, walaupun masukan itu terkesan aneh dan sangat tidak masuk akal, tapi disaat kebuntuan ide gw untuk mengatasi masalah ini, sepertinya apa yang telah dikatakan oleh mang edo tadi tidak ada salahnya untuk dicoba, meskipun secara garis besar, gw sangat tidak mempercayainya
“ ya udah...kalau begitu saya setuju mang, kapan rencananya mang edo akan memberikan sesajian ini...?”
“ lebih tepatnya sih malam jumat kang....ya kang bagus berdoa aja semoga usaha yang akan kita lakukan ini akan menghilangkan gangguan yang terjadi di penginapan ini....” sebuah kalimat positif yang terucap dari mulut mang edo kini mengakhiri pembicaraan kami malam ini, waktu yang terus berjalan menuju puncak kesempurnaan malam, kini mengiringi harapan kami akan adanya sebuah titik akhir dari semua kejadian aneh yang terjadi di penginapan ini
tepat sudah dua hari berlalu dari keputusan yang telah kami sepakati untuk melakukan ritual sesajian dalam rangka meminta maaf atas kelancangan kami yang telah lupa untuk meminta izin kepada penghuni lama yang menempati rumah ini, kini berbagai macam barang yang telah dipersiapkan oleh mang edo tampak telah dikeluarkan dari kantong pelastik dan diletakan secara rapih dalam sebuah wadan nampan yang terbuat dari anyaman bambu, untuk sesekali terlihat doni, iyan dan sella yang tengah membantu mang edo, melemparkan pandangannya ke arah gw yang tengah duduk di sebuah kursi sambil memperhatikan kegiatan mereka mempersiapkan sesaji
“ gus...sepertinya benar apa yang telah disarankan oleh mang edo ini...” ujar doni sambil meletakan sebatang lisong ke atas nampan
benar bagaimana maksud lu don...?”
“ ya lu lihat aja selama dua hari ini gus, dengan kita baru merencanakan proses sesajian ini aja, kita udah enggak lagi mengalami gangguan dari sosok wanita itu...” jawab doni dengan yakinnya
ya semoga aja sih don...lagi pula dengan adanya kejadian seperti ini, tingkat kebersamaan kita menjadi semakin erat...kemana mana selalu bersama, untung aja untuk urusan ke dalam wc...kita enggak bersama sama juga...” canda gw yang berbalas gelak tawa, kini setelah hampir setengah jam lamanya kami mempersiapkan proses sesajian, tepat pada pukul sebelas malam tampak mang edo mulai membawa nampan sesajian tersebut ke depan pintu kamar yang dulu pernah dipesan oleh sesosok wanita yang mengaku bernama sulaksmi
“ sebaiknya kita mulai aja ya kang....” ucap mang edo seraya mengajak gw, sella, iyan dan doni untuk bersila dengan posisi menghadap nampan dupa tersebut
entah apa yang tenga dilakukan oleh mang edo ini, mungkin karena memang mang edo sudah pernah melakukan prosesi sesajian seperti ini, tampak mang edo seperti sudah paham sekali akan apa yang harus dilakukannya, seiring dengan tanganya yang mulai membakar batangan dupa, kini gw bisa mencium aroma wangi dupa dalam ruangan ini, kepulan asap dupa yang bermain main di udara kini seperti mengiringi sebuah rapalan yang terucap dari mulut mang edo, hingga akhirnya setelah beberapa saat mang edo terlihat khusyu dengan rapalannya tersebut, mang edo kini terdiam dan mengakhiri ritualnya
“ udah mang begini aja....?” tanya gw begitu mang edo membalikan tubuhnya menghadap ke arah gw, doni, iyan dan sella
“ ya memang seperti ini kang....mudah mudahan dengan kita melakukan ritual ini, para penghuni lama yang mendiami penginapan ini akan memaafkan kesalahan kita.....” entah gw harus mongomentari dengan kalimat apa atas jawaban yang telah mang edo berikan ini, ketidaktahuan gw dalam menangani hal hal yang bersinggungan dengan dunia supranatural kini telah menempatkan gw sebagai seorang tolol yang dengan mudahnya menerima sebuah solusi konyol seperti ini, tapi itulah sebuah pilihan, terkadang disaat kebuntuan pikiran kita telah mencapai titik klimaksnya, maka hal yang konyol pun dapat dianggap sebagai solusi dalam kebuntuan
“ lantas kapan kita akan mengetahui kalau apa yang telah kita lakukan ini berhasil mang...?” tanya iyan kepada mang edo begitu melihat gw yang hanya bisa terdiam begitu mendengar jawaban dari mang edo
“ ya mudah mudahan sih kang...mulai dari hari ini hingga seterusnya, kita enggak akan mengalami hal hal aneh lagi di penginapan ini....” seiring dengan jawaban yang terucap dari mulut mang edo, entah mengapa gw tiba tiba merasakan adanya perubahan suhu udara yang semula terasa dingin kini terasa menjadi hangat bahkan bisa dikatakan cenderung ke arah panas, pada awalnya gw merasa apa yang gw rasakan hanyalah perasaan gw saja, tapi begitu melihat ke arah iyan, doni dan sella yang menampakan perasaan yang sama dengan apa yang gw rasakan, firasat gw langsung mengatakan apakah yang terjadi ini memang terhubung dengan ritual yang telah mang edo lakukan
“ koq jadi panas begini ya mang....” tanya doni yang berbalas kebingungan mang edo, kini belum sempat mang edo mengeluarkan sebuah jawaban, aroma wangi dupa yang semula tercium di dalam ruangan, kini telah tergantikan dengan aroma bau busuk yang sangat menyengat, dan untuk apa yang telah terjadi kali ini, gw merasakan bahwa ini bukanlah sebuah pertanda yang baik dari ritual yang telah dilakukan
“ firasat gw koq jadi enggak enak ya....” ucap gw yang berbalas kecemasan di wajah iyan dan doni, untuk beberapa kali tampak sella menampakan kegelisahannya, hingga akhirnya seiring dengan hembusan angin yang masuk ke dalam ruangan, hawa panas yang semula gw rasakan kini kembali tergantikan dengan hawa dingin, tapi entah mengapa, gw justru merasakan perubahan suhu yang telah terjadi ini telah membawa suasana terlihat semakin mencekam, keheningan yang tercipta karena keterdiaman kami dalam menyikapi apa yang terjadi, kini telah membuat suara putaran jarum jam dari jam kayu besar yang berada di sudut ruangan seperti terdengar jelas di telinga kami, hingga akhirnya sella yang sedari tadi telah menampakan kegelisahannya, kini terlihat menunjuk ke arah nampan sesaji dengan ekspresi tegangnya
“ gus...itu...itu.....” entah apa sebenarnya yang ingin diucapkan oleh sella, nada suaranya yang terdengar bergetar seperti berpadu selaras dengan ekspresi wajahnya yang menampakan ketakutan, mendapati hal tersebut, kini gw, doni, iyan dan mang doni segera mengarahkan pandangan ke arah nampan sesajen, tapi sepertinya apa yang kini telah menjadi obyek menakutkan dari pengelihatan sella ini, sama sekali tidak gw temui keberadaanya, hal yang sama dengan apa yang telah gw lihat sepertinya juga dirasakan oleh doni, iyan dan mang edo, terlihat wajah mereka menampakan kebingungan atas fenomena aneh yang ditunjukan sella
sel...lu kenapa...?” sebuah pertanyaan yang hampir menyerupai sebuah teriakn itu kini terucap dari mulut doni, tapi bukannya menjawab pertanyaan doni, kini wajah sella terlihat semakin menegang dalam ketakutannya, tangannya yang menunjuk ke arah nampan sesaji tampak bergetar dengan hebatnya
“ lu lihat apa sel...istigfar sel...istigfar...” ucap gw berusaha menyadarkan sella dengan cara mengguncang guncangkan tubuhnya
“ mang edo...apa yang terjadi mang...sella kenapa....?” tanya gw dengan nada meninggi kepada mang edo, mendapati pertanyaan tersebut, kini bukannya menjawab apa yang gw tanyakan, terlihat mang edo bangkit dari duduknya dan berlari keluar rumah, seiring dengan mang edo yang telah berlari keluar dari dalam rumah, kini gw bisa mendengar suara mesin motor yang dinyalakan, hingga akhirnya suara mesin motor tersebut mulai terdengar menjauh
“ sinting itu orang, kenapa dia malah kabur....” maki iyan seraya bergerak hendak membantu gw menenangkan sella, kini ketika baru saja iyan hendak menyentuh tubuh sella, bibir sella terlihat bergetar layaknya seseorang yang ingin mengucapkan sesuatu tapi tanpa ada satu patah katapun yang terucap dari mulutnya, hingga akhirnya seiring dengan kedua bola matanya yang membesar, sella mengejangkan tubuhnya, pandangannya yang semula menatap nampan sesaji kini terlihat menatap gw dengan sorot matanya yang tajam, mendapati hal tersebut, iyan yang semula ingin menyentuh tubuh sella kini membatalkan keinginannya dan meminta gw untuk menjauhi sella, tapi belum sempat gw mengikuti apa yang diminta oleh iyan, sebuah gerakan cepat yang dilakukan oleh sella kini telah menempatkan cengkraman jari jemari tangannya di leher gw, walaupun saat ini gw merasakan cengkraman tangan itu tidaklah terlalu kuat menekan batang leher gw, tapi firasat gw mengatakan apa yang telah dilakukan oleh sella ini bukanlah sesuatu yang baik, dan mungkin sella akan melakukan sesuatu yang lebih dari apa yang tengah dilakukannya saat ini
“ jangan panik gus....” ujar doni seraya memberikan isyarat agar gw tidak melakukan suatu tindakan apapun, tapi sepertinya apa yang telah dikatakan oleh doni tersebut tidaklah dengan serta merta menghilangkan rasa panik dan takut yang mulai gw rasakan
“ ya tuhan...gw harus bagaimana....” ucap gw dalam hati ketika tatapan mata ini harus kembali beradu pandang dengan sorot mata sella yang terlihat tajam menatap wajah gw
“ tetap tenang gus....tenang...” seiring dengan perkataan yang terlontar dari mulut iyan, kini terlihat iyan mencoba untuk menyentuh jari jemari sela yang berada dan melingkari batang leher gw ini, tapi belum sempat tangan iyan menyentuh jari jemari sella, seolah mengerti dengan apa yang tengah iyan rencanakan, tatapan mata sella yang semula menatap wajah gw kini teralihkan ke arah wajah iyan, dan di saat itulah gw mendengar suara geraman yang terdengar dari mulut sella, sepertinya suara geraman itu mengisyaratkan kalau sosok yang menguasai tubuh sella ini tidak menyukai dengan apa yang akan dilakukan oleh iyan
“ istigfar sel...sadar....” ucap iyan dengan suara bergetar, kini seiring dengan suara jeritan yang terdengar dari mulut sella, iyan segera mengamankan dirinya dengan jalan beringsut mundur menjauhi sella, hal yang dilakukan iyan tersebut sangatlah berbanding terbalik dengan keadaan gw sekarang ini, di saat tadi sella mengeluarkan suara jeritannya, gw bisa merasakan cengkraman jari jemari sella pada batang leher gw ini terasa semakin menguat, mendapati hal tersebut, kini tidak pilihan lain bagi gw selain harus melepaskan cengkraman tangan itu
“ lepasi gw sel....arggg...tolong...tolong gw...” teriak gw dengan rasa panik begitu mendapati usaha yang gw lakukan ini, kini telah berbuah cekikan yang erat di leher ini, melihat hal tersebut, tampak iyan dan doni yang semula merasa ragu untuk membantu gw, kini mulai memberanikan diri untuk maju dan membantu gw
astaga sel...jangan gila lu...lepasin...” bentak doni dengan panik seraya mencoba melepaskan jari jemari sella dari batang leher gw, seakan tidak mau kalah dengan apa yang doni lakukan, kini iyan pun melakukan hal yang sama dengan apa yang doni lakukan
“ cepat lepasin sel....bisa mati ini si bagus....” seiring dengan perkataan yang terlontar dari mulut iyan, kini sebuah sentakan keras yang dilakukan oleh iyan pada jari jemari sella, telah membuat cengkraman tangan sella pada batang leher gw ini terasa melonggar, hingga akhirnya kini secara perlahan jari jemari sella terlepas seluruhnya dari batang leher ini, mendapati hal tersebut, gw segera beringsut menjauh dari sella
“ gila...lu mau bunuh gw sel....” umpat gw seraya menghirup nafas dalam lalu menghembuskannya kembali, secara bersamaan kini gw melihat iyan dan doni mulai terlihat kewalahan untuk menahan pergerakan sella yang mencoba melepaskan dirinya dari pegangan tangan iyan dan doni
“ baik....darah...mana darah....” teriak sella diantara pergerakannya yang mencoba melepaskan diri
“ cepat ambil kain gus....bisa lemas nih tenaga gw....” ujar doni yang berbalas gerakan gw untuk segera mengambil kain sarung dari dalam kamar, seiring dengan kain sarung yang telah gw dapati, kini iyan dan doni mengikatkan kain sarung tersebut tangan sella, dengan terlebih dahulu meletakan tangan sella di belakang tubuhnya
“ gila nih orang....mau jadi pembunuh kali ya...” umpat doni dengan perasaan kesalnya seraya memandang ke arah wajah sella, melihat hal tersebut gw segera berupaya menenangkan doni, karena gw merasa apa yang telah dilakukan oleh sella ini, bukanlah atas kemaun sella sendiri, melainkan ini adalah kemauan dari sesuatu yang tengah menguasai tubuh sella sekarang ini
mang edo baik....semua ini terjadi gara gara dia....” sebuah ungkapan kemarahan yang terlontar dari mulut iyan, kini mengiringi langkah kaki gw yang bergerak mengambil nampan sesajian itu dari atas lantai, lalu melemparkannya keluar dari dalam rumah melalui teras halaman belakang

tet762
arip1992
lophcifer
lophcifer dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.