Kaskus

Story

meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
SULAKSMI
SULAKSMI



PROLOG




“ semoga ini awal yang baik untuk karir gw dalam berwiraswasta...”
yaa...itulah sepenggal kalimat kebahagian yang terucap dari mulut bagus disaat sebuah berita baik terucap dari mulut bapak dan mamah, keinginan bagus untuk mempunyai sebuah usaha sendiri selepas masa perkuliahannya, kini mulai terwujud seiring dengan keinginan mamah yang menginginkan bagus untuk mengelola sebuah rumah yang merupakan rumah peninggalan dari orang tua mamah dan telah lama terbengkalai
kini bersama ketiga sahabat baiknya, bagus berusaha mewujudkan mimpinya itu menjadi sebuah kenyataan, seiring dengan berjalannnya waktu, akan kah semua usaha bagus itu akan membuahkan hasil yang memuaskan, atau kah ada sisi lain dari rumah tersebut yang bagus tidak ketahui dan akan menjadi penghambat usaha bagus untuk mewujudkan mimpinya tersebut....

Note :

* dilarang copy paste tanpa seizin penulis
* apa yang ane tuliskan hanyalah sebuah bentuk karya seni tanpa memperdebatkan nyata/fiksi
* update disesuaikan dengan RL penulis


terima kasih & selamat membaca emoticon-coffee
@meta.morfosis

Chapter demi chapter :
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
EPILOG


Diubah oleh meta.morfosis 16-01-2019 19:25
indrag057Avatar border
bukhoriganAvatar border
bonita71Avatar border
bonita71 dan 35 lainnya memberi reputasi
36
65K
197
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
#67
Chapter 11




“ setelah kejadian meninggalnya mamah kamu itu, bapak mendapat kabar bahwa kedua orang tua dari mamah kamu itu membawa mamah kamu entah kemana, dengan alasan mereka enggak merasa yakin dengan apa yang telah diputuskan oleh pihak rumah sakit, saat itu bapak bisa memaklumi gus, orang tua mana sih yang akan rela anak semata wayangnya mengalami kejadian seperti itu, hingga akhirnya setelah bapak mendapatkan kabar berita itu, bapak seperti terputus komunikasi dan informasi mengenai kabar berita mamah kamu....”
“ dan disaat itu bapak menikah dengan ibu....” ucap gw memotong perkataan bapak
“ benar gus, disaat itu bapak bertemu dengan ibu, hingga akhirnya bapak memutuskan untuk menikah dengan ibu...setelah hampir lima tahun lebih bapak mengarungi susah senangnya hidup ini bersama ibu kamu, disaat itu bapak kembali berjumpa dengan mamah kamu.....ini sangat sulit untuk bapak jelaskan dengan kata kata gus...intinya pada saat itu bapak merasa kalau cinta bapak kepada mamah kamu seperti bersemi kembali, hari hari indah yang telah bapak lalui bersama ibu kamu seperti lenyap begitu saja terganti dengan cinta bersemi itu...bapak....” seiring dengan terhentinya perkataan bapak, kini gw bisa mendengar isak tangis bapak, mendapati hal tersebut kini gw hanya bisa terdiam, seraya membayangkan kesedihan yang mungkin tengah bapak rasakan
“ sudah pak...bapak enggak usah teruskan lagi ceritanya, bagus sudah mengerti....dan bagus juga minta maaf kalau selama ini bagus telah berprasangka buruk terhadap bapak....” ucap gw mencoba bersikap bijak diantara kesedihan yang bapak rasakan, hingga akhirnya setelah kami berbincang bincang kembali dengan topik yang sengaja gw alihkan dari pembicaraan mengenai perceraian itu, bapak pun mengakhiri panggilan teleponnya
“ ini gila...benar benar gila, apa maksud semua ini.....dan lantas apa hubungannya antara sejarah rumah ini dengan sulaksmi, kecelakaan mamah, serta perceraian yang terjadi antara bapak dan ibu....apakah semuanya itu mempunyai benang merah antara kisah yang satu dengan kisah yang lain....ya tuhan...andai saja gw mempunyai kesempatan untuk melihat masa lalu....tentu gw enggak akan sebingung ini....” gumam gw dalam hati seraya membuka pintu dan berjalan memasuki rumah
titian waktu yang terus bergerak kini telah mengantarkan waktu menunjukan pukul lima sore, keberadaan gw, doni, iyan dan sella di perkebunan kini laksana berpayungkan cahaya langit yang berwarna merah temaram, untuk sesekali nampak gerakan dedaunan yang bergoyang mengikuti hembusan angin dingin yang datang
“ waduhh...ternyata masih ada pohon yang belum kita tanam ya don.....” ucap gw kepada doni begitu melihat lima buah polybag yang berisikan tanaman buah masih berada di atas tanah
“ iya gus, mungkin iyan lupa untuk menanamnya....” seiring perkataan yang terucap dari mulut doni, kini gw memandang ke arah sella dan iyan yang berada cukup jauh dari tempat gw dan doni berdiri, sepertinya kini mereka tengah asik menunjang beberapa buah tanaman tomat pada bambu penunjang tanaman
“ ya udah, kalau begitu sebaiknya kita tanam sekarang aja don, mumpung hari belum gelap.....” ujar gw seraya mengambil beberapa polybag tersebut dan membawanya ke tempat yang akan gw tanami, melihat hal tersebut, kini doni mengikuti apa yang telah gw lakukan
“ lah...koq jadi malah bengong don, ya udah...sebaiknya sekarang lu ambil cangkul yang ada di gudang, biar kerjaan kita ini cepat selesai....” pinta gw kepada doni, seiring gerakan tangan gw yang tengah melepaskan polybag dari tanaman, tampak doni masih berdiri terpaku tanpa menunjukan tanda tanda akan mengambil cangkul yang tersimpan di gudang
“ lu kenapa don...?” tanya gw begitu melihat doni yang masih berdiri terpaku dengan ekspresi wajah tidak nyaman
“ gw takut kalau harus sendirian ke gudang gus...anterin gw dong...” jawab doni yang berbalas tawa kecil dari mulut gw
“ ya ampun don...takut...takut sama apaan...?, lagi pula ini masih terang...enggak mungkinlah lu bakal ketemu sama perempuan itu lagi.....” gurau gw yang sama sekali tidak berbalas gelak tawa doni, justru gurauan gw tersebut telah membuat ekspresi wajah doni terlihat menegang
“ ahhh jangan sembarangan kalau ngomong gus...pokoknya gw enggak mau ke gudang itu kalau enggak lu anterin....” seiring dengan berakhirnya perkataan doni, kini doni ikut berjongkok di sisi gw, tangannya terlihat mulai melepaskan polybag dari tanaman, mendapati hal tersebut, gw segera bangkit dari jongkok dan berjalan menuju ke gudang
“ dasar brengsek...bisa repot juga gw kalau nantinya iyan dan sella jadi sepenakut seperti doni...” gerutu gw diantara langkah kaki yang mulai medekati gudang, hingga akhirnya disaat langkah kaki gw tinggal menyisakan beberapa langkah lagi menuju pintu gudang, kini gw melihat kehadiran mang edo yang berjalan dari arah teras depan menuju ke arah gw
“ lohhh kang bagus mau kemana...?” tanya mang edo begitu berdiri di hadapan gw, sesekali terlihat rasa ketidakenakan mang edo begitu melihat ekspresi kejengkelan di wajah gw
“ mau mengambil cangkul di gudang mang....itu si doni penakut banget, masa masih terang begini udah mikir yang aneh aneh....”
“ ya biasalah anak muda zaman sekarang kang.....penasaran sama hantu tapi takut melihat hantu...” ujar mang edo berbalas gelak tawa kawa, hingga akhirnya mang edo menawarkan diri untuk mengambil cangkul didalam gudang
“ ya udah...tunggu sebentar kang, biar nanti sekalian saya bantuin menanamnya...” ujar mang edo kembali lalu berjalan menuju gudang, setelah melepaskan gembok yang menempel pada pintu gudang, kini mang edo berjalan memasuki gudang
“ sialan...benar juga ya kata mang edo...banyak orang yang penasaran dengan hantu tapi enggak mau saat dikasih lihat...” gumam gw sambil tertawa kecil, dan sepertinya kini gumaman gw tersebut telah membawa penantian gw yang menunggu kehadiran mang edo keluar dari dalam gudang telah terasa begitu lama untuk ukuran hanya mengambil cangkul yang seharusnya dapat dilakukan sekejap mata
“ mang edo.....!” panggil gw kepada mang edo seraya menatap ke arah pintu yang nampaknya telah menutup kembali setelah tadi dibuka oleh mang edo, kini sudah tidak terlihat lagi gembok yang biasanya tersangkut di pintu, sepertinya mang edo telah membawa gembok tersebut
“ mang....!!” panggil gw kembali, dan untuk panggilan yang kedua ini, gw segera berjalan menuju pintu lalu membukanya
gelap dan lembab...itulah gambaran yang bisa gw berikan ketika gw telah membuka pintu gudang dan menatap ke dalam gudang, pencahayaan yang minim dari sinar matahari sore yang telah meredup kini telah membuat jarak pandang gw didalam ruangan terasa sangat terbatas, bisa gw lihat keberadaan alat alat perkebunan serta beberapa bale bambu seperti terselimuti oleh kegelapan
“ mang....!” panggil gw kembali dan berbalas dengan keheningan, setelah kembali lama terdiam dan memandang ke suluruh sudut ruangan gudang, akhirnya gw memutuskan untuk berjalan memasukinya
“ ini aneh....bukankah tadi mang edo memasuki gudang ini....lantas sekarang mang edo kemana....” seiring dengan gumaman yang terucap dihati gw ini, bayangan akan sesuatu yang kurang baik telah terjadi dan menimpa mang edo kini seperti bermain main dalam pikiran gw....tapi walaupun begitu gw masih bisa menepis bahwa kejadian buruk yang mungkin telah terjadi, itu berhubungan dengan sesuatu yang aneh
“ mang edo....mang edo dimana....” untuk kesekian kalinya panggilan yang terlontar dari mulut gw kini laksana sebuah doa yang berharap akan adanya jawaban dari mang edo, dan sepertinya untuk panggilan kali ini tuhan sedang berkenan untuk menjawab doa gw, meskipun itu bukanlah sebuah jawaban yang gw inginkan
..hik.....kadieu.....nyeri.....nyeri.....hik...hik....
yaaa...itulah sebuah penggalan kata kata tanpa makna yang untuk pertama kalinya terdengar samar di dalam ruangan ini, dan itu bukanlah sebuah suara yang gw inginkan, apa yang telah gw dengar kali ini adalah sebuah suara rintihan wanita yang terbalut dalam isak tangisnya, dari nada suaranya yang terdengar parau dan lirih...bisa gw rasakan bahwa wanita tersebut seperti sedang merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan....dan itu entah apa, hingga akhirnya setelah beberapa saat gw mencoba menajamkan pendengaran ini dan mengamati ke suluruh sudut ruangan yang gelap, suara rintihan bercampur tangisan itu kembali terdengar, dan untuk kali ini gw sangat merasa yakin kalau suara tersebut terdengar dari sebuah sudut ruangan yang letaknya terpojok, dan itu adalah sebuah sudut ruangan yang mungkin apabila sinar matahari sedang bersinar terang, cahayanya tidak akan mampu untuk menjangkau dan menerangi sudut tersebut
“ ya tuhan...apakah ini suara yang sama dengan apa yang pernah di dengar vina waktu itu.....” seiring dengan timbulnya pertanyaan di hati gw ini, kini pandangan gw terarah ke sudut ruangan gelap dimana suara rintihan tersebut terdengar, dan diantara samarnya pandangan mata ini, gw masih bisa melihat keberadaan sebuah bale bambu yang berada di sudut ruangan seperti memberikan celah lebar antara bale bambu tersebut dengan dinding batu, dan entah mengapa di saat itu firasat gw mengatakan bahwa suara rintihan tersebut memang terdengar dari tempat itu
“ jangan bengong gus.....jangan bengong.......!!” ucap gw pelan dan berulang ulang ketika menyadari bahwa gw mulai merasakan kekosongan pikiran dalam memandang celah tersebut, hingga akhirnya...entah ini karena efek dari kekosongan pikiran yang tadi telah sempat gw rasakan, kini gw melihat selimut hitam yang menyelubungi sudut ruangan, seperti membentuk sebuah bentuk tubuh dengan posisi duduk meringkuk dan menyandarkan tubuhnya pada dinding batu, walaupun semua terasa terlihat begitu gelap, tapi gw yakin kalau sesosok bayangan hitam yang bermetamorfosis dari kegelapan sudut ruangan itu adalah sesosok wanita, hal ini dapat terlihat jelas dari dari rambutnya yang tergerai menutupi wajah...ya sebuah wajah yang menunduk dengan bertopang pada tangan yang berada di atas lutut wanita tersebut
“ ini gila...ini pasti enggak nyata......” gumam gw pelan seraya mulai merasakan tubuh yang terasa menegang dikarenakan rasa takut kini telah menguasai hampir seluruh pikiran gw ini
“ gw harus pergi dari tempat ini....ini bukan sesuatu yang baik....” sepertinya apa yang telah terucap dari mulut gw ini, kini telah menjadi sebuah titik awal dari pergerakan tubuh wanita tersebut, untuk beberapa kali gw bisa melihat kalau geraian rambut wanita tersebut tampak bergoyang, seolah olah mengikuti pergerakan dari kepalanya yang mulai bergerak, mendapati hal tersebut, kini yang terpikirkan dalam pikiran gw adalah sebuah keputusan yang bulat untuk secepatnya meninggalkan gudang ini, tapi baru saja pikiran tersebut mulai hendak menggerakan langkah kaki gw untuk beringsut mundur ke belakang, suara rintihan wanita tersebut kembali terdengar dan kali ini diiringi dengan pergerakan kepalanya yang bergerak secara perlahan hingga akhirnya wajah wanita tersebut kini dengan sepenuhnya menatap ke arah gw
“ astagfirullah....” ucap gw dengan tergagap, rasa takut yang kini mulai menguasai seluruh pikiran gw, telah membuat langkah kaki gw ini terasa berat untuk beringsut mundur kebelakang
ini benar benar gila...sungguh teramat gila, apa yang kini tengah berada dihadapan gw ini, mungkin adalah sebuah pengalaman aneh terseram yang pernah gw alami, entah apa yang harus gw katakan ketika pandangan mata gw ini harus menyaksikan sesosok wanita dengan tubuh dan wajah berselimutkan kegelapan, tengah bangkit dan mengarahkan sorot matanya yang tajam ke arah gw, kini diantara beratnya langkah kaki gw untuk beringsut ke belakang, sesosok wanita itu kini telah benar benar berdiri dan mengarahkan tatapan matanya ke arah gw, selimut kegelapan yang menyelimuti tubuhnya seperti membuat tubuh wanita itu terlihat bagaikan tidak berpijak pada tanah, hingga akhirnya seiring dengan tubuhnya yang mulai bergerak menghampiri gw, mulut wanita itu kini terlihat membuka lebar layaknya seseorang yang ingin berteriak dengan lepasnya
“ tolongggg pergiii....jangan ganggu sayaaa....” ucap gw diantara rasa takut yang kini telah menghentikan langkah kaki gw, hingga akhirnya disaat tubuh wanita itu perlahan mulai kembali mendekat, keinginan kuat gw untuk segera meninggalkan gudang ini seperti memberikan gw sebuah kekuatan untuk kembali beringsut mundur kebelakang secara perlahan, dan tanpa gw sadari, kini gw bisa merasakan seperti ada sesuatu yang telah tersentuh oleh bagian punggung gw, menyadari hal tersebut, secara refleks tangan gw segera menyentuh dan meraba benda tersebut, hingga akhirnya gw menyadari kalau benda yang telah tersentuh oleh punggung gw ini adalah sebuah kayu yang tidak lain adalah pintu keluar dari gudang ini
“ ya tuhan...gw bebas...gw bebas...” sebuah ucapan yang terasa menjerit di hati ini, kini telah mengantarkan keberanian gw untuk memutar balik tubuh ini dan meraih gagang pintu yang akan menjadi sebuah titik awal dari kebebasan gw atas teror mencekam yang tengah gw alami di gudang ini, tapi sepertinya kali ini tuhan belum berkehendak untuk membebaskan gw dari teror mencekam ini, kini seiring dengan gerakan tangan gw yang memutar gagang pintu, kebebasan yang telah berada didepan mata gw ini seperti lenyap di telan kegelapan, hal ini dikarenakan gw menemui kegagalan untuk membuka pintu tersebut
ini enggak mungkin...mang edo..buka....bukaaa.....” teriak gw dengan sekerasnya sambil menggedor daun pintu, harapan gw akan kehadiran seseorang yang akan memberikan bantuannya dan mengeluarkan gw dari gudang ini sepertinya harus berakhir dengan sebuah harapan yang sia sia, kini seiring dengan rasa keberputusasaan yang mulai memuncak, sebuah sentuhan dingin yang terasa menyentuh punggung ini telah membuat gw terhenyak dan menghentikan teriakan keras itu
“ jangan ganggu saya...jangan ganggu...” ucap gw pelan seraya merasakan rasa dingin yang secara perlahan mulai menjalari seluruh tubuh, keinginan gw untuk meronta dan terbebas dari rasa dingin itu kini telah membuat tubuh gw terjerembab jatuh ke tanah dan memandang langit langit gudang yang berselimut kegelapan
“ mang edo...tolong...”
yaa...itulah sebuah kalimat terakhir yang bisa gw ucapkan dari mulut ini sebelum akhirnya gw benar benar kehilangan kesadaran dan mendapati kalau tubuh ini kini telah terbaring di atas kasur dengan beberapa wajah yang tengah memandangi gw
“ apa yang terjadi....?” tanya gw seraya memandangi wajah wajah yang tengah memandang ke arah gw
“ justru kami yang harus bertanya sama lu gus....apa sebenarnya yang telah lu alami di gudang, sampai sampai lu ditemukan dalam keadaan meracau enggak karuan begitu....” tanya iyan dengan ekspresi rasa cemas
“ gw...gw...” rasa pening yang gw rasakan di kepala ini kini telah membuat gw menghentikan perkataan yang baru saja ingin terucap dari mulut ini, melihat hal tersebut, tampak sella mengambil segelas air yang berada di atas meja lalu membantu gw untuk meminum air tersebut
“ lu kenapa sih gus....sumpah...tadi itu kami khawatir banget melihat kondisi lu seperti itu.....” ucap sella seraya meletakan gelas di atas meja, kini tatapan matanya kembali terarah ke wajah gw
“ memangnya tadi gw ditemukan seperti apa sel......?”
seperti orang kesurupan gus....” ujar iyan mendahului jawaban yang baru akan terucap dari mulut sella, mendengar perkataan iyan tersebut, gw hanya bisa terdiam seraya merasakan rasa sakit yang gw rasakan di sekujur tubuh ini
“ tadi itu itu disaat doni menyampaikan kabar kalau lu mengambil cangkul ke gudang dan belum kembali lagi, kami masih berpikir positif kalau hal tersebut mungkin karena lu tengah berbincang bincang dengan mang edo yang ada di rumah....tapi saat kumandang azan magrib terdengar dan mang edo datang ke kebun untuk meminta izin mengantarkan pulang istrinya...disitu baru kami terkejut dan bertanya tanya tentang keberadaan lu....hingga akhirnya kami memutuskan untuk mengecek keberadaan lu di gudang......” seiring keterangan yang meluncur dari mulut sella, kini terdengar deru suara mesin motor yang memasuki halaman penginapan
dan disaat itu, kalian menemukan gw dalam keadaan enggak sadar dan kesurupan....?” mendengar pertanyaan gw tersebut, tampak doni, iyan dan sella menganggukan kepalanya secara serempak
“ ada yang lebih mengejutkan lagi gus dibalik penemuan lu itu....” sebuah perkataan yang meluncur dari mulut doni kini telah menggelitik rasa keingintahuan gw diantara ekspresi keterkejutan yang terpancar di wajah gw
“ ada yang lebih mengejutkan...?, maksud perkataan lu ini apa don....”
“ maksud gw begini gus, tadi saat kami menemukan lu ada di dalam gudang, kondisi pintu gudang itu masih dalam keadaan tergembok dari luar...nahhh...bagaimana mungkin lu bisa berada di dalam gudang, kan enggak mungkiin juga lu menghilang terus muncul didalam gudang.....” jawab doni yang berbalas rasa ketidakpercayaan gw atas apa yang telah dikatakan oleh doni
“ itu enggak mungkin don...enggak mungkin, justru gw mau bertanya sama kalian...siapa yang mengunci pintu itu dari luar, sedangkan saat gw memasuki gudang itu, pintu gudang itu telah lebih dulu dibuka oleh mang edo, karena pada waktu itu mang edo menawarkan diri untuk mengambilkan cangkul di dalam gudang.....” ucap gw yang berbalas ekpresi kebingungan di wajah doni, iyan dan sella, untuk beberapa saat tampak mereka saling bertukar pandang
“ enggak mungkin gus....enggak mungkin mang edo membuka pintu itu.....” suara ketukan pada daun pintu kini menghentikan perkataan iyan, seiring dengan pintu yang telah dibuka oleh doni, kini terlihat keberadaan mang edo yang tengah berdiri di depan pintu kamar
“ alhamdulillah kang bagus udah sadar......” ujar mang edo begitu melihat keberadaan gw di atas tempat tidur, mendapati perkataan mang edo tersebut, gw hanya mengembangkan senyum lalu meminta mang edo untuk memasuki kamar
“ mang edo habis dari mana....?” tanya gw begitu mang edo telah berdiri di sisi tempat tidur
“ saya habis mengantarkan pak syarif kang....” jawab mang edo yang berbalas ekspresi kebingungan di wajah gw
“ pak syarif...?”
“ iya pak syarif....warga kampung sini juga kang, kebetulan tinggalnya di dekat rumah saya, nahh tadi itu, disaat kang bagus kesurupan, saya berpikir untuk memanggil pak syarif...karena kondisi kesurupan kang bagus teh, beda banget dengan kesurupan yang pernah dialami oleh adik akang waktu itu....” jawaban yang meluncur dari mulut mang edo kini semakin menambah panjang daftar pertanyaan yang ada di kepala gw ini, hingga akhirnya sebelum gw memutuskan untuk bertanya tentang perbedaan kesurupan itu, kini iyan ikut menjelaskan akan maksud perkataan mang edo

tet762
arip1992
regmekujo
regmekujo dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.