- Beranda
- Stories from the Heart
SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU
...
TS
kata.namnam
SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU

SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU
Selamat datang pada thread sederhana tentang sebuah cerita yang mengatasnamakan rindu sebagai awal dari sebuah percakapan penuh komedi.
Spoiler for PERKENALAN DIRI:
Spoiler for JADWAL UPDATE:
Spoiler for FAQ:
Spoiler for PERATURAN UNTUK PEMBACA:
Spoiler for DAFTAR ISI:
enjoyed
Diubah oleh kata.namnam 18-08-2018 02:34
bukhorigan dan anasabila memberi reputasi
2
22.4K
173
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kata.namnam
#84
PART 6 - SAINGANKU
Pagi itu, aku sudah berniat akan menemui Mishel. Aku akan ke kelasnya. Memastikan bahwa Mishel tak apa-apa. Kemarin, aku mengantarnya pulang sekolah ke rumah. Padahal, benar katanya, ayahnya menjemputnya. Hanya saja, aku tak berpapasan dengang ayahnya. Sesampai di rumahnya, tak ada ayah.
Sebenarnya, dalam benak, ini adalah kesempatan. Semoga saja Mishel kena omel ayahnya, dan menjelaskan bahwa aku memaksa mengantarkannya. Agar ayahnya marah. Dengan begitu aku punya alasan untuk main ke rumah Mishel, untuk meminta maaf ke ayah. Aku tak peduli, akan dimarahi ataupun bagaimana sikap ayahnya nanti. Yang penting, MAIN!
Sesampainya aku di sekolah, sebelum lonceng. Aku langsung bergegas ke kelas Mishel. Kulihat, di sana sudah ada Bella sedang bersama Mishel. Dan beberapa anak kelasnya, yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing masing. Ada yang kelihatannya sedang mengerjakan PR. Sibuk dengan gengnya masing-masing. Dan Mishel dan Bella, kulihat sedang asik ngerumpi.
Sengaja aku tak langsung masuk, aku merunduk ke jendela dekat mereka berdua duduk.
“Jadi sore jam 4 yaa!”, kudengar percakapan mereka dari balaik jendela.
“Iya Bella!”
“Sekalian ketemu Rifa, kan? Ekhem ekheeeem”, ledek Bella
(Hmm, Rifa? Bukannya dia ketua mading yang udah senior ya? Oke, waspada satu!)
“Apaaan si! Gak jelas bangat!”, tungkas Mishel judes.
Mereka berdua saling menggelitiki. Saling tertawa, dan tertebaklah keberadaanku, saat Bella mencoba berdiri menungkas gelitikan Mishel.
“Jaka?”, seru Bella kaget melihat aku berdiri di balik jendela.
“Ngapain disitu?” tambah Bella. Mishel ikut melihat ke arahku.
Aku diam sejenak, tersenyum kepada mereka. Lalu melangkah masuk ke kelas dan langsung duduk di depan meja mereka berdua. Duduk rapih menghadap mereka berdua. Mereka melongo melihatku. Aneh!
“Kenapa Bell? Tadi nanya apa?”, tanyaku.
“Ngapain kamu di situ?”, telunjuk Bella mengarah pada jendela.
“Di situ? Aku di sini juga!”
“Ya tadikan disitu!”, tegas Bella.
“Tapi kan sekarang di sini!”, sergahku senyum, “Gak nanya ngapain aku di sini Bell?”
“Males bangeeeeet!”, ucap Bella sambil menunjukan muka ogah.
“Tadi kamu nguping?”, Tanya Mishel datar. Sepertinya ada kekhawatiran di matanya.
“Iya, kenapa Shel?”
“Semuanya?”
“Kenapa? Riffa? Ketua mading? senior kamu?”
Mishel hendak menimpali, tapi aku cekat “eh, satu lagi….”, kudekatkan mulutkku ke telinganya, “dia juga suka kamu”, bisikku lirih.
Muka Mishel tambah datar.
“Apaan si Jak, bisik-bisik, ada aku jugaaaa!”, sambar Bella.
“Sini”, Bella mendekatkan teliganya. “Rahmat masih sayang!”, bisikku
“Ih, apaan sih Jakaaaaaaa!”
“Ha ha”, aku tertawa menang.
“Apa Jakaaaaa?”, Bella semakain penasaaran.
Kubisiki lagi, “Riffa suka samaa Mishel”
“Iya tahuuu!”, sambung Bella tersenyum lantang, “dia kemarin juga ngasih Mishel cokelat kaliii!”,
Aku dan Bella terus tertawa memojokkan Mishel. Tepatnya, aku ‘pura-pura’ tertawa. Aku lelaki, aku kuat, tapi boleh cemburukan?
Sayang sekali tetiba lonceng berbunyi. Tanda masuk kelas. Belum sempat Mishel nimbrung pembicaraaan tentang Riffa, langsung saja Bella pamit. Katanya, pelajaran fisika, galak gurunya. Aku juga tahu, gurunya galak! Terus?
Obrolan perihal Riffa menggantung. Mishel belum sempat menanggapinya. Bella mengajakku masuk kelas, Cuma aku bilang untuk duluan saja. Kini, aku beralih tempat duduk di sebelah Mishel.
“Kamu enggak masuk kelas?”, Tanya Mishel sedikit risih melihatku duduk di sebelahnya.
“Ini lagi di kelas”, jawabku santai.
“Maksudnya ke kelas kamu?”.
Seorang perempuan datang, hendak duduk di sebelah Mishel. Cuma, aku mengedipkan mata kode agar dia duduk di belakang dulu.
“Sebentar Shel”, aku menatapnya, “Besok minggu kita jogging yuk!”
“Besok kamis Jaka!”
“Besoknya lagi?”
“Jum’at”
“Besoknya lagi?”
“Sabtu”, Mishel mulai tersenyum.
“Besoknya lagi?”
‘Minggu!”
“Nah, nyampe kan?”
“Ha ha, bisa aja kamu”, senyum Mishel, “yaudah iya, kita jogging”
“Kita jogging sambil latihan kimpoi lari ya…”
“Ha ha ha” (Guru datang)
Aku bergegas hendak keluar kelas, tapi Mishel menarik bajuku, “kenapa kimpoi lari?”
“Takut diganggu Riffa kalo kimpoi di sini!”, ledekku.
“Ha ha ha”, kita berdua tertawa, membuat guru melihat keberadaanku.
“Ngapain kamu disini?”, Tanya guru itu saat aku baru sampai di depan kelas.
“Riffa pak” tungkasku, anak-anak kelas mulai memperhatikanku.
“Riffa kenapa? Nyari Riffa?”
“Bukan Pak”
“Terus?”
“Riffa suka Mishel Pak”, jawabku sambil lari kecil keluar kelas.
“ha ha ha”
“Cihuyyy”
“Mishel ayoo Mishel”
Kudengar dari luar kelas, anak-anak sekelas menyoraki Mishel.
Hahaha. Setidaknya aku sudah berhasil mengajak Mishel buat Jogging hari minggu nanti. Riffa? Ah, takku peduli. Saingan juga gak papa. Gak takut juga.
Ah, lupa. Aku ternyata lupa pada saat itu. Niatnya kan nanya perihal ayahnya! Tapi, sudahlah. Lagian, besok minggu pasti ketemu. Yaa, mumpung minggu, ada baiknya memang jogging sama Mishel, sambil latihan kimpoi lari!

Sebenarnya, dalam benak, ini adalah kesempatan. Semoga saja Mishel kena omel ayahnya, dan menjelaskan bahwa aku memaksa mengantarkannya. Agar ayahnya marah. Dengan begitu aku punya alasan untuk main ke rumah Mishel, untuk meminta maaf ke ayah. Aku tak peduli, akan dimarahi ataupun bagaimana sikap ayahnya nanti. Yang penting, MAIN!
Sesampainya aku di sekolah, sebelum lonceng. Aku langsung bergegas ke kelas Mishel. Kulihat, di sana sudah ada Bella sedang bersama Mishel. Dan beberapa anak kelasnya, yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing masing. Ada yang kelihatannya sedang mengerjakan PR. Sibuk dengan gengnya masing-masing. Dan Mishel dan Bella, kulihat sedang asik ngerumpi.
Sengaja aku tak langsung masuk, aku merunduk ke jendela dekat mereka berdua duduk.
“Jadi sore jam 4 yaa!”, kudengar percakapan mereka dari balaik jendela.
“Iya Bella!”
“Sekalian ketemu Rifa, kan? Ekhem ekheeeem”, ledek Bella
(Hmm, Rifa? Bukannya dia ketua mading yang udah senior ya? Oke, waspada satu!)
“Apaaan si! Gak jelas bangat!”, tungkas Mishel judes.
Mereka berdua saling menggelitiki. Saling tertawa, dan tertebaklah keberadaanku, saat Bella mencoba berdiri menungkas gelitikan Mishel.
“Jaka?”, seru Bella kaget melihat aku berdiri di balik jendela.
“Ngapain disitu?” tambah Bella. Mishel ikut melihat ke arahku.
Aku diam sejenak, tersenyum kepada mereka. Lalu melangkah masuk ke kelas dan langsung duduk di depan meja mereka berdua. Duduk rapih menghadap mereka berdua. Mereka melongo melihatku. Aneh!
“Kenapa Bell? Tadi nanya apa?”, tanyaku.
“Ngapain kamu di situ?”, telunjuk Bella mengarah pada jendela.
“Di situ? Aku di sini juga!”
“Ya tadikan disitu!”, tegas Bella.
“Tapi kan sekarang di sini!”, sergahku senyum, “Gak nanya ngapain aku di sini Bell?”
“Males bangeeeeet!”, ucap Bella sambil menunjukan muka ogah.
“Tadi kamu nguping?”, Tanya Mishel datar. Sepertinya ada kekhawatiran di matanya.
“Iya, kenapa Shel?”
“Semuanya?”
“Kenapa? Riffa? Ketua mading? senior kamu?”
Mishel hendak menimpali, tapi aku cekat “eh, satu lagi….”, kudekatkan mulutkku ke telinganya, “dia juga suka kamu”, bisikku lirih.
Muka Mishel tambah datar.
“Apaan si Jak, bisik-bisik, ada aku jugaaaa!”, sambar Bella.
“Sini”, Bella mendekatkan teliganya. “Rahmat masih sayang!”, bisikku
“Ih, apaan sih Jakaaaaaaa!”
“Ha ha”, aku tertawa menang.
“Apa Jakaaaaa?”, Bella semakain penasaaran.
Kubisiki lagi, “Riffa suka samaa Mishel”
“Iya tahuuu!”, sambung Bella tersenyum lantang, “dia kemarin juga ngasih Mishel cokelat kaliii!”,
Aku dan Bella terus tertawa memojokkan Mishel. Tepatnya, aku ‘pura-pura’ tertawa. Aku lelaki, aku kuat, tapi boleh cemburukan?
Sayang sekali tetiba lonceng berbunyi. Tanda masuk kelas. Belum sempat Mishel nimbrung pembicaraaan tentang Riffa, langsung saja Bella pamit. Katanya, pelajaran fisika, galak gurunya. Aku juga tahu, gurunya galak! Terus?
Obrolan perihal Riffa menggantung. Mishel belum sempat menanggapinya. Bella mengajakku masuk kelas, Cuma aku bilang untuk duluan saja. Kini, aku beralih tempat duduk di sebelah Mishel.
“Kamu enggak masuk kelas?”, Tanya Mishel sedikit risih melihatku duduk di sebelahnya.
“Ini lagi di kelas”, jawabku santai.
“Maksudnya ke kelas kamu?”.
Seorang perempuan datang, hendak duduk di sebelah Mishel. Cuma, aku mengedipkan mata kode agar dia duduk di belakang dulu.
“Sebentar Shel”, aku menatapnya, “Besok minggu kita jogging yuk!”
“Besok kamis Jaka!”
“Besoknya lagi?”
“Jum’at”
“Besoknya lagi?”
“Sabtu”, Mishel mulai tersenyum.
“Besoknya lagi?”
‘Minggu!”
“Nah, nyampe kan?”
“Ha ha, bisa aja kamu”, senyum Mishel, “yaudah iya, kita jogging”
“Kita jogging sambil latihan kimpoi lari ya…”
“Ha ha ha” (Guru datang)
Aku bergegas hendak keluar kelas, tapi Mishel menarik bajuku, “kenapa kimpoi lari?”
“Takut diganggu Riffa kalo kimpoi di sini!”, ledekku.
“Ha ha ha”, kita berdua tertawa, membuat guru melihat keberadaanku.
“Ngapain kamu disini?”, Tanya guru itu saat aku baru sampai di depan kelas.
“Riffa pak” tungkasku, anak-anak kelas mulai memperhatikanku.
“Riffa kenapa? Nyari Riffa?”
“Bukan Pak”
“Terus?”
“Riffa suka Mishel Pak”, jawabku sambil lari kecil keluar kelas.
“ha ha ha”
“Cihuyyy”
“Mishel ayoo Mishel”
Kudengar dari luar kelas, anak-anak sekelas menyoraki Mishel.
Hahaha. Setidaknya aku sudah berhasil mengajak Mishel buat Jogging hari minggu nanti. Riffa? Ah, takku peduli. Saingan juga gak papa. Gak takut juga.
Ah, lupa. Aku ternyata lupa pada saat itu. Niatnya kan nanya perihal ayahnya! Tapi, sudahlah. Lagian, besok minggu pasti ketemu. Yaa, mumpung minggu, ada baiknya memang jogging sama Mishel, sambil latihan kimpoi lari!

Diubah oleh kata.namnam 21-07-2018 19:32
sydney89 memberi reputasi
1