- Beranda
- Stories from the Heart
Sebuah Kisah Jomblo Ngesot (Komedi, Cinta)
...
TS
twnty1guns
Sebuah Kisah Jomblo Ngesot (Komedi, Cinta)
Halo gan n sist. Perkenalkan ane member baru di Kaskus. Jadi, di sini ane mau menyalurkan hobi ane yaitu menulis cerita. Sekaligus juga ane pengen berbagi keresahan-keresahan ane selama ini. Yang ane tulis dalam bentuk cerita yang dibuat sendiri. Dan ane juga pengen mendapat penilaian dari agan n sist soal cerita yang ane buat.
Ceritanya tentang seorang cowok bego yang pengen punya pacar, tapi gak tau caranya gimana, dia juga selalu disesatkan sama saran temennya sendiri. Karena ane baru sekali buat thread di kaskus, maaf kalo masih berantakan. Nanti ane pelajarin lagi hehehe
Semoga agan n sist suka.... Selamat membaca!
Ceritanya tentang seorang cowok bego yang pengen punya pacar, tapi gak tau caranya gimana, dia juga selalu disesatkan sama saran temennya sendiri. Karena ane baru sekali buat thread di kaskus, maaf kalo masih berantakan. Nanti ane pelajarin lagi hehehe

Semoga agan n sist suka.... Selamat membaca!
Spoiler for Index:
Diubah oleh twnty1guns 04-08-2018 17:42
junti27 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
12.9K
76
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
twnty1guns
#25
BAB 1 - Pertemuan Tak Diduga - Part 6
“Tuh ambil aja di tas gue, abis itu jangan kasi tau yang lain. Gue mau umpetin buku tugas di Pos Satpam.” Edo berpesan pada gue, tanpa basa-basi gue langsung ngambil buku tugasnya untuk nyalin pr.
Gu menyalin pr sambil nungguin kedatangan Galih. Dan, sampai bel masuk berdering, Galih gak masuk sekolah. Ngirim message pun percuma, gak dibales. Ke mana dia pergi? Apakah dia berhasil keluar tempat makan dengan selamat dari kepungan para pemalak? Atau dia masih di dalam Kamar mandi sampai sekarang?
Beberapa hari kemudian, Galih baru masuk sekolah. Harapan gue saat itu, semoga dia lupa soal kejadian beberapa hari yang lalu. Dia menaruh tas, lalu nyamperin gue. “Kok lo ninggalin gue sih?” muka Galih geram mandangin gue.
"Kompor di rumah lupa gue matiin," jawab gue. nyari alasan biar ga dicakar.
"Matiin kompor? Lo aja kalo mau matiiin kompor perlu manggil pemadam kebakaran!" Galih tambah nyolot, gue diem aja. "Udah kena palak, lo belum bayar lagi. Jadi gue harus ngebayarin lo atau gue gak bisa keluar dari sana." Dia menambahkan.
"Yaudah, entar gue ganti," balas gue santai.
Sepulang sekolah, gue dan Galih langsung ke Kantin. Di sana gue mau membicarakan soal Rina, siapa tau aja ketemu. Hari ini Kantin lumayan rame. Rasanya susah untuk nyariin Rina dalam kepadatan mahkluk kelaparan di Kantin. Pas dapet tempat duduk, tangan gue mengambil handphone di kantong celana. Waktu yang tepat untuk berkonsultasi pada Galih.
"Gue belum nemu Instagram ataau contactnya," ujar gue.
Galih pindah tempat duduk, sekarang dia ada di sebelah gue. "Sini, gue bantu."
Gue membuka instagram, lalu memeriksa apa aja yang diupdate sama temen gue hari ini. Salah satu yang bikin penasaran adalah InstaStory dari pembantu gue, Mbak Mina. Ada gambar hitam, bertuliskan, 'Open Endorse, dm aja ya."
"Gila, pembantu lo selebgram ya?" Galih bertanya penasaran, keliatan kaget.
"Yoi, followernya banyak. Sekarang ada sekitar 10. Keluarganya semua," gue ngomong sambil nahan biar gak ketawa.
Setelah itu gue melakukan pencarian instagram Rina bersama Galih. Namun, hasil pencarian percuma. Gak nemu. Gue bahkan mulai frustasi, abisnya juga Rina gak pernah keliatan di Sekolah. Dari kejauhan gue melihat Rizal, temen gue yang gendut dekil lagi jalan sama ceweknya yang super bening. Anaknya emang terkenal banget di sekolah, followernya aja 10 ribuan. Dari situ gue belajar, orang jelek juga punya kesempatan terkenal.
"Zal! Sini!" Galih memanggil Rizal yang lagi ngobrol sama ceweknya. Rizal melambaikan tangan, lalu dia ngomong sesuatu sama pacarnya, abis itu dia menghampiri gue dan Galih. Sedangkan pacarnya nungguin. "Zal, kan lo terkenal. Nah, lo tau Rina anak kelas 10 IPS 1 gak?" Galih bertanya, mewakili apa yang mau gue omongin ke Rizal.
Rizal diem sebentar, kayaknya mikir. "Oh, Rina yang sering diem di depan SD 7 itu?"
"Kok lo tau?" Giliran gue yang nanya.
"Gue kan terkenal. Dia juga followers gue," ujar Rizal dengan kebiasaan songongnya. "Emangnya kenapa sih?" kali ini Rizal bertanya balik.
"Ini gue mau bantu Komo buat dapetin Rina," jawab Galih, menunjuk gue.
Rizal terkekeh. "Orang jelek kayak dia mana bisa dapet."
"Bukannya lo jelek juga?" Galih membela gue, tampaknya dia gak terima gue diejek. Dan, mungkin siap nyakar Rizal.
Rizal diem, lalu menoleh sebentar ke arah pacarnya yang cemberut, abis itu ngeliatin gue dan Galih dengan tampang bersalah. "Pulang dulu ya, kalo lo mau nyari Ig Rani, cari aja di daftar follower gue," kata Rizal, berjalan balik menuju pacarnya.
Gue sama Galih mencari akun instagram Rina di daftar follower Rizal. Sekian lama pencarian, ketemulah akun Rina yang berisi angka-angka di belakang namanya. Rina01, fotonya ada satu. Tanpa pikir panjang gue ngefollow akunnya, setelah itu gue berencana ngirim pesan.
"Apa yang harus gue tulis nih? gue meminta saran pada Galih.
Galih menepok jidatnya. "Yaampun gitu aja nanya. Tinggal bilang follback, ini gue yang kemarin."
Gue manggut-manggut mengerti, abis itu gue mengikuti saran dari Galih. Pesan terkirim, tinggal nunggu balesan. Gak sampai 3 menit, satu pesan balasan muncul. “Oh yang kemarin ngabisin sambel Masnya itu ya?” ngebaca itu gue senyum-senyum sendiri, sedangkan Galih seakan gak percaya melihat seberapa jantan gue di depan wanita.
Seketika muncul pesan susulan dari Rina. “Dan, lo yang kemarin mesen bakso tapi takut baksonya dicampur boraks dan formalin itu kan?”
Mampus, gue skakmat. Galih menggelengkan kepalanya sambil ngeliatin gue. Terus gue meminta saran lagi dari Galih, apa langkah selanjutnya. “Tanyain dia, lo lagi di SD 7 ya?” ucap Galih layaknya seorang expert percintaan.
Otomatis gue ngikutin apa yang dia bilang. Semenit kemudian, pesan balasan tiba. “Iya, sekarang gue masih di SD 7. Kenapa?”
Gu menyalin pr sambil nungguin kedatangan Galih. Dan, sampai bel masuk berdering, Galih gak masuk sekolah. Ngirim message pun percuma, gak dibales. Ke mana dia pergi? Apakah dia berhasil keluar tempat makan dengan selamat dari kepungan para pemalak? Atau dia masih di dalam Kamar mandi sampai sekarang?
Beberapa hari kemudian, Galih baru masuk sekolah. Harapan gue saat itu, semoga dia lupa soal kejadian beberapa hari yang lalu. Dia menaruh tas, lalu nyamperin gue. “Kok lo ninggalin gue sih?” muka Galih geram mandangin gue.
"Kompor di rumah lupa gue matiin," jawab gue. nyari alasan biar ga dicakar.
"Matiin kompor? Lo aja kalo mau matiiin kompor perlu manggil pemadam kebakaran!" Galih tambah nyolot, gue diem aja. "Udah kena palak, lo belum bayar lagi. Jadi gue harus ngebayarin lo atau gue gak bisa keluar dari sana." Dia menambahkan.
"Yaudah, entar gue ganti," balas gue santai.
Sepulang sekolah, gue dan Galih langsung ke Kantin. Di sana gue mau membicarakan soal Rina, siapa tau aja ketemu. Hari ini Kantin lumayan rame. Rasanya susah untuk nyariin Rina dalam kepadatan mahkluk kelaparan di Kantin. Pas dapet tempat duduk, tangan gue mengambil handphone di kantong celana. Waktu yang tepat untuk berkonsultasi pada Galih.
"Gue belum nemu Instagram ataau contactnya," ujar gue.
Galih pindah tempat duduk, sekarang dia ada di sebelah gue. "Sini, gue bantu."
Gue membuka instagram, lalu memeriksa apa aja yang diupdate sama temen gue hari ini. Salah satu yang bikin penasaran adalah InstaStory dari pembantu gue, Mbak Mina. Ada gambar hitam, bertuliskan, 'Open Endorse, dm aja ya."
"Gila, pembantu lo selebgram ya?" Galih bertanya penasaran, keliatan kaget.
"Yoi, followernya banyak. Sekarang ada sekitar 10. Keluarganya semua," gue ngomong sambil nahan biar gak ketawa.
Setelah itu gue melakukan pencarian instagram Rina bersama Galih. Namun, hasil pencarian percuma. Gak nemu. Gue bahkan mulai frustasi, abisnya juga Rina gak pernah keliatan di Sekolah. Dari kejauhan gue melihat Rizal, temen gue yang gendut dekil lagi jalan sama ceweknya yang super bening. Anaknya emang terkenal banget di sekolah, followernya aja 10 ribuan. Dari situ gue belajar, orang jelek juga punya kesempatan terkenal.
"Zal! Sini!" Galih memanggil Rizal yang lagi ngobrol sama ceweknya. Rizal melambaikan tangan, lalu dia ngomong sesuatu sama pacarnya, abis itu dia menghampiri gue dan Galih. Sedangkan pacarnya nungguin. "Zal, kan lo terkenal. Nah, lo tau Rina anak kelas 10 IPS 1 gak?" Galih bertanya, mewakili apa yang mau gue omongin ke Rizal.
Rizal diem sebentar, kayaknya mikir. "Oh, Rina yang sering diem di depan SD 7 itu?"
"Kok lo tau?" Giliran gue yang nanya.
"Gue kan terkenal. Dia juga followers gue," ujar Rizal dengan kebiasaan songongnya. "Emangnya kenapa sih?" kali ini Rizal bertanya balik.
"Ini gue mau bantu Komo buat dapetin Rina," jawab Galih, menunjuk gue.
Rizal terkekeh. "Orang jelek kayak dia mana bisa dapet."
"Bukannya lo jelek juga?" Galih membela gue, tampaknya dia gak terima gue diejek. Dan, mungkin siap nyakar Rizal.
Rizal diem, lalu menoleh sebentar ke arah pacarnya yang cemberut, abis itu ngeliatin gue dan Galih dengan tampang bersalah. "Pulang dulu ya, kalo lo mau nyari Ig Rani, cari aja di daftar follower gue," kata Rizal, berjalan balik menuju pacarnya.
Gue sama Galih mencari akun instagram Rina di daftar follower Rizal. Sekian lama pencarian, ketemulah akun Rina yang berisi angka-angka di belakang namanya. Rina01, fotonya ada satu. Tanpa pikir panjang gue ngefollow akunnya, setelah itu gue berencana ngirim pesan.
"Apa yang harus gue tulis nih? gue meminta saran pada Galih.
Galih menepok jidatnya. "Yaampun gitu aja nanya. Tinggal bilang follback, ini gue yang kemarin."
Gue manggut-manggut mengerti, abis itu gue mengikuti saran dari Galih. Pesan terkirim, tinggal nunggu balesan. Gak sampai 3 menit, satu pesan balasan muncul. “Oh yang kemarin ngabisin sambel Masnya itu ya?” ngebaca itu gue senyum-senyum sendiri, sedangkan Galih seakan gak percaya melihat seberapa jantan gue di depan wanita.
Seketika muncul pesan susulan dari Rina. “Dan, lo yang kemarin mesen bakso tapi takut baksonya dicampur boraks dan formalin itu kan?”
Mampus, gue skakmat. Galih menggelengkan kepalanya sambil ngeliatin gue. Terus gue meminta saran lagi dari Galih, apa langkah selanjutnya. “Tanyain dia, lo lagi di SD 7 ya?” ucap Galih layaknya seorang expert percintaan.
Otomatis gue ngikutin apa yang dia bilang. Semenit kemudian, pesan balasan tiba. “Iya, sekarang gue masih di SD 7. Kenapa?”
HellenOktavia dan andrian0509 memberi reputasi
2