- Beranda
- Stories from the Heart
SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU
...
TS
kata.namnam
SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU

SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU
Selamat datang pada thread sederhana tentang sebuah cerita yang mengatasnamakan rindu sebagai awal dari sebuah percakapan penuh komedi.
Spoiler for PERKENALAN DIRI:
Spoiler for JADWAL UPDATE:
Spoiler for FAQ:
Spoiler for PERATURAN UNTUK PEMBACA:
Spoiler for DAFTAR ISI:
enjoyed
Diubah oleh kata.namnam 18-08-2018 02:34
bukhorigan dan anasabila memberi reputasi
2
22.2K
172
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kata.namnam
#59
PART 4 - RAHMAT DAN BELLA
Setelah upacara selesai, aku dan Rahmat berencana untuk mampir ke kantin sekolah dulu. Kami perlu seteguk air. Terik hari ini begitu menyengat. Padahal masih pagi.
“Gimana kemarin?”, Tanya Rahmat saat kami berjalan menuju kantin.
“Apanya?”
“Mishol itu loh?”
“Gak sekalian Rishol yang gurih? Misheeel!”
“Ya sama aja”, tungkas Rahmat ngeles. “Kamu ajak kemana dia? Nonton?”
“Kuno banget!”
“Lah? Terus diajak kemana?”
“Ke sekolah”, jawabku ringan.
“Serius?”
“Serius!”
“Ngapain?”
Rahmat belum sadar sudah dekat dengan kantin. Matanya masih fokus memandangku. Mungkin dia masih tak percaya aku membawa Mishel jalan-jalan ke sekolah di hari minggu.
“Muachhh…. wangi Mat!”, bibirku bergerak sambil mataku memandang sisi kanan kantin.
“Kamu ciuman?” Tanya Rahmat serius. Menatapku. “Beneran?”
“Itu tuh…! Tuh!”, mataku mengisyaratkan sesuatu. Mengarahkan fokus mata Rahmat ke sosok perempuan yang sedang membeli sesuatu di kantin.
Rahmat melihat sosok itu. Hanya sebentar langsung balik arah, hendak tak jadi ke arah kantin.
Aku tarik tangannya.
“Kenapa sih? Masa gak jadi minum?”
“Apaan si! Males gua!”, tolak Rakmat judes.
“Yaa Allah….”, tungkasku.
“Abis ngeliat setan nyebut Tuhan!”
“Mana setan?”, aku terkekeh.
“Tadi si!”
“Bella?”, tanyaku sambil menggeleng-geleng kepala.
Rahmat benar-benar tak jadi membeli minum. Ia putar balik menuju kelas. Sementara aku tetap ke kantin membeli minum. Haus!.
Asal tahu saja, sosok perempuan yang aku dan Rahmat lihat adalah Bella, mantan pacar Rahmat. Sampai sekarang Rahmat masih belum bisa move on. Ia hanya bicara atau tegur sapa pada Bella, kalau terpaksa saja. Padahal, yang kulihat Bella sudah terbiasa. Tapi, ada-ada saja Rahmat. Sampai segitunya, bilang mantan jadi setan.
Bagiku sih itu tindakan berlebihan. Tapi, apa mau dikata Rahmat memang masih belum bisa untuk menerima kenyataan bahwa Bella sudah memutuskannya lebih dari setahun yang lalu. Ketika kita masih satu kelas di bangku SMP.
Padahal, banyak yang nyukain Rahmat. Dikasih Rani, maunya Bella. Dikasih Nanda, maunya Bella. Dikasih Sisi, maunya tetep Bella! Ya, biasalah cinta monyet. Dikasih apel, maunya pisang. Dikasih sosis, maunya pisang. Dikasih daging, maunya tetep pisang. Dasar cinta! Dasar monyet!
“Hai, Bell”
“Eh, Jaka… haus juga?”, Tanya Bella sambil memperlihatkan es yang ia pegang.
“Iya nih, boleh minta engga?”
“Kan kamu mau beli, Jak”, tolak Bella,”lagian udah bekas aku juga!”
“Udah sini!”, aku merebutnya. Tapi tidak aku minum.
Lalu segera memesan es dua bungkus lagi. Bu Ina, penjaga kantin segera membikinkannya. Bella bengong berdiri, masih tak tahu maksudku. Atau bisa jadi menunnggu esnya yang masih ada di tanganku.
“Ini”, kuberi Bella es yang baru jadi.
“Kamu minta es ke aku, terus gak kamu minum? Trerus kamu beli es, buat aku, kamu waras Jak?”, Bella kebingungan. “Udah, gak papa, aku es itu aja”, Bella menunjuk matanya ke aras esnya yang kuminta tadi.
“Udah, ini aku ganti!”
“Hehe, makasih Jakaaaaaa”, senyum Bella,”ayoo masuk, bareng.”
“Ayo Bell”
Aku dan Bella akhirnya jalan berdua menuju kelas. Setelah sampai, Rahmat melihat kami jalan berdua. Bella menuju tempat duduknya, dan aku menuju ke arah Rahmat.
“Udah ah! Sepet terus tuh muka, nih minum!”, kuberi Jaka es bekas Bella.
Jaka meminumnya penuh dahaga.
“Seger Mat?”
“Seger”
“Manis?”
“Manis! Apaan si Jak? Nanya-nanya mulu!”
“Udah abisin dulu”.
Segera Rahmat menghabiskannya tanpa sisa. Melihat es bekas Bella yang diminum Rahmat habis hingga tetes terakhir, aku terkekeh.
“Emang ya setan itu manis dan nyegerin ya Mat?”
“Maksudmu?”, Tanya Rahmat bingung.
“Itu es bekas mantan? Eh, katamu setan deh”
“Bella?”
“Iya!”, jawabku santai.
“Jakaaaaaa!”, Rahmaat mencekik-cekik leherku.
“Ha ha”, aku tak peduli, yang jelas Rahmat habis minu es bekas setan!
***
Sepulang sekolah Rahmat bilang mau sekalian nginep di rumahku. Hal ini sudah biasa. Pasti gara-gara ia tak betah tinggal di rumah. Aku pun tahu sendiri, Ayah Ibunya sering berantem di depan kepala Rahmat. Bahkan saat aku main pun, orang tuanya tidak peduli. Sekali ada masalah, mereka akan tetap berantem. Tidak memperdulikan keberadaan dua bocah yang sedang melihatnya, aku dan Rahmat.
Dari cerita Rahmat, kedua orang tuanya ribut gara-gara tak sependapat perihal pekerjaan. Ayahnya meminta agar ibu tidak usah bekerja, cukup ngurusin Rahmat. Sebab bagi Ayah, pendapatannya sudah mencukupi kebutuhan semuannya.
Tapi, ibunya kekeh ingin bekerja. Dengan alasan pekerjaan ini, adalah cita-citanya dari dulu. yakni bekerja sebagai asisten arsitektur. Ibunya selalu bercita-cita dari dulu sebagai arsitektur. Ya, sekarang masih jadi asisten, bagi ibu tidak ada kemungkinan bisa jadi arsitek sungguhan.
Tapi, ya sudahlah. Aku tak mau ikut campur. Lagian, itu urusan orang tua. Tapi, ya tetep aja sih ngaruh terhadap anaknya. Jadi gimana ya? Bingung. Sudah, sudah Mat. Kita main PS aja yuk?
Sesampai di rumah aku dan Rahmat main PS. Tapi, kulihat Rahmat tak bersemangat. Sebab, sudah ketiga kalinya aku menang main bola dengan telak.
“Eh, Yudi itu baik ya?”, tutur Rahmat menyela.
“Eh, kenapa emang?”
“Sewaktu kamu jalan sama Mishel, aku keluar sama Yudi?”
“Kemana?”
“Ke tongkorongannya, keren. Disana pada solid, baru kenal saja aku langsung dinimbrungngin”
“Eh, tapi denger-denger dia pengedar”, bisikku pada Rahmat.
“Iya sih, tapi kemarin aku gabung, gak terjadi apa-apa, paling pada ngerokok”.
“Lu ngerokok?”
“enggak”
“Bagus deh”
Kami memutuskan, untuk mengakhiri permainan. Rahmat pada pegel katanya. Ia ingin istirahat saja. Sepertinya masuk angin.
“Eh, lu bisa mijit?”
“Jago!”
“Beneran?”
“Bentar ya, biar nyresep pake balsam”, aku beranjak dari kasur.
Rahmat menarik tanganku, “Gak gak! Panas”
“Udah diem, enak kok”
Aku kembali beranjak mencari balsam. Aku memang belum pernah mijit sebelumnya. Apalagi ada acara pake balsam-balsaman segala. Tapi, aku sering melihat ibu kalau mijitin ayah pake balsam. Kukira, ini ide yang terhebat!
“Buka baju!”
“Mau ngapain? Merkosa?”
“Iya, kenapa?”
Rahmat membuka bajunya dan beralih posisi seperti kuda-kudaan.
“Oh, silahkan baaaang”, santai Rahmat.
Melihat tingkah Rahmat, aku terkekeh. Mana ada mau dirudapaksa malah pasrah. Kutendang saja pantatnya. Bugggg
“Weh, gila lu ya!”, Rahmat meringis, “sakit tau!”
“Ha ha, udah sini kalo sakit gua pijitin!”
Rahmat masih meringis. Aku tak peduli, sambil menghabiskan sisa-sisa ketawaku, kuolesi semua badan Rahmat.
“Eh jangan banyak-banyak panas!”, sergah Rahmat.
“Mau sembuh engga? Biar pegelnya gak nyisa!”
Aka uterus melulurinya. Seleruh anggota badan. Sampai ke sela-sela jari tangan dan kakipun tak ketinggalan.
“Buka celana”, perintahku.
“Gilaaaa!” Rahmat kabur turun dari kasur. “Lu mau kasih burung gua juga! Kampret!”
“Haha, kaga kagaa! Maksudnya lu buka, ganti sarung sono! Biar enakan”
“Kirain lu nafsu!”
“Bella aja gak mau, apalagi gua!”
“Mulai, mulaiii… masih siang nyebut setan!”
“Ha ha, ngapa sih sinis amat ama Bella?”
“Udah, mendadak mules gue, ke kamar mandi dulu ya.. bentar!”
Kukira Rahmat bercanda bilang mules. Ternyata, serius juga. Ia mengarah ke kamar mandi.
“Jakaaaaaaaaaaa! Kampret lu!”, teriak kencang Rahmat dari dalam kamar mandi.
Aku berlari. Kulihat ibu dan ayah ngikut berlari ke arah kamar mandi. Kita bertiga bingung. Melihat Rahmat meringis nangis.
“Ngapa Mat?”
“Kenapa Rahmat?”, ibu menyambar.
“Mat he Mat! Jawab?”, ayah bingung melihat Rahmat mewek.
“Panaaaaaaas!”, ucap Rahmat sambil mengisak tangis, “Panaaas om!”
“Kenapa kenapa?”, ayah semakin bingung.
“Cebok panaaaas om”
“Cebok panas cebok panas!”, ayah bingung. Ibu terdiam, aku mengumpat senyum. “Kenapa Mat?”
“Jaka om!”, tungkas Rahmat.
Ibu dan ayah beralih pandang ke arahku. Aku garuk-garuk kepala, sambil senyum-senyum sendiri.
“Maaf yah, gak sengaja”, terangku, “tadi Rahmat minta pijit, terus aku pijit pake balsam…”
“Terus?”, sambar ibu.
“Tangan sampe jarinya juga aku olesi yah, terus Rahmat cebok”
“Ha ha ha ha”
Ayah dan ibu malah ikut terbahak. Rahmat semakin cemberut.
“Keluarga aneeeeeeeh!”, teriak Rahmat melewati kami bertiga, menuju ke kamar.
“Ha ha ha ha”
***
Sebenarnya, Rahmat itu orangnya asyik. Humoris. Lebih tampan dariku. Lebih bernasib baik, dilahirkan dari orang berada. Semuanya lengkap. Ah, andai saja Kau “Mat”, yang menulis novel ini, pastinya Kau tokoh utamanya. Kau lebih unggul dariku. Tapi, sayang, nyatanya aku yang menulisnya! Jaka Muhammad!
Dan sayangnya, Bella membuatmu jadi tak karuan, mungkin. Atau gara-gara perseteruan antara ibu ayahmu, kau jadi selalu murung, mungkin. Banyak kemungkinan Mat. Hidup ini lucu. Yang serius, hanya cintaku pada Mishel, eh! Hanya cintaku pada mantanku!
Tapi tenang Mat. Aku sudah bilang, bahwa mungkin aku dilahirkan untuk menemanimu. Jadi, kemungkinan kisahmu banyak di sini. Mishel? sama dia juga banyak kuceritakan. Semua kuceritakan. Bagaimana aku jatuh cinta.
Jadi begini…
AKU DAN MISHEL
Lanjut minggu depan ya chapter enamnya. Kapten Namnam janji, mau konsisten 3 hari satu chapter. Hehe, pisss!
“Gimana kemarin?”, Tanya Rahmat saat kami berjalan menuju kantin.
“Apanya?”
“Mishol itu loh?”
“Gak sekalian Rishol yang gurih? Misheeel!”
“Ya sama aja”, tungkas Rahmat ngeles. “Kamu ajak kemana dia? Nonton?”
“Kuno banget!”
“Lah? Terus diajak kemana?”
“Ke sekolah”, jawabku ringan.
“Serius?”
“Serius!”
“Ngapain?”
Rahmat belum sadar sudah dekat dengan kantin. Matanya masih fokus memandangku. Mungkin dia masih tak percaya aku membawa Mishel jalan-jalan ke sekolah di hari minggu.
“Muachhh…. wangi Mat!”, bibirku bergerak sambil mataku memandang sisi kanan kantin.
“Kamu ciuman?” Tanya Rahmat serius. Menatapku. “Beneran?”
“Itu tuh…! Tuh!”, mataku mengisyaratkan sesuatu. Mengarahkan fokus mata Rahmat ke sosok perempuan yang sedang membeli sesuatu di kantin.
Rahmat melihat sosok itu. Hanya sebentar langsung balik arah, hendak tak jadi ke arah kantin.
Aku tarik tangannya.
“Kenapa sih? Masa gak jadi minum?”
“Apaan si! Males gua!”, tolak Rakmat judes.
“Yaa Allah….”, tungkasku.
“Abis ngeliat setan nyebut Tuhan!”
“Mana setan?”, aku terkekeh.
“Tadi si!”
“Bella?”, tanyaku sambil menggeleng-geleng kepala.
Rahmat benar-benar tak jadi membeli minum. Ia putar balik menuju kelas. Sementara aku tetap ke kantin membeli minum. Haus!.
Asal tahu saja, sosok perempuan yang aku dan Rahmat lihat adalah Bella, mantan pacar Rahmat. Sampai sekarang Rahmat masih belum bisa move on. Ia hanya bicara atau tegur sapa pada Bella, kalau terpaksa saja. Padahal, yang kulihat Bella sudah terbiasa. Tapi, ada-ada saja Rahmat. Sampai segitunya, bilang mantan jadi setan.
Bagiku sih itu tindakan berlebihan. Tapi, apa mau dikata Rahmat memang masih belum bisa untuk menerima kenyataan bahwa Bella sudah memutuskannya lebih dari setahun yang lalu. Ketika kita masih satu kelas di bangku SMP.
Padahal, banyak yang nyukain Rahmat. Dikasih Rani, maunya Bella. Dikasih Nanda, maunya Bella. Dikasih Sisi, maunya tetep Bella! Ya, biasalah cinta monyet. Dikasih apel, maunya pisang. Dikasih sosis, maunya pisang. Dikasih daging, maunya tetep pisang. Dasar cinta! Dasar monyet!
“Hai, Bell”
“Eh, Jaka… haus juga?”, Tanya Bella sambil memperlihatkan es yang ia pegang.
“Iya nih, boleh minta engga?”
“Kan kamu mau beli, Jak”, tolak Bella,”lagian udah bekas aku juga!”
“Udah sini!”, aku merebutnya. Tapi tidak aku minum.
Lalu segera memesan es dua bungkus lagi. Bu Ina, penjaga kantin segera membikinkannya. Bella bengong berdiri, masih tak tahu maksudku. Atau bisa jadi menunnggu esnya yang masih ada di tanganku.
“Ini”, kuberi Bella es yang baru jadi.
“Kamu minta es ke aku, terus gak kamu minum? Trerus kamu beli es, buat aku, kamu waras Jak?”, Bella kebingungan. “Udah, gak papa, aku es itu aja”, Bella menunjuk matanya ke aras esnya yang kuminta tadi.
“Udah, ini aku ganti!”
“Hehe, makasih Jakaaaaaa”, senyum Bella,”ayoo masuk, bareng.”
“Ayo Bell”
Aku dan Bella akhirnya jalan berdua menuju kelas. Setelah sampai, Rahmat melihat kami jalan berdua. Bella menuju tempat duduknya, dan aku menuju ke arah Rahmat.
“Udah ah! Sepet terus tuh muka, nih minum!”, kuberi Jaka es bekas Bella.
Jaka meminumnya penuh dahaga.
“Seger Mat?”
“Seger”
“Manis?”
“Manis! Apaan si Jak? Nanya-nanya mulu!”
“Udah abisin dulu”.
Segera Rahmat menghabiskannya tanpa sisa. Melihat es bekas Bella yang diminum Rahmat habis hingga tetes terakhir, aku terkekeh.
“Emang ya setan itu manis dan nyegerin ya Mat?”
“Maksudmu?”, Tanya Rahmat bingung.
“Itu es bekas mantan? Eh, katamu setan deh”
“Bella?”
“Iya!”, jawabku santai.
“Jakaaaaaa!”, Rahmaat mencekik-cekik leherku.
“Ha ha”, aku tak peduli, yang jelas Rahmat habis minu es bekas setan!
***
Sepulang sekolah Rahmat bilang mau sekalian nginep di rumahku. Hal ini sudah biasa. Pasti gara-gara ia tak betah tinggal di rumah. Aku pun tahu sendiri, Ayah Ibunya sering berantem di depan kepala Rahmat. Bahkan saat aku main pun, orang tuanya tidak peduli. Sekali ada masalah, mereka akan tetap berantem. Tidak memperdulikan keberadaan dua bocah yang sedang melihatnya, aku dan Rahmat.
Dari cerita Rahmat, kedua orang tuanya ribut gara-gara tak sependapat perihal pekerjaan. Ayahnya meminta agar ibu tidak usah bekerja, cukup ngurusin Rahmat. Sebab bagi Ayah, pendapatannya sudah mencukupi kebutuhan semuannya.
Tapi, ibunya kekeh ingin bekerja. Dengan alasan pekerjaan ini, adalah cita-citanya dari dulu. yakni bekerja sebagai asisten arsitektur. Ibunya selalu bercita-cita dari dulu sebagai arsitektur. Ya, sekarang masih jadi asisten, bagi ibu tidak ada kemungkinan bisa jadi arsitek sungguhan.
Tapi, ya sudahlah. Aku tak mau ikut campur. Lagian, itu urusan orang tua. Tapi, ya tetep aja sih ngaruh terhadap anaknya. Jadi gimana ya? Bingung. Sudah, sudah Mat. Kita main PS aja yuk?
Sesampai di rumah aku dan Rahmat main PS. Tapi, kulihat Rahmat tak bersemangat. Sebab, sudah ketiga kalinya aku menang main bola dengan telak.
“Eh, Yudi itu baik ya?”, tutur Rahmat menyela.
“Eh, kenapa emang?”
“Sewaktu kamu jalan sama Mishel, aku keluar sama Yudi?”
“Kemana?”
“Ke tongkorongannya, keren. Disana pada solid, baru kenal saja aku langsung dinimbrungngin”
“Eh, tapi denger-denger dia pengedar”, bisikku pada Rahmat.
“Iya sih, tapi kemarin aku gabung, gak terjadi apa-apa, paling pada ngerokok”.
“Lu ngerokok?”
“enggak”
“Bagus deh”
Kami memutuskan, untuk mengakhiri permainan. Rahmat pada pegel katanya. Ia ingin istirahat saja. Sepertinya masuk angin.
“Eh, lu bisa mijit?”
“Jago!”
“Beneran?”
“Bentar ya, biar nyresep pake balsam”, aku beranjak dari kasur.
Rahmat menarik tanganku, “Gak gak! Panas”
“Udah diem, enak kok”
Aku kembali beranjak mencari balsam. Aku memang belum pernah mijit sebelumnya. Apalagi ada acara pake balsam-balsaman segala. Tapi, aku sering melihat ibu kalau mijitin ayah pake balsam. Kukira, ini ide yang terhebat!
“Buka baju!”
“Mau ngapain? Merkosa?”
“Iya, kenapa?”
Rahmat membuka bajunya dan beralih posisi seperti kuda-kudaan.
“Oh, silahkan baaaang”, santai Rahmat.
Melihat tingkah Rahmat, aku terkekeh. Mana ada mau dirudapaksa malah pasrah. Kutendang saja pantatnya. Bugggg
“Weh, gila lu ya!”, Rahmat meringis, “sakit tau!”
“Ha ha, udah sini kalo sakit gua pijitin!”
Rahmat masih meringis. Aku tak peduli, sambil menghabiskan sisa-sisa ketawaku, kuolesi semua badan Rahmat.
“Eh jangan banyak-banyak panas!”, sergah Rahmat.
“Mau sembuh engga? Biar pegelnya gak nyisa!”
Aka uterus melulurinya. Seleruh anggota badan. Sampai ke sela-sela jari tangan dan kakipun tak ketinggalan.
“Buka celana”, perintahku.
“Gilaaaa!” Rahmat kabur turun dari kasur. “Lu mau kasih burung gua juga! Kampret!”
“Haha, kaga kagaa! Maksudnya lu buka, ganti sarung sono! Biar enakan”
“Kirain lu nafsu!”
“Bella aja gak mau, apalagi gua!”
“Mulai, mulaiii… masih siang nyebut setan!”
“Ha ha, ngapa sih sinis amat ama Bella?”
“Udah, mendadak mules gue, ke kamar mandi dulu ya.. bentar!”
Kukira Rahmat bercanda bilang mules. Ternyata, serius juga. Ia mengarah ke kamar mandi.
“Jakaaaaaaaaaaa! Kampret lu!”, teriak kencang Rahmat dari dalam kamar mandi.
Aku berlari. Kulihat ibu dan ayah ngikut berlari ke arah kamar mandi. Kita bertiga bingung. Melihat Rahmat meringis nangis.
“Ngapa Mat?”
“Kenapa Rahmat?”, ibu menyambar.
“Mat he Mat! Jawab?”, ayah bingung melihat Rahmat mewek.
“Panaaaaaaas!”, ucap Rahmat sambil mengisak tangis, “Panaaas om!”
“Kenapa kenapa?”, ayah semakin bingung.
“Cebok panaaaas om”
“Cebok panas cebok panas!”, ayah bingung. Ibu terdiam, aku mengumpat senyum. “Kenapa Mat?”
“Jaka om!”, tungkas Rahmat.
Ibu dan ayah beralih pandang ke arahku. Aku garuk-garuk kepala, sambil senyum-senyum sendiri.
“Maaf yah, gak sengaja”, terangku, “tadi Rahmat minta pijit, terus aku pijit pake balsam…”
“Terus?”, sambar ibu.
“Tangan sampe jarinya juga aku olesi yah, terus Rahmat cebok”
“Ha ha ha ha”
Ayah dan ibu malah ikut terbahak. Rahmat semakin cemberut.
“Keluarga aneeeeeeeh!”, teriak Rahmat melewati kami bertiga, menuju ke kamar.
“Ha ha ha ha”
***
Sebenarnya, Rahmat itu orangnya asyik. Humoris. Lebih tampan dariku. Lebih bernasib baik, dilahirkan dari orang berada. Semuanya lengkap. Ah, andai saja Kau “Mat”, yang menulis novel ini, pastinya Kau tokoh utamanya. Kau lebih unggul dariku. Tapi, sayang, nyatanya aku yang menulisnya! Jaka Muhammad!
Dan sayangnya, Bella membuatmu jadi tak karuan, mungkin. Atau gara-gara perseteruan antara ibu ayahmu, kau jadi selalu murung, mungkin. Banyak kemungkinan Mat. Hidup ini lucu. Yang serius, hanya cintaku pada Mishel, eh! Hanya cintaku pada mantanku!
Tapi tenang Mat. Aku sudah bilang, bahwa mungkin aku dilahirkan untuk menemanimu. Jadi, kemungkinan kisahmu banyak di sini. Mishel? sama dia juga banyak kuceritakan. Semua kuceritakan. Bagaimana aku jatuh cinta.
Jadi begini…
AKU DAN MISHEL
Lanjut minggu depan ya chapter enamnya. Kapten Namnam janji, mau konsisten 3 hari satu chapter. Hehe, pisss!

sydney89 memberi reputasi
1