- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#7497
Keturunan Yang Tersesat..
“Jadi disini pemuda yang kata mu masih keturunan Sang Prabu berada, Ki?” Tanya gw ke Ki Larang, saat ia sudah membawa gw ke sebuah rumah kosong cukup besar yang hampir tidak ada pencahayaan sama sekali didalamnya, kecuali sorot sinar matahari yang menerobos masuk dari atas atap asbes yang bolong-bolong..
Gw sempat menepis hidung saat bau apek dan sisa-sisa bau bakaran daun ganja tertangkap diindera penciuman, bersamaan dengan melayang nya Ki Larang menembus dinding yang nampak berlumut tak terawat..
Kedua kaki gw mulai melangkah perlahan dengan cukup hati-hati, karena diatas lantai yang retak-retak, berserakan banyak pecahan botol-botol bekas minuman keras.. Pandangan gw pun sengaja gw edarkan untuk melihat beberapa tulisan kata-kata kotor berbau pornografi yang sepertinya sudah lama sekali menjadi saksi bisu akan bejatnya kelakuan si pemilik rumah..
“Gila! Tempat apa ini?” Ucap gw dalam batin, saat melihat beberapa kondom bekas seperti sengaja dibuang secara sembrono ke berbagai sudut ruang..
“Aura di tempat ini buruk sekali, Kang Mas.. Jauh lebih buruk dari tempat hingar bingar yang pernah kau ajak aku kesana tempo hari.. Aku bisa mencium aroma anyir darah dan daging busuk yang sengaja ditiupkan beberapa Jin qorin dari orang-orang yang telah meregang nyawanya disini” Kata Sekar Kencana dari arah samping kanan..
Gw yang mendengar ucapan Sekar, sempat menoleh ke arahnya dan mencoba mengembangkan dua lubang hidung agar dapat mencium bau yang sama.. Tapi, sudah gw coba selama beberapa saat bau amis dan busuk tak juga terendus di hidung..
“Aku sengaja menangkal bau-bau itu, agar kau tidak merasa terganggu, Kang Mas”
Gw menyunggingkan senyuman kecil setelah Sekar Kencana memberitahukan alasan, mengapa segala jenis bau selain pengap dan bau seperti asap daun ganja tak tercium di indera penciuman ini.. Akan tetapi, senyuman gw hilang berganti kening yang berkerut saat melihat sosok Sekar Kencana nampak tertegun sambil menajamkan pandangan ke satu titik di dinding berwarna putih kusam..
“Nyi Srimpi Sawiling” Ucap Sekar Kencana dengan suara lirih, seraya menyunggingkan senyuman dingin..
Gw yang mendengar Sekar menyebut nama tak asing, segera melangkah mendekati nya.. Akan tetapi, bukannya menunggu gw, Sekar Kencana malah melayang menembus dinding sama tempat sosok Ki Larang hilang tadi.. Tanpa pikir panjang, gw mempercepat langkah untuk keluar dari kamar kosong itu dan menemukan sebuah ruangan lain dengan penampilan yang tak kalah berantakannya..
Disana, gw sempat tertegun melihat sosok Sekar Kencana sedang menatap Jin cantik berpakaian hampir sama dengannya.. Akan tetapi, dari sorot mata tajam yang nampak dikedua mata indah Jin itu, jelas menyiratkan rasa tidak suka ke Sekar Kencana.. Gw menduga mereka berdua pasti sudah saling mengenal sebelumnya.. Dan mungkin ada hal lain pernah terjadi diantara Sekar Kencana dan Jin bermahkota perak, berpakaian kemben putih dengan rajutan benang hitam dibagian atas, yang nampak sedang memegangi dua ujung selendang putihnya itu, seolah siap untuk menyerang..
Sementara, di belakang Jin cantik tersebut, sosok Ki Larang nampak sedang membungkuk disebelah sosok tubuh asing yang hanya terlihat bagian kaus dan celana jeans biru nya saja.. Gw sempat memicingkan mata untuk menggunakan Ajian Tembus Pandang guna mencoba melihat wajah manusia yang terhalang oleh tubuh Ki Larang.. Akan tetapi, Ajian Tembus Pandang gw tak memberikan reaksi apapun.. Yang gw lihat masih saja punggung kekar Ki Larang, tanpa bisa menembus sosoknya.. Gw sempat berniat mencoba menggunakan Ajian Tembus Pandang untuk kedua kalinya, namun gw urungkan begitu Ki Larang menoleh ke belakang dan menatap tajam ke arah diri ini..
“Sepertinya Ki Larang sengaja nangkal Ajian Tembus Pandang gw?” Tanya gw dalam hati, lalu dengan sedikit rasa kesal yang terbit di batin, gw kembali melemparkan pandangan ke dua sosok jin wanita berparas hampir sama cantik yang masih saja saling tatap tanpa ada satu pun mulai melisankan kata-kata..
Jujur, kalo boleh dibilang masih lebih cantik Sekar Kencana dibanding sosok Jin berkemben putih garis hitam dibagian atas dada, yang masih menatap Sekar dengan sorot mata tajam.. Belum lagi bentuk tubuh Sekar Kencana yang lebih padat berisi dan menonjolkan lekukan serta aset-aset istimewa nya dibagian depan atas dan belakang bawah.. (Jangan bayangin, Bree)
Saat gw masih tertegun menikmati sekaligus membandingkan paras dan bentuk tubuh kedua sosok gaib yang tetap terlihat sedikit bersitegang itu, dari arah Ki Larang nampak sebuah sinar terang memantul ke atas, bersamaan dengan terdengarnya suara erangan seseorang.. Sosok Jin cantik yang kemarin gw lihat juga di rumah sakit, membalikkan tubuhnya dan melayang menghampiri Ki Larang..
“Bagaimana Kanda Wishnu Karma? Apakah kau bisa menyelamatkan pemuda ini?” Tanya Nyi Srimpi Sawiling, sambil duduk bersimpuh dan menatap wajah Ki Larang dengan wajah penuh kecemasan..
Ki Larang yang dipanggil pertama kali dengan nama aslinya, hanya tertegun menatap kosong wajah Nyi Srimpi Sawiling..
“Darah pemuda yang seharusnya kau jaga sudah terlalu kotor, Dinda Srimpi Sawiling.. Aku tidak bisa membersihkan seluruh racun didarahnya”
Wajah Nyi Srimpi Sawiling mendadak memucat mendengar jawaban Ki Larang.. Lalu, ia menundukkan kepala seperti menatap wajah seseorang.. Gw yang penasaran akan sosok pemuda yang sedang terbaring di hadapan dua jin berlainan jenis, memutuskan untuk melangkah mendekat.. Pandangan mata gw sempat membesar begitu mengetahui bahwa pemuda berwajah sangat pucat yang sedang terbaring mengejang itu adalah pemuda sama yang gw lihat di rumah sakit.. Jauh lebih terkejut lagi gw, manakala melihat sebuah jarum suntik masih tertusuk menempel di pergelangan tangan pemuda tersebut..
Jika dilihat dari wajah pucat dan tubuh nya yang kejang-kejang, sudah bisa dipastikan bahwa pemuda tersebut sedang mengalami over dosis.. Terlebih dengan adanya jarum suntik yang masih tertusuk menempel di pergelangan tangan..
Saat gw masih tertegun memperhatikan sosok pemuda asing itu, tiba-tiba tubuhnya nampak semakin mengejang dengan mulut mulai mengeluarkan busa putih kekuningan.. Nyi Srimpi Sawiling yang melihat, seketika terdengar menjerit karena panik, meski sempat mencabut jarum suntik di tangan pemuda asing tersebut.. Gw juga berusaha untuk tidak tinggal diam.. Dengan gerakan cepat, gw merobek kaus yang digunakan oleh sosok pemuda itu...
Pandangan mata gw sempat terbelalak saat melihat tubuh kurus si pemuda dipenuhi tato bermacam corak.. Rasa terkejut yang sempat mengalihkan perhatian, langsung gw tepis dan dengan cepat gw memegangi bagian belakang kepala pemuda tersebut.. Lalu memiringkan kepalanya ke arah belakang serta mengangkat dagu.. Hal itu gw lakukan agar ia bisa bernafas dengan baik..
Dengan menggunakan robekan kaus, gw bersihkan busa yang terus keluar dari mulut si pemuda berambut gondrong yang tubuhnya nampak semakin mengejang..
“Kita harus cepat membawa nya ke rumah sakit, Ki” Kata gw dengan wajah ikut menyiratkan rasa cemas..
Ki Larang yang malah sedang memejamkan kedua mata, perlahan membuka indera penglihatannya lagi.. Lalu, dengan gerakan cepat ia menarik telapak tangan kanan gw dan..
SRETTT..
“AWWW”
Gw terpekik kesakitan saat Ki Larang dengan sengaja menyayat telapak tangan kanan gw menggunakan kuku jari telunjuknya yang entah kapan sudah memanjang.. Akibat terkejut sekaligus merasakan sakit dan perih ditelapak tangan kanan, pegangan tangan gw di belakang kepala pemuda tadi pun terlepas dan membuat kepalanya hendak jatuh membentur lantai.. Akan tetapi, Nyi Srimpi Sawiling dengan gerakan tak kalah cepatnya menangkap kepala pemuda itu, hingga tak sampai membentur lantai keramik..
“Apa yang kau lakukan Ki Larang?” Tanya Sekar Kencana dengan suara bergetar mengandung amarah, begitu melihat gw sengaja dibuat terluka..
Bukannya menjawab, Ki Larang malah menarik lagi telapak tangan kanan gw yang sudah mengucurkan darah berwarna merah segar.. Gw yang kembali dibuatnya terkejut, mencoba menarik telapak tangan kanan yang ia arahkan ke atas mulut si pemuda berambut gondrong.. Namun, gagal! Tenaga gw jauh lebih lemah dibanding tenaga Ki Larang..
“Ki Larang, lepaskan tangan pemuda yang aku jaga sekarang juga!” Bentak Sekar Kencana dengan wajah mulai meradang..
“Diam kau, Sekar Kencana! Aku tidak akan melukai suami salah satu keturunan Sang Prabu.. Dinda Srimpi Sawiling, buka mulut pemuda itu selebar mungkin.. Satu-satu nya cara untuk menolongnya adalah dengan menggunakan darah keturunan Braja Krama” Kata Ki Larang yang membuat kami bertiga terkejut..
Tak mau menyiakan kesempatan untuk menyelamatkan nyawa pemuda yang ia jaga, Nyi Srimpi Sawiling berusaha membuka mulut terkancing sosok tersebut.. Sementara, cengkraman tangan Ki Larang yang terasa kian kuat dipergelangan tangan kanan gw, terus menarik dan mengarahkan telapak tangan ini, agar darah yang mengucur dari luka sayat di telapak tangan kanan gw tepat mengarah ke mulut pemuda itu..
TES.. TES.. TES...
Tiga tetes darah yang jatuh mengalir dari luka di telapak tangan gw, terlihat masuk ke dalam rongga mulut pemuda yang menurut Anggie adalah salah satu keturunan Sri Baduga Maharaja sepertinya.. Setelah tetes darah gw sudah berada didalam mulut pemuda itu, Ki Larang melepaskan cengkramannya dari pergelangan tangan gw dan dengan cepat ia menutup mulut pemuda tersebut menggunakan telapak tangannya..
Gw sempat jatuh terduduk di sebelah Nyi Srimpi Sawiling begitu telapak tangan ini dilepaskan Ki Larang.. Sekar yang melihat gw sedang menutupi luka sayatan kuku Ki Larang dengan sisa robekan kaus milik si pemuda asing, langsung mendekat dan membuka balutan kaus.. Lalu mengganti dengan menempelkan telapak tangan kanannya ke telapak tangan kanan gw..
NYESSS
Sensasi rasa sejuk gw rasakan begitu telapak tangan Sekar Kencana sudah tertempel di telapak tangan kanan ini.. Sambil menahan sedikit rasa sakit, gw menatap Sekar Kencana yang nampak sedang memejamkan kedua mata seraya membaca mantera.. Perlahan-lahan, rasa sakit dan perih yang sedari tadi terbit di telapak tangan kanan gw, mulai berkurang dan akhirnya lenyap bersamaan dengan kembali tertutupnya luka sayat di telapak tangan seperti semula..
Menyadari luka sayat di telapak tangan kanan ini sudah berhasil disembuhkan oleh Sekar Kencana, gw mengulum senyuman sebagai ungkapan rasa terima kasih yang dibalas anggukan kepalanya.. Lalu, kami berdua sama-sama melemparkan kembali pandangan mata ke arah Ki Larang.. Sosok utusan Sri Baduga Maharaja tersebut nampak sedang berkomat kamit sambil terus menutup mulut si pemuda asing menggunakan telapak tangannya.. Mendadak, kedua mata si pemuda berambut gondrong terbelalak dan..
HOEEEKKK...
Muntahan cairan putih kekuningan berbusa yang termuntahkan dari mulut si pemuda, tercecer berserakan dilantai keramik setelah sempat menembus sosok gaib Ki Larang.. Gw yang melihat hal tersebut sempat bergidik ngeri karena baru kali ini melihat langsung bagaimana orang sedang over dosis..
“Alhamdulillah, semua racun yang ada ditubuh pemuda ini telah keluar, Dinda Srimpi Sawiling.. Tapi, tunggu.. Ada sosok manusia dan Jin lain yang datang ke tempat ini” Kata Ki Larang sambil berdiri dan memandang ke satu titik..
Gw dan Sekar Kencana yang penasaran setelah mendengar ucapan Ki Larang barusan, sama-sama membalikkan tubuh dan memandang ke arah sama dengan beliau..
“Imam!” Panggil suara seorang wanita yang sangat gw kenal dari arah pintu..
Gw membalikkan tubuh ke arah pintu dan menatap heran begitu melihat Suluh serta Ridho sudah berada di sana.. Sementara, dari titik yang dipandang oleh Ki Larang dan Sekar Kencana, muncul dua sosok Jin Penjaga Ridho, Naga Saksana dan Nyai Lingga..
“Astaghfirullah, Yang! Itu Arka!” Teriak Suluh sambil setengah berlari menghampiri pemuda gondrong bertubuh lemah yang kepalanya masih berada dipangkuan Nyi Srimpi Sawiling..
Gw yang sempat saling bertatapan heran dengan Ridho, bertambah bingung begitu melihat saudara gw itu ikut mendekati Suluh dan langsung mencoba membopong tubuh pemuda bernama Arka.. Akan tetapi, postur tubuh pemuda yang sepertinya dikenal oleh kedua saudara gw itu memang tinggi besar dan menyulitkan Ridho untuk mengangkatnya..
“Nyai, tolong pindahkan tubuh saudara kami ini ke dalam mobil.. Cepat Nyai!” Teriak Ridho ke arah Nyai Lingga, yang langsung melayang mendekat..
“Bree, lu ikut kita ke rumah sakit terdekat yak” Pinta Ridho, begitu sosok pemuda berambut gondrong sudah lenyap bersamaan dengan hilangnya sosok Nyai Lingga..
Tanpa ragu, gw menganggukkan kepala dan mulai berjalan mengikuti Suluh serta Ridho keluar dari bangunan kosong tersebut..
“Gimana ceritanya lu bisa ada ditempat tadi, Bree?” Tanya Ridho saat kami berdua sudah berada di luar ruang UGD sebuah rumah sakit khusus bedah di daerah Rawamangun Jakarta Timur..
Gw menghela nafas dan melirik ke arah Sekar Kencana yang nampak sesekali menatap dingin Nyi Srimpi Sawiling.. Dari raut wajah Jin cantik berkemben putih dengan mahkota perak kecil diatas kepalanya itu, jelas sekali tersirat raut kecemasan menunggu kabar dari Suluh yang sedang menemani pemuda yang ia jaga di dalam ruang tindakan..
“Jadi, pas gw lagi jenguk Kak Silvi di rumah sakit, gw sempat ketemu sama pemuda tadi, Bree.. Cuma waktu itu lagi di kejar-kejar perawat sama dokter.. Gw sempet mau nangkep, tapi ga dibolehin Ki Larang, karena dia kenal sama Jin yang ikutin pemuda itu.. Nah, kata bini gw, anak muda yang lu panggil Arka itu sama-sama keturunan Prabu Siliwangi”
Kedua mata Ridho sempat terbelalak saat mendengar penuturan gw..
“Kata Anggie, Ki Larang minta gw buat nolongin tuh anak, Bree.. Karena Sekar ga tahu muka tuh anak terus dia udah sempet gunain Ajian Puter Angen, mau ga mau gw minta Ki Larang buat bawa gw ke tempat orang yang namanya Arka.. Dan lu tau, Bree.. Pas gw sampe disana, dia udah over dosis.. Hampir aja nyawa nya melayang, kalo ga nelen darah gw, gw yakin pemuda yang nama nya Arka itu bakalan lewat, Bree” Lanjut gw sambil menunjukkan sedikit bercak darah yang masih terjejak di pergelangan tangan ini..
Ridho sendiri terdiam seraya melirik ke arah pergelangan tangan ini.. Lalu menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya di sandaran bangku panjang tempat kami berdua duduk..
“Udah, Bree.. Sekarang lu gantian ceritain ke gw, gimana lu sama Suluh bisa kenal tuh Junky”
Sekali lagi Ridho menghela nafas panjang.. Kemudian melirik ke arah Nyi Srimpi Sawiling yang masih sesekali menembus dinding tempat pemuda bernama Arka sedang ditangani, lalu kembali keluar dengan wajah masih sama cemas..
“Arka itu saudara nya bini gw, Bree.. Sama Kek Aryo yang dulu pernah ngelawan kita pas mau tarung lawan Raja Siluman.. Kakeknya Arka itu, adik Kakeknya Suluh, Bree.. Beliau jawara yang cukup terkenal di Sukabumi.. Karena Arka udah jadi yatim piatu dari umur 10 tahun, dia dirawat sama Kakek neneknya di Sukabumi.. Pas Kakek Neneknya juga meninggal tiga tahun lalu, si Arka kehilangan pegangan hidup.. Dia putusin buat jual tanah warisan dan pergi dari Sukabumi sebulan setelahnya.. Tiga tahun udah lewat dan nyokap mertua gw baru tahu semalem dari sepupunya yang polisi, kalo Arka ada di Jakarta.. Dan lu tau, saudara nya Suluh itu jadi Target Operasi Polres Jaktim sebagai pengedar narkoba.. Cuma dengan bermodal screen shot photo Arka kiriman sepupunya nyokap mertua, gw minta Naga Saksana, Nyai Lingga dan Nyi Laras Abang buat nyari keberadaan tuh anak.. Sayang, ketiga Jin Penjaga gw dan Suluh ga ada yang nyanggup nyari tempat dia tinggal.. Akhirnya, gw baru bisa nemuin si Arka di Kampung Amb*n tadi pas minta bantuan Dewi Ayu Anjani”
Gw cukup terkejut mendengar penuturan Ridho yang sangat jelas tentang pemuda bernama Arka.. Gw sama sekali tidak menyangka bahwa pemuda yang kata Ki Larang merupakan keturunan Sri Baduga Maharaja, bisa terseret ke lubang nista jeratan narkoba.. Pantas saja aura yang keluar dari tubuhnya terlihat hitam pekat.. Mungkin karena kelamnya jalan hidup yang ia pilih, hingga mempengaruhi pendaran aura..
Tapi, bukannya si Arka juga punya Jin Penjaga, Nyi Srimpi Sawiling? Seharusnya, Jin yang masih berwajah cemas itu bisa memperingatkan pemuda yang ia jaga agar tidak sampai terjatuh ke dalam jurang kenikmatan semu narkoba.. Apa karena Arka ternyata bukan indigo? Jadi tidak bisa melihat sosok Nyi Srimpi Sawiling.. Masa iya, Ki Larang bisa salah menduga kalo Arka bukan keturunan terpilih Sang Prabu Siliwangi? Tapi kan, waktu di rumah sakit, pemuda yang kini masih ditangani di UGD itu sempat berhenti persis di depan gw, dan memandangi wajah ini serta melirik sosok Ki Larang..
“Itu karena ia menolak kenyataan bahwa dirinya merupakan salah sosok keturunan Sang Baginda yang terpilih, Ngger” Kata Ki Larang yang membuat gw dan Ridho terkejut, karena sosoknya tahu-tahu sudah duduk di sebelah kiri gw..
“Jadi disini pemuda yang kata mu masih keturunan Sang Prabu berada, Ki?” Tanya gw ke Ki Larang, saat ia sudah membawa gw ke sebuah rumah kosong cukup besar yang hampir tidak ada pencahayaan sama sekali didalamnya, kecuali sorot sinar matahari yang menerobos masuk dari atas atap asbes yang bolong-bolong..
Gw sempat menepis hidung saat bau apek dan sisa-sisa bau bakaran daun ganja tertangkap diindera penciuman, bersamaan dengan melayang nya Ki Larang menembus dinding yang nampak berlumut tak terawat..
Kedua kaki gw mulai melangkah perlahan dengan cukup hati-hati, karena diatas lantai yang retak-retak, berserakan banyak pecahan botol-botol bekas minuman keras.. Pandangan gw pun sengaja gw edarkan untuk melihat beberapa tulisan kata-kata kotor berbau pornografi yang sepertinya sudah lama sekali menjadi saksi bisu akan bejatnya kelakuan si pemilik rumah..
“Gila! Tempat apa ini?” Ucap gw dalam batin, saat melihat beberapa kondom bekas seperti sengaja dibuang secara sembrono ke berbagai sudut ruang..
“Aura di tempat ini buruk sekali, Kang Mas.. Jauh lebih buruk dari tempat hingar bingar yang pernah kau ajak aku kesana tempo hari.. Aku bisa mencium aroma anyir darah dan daging busuk yang sengaja ditiupkan beberapa Jin qorin dari orang-orang yang telah meregang nyawanya disini” Kata Sekar Kencana dari arah samping kanan..
Gw yang mendengar ucapan Sekar, sempat menoleh ke arahnya dan mencoba mengembangkan dua lubang hidung agar dapat mencium bau yang sama.. Tapi, sudah gw coba selama beberapa saat bau amis dan busuk tak juga terendus di hidung..
“Aku sengaja menangkal bau-bau itu, agar kau tidak merasa terganggu, Kang Mas”
Gw menyunggingkan senyuman kecil setelah Sekar Kencana memberitahukan alasan, mengapa segala jenis bau selain pengap dan bau seperti asap daun ganja tak tercium di indera penciuman ini.. Akan tetapi, senyuman gw hilang berganti kening yang berkerut saat melihat sosok Sekar Kencana nampak tertegun sambil menajamkan pandangan ke satu titik di dinding berwarna putih kusam..
“Nyi Srimpi Sawiling” Ucap Sekar Kencana dengan suara lirih, seraya menyunggingkan senyuman dingin..
Gw yang mendengar Sekar menyebut nama tak asing, segera melangkah mendekati nya.. Akan tetapi, bukannya menunggu gw, Sekar Kencana malah melayang menembus dinding sama tempat sosok Ki Larang hilang tadi.. Tanpa pikir panjang, gw mempercepat langkah untuk keluar dari kamar kosong itu dan menemukan sebuah ruangan lain dengan penampilan yang tak kalah berantakannya..
Disana, gw sempat tertegun melihat sosok Sekar Kencana sedang menatap Jin cantik berpakaian hampir sama dengannya.. Akan tetapi, dari sorot mata tajam yang nampak dikedua mata indah Jin itu, jelas menyiratkan rasa tidak suka ke Sekar Kencana.. Gw menduga mereka berdua pasti sudah saling mengenal sebelumnya.. Dan mungkin ada hal lain pernah terjadi diantara Sekar Kencana dan Jin bermahkota perak, berpakaian kemben putih dengan rajutan benang hitam dibagian atas, yang nampak sedang memegangi dua ujung selendang putihnya itu, seolah siap untuk menyerang..
Sementara, di belakang Jin cantik tersebut, sosok Ki Larang nampak sedang membungkuk disebelah sosok tubuh asing yang hanya terlihat bagian kaus dan celana jeans biru nya saja.. Gw sempat memicingkan mata untuk menggunakan Ajian Tembus Pandang guna mencoba melihat wajah manusia yang terhalang oleh tubuh Ki Larang.. Akan tetapi, Ajian Tembus Pandang gw tak memberikan reaksi apapun.. Yang gw lihat masih saja punggung kekar Ki Larang, tanpa bisa menembus sosoknya.. Gw sempat berniat mencoba menggunakan Ajian Tembus Pandang untuk kedua kalinya, namun gw urungkan begitu Ki Larang menoleh ke belakang dan menatap tajam ke arah diri ini..
“Sepertinya Ki Larang sengaja nangkal Ajian Tembus Pandang gw?” Tanya gw dalam hati, lalu dengan sedikit rasa kesal yang terbit di batin, gw kembali melemparkan pandangan ke dua sosok jin wanita berparas hampir sama cantik yang masih saja saling tatap tanpa ada satu pun mulai melisankan kata-kata..
Jujur, kalo boleh dibilang masih lebih cantik Sekar Kencana dibanding sosok Jin berkemben putih garis hitam dibagian atas dada, yang masih menatap Sekar dengan sorot mata tajam.. Belum lagi bentuk tubuh Sekar Kencana yang lebih padat berisi dan menonjolkan lekukan serta aset-aset istimewa nya dibagian depan atas dan belakang bawah.. (Jangan bayangin, Bree)
Saat gw masih tertegun menikmati sekaligus membandingkan paras dan bentuk tubuh kedua sosok gaib yang tetap terlihat sedikit bersitegang itu, dari arah Ki Larang nampak sebuah sinar terang memantul ke atas, bersamaan dengan terdengarnya suara erangan seseorang.. Sosok Jin cantik yang kemarin gw lihat juga di rumah sakit, membalikkan tubuhnya dan melayang menghampiri Ki Larang..
“Bagaimana Kanda Wishnu Karma? Apakah kau bisa menyelamatkan pemuda ini?” Tanya Nyi Srimpi Sawiling, sambil duduk bersimpuh dan menatap wajah Ki Larang dengan wajah penuh kecemasan..
Ki Larang yang dipanggil pertama kali dengan nama aslinya, hanya tertegun menatap kosong wajah Nyi Srimpi Sawiling..
“Darah pemuda yang seharusnya kau jaga sudah terlalu kotor, Dinda Srimpi Sawiling.. Aku tidak bisa membersihkan seluruh racun didarahnya”
Wajah Nyi Srimpi Sawiling mendadak memucat mendengar jawaban Ki Larang.. Lalu, ia menundukkan kepala seperti menatap wajah seseorang.. Gw yang penasaran akan sosok pemuda yang sedang terbaring di hadapan dua jin berlainan jenis, memutuskan untuk melangkah mendekat.. Pandangan mata gw sempat membesar begitu mengetahui bahwa pemuda berwajah sangat pucat yang sedang terbaring mengejang itu adalah pemuda sama yang gw lihat di rumah sakit.. Jauh lebih terkejut lagi gw, manakala melihat sebuah jarum suntik masih tertusuk menempel di pergelangan tangan pemuda tersebut..
Jika dilihat dari wajah pucat dan tubuh nya yang kejang-kejang, sudah bisa dipastikan bahwa pemuda tersebut sedang mengalami over dosis.. Terlebih dengan adanya jarum suntik yang masih tertusuk menempel di pergelangan tangan..
Saat gw masih tertegun memperhatikan sosok pemuda asing itu, tiba-tiba tubuhnya nampak semakin mengejang dengan mulut mulai mengeluarkan busa putih kekuningan.. Nyi Srimpi Sawiling yang melihat, seketika terdengar menjerit karena panik, meski sempat mencabut jarum suntik di tangan pemuda asing tersebut.. Gw juga berusaha untuk tidak tinggal diam.. Dengan gerakan cepat, gw merobek kaus yang digunakan oleh sosok pemuda itu...
Pandangan mata gw sempat terbelalak saat melihat tubuh kurus si pemuda dipenuhi tato bermacam corak.. Rasa terkejut yang sempat mengalihkan perhatian, langsung gw tepis dan dengan cepat gw memegangi bagian belakang kepala pemuda tersebut.. Lalu memiringkan kepalanya ke arah belakang serta mengangkat dagu.. Hal itu gw lakukan agar ia bisa bernafas dengan baik..
Dengan menggunakan robekan kaus, gw bersihkan busa yang terus keluar dari mulut si pemuda berambut gondrong yang tubuhnya nampak semakin mengejang..
“Kita harus cepat membawa nya ke rumah sakit, Ki” Kata gw dengan wajah ikut menyiratkan rasa cemas..
Ki Larang yang malah sedang memejamkan kedua mata, perlahan membuka indera penglihatannya lagi.. Lalu, dengan gerakan cepat ia menarik telapak tangan kanan gw dan..
SRETTT..
“AWWW”
Gw terpekik kesakitan saat Ki Larang dengan sengaja menyayat telapak tangan kanan gw menggunakan kuku jari telunjuknya yang entah kapan sudah memanjang.. Akibat terkejut sekaligus merasakan sakit dan perih ditelapak tangan kanan, pegangan tangan gw di belakang kepala pemuda tadi pun terlepas dan membuat kepalanya hendak jatuh membentur lantai.. Akan tetapi, Nyi Srimpi Sawiling dengan gerakan tak kalah cepatnya menangkap kepala pemuda itu, hingga tak sampai membentur lantai keramik..
“Apa yang kau lakukan Ki Larang?” Tanya Sekar Kencana dengan suara bergetar mengandung amarah, begitu melihat gw sengaja dibuat terluka..
Bukannya menjawab, Ki Larang malah menarik lagi telapak tangan kanan gw yang sudah mengucurkan darah berwarna merah segar.. Gw yang kembali dibuatnya terkejut, mencoba menarik telapak tangan kanan yang ia arahkan ke atas mulut si pemuda berambut gondrong.. Namun, gagal! Tenaga gw jauh lebih lemah dibanding tenaga Ki Larang..
“Ki Larang, lepaskan tangan pemuda yang aku jaga sekarang juga!” Bentak Sekar Kencana dengan wajah mulai meradang..
“Diam kau, Sekar Kencana! Aku tidak akan melukai suami salah satu keturunan Sang Prabu.. Dinda Srimpi Sawiling, buka mulut pemuda itu selebar mungkin.. Satu-satu nya cara untuk menolongnya adalah dengan menggunakan darah keturunan Braja Krama” Kata Ki Larang yang membuat kami bertiga terkejut..
Tak mau menyiakan kesempatan untuk menyelamatkan nyawa pemuda yang ia jaga, Nyi Srimpi Sawiling berusaha membuka mulut terkancing sosok tersebut.. Sementara, cengkraman tangan Ki Larang yang terasa kian kuat dipergelangan tangan kanan gw, terus menarik dan mengarahkan telapak tangan ini, agar darah yang mengucur dari luka sayat di telapak tangan kanan gw tepat mengarah ke mulut pemuda itu..
TES.. TES.. TES...
Tiga tetes darah yang jatuh mengalir dari luka di telapak tangan gw, terlihat masuk ke dalam rongga mulut pemuda yang menurut Anggie adalah salah satu keturunan Sri Baduga Maharaja sepertinya.. Setelah tetes darah gw sudah berada didalam mulut pemuda itu, Ki Larang melepaskan cengkramannya dari pergelangan tangan gw dan dengan cepat ia menutup mulut pemuda tersebut menggunakan telapak tangannya..
Gw sempat jatuh terduduk di sebelah Nyi Srimpi Sawiling begitu telapak tangan ini dilepaskan Ki Larang.. Sekar yang melihat gw sedang menutupi luka sayatan kuku Ki Larang dengan sisa robekan kaus milik si pemuda asing, langsung mendekat dan membuka balutan kaus.. Lalu mengganti dengan menempelkan telapak tangan kanannya ke telapak tangan kanan gw..
NYESSS
Sensasi rasa sejuk gw rasakan begitu telapak tangan Sekar Kencana sudah tertempel di telapak tangan kanan ini.. Sambil menahan sedikit rasa sakit, gw menatap Sekar Kencana yang nampak sedang memejamkan kedua mata seraya membaca mantera.. Perlahan-lahan, rasa sakit dan perih yang sedari tadi terbit di telapak tangan kanan gw, mulai berkurang dan akhirnya lenyap bersamaan dengan kembali tertutupnya luka sayat di telapak tangan seperti semula..
Menyadari luka sayat di telapak tangan kanan ini sudah berhasil disembuhkan oleh Sekar Kencana, gw mengulum senyuman sebagai ungkapan rasa terima kasih yang dibalas anggukan kepalanya.. Lalu, kami berdua sama-sama melemparkan kembali pandangan mata ke arah Ki Larang.. Sosok utusan Sri Baduga Maharaja tersebut nampak sedang berkomat kamit sambil terus menutup mulut si pemuda asing menggunakan telapak tangannya.. Mendadak, kedua mata si pemuda berambut gondrong terbelalak dan..
HOEEEKKK...
Muntahan cairan putih kekuningan berbusa yang termuntahkan dari mulut si pemuda, tercecer berserakan dilantai keramik setelah sempat menembus sosok gaib Ki Larang.. Gw yang melihat hal tersebut sempat bergidik ngeri karena baru kali ini melihat langsung bagaimana orang sedang over dosis..
“Alhamdulillah, semua racun yang ada ditubuh pemuda ini telah keluar, Dinda Srimpi Sawiling.. Tapi, tunggu.. Ada sosok manusia dan Jin lain yang datang ke tempat ini” Kata Ki Larang sambil berdiri dan memandang ke satu titik..
Gw dan Sekar Kencana yang penasaran setelah mendengar ucapan Ki Larang barusan, sama-sama membalikkan tubuh dan memandang ke arah sama dengan beliau..
“Imam!” Panggil suara seorang wanita yang sangat gw kenal dari arah pintu..
Gw membalikkan tubuh ke arah pintu dan menatap heran begitu melihat Suluh serta Ridho sudah berada di sana.. Sementara, dari titik yang dipandang oleh Ki Larang dan Sekar Kencana, muncul dua sosok Jin Penjaga Ridho, Naga Saksana dan Nyai Lingga..
“Astaghfirullah, Yang! Itu Arka!” Teriak Suluh sambil setengah berlari menghampiri pemuda gondrong bertubuh lemah yang kepalanya masih berada dipangkuan Nyi Srimpi Sawiling..
Gw yang sempat saling bertatapan heran dengan Ridho, bertambah bingung begitu melihat saudara gw itu ikut mendekati Suluh dan langsung mencoba membopong tubuh pemuda bernama Arka.. Akan tetapi, postur tubuh pemuda yang sepertinya dikenal oleh kedua saudara gw itu memang tinggi besar dan menyulitkan Ridho untuk mengangkatnya..
“Nyai, tolong pindahkan tubuh saudara kami ini ke dalam mobil.. Cepat Nyai!” Teriak Ridho ke arah Nyai Lingga, yang langsung melayang mendekat..
“Bree, lu ikut kita ke rumah sakit terdekat yak” Pinta Ridho, begitu sosok pemuda berambut gondrong sudah lenyap bersamaan dengan hilangnya sosok Nyai Lingga..
Tanpa ragu, gw menganggukkan kepala dan mulai berjalan mengikuti Suluh serta Ridho keluar dari bangunan kosong tersebut..
“Gimana ceritanya lu bisa ada ditempat tadi, Bree?” Tanya Ridho saat kami berdua sudah berada di luar ruang UGD sebuah rumah sakit khusus bedah di daerah Rawamangun Jakarta Timur..
Gw menghela nafas dan melirik ke arah Sekar Kencana yang nampak sesekali menatap dingin Nyi Srimpi Sawiling.. Dari raut wajah Jin cantik berkemben putih dengan mahkota perak kecil diatas kepalanya itu, jelas sekali tersirat raut kecemasan menunggu kabar dari Suluh yang sedang menemani pemuda yang ia jaga di dalam ruang tindakan..
“Jadi, pas gw lagi jenguk Kak Silvi di rumah sakit, gw sempat ketemu sama pemuda tadi, Bree.. Cuma waktu itu lagi di kejar-kejar perawat sama dokter.. Gw sempet mau nangkep, tapi ga dibolehin Ki Larang, karena dia kenal sama Jin yang ikutin pemuda itu.. Nah, kata bini gw, anak muda yang lu panggil Arka itu sama-sama keturunan Prabu Siliwangi”
Kedua mata Ridho sempat terbelalak saat mendengar penuturan gw..
“Kata Anggie, Ki Larang minta gw buat nolongin tuh anak, Bree.. Karena Sekar ga tahu muka tuh anak terus dia udah sempet gunain Ajian Puter Angen, mau ga mau gw minta Ki Larang buat bawa gw ke tempat orang yang namanya Arka.. Dan lu tau, Bree.. Pas gw sampe disana, dia udah over dosis.. Hampir aja nyawa nya melayang, kalo ga nelen darah gw, gw yakin pemuda yang nama nya Arka itu bakalan lewat, Bree” Lanjut gw sambil menunjukkan sedikit bercak darah yang masih terjejak di pergelangan tangan ini..
Ridho sendiri terdiam seraya melirik ke arah pergelangan tangan ini.. Lalu menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya di sandaran bangku panjang tempat kami berdua duduk..
“Udah, Bree.. Sekarang lu gantian ceritain ke gw, gimana lu sama Suluh bisa kenal tuh Junky”
Sekali lagi Ridho menghela nafas panjang.. Kemudian melirik ke arah Nyi Srimpi Sawiling yang masih sesekali menembus dinding tempat pemuda bernama Arka sedang ditangani, lalu kembali keluar dengan wajah masih sama cemas..
“Arka itu saudara nya bini gw, Bree.. Sama Kek Aryo yang dulu pernah ngelawan kita pas mau tarung lawan Raja Siluman.. Kakeknya Arka itu, adik Kakeknya Suluh, Bree.. Beliau jawara yang cukup terkenal di Sukabumi.. Karena Arka udah jadi yatim piatu dari umur 10 tahun, dia dirawat sama Kakek neneknya di Sukabumi.. Pas Kakek Neneknya juga meninggal tiga tahun lalu, si Arka kehilangan pegangan hidup.. Dia putusin buat jual tanah warisan dan pergi dari Sukabumi sebulan setelahnya.. Tiga tahun udah lewat dan nyokap mertua gw baru tahu semalem dari sepupunya yang polisi, kalo Arka ada di Jakarta.. Dan lu tau, saudara nya Suluh itu jadi Target Operasi Polres Jaktim sebagai pengedar narkoba.. Cuma dengan bermodal screen shot photo Arka kiriman sepupunya nyokap mertua, gw minta Naga Saksana, Nyai Lingga dan Nyi Laras Abang buat nyari keberadaan tuh anak.. Sayang, ketiga Jin Penjaga gw dan Suluh ga ada yang nyanggup nyari tempat dia tinggal.. Akhirnya, gw baru bisa nemuin si Arka di Kampung Amb*n tadi pas minta bantuan Dewi Ayu Anjani”
Gw cukup terkejut mendengar penuturan Ridho yang sangat jelas tentang pemuda bernama Arka.. Gw sama sekali tidak menyangka bahwa pemuda yang kata Ki Larang merupakan keturunan Sri Baduga Maharaja, bisa terseret ke lubang nista jeratan narkoba.. Pantas saja aura yang keluar dari tubuhnya terlihat hitam pekat.. Mungkin karena kelamnya jalan hidup yang ia pilih, hingga mempengaruhi pendaran aura..
Tapi, bukannya si Arka juga punya Jin Penjaga, Nyi Srimpi Sawiling? Seharusnya, Jin yang masih berwajah cemas itu bisa memperingatkan pemuda yang ia jaga agar tidak sampai terjatuh ke dalam jurang kenikmatan semu narkoba.. Apa karena Arka ternyata bukan indigo? Jadi tidak bisa melihat sosok Nyi Srimpi Sawiling.. Masa iya, Ki Larang bisa salah menduga kalo Arka bukan keturunan terpilih Sang Prabu Siliwangi? Tapi kan, waktu di rumah sakit, pemuda yang kini masih ditangani di UGD itu sempat berhenti persis di depan gw, dan memandangi wajah ini serta melirik sosok Ki Larang..
“Itu karena ia menolak kenyataan bahwa dirinya merupakan salah sosok keturunan Sang Baginda yang terpilih, Ngger” Kata Ki Larang yang membuat gw dan Ridho terkejut, karena sosoknya tahu-tahu sudah duduk di sebelah kiri gw..
pulaukapok dan 16 lainnya memberi reputasi
17