- Beranda
- Stories from the Heart
SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU
...
TS
kata.namnam
SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU

SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU
Selamat datang pada thread sederhana tentang sebuah cerita yang mengatasnamakan rindu sebagai awal dari sebuah percakapan penuh komedi.
Spoiler for PERKENALAN DIRI:
Spoiler for JADWAL UPDATE:
Spoiler for FAQ:
Spoiler for PERATURAN UNTUK PEMBACA:
Spoiler for DAFTAR ISI:
enjoyed
Diubah oleh kata.namnam 18-08-2018 02:34
bukhorigan dan anasabila memberi reputasi
2
22.2K
172
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kata.namnam
#54
PART 3 - LIBURAN SEKOLAH DI SEKOLAH
Sewaktu itu sekolah kami tergolong sekolah elit di bilangan kota Cirebon. Sekolah favorit dengan para pelajar yang terkenal normal-normal saja. Maaf, aku ngomong begini karena pada saat itu, reputasi STM sedang anjlog di mata kebanyakan.
Di hari minggu, sekolah kami tetap di buka. Sebagai sekolah favorit, maklumlah banyak ekstrakulikuler yang tersedia. Dan di hari minggu, biasanya banyak dari para pelajar menjadikan kesempatan untuk memperdalam ektrakulikuler yang mereka ikuti. Seperti, pramuka, paskibra, PMR, Marching Band dan sebagainya. Banyak sekali. Saking banyaknya aku jadi bingung, sampai-sampai pada akhirnya aku tak mengikutinya satu pun.
Di perjalanan menuju sekolah aku mampir-mampir di jajan-jajanan pinggir jalan. Dari mulai gorengan sampai beli kue-kuean kecil. Dan ditutup dengan beli es kelapa muda. Setiap jenisnya aku selalu membungkus tiga porsi. Dan setiap itu pula, Mishel selalu bilang;
“Ih, kebanyakan. Kita kan berdua?”
“Udah gak papa, anggap saja aku makannya banyak”
“Huh, dasar!”
Motor melaju kembali. Masih ada sekitar lima menitan kami akan sampai di sekolah.
“Shel…”
“Iya, kenapa Jak?"
“Kamu nanti pilih yah?”
“Pilih apaan?”
Daripada menjelaskan, langsung saja aku memberi pertanyaan pilihan.
“Suka sekolah berseragam atau baju bebas?”
“Bebas”
“Banyak siswa atau sedikit?”
“Sedikit”
“Lama atau sebentar?”
“Yaa tergantung”
“Lama atau sebentar?”
“Sebentar”
“Emang apaan sih Jak?”
“Gapapa, udah mau nyampe tuh!"
Aku dan Mishel sampai di sekolah. Mishel turun dari vespaku dengan raut muka yang begitu kebingungan. Mungkin masih tak menyangka bahwa aku benar-benar mengajaknya ke sekolah.
“Kamu serius ih”, ucapnya sambil memandangi sekitaran halaman sekolah.
“Lah, masa harus bohong sama ayah?”
“Terus mau ngapain sekarang?”
“Ngewujudin impianmuuuu..”, jawabku sambil menggerakan tangan seperti para pujangga.
“Impian apa lagi?”
“”Yuk, nyari tempat duduk dulu”
Kami duduk di sebuah kursi dekat kolam ikan.
“Heh, impian apa?”, rupanya Mishel maasih penasaran.
“Kamu sekolah udah beraapa lama?”
“Di sini?"
“Iya”
“Sebulan lebih, kenapa?”
“Naaah, sebulan lebih itu kamu ngikutin sistem sekolah. Sekarang akau pengen kamu ngikutin diri sendiri. Sekalipun hanya sehari sih… ikutin keinginanmu tentang sekolah”
“Ta—“
Aku memotong ucapannya dengan memberi palang jari tengah tepat di kedua bibirnya. Ia terdiam menatapku.
“Hust,.. Tak berseragam, bebas, dan sebentar, itu sekolah yang kamu mau kan? Sekarang waktunya”,
Perlahan Mishel mebuka senyumnya. Ia keterusaan senyum. Entahlah. Ketika ia memalingkan mukanya, dan mengumpat senyum tapi aku mengetahuinya, begitu indah dunia ini. Begitu indah senyum Mishel. Aku hanya ingin membuatnya gembira. Membuatnya senang. Membuatnya terus tersenyum; Dan dari mulai hari ini. Aku harus bisa membuatnya tersenyum. Aku lelaki, aku bisa. Ini Prinsip!
“Hayu, kesana!”, aku membuyarkan kebisuan kami.
Aku langsung menarik tangan Mishel dan beranjak dari tempat duduk.
“Kemana?”
“Ke Mang Kardi”
“Haah?”
Di belakang sekolah ada sebuah kamar kecil, bersebelahan dengan gudang. Di sanalah markas Mang Kardi, penjaga gerbang sekolah. Kulihat tadi dia tidak sedang jaga. Biasanya aku ajak si Rahmat kalau kesini. Sekarang tampah personil. Biar Mishel tahu, siapa saja yang dekat denganku.
“Mang… Mang!”, teriakku.
“Iya iya, sebentar…!”
Mang Kardi keluar dari ruangannya. Roman-romannya dia habis mandi. Rambutnya masih basah.
“Eh, Jaka”, sesaat Mang Kardi beralih pandang ke arah Mishel, “Neng Mishel, kok sama Jaka?”
“Kalian sudah kenal?”
“Jelas kenal”, tungkas Mang Kardi.
“Kok bisa?”
“Lah Jaka kok kenal Neng Mishel?”
“Ya kan sesekolah”
“Ya sama, Mang Kardi juga sesekolah”, dia nyengir, “beda jabatan doang.”
“He he he”
Aku dan Mishel dipersilahkan duduk di sebuah bangku yang panjang oleh Mang Kardi. Sementara Mang Kardi pamit sebentar, katanya nanggung mau salin baju.
“Kok Kamu kenal Mang Kardi?”
“Lah, rumah dia kan di belakang rumahku”, jelas Mishel.
“Oh gitu toooooh”
“Ayah sering main catur sama dia”, tambah Mishel,”apalagi kalo malem minggu, biasanya mereka bergadang. Lah wong tadi malam aja Mang Kardi ke rumahku, eh taunya udah di sekolah aja.”
“Wah gabung boleh tuh”, ucapku.
“Main catur?”
“Main ke rumahmu”
“Ngapain?”
“Nemenin Mang Kardi main ke ayahmu”
“Kirain mau nemenin aku”
“itu bonusnya”, aku tersenyum
“Ha ha”
Mang Kardi datang. Segera aku membuka jajanan dan es kelapa yang baru beli tadi. Kami melahapnya bersama. Aku dan Rahmat biasanya begini. Sedari SMP dulu, senang akrab dengan penjaga sekolah.
“Kok kalian akrab?”, Tanya Mishel.
“Jaka mah baru masuk kesini juga langsung ngakrabin Mamang”
“Waah”
“Iya Neng. Jaka mah aneh”
“Jaka?”, Mishel memanggilku.
“Kenapa?”
“Kenapa ngakrabin Mang Kardi?”, sambar Mishel.
“Biar bolosnya enak!”
“Emang iya?”, Mang Kardi menampakkan mimik tak percaya, “Kok saya gak pernah liat kamu bolos?”
“Ya nanti Mang”
“Kapan?”
“Ya kalo lagi sekolah, sekarang kan minggu… Percuma bolos, gak kerasa!”
“Ha ha, karuan iku mah jaka!”, kekeh Mang Kardi (Karuan itu mah Jaka)
***
Kalian tahu baju yang diambil Jaka punya Mishel di tukang jahit kemana? Kalian tahu bagaimana caraku menikmati liburan dengan Mishel di sekolah? Kalian tahu apa saja yang diobroli ketika kami bertiga melanjutkan percakapan.
Maaf yah, aku rahasiain dulu. kalo kalaian penasaran betapa serunya liburan di sekolah, ikutin terus kisah ini ya? karena harapanku buku ini diterbitkan.
Tapi aku masih belum cukup nyali atau kurang percaya diri. Dengan kalian terus ngikutin cerita ini, dan hingga akhirnya nanti bertambah jumlah pembacanya, InsyaAllah, aku akan merasa percaya diri dan cukup nyali untuk naik cetak ke penerbit.
Sekarang, aku lanjutin ke kisah selanjutnya…
Di hari minggu, sekolah kami tetap di buka. Sebagai sekolah favorit, maklumlah banyak ekstrakulikuler yang tersedia. Dan di hari minggu, biasanya banyak dari para pelajar menjadikan kesempatan untuk memperdalam ektrakulikuler yang mereka ikuti. Seperti, pramuka, paskibra, PMR, Marching Band dan sebagainya. Banyak sekali. Saking banyaknya aku jadi bingung, sampai-sampai pada akhirnya aku tak mengikutinya satu pun.
Di perjalanan menuju sekolah aku mampir-mampir di jajan-jajanan pinggir jalan. Dari mulai gorengan sampai beli kue-kuean kecil. Dan ditutup dengan beli es kelapa muda. Setiap jenisnya aku selalu membungkus tiga porsi. Dan setiap itu pula, Mishel selalu bilang;
“Ih, kebanyakan. Kita kan berdua?”
“Udah gak papa, anggap saja aku makannya banyak”
“Huh, dasar!”
Motor melaju kembali. Masih ada sekitar lima menitan kami akan sampai di sekolah.
“Shel…”
“Iya, kenapa Jak?"
“Kamu nanti pilih yah?”
“Pilih apaan?”
Daripada menjelaskan, langsung saja aku memberi pertanyaan pilihan.
“Suka sekolah berseragam atau baju bebas?”
“Bebas”
“Banyak siswa atau sedikit?”
“Sedikit”
“Lama atau sebentar?”
“Yaa tergantung”
“Lama atau sebentar?”
“Sebentar”
“Emang apaan sih Jak?”
“Gapapa, udah mau nyampe tuh!"
Aku dan Mishel sampai di sekolah. Mishel turun dari vespaku dengan raut muka yang begitu kebingungan. Mungkin masih tak menyangka bahwa aku benar-benar mengajaknya ke sekolah.
“Kamu serius ih”, ucapnya sambil memandangi sekitaran halaman sekolah.
“Lah, masa harus bohong sama ayah?”
“Terus mau ngapain sekarang?”
“Ngewujudin impianmuuuu..”, jawabku sambil menggerakan tangan seperti para pujangga.
“Impian apa lagi?”
“”Yuk, nyari tempat duduk dulu”
Kami duduk di sebuah kursi dekat kolam ikan.
“Heh, impian apa?”, rupanya Mishel maasih penasaran.
“Kamu sekolah udah beraapa lama?”
“Di sini?"
“Iya”
“Sebulan lebih, kenapa?”
“Naaah, sebulan lebih itu kamu ngikutin sistem sekolah. Sekarang akau pengen kamu ngikutin diri sendiri. Sekalipun hanya sehari sih… ikutin keinginanmu tentang sekolah”
“Ta—“
Aku memotong ucapannya dengan memberi palang jari tengah tepat di kedua bibirnya. Ia terdiam menatapku.
“Hust,.. Tak berseragam, bebas, dan sebentar, itu sekolah yang kamu mau kan? Sekarang waktunya”,
Perlahan Mishel mebuka senyumnya. Ia keterusaan senyum. Entahlah. Ketika ia memalingkan mukanya, dan mengumpat senyum tapi aku mengetahuinya, begitu indah dunia ini. Begitu indah senyum Mishel. Aku hanya ingin membuatnya gembira. Membuatnya senang. Membuatnya terus tersenyum; Dan dari mulai hari ini. Aku harus bisa membuatnya tersenyum. Aku lelaki, aku bisa. Ini Prinsip!
“Hayu, kesana!”, aku membuyarkan kebisuan kami.
Aku langsung menarik tangan Mishel dan beranjak dari tempat duduk.
“Kemana?”
“Ke Mang Kardi”
“Haah?”
Di belakang sekolah ada sebuah kamar kecil, bersebelahan dengan gudang. Di sanalah markas Mang Kardi, penjaga gerbang sekolah. Kulihat tadi dia tidak sedang jaga. Biasanya aku ajak si Rahmat kalau kesini. Sekarang tampah personil. Biar Mishel tahu, siapa saja yang dekat denganku.
“Mang… Mang!”, teriakku.
“Iya iya, sebentar…!”
Mang Kardi keluar dari ruangannya. Roman-romannya dia habis mandi. Rambutnya masih basah.
“Eh, Jaka”, sesaat Mang Kardi beralih pandang ke arah Mishel, “Neng Mishel, kok sama Jaka?”
“Kalian sudah kenal?”
“Jelas kenal”, tungkas Mang Kardi.
“Kok bisa?”
“Lah Jaka kok kenal Neng Mishel?”
“Ya kan sesekolah”
“Ya sama, Mang Kardi juga sesekolah”, dia nyengir, “beda jabatan doang.”
“He he he”
Aku dan Mishel dipersilahkan duduk di sebuah bangku yang panjang oleh Mang Kardi. Sementara Mang Kardi pamit sebentar, katanya nanggung mau salin baju.
“Kok Kamu kenal Mang Kardi?”
“Lah, rumah dia kan di belakang rumahku”, jelas Mishel.
“Oh gitu toooooh”
“Ayah sering main catur sama dia”, tambah Mishel,”apalagi kalo malem minggu, biasanya mereka bergadang. Lah wong tadi malam aja Mang Kardi ke rumahku, eh taunya udah di sekolah aja.”
“Wah gabung boleh tuh”, ucapku.
“Main catur?”
“Main ke rumahmu”
“Ngapain?”
“Nemenin Mang Kardi main ke ayahmu”
“Kirain mau nemenin aku”
“itu bonusnya”, aku tersenyum
“Ha ha”
Mang Kardi datang. Segera aku membuka jajanan dan es kelapa yang baru beli tadi. Kami melahapnya bersama. Aku dan Rahmat biasanya begini. Sedari SMP dulu, senang akrab dengan penjaga sekolah.
“Kok kalian akrab?”, Tanya Mishel.
“Jaka mah baru masuk kesini juga langsung ngakrabin Mamang”
“Waah”
“Iya Neng. Jaka mah aneh”
“Jaka?”, Mishel memanggilku.
“Kenapa?”
“Kenapa ngakrabin Mang Kardi?”, sambar Mishel.
“Biar bolosnya enak!”
“Emang iya?”, Mang Kardi menampakkan mimik tak percaya, “Kok saya gak pernah liat kamu bolos?”
“Ya nanti Mang”
“Kapan?”
“Ya kalo lagi sekolah, sekarang kan minggu… Percuma bolos, gak kerasa!”
“Ha ha, karuan iku mah jaka!”, kekeh Mang Kardi (Karuan itu mah Jaka)
***
Kalian tahu baju yang diambil Jaka punya Mishel di tukang jahit kemana? Kalian tahu bagaimana caraku menikmati liburan dengan Mishel di sekolah? Kalian tahu apa saja yang diobroli ketika kami bertiga melanjutkan percakapan.
Maaf yah, aku rahasiain dulu. kalo kalaian penasaran betapa serunya liburan di sekolah, ikutin terus kisah ini ya? karena harapanku buku ini diterbitkan.
Tapi aku masih belum cukup nyali atau kurang percaya diri. Dengan kalian terus ngikutin cerita ini, dan hingga akhirnya nanti bertambah jumlah pembacanya, InsyaAllah, aku akan merasa percaya diri dan cukup nyali untuk naik cetak ke penerbit.
Sekarang, aku lanjutin ke kisah selanjutnya…

sydney89 memberi reputasi
1