- Beranda
- Stories from the Heart
Sebuah Kisah Jomblo Ngesot (Komedi, Cinta)
...
TS
twnty1guns
Sebuah Kisah Jomblo Ngesot (Komedi, Cinta)
Halo gan n sist. Perkenalkan ane member baru di Kaskus. Jadi, di sini ane mau menyalurkan hobi ane yaitu menulis cerita. Sekaligus juga ane pengen berbagi keresahan-keresahan ane selama ini. Yang ane tulis dalam bentuk cerita yang dibuat sendiri. Dan ane juga pengen mendapat penilaian dari agan n sist soal cerita yang ane buat.
Ceritanya tentang seorang cowok bego yang pengen punya pacar, tapi gak tau caranya gimana, dia juga selalu disesatkan sama saran temennya sendiri. Karena ane baru sekali buat thread di kaskus, maaf kalo masih berantakan. Nanti ane pelajarin lagi hehehe
Semoga agan n sist suka.... Selamat membaca!
Ceritanya tentang seorang cowok bego yang pengen punya pacar, tapi gak tau caranya gimana, dia juga selalu disesatkan sama saran temennya sendiri. Karena ane baru sekali buat thread di kaskus, maaf kalo masih berantakan. Nanti ane pelajarin lagi hehehe

Semoga agan n sist suka.... Selamat membaca!
Spoiler for Index:
Diubah oleh twnty1guns 04-08-2018 17:42
junti27 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
12.8K
76
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
twnty1guns
#4
BAB 1 - Pertemuan Tak Diduga - Part 3
Sekali lagi gue memerhatikan sekeliling, banyak anak SD pacaran, bahkan gue mendengar ada sebutan panggilan sayang 'Bunda' dan 'Ayah'. "Cari tempat lain aja yok?" gue mengajak Galih mencari makan di tempat lain.
"Jangan!" Galih spontan menjawab.
Gue makin heran. "Kenapa? Takut mahal? Gue yang traktir deh, pas pulang lo bayar," gue terus berupaya membujuk Galih.
"Parkirannya gak enak," jawab Galih, sebuah alasan yang sangat enggak masuk akal. "Di sini aja, justru bagus perhatian mereka teralihkan, gaada yang malak deh,'" Galih berkata lagi, tetap keras kepala.
Akhirnya gue pasrah dan nurut. Kami pun mencari tempat duduk. Setelah dapet, gue memesan makanan mie pedas, minumnya... selundupan dari luar. Sedangkan Galih memesan nasi goreng spesial, minumnya... minta sama gue. Selagi menunggu makanan dateng, gue ngeliatin sekitar. Di deket gue, ada orang yang keliatannya ada urusan serius dengan pelayan tempat makan.
"Mbak, ada cara pembayaran lain selain tunai gak?" kata orang tersebut.
"Ada mas, pakai atm," jawab si Mbak pelayan dengan suara yang dibuat seramah mungkin
.
Gue melihat lagi, orang tersebut, cowok yang mukanya keliatan bingung, garukin kepala mulu. "Bukan mbak, ada cara yang lain?"
Mbak pelayan keliatannya bingung, mungkin pertama kalinya nemu pelanggan aneh seperti ini. "Gaada cara lain mas. Cara terakhir ya, mas harus cuci piring," jawab si mbak yang bingung banget.
"Nah, itu yang saya maksud mbak. Dompet saya ditahan pacar saya," kata si cowok yang malang. Si mbak keliatan prihatin, lalu manggut-manggut sambil nunjukin jalan menuju dapur, si cowok ikut di belakangnya.
Gue lumayan bingung, kenapa dia nekat makan kalo gak ada uang? Apa rumah dan seluruh hartanya diambil alih oleh ceweknya? Atau, emang dia biasa bertahan hidup dengan nyuci piring? Entah. Gak lama kemudian, makanan yang dipesen tiba. Gue langsung menyantap dengan brutal. Selagi makan, sesekali gue memandang sekitar. Banyak ada anak SD lagi nunggu jemputan, beli makanan di pinggir jalan, dan malakin temen. Sekilas mata gue melihat keberadaan seorang cewek di tengah anak SD. Gue mencoba melihat lebih jelas lagi, ternyata emang kriteria gue banget
"Lih, coba deh lo liat cewek di sana!" kata gue, menunjuk ke tempat cewek tersebut berada.
Galih bereaksi, dia melihat ke arah yang gue tunjuk. "Yang mana? Cewek di sana banyak. Ada anak SD yang lo taksir ya?"
"Bukan, kampret!" gue kesel, hampir gigit meja. "Itu cewek yang lagi sama adiknya itu," kata gue lagi, sambil berusaha menunjukan cewek tersebut.
Galih memandang sebentar, lalu dia manggut-manggut. "Oh yang itu, kayaknya gue pernah ngeliat di sekolah."
"Ah, yang bener?" Gue makin penasaran.
Galih menghabiskan makanannya, kemudian menatap gue serius. "Iya gue serius. Kalo lo suka, coba aja samperin."
Gue nyaris pengen muntahin minuman gue. "Ah, ngaco lu. Gue gak tau mau ngomong apa," gue menjawab, sambil terus ngeliatin cewek yang menarik perhatian gue.
Tiba-tiba Galih megang tangan gue, seketika suasana jadi mencekam. Dua orang cowok yang duduk berdua, pegangan tangan pula. "Lo sekarang berdiri, jalan ke sana dengan tegak, dengan berani. Dekati dia, lalu ngomong dengan suara lelaki sejati, 'Adik kamu bagus ya,' Gitu."
Gue melepaskan genggaman tangan Galih yang mengerikan. Untungnya di tempat gue makan cuma ada anak SD, jadi gak bakal menimbulkan anggapan negatif. Anak SD mana ngerti. "Kampret, gue bakal disangka om-om yang lagi memantau calon korban," balas gue dengan kesel.
Dalam sekejap, kedua tangan Galih berada di kedua sisi pipi gue. "Jadi diri lo sendiri," ucap Galih, menatap gue dalam-dalam.
Gue berontak, pertanda jijik. Sekali lagi, untungnya gaada yang ngeliat. Gue memerhatikan kembali cewek yang berada di seberang sana. Sekaligus menunggu moment yang tepat untuk nyamperin. Siapa tau, dia mau sama gue. Perlahan gue berkhayal gimana rasanya berhasil, karena selama ini gue selalu gagal. Sampai pada akhirnya lamunan gue buyar ketika seorang anak kecil melintas deket gue, dia nyolek gue pelan.
"Abang homo ya? Gimana rasanya bang? Aku pingin tau," kata si bocah yang gak gue kenal.
"Enak dek, rasanya kayak stroberi," gue salah jawab.
Bocah kecil itu diam sebentar, lalu senyum gak jelas. "Makasih bang, aku pulang dulu ya," ucap si bocah itu, pamitan ke gue.
Sehabis itu gue ngerasa bersalah atas jawaban gue barusan. Ngajarin anak kecil polos untuk hidup menyimpang. Gue berharap, semoga adik itu gak tersesat. Gue kembali fokus memerhatikan cewek yang saat ini lagi sendirian. Mungkin ini momen yang tepat. Tapi, gue harus ngomong apa? Dan, kalo gue diem, gue bakal kelewatan kesempatan besar. Dengan motivasi punya pacar cantik, sekaligus memperbaiki keturunan nantinya, gue memutuskan untuk bergerak. Saat itu juga gue berdiri, memeriksa diri gue, apa ada yang salah atau enggak.
"Jangan!" Galih spontan menjawab.
Gue makin heran. "Kenapa? Takut mahal? Gue yang traktir deh, pas pulang lo bayar," gue terus berupaya membujuk Galih.
"Parkirannya gak enak," jawab Galih, sebuah alasan yang sangat enggak masuk akal. "Di sini aja, justru bagus perhatian mereka teralihkan, gaada yang malak deh,'" Galih berkata lagi, tetap keras kepala.
Akhirnya gue pasrah dan nurut. Kami pun mencari tempat duduk. Setelah dapet, gue memesan makanan mie pedas, minumnya... selundupan dari luar. Sedangkan Galih memesan nasi goreng spesial, minumnya... minta sama gue. Selagi menunggu makanan dateng, gue ngeliatin sekitar. Di deket gue, ada orang yang keliatannya ada urusan serius dengan pelayan tempat makan.
"Mbak, ada cara pembayaran lain selain tunai gak?" kata orang tersebut.
"Ada mas, pakai atm," jawab si Mbak pelayan dengan suara yang dibuat seramah mungkin
.
Gue melihat lagi, orang tersebut, cowok yang mukanya keliatan bingung, garukin kepala mulu. "Bukan mbak, ada cara yang lain?"
Mbak pelayan keliatannya bingung, mungkin pertama kalinya nemu pelanggan aneh seperti ini. "Gaada cara lain mas. Cara terakhir ya, mas harus cuci piring," jawab si mbak yang bingung banget.
"Nah, itu yang saya maksud mbak. Dompet saya ditahan pacar saya," kata si cowok yang malang. Si mbak keliatan prihatin, lalu manggut-manggut sambil nunjukin jalan menuju dapur, si cowok ikut di belakangnya.
Gue lumayan bingung, kenapa dia nekat makan kalo gak ada uang? Apa rumah dan seluruh hartanya diambil alih oleh ceweknya? Atau, emang dia biasa bertahan hidup dengan nyuci piring? Entah. Gak lama kemudian, makanan yang dipesen tiba. Gue langsung menyantap dengan brutal. Selagi makan, sesekali gue memandang sekitar. Banyak ada anak SD lagi nunggu jemputan, beli makanan di pinggir jalan, dan malakin temen. Sekilas mata gue melihat keberadaan seorang cewek di tengah anak SD. Gue mencoba melihat lebih jelas lagi, ternyata emang kriteria gue banget
"Lih, coba deh lo liat cewek di sana!" kata gue, menunjuk ke tempat cewek tersebut berada.
Galih bereaksi, dia melihat ke arah yang gue tunjuk. "Yang mana? Cewek di sana banyak. Ada anak SD yang lo taksir ya?"
"Bukan, kampret!" gue kesel, hampir gigit meja. "Itu cewek yang lagi sama adiknya itu," kata gue lagi, sambil berusaha menunjukan cewek tersebut.
Galih memandang sebentar, lalu dia manggut-manggut. "Oh yang itu, kayaknya gue pernah ngeliat di sekolah."
"Ah, yang bener?" Gue makin penasaran.
Galih menghabiskan makanannya, kemudian menatap gue serius. "Iya gue serius. Kalo lo suka, coba aja samperin."
Gue nyaris pengen muntahin minuman gue. "Ah, ngaco lu. Gue gak tau mau ngomong apa," gue menjawab, sambil terus ngeliatin cewek yang menarik perhatian gue.
Tiba-tiba Galih megang tangan gue, seketika suasana jadi mencekam. Dua orang cowok yang duduk berdua, pegangan tangan pula. "Lo sekarang berdiri, jalan ke sana dengan tegak, dengan berani. Dekati dia, lalu ngomong dengan suara lelaki sejati, 'Adik kamu bagus ya,' Gitu."
Gue melepaskan genggaman tangan Galih yang mengerikan. Untungnya di tempat gue makan cuma ada anak SD, jadi gak bakal menimbulkan anggapan negatif. Anak SD mana ngerti. "Kampret, gue bakal disangka om-om yang lagi memantau calon korban," balas gue dengan kesel.
Dalam sekejap, kedua tangan Galih berada di kedua sisi pipi gue. "Jadi diri lo sendiri," ucap Galih, menatap gue dalam-dalam.
Gue berontak, pertanda jijik. Sekali lagi, untungnya gaada yang ngeliat. Gue memerhatikan kembali cewek yang berada di seberang sana. Sekaligus menunggu moment yang tepat untuk nyamperin. Siapa tau, dia mau sama gue. Perlahan gue berkhayal gimana rasanya berhasil, karena selama ini gue selalu gagal. Sampai pada akhirnya lamunan gue buyar ketika seorang anak kecil melintas deket gue, dia nyolek gue pelan.
"Abang homo ya? Gimana rasanya bang? Aku pingin tau," kata si bocah yang gak gue kenal.
"Enak dek, rasanya kayak stroberi," gue salah jawab.
Bocah kecil itu diam sebentar, lalu senyum gak jelas. "Makasih bang, aku pulang dulu ya," ucap si bocah itu, pamitan ke gue.
Sehabis itu gue ngerasa bersalah atas jawaban gue barusan. Ngajarin anak kecil polos untuk hidup menyimpang. Gue berharap, semoga adik itu gak tersesat. Gue kembali fokus memerhatikan cewek yang saat ini lagi sendirian. Mungkin ini momen yang tepat. Tapi, gue harus ngomong apa? Dan, kalo gue diem, gue bakal kelewatan kesempatan besar. Dengan motivasi punya pacar cantik, sekaligus memperbaiki keturunan nantinya, gue memutuskan untuk bergerak. Saat itu juga gue berdiri, memeriksa diri gue, apa ada yang salah atau enggak.
HellenOktavia dan andrian0509 memberi reputasi
2