Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
110
Lapor Hansip
04-07-2018 07:19

Fast Lane

Fast Lane 59 - Marco the cool kid.


Semalam kamu aku hellohello nggak jawab - jawab, rupanya kamu ketiduran, aku pulang dulu ya. Kamu hati - hati kembali ke Bandung sama co-pilotmu itu. Nanti kalau sudah di Bandung, aku bakal masak buat kamu. Sekalian aku kenalin kamu ke gebetan baruku.

Kalimat di atas itu adalah short message yang gue terima dari Quinza Vie, gue benar benar ketiduran ya rupanya? lagi asyik ngobrolin soal zaman waktu SMA dulu rupanya gue melayang begitu cepat ke alam mimpi, and for the next thing, katanya dia mau ngenalin gue ke gebetan barunya, wih... boleh boleh.

Shit. Baru aja beberapa minggu yang lalu dia have fun sama gue. Sekarang dia sudah dapat gebetan baru lagi.

►♀◄


Terbangun di sekitar pagi hari membuat gue bisa melakukan banyak hal dulu, sebagai persiapan, seperti pagi itu, gue bisa beranjak dari ranjang, mandi, get dressed sesimpel mungkin, kemudian mencari minum, apapun itu selain soda, lalu kemudian sarapan di kafeteria hotel.

Sambil menikmati sarapan roti pagi itu di halaman kafe hotel Dei, gue memanggil salah seorang pramusaji pria untuk gue ajak duduk bersama dengan gue di meja makan gue, tujuannya untuk mengobrol, — gue mau cari informasi mengenai bagaimana nih caranya agar gue bisa balik ke Genova. Awalnya si pramusaji ini menolak karena aturannnya tidak boleh seperti itu, duduk dengan pengunjung kafe, tapi setelah gue paksa akhirnya dia menyanggupi permintaan gue.

Lagian santai aja kali, kayak zaman imperial aja. Setelah duduk dan ngobrol ngobrol sebentar, si pramusaji ini ngomong ke gue, "If you wanna go back to Genova, i could help you by calling the... Hotel dei Airport carter, but one of my...," kata si pramusaji itu sambil mikir ini dan itu.

Intinya ada dua layanan yang dia tawarkan kepada gue, layanan yang pertama adalah layanan yang bagus, yang biasanya banyak turis pakai kalau mereka berkunjung ke Portofino, mobilnya nggak jauh dari Lancia dan SUV lain pada umumnya. — Pelayanan yang kedua adalah milik temannya yang memang hobinya nganterin turis turis di Portofino, dia agak sungkan sama gue pas dia mau ngomong kalau mobil temannnya itu ternyata adalah sebuah FIAT. Kata gue, kenapa harus sungkan, lanjutkan aja, gue ingin dengar.

►♀◄


Gue suka heran sama orang Itali yang suka merasa kalau FIAT itu adalah mobil rendahan, hell, man, ini tuh salah satu manufaktur mobil tertua di Itali, show some respect lah please. Those Englishman i often see, juga banyak pakai mobil ini sebagai transportasi mereka disana, tapi jangan dibandingkan dengan Aston Martin ya. Beda jauh dong itu kelas nya. But yeah, i know right? the Italians loves Ferrari more than their FIAT.

Dan setelah berbincang cukup banyak, akhirnya gue deal sama si pramusaji ini untuk memilih layanan yang kedua, menaiki FIAT temannya, di bawah sinar matahari yang mulai terang ini, sekitar jam 10 pagi, gue meminta si pramusaji untuk membuat janji waktu pick up dengan temannya itu sekitar pukul 12 siang nanti.

Sebagai ucapan terima kasih dari gue, gue minta dia, si pramusaji ini, untuk antar Vespa coklat yang gue rental tempo hari itu kembali ke Piazza Vespa rent. Lengkap dengan beberapa lembar euro tambahan sebagai tip yang membuat dia langsung melompat dengan kegirangan.

►♀◄


Kembali ke kamar hotel, gue melihat ponsel gue dan menemukan pesan dari Mr. Eiffel yang mengucapkan terima kasih dan menunjukkan sebuah foto bahwa dia sedang menikmati liburannya bersama dengan Vee serta istrinya, entah kenapa gue jadi agak panik sendiri ketika melihat wajah Velyandra lagi, — bukan karena BDSM yang kami lakukan di malam hari itu, melainkan karena flashback sialan di moment yang hampir panas panasnya itu, harus tertunda karena you know, something complicated happens to my ass. (My brain, actually)

Kemudian update lain..., nggak terlalu penting sih. Jackie belum juga membalas pesan yang gue kirim satu hari yang lalu sama dia. Ada perasaan dongkol saat bokap kedua gue ini, tumben tumbennya nggak mau mengurus anak sekaligus ponakan tersayangnya ini, dulu sih memang saldo quality time kami hampir bisa dibilang, nggak terbantahkan, tapi sekarang, gue banyak sadar diri lah ya. To sum up, Papa memang irreplaceable.

In other words, i don't knoww what makes him so busy like that... Dan ya, gue cuma bisa banyak banyak bersabar di hari itu.

*tut...*

*tut......*

*Call connected*

"Are you awake, buddy?" tanya gue kepada Diwangka di pagi hari itu.

"Iya, udah Pal, baru mau mandi nih, habis main sama Vania."

"You lucky bastard! what about your lovely Kiandra?" sahut gue memprotes si Diwangka.

"Hello? Bukannya elo yang lebih beruntung ya?" jawabnya membencong kepada gue.

"Oh, Kia, biarinlah, cuma masa lalu gue itu."

"Hahahah, Tjokorda, Diwangka, Adhi, Dartha, you are an absolute bastard." tambah gue lagi pada dia.

"Gue lagi beres beres barang di hotel nih, ketemu di airport kirakira jam setengah tiga an lah ya?"

"Awkay, naik apa lo kesini?" tanya dia sama gue.

"FIAT." Jawab gue santai.

"Gue kira naik Ferrari," jawabnya meremehkan tumpangan gue. Ya, sudah bisa ditebak.

"Diw, please deh. Gue suruh si Imam Samudra pasang mainannya di halaman depan rumah lo baru tahu rasa lo diw."

"Awww~, jangan dong." jawabnya dengan logat kemayu.

"Hahahahaha." tawa gue meledak saat itu juga, Diwangka is such a morning jokes.

Dua jam sudah berlalu, gue dan segenap belanjaan gue yang tidak terlalu banyak ini sudah siap meninggalkan hotel, tetapi sebelum benar benar meninggalkan hotel, nggak lupa gue melehoy dulu sejenak menuju ke bar hotel ini, memesan dua botol Riesling yang super biasa (nggak spesial spesial amat) untuk diminum nanti, who the fuck knows? barangkali Dewinta mau curi curi lagi dari gue, gue sudah sediaken buat dia dan gengsi - gengsinya itu.

►♀◄


Nggak beberapa lama setelah itu, si pramusaji yang barusan ngobrol sama gue tadi menemui gue di bar hotel ini, doski bilang temannya yang bawa FIAT dan tukang antar orang itu sudah berada di depan hotel gue.

"Sirr, let me help you, and come meet my friend in front of the hotel." ujar dia yang kemudian membantu gue mengangkat beberapa barang yang gue bawa menuju pintu masuk hotel. Gue ingat sekali siang itu Portofino terlihat agak cerah, agak cerah ya, walaupun nggak bener bener cerah sih sebenarnya.

Setelah berada tepat di depan pintu masuk hotel ini, gue melihat mobil teman si pramusaji yang tukang antar orang itu, memperkenalkan gue kepada temannya, "Meet my friend, Marco." kata dia kemudian. — And i was like, anjrit! ini kah FIAT yang di gadang gadang jelek setengah mati itu? A roadster with some comfortable seat?

"Ciao signor, mi chiami Marco, pleasure to meet you. (Halo pak, nama saya Marco, senang bertemu dengan Anda.)"

Kemudian mereka bercakap cakap dalam bahasa Itali, dugaan gue si pramusaji, yang gue nggak tahu siapa namanya ini, menyuruh si Marco, untuk mengantarkan gue sampai ke bandara Genoa Cristoforo Colombo? tapi gue masih bengong setengah mati karena jujur, FIAT yang katanya jelek ini, malah membuat gue kembali bertanya kepada si pramusaji, "Hey, uh, are you sure, that this is my pick up service?"

"Si, sirr, serious," begitu, jawabnya singkat kepada gue.

"What is this, FIAT?" tanya gue kemudian.

"FIAT"

"Barchetta, signor." sambung si Marco menjelaskan tentang mobilnya kepada gue.

Alamak!

Nggak lama setelah itu gue langsung memasukkan barang bawaan gue kedalam roadster bajingan-super-keren yang satu ini. Bener bener tuhan sedang baik sama gue di siang hari itu, kedua anak muda Itali ini bener bener bikin gue kagum.

Selidik punya selidik, rupanya si Marco dan teman pramusajinya itu, i find out later that his name was Alex, adalah pemilik bisnis antar orang (turis) di sekitaran Portofino, dan Marco, dia cerita kalau tamutamu sekaligus penumpang yang biasanya memakai jasa mereka suka dibuat kaget karena ternyata jemputannya adalah FIAT Barchetta dan bukanlah FIAT seperti di film nya si alien yang bernama Rowan Atkinson itu.

►♀◄


Selama di perjalanan...,

"Marco, why did Italian loves Ferrari more than the FIAT?" tanya gue sama cool guy yang satu ini. Karena sumpah, gue masih penasaran.

"I think it's because Enzo signor, Everybody like Enzo. Italian love enzo so much."

"Ferrari is the true pride of Italian cars." sambungnya lagi.

Oh, ternyata. Ini menjelaskan kenapa orang orang Itali yang mendukung Michael Schumacher (Pembalap Formula One untuk tim Scuderia Ferarri) di Monaco Grand Prix pada era 90an itu nggak sebatas mendukung Schumacher saja, tetapi lebih karena mereka menyenanginya karena mobil buatan negeri mereka itu, Ferrari, hampir selalu bisa memenangkan ajang Grand Prix tersebut. Question answered deh kalau begitu. Kemudian gue berkata, "You know what, Marco, kalau elo datang ke negara gue, elo pasti akan di sukai oleh banyak sekali gadis Indonesia~"

"Yang bener, signorr?" tanya dia seolah nggak percaya sama gue.

Iya, tapi elo harus bawa Ferrari dulu. Karena kalau elo nggak bawa, lo bakal dikira bule kampung yang lagi kesasar di Indonesia.

Jahat banget ya jawabannya, but that's the truth sometimes. Dan gue nggak jawab seperti itu karena gue yakin manusia manapun tidak suka jawaban seperti itu.

"Yeah, benar. You should go to Indonesia. For a culture exchange, i bet you'll love it. Many Indonesian loves fettucine and spaghetti, you know." dan, itulah kalimat selanjutnya yang gue keluarkan untuk Marco.

"Good, signorr!" jawabnya girang sambil tetap menyetir.

"So which one do you think is the best spaghetti restaurant in Portofino?" kemudian dilanjutkan dengan gue bertanya lagi mengenai restoran mana yang enak, kalikali gue mau balik lagi ke Portofino bareng teman teman gue. Pizza atau spaghetti adalah salah satu menu utama khas/asli a la Italia yang patut untuk di coba.

►♀◄


Setibanya pada titik drop off di bandara Cristoforo Colombo, "Thank you very much, signorr Ashburn!" Marco berteriak dari luar, berdiri tepat di sebelah pintu mobilnya, sambil gue melambai menjauhi anak muda yang berasal dari Portofino itu, gue pergi meninggalkan dia bersama dengan beberapa barang yang gue bawa dari Portofino.

Sebelum gue turun dari mobilnya, marco sempat bilang kalau dia senang bisa mengantarkan gue sampai ke bandara Genova ini. — Dan gue, gue juga senang karena sudah diantar oleh dia, dengan biaya yang nggak lebih dari 700 euro, dia sudah mau mengantar gue dengan roadster keren kesayangannya itu, meskipun hanya FIAT, gue sih masa bodoh, apapun mobilnya, yang penting bisa jalan. Kenapa gue bisa bicara seperti ini, karena kalau di dunia penerbangan,

Apapun aircraft nya, yang penting turbine engine nya tidak mati saat kita sedang mengudara di atas ketinggian 50 ribu kaki. — Sekarang kalau dihitung hitung, jam 12 siang barusan gue berangkat dari Portofino, dan kini gue tiba disini pada pukul 1 siang lebih sedikit. Benar benar lebih cepat dari yang gue janjikan sama bro Diwangka.
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
profile-picture
profile-picture
m4ntanqv dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Fast Lane
12-07-2018 12:38
Petang hari itu, gue beruntung, the force is on my side, i assume. Jadi nooo, kisah gue bukan kisah yang pakai di dramatisir begitu... seperti gue yang bakalan enggak bisa masuk ke dalam rumah sampai berjam jam lamanya, karena telfon nya nggak diangkat oleh ongkel gue, kemudian gue mulai membuat masalah, tidak, tidak seperti itu.

So, after that, gue langsung menelfon Jackie selepas menyadari bahwa passcode pintu rumah nya telah dia ganti, setelah panggilan gue tersambung, untuk kedua kali nya di hari itu, kami kembali ngobrol, disitu gue bilang "Pak, need your help, what's the new passcode for,

Belum selesai gue ngomong, Jackie langsung memotong ucapan gue, dia bilang, "Are you using my back door again?" tanya dia, membuat gue heran karena dia telah bertanya seperti itu. So, "Yeah, what's the passcode?" jawab gue sambil bertanya lagi.

Quote:"Are you nut, Boush?" ucap dia, nadanya mengesalkan sekali ketika gue mendengarnya. Remember the nickname? Gue benci sekali kalau sudah dipanggil seperti ini oleh Jackie, tapi apa daya, gue sudah capek.

"Jack...." keluh gue gontai, gue sudah kehabisan energi nih, man. Gue sudah tidak bisa meng confront apa apa lagi, entah mau bagaimanapun dia memanggil gue.

"HAHAHAHAHA!" tawanya pecah di ponsel gue, membuat gue harus menjauhkan telinga gue secara mendadak. Dasar tolol, fucking mental.

"You're a family, Pal, ring the front door..., there'll be Jeff opening it for you," jawabnya lugas.


Gue terhenyak, untuk beberapa saat, gue termenung dalam diam. I'm a family. I'm a family. — Sejujurnya, di saat paman gue berkata seperti itu kepada gue, gue ingin mengucap se lirih mungkin lalu berkata, hey, universe, why did you take my old man, he's a family, too. Dia adalah jiwaku, se dalam dalamnya jiwaku...

Quote:"Palma?" Jackie kembali berbicara di telfon gue.
"Papal?"
"Hello?" ucap Jackie lagi, mencari cari keberadaan gue diantara panggilan kami yang sedang tersambung ini.

"Yes, thank you, Sir," ucap gue lesu, lalu berterima kasih pada ongkel gue yang satu ini.

"Don't call me Sir, and quit using the back door, you won't find any luck, use the front door, I'll be seeing you on dinner's time, bye," Klik! dan panggilan pun ditutup secara sepihak oleh dia. — Gue berjalan kembali menaiki anak tangga dan mulai menekan bel pada pintu depan di rumah Jackie, ting tong ting tong...


Enggak lama kemudian, ada seseorang yang membukakan pintu kayu yang lumayan besar ini.

Quote:"Von Palma... ?" jawab dia dengan raut wajah polos nya ketika melihat gue di depan pintu rumah ini, lelah, letih dan lusuh setengah mampus. Itu pun gue masih bisa berdiri, dan entah kapan gue bakal pingsan.

"Jefferson, i love you for opening the door," and there i am, smiling coherently.


Dan, benar apa yang Jackie sampaikan ke gue, pintu depan akan dibukakan oleh putra sulung nya dia... unlike his daddy, Jefferson bukanlah anak sontoloyo yang suka bikin masalah seperti bokapnya waktu beliau masih muda dulu, Jeff is a hidden gems, tapi sama aja sih, ini anak ada nyebelin nya juga kalau sudah berurusan sama gue.

Gue tidak mengerti, kenapa sih, orang orang dalam hidup gue senang sekali membuat gue naik pitam, kita lihat nih ya, contohnya, ketika Jefferson mulai berkata begini kepada gue, "You got a toy for me?" and here is this little bastard, stomping his request right in the front of my turdy face. Untung gue belum punya anak, mungkin—gue tidak akan mau punya anak sama sekali kalau tingkah laku anak gue nantinya akan seperti ini.

A ten years old Jefferson (born on 2005, berarti sekarang umurmu sudah 14 tahun ya Jeff? have fun facing teenager's time, Choco.) menyambut gue di depan pintu rumah bokap nya, yang shit... gue sangat iri sekali kalau sudah ngomongin soal arsitektur dari rumah Jackie ini, lebih baik tidak gue bicarakan, deh. Daripada nanti gue jadi kesal sendiri.

Ditanya, "You got a toy for me?" sebenarnya gue kepengin marah dan meninju tembok sampai puas, but Jeff, you know i can not, not loving you with that genius brain you got over there, asal kamu tahu aja.. dulu itu kamu kecilnya adorable sekali, but ever since the puberty came out, i have problem on loving your ass.

Quote:"Stand and hold, don't enter my house," dia menghentikan gue dengan mengangkat tangan kanan nya, bertingkah layaknya emperor zurg yang bersiap siap melawan lightyear—hey, guess what.. gue masih berdiri bak mayat hidup di kala itu.

"I think you bought me a Hawker," duga dia cerdas, he dug deeper, my ass hurt. Dan lagi lagi, gue cuma bisa tersenyum halus... itu gue benar benar ditahan di depan pintu, man, ga boleh masukkk~

"Oh, i know, Von! you bought me an X mark, the newest release?" tanya dia dengan ekspressi sok sok canggih ala dirinya itu.

Lalu gue menggeleng lembut, dan tersenyum lebih jayus lagi.

Dalam hati sih gue ngomong; gue nggak bawa apa - apa, bangshat... and what the fuck is that toy called X mark, a fucking dildo, Jeff?

"Jeff, give me a hug, brother," pinta gue manja, berjongkok sambil membuka lengan gue lebar lebar agar gue bisa memeluk dia. Ini anak sekitar enam tahun lalu gantengnya minta ampun, nurun dari gue, eh salah, nurun dari daddy nya..

"Why do you want a hug? can i get my toy?" ungkap dia kritis, kembali menanyakan perihal mainan nya itu.

D'oh! Ini siapa sih yang ngajarin dia jadi gila diecast kayak begini... and yeah, siapa lagi kalau bukan Papa gue di semasa hidupnya, beliau adalah influencer paling tandem terhadap Jackie kecil yang satu ini, although his name is Jefferson, kelakuan nya ya nggak beda jauh sama daddy nya sendiri.

Bedanya kalau Jackie itu adalah bangshat senior, nah kalau ini adalah bangshat junior, hehe... entah kenapa juga gue doyan banget ngomong bangshat, i don't know, mungkin karena kebanyakan bergaul dengan Axel (?)

***

Long story short, Jeff mempersilakan gue untuk masuk tapi tidak dengan memberikan dia Hawker keinginan nya, lagian itu anak nggak janji juga sama gue buat dibelikan diecast sialan, begini ya, orang itu secara normal, pasti lebih suka bentuk aslinya, in this case, the real business jet.

Tapi kalau diperhatikan, ini anak agak sinting karena ternyata dia lebih suka versi diecast daripada bentuk aslinya, tapi nggak apa apa lah, namanya juga masih anak kecil—and yes, gue berhasil masuk, namun karena merasa iba dan nggak tega an, gue hanya bisa memberikan Jeff jam tangan yang gue kenakan karena gue memang kepengin itu anak suka sama sesuatu yang bersifat lebih masuk akal, bagi gue ya... tapi nggak tahu lah ya jika suatu hari nanti gue memiliki keturunan, gue nggak akan terlalu memaksakan anak gue agar dia menyukai apa yang gue sukai juga....

"Jeff, take this, it's for you," bisik gue diam diam ke dekat telinga nya.

"What is it?" tanya dia heran, menatap wajah gue.

"Why are you giving your watch, Von?" ungkap dia bingung.

"Because this is your toy, a man's, real toy,"

"Are you kidding me?" jawab dia. Nah kan, mulai lagi bangshat nya.

"Just take it, you can sell it and buy a new Hawker later,"

"How much this one's worth?"

"Twenty grand, dont tell your mum, but tell your daddy, got it?" perintah gue cerdik.

"Von, you are the best uncle in town." halah, bisa flirting juga dia rupanya.

"Surely i am, Jeff, now that i'm here, please let me sleep in your room,"

"On your mark!" ajaknya masuk ke dalam rumah.

"Go!" perintah gue cekatan.

"I am... dash flashz!" dan dia berlari seperti tokoh pahlawan yang larinya super cepat itu.

"Dasar dongo," cibir gue dalam hati.

***

Sambil memasuki rumah dan menaiki tangga menuju ke lantai dua, ada seseorang yang memanggil gue, "Palma...," panggil dia dari anak tangga paling dasar, gue menoleh ke arah bawah sana.

"Oh hey, Darlene," ucap gue lalu tersenyum halus.

"How are you..." dia berjalan mendekati gue.

"Exhausted,"
"Ah, no,"
"Watch it, Darl," gue mencegah dia dari memeluk gue tubuh gue.
"I stink," jawab gue lagi sambil memasang wajah konyol.

"Gee, hahah~"
"You want some tea, dear?"

"I'm good, i'm good,"
"Just wanna go sleeping, and putting my stuffs," sambil gue mengangkat koper dan barang barang yang gue bawa ini.

"Okay, i'll let you then, i'm on the deck if you need me," ucap dia santai.

"Nice, thank you," balas gue ramah.


Yang barusan itu adalah istrinya Jackie, Darlene Atwood, namanya, let's describe. Profesi nya sebagai seorang manajer investasi, rupa dan penampilan nya? well she's a brunette, 7 feet tall, with a straight body shape, 32 b, long hair but not curly, i assume it's wavy, pointed nose, small lips. Seorang housewife tapi kerjanya merhatiin market terus, pakai kacamata lagi. Sexy? indeed, makanya bisa produksi anak se ganteng si kecil Jefferson ini. Any questions regarding on how did Jefferson's looked like, gue rasa nggak jauh dari mommy nya juga ya, sama sama menarik lah..

Jeff waktu itu masih pendek, dia baru ada di 3rd grade on the elementary school, soalnya. Jeff itu kurus, perutnya tidak buncit, tidak obesitas, dan yang jelas, warna kulitnya putih, pipinya selalu ada merah merahnya. Ini anak ganteng, mirip Papa gue, kalau warna matanya, mirip bokap dia, kalau bentuk rahang nya. Tapi apakah dia bakal tetap se-keren itu saat dia melewati masa remaja nya, gue rasa tidak... terbukti, sekarang Jeff lagi jadi ampas hahahaha, ini kalau kata Endro yaa.

Jeff jadi punya banyak jerawat dan sialnya, dia kurang suka olahraga, jadi, gemuk deh.

Beda dengan gue, yang kecilnya coklat matang, dan rambutnya keriting, kurus, banget, kayak kurang nutrisi..., dan besarnya? Oh... you're gonna love me, bite, and eat me like a sweet-tasty-chocolate. Alright, mari kita stop disini, karena ini benar benar menjijikkan sekali.

***

Setelah bertegur sapa dengan Darlene, gue pun berlalu dan segera memasuki kamar tidurnya Jeff, yang setelah naik tangga, letaknya hanya lima langkah saja. Kamar Jeff ini klasik punya, lantai nya adalah semen yang di perhalus, di kasih karpet persia sebagai alas nya, warna dinding nya biru tua dan di kamarnya ada sebuah bendera, slogan nya terkenal sekali; keep the blue flag flying high, and most people know it. Yep, nggak salah lagi, Jeff adalah penggemar Chelsea.

Petang itu... gue menjatuhkan tubuh gue di kasur milik Jeff, sempurna sekali lelah ini rasanya, di kepala gue tidak ada hal yang lebih mendominasi di hari itu selain untuk meminta agar gue segera menutup mata.

Baris kalimat yang satu ini disarankan sama sobat gue, makanya bahasa nya agak agak kemayu dan lebay begitu. Mohon dimaklum saja. So, petang itu pun gue tertidur... oh ya, gue lupa, nanti gue jelaskan alasan dari kenapa Jeff memanggil gue dengan nama panggilan, "Von".


Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
rembulan-di-ujung-senja
Stories from the Heart
inilah-jalan-spiritualku
Stories from the Heart
andika
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
my-wife-is-my-enemy
Stories from the Heart
cinta-dan-pahitnya-kehidupan
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia