- Beranda
- Stories from the Heart
JATMIKO THE SERIES
...
TS
breaking182
JATMIKO THE SERIES
JATMIKO THE SERIES
Quote:
EPISODE 1 : MISTERI MAYAT TERPOTONG
Quote:
EPISODE 2 : MAHKLUK SEBERANG ZAMAN
Quote:
EPISODE 3 : HANCURNYA ISTANA IBLIS
Diubah oleh breaking182 07-02-2021 01:28
itkgid dan 26 lainnya memberi reputasi
25
58K
Kutip
219
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#32
PART 3
Quote:
Mobil Starlet berwarna merah itu seperti berjalan dengan terhuyung –huyung. Dua lampu depannya berpendar dengan pucat beradu dengan pekatnya malam mencoba menerobos kegelapan yang pekat karena di kanan kiri jalan hampir tidak ada lampu penerangan. Hanya ada sekumpulan pohon – pohon jati yang berdiri menjulang tinggi. Layaknya sepasang kaki –kaki raksasa yang mengintai dari balik kegelapan. Pengemudinya tampak sesekali menarik nafas panjang. Berusaha membuang penat yang tiba –tiba datang menyergap. Alunan musik di tape mobil terdengar mengalunkan lagu dari Air Supply “ I Can’t Wait Forever “.
Aku penasaran dengan pabrik itu. Aku tidak bisa menunggu besok. Malam ini juga aku harus kesana. Ke tempat itu. Membuktikan pada diri ku. Apakah memang benar ada keterkaitan dengan kasus –kasus yang terjadi selama ini, dengan tiga polisi yang terbunuh kemarin ataukah hanya kebetulan saja?!
Mia berkata dalam hati.
Aku penasaran dengan pabrik itu. Aku tidak bisa menunggu besok. Malam ini juga aku harus kesana. Ke tempat itu. Membuktikan pada diri ku. Apakah memang benar ada keterkaitan dengan kasus –kasus yang terjadi selama ini, dengan tiga polisi yang terbunuh kemarin ataukah hanya kebetulan saja?!
Mia berkata dalam hati.
Quote:
Lampu mobil belakang menyala merah. Tatkala Mia menginjak pedal rem dengan keras. lampu depan lalu berkedip sekali dan mati. Di tepi jalan masuk pabrik pemotongan kayu, ia menghentikan mobilnya. Sepasang mata gadis itu tampak mengamati areal pabrik sambil pandangan nanar mengamati keadaan sekeliling. Setelah dirasa aman. Ia turun dari mobil. Menutup dengan pelan pintunya.
Batang –batang kayu tertumpuk menjulang menyerupai bukit di kegelapan seperti menyambut kedatangannya. Tumpukan potongan –potongan kayu yang tersebar di sudut halaman pabrik dan beberapa alat berat serta tiga truk yang terparkir di halaman pabrik tampak membisu. Sunyi dan gelap.
Mia berjalan perlahan-lahan mengitari areal pabrik. Mengendap-endap. Tidak ada seorangpun terlihat disana. Pos jaga terlihat gelap dan sepi. Tidak ada orang disana. Suasana remang dan temaram. Perlahan –lahan dikeluarkan senter kecil dari balik saku jaketnya. Sorot sinar senter membantu menyibak kegelapan di seputaran pabrik itu.
Hujan yang siang tadi mengguyur tanpa henti menyisakan udara yang sangat dingin mencucuk tulang. Mia berkali –kali menggosok ke dua telapak tangannya berusaha mengusir dingin yang menyerang. Kabut tiba –tiba turun merembes dari balik kerimbunan pohon suasana tambah sepi mencekam.
Tak ada yang aneh. Pabrik itu seperti pabrik –pabrik lain. Tidak ada kesan mistis atau misterius di dalamnya. Dalam hati Mia masih berharap menemukan sesuatu untuk bahan tulisannya. Mia menanti harap-harap cemas.
Menunggu dan menunggu. Sunyi.... Hanya sesekali suara burung hantu dan kelepak sayap kelelawar memecah keheningan. Mia melirik mobil yang diparkirnya tak jauh dari areal pabrik pemotongan kayu itu.
Sisa-sisa kecelakaan kemarin malam sudah dibersihkan. Dari tempatnya berdiri Mia masih bisa melihat beberapa police line. Kejadian kecelakaan kemarin pagi membuat Mia bergidik. Polisi – polisi malang itu mati mengenaskan dan tak wajar. Melihat lokasi dari kejauhan, membuat Mia seperti melihat seperti apa kejadian tragis kemarin pagi.
Seorang polisi tertancap di pagar yang bengkok ke depan. Yang mengerikan, lehernya lebih dulu menyentuh ujung pagar hingga mayatnya tergantung dengan leher tersangkut. Darah mengalir deras hingga mengalir di jalan beraspal.
Seorang lagi tersangkut di tepi jalan. Matanya tertusuk besi hingga tembus ke batok kepala bagian belakang. Tubuh itu menggeliat –geliat menjemput ajal, satu lagi terjerembab dengan kepala terpenggal. Penggalan kepalanya mencelat dan masuk ke dalam parit di tepi jalan. Gambaran itu begitu nyata. Mia mengerjapkan matanya. Bulu kuduknya meremang.
Srrtt.... Mia menginjak sesuatu yang lembek. Mia menunduk mengamati cairan lembek yang menempel di bagian bawah sepatu kets nya. Terbantu dengan sorot sinar senter yang dipegangnya terlihat cairan kental berwarna merah. Dan gadis itu dengan gemetar menyentuh cairan segera terloncat !! Darah?!!
"Ihh...," Mia buru-buru tersurut mundur.
Jatungnya berdebar –debar kencang. Pada saat itulah telinganya mendengar sayup –sayup suara tangisan bayi. Suara itu seperti sangat dekat dengan tempatnya berdiri. Pada awalnya suara itu hanya bersumber dari satu arah. Makin lama tangisan itu terdengar dari berbagai penjuru. Suara tangisan bayi yang mungkin berjumlah puluhan itu seperti bergema memenuhi rongga gendang telinga.
Batang –batang kayu tertumpuk menjulang menyerupai bukit di kegelapan seperti menyambut kedatangannya. Tumpukan potongan –potongan kayu yang tersebar di sudut halaman pabrik dan beberapa alat berat serta tiga truk yang terparkir di halaman pabrik tampak membisu. Sunyi dan gelap.
Mia berjalan perlahan-lahan mengitari areal pabrik. Mengendap-endap. Tidak ada seorangpun terlihat disana. Pos jaga terlihat gelap dan sepi. Tidak ada orang disana. Suasana remang dan temaram. Perlahan –lahan dikeluarkan senter kecil dari balik saku jaketnya. Sorot sinar senter membantu menyibak kegelapan di seputaran pabrik itu.
Hujan yang siang tadi mengguyur tanpa henti menyisakan udara yang sangat dingin mencucuk tulang. Mia berkali –kali menggosok ke dua telapak tangannya berusaha mengusir dingin yang menyerang. Kabut tiba –tiba turun merembes dari balik kerimbunan pohon suasana tambah sepi mencekam.
Tak ada yang aneh. Pabrik itu seperti pabrik –pabrik lain. Tidak ada kesan mistis atau misterius di dalamnya. Dalam hati Mia masih berharap menemukan sesuatu untuk bahan tulisannya. Mia menanti harap-harap cemas.
Menunggu dan menunggu. Sunyi.... Hanya sesekali suara burung hantu dan kelepak sayap kelelawar memecah keheningan. Mia melirik mobil yang diparkirnya tak jauh dari areal pabrik pemotongan kayu itu.
Sisa-sisa kecelakaan kemarin malam sudah dibersihkan. Dari tempatnya berdiri Mia masih bisa melihat beberapa police line. Kejadian kecelakaan kemarin pagi membuat Mia bergidik. Polisi – polisi malang itu mati mengenaskan dan tak wajar. Melihat lokasi dari kejauhan, membuat Mia seperti melihat seperti apa kejadian tragis kemarin pagi.
Seorang polisi tertancap di pagar yang bengkok ke depan. Yang mengerikan, lehernya lebih dulu menyentuh ujung pagar hingga mayatnya tergantung dengan leher tersangkut. Darah mengalir deras hingga mengalir di jalan beraspal.
Seorang lagi tersangkut di tepi jalan. Matanya tertusuk besi hingga tembus ke batok kepala bagian belakang. Tubuh itu menggeliat –geliat menjemput ajal, satu lagi terjerembab dengan kepala terpenggal. Penggalan kepalanya mencelat dan masuk ke dalam parit di tepi jalan. Gambaran itu begitu nyata. Mia mengerjapkan matanya. Bulu kuduknya meremang.
Srrtt.... Mia menginjak sesuatu yang lembek. Mia menunduk mengamati cairan lembek yang menempel di bagian bawah sepatu kets nya. Terbantu dengan sorot sinar senter yang dipegangnya terlihat cairan kental berwarna merah. Dan gadis itu dengan gemetar menyentuh cairan segera terloncat !! Darah?!!
"Ihh...," Mia buru-buru tersurut mundur.
Jatungnya berdebar –debar kencang. Pada saat itulah telinganya mendengar sayup –sayup suara tangisan bayi. Suara itu seperti sangat dekat dengan tempatnya berdiri. Pada awalnya suara itu hanya bersumber dari satu arah. Makin lama tangisan itu terdengar dari berbagai penjuru. Suara tangisan bayi yang mungkin berjumlah puluhan itu seperti bergema memenuhi rongga gendang telinga.
Quote:
Angin malam berhembus masuk semakin kencang, terdengar suara rimbunan dedaunan yang bergesek –gesekan. Sayup –sayup kepak sayap burung malam berhamburan dari atas pohon. Disusul lolongan anjing lirih di kejauhan. Lalu suara tangisan bayi itu perlahan lenyap. Mia menarik nafas lega. Bulir –bulir keringat menitik di keningnya. Kelegaan itu hanya dalam hitunga detik saja.
Tatkala sekejap terdengar langkah – langkah pelan kaki –kaki kecil yang mungkin jumlahnya lebih dari satu pasang itu. Awalnya suara itu pelan hanya melangkah saja. Akan tetapi lama –lama terdengar seperti berlarian dan menuju ke arah Mia berdiri. Disertai suara tertawa –tawa yang bergema di kegelapan.
Mia menoleh. Kosong.
Matanya jelalatan tegang. Suara itu sangat jelas dan mendekat ke arahnya. Semakin dekat disertai bunyi keresekan rumput –rumput kering tersibak sepasang kaki yang jumlahnya lebih dari satu pasang. Mia yakin mendengarnya. Bulu kuduknya semakin meremang. Dia merasa diawasi. Serasa pohon-pohon yang kokoh menjulang di sekelilingnya menjadi hidup dan mempunyai mata. Mereka mengawasi Mia penuh dengan pandangan sinis. Mia merasa tak nyaman. Dan setengah berlari menuju mobil.
Bersamaan dengan itu, rumput-rumput di belakangnya tersibak liar, seolah-olah ada berpasang –pasang kaki berlari mengejarnya dari belakang. Mia panik, sekilas ia melihat ada lima bayangan kecil bergerak begitu cepat laksana terbang.
Jatuh bangun Mia berlari menuju mobil, membuka pintu.
"Ah!!"
BRAKK!!!
Mia masuk, membanting pintu mobil dengan keras. Napas Mia berpacu, dia menebarkan pandangan ke seluruh arah. Rumput-rumput diam. Mia menarik napas, mungkin hanya halusinasinya saja.
BRAKK!!!
Lima sosok tubuh kecil menabrak body mobilnya dengan dengan keras. Mia sempat merasakan mobilnya setengah oleng ke samping. Mia terpekik kaget, buru-buru men- starter mobil dan langsung tancap gas. Peluh bercucuran. Sesekali Mia melirik ke belakang lewat kaca spion tengah, suasana gelap. Hanya lampu mobil Mia menerangi jalan. Mia mendengus, apa yang ditemukannya malam ini sungguh sangat menakutkan. Lagi-lagi bulu kuduknya meremang. Rasanya sesuatu berlari mengikutinya.
Tatkala sekejap terdengar langkah – langkah pelan kaki –kaki kecil yang mungkin jumlahnya lebih dari satu pasang itu. Awalnya suara itu pelan hanya melangkah saja. Akan tetapi lama –lama terdengar seperti berlarian dan menuju ke arah Mia berdiri. Disertai suara tertawa –tawa yang bergema di kegelapan.
Mia menoleh. Kosong.
Matanya jelalatan tegang. Suara itu sangat jelas dan mendekat ke arahnya. Semakin dekat disertai bunyi keresekan rumput –rumput kering tersibak sepasang kaki yang jumlahnya lebih dari satu pasang. Mia yakin mendengarnya. Bulu kuduknya semakin meremang. Dia merasa diawasi. Serasa pohon-pohon yang kokoh menjulang di sekelilingnya menjadi hidup dan mempunyai mata. Mereka mengawasi Mia penuh dengan pandangan sinis. Mia merasa tak nyaman. Dan setengah berlari menuju mobil.
Bersamaan dengan itu, rumput-rumput di belakangnya tersibak liar, seolah-olah ada berpasang –pasang kaki berlari mengejarnya dari belakang. Mia panik, sekilas ia melihat ada lima bayangan kecil bergerak begitu cepat laksana terbang.
Jatuh bangun Mia berlari menuju mobil, membuka pintu.
"Ah!!"
BRAKK!!!
Mia masuk, membanting pintu mobil dengan keras. Napas Mia berpacu, dia menebarkan pandangan ke seluruh arah. Rumput-rumput diam. Mia menarik napas, mungkin hanya halusinasinya saja.
BRAKK!!!
Lima sosok tubuh kecil menabrak body mobilnya dengan dengan keras. Mia sempat merasakan mobilnya setengah oleng ke samping. Mia terpekik kaget, buru-buru men- starter mobil dan langsung tancap gas. Peluh bercucuran. Sesekali Mia melirik ke belakang lewat kaca spion tengah, suasana gelap. Hanya lampu mobil Mia menerangi jalan. Mia mendengus, apa yang ditemukannya malam ini sungguh sangat menakutkan. Lagi-lagi bulu kuduknya meremang. Rasanya sesuatu berlari mengikutinya.
Quote:
Rumah kecil di tengah kota Wonosari sengaja dikontrak oleh Mia selama ia masih menyelidiki kasus kecelekaan yang melibatkan tiga orang polisi. Mia menutup pintu mobil. Wajahnya terlihat lelah, menyetir di kegelapan sepanjang malam dengan perasaan tegang—membuat syarafnya terkuras. Mia ingat apa yang baru saja terjadi. Mia bergidik, lalu buru-buru masuk ke dalam rumah.
Dihempaskan tubuhnya di atas sofa berwarna biru. Tanpa melepas jaket dan sepatunya. Mia menarik napas. Sejenak dia melirik tape recorder hasil wawancara dengan Pak Sudarmaji sore tadi. Otaknya sedang memilah-milah data mana yang akan diangkat dan mana yang dibuang. Sebagian bergerak menggabung- gabungkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi tanpa terduga. Urat di keningnya tersamar. Tenggorokan Mia terasa terbakar. Kering kerontang.
Mia segera beranjak menuju dapur. Mengambil sebotol minuman dingin dari kulkas dan meneguknya setengah terburu - buru.
“ Hhhh ... “
Mia menutup pintu kulkas dan keluar dapur.
Pintu kulkas bergerak menutup, tapi dalam jarak setengah jengkal, tiba –tiba kulkas berhenti. Tanpa diduga, pintu kulkas kembali terbuka lebar-lebar .... Satu seringai lebar dan kaku dari mulut pucat membiru. Sepotong kepala dengan urat –urat leher yang masih meneteskan darah segar terlihat dari celah pintu kulkas yang terbuka.
Dihempaskan tubuhnya di atas sofa berwarna biru. Tanpa melepas jaket dan sepatunya. Mia menarik napas. Sejenak dia melirik tape recorder hasil wawancara dengan Pak Sudarmaji sore tadi. Otaknya sedang memilah-milah data mana yang akan diangkat dan mana yang dibuang. Sebagian bergerak menggabung- gabungkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi tanpa terduga. Urat di keningnya tersamar. Tenggorokan Mia terasa terbakar. Kering kerontang.
Mia segera beranjak menuju dapur. Mengambil sebotol minuman dingin dari kulkas dan meneguknya setengah terburu - buru.
“ Hhhh ... “
Mia menutup pintu kulkas dan keluar dapur.
Pintu kulkas bergerak menutup, tapi dalam jarak setengah jengkal, tiba –tiba kulkas berhenti. Tanpa diduga, pintu kulkas kembali terbuka lebar-lebar .... Satu seringai lebar dan kaku dari mulut pucat membiru. Sepotong kepala dengan urat –urat leher yang masih meneteskan darah segar terlihat dari celah pintu kulkas yang terbuka.
Quote:
Mia berbaring gelisah di ranjangnya. Setumpuk buku terletak di atas meja. Buku –buku itu telah selesai dibacanya beberapa saat yang lalu. Berharap dengan banyak membaca rasa kantuk akan cepat datang. Tape recordernya sudah berkali –kali ia putar. Mendengarkan hasil wawancara sore tadi. Akan tetapi, semua itu sia –sia belaka. Matanya masih juga membelalak. Hatinya benar –benar berkecamuk tidak tenang. Kejadian baru saja yang dia alami di pabrik pemotongan kayu itu masih sering mebuatnya bergidik ngeri. Suara bayi siapakah itu? Mengapa jumlah tangisannya sangat banyak sekali?!
Apakah itu roh –roh bayi yang dijadikan tumbal di pabrk itu? Siapakah yang tega berbuat seperti itu? Pertanyaan itu terus saja bergema di kepalanya. Tanpa pernah tahu jawaban dari pertanyaan itu. Kegelisahan itu semakin menjadi –jadi. Mia mengeluh sendiri. Celakanya, kedua matanya tidak juga bisa terpejam. Kesal. Ia duduk di tepi pembaringan. Berpikir keras.
Sebuah ketukan halus terdengar di pintu.
“ Siapa itu? Malam –malam begini bertamu?! “ Mia berbisik dalam hati.
Ia lantas meluncur cepat –cepat dari tempat tidur, berjalam ke luar kamar dan bergegas ke ruang tengah dengan ragu. Langkahnya terhenti. Suara ketukan itu tidak terdengar lagi. Sesaat, Mia tertegun. Jangan –jangan ia salah dengar. Ketukan itu terdengar lagi. Barusan ketukan itu begitu halus, tidak sekeras tadi.
“ Ah, mungkin peronda yang minta uang iuran.... ” pikir Mia. Karena saat ia berbicara dengan pemilik rumah itu ada iuran untuk keamanan bagi warga yang tidak bisa ikut kegiatan siskamling.
KLETAK !!
Anak kunci diputarnya dengan keras.
Lalu pintu itu terbuka. Angin dingin menerobos masuk ke dalam. Terasa sangat dingin. Mia menggigil. Dan bulu kuduknya sontak meremang seketika. Waktu ia tidak melihat siapapun di depan pintu, kecuali sinar lampu yang menerobos keluar menerangi teras, menjilati beberapa vas dan bunga kaktus yang tumbuh di tepi halaman.
Selebihnya hanya gelap. Tidak. Bukan saja gelap. Tetapi, semacam bau tidak enak. Menyerupai bau bangkai. Mula –mula bau itu hanya sekilas lalu. Makin – lama bau busuk itu makin santer mengganggu rongga hidung. Mia membekap hidung dengan telapak tangan kanannya.
Dan sesosok bayangan tahu –tahu telah berdiri kaku di hadapannya. Bayangan itu menyeringai. Lehernya berlubang mengerikan. Darah masih terlihat menetes di lubang yang menganga itu. Kain putih yang dikenakan orang itu lusuh terkena noda tanah dan darah.
“ Akhhhhh....!!!!”
Mia menjerit keras.
Apakah itu roh –roh bayi yang dijadikan tumbal di pabrk itu? Siapakah yang tega berbuat seperti itu? Pertanyaan itu terus saja bergema di kepalanya. Tanpa pernah tahu jawaban dari pertanyaan itu. Kegelisahan itu semakin menjadi –jadi. Mia mengeluh sendiri. Celakanya, kedua matanya tidak juga bisa terpejam. Kesal. Ia duduk di tepi pembaringan. Berpikir keras.
Sebuah ketukan halus terdengar di pintu.
“ Siapa itu? Malam –malam begini bertamu?! “ Mia berbisik dalam hati.
Ia lantas meluncur cepat –cepat dari tempat tidur, berjalam ke luar kamar dan bergegas ke ruang tengah dengan ragu. Langkahnya terhenti. Suara ketukan itu tidak terdengar lagi. Sesaat, Mia tertegun. Jangan –jangan ia salah dengar. Ketukan itu terdengar lagi. Barusan ketukan itu begitu halus, tidak sekeras tadi.
“ Ah, mungkin peronda yang minta uang iuran.... ” pikir Mia. Karena saat ia berbicara dengan pemilik rumah itu ada iuran untuk keamanan bagi warga yang tidak bisa ikut kegiatan siskamling.
KLETAK !!
Anak kunci diputarnya dengan keras.
Lalu pintu itu terbuka. Angin dingin menerobos masuk ke dalam. Terasa sangat dingin. Mia menggigil. Dan bulu kuduknya sontak meremang seketika. Waktu ia tidak melihat siapapun di depan pintu, kecuali sinar lampu yang menerobos keluar menerangi teras, menjilati beberapa vas dan bunga kaktus yang tumbuh di tepi halaman.
Selebihnya hanya gelap. Tidak. Bukan saja gelap. Tetapi, semacam bau tidak enak. Menyerupai bau bangkai. Mula –mula bau itu hanya sekilas lalu. Makin – lama bau busuk itu makin santer mengganggu rongga hidung. Mia membekap hidung dengan telapak tangan kanannya.
Dan sesosok bayangan tahu –tahu telah berdiri kaku di hadapannya. Bayangan itu menyeringai. Lehernya berlubang mengerikan. Darah masih terlihat menetes di lubang yang menganga itu. Kain putih yang dikenakan orang itu lusuh terkena noda tanah dan darah.
“ Akhhhhh....!!!!”
Mia menjerit keras.
Quote:
Mia terhenyak dari tidurnya. Matanya terbelalak dan pandangan menyapu ke depan dan sekeliling dengan nanar. Tidak ada siapa –siapa di sekitarnya. Hanya ada lemari baju kecil dan tumpukan buku yang tersusun rapi di sudut ruangan.
“ Aku bermimpi? Aku bermimpi pergi ke pabrik itu. Ada kejadian mengerikan di mimpi itu. Suara tangisan bayi dan....mobilku yang ditabrak oleh sesutu. Lalu orang itu tiba –tiba ada di depan pintu dengan kondisi yang mengerikan “
“ Firasat apa itu tadi?!”
Nafas Mia memburu. Tersengal –sengal. Beberapa kali gadis ini menarik nafas panjang. Pandangannya melihat jam dinding yang menempel di sudut ruangan. Tepat pukul 08.00 pagi. Cahaya matahari yang mulai terang merembes dari celah ventilasi dan horden jendela. Mia menggeliat beberapa kali lalu turun dari tempat tidur. Setelah meneguk air putih dari dalam sebuah gelas di atas meja. Ia beranjak berdiri dari ranjang. Hari ini ia ingat sudah ada janji dengan saudara jauhnya yang seorang polisi. Niatnya ada dua. Pertama untuk silaturahmi dan kedua untuk meminta data – data kejadian orang hilang yang mungkin saja ada hubungan dengan kejadian kecelakaan itu.
Pintu kamar dibukanya dan semua jendela kamar agar cahaya terang masuk ke dalam Sebelum ia beranjak ke belakang untuk sekedar membersihkan diri. Tetapi alangkah terkejutnya gadis ini tatkala ia melihat keadaan mobilnya. Melalui jendela kamar yang terbuka jelas terlihat body mobil di bagian samping tampak ringsek. Seperti habis tertabrak sesuatu.
Mia keluar dengan melompati jendela, menghampiri mobilnya. Di bawah terangnya guyuran sinar matahari pagi, Mia tercengang melihat apa yang terjadi pada mobilnya. Setengah tak percaya, Mia berjongkok di depan pintu bagian sopir. Tangannya gemetar meraba bekas benturan di body mobil. Jemari lentiknya menelurusi cekungan besar yang menghiasi body mobil. Kejadian malam itu di mimpi. Tapi mengapa mobil ini ada bekas benturan begitu besar?! Apakah semalaman aku memang berada di pabrik itu?!
“ Aku bermimpi? Aku bermimpi pergi ke pabrik itu. Ada kejadian mengerikan di mimpi itu. Suara tangisan bayi dan....mobilku yang ditabrak oleh sesutu. Lalu orang itu tiba –tiba ada di depan pintu dengan kondisi yang mengerikan “
“ Firasat apa itu tadi?!”
Nafas Mia memburu. Tersengal –sengal. Beberapa kali gadis ini menarik nafas panjang. Pandangannya melihat jam dinding yang menempel di sudut ruangan. Tepat pukul 08.00 pagi. Cahaya matahari yang mulai terang merembes dari celah ventilasi dan horden jendela. Mia menggeliat beberapa kali lalu turun dari tempat tidur. Setelah meneguk air putih dari dalam sebuah gelas di atas meja. Ia beranjak berdiri dari ranjang. Hari ini ia ingat sudah ada janji dengan saudara jauhnya yang seorang polisi. Niatnya ada dua. Pertama untuk silaturahmi dan kedua untuk meminta data – data kejadian orang hilang yang mungkin saja ada hubungan dengan kejadian kecelakaan itu.
Pintu kamar dibukanya dan semua jendela kamar agar cahaya terang masuk ke dalam Sebelum ia beranjak ke belakang untuk sekedar membersihkan diri. Tetapi alangkah terkejutnya gadis ini tatkala ia melihat keadaan mobilnya. Melalui jendela kamar yang terbuka jelas terlihat body mobil di bagian samping tampak ringsek. Seperti habis tertabrak sesuatu.
Mia keluar dengan melompati jendela, menghampiri mobilnya. Di bawah terangnya guyuran sinar matahari pagi, Mia tercengang melihat apa yang terjadi pada mobilnya. Setengah tak percaya, Mia berjongkok di depan pintu bagian sopir. Tangannya gemetar meraba bekas benturan di body mobil. Jemari lentiknya menelurusi cekungan besar yang menghiasi body mobil. Kejadian malam itu di mimpi. Tapi mengapa mobil ini ada bekas benturan begitu besar?! Apakah semalaman aku memang berada di pabrik itu?!
Diubah oleh breaking182 15-07-2018 13:42
1980decade dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas