Kaskus

Story

setiawanariAvatar border
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Patahan Salib Bidadari
Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye

Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.

Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.

Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.

Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.


PEMBUKA CERITA

Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.

Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.

Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.

“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.

Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………


Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.

Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.

“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.

Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.


Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu


Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah

Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]

Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
calebs12Avatar border
nona212Avatar border
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
setiawanariAvatar border
TS
setiawanari
#567
Dunia Ciptakan Keindahan


Sore ini dikala senja baru saja pergi, berganti gelapnya malam menggantikan keindahan sinar matahari sore. Malam Minggu, benarkah ini adalah malam panjang seperti kata orang? Bukankah waktu itu sama saja 24 jam dalam sehari. Mungkin itu hanya sebuah kiasan karena di malam Minggu sebagian besar orang tidur larut malam atau bahkan pagi. Waktu akan terasa cepat saat kita terlelap dibandingkan saat kita terjaga.

" Lama amat dandannya." Teriak Riski yang sudah siap di belakang setir dengan sang kekasih disampingnya.
" Berisik ayo jalan." Jawabku masuk jok belakang mobil.
" Oh iya Lo mau ketemu Sherly sendiri Wan? Yakin gak mau ngajak kita?" Kata Riski mulai menginjak gas.
" Iya, kalian nikmati waktu kalian aja lah. Gak usah ganggu urusan orang." Jawabku.
" Ihhh galak banget, bukannya terimakasih Mas Riski udah mau nganterin kamu." Potong Indri.
" Iya-iya makasih."
" Sama-sama Mas." Jawab Riski membuatku menahan kesal karena Indri berada di pihaknya.


Pukul 8 malam mobil tiba di depan apartemen tempat Sherly tinggal, aku segera turun. Riski dan Indri menatapku dengan pandangan yang sama. Sepertinya mereka bingung dan tidak mengerti dengan apa yang akan aku lakukan. Mereka lebih memilih diam dan mengalah untuk pergi membiarkanku.


Aku berjalan menuju loby apartemen dengan berbagai pikiran di kepalaku. Semua hal tentangnya kembali terputar seperti piringan DVD baru. Seolah aku lupa dengan Ninda yang beberapa waktu ini terus saja terasa lengket dari memori otakku.

" Sherly.. Sherly.. Sherly, kenapa langkahku terasa ringan untuk kembali mencari tau tentangmu." Batinku tiba di loby apartemen.


Terhenti langkahku disaat melihat seorang gadis duduk dengan kaki disilangkan di bangku kafe samping loby apartemen. Rambut cokelat terikat kebelakang, celana jeans pendek membuat angin bebas meniup putih kulit pahanya dan ketiaknya mungkin terasa dingin karena kaos yang dia kenakan seperti kekurangan bahan. Tangannya sibuk di atas keyboard laptop, kedua telinga tertutup sepasang alat. Entah alat bantu dengar atau headphone. Segelas capuccino ditemani sebatang rokok yang tinggal setengah batang mengepulkan asap putih tergeletak diatas asbak.

Salah dugaanku, ternyata Sherly benar seperti ini adanya bukan karena pekerjaan yang memaksa dia melepas penutup rambut tetapi inilah dia yang saat ini. Aku merasa waktu kembali ke beberapa tahun yang lalu. Malam ini aku melihat sosok yang sama, sosok yang penuh dengan keputusasaan.

" Sherly, pelangi yang dulu selalu kulihat menghiasi wajahmu kenapa kini tampak pudar?" Batinku ingin rasanya memutar arah mengurungkan keputusanku menemuinya. Aku belum siap kembali terjatuh ke dalam moment yang seperti ini. Dingin rasanya tubuhku mengiringi seuntai ketakutan menatap wajah cantik gadis yang tidak pernah kubayangkan bisa seperti ini.

Kuputuskan memesan segelas kopi sambil terus memandang ke arah gadis yang tampak serius melihat ke arah kayar laptop.

Perlahan kupaksa kaki ini mendekatinya mengalahkan keraguan untuk memulai saling bertatap. Berbicara kata demi kata-kata kalimat demi kalimat mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dengan teman lamaku. Kini aku berdiri hanya berjarak 8 kaki di belakangnya tanpa dia sadar kehadiranku. Aku terus melangkah, mengikuti aroma parfum yang makin terasa menusuk indra penciumanku.

" Assalamualaikum. Hai.. Sherly boleh aku duduk." Sapaku saat berada tepat di depan wajahnya.
" Wa.. la.. ikum.. salam,....." Jawab Sherly terbata terkejut melihat kehadiranku. Melepas sepasang alat di kedua telinganya dan menutup laptop.
" Lama sekali kita rasanya kita gak ketemu, dan berbagi cerita. Gimana kabarmu? Masih ingat aku kan?" Kataku duduk di bangku sambil meletakkan segelas kopi di meja.
" Awan, iya gw inget. Ada apa ya? Oh iya tau dari mana gw disini?" Jawab Sherly dengan nada sangat jutek.
" Ohhh... Ehmmm kebetulan beberapa waktu lalu gw lewat tempat kerjamu pas pulang kantor. Ternyata aku pulang ke arah jalan yang sama." Jawabku berbohong.
" Gak mungkin." Kata Sherly tiba-tiba berdiri mengambil telepon selulernya, berjalan menjauh dariku dan menghubungi seseorang. Aku hanya terdiam, berusaha mengusir rasa gemetar tubuhku dengan meminum kopi hitam yang masih terasa panas.



" Awan atau siapapun kamu, maaf ya jangan temui gw lagi. Gw bukan Sherly yang dulu jadi gw mohon jangan sekalipun ganggu gw." Kata Sherly kembali ke meja kafe mengambil laptop dan beranjak meninggalkanku.
" Tapi Sher, tunggu Sher aku juga datang sebagai Awan yang sekarang bukan Awan yang dulu. Dan sampai kapanpun semua tidak akan bisa dihapus aku pernah jadi temanmu dan akan selalu seperti itu. Ada apa sebenarnya dengan kamu Sher?" Kataku berusaha menarik tangan Sherly namun dengan cepat dia melepasnya.

" Sherly.... Oke kalau kamu gak mau ketemu sekarang, aku akan tetap berusaha menemuimu, aku gak peduli sampai aku tenang bisa kembali melihat senyum kamu lagi." Teriakku di tengah kebingungan berada di peristiwa yang tak pernah ku duga.

Aku kembali duduk di bangku kafe, karena tidak mungkin mengejarnya melewati penjagaan security apartemen. Meniup segelas kopi, kembali menikmati pahitnya minuman hitam pekat sepahit pertemuanku malam ini.

Tanpa terasa hampir satu jam lamanya aku duduk terdiam melihat lalu lalang penghuni berjalan keluar masuk melewati lorong loby apartemen. Berharap satu diantara mereka adalah Sherly berjalan dan kembali duduk di depanku karena cappucino yang dia minum masih tersisa 1/4 gelas. Tapi itu tidak mungkin, kuputuskan untuk pergi, dengan rasa penasaran yang memaksaku akan tetap berusaha menemuinya di lain hari.

Sesaat sebelum melangkahkan kaki hpku berdering, panggilan masuk dari nomor yang belum ada di daftar kontak.

" Halo,." Jawabku
" Iya, gw Sherly gw tunggu di pintu keluar parkir apartemen....." Suara wanita di hpku.
" Oke, oke.."
"Tut..tut.. " Telepon di tutup.


Aku berlari menuju pintu keluar parkir, terasa sangat cepat hingga kini aku telah duduk di jok sebelah kiri samping wanita yang matanya sedikit bengkak. Lega rasanya karena pakaian yang dia pakai kini lebih tertutup.

" Lo tinggal dimana sekarang?" Kata Sherly saat mobil berjalan hampir 1 km meninggalkan apartemen.
" Masih di Rawamangun Sher." Jawabku gugup untuk memulai pembicaraan.
" Oke, kita kesana. Motor lo ambil besok aja." Kata Sherly.
" Oh aku gak bawa motor Sher, tadi di anter temen."
" Terus gak masalah kan gw ke kosan Lo?"
" Iya, gw malah senang kamu mau singgah ke tempat tinggalku. Tapi, pelan-pelan Sher nyetirnya, gak usah buru-buru."
" Udah lo diem aja, kalau gak nyaman turun aja."

Aku hanya terdiam, mencoba mengalah memahami keadaan yang masih membuatku bingung. Selama perjalanan tidak ada pembicaraan diantara kami hanya sesekali aku mengarahkan jalan menuju tempat kosku.

" Udah sampai Sher, ayo masuk." Kataku saat tiba di tempat kos. Sherly turun, berjalan dibelakangku tanpa sepatah katapun.

" Assalamualaikum." Kataku mengetuk pintu kamar karena Indri ternyata sudah ada di tempat Kos.
" Walaikumsalam." Jawab Indri membuka pintu.

" Yaampun, Mbak Sherly.?" Kata Indri mengulurkan tangan.
" Indri, apa kabar? Makin cantik aja kamu." Jawab Sherly membalas uluran tangan adikku dan memeluknya.
" Aaah mbak Sherly bisa aja baik Mbak, baik. Mbak baik juga kan?"
" Iya, aku dalam keadaan yang sama."
" Yaudah masuk yuk Mbak, mau disini atau ke kamarku di atas?"
" Ooh kamu di atas, boleh tu kayanya lebih asik di kamarmu."
" Iya dong, ya meski gak begitu luas tapi paling nggak kamarku lebih rapi dibanding kamar Mas Awan. Ayo Mbak." Kata Indri menarik tangan Sherly yang tersenyum menerima ajakan Indri. Meski aku merasa Sherly sedang menyembunyikan sesuatu dan berusaha terlihat bahagia di hadapan Indri.


Mereka berjalan ke kamar Indri seperti tidak menganggapku ada diantara mereka. Kurebahkan tubuhku membuka hp yang mengganjal di saku celana. Membalas chat Riski, dan beberapa teman lalu kembali aku letakkan. Berganti mengambil remot TV, menyaksikan siaran liga Inggris yang baru berjalan memasuki menit ke 18.

Terdengar sayup-sayup riuh rendah suara perempuan dari kamar atas. Sesekali mereka tertawa entah apa yang ditertawakan atau apa yang dibicarakan. Telingaku tidak berdengung berarti mereka tidak sedang membicarakanku. Aku merasa lega meskupun Sherly tidak menyambut hangat kehadiranku tetapi mau membalas dan mendengar bawelnya mulut kecil adikku.

Malam semakin larut, beberapa saat menuju pergantian waktu dan malam ini aku membenarkan kata orang jika malam minggu terasa sangat panjang. Aku mengurangi volume TV, tidak lagi terdengar suara dari kamar atas menandakan dua makhluk penghuninya mungkin sudah terlelap. Kuputuskan untuk berjalan ke atas dan melihat kenyataan mereka sudah terlelap memejamkan mata dengan posisi tidur saling berhadapan. Perlahan langkahku menuruni tangga berusaha meminimalisir bunyi gesekan kakiku dengan anak tangga.

" Nyenyak sekali tidurnya, sementara mata ini sulit banget buat merem." Batinku kembali menempelkan telinga kanan di atas bantal.


Kulihat jam dinding menunjukkan waktu pukul 12 kurang 8 menit. Suara putaran jarum berwarna merah yang terdengar hanya di kesunyian malam masih dapat kudengar sebagai pertanda aku masih terjaga.


Terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga membuatku berpura-pura memejamkan mata hingga langkah kaki itu mendekat ke arahku.

" Awan." Suara wanita dengan bibir sangat dekat dengan telingaku.
" Hoaaahhhh, Eh Sherly. Kamu belum tidur." Jawabku seolah terbangun dari tidur lelap.
" Gw mau pulang, tolong pintunya di kunci lagi." Jawab Sherly bangkit mengikat rambutnya lalu berjalan keluar kamar.
" Pulang? Ya Tuhan udah jam 12 malem Sher. Gak besok pagi aja." Jawabku beranjak berusaha mencegahnya namun sepertinya Sherly enggan mendengar kata-kataku.

" Oke tunggu Sher, aku anterin."
" Nggak perlu Wan, gw tau jalan pulang." Jawab Sherly masuk mobil.
" Iya aku tau, tapi kamu kesini sama aku jadi kita pulang bareng. Aku anter kamu Sher." Kataku mengiba di samping jendela mobil yang hanya membuat Sherly seperti mendengar suara angin.

" Awan, please gw mau pulang." Kata Sherly sedikit berteriak saat aku bersandar diatas penutup mobil membelakanginya.
" Aku anter kamu Sher, sama seperti saat kita menuju ke sini." Jawabku tanpa melihat kearahnya.

Sherly memutuskan mematikan mesin mobil dan keluar menghampiriku.

" Lo maunya apa sih, gw mau pulang emang harus lo izinin?" Bentak Sherly dengan sorot mata yang sangat tajam.
" Aku gak nglarang kamu pulang, tapi aku gak mau kamu pulang sendiri. Ini udah malam, lebih tepatnya lewat tengah malem. Jadi gak mungkin gw biarin kamu pulang sendiri sementara kamu kesini sama aku."
" Hah.. Terus apa masalahnya kalau lewat tengah malam? Apa ada yang salah? Wan please tolong minggir biarkan gw pulang. Dan gw minta lo jangan temui gw lagi." Kata Sherly menarik lenganku agar aku beranjak dari kap mobilnya.
" Sebenernya gak ada yang salah, tetapi gw cuma mastiin kamu tiba di apartemen dengan keadaan baik. Kamu kesini bareng sama aku jika ada apa-apa di perjalanan pulang aku gak mungkin bisa memaafkan kesalahanku membiarkan kamu pulang sendiri. Yahhh mungkin karena...." Jawabku tak bisa melanjutkan kata-kata. Masih sulit rasanya mengungkapkan kata aku ingin bersamamu lebih lama lagi, tidak berakhir di malam ini.

" Karena apa? Karena kamu ngrasa gw perempuan lemah yang gak bisa jaga diri sendiri? Atau karena kamu kasihan melihat keadaan gw?"
" Bukan, bukan karena itu, aku mengenalmu tidak 1 atau 2 hari tapi cukup lama. Aku melihat dedepan mataku adalah perempuan hebat, perempuan kuat, perempuan pintar, tegar dan terbiasa hidup sendiri. Sher jika setelah malam ini kamu memintaku untuk tidak menemuimu lagi itu artinya ini malam terakhir kita bisa bertatap dan berbicara. Aku berucap kamu mendengar, kamu berkata aku mendengar. Lalu di malam setelah ini aku dan kamu akan berganti dia. Sebelum matahari tiba, aku mohon untuk bisa menghabiskan malam ini bersamamu. Mengantarmu pulang. Anggap saja aku seperti saat awal kita bertemu. Aku mohon Sher, dan aku akan memegang janji untuk gak nemuin kamu lagi jika itu yang kamu minta." Kataku menengadahkan tangan meminta kunci mobil.

Rangkaian kata yang keluar begitu saja dari mulut ini membuat Sherly mengalah memberikan kunci mobilnya untukku.

Kami pulang, menyusuri lengangnya jalan raya ibukota yang mulai sepi. Kupelankan laju kendaraan agar bisa lebih lama bersama wanita yang pernah membuatku terjatuh ke dalam sebuah perasaan nyaman saat didekatnya. Malam ini aku masih merasakannya, sama seperti perasaanku waktu itu, saat berada di sampingnya. Aku merasa ini pernah terjadi, ini seperti momen yang terulang. Dia bahagia waktu itu, tidak seperti malam ini. Beberapa lembar tisu telah ia habiskan untuk mengusap air mata yang jatuh disertai sesekali isakan mengiringi suara karet bulat yang bergesekan dengan aspal saat kuinjak tuas rem. Bersandar diatas empuknya jok kulit, dengan wajah dia tolehkan ke sebelah kiri, diam seribu bahasa tanpa sekalipun melihat ke arahku.

" Kamu langsung pulang atau emmm kita singgah dulu. Kebetulan hari ini aku belum minum kopi, belum ngantuk kan kalau kita mampir ke warung kopi dulu." Kataku mencoba memecah kesunyuian.
" Terserah." Jawab Sherly singkat.
" Oooh kalau terserah berarti aku anggap setuju gak langsung pulang." Kataku tanpa sedikitpun repon darinya.

Kuarahkan mobil berlawanan arah jalan pulang menuju barat kota Jakarta dan terhenti di area parkir salah satu kafe yang menurutku tidak asing bagi Sherly. Selama perjalanan hanya kata terserah yang keluar dari mulut Sherly hingga kami sekarang duduk tempat yang pernah kita tempati beberapa tahun yang lalu.

" Ini capuccino buat kamu, dulu ini minuman kesukaanmu kedua setelah buah-buah yang di blender jadi satu itu. Emmm.... Ga nyangka malam ini kembali bisa duduk disini menikmati kopi sama kamu Sher. Seperti kembali ke waktu itu, saat kita masih sering disibukkan tugas kuliah." Kataku duduk disamping Sherly membawakan minuman yang tidak di pesannya.


" Tapi, malam ini aku merasakan kamu sedang bergulat dengan masalah yang membebanimu. Aku kagum sama kamu Sher, kamu selalu tegar dan berusaha menyembunyikan kesedihanmu. Memilih untuk menikmatinya sendiri, bahkan kamu tidak ingin berbagi dengan orang yang pernah menjadi temanmu. Kamu tau aku, mengenalku cukup lama. Boleh dong kalau malam ini aku mendengar ceritamu, membagi bebanmu yang membuat air matamu terus menetes." Kataku
" Gw gak papa kok, gw cuma pengen sendiri. Entahlah mungkin ini cobaan yang memang harus gw terima." Jawab Sherly seperti menahan isak tangis.
" Cobaan? Yaudah kalau kamu belum mau cerita. Oh iya Sher kamu ingat gak waktu itu hari-hari yang pernah kita lewati..... Pada awalnya aku...."


Aku kembali menceritakan kisah yang pernah kita lewati bersama karena tidak mungkin memaksa Sherly untuk bercerita. Lebih baik aku berbicara sendiri mengharapkan senyuman dari bibir indah wanita yang kini duduk disampingku. Kata demi kata ,kalimat demi kalimat , sebaik mungkin aku merangkainya. Berharap Sherly akan mendengarku seperti dewan Kongres AS mendengar pidato FD Roosevelt mendeklarasikan perang terhadap Jepang. Kuungkapkan kekagumanku saat itu, kenyamananku saat bersamanya dan ketidakmampuanku saat harus melihatnya menangis.

" Sherly, waktu itu aku gak pernah tau kenapa aku merasakan sakit saat tau kamu sudah memiliki kekasih. Berat rasanya menerima kenyataan yang tak pernah kubayangkan. Aku tidak pernah mengharapkan rasa cemburu tapi itu terjadi, meskipun pada akhirnya semua tertutup oleh kebahagianmu. Terobati dengan senyum cantikmu saat kamu bercerita tentangnya. Tidak ada yang lebih menyakitiku saat melihatmu bersedih, saat melihatmu menangis......" Ceritaku terhenti saat Sherly memelukku dengan isakan tangisnya semakin menjadi.

" Aku sakiiiittttt Wan.... Aku sakitttt.... Aku kecewa.... Aku malu... Aku benci dengan hidup ini.... Aku benci cobaan ini....." Isak tangis Sherly tangan lembutnya terasa kuat memelukku.

" Aku bingung apa yang harus aku lakuin Wan, aku gak tau lagi.... Aku salah memberikan hatiku... Aku salaaah... Aku benci dia... Aku benci dia Wan.... Kenapa dia tega menyakiti aku kenapa dia tega melakukannya disaat cincin telah dia kenakan di jari manis kiriku... Salah apa aku Wan... Salah apa aku.. Dia bilang jarak bukan halangan.. Tapi dia lupain aku calon ratunya... Dia pergi dengan orang lain yang baru dateng dan kasih apa yang mungkin nggak mampu aku kasih Wan.... Salah apa aku... ." Serak suara Sherly berusaha menyeimbangkan antara kata dengan isak tangisnya.

Telingaku seolah panas mendengarnya, bayangan seorang pria yang menyakiti Sherly kini muncul mengisi rongga kepalaku.

" Baj*ng*n kau Arfan." Batinku dalam hati merasakan dingin air mata Sherly menetes di pundakku. Aku hampir tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa memberikan tubuhku sebagai tempatnya melingkarkan kedua tangan.

" Kamu gak salah Sher, kuatkan hatimu percayalah Tuhan tidak tetawa melihat mahkluk ciptaannya menderita. Cobaan adalah bagian hidup, kamu jangan pernah merasa sendiri. Aku yakin Tuhan menuliskan cerita indah saat kamu melewati semua ini. Aku yakin esok pagi saat kamu membuka mata dunia masih menyambutmu. Dunia masih ada untuk kamu nikmati. Kamu mencintainya, kamu menyayanginya tapi ingatlah Tuhan punya cinta jauh melebihi kamu mencintai manusia. Sher, taukah kamu apa yang terjadi denganku sebelum aku kembali menemuimu? Waktu-waktu yang sangat sulit untukku memejamkan mata di kala raga telah mencapai titik lelah." Hiburku dan perlahan Sherly melepas pelukannya.

" Lalu dimana dia sekarang?" Tanya Sherly membuatku melanjutkan cerita tentang perempuan yang meninggalkan patahan salibnya di hidupku.

Sebuah cinta yang membingungkan, tak saling mengungkapkan namun rindu seperti terus tumbuh meski saat berjauhan. Pada akhirnya semua berakhir saat perbedaan membuatku terdiam tanpa sanggup untuk menyebrang. Menorehkan luka, meninggalkan lara membuatku sulit menerima kenyataan.


Dini hari menghampiri kami mengingatkan matahari akan muncul beberapa jam lagi. Dua insan manusia terhanyut menghabiskan malam. Bercerita dalam duka, mengulang kembali sebuah peristiwa. Hingga tiba waktunya pulang sebelum malam berganti siang.

" Hoooaaah udah pagi Wan, waktunya pulang." Kata Sherly menghabiskan capiccino yang sudah terasa dingin.
" Iya, Sher makasih atas waktunya dan maaf udah menahanmu pulang." Kataku menyodorkan jari kelingkingku.
" Hmmm iya sama-sama." Jawab Sherly singkat membalas mengaitkan jari kelingkingnya.
g.gowang
g.gowang memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.