Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
111
Lapor Hansip
04-07-2018 07:19

Fast Lane

Fast Lane 59 - Marco the cool kid.


Semalam kamu aku hellohello nggak jawab - jawab, rupanya kamu ketiduran, aku pulang dulu ya. Kamu hati - hati kembali ke Bandung sama co-pilotmu itu. Nanti kalau sudah di Bandung, aku bakal masak buat kamu. Sekalian aku kenalin kamu ke gebetan baruku.

Kalimat di atas itu adalah short message yang gue terima dari Quinza Vie, gue benar benar ketiduran ya rupanya? lagi asyik ngobrolin soal zaman waktu SMA dulu rupanya gue melayang begitu cepat ke alam mimpi, and for the next thing, katanya dia mau ngenalin gue ke gebetan barunya, wih... boleh boleh.

Shit. Baru aja beberapa minggu yang lalu dia have fun sama gue. Sekarang dia sudah dapat gebetan baru lagi.

►♀◄


Terbangun di sekitar pagi hari membuat gue bisa melakukan banyak hal dulu, sebagai persiapan, seperti pagi itu, gue bisa beranjak dari ranjang, mandi, get dressed sesimpel mungkin, kemudian mencari minum, apapun itu selain soda, lalu kemudian sarapan di kafeteria hotel.

Sambil menikmati sarapan roti pagi itu di halaman kafe hotel Dei, gue memanggil salah seorang pramusaji pria untuk gue ajak duduk bersama dengan gue di meja makan gue, tujuannya untuk mengobrol, — gue mau cari informasi mengenai bagaimana nih caranya agar gue bisa balik ke Genova. Awalnya si pramusaji ini menolak karena aturannnya tidak boleh seperti itu, duduk dengan pengunjung kafe, tapi setelah gue paksa akhirnya dia menyanggupi permintaan gue.

Lagian santai aja kali, kayak zaman imperial aja. Setelah duduk dan ngobrol ngobrol sebentar, si pramusaji ini ngomong ke gue, "If you wanna go back to Genova, i could help you by calling the... Hotel dei Airport carter, but one of my...," kata si pramusaji itu sambil mikir ini dan itu.

Intinya ada dua layanan yang dia tawarkan kepada gue, layanan yang pertama adalah layanan yang bagus, yang biasanya banyak turis pakai kalau mereka berkunjung ke Portofino, mobilnya nggak jauh dari Lancia dan SUV lain pada umumnya. — Pelayanan yang kedua adalah milik temannya yang memang hobinya nganterin turis turis di Portofino, dia agak sungkan sama gue pas dia mau ngomong kalau mobil temannnya itu ternyata adalah sebuah FIAT. Kata gue, kenapa harus sungkan, lanjutkan aja, gue ingin dengar.

►♀◄


Gue suka heran sama orang Itali yang suka merasa kalau FIAT itu adalah mobil rendahan, hell, man, ini tuh salah satu manufaktur mobil tertua di Itali, show some respect lah please. Those Englishman i often see, juga banyak pakai mobil ini sebagai transportasi mereka disana, tapi jangan dibandingkan dengan Aston Martin ya. Beda jauh dong itu kelas nya. But yeah, i know right? the Italians loves Ferrari more than their FIAT.

Dan setelah berbincang cukup banyak, akhirnya gue deal sama si pramusaji ini untuk memilih layanan yang kedua, menaiki FIAT temannya, di bawah sinar matahari yang mulai terang ini, sekitar jam 10 pagi, gue meminta si pramusaji untuk membuat janji waktu pick up dengan temannya itu sekitar pukul 12 siang nanti.

Sebagai ucapan terima kasih dari gue, gue minta dia, si pramusaji ini, untuk antar Vespa coklat yang gue rental tempo hari itu kembali ke Piazza Vespa rent. Lengkap dengan beberapa lembar euro tambahan sebagai tip yang membuat dia langsung melompat dengan kegirangan.

►♀◄


Kembali ke kamar hotel, gue melihat ponsel gue dan menemukan pesan dari Mr. Eiffel yang mengucapkan terima kasih dan menunjukkan sebuah foto bahwa dia sedang menikmati liburannya bersama dengan Vee serta istrinya, entah kenapa gue jadi agak panik sendiri ketika melihat wajah Velyandra lagi, — bukan karena BDSM yang kami lakukan di malam hari itu, melainkan karena flashback sialan di moment yang hampir panas panasnya itu, harus tertunda karena you know, something complicated happens to my ass. (My brain, actually)

Kemudian update lain..., nggak terlalu penting sih. Jackie belum juga membalas pesan yang gue kirim satu hari yang lalu sama dia. Ada perasaan dongkol saat bokap kedua gue ini, tumben tumbennya nggak mau mengurus anak sekaligus ponakan tersayangnya ini, dulu sih memang saldo quality time kami hampir bisa dibilang, nggak terbantahkan, tapi sekarang, gue banyak sadar diri lah ya. To sum up, Papa memang irreplaceable.

In other words, i don't knoww what makes him so busy like that... Dan ya, gue cuma bisa banyak banyak bersabar di hari itu.

*tut...*

*tut......*

*Call connected*

"Are you awake, buddy?" tanya gue kepada Diwangka di pagi hari itu.

"Iya, udah Pal, baru mau mandi nih, habis main sama Vania."

"You lucky bastard! what about your lovely Kiandra?" sahut gue memprotes si Diwangka.

"Hello? Bukannya elo yang lebih beruntung ya?" jawabnya membencong kepada gue.

"Oh, Kia, biarinlah, cuma masa lalu gue itu."

"Hahahah, Tjokorda, Diwangka, Adhi, Dartha, you are an absolute bastard." tambah gue lagi pada dia.

"Gue lagi beres beres barang di hotel nih, ketemu di airport kirakira jam setengah tiga an lah ya?"

"Awkay, naik apa lo kesini?" tanya dia sama gue.

"FIAT." Jawab gue santai.

"Gue kira naik Ferrari," jawabnya meremehkan tumpangan gue. Ya, sudah bisa ditebak.

"Diw, please deh. Gue suruh si Imam Samudra pasang mainannya di halaman depan rumah lo baru tahu rasa lo diw."

"Awww~, jangan dong." jawabnya dengan logat kemayu.

"Hahahahaha." tawa gue meledak saat itu juga, Diwangka is such a morning jokes.

Dua jam sudah berlalu, gue dan segenap belanjaan gue yang tidak terlalu banyak ini sudah siap meninggalkan hotel, tetapi sebelum benar benar meninggalkan hotel, nggak lupa gue melehoy dulu sejenak menuju ke bar hotel ini, memesan dua botol Riesling yang super biasa (nggak spesial spesial amat) untuk diminum nanti, who the fuck knows? barangkali Dewinta mau curi curi lagi dari gue, gue sudah sediaken buat dia dan gengsi - gengsinya itu.

►♀◄


Nggak beberapa lama setelah itu, si pramusaji yang barusan ngobrol sama gue tadi menemui gue di bar hotel ini, doski bilang temannya yang bawa FIAT dan tukang antar orang itu sudah berada di depan hotel gue.

"Sirr, let me help you, and come meet my friend in front of the hotel." ujar dia yang kemudian membantu gue mengangkat beberapa barang yang gue bawa menuju pintu masuk hotel. Gue ingat sekali siang itu Portofino terlihat agak cerah, agak cerah ya, walaupun nggak bener bener cerah sih sebenarnya.

Setelah berada tepat di depan pintu masuk hotel ini, gue melihat mobil teman si pramusaji yang tukang antar orang itu, memperkenalkan gue kepada temannya, "Meet my friend, Marco." kata dia kemudian. — And i was like, anjrit! ini kah FIAT yang di gadang gadang jelek setengah mati itu? A roadster with some comfortable seat?

"Ciao signor, mi chiami Marco, pleasure to meet you. (Halo pak, nama saya Marco, senang bertemu dengan Anda.)"

Kemudian mereka bercakap cakap dalam bahasa Itali, dugaan gue si pramusaji, yang gue nggak tahu siapa namanya ini, menyuruh si Marco, untuk mengantarkan gue sampai ke bandara Genoa Cristoforo Colombo? tapi gue masih bengong setengah mati karena jujur, FIAT yang katanya jelek ini, malah membuat gue kembali bertanya kepada si pramusaji, "Hey, uh, are you sure, that this is my pick up service?"

"Si, sirr, serious," begitu, jawabnya singkat kepada gue.

"What is this, FIAT?" tanya gue kemudian.

"FIAT"

"Barchetta, signor." sambung si Marco menjelaskan tentang mobilnya kepada gue.

Alamak!

Nggak lama setelah itu gue langsung memasukkan barang bawaan gue kedalam roadster bajingan-super-keren yang satu ini. Bener bener tuhan sedang baik sama gue di siang hari itu, kedua anak muda Itali ini bener bener bikin gue kagum.

Selidik punya selidik, rupanya si Marco dan teman pramusajinya itu, i find out later that his name was Alex, adalah pemilik bisnis antar orang (turis) di sekitaran Portofino, dan Marco, dia cerita kalau tamutamu sekaligus penumpang yang biasanya memakai jasa mereka suka dibuat kaget karena ternyata jemputannya adalah FIAT Barchetta dan bukanlah FIAT seperti di film nya si alien yang bernama Rowan Atkinson itu.

►♀◄


Selama di perjalanan...,

"Marco, why did Italian loves Ferrari more than the FIAT?" tanya gue sama cool guy yang satu ini. Karena sumpah, gue masih penasaran.

"I think it's because Enzo signor, Everybody like Enzo. Italian love enzo so much."

"Ferrari is the true pride of Italian cars." sambungnya lagi.

Oh, ternyata. Ini menjelaskan kenapa orang orang Itali yang mendukung Michael Schumacher (Pembalap Formula One untuk tim Scuderia Ferarri) di Monaco Grand Prix pada era 90an itu nggak sebatas mendukung Schumacher saja, tetapi lebih karena mereka menyenanginya karena mobil buatan negeri mereka itu, Ferrari, hampir selalu bisa memenangkan ajang Grand Prix tersebut. Question answered deh kalau begitu. Kemudian gue berkata, "You know what, Marco, kalau elo datang ke negara gue, elo pasti akan di sukai oleh banyak sekali gadis Indonesia~"

"Yang bener, signorr?" tanya dia seolah nggak percaya sama gue.

Iya, tapi elo harus bawa Ferrari dulu. Karena kalau elo nggak bawa, lo bakal dikira bule kampung yang lagi kesasar di Indonesia.

Jahat banget ya jawabannya, but that's the truth sometimes. Dan gue nggak jawab seperti itu karena gue yakin manusia manapun tidak suka jawaban seperti itu.

"Yeah, benar. You should go to Indonesia. For a culture exchange, i bet you'll love it. Many Indonesian loves fettucine and spaghetti, you know." dan, itulah kalimat selanjutnya yang gue keluarkan untuk Marco.

"Good, signorr!" jawabnya girang sambil tetap menyetir.

"So which one do you think is the best spaghetti restaurant in Portofino?" kemudian dilanjutkan dengan gue bertanya lagi mengenai restoran mana yang enak, kalikali gue mau balik lagi ke Portofino bareng teman teman gue. Pizza atau spaghetti adalah salah satu menu utama khas/asli a la Italia yang patut untuk di coba.

►♀◄


Setibanya pada titik drop off di bandara Cristoforo Colombo, "Thank you very much, signorr Ashburn!" Marco berteriak dari luar, berdiri tepat di sebelah pintu mobilnya, sambil gue melambai menjauhi anak muda yang berasal dari Portofino itu, gue pergi meninggalkan dia bersama dengan beberapa barang yang gue bawa dari Portofino.

Sebelum gue turun dari mobilnya, marco sempat bilang kalau dia senang bisa mengantarkan gue sampai ke bandara Genova ini. — Dan gue, gue juga senang karena sudah diantar oleh dia, dengan biaya yang nggak lebih dari 700 euro, dia sudah mau mengantar gue dengan roadster keren kesayangannya itu, meskipun hanya FIAT, gue sih masa bodoh, apapun mobilnya, yang penting bisa jalan. Kenapa gue bisa bicara seperti ini, karena kalau di dunia penerbangan,

Apapun aircraft nya, yang penting turbine engine nya tidak mati saat kita sedang mengudara di atas ketinggian 50 ribu kaki. — Sekarang kalau dihitung hitung, jam 12 siang barusan gue berangkat dari Portofino, dan kini gue tiba disini pada pukul 1 siang lebih sedikit. Benar benar lebih cepat dari yang gue janjikan sama bro Diwangka.
Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
profile-picture
profile-picture
m4ntanqv dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Fast Lane
08-07-2018 14:31
"Diw," ucap gue kalem.
"Sorry, sorryyy banget," tambah gue lagi.
"Gue harus ngomong ini.., sekalian, gue mau minta tolong ke elo juga Diw..," tukas gue lagi, sambil menepuk ringan tangan kanan nya, menaik naikkan salah satu alis gue. This is it, rencana yang akan gue bicarakan sama Diwangka. Rencana apakah itu, lihat nanti, ya.

"Ada apa bro?" tanya dia singkat lalu menoleh kearah gue, kami berdua masih berada didalam kokpit jet yang menjadi teman dalam penerbangan kami. Nine hours in the air, taking off at six in the afternoon and then landing at two at the predawn, tidak tepat, karena sudah memasuki zona waktu kolkata. Unit dari gulfstream aero memang selalu menjadi median, apa ya bahasanya, semacam, opsi aman buat gue di saat saat itu.. beda dengan mas Marshall yang biasa bawa Citation, memang sih.. lebih elok, tapi mau gimana lagi.. gue sudah terlanjur jatuh cinta dengan Honeywell nya gulfstream. Besides, they got that primus epic plane view, man.

Dan Didiw sih enak, pas masuk midpoint (meridian distance between Cristoforo and Gandhi, Delhi) dia tidur nyenyaaak sekali, gue bawa sampai jam sepuluh malam, pas, barulah, setelah itu, gue serahkan kendali kapal sama dia, kan dia yang kebagian giliran jadi kuli tengah malam.. gue, lewat jam sepuluh malam, patut dipertanyakan kesadaran nya.

Setelah itu... gue lanjut ngomong lagi ke Diwangka, "Diw, ini si Malone, lo bawa dia solo sampe ke Juanda yah.. bisa kan?" terang gue langsung to the point. Waktu itu kalau pulang kami biasa taruh di sana buat perawatan kapal maskapai kami, tapi belakangan ini sudah banyak kapal yang dipindah ke Pranoto, stand by disana.

"Ah anjing... kebiasaan," keluh Diwangka lemas, lalu dia seolah menjatuhkan kepalanya.

"Maaf Diw, maksud gue, lo nggak wajib langsung en route juga kesana nya..." tukas gue santai.

"Asem..."
"Sebentar," ucapnya berhenti sesaat.
"Iya, asem Pal..." sambungnya lagi.

"Hahahahahah!" tawa gue agak melebar mendengar Didiw menjawab kayak begitu.

"Lo kayaknya lagi rusak banget ya, ngagetin gue banget sih ini, kenapa nggak ngomong dari tempo hari aja," celetuknya sebal sama gue.

"Hahah, sorry.., banget. Gue ada perlu man," terang gue sambil cengengesan.

"Ada urusan apa sampai gue kudu solo begini Pal.." tanya Diwangka sambil agak menggerutu.

"Gue mau ketemu sama..." obrol gue menggantungkan jawaban gue.

***

This is a long road... in two o' thirteen, but i had it done in a very smooth way. Dari jawaban gue yang menggantung itu, gue kembali ngomong sama Diwangka, "Karena kita udah biasa nih Diw.., i'll make it straight, gue mau ke Sydney terus lanjut ke Rotorua, man. Gue mau ketemu Jackie, Olly, sekaligus temen temen gue disana..," belum selesai bicara, omongan gue sudah langsung dipotong sama dia, "Yesss!" seru Diwangka antusias.

"What the heck, man!?" kaget gue, karena melihat ekspressi Didiw yang sontak kayak begitu. Not so long after that, dia masih ngomong yes, yes, yes. Kayak orang gila, kalau diperhatikan. Membuat gue makin heran sama dia, "Hey, Diw, kenapa lo?" tanya gue bingung. Saat itu kami berdua masih berada didalam kokpit, dan langit dini hari dari landasan terbang Gandhi di New Delhi pada waktu itupun nampak sangat gelap.

"Eh?" dia mendelik ke arah gue, what the fuck, baru sadar nih orang?

"Kenapa lo?" tanya gue kritis sama reaksi yang ditampilkannya itu.

"Ikut dong, ke sana," jawabnya enteng.

"On what purpose lo mau ikut ke Rotorua?," tanya gue lagi, agak agak sedikit penasaran sama keinginan nya yang tiba tiba kepengin ikut ke Rotorua.

"Ya gue mau ikut aja kali Pal..." ungkapnya bernegosiasi sama gue. Karena gue perlu Didiw kembali ke Juanda, makanya gue tanya tujuan dia ke Rotorua itu mau ngapain, ternyata alasannya nggak kuat, ya udah, inilah respon yang gue keluarkan... "Oh, gue tau..., ah, dasar gaylord, bilang aja mau ke CC, mulai lagi yeppp, hahahaha," pungkas gue singkat dan sangat, sangat intuitif.

"Eee, ketawan..." jawabnya sambil mengeluarkan satu cengiran menggelikan a la dirinya itu.

"Diw, i'm not gonna argue with you, itu urusan mau ke CC bisa di atur nanti lah ya, sekarang.. ini gue minta tolong banget sama elo.. gue butuh elo buat bawa si Malone ke Juanda, nanti setelah itu, lo mau bawa Encore nya Astrid, Hebdo nya mas Marshall ke CC kek, terserah lo Diw, kita tutup booking soalnya November ini," gue menjelaskannya diplomatis pada Diwangka.

"Beneran gue boleh bawa si Hebdo?" potong Didiw cepat, wajahnya seolah nggak percaya.

"Nggak bohong kan bli?" tanya dia mengkonfirmasi.

"Nggak, Diw, my man..."
"Eh, manggil gue bli lo barusan?" cegat gue tersadar.

"Makasihhhhh!" ungkapnya bersyukur.
"Iya, maaf maaf Pal," kata Diwangka kalem.

"Hahah, relax²," omong gue simpel.
"Alright ya Diw, bilang aja disuruh Palma pinjam, nobody shall hinder your request, kecuali Astrid kali ya, kalau dia nggak mau, ya udah, ngalah aja." Setelah itu, gue mengusap wajah gue perlahan, argh.. harus terbangun pada pukul dua dini hari itu... benar benar nggak sering gue lakukan.

"We good?," ucap gue santai.

"Good," jawab Didiw mantap mengkonfirmasi.

"And uh.., i change my mind, Diw, you aren't going solo, the weather's unrest, biar nanti gue kontak Prakeesh, yah, (Prakeesh, pilot kita² juga yang ditugaskan di HQ Delhi) ya udah, sekarang kita cari kamar dulu aja. Let's get the fuck out, man," ucap gue lalu berjalan ke belakang flight desk, crossing the galleys dan mengambil barang barang bawaan gue dari Genova, kemudian meng-absen lagi satu per satu barang bawaan gue.

"Loro Piana.. checked." ucap gue memulai absensi nya.
"This little twitter... checked."
"Luggage, Riesling, checked,"
"Aight, i'm good," ucap gue setelah melakukan absensi sendiri... setelah itu gue kembali mengajak Diwangka, "Diw, ayooo," teriak gue dari passengers cabin. Karena lama dan nggak keluar² juga dari kokpit, gue menumpahkan semua barang bawaan gue di salah satu kursi penumpang dan kembali masuk ke dalam kokpit. Disana gue menemukan Didiw sedang asyik bermain snapchat—dengan seseorang yang nggak terlalu gue kenal, dan kalau dilihat sekilas, itu seorang laki laki.

"Udah cepetan monyet, nanti lagi aja itu texting nya," todong gue ke bahu kiri Diwangka.

"Eh, iya, iya, ayo ayo," respon nya kaget, lalu Didiw segera beranjak dari kursi yang didudukinya. Kemudian kami lanjut membereskan semua yang belum kami selesaikan, yang jelas, semua instrumen di dalam flight desk sudah dipadamkan jauh sebelum gue melangkah dari situ.

***

Saat sudah berjalan di landasan terbang, gue ingat Didiw sempat mengajak gue ngobrol lagi, dia bilang... "Pal, makasih banyak nih ya udah mau sharing sesuatu yang personal, gue jadi inget, gue pernah bilang sama temen² di Blu—kalau Palma ngasih tau urusan pribadinya sama kalian, itu artinya cobalah untuk lebih menghargai dia, privasi, salah satunya, jadi jangan paksa paksa kalau Palma nya memang nggak mau sharing sama kalian... berilah dia jarak..," ucap Diwangka sambil berjalan bersama gue di bawah gelapnya dini hari itu.

"........"

"Pal?"
"Kok diem doang lo?" tanya Didiw heran.

"........."

"I'm sleepy, Diw," jawab gue lemah.

"Aw cyinnn, percuma deh gue ngomong panjang lebar barusan." logatnya membencong.

"Heheh.." dan gue pun hanya bisa terkekeh singkat. Sial, gue ngantuk banget...

***

Everyone is unique, gue percaya itu, ah, salah, gue nggak sekadar percaya, kalau kalian tahu, karena realita nya, setiap orang memanglah unik, seperti Didiw, contohnya, yang kadang menjadi pertanyaan buat gue, kenapa, kok Didiw, bisa suka sama laki laki? padahal kan, dia, laki laki?

Simple question namun rupanya enggak selalu bisa dijawab dengan simple answer. Gue enggak pernah ambil pusing soal hal demikian, gue justru kagum, ada satu yang beda sendiri hahahaha, shit, Diw. Gue pernah bilang sama diri gue sendiri, mau suka sama laki, suka sama perempuan, suka sama lawan jenis, i don't give a fuck. Gue bukan seorang psikolog klinis yang bisa menganalisa behavior individu tertentu gitu, soalnya. All i know is, are my plane refueled good? are i experiencing a dual flameout during the mid-air? well then if i do. Suck, fuck, and let's pray together to whoever holds the strongest force in this universe.


Diubah oleh henseyashburn
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
1 0
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
separuh-luka-yang-tertinggal
Stories from the Heart
yang-terdalam
Stories from the Heart
is-it-my-truly-first-love
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia