- Beranda
- Stories from the Heart
SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU
...
TS
kata.namnam
SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU

SEBUAH KOMEDI TENTANG RINDU
Selamat datang pada thread sederhana tentang sebuah cerita yang mengatasnamakan rindu sebagai awal dari sebuah percakapan penuh komedi.
Spoiler for PERKENALAN DIRI:
Spoiler for JADWAL UPDATE:
Spoiler for FAQ:
Spoiler for PERATURAN UNTUK PEMBACA:
Spoiler for DAFTAR ISI:
enjoyed
Diubah oleh kata.namnam 18-08-2018 02:34
bukhorigan dan anasabila memberi reputasi
2
22.2K
172
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kata.namnam
#2
PART 1 - SEKOLAH BARU
Cirebon, 22 Juni 2004.
“Aku lelaki, tak boleh malu perihal keinginan. Dan aku sedang ingin Mishel. Jadi, aku tak boleh malu jika aku mengaku seorang lelaki."
WAKTU itu, baru sekitar sebulanan lebih kegiatan sekolah dimulai. Sekolah baru, suasana baru. Dengan itu sedikitnya aku harus sudah menentukan semuanya. Mengenali lingkunganku.
Teman dekatku, masih jatuh pada Rahmat; karibku sedari SMP. Leo dan Sasa, adalah sosok paling pintar di kelas. Ikbal dan segerombolan pengikutnya, menjadi sekumpulan manusia yang merasa gaya saat bisa bergurau kala jam pelajaran sedang berlangsung. Guru favorit anak-anak, Pak Sum. Selain masih muda, beliau tak pernah memberi PR. Dan satu hal yang berbeda dari masa SMP-ku; aku berencana mencari pacar.
Kata abangku, masa SMA menentukan seseorang normal atau tidak. Ketika kalian menyukai seorang perempuaan, fix, kalian jatuh cinta. Tak perlu bertanya apa itu cinta, atau semacamnya tentang perasaan.
Abangku hanya menyarankan, cukup tiga langkah; mencuri perhatiannya, membuatnya gembira, lalu nyatakan cinta. Sederhana saja. Jangan terlalu ribet, biar kalo putus, patah hatimu bisa disederhanakan. Itulah pesan yang kuingat.
Dan aku putuskan, bahwa perempuan yang akan menjadi kekasihku, adalah Mishel Qirani. Seorang siswi kelas V-IPA 2, yang menjadi pemandu lagu “Indonesia Raya” pada upacara bendera minggu lalu.
***
Lonceng berbunyi. Jam istirahat telah tiba. Ini adalah hari ke delapan, di setiap istirahat aku bertandang ke kelas Mishal. Kulihat dia sedang merapikan buku-bukunya. Kudekati tanpa ragu.
Aku lelaki, tak boleh malu perihal keinginan. Dan aku sedang ingin Mishel. Jadi, aku tak boleh malu jika aku mengaku seorang lelaki.
“Kantin yuk”, aku berdiri di depan meja kelasnya.
Mishel mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya, “wah, aku bawa bekal. Duluan gih.”
“Kantin bukan cuma tempat makan doang kaliii Shel.”
“Terus?”,
“Terus,.. daripada penasaran, ikut yuk, nanti jelasinnya di sana, gimana?”
Mishel tertawa kecil, “He, boleh juga, yuk!”
Aku masih ingat saat itu yang kurasa, tak ada kebahagiaan yang bisa kuambil di sekolah, selain sesuatu yang terjadi di hari selasa minggu kedua. Percayalah, jika kalian curiga kenapa aku lansung menceritakan kejadian hari ke delapan, beginilah alasannya.
Dari hari senin sampai sabtu, Mishel selalu menolak ajakanku. Hari minggu libur. Ketemu senin lagi, tetap hasilnya sama; ditolak. Biar aku yang menanggung malunya. Kalian hanya cukup tahu, bahwa aku berhasil mengajaknya makan di kantin.
“Kenapa tiap hari kamu ngajak aku ke kantin?”
“Pengennya mah ngajak bolos, sayangnya kamu cewek!”
“aku juga bisa bolos!”
“Tapi, tak akan kuijinkan”
“Kenapa?”
“Masih ada hari minggu, buat kita jalan-jalan”, ucapku sambil menawarkan, “itu juga kalo kamu mau?”
“Mau!”, singkat Mishel
Aku sadar Mishel tersenyum memandangku. Tapi, aku pura-pura tak melihatnya. Inget pesan abangku, langkah awal mencuri perhatian. Bukan mencuri pandang. Terima kasih, Bang. Setelah ini kujanji akan maju satu langkah lagi, membuat Mishel gembira.
***
Oke. Seelum kuceritakan kesan pertamaku keluar dengan Mishel, aku ingin menceritakan tentang keluargaku sedikit detail.
Di Cirebon, ada sebuah perkampungan bernama Panjunan. Di sana, mayoritas keturunan Arab. Ingat, hanya keturunan. Jadi, jangan bayangkan bahwa di sana semuanya bisa berbahasa Arab. Dan Ayahku, termasuk yang tak bisa.
Ibuku berasal dari daerah Indramayu, tetangga Cirebon, di dataran pesisir pantura (pantai utara) pulau Jawa. Terlahir dari keluarga Jawa kental, membuat ibuku menamaiku Jaka. Katanya, Jaka berarti lelaki perkasa, kuat, dan tegas. Tapi, setelah Mang Kas, tetangga sebelahku bercerita tentang asal namaku, aku jadi ragu arti nama yang dijelaskan ibu.
Kata Mang Kas, Jaka diambil dari kata Perjaka. Yakni, seorang lelaki yang belum nikah. Mang Kas mencandaiku, katanya sebaiknya aku cepat ganti nama, jika tak ingin menjadi Perjaka tua. Nama itu do’a. Jika Tuhan mengabulkan makna doa dalam namaku, tentunya aku akan terus menjadi perjaka. Ah, sial. Semoga Mang Kas benar-benar bercanda.
Kata Muhammad dalam namaku, usul dari Ayah. Tak perlu kujelaskan mengapa, kalian pasti tahu terlahir dari keluarga muslim, menjadikan seseorang ingin berharap seperti sosok Nabi Muhaammad Saw.
Aku punya abang, kini sudah pisah rumah, sebab sudah beristri. Dia itu aneh. Sering bikin ayah marah, tapi juga sering bikin ayah bahagia. Dia sangat aneh, sangat susah untuk tidur dan bangun. Kalau malam susah untuk tidur, sekalinya tidur susah untuk bangun. Sebab, itu ayah sering marah abang jarang sekolah karena kesiangan. Ayah juga bahagia, nyatanya abang selalau menjuarai kompetisi Fisika mewakili sekolahnya.
Aku? Aku sedang mikir. Siapa aku? Aku itu apa ya. Perkiraanku, aku sejenis manusia yang dilahirkan untuk menemani Rahmat. Kok gitu? Yaa sudah nanti aku jelaskan. Aku mau tidur dulu. besok hari minggu. Mau jalan-jalan sama Mishel. Kalian jangan tidur, lanjut baca aja ya!
“Aku lelaki, tak boleh malu perihal keinginan. Dan aku sedang ingin Mishel. Jadi, aku tak boleh malu jika aku mengaku seorang lelaki."
WAKTU itu, baru sekitar sebulanan lebih kegiatan sekolah dimulai. Sekolah baru, suasana baru. Dengan itu sedikitnya aku harus sudah menentukan semuanya. Mengenali lingkunganku.
Teman dekatku, masih jatuh pada Rahmat; karibku sedari SMP. Leo dan Sasa, adalah sosok paling pintar di kelas. Ikbal dan segerombolan pengikutnya, menjadi sekumpulan manusia yang merasa gaya saat bisa bergurau kala jam pelajaran sedang berlangsung. Guru favorit anak-anak, Pak Sum. Selain masih muda, beliau tak pernah memberi PR. Dan satu hal yang berbeda dari masa SMP-ku; aku berencana mencari pacar.
Kata abangku, masa SMA menentukan seseorang normal atau tidak. Ketika kalian menyukai seorang perempuaan, fix, kalian jatuh cinta. Tak perlu bertanya apa itu cinta, atau semacamnya tentang perasaan.
Abangku hanya menyarankan, cukup tiga langkah; mencuri perhatiannya, membuatnya gembira, lalu nyatakan cinta. Sederhana saja. Jangan terlalu ribet, biar kalo putus, patah hatimu bisa disederhanakan. Itulah pesan yang kuingat.
Dan aku putuskan, bahwa perempuan yang akan menjadi kekasihku, adalah Mishel Qirani. Seorang siswi kelas V-IPA 2, yang menjadi pemandu lagu “Indonesia Raya” pada upacara bendera minggu lalu.
***
Lonceng berbunyi. Jam istirahat telah tiba. Ini adalah hari ke delapan, di setiap istirahat aku bertandang ke kelas Mishal. Kulihat dia sedang merapikan buku-bukunya. Kudekati tanpa ragu.
Aku lelaki, tak boleh malu perihal keinginan. Dan aku sedang ingin Mishel. Jadi, aku tak boleh malu jika aku mengaku seorang lelaki.
“Kantin yuk”, aku berdiri di depan meja kelasnya.
Mishel mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya, “wah, aku bawa bekal. Duluan gih.”
“Kantin bukan cuma tempat makan doang kaliii Shel.”
“Terus?”,
“Terus,.. daripada penasaran, ikut yuk, nanti jelasinnya di sana, gimana?”
Mishel tertawa kecil, “He, boleh juga, yuk!”
Aku masih ingat saat itu yang kurasa, tak ada kebahagiaan yang bisa kuambil di sekolah, selain sesuatu yang terjadi di hari selasa minggu kedua. Percayalah, jika kalian curiga kenapa aku lansung menceritakan kejadian hari ke delapan, beginilah alasannya.
Dari hari senin sampai sabtu, Mishel selalu menolak ajakanku. Hari minggu libur. Ketemu senin lagi, tetap hasilnya sama; ditolak. Biar aku yang menanggung malunya. Kalian hanya cukup tahu, bahwa aku berhasil mengajaknya makan di kantin.
“Kenapa tiap hari kamu ngajak aku ke kantin?”
“Pengennya mah ngajak bolos, sayangnya kamu cewek!”
“aku juga bisa bolos!”
“Tapi, tak akan kuijinkan”
“Kenapa?”
“Masih ada hari minggu, buat kita jalan-jalan”, ucapku sambil menawarkan, “itu juga kalo kamu mau?”
“Mau!”, singkat Mishel
Aku sadar Mishel tersenyum memandangku. Tapi, aku pura-pura tak melihatnya. Inget pesan abangku, langkah awal mencuri perhatian. Bukan mencuri pandang. Terima kasih, Bang. Setelah ini kujanji akan maju satu langkah lagi, membuat Mishel gembira.
***
Oke. Seelum kuceritakan kesan pertamaku keluar dengan Mishel, aku ingin menceritakan tentang keluargaku sedikit detail.
Di Cirebon, ada sebuah perkampungan bernama Panjunan. Di sana, mayoritas keturunan Arab. Ingat, hanya keturunan. Jadi, jangan bayangkan bahwa di sana semuanya bisa berbahasa Arab. Dan Ayahku, termasuk yang tak bisa.
Ibuku berasal dari daerah Indramayu, tetangga Cirebon, di dataran pesisir pantura (pantai utara) pulau Jawa. Terlahir dari keluarga Jawa kental, membuat ibuku menamaiku Jaka. Katanya, Jaka berarti lelaki perkasa, kuat, dan tegas. Tapi, setelah Mang Kas, tetangga sebelahku bercerita tentang asal namaku, aku jadi ragu arti nama yang dijelaskan ibu.
Kata Mang Kas, Jaka diambil dari kata Perjaka. Yakni, seorang lelaki yang belum nikah. Mang Kas mencandaiku, katanya sebaiknya aku cepat ganti nama, jika tak ingin menjadi Perjaka tua. Nama itu do’a. Jika Tuhan mengabulkan makna doa dalam namaku, tentunya aku akan terus menjadi perjaka. Ah, sial. Semoga Mang Kas benar-benar bercanda.
Kata Muhammad dalam namaku, usul dari Ayah. Tak perlu kujelaskan mengapa, kalian pasti tahu terlahir dari keluarga muslim, menjadikan seseorang ingin berharap seperti sosok Nabi Muhaammad Saw.
Aku punya abang, kini sudah pisah rumah, sebab sudah beristri. Dia itu aneh. Sering bikin ayah marah, tapi juga sering bikin ayah bahagia. Dia sangat aneh, sangat susah untuk tidur dan bangun. Kalau malam susah untuk tidur, sekalinya tidur susah untuk bangun. Sebab, itu ayah sering marah abang jarang sekolah karena kesiangan. Ayah juga bahagia, nyatanya abang selalau menjuarai kompetisi Fisika mewakili sekolahnya.
Aku? Aku sedang mikir. Siapa aku? Aku itu apa ya. Perkiraanku, aku sejenis manusia yang dilahirkan untuk menemani Rahmat. Kok gitu? Yaa sudah nanti aku jelaskan. Aku mau tidur dulu. besok hari minggu. Mau jalan-jalan sama Mishel. Kalian jangan tidur, lanjut baca aja ya!

sydney89 memberi reputasi
1