Kaskus

News

stridsvagn.103Avatar border
TS
stridsvagn.103
[FAN FICTION]GIRLS und PANZER der POKAL
[FAN FICTION]GIRLS und PANZER der POKAL
Setelah berhasil mengalahkan Tim Seleksi Universitas dan menjamin keberlangsungan sekolah mereka, Akademi Putri Ooarai kini berniat untuk mengembangkan tim Sensha-do mereka. Namun sebelum mereka bisa bernapas lega, satu lagi tantangan akan harus mereka hadapi, sebuah piala yang baru diadakan kembali setelah 20 tahun lebih! Mampukah mereka menghadapi tantangan ini?

Mari kita ikuti bersama, dan...


PANZER VOR!





DISCLAIMER

This piece of work is not related to the canon "GIRLS und PANZER" anime and manga franchise.
This is merely a fan-fiction and not for commercial use.
All rights belong to the respective owners.


For further reference, it's advisable to watch or read the anime and manga,
or follow the Girls und Panzer wikia fansite.



Diubah oleh stridsvagn.103 05-07-2018 10:28
0
6.8K
26
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Militer
Militer
KASKUS Official
20.4KThread10.8KAnggota
Tampilkan semua post
stridsvagn.103Avatar border
TS
stridsvagn.103
#20
Bar Donzoko
“The Johannesburg”


Seluruh tim Sensha-do Akademi Putri Ooarai kini berada di Bar Donzoko yang berada di geladak bawah Kapal Sekolah mereka, Zuikaku, setelah melewati lorong-lorong yang suram dan kumuh. Semenjak pertemuan mereka dengan tim Shark di Bar Donzoko beberapa waktu berselang, “Johannesburg” kini sudah lebih ramah kepada mereka, walau secara sepintas tak ada yang berubah.

Cutlass, sebagai pramutama, mengedarkan minuman jus buah dan rum non-alkohol kepada semua yang bersantai di sana. Terlepas dari tim siapa yang kalah atau menang, semua tampak menikmati keramahan dari tim Shark, yang memang menjadi tuan rumah di Bar Donzoko. Sambil minum dan menikmati camilan, Flint, sebagai penyanyi tetap di Donzoko menyumbangkan suara emasnya kepada semua.

“Sekali-sekali bersantai di Bar Donzoko selepas latihan memang berbeda,” kata Anzu.
“Biasanya kita selalu di onsen, tapi sayangnya tidak bisa, karena latihan hari ini selesai terlalu sore,” keluh Yuzu.
“Ogin-san, terima kasih sudah menerima kami,” kata Miho kepada Ogin yang duduk di kursi kebesarannya.
“Tak masalah, menjamu teman-teman adalah kesenangan bagi kami,” kata Ogin, “apalagi setelah latihan yang melelahkan,”
“Tapi, kalau boleh tahu, dari mana kau bisa tahu posisi tim Hippo?” tanya Yukari, “bahkan aku pun tidak bisa melihat mereka,”
“Ya, itu juga kami ingin tahu,” kata Oryou.

Ogin hanya tersenyum sambil membetulkan topi perompaknya dan menyesap rum non-alkohol dari botolnya.

“Sebagai pelaut, kami terbiasa untuk melihat sesuatu yang ganjil dalam latar belakang luas yang monoton,” kata Ogin, “misalnya saja kalau kami harus menunjuk sebuah bintang yang bersinar amat lemah di antara bintang lain yang lebih terang pada langit malam,”
“Jadi begitu rupanya,” kata Saemonza.
“Padahal kami sudah bersusah payah membuat penyamaran yang sempurna,” desah Caesar.
“Ya, dengan lapisan semak untuk menutupi kilatan cahaya tembakan meriam, zeyo~” tukas Oryou.
“Jangan kecil hati begitu,” kata Miho sambil tersenyum, “dalam pertempuran sesungguhnya, strategi kalian pasti amat berguna, karena bahkan kami saja susah untuk membedakannya, apalagi tim lawan,”

Semua anggota tim Hippo pun mengangguk.

“Lagi pula, karena kelemahan ini bisa ketahuan dalam latihan, maka kalian akan bisa menyempurnakannya untuk dipakai dalam pertempuran selanjutnya,” kata Miho, “yang penting adalah ada sesuatu yang dipelajari untuk dipakai ke depan,”
“Nishizumi-taichou, kau bijaksana seperti biasa,” kata Erwin.
“Oh ya, Nishizumi-dono, kenapa hari ini kita mengadakan latihan di padang berbukit batu?” tanya Yukari, “mengingat keahlian kita justru dalam perang kota,”
“Oh, itu,” kata Miho sambil tersenyum ringan, “justru karena itulah maka aku ingin melatih kemampuan kita berperang di berbagai medan,”
“Aku mengerti!” kata Yukari dengan mata yang melebar, “karena kita tidak tahu medan macam apa yang akan kita hadapi dalam setiap pertandingan, bukan?”
Mm-mm, kita harus selalu bersiap dengan segala kemungkinan juga,” angguk Miho, “lagi pula bukankah tujuan kita membentuk silabus pelajaran untuk tim Sensha-do mendatang?”
“Oh iya, soal itu, aku hampir saja lupa kalau Kaichou dan tim Turtle, lalu tim Leopon, dan Piyotan dari tim Anteater akan lulus dan berkuliah setelah akhir semester,” kata Hana masygul, “rasanya semester mendatang situasi tidak akan sama lagi,”
“Jangan khawatir,” kata Saori, “aku mendapat tanggapan dari survei pada murid tahun pertama dan kedua, dan banyak dari mereka yang memastikan untuk memilih Sensha-do di semester selanjutnya, cukup untuk membentuk 10 tim!”
“Leganya, akhirnya kami bisa pergi dengan tenang,” kata Momo sambil tersenyum.
“Ini berkat prestasi kita di Kejuaraan Nasional dan pertandingan melawan Tim Seleksi Universitas lalu,” kata Saori.
“Anggota Klub Otomotif juga sudah kami latih selama beberapa bulan terakhir untuk memperbaiki dan merawat tank kita yang rusak,” kata Nakajima, “ada beberapa orang yang tertarik untuk mengikuti Sensha-do menggantikan kami semester depan,”
“Itu bagus!” kata Yukari dengan bersemangat, “karena Porsche Tiger memang memerlukan penanganan khusus!”
“Ini sungguh berita bagus! Masa depan Sensha-do Ooarai akan cerah,” kata Hana dengan mata berkaca-kaca, “bukankah begitu, Miho-san?”

Semua perhatian tiba-tiba saja tertuju kepada Miho. Dengan kepala tertunduk dan wajah yang mendadak muram, Miho tampak tak menyatu dengan atmosfer keceriaan yang sedang berlangsung di Bar Donzoko.

“Miho-san?”
“Nishizumi-dono?”
“Miporin, apa kau baik-baik saja?” tanya Saori.
“Oh, aku tak apa-apa,” kata Miho sambil memberi senyum yang terkesan dipaksakan.
“Kau yakin? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu,” kata Saori.
“Ya, aku baik-baik saja,” kata Miho, “mungkin aku tak enak badan karena agak kelelahan setelah latihan hari ini,”
“Seorang Nishizumi Miho bisa kelelahan akibat latihan Sensha-do?” gumam Momo.
“Mungkin kau harus beristirahat, Miho-san,” kata Hana dengan nada khawatir.
“Kalau kau tak merasa sehat, pulanglah terlebih dahulu, Miporin,” tukas Saori.
“Sebelum pulang, minumlah tonik untuk menyegarkan badan ini. Kau akan merasa lebih baik besok pagi,” kata Cutlass sambil memberikan segelas tonik kepada Miho.
Arigatou, Cutlass-san,” kata Miho yang kemudian meminum tonik itu, “maaf karena aku tak bisa di sini lama-lama bersama kalian,”
“Kesehatanmu saat ini lebih penting, Nishizumi-senpai,” kata Azusa.
“Atau kau mau kuantar pulang, Nishizumi-dono?” tanya Yukari.
Iie, iie,” kata Miho, “kalian tetaplah di sini, aku akan pulang dulu beristirahat,”

Miho pun mengepak barang-barangnya dan berjalan meninggalkan Bar Donzoko diiringi tatapan penuh tanda tanya dari semua teman-temannya.

Beberapa saat kemudian...

Miho berdiri di geladak kapal Zuikaku, menikmati angin malam yang tengah membelai rambutnya. Laut dan langit yang hitam tanpa rembulan tampak terhampar di hadapannya, kontras dengan terangnya lampu jalanan yang bersinar di atasnya. Selepasnya dari Bar Donzoko, Miho ternyata tak langsung pulang ke asramanya, melainkan duduk di sini sambil melemparkan pandangan ke latar belakang yang hitam, dengan suara ombak yang dipecahkan oleh Zuikaku yang tengah berlayar.

“Aku tahu sesuatu pasti mengganggu pikiranmu,”

Miho menoleh dan melihat Anzu sudah berada tak jauh dari sana, dengan pandangan mata yang menenangkan.

“Apakah soal penambahan tim Sensha-do semester depan?” tanya Anzu.

Miho mengangguk berat.

“Sensha-do bukanlah mata pelajaran pilihan yang hanya bisa diajarkan secara teori, kita butuh praktik untuk itu, dan jumlah tank kita tak akan mencukupi bila semester mendatang ada 10 tim baru yang muncul,” kata Miho.
“Tim Turtle, Leopon, Mallard, dan Anteater akan segera lulus, dan dengan itu masih akan tersisa 6 tim yang tak mendapat jatah tank,” kata Anzu, “rupanya punya terlalu banyak pun menghasilkan masalah yang sama besar dengan punya terlalu sedikit,”
Mm-mm,” angguk Miho, “dan membiarkan tim yang ada tak memiliki tank akan sangat buruk bagi moral mereka,”
“Tapi anggaran kita untuk saat ini hanya cukup untuk operasional dan perawatan-pemeliharaan tank yang ada, bukan untuk membeli tank baru,” kata Anzu.
“Aku tahu,” kata Miho, “dan itulah yang kupikirkan,”

Anzu pun duduk di samping Miho, dan berdua mereka terdiam sambil menikmati semilir angin dan suara ombak.

Kaichou, boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Miho.
“Ada apa?” tanya Anzu.
“Saat kau mengetahui nasib sekolah ini terancam, bagaimana kau bisa tahu hal apa yang seharusnya dilakukan?” tanya Miho.

Anzu menarik napas dalam, lalu menghadap ke atas.

“Sejujurnya, aku tidak tahu,” kata Anzu, “aku hanya tahu bahwa sesuatu harus dilakukan,”

Miho terdiam.

“Lagi pula bila aku saat itu tahu apa yang harus kulakukan, maka kita tak akan harus bertempur melawan Tim Seleksi Universitas, Nishizumi-chan,” kata Anzu sambil tersenyum.
“Jadi begitu...” kata Miho.
“Kalau setiap ada masalah kita harus mempertanyakan terlebih dahulu mana yang benar, maka bisa-bisa kita kehilangan kesempatan untuk bertindak,” kata Anzu.

Miho tersenyum mendengarnya.

“Kenapa?” tanya Anzu tak mengerti.
Iie, hanya saja perkataan yang aneh saat keluar dari seorang Kadotani Anzu-sama,” kata Miho.

Anzu pun tersenyum dan bersama mereka tertawa kecil.

“Nishizumi-chan...” kata Anzu.
“Mm?”
“Jangan khawatir, kita pasti akan temukan cara,” kata Anzu, “dan lagi pula...”
“Miporin!”

Miho menoleh dan ternyata teman-temannya sudah ada di dekat situ juga, dan mereka tampak tersenyum, kecuali Mako yang tetap memasang wajah datar.

“Kami sengaja meminta tolong pada Anzu-sama untuk mengajakmu bicara,” kata Hana.
“Tenanglah, Miporin, kita pasti akan memecahkannya bersama-sama!” kata Saori.
“Kita pasti bisa, Nishizumi-dono!” kata Yukari.
“Hai hai,” kata Mako.
“Kau lihat, teman-temanmu ada bersamamu,” kata Anzu.

Miho pun tersenyum dan sebuah beban berat terasa baru saja diangkat dari pundaknya.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.