- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#7321
Berdamai..
Ternyata dugaan gw keliru.. Sinar kuning terang yang melesat keluar dari mulut Naga Wadas bukannya meledak saat bertubrukan dengan empat sinar hitam Nyi Mas Roro Suwastri.. Sinar tersebut terlihat malah menampik sambaran empat sinar hitam dan membuangnya jauh membumbung tinggi ke angkasa.. Langit pagi hari yang awalnya cerah dengan gumpalan awan biru, untuk beberapa saat berkilat-kilat menampilkan sinar hitam dan kuning yang disusul kemudian dengan terdengarnya suara bergemuruh..
Rasa cemas bercampur sebal melihat watak Nyi Mas Roro Suwastri dan Babeh Misar yang sama-sama mudah tersinggung dan keras kepala, kian menggunung.. Gw harus benar-benar mencari cara untuk menghentikan pertempuran diantara mereka, sebelum jatuh korban.. Kepala gw kembali berputar mencari cara terakhir untuk melerai mereka.. Hingga akhirnya, satu solusi sedikit nekat muncul dalam benak..
Gw harus meminta Pedang Jagat Samudera keluar dari bahu kanan untuk menebas jeratan selendang hitam berenda emas milik Nyi Mas Roro Suwastri, yang membelit leher sampai pergelangan kaki.. Ya! Gw harus melakukan hal itu untuk menghentikan pertarungan.. Terlebih saat melihat sosok Nyi Mas Roro Suwastri dan Naga Wadas, sudah sama-sama nampak bersiap saling menyerang kembali.. Dengan kedua mata terpejam, gw mencoba memusatkan pikiran dan menyeleraskan batin ini agar terhubung dengan Pedang pemberian Jagat Tirta..
“Pedang Jagat Samudera.. Aku mohon, bantulah diriku agar bisa terlepas dari Selendang.. Keluarlah dari bahu dan tebas selendang yang membelit tubuh”
Hawa hangat terasa mulai muncul dari arah bahu kanan.. Bersamaan dengan terbukanya kembali kedua indera penglihatan gw, sesuatu terasa melesat keluar dari bahu kanan setelah sebelumnya terdengar suara kain terkoyak..
BREETTTT...
Suara terkoyaknya kain kembali terdengar begitu Pedang Jagat Samudera menebas Selendang hitam berenda emas dari belakang kaki hingga leher.. Dan lu tahu, Bree.. Mata gw sempat lagi-lagi terpejam sebelum Pedang tersebut melakukan tebasan.. Jujur, gw takut ujung tajam Pedang Jagat Samudera turut mengenai kulit.. Tapi, Alhamdulillah nya hal itu tidak terjadi.. Pedang pemberian Jagat Tirta dengan sangat sempurna berhasil memotong Selendang Hitam milik Nyi Mas Roro Suwastri, dari arah belakang..
Mengetahui diri ini sudah terbebas dari belitan Selendang, gw melempar pandangan ke arah Ridho yang nampak bengong melihat.. Dengan gerakan cukup cepat, gw melompat dan menangkap pangkal Pedang Jagat Samudera.. Lalu mendarat kembali persis di tengah Nyi Mas Roro Suwastri dan Naga Wadas.. Baik Nyi Mas Roro Suwastri dan Babeh Misar yang ada diatas kepala Naga Wadas, sama-sama terkejut membesarkan mata.. Naga Wadas yang kedua bola mata nya masih mencorong dengan sinar kuning, terdengar mengeluarkan suara desisan, seolah tak suka melihat pertempurannya di sela oleh gw..
“Mau apa kau dengan Pedang itu, Ngger? Aku tidak memerlukan bantuan mu untuk memberikan pelajaran pada dua mahluk lemah disana” Ucap Nyi Mas Roro Suwastri yang mungkin menduga gw akan membantunya..
“Maaf, Eyang Puteri.. Aku tidak berniat untuk membantu mu.. Aku juga tidak berpihak ke Kakek tua disana, yang sudah ku anggap seperti Kakek ku sendiri.. Aku sengaja mengeluarkan Pedang Jagat Samudera, agar kalian berdua mau mendengarkan penjelasan ku terlebih dahulu dan mengurungkan niat untuk saling menyerang kembali” Jawab gw dengan suara dan tatapan mata menyorot tegas..
Nyi Mas Roro Suwastri dan Babeh Misar terlihat sama-sama tertegun mendengarkan ucapan gw barusan.. Gw sempat merasa lega dalam hati saat melihat Nyi Mas Roro Suwastri mulai menurunkan telapak tangan dengan pendaran sinar yang nampak meredup, menandakan kesaktiannya sengaja dikurangi..
“Lekas kau utarakan maksud mu, Ngger..” Kata Nyi Mas Roro Suwastri, dengan kepala sedikit naik melirik ke Babeh Misar dan Naga Wadas..
Babeh Misar sendiri terlihat melompat turun dari atas kepala tunggangannya.. Lalu menepuk leher Naga Wadas kembali beberapa kali.. Mahluk gaib berwujud ular naga raksasa pemberian Sri Baduga Maharaja tersebut terdengar mendesis lirih.. Kemudian, pendaran sinar kuning yang mencorong dari kedua mata nya perlahan-lahan ikut meredup..
Mengetahui kedua belah pihak yang sempat bertarung sudah sama-sama mengurungkan niat untuk kembali menyerang dan mau mendengarkan penuturan, gw memasukkan kembali Pedang Jagat Samudera ke bahu kanan.. Setelah menghela nafas lega untuk beberapa saat, gw menyiapkan segala apa yang ingin gw utarakan..
“Eyang Puteri, sebelumnya aku meminta maaf karena telah lancang membohongi mu tentang luka yang ada ditubuh ini.. Aku memang terluka oleh Kakek itu.. Tapi bukan karena sengaja.. Melainkan karena itu adalah hukuman untuk kesalahan yang aku lakukan kepada Beliau.. Lagi pula, luka ku ini hanya di luar tubuh saja, Eyang Puteri.. Sebab, Kakek ku itu sama sekali tidak menggunakan tenaga dalam.. Jadi aku mohon sekali kepada mu, Eyang Puteri.. Jangan lah bertarung dengan beliau, karena kalian berdua adalah sosok-sosok yang sangat aku hormati.. Dan aku tidak mau melihat kalian saling melukai atau salah satu dari kalian terluka” Ucap gw dengan tatapan bersungguh-sungguh ke wajah sang Nenek Moyang..
Untuk beberapa saat, Nyi Mas Roro Suwastri nampak melirik ke arah Babeh Misar dan Naga Wadas.. Lalu, Beliau terdengar menghela nafas cukup panjang.. Perlahan, cinta pertama nya Jagat Tirta itu mengangkat kedua telapak tangan ke depan dada dan menghembuskan nafas seraya menurunkan nya kembali ke bawah.. Bersamaan dengan hal tersebut, pendaran sinar hitam yang menyelimuti kedua telapak tangan Nyi Mas Roro Suwastri nampak kian memudar dan akhirnya lenyap dengan sempurna..
Melihat wajah Nyi Mas Roro Suwastri yang tak lagi tegang dan kini sedang menyimpulkan senyuman sangat manis, membuat perasaan gw semakin lega.. Terlebih saat Beliau melayang mendekat dan perlahan menempelkan kedua telapak tangannya kekedua pipi gw, seraya menatap wajah ini dengan tatapan penuh kasih..
“Seperti yang kau tahu, Ngger.. Aku telah kehilangan putera ku Prana Kusuma tanpa pernah memeluknya saat ia merajuk, meniup luka nya saat ia terjatuh atau bahkan menyanyikannya kidung pengantar tidur.. Aku telah merugi karena nasib memaksaku melewati masa-masa berharga itu bersama putera ku.. Namun, harapan ku sempat tumbuh kembali saat mengetahui kau lah keturunan terpilih putera ku, Prana Kusuma.. Dan, melihat mu terluka membuat amarahku seketika bangkit.. Maafkan Eyang Puteri mu ini yang terlalu mencemaskan mu, Ngger.. Semua aku lakukan karena aku menyayangi mu sama seperti aku menyayangi putera ku sendiri, Prana Kusuma” Ucap Nyi Mas Roro Suwastri yang kemudian mengecup kening gw dengan sangat lembut dan memeluk diri ini erat-erat..
Setelah mengungkapkan perasaannya ke gw, Nyi Mas Roro Suwastri nampak melayang mendekati Babeh Misar dan Naga Wadas.. Mereka pun terlihat berbicara empat mata dan sama-sama menyimpulkan senyuman satu sama lain.. Selepas itu, Nyi Mas Roro Suwastri kembali mendekat ke arah gw dan berpamitan untuk menjaga Singgih..
Mengetahui sosok Nyi Mas Roro Suwastri telah lenyap, Ridho mulai melangkah kan kaki mendekat.. Di lain arah, Naga Wadas pun perlahan kembali masuk ke dalam bumi dan membuat tanah yang kami pijak terguncang lagi.. Babeh Misar yang sudah duduk diatas balai bambu rumahnya sambil menyunggingkan senyuman, melambaikan tangan ke arah gw dan Ridho..
“Sini, sini.. Lu bedua duduk disamping Babeh” Ucap Babeh Misar dengan suara yang sama sekali tidak lagi menyiratkan kekesalan, saat kami berdua sudah melangkahkan kaki mendekati Beliau..
Gw menganggukkan kepala dan mencoba untuk duduk persis di sebelah kiri Bajing Item..
“Gimana rasanya kena gaplok ama tendangan Babeh, Tong? Bikin lu kapok ken?” Tanya Babeh Misar..
Gw tersenyum kecut, mendengar pertanyaan Babeh Misar yang sedikit menyindir..
“Ya jelas kapok si Imam, Beh.. Orang muka nya udah bonyok begitu.. Sini, Mam.. Biar gw obatin muka lu” Kata Ridho yang menyambar jawaban untuk Babeh Misar, seraya menarik bahu gw yang sekaligus menghadapnya..
Gw yang sempat merasa sedikit sebal melihat Babeh Misar malah tertawa keras, mulai memejamkan mata saat Ridho menutup luka satu persatu secara bergantian..
“Bini lu bisa ngomel kalo lu pulang dalam keadaan bonyok gini, Bree” Kata Ridho yang gw balas dengan anggukan kepala..
Luka yang sedikit menyisakan perih di beberapa bagian wajah, terasa sejuk saat disentuh telapak tangan Ridho.. Sekitar lima menit berlalu, Ridho meminta gw untuk membuka mata kembali dan memberikan HP dengan kamera sudah menyala agar gw bisa memastikan bentuk wajah berbalik seperti semula..
“Sebenernya, Ati Babeh keder juga ngadepin Jin tadi, Tong.. Babeh go tau, ampe Naga Wadas juga ciut nyalinya.. Masih diuntung, tuh Jin cakep kaga ampe ngeluarin semua elmu nya.. Kalo ampe dia ngeluarin, bisa modar Babeh ama Naga Wadas.. Eehh, ngomong-ngomong, ntuh Jin cakep tadi sapa nama nya, Tong? Terus, ngapa dia ngomong nya lu keturunan dia ya?” Tanya Babeh Misar, sambil membuka baju pangsi dan mengeluarkan peci bututnya untuk menghilangkan gerah dengan cara mengipas-kipaskan..
Gw tersenyum mendengar pertanyaan Babeh Misar yang masih sempat memuji kecantikan Nyi Mas Roro Suwastri.. Benak gw sempat teringat saat laki-laki tua itu juga dahulu pernah bengong tertegun memandangi kecantikan Nyi Durga Daksa, salah satu Jin Penjaga Batu Mustika.. Dengan sangat mendetail, gw mulai menceritakan ke Babeh Misar tentang siapa sebenarnya sosok Nyi Mas Roro Suwastri dan apa hubungannya dengan diri ini.. Sosok Bajing Item yang masih nampak kegerahan, sesekali menganggukkan kepala nya mendengar penuturan gw..
“Pantesan Jagat Tirta demen banget ama dia.. Muka nya cakep bener.. Kalo Babeh masih muda mah, Babeh yang bakal ngejar-ngejar si Roro, Tong.. Babeh demen liet muka bening ama badan nyang kaya gonoh” Ucap Babeh Misar dengan pandangan mata kosong seolah sedang membayangkan kecantikan Nyi Mas Roro Suwastri..
Ridho yang melihat tingkah konyol Babeh Misar, menyikut lengan gw dan menaikkan kedua alis saat gw menoleh ke arahnya.. Akan tetapi, tiba-tiba..
JEPRETT... "ADUUHH!!"
Suara jepretan peci butut Babeh Misar terdengar cukup keras disusul pekik kesakitan gw yang seketika memegangi kepala setelah di kepret oleh Beliau.. Ridho yang ada disebelah gw juga nampak membesarkan kedua mata karena terkejut..
“Salah saya apa lagi sih, Beh.. sampe kena kepretan?” Keluh gw, masih menusap-usap bagian atas kepala yang menyisakan sedikit rasa panas..
“Babeh belon redo kalo belon ngepret pala lu gegara Babeh kaga diundang”
“Kan saya udah minta maaf tadi, Beh.. Saya udah jelasin juga kenapa bisa sampai lupa ngundang” Jawab gw, yang kemudian menutupi kepala menggunakan kedua tangan saat Babeh Misar terlihat melotot dan mengangkat peci bututnya, seolah siap untuk mengepret lagi..
“Enak bae lu kalo bebacot.. Orang-orang mah Tong, kalo mo minta maap jangan lenggang.. Bebawaan tengtengan apa ke buat Babeh.. Lah nih mah yang ada lu bawa congor doank” Balas Babeh Misar setengah membentak..
Mendengar ucapan Bajing Item, Ridho tertawa terbahak-bahak.. Namun, mendadak..
JEPRETT...
Babeh Misar dengan ayunan tangan sangat cepat mengepretkan peci lusuhnya ke kepala Ridho dan membuat saudara gw itu sontak terdiam sambil memasang wajah meringis dan mengusap-usap kepala.. Gw langsung berdiri dan berbisik ke telinga Ridho..
“Mamp*s lu!”
Babeh Misar yang terlihat sudah mulai hilang gerahnya, memakai peci lusuh di atas kepala dan duduk kembali diatas balai.. Sesekali pandangan mata Beliau melirik sebal ke arah gw dan Ridho..
“Lu tau kaga, Tong.. Temen-temen gaib nyang lu kenal, pada kesel kaga diundang hajatan.. Jin-jin ntuh pan pada pengen juga kondangan sekalian liet lu jadi penganten.. Babeh juga senewennya ampe ke ubun-ubun.. Niatnya, Babeh pengen ngacak-ngacak hajatan lu.. Eeh, Jin lu nyang cakep nyang kata nya bini nya si Jagat Tirta ntuh, bujuk-bujuk Babeh biar buru-buru pulang.. Ya, mao kaga mao Babeh akhirnya nyerah juga dah pas dibilang ganteng”
Ridho sempat terdengar menahan tawa nya setelah Babeh Misar selesai berucap.. Namun, wajah saudara gw itu seketika berubah pucat saat Sang Bajing Item menoleh ke arahnya sambil memegang peci dikepala.. Dengan gerakan sangat cepat, Babeh Misar mengayunkan tangannya ke arah wajah Ridho.. Menyadari satu serangan berupa kepretan peci akan mendarat di wajah, Ridho spontan menutup kedua matanya sambil menekuk muka seperti pasrah untuk menerima kepretan.. Akan tetapi...
“Bocah bego! Kena bae lu Babeh kerjain.. Hahaha” Kata Babeh Misar sambil tertawa keras, karena telah menjahili Ridho dengan sengaja berpura-pura hendak mengepret wajahnya..
Melihat hal tersebut, gw juga tertawa keras menyusul tawa terbahak Babeh Misar.. Sementara, Ridho nampak menggaruk-garuk kepala sambil memasang senyuman konyol dan sesekali ikut menertawakan dirinya..
“Alhamdulillah, akhirnya semua berjalan kembali normal” Ucap gw dalam hati sambil tersenyum memandangi wajah keriput Babeh Misar, sekaligus mensyukuri segala apa yang gw takutkan tidak terjadi..
Setelah tawa kami reda, Babeh Misar nampak mengeluarkan bungkusan rokok kreteknya dari dalam saku celana pangsi.. Untuk sesaat, sosok Kakek Tua dengan tubuh kurus kerempeng itu meraba-raba dua saku celana, seperti sedang mencari sesuatu..
“Mo saya ambilin korek api di dapur, Beh?” Tanya gw menawarkan diri karena menduga Babeh Misar sedang mencari-cari korek apinya..
“Kaga usah ngambilin Babeh korek di dapur.. Kalo mao, lu ambilin aja aer minum.. Babeh tau, lu bedua pada aus ken? Gidah sonoh ke dapur” Jawab Babeh Misar yang gw sambut dengan anggukan kepala, lalu mulai bangkit dari atas balai dan berjalan menuju pintu rumah..
Sebelum mendorong pintu yang nampak lapuk dimakan serangga pemakan kayu, gw sempat melirik Babeh Misar yang sedang memegangi ujung rokok kreteknya menggunakan dua ujung ibu jari dan telunjuk.. Pandangan mata gw yang sempat tertegun tak mengerti akan apa yang sedang dilakukan Babeh Misar, seketika terbelalak begitu melihat ujung rokok kretek yang sudah diapit bibir hitamnya terbakar oleh api kuning..
Ridho juga terlihat melotot sambil memandang takjub ke api kecil berwarna kuning, yang tiba-tiba saja muncul dari dua ujung jari Babeh Misar dan membakar rokoknya.. Merasa sedang menjadi bahan tatapan, Babeh Misar menoleh ke arah gw..
“Ngapain lu ngedonga (bengong) bae disonoh, bukannya masuk ngambilin aer di dapur?” Bentak Babeh Misar, yg membuat gw langsung ngibrit masuk ke dalam rumahnya..
DUG...
Suara terbenturnya kening dan hidung gw saat menabrak pintu yang lupa gw dorong, terdengar bersamaan dengan munculnya rasa sakit.. Ridho yang melihat kejadian itu lantas tertawa terkekeh sambil membalas ucapan gw untuknya, saat ia di kepret Babeh Misar tadi.. Setelah sempat mengacungkan kepalan ke Ridho, gw perlahan mendorong pintu rumah Babeh Misar dan mulai berjalan masuk ke dalam terus menuju dapur.. Tiga gelas beling gw satukan dengan cara memegangnya menggunakan kelima jari tangan kiri.. Sementara, tangan kanan memegangi gagang hitam teko yang berisi air teh masih sedikit panas..
“Tong, tadi Babeh sempet liet lu masih bisa make tenaga dalem pas ngeladenin serangan.. Babeh liet, lu juga masih bisa mandang Jin cakep yang namanya si Roro Susanti ama Naga Wadas.. Emang lu semalem kaga begituan ama bini lu? ”
FUUUHHH...
Air teh yang awalnya sudah terkumpul dalam rongga mulut gw, seketika tersembur keluar membasahi tanah, begitu Babeh Misar selesai bertanya sekaligus salah menyebut nama Nenek Moyang gw.. Rasa pedih akibat sedikit air masuk ke dalam rongga hidung, membuat kedua mata gw berkaca-kaca.. Di tambah batuk yang melanda tenggorokan akibat terkejut mendengar pertanyaan si Babeh..
Sang Bajing Item sendiri mulai menggeser posisi duduknya hingga mendekat ke arah gw dan membantu meredakan batuk dengan cara mengusap-usap punggung ini.. Gw sempat melirik Ridho yang terlihat sedang menahan tawa sambil sesekali meminum air teh yang ada di gelas dalam pegangan tangannya.. Setelah beberapa saat, gw pun mulai bisa menguasai diri..
“Maksud Babeh apaan?” Tanya gw dengan kening berkerut seolah tidak mengerti, padahal dalam hati gw faham akan pertanyaannya tadi mengarah kemana..
“Ya, Babeh penasaran ama lu, Tong.. Setahu Babeh, semua turunan Ki Suta kesaktiannya bakalan ilang kalo dia abis begini sama bini nya” Jawab Babeh Misar sambil menaikkan tangan dan menunjukkan jari jempol nya yang tersembul keluar setelah di apit jari telunjuk dan jari tengah..
Sumpah, Bree! Gw faham akan arti tanda yang sedang ditunjukkan oleh Babeh Misar ditangannya.. Melihat hal itu, gw tak sanggup menahan tawa meski terpaksa membuang muka karena khawatir sang Bajing Item akan tersinggung.. Dilain pihak, disaat bersamaan, Ridho yang melihat tanda isyarat dari tangan Babeh Misar malah bergantian tersedak.. Sambil menahan tawa, Ridho nampak sampai menitikkan air mata karena harus pula menahan batuk yang melanda..
“Lahh, lu bedua ngapa pada nawain Babeh? Emang lu kaga ngarti tanda beginian?”
Pertanyaan Babeh Misar sontak membuat gw dan Ridho kembali terbahak-bahak.. Terlebih saat melihat ia dengan wajah polosnya malah mengarahkan tangan yang kedua jari tengah serta jari telunjuk masih mengapit jempol, bergantian ke arah kami berdua..
“Saya ngerti maksud Babeh.. Yang Babeh bilang tadi emang bener dan dialami juga sama sodara saya, Ridho.. Tapi, berhubung isteri saya katanya masih datang bulan, mau ga mau saya ga bisa beginian sama dia” Kata gw seraya menunjukkan tanda sama di tangan seperti yang telah ditunjukkan Babeh Misar sebelumnya..
Babeh Misar nampak menganggukkan kepala nya pertanda faham.. Sementara, Ridho nampak mencoba menahan tawa saat melihat tanda yang terbentuk di tangan gw..
“Kalo Babeh, dulu sempet kejer (nangis) pas abis begituan ama bini, tau-tau elmu Babeh ilang semua pagi ari nya.. Bini Babeh ampe maranin dukun, disangka nya Babeh ketemplokan setan.. Pas Ki Suta dateng terus nerangin semua, baru Babeh bisa diem, Tong” Terang Babeh Misar dengan suara bersemangat bercerita..
“Terus, dukun yang diparanin sama bini nya Babeh gimana tuh? Apa dia ga curiga Babeh punya ilmu?” Tanya Ridho dengan wajah antusias..
“Boro-boro curiga.. Nyang ada ntuh dukun abis Babeh dupakin (tendangin).. Pegimana Babeh kaga mo sewot, bukannya diemin Babeh dia malahan nyembur muka Babeh pake aer kobokan.. Mana congor nya bau banget jengkol lagi.. Samber bledeg banget ntuh dukun kalo Babeh inget-inget”
Mendengar celotehan Babeh Misar, gw dan Ridho kembali tertawa untuk beberapa saat.. Babeh Misar juga sempat tertawa sesekali, sambil terus menatap kosong ke arah pekarangan.. Mungkin ia juga merasa geli sendiri saat mengingat kejadian tersebut.. Hingga akhirnya Babeh Misar melirik gw dan Ridho secara bergantian, seraya menyimpulkan senyuman memandangi kami..
Gw yang menyadari diri sedang ditatap Babeh Misar, segera menghentikan tawa dan memberi kode berupa lirikan mata ke Ridho.. Suami nya Suluh langsung menganggukkan kepala dan sama menghentikan tawa.. Sambil menghela nafas panjang, gw membalas senyuman sekaligus tatapan panuh kasih dari sosok laki-laki tua yang sudah gw anggap seperti Kakek sendiri.. Babeh Misar kembali tersenyum, lalu menaikkan kedua lengan dan meletakkannya diatas punggung kami..
“Babeh bahagia, Tong.. Babeh bener-bener kaga nyangka bisa punya cucu kaya lu pada.. Sama-sama turunan Ki Suta.. Sama-sama punya elmu.. Babeh nyang ngerasa udah bosen idup, sekarang jadi be do’a.. Mudah-mudahan, Babeh masih dikasih umur panjang biar bisa liet ama bantuin momong cicit Babeh dari lu bedua.. Babeh ngerasa, lu bedua bakalan punya anak nyang beda.. Kalo kata orang barat mah spesial”
Ridho terlihat tertawa mendengar guyonan yang sengaja diselipkan Babeh Misar diujung kalimatnya.. Sementara, gw hanya tersenyum dengan benak yang kembali teringat akan ucapan Sri Baduga Maharaja tentang calon putera gw.. Calon generasi penerus, yang merupakan gabungan darah Braja Krama dan darah Sang Prabu..
Ternyata dugaan gw keliru.. Sinar kuning terang yang melesat keluar dari mulut Naga Wadas bukannya meledak saat bertubrukan dengan empat sinar hitam Nyi Mas Roro Suwastri.. Sinar tersebut terlihat malah menampik sambaran empat sinar hitam dan membuangnya jauh membumbung tinggi ke angkasa.. Langit pagi hari yang awalnya cerah dengan gumpalan awan biru, untuk beberapa saat berkilat-kilat menampilkan sinar hitam dan kuning yang disusul kemudian dengan terdengarnya suara bergemuruh..
Rasa cemas bercampur sebal melihat watak Nyi Mas Roro Suwastri dan Babeh Misar yang sama-sama mudah tersinggung dan keras kepala, kian menggunung.. Gw harus benar-benar mencari cara untuk menghentikan pertempuran diantara mereka, sebelum jatuh korban.. Kepala gw kembali berputar mencari cara terakhir untuk melerai mereka.. Hingga akhirnya, satu solusi sedikit nekat muncul dalam benak..
Gw harus meminta Pedang Jagat Samudera keluar dari bahu kanan untuk menebas jeratan selendang hitam berenda emas milik Nyi Mas Roro Suwastri, yang membelit leher sampai pergelangan kaki.. Ya! Gw harus melakukan hal itu untuk menghentikan pertarungan.. Terlebih saat melihat sosok Nyi Mas Roro Suwastri dan Naga Wadas, sudah sama-sama nampak bersiap saling menyerang kembali.. Dengan kedua mata terpejam, gw mencoba memusatkan pikiran dan menyeleraskan batin ini agar terhubung dengan Pedang pemberian Jagat Tirta..
“Pedang Jagat Samudera.. Aku mohon, bantulah diriku agar bisa terlepas dari Selendang.. Keluarlah dari bahu dan tebas selendang yang membelit tubuh”
Hawa hangat terasa mulai muncul dari arah bahu kanan.. Bersamaan dengan terbukanya kembali kedua indera penglihatan gw, sesuatu terasa melesat keluar dari bahu kanan setelah sebelumnya terdengar suara kain terkoyak..
BREETTTT...
Suara terkoyaknya kain kembali terdengar begitu Pedang Jagat Samudera menebas Selendang hitam berenda emas dari belakang kaki hingga leher.. Dan lu tahu, Bree.. Mata gw sempat lagi-lagi terpejam sebelum Pedang tersebut melakukan tebasan.. Jujur, gw takut ujung tajam Pedang Jagat Samudera turut mengenai kulit.. Tapi, Alhamdulillah nya hal itu tidak terjadi.. Pedang pemberian Jagat Tirta dengan sangat sempurna berhasil memotong Selendang Hitam milik Nyi Mas Roro Suwastri, dari arah belakang..
Mengetahui diri ini sudah terbebas dari belitan Selendang, gw melempar pandangan ke arah Ridho yang nampak bengong melihat.. Dengan gerakan cukup cepat, gw melompat dan menangkap pangkal Pedang Jagat Samudera.. Lalu mendarat kembali persis di tengah Nyi Mas Roro Suwastri dan Naga Wadas.. Baik Nyi Mas Roro Suwastri dan Babeh Misar yang ada diatas kepala Naga Wadas, sama-sama terkejut membesarkan mata.. Naga Wadas yang kedua bola mata nya masih mencorong dengan sinar kuning, terdengar mengeluarkan suara desisan, seolah tak suka melihat pertempurannya di sela oleh gw..
“Mau apa kau dengan Pedang itu, Ngger? Aku tidak memerlukan bantuan mu untuk memberikan pelajaran pada dua mahluk lemah disana” Ucap Nyi Mas Roro Suwastri yang mungkin menduga gw akan membantunya..
“Maaf, Eyang Puteri.. Aku tidak berniat untuk membantu mu.. Aku juga tidak berpihak ke Kakek tua disana, yang sudah ku anggap seperti Kakek ku sendiri.. Aku sengaja mengeluarkan Pedang Jagat Samudera, agar kalian berdua mau mendengarkan penjelasan ku terlebih dahulu dan mengurungkan niat untuk saling menyerang kembali” Jawab gw dengan suara dan tatapan mata menyorot tegas..
Nyi Mas Roro Suwastri dan Babeh Misar terlihat sama-sama tertegun mendengarkan ucapan gw barusan.. Gw sempat merasa lega dalam hati saat melihat Nyi Mas Roro Suwastri mulai menurunkan telapak tangan dengan pendaran sinar yang nampak meredup, menandakan kesaktiannya sengaja dikurangi..
“Lekas kau utarakan maksud mu, Ngger..” Kata Nyi Mas Roro Suwastri, dengan kepala sedikit naik melirik ke Babeh Misar dan Naga Wadas..
Babeh Misar sendiri terlihat melompat turun dari atas kepala tunggangannya.. Lalu menepuk leher Naga Wadas kembali beberapa kali.. Mahluk gaib berwujud ular naga raksasa pemberian Sri Baduga Maharaja tersebut terdengar mendesis lirih.. Kemudian, pendaran sinar kuning yang mencorong dari kedua mata nya perlahan-lahan ikut meredup..
Mengetahui kedua belah pihak yang sempat bertarung sudah sama-sama mengurungkan niat untuk kembali menyerang dan mau mendengarkan penuturan, gw memasukkan kembali Pedang Jagat Samudera ke bahu kanan.. Setelah menghela nafas lega untuk beberapa saat, gw menyiapkan segala apa yang ingin gw utarakan..
“Eyang Puteri, sebelumnya aku meminta maaf karena telah lancang membohongi mu tentang luka yang ada ditubuh ini.. Aku memang terluka oleh Kakek itu.. Tapi bukan karena sengaja.. Melainkan karena itu adalah hukuman untuk kesalahan yang aku lakukan kepada Beliau.. Lagi pula, luka ku ini hanya di luar tubuh saja, Eyang Puteri.. Sebab, Kakek ku itu sama sekali tidak menggunakan tenaga dalam.. Jadi aku mohon sekali kepada mu, Eyang Puteri.. Jangan lah bertarung dengan beliau, karena kalian berdua adalah sosok-sosok yang sangat aku hormati.. Dan aku tidak mau melihat kalian saling melukai atau salah satu dari kalian terluka” Ucap gw dengan tatapan bersungguh-sungguh ke wajah sang Nenek Moyang..
Untuk beberapa saat, Nyi Mas Roro Suwastri nampak melirik ke arah Babeh Misar dan Naga Wadas.. Lalu, Beliau terdengar menghela nafas cukup panjang.. Perlahan, cinta pertama nya Jagat Tirta itu mengangkat kedua telapak tangan ke depan dada dan menghembuskan nafas seraya menurunkan nya kembali ke bawah.. Bersamaan dengan hal tersebut, pendaran sinar hitam yang menyelimuti kedua telapak tangan Nyi Mas Roro Suwastri nampak kian memudar dan akhirnya lenyap dengan sempurna..
Melihat wajah Nyi Mas Roro Suwastri yang tak lagi tegang dan kini sedang menyimpulkan senyuman sangat manis, membuat perasaan gw semakin lega.. Terlebih saat Beliau melayang mendekat dan perlahan menempelkan kedua telapak tangannya kekedua pipi gw, seraya menatap wajah ini dengan tatapan penuh kasih..
“Seperti yang kau tahu, Ngger.. Aku telah kehilangan putera ku Prana Kusuma tanpa pernah memeluknya saat ia merajuk, meniup luka nya saat ia terjatuh atau bahkan menyanyikannya kidung pengantar tidur.. Aku telah merugi karena nasib memaksaku melewati masa-masa berharga itu bersama putera ku.. Namun, harapan ku sempat tumbuh kembali saat mengetahui kau lah keturunan terpilih putera ku, Prana Kusuma.. Dan, melihat mu terluka membuat amarahku seketika bangkit.. Maafkan Eyang Puteri mu ini yang terlalu mencemaskan mu, Ngger.. Semua aku lakukan karena aku menyayangi mu sama seperti aku menyayangi putera ku sendiri, Prana Kusuma” Ucap Nyi Mas Roro Suwastri yang kemudian mengecup kening gw dengan sangat lembut dan memeluk diri ini erat-erat..
Setelah mengungkapkan perasaannya ke gw, Nyi Mas Roro Suwastri nampak melayang mendekati Babeh Misar dan Naga Wadas.. Mereka pun terlihat berbicara empat mata dan sama-sama menyimpulkan senyuman satu sama lain.. Selepas itu, Nyi Mas Roro Suwastri kembali mendekat ke arah gw dan berpamitan untuk menjaga Singgih..
Mengetahui sosok Nyi Mas Roro Suwastri telah lenyap, Ridho mulai melangkah kan kaki mendekat.. Di lain arah, Naga Wadas pun perlahan kembali masuk ke dalam bumi dan membuat tanah yang kami pijak terguncang lagi.. Babeh Misar yang sudah duduk diatas balai bambu rumahnya sambil menyunggingkan senyuman, melambaikan tangan ke arah gw dan Ridho..
“Sini, sini.. Lu bedua duduk disamping Babeh” Ucap Babeh Misar dengan suara yang sama sekali tidak lagi menyiratkan kekesalan, saat kami berdua sudah melangkahkan kaki mendekati Beliau..
Gw menganggukkan kepala dan mencoba untuk duduk persis di sebelah kiri Bajing Item..
“Gimana rasanya kena gaplok ama tendangan Babeh, Tong? Bikin lu kapok ken?” Tanya Babeh Misar..
Gw tersenyum kecut, mendengar pertanyaan Babeh Misar yang sedikit menyindir..
“Ya jelas kapok si Imam, Beh.. Orang muka nya udah bonyok begitu.. Sini, Mam.. Biar gw obatin muka lu” Kata Ridho yang menyambar jawaban untuk Babeh Misar, seraya menarik bahu gw yang sekaligus menghadapnya..
Gw yang sempat merasa sedikit sebal melihat Babeh Misar malah tertawa keras, mulai memejamkan mata saat Ridho menutup luka satu persatu secara bergantian..
“Bini lu bisa ngomel kalo lu pulang dalam keadaan bonyok gini, Bree” Kata Ridho yang gw balas dengan anggukan kepala..
Luka yang sedikit menyisakan perih di beberapa bagian wajah, terasa sejuk saat disentuh telapak tangan Ridho.. Sekitar lima menit berlalu, Ridho meminta gw untuk membuka mata kembali dan memberikan HP dengan kamera sudah menyala agar gw bisa memastikan bentuk wajah berbalik seperti semula..
“Sebenernya, Ati Babeh keder juga ngadepin Jin tadi, Tong.. Babeh go tau, ampe Naga Wadas juga ciut nyalinya.. Masih diuntung, tuh Jin cakep kaga ampe ngeluarin semua elmu nya.. Kalo ampe dia ngeluarin, bisa modar Babeh ama Naga Wadas.. Eehh, ngomong-ngomong, ntuh Jin cakep tadi sapa nama nya, Tong? Terus, ngapa dia ngomong nya lu keturunan dia ya?” Tanya Babeh Misar, sambil membuka baju pangsi dan mengeluarkan peci bututnya untuk menghilangkan gerah dengan cara mengipas-kipaskan..
Gw tersenyum mendengar pertanyaan Babeh Misar yang masih sempat memuji kecantikan Nyi Mas Roro Suwastri.. Benak gw sempat teringat saat laki-laki tua itu juga dahulu pernah bengong tertegun memandangi kecantikan Nyi Durga Daksa, salah satu Jin Penjaga Batu Mustika.. Dengan sangat mendetail, gw mulai menceritakan ke Babeh Misar tentang siapa sebenarnya sosok Nyi Mas Roro Suwastri dan apa hubungannya dengan diri ini.. Sosok Bajing Item yang masih nampak kegerahan, sesekali menganggukkan kepala nya mendengar penuturan gw..
“Pantesan Jagat Tirta demen banget ama dia.. Muka nya cakep bener.. Kalo Babeh masih muda mah, Babeh yang bakal ngejar-ngejar si Roro, Tong.. Babeh demen liet muka bening ama badan nyang kaya gonoh” Ucap Babeh Misar dengan pandangan mata kosong seolah sedang membayangkan kecantikan Nyi Mas Roro Suwastri..
Ridho yang melihat tingkah konyol Babeh Misar, menyikut lengan gw dan menaikkan kedua alis saat gw menoleh ke arahnya.. Akan tetapi, tiba-tiba..
JEPRETT... "ADUUHH!!"
Suara jepretan peci butut Babeh Misar terdengar cukup keras disusul pekik kesakitan gw yang seketika memegangi kepala setelah di kepret oleh Beliau.. Ridho yang ada disebelah gw juga nampak membesarkan kedua mata karena terkejut..
“Salah saya apa lagi sih, Beh.. sampe kena kepretan?” Keluh gw, masih menusap-usap bagian atas kepala yang menyisakan sedikit rasa panas..
“Babeh belon redo kalo belon ngepret pala lu gegara Babeh kaga diundang”
“Kan saya udah minta maaf tadi, Beh.. Saya udah jelasin juga kenapa bisa sampai lupa ngundang” Jawab gw, yang kemudian menutupi kepala menggunakan kedua tangan saat Babeh Misar terlihat melotot dan mengangkat peci bututnya, seolah siap untuk mengepret lagi..
“Enak bae lu kalo bebacot.. Orang-orang mah Tong, kalo mo minta maap jangan lenggang.. Bebawaan tengtengan apa ke buat Babeh.. Lah nih mah yang ada lu bawa congor doank” Balas Babeh Misar setengah membentak..
Mendengar ucapan Bajing Item, Ridho tertawa terbahak-bahak.. Namun, mendadak..
JEPRETT...
Babeh Misar dengan ayunan tangan sangat cepat mengepretkan peci lusuhnya ke kepala Ridho dan membuat saudara gw itu sontak terdiam sambil memasang wajah meringis dan mengusap-usap kepala.. Gw langsung berdiri dan berbisik ke telinga Ridho..
“Mamp*s lu!”
Babeh Misar yang terlihat sudah mulai hilang gerahnya, memakai peci lusuh di atas kepala dan duduk kembali diatas balai.. Sesekali pandangan mata Beliau melirik sebal ke arah gw dan Ridho..
“Lu tau kaga, Tong.. Temen-temen gaib nyang lu kenal, pada kesel kaga diundang hajatan.. Jin-jin ntuh pan pada pengen juga kondangan sekalian liet lu jadi penganten.. Babeh juga senewennya ampe ke ubun-ubun.. Niatnya, Babeh pengen ngacak-ngacak hajatan lu.. Eeh, Jin lu nyang cakep nyang kata nya bini nya si Jagat Tirta ntuh, bujuk-bujuk Babeh biar buru-buru pulang.. Ya, mao kaga mao Babeh akhirnya nyerah juga dah pas dibilang ganteng”
Ridho sempat terdengar menahan tawa nya setelah Babeh Misar selesai berucap.. Namun, wajah saudara gw itu seketika berubah pucat saat Sang Bajing Item menoleh ke arahnya sambil memegang peci dikepala.. Dengan gerakan sangat cepat, Babeh Misar mengayunkan tangannya ke arah wajah Ridho.. Menyadari satu serangan berupa kepretan peci akan mendarat di wajah, Ridho spontan menutup kedua matanya sambil menekuk muka seperti pasrah untuk menerima kepretan.. Akan tetapi...
“Bocah bego! Kena bae lu Babeh kerjain.. Hahaha” Kata Babeh Misar sambil tertawa keras, karena telah menjahili Ridho dengan sengaja berpura-pura hendak mengepret wajahnya..
Melihat hal tersebut, gw juga tertawa keras menyusul tawa terbahak Babeh Misar.. Sementara, Ridho nampak menggaruk-garuk kepala sambil memasang senyuman konyol dan sesekali ikut menertawakan dirinya..
“Alhamdulillah, akhirnya semua berjalan kembali normal” Ucap gw dalam hati sambil tersenyum memandangi wajah keriput Babeh Misar, sekaligus mensyukuri segala apa yang gw takutkan tidak terjadi..
Setelah tawa kami reda, Babeh Misar nampak mengeluarkan bungkusan rokok kreteknya dari dalam saku celana pangsi.. Untuk sesaat, sosok Kakek Tua dengan tubuh kurus kerempeng itu meraba-raba dua saku celana, seperti sedang mencari sesuatu..
“Mo saya ambilin korek api di dapur, Beh?” Tanya gw menawarkan diri karena menduga Babeh Misar sedang mencari-cari korek apinya..
“Kaga usah ngambilin Babeh korek di dapur.. Kalo mao, lu ambilin aja aer minum.. Babeh tau, lu bedua pada aus ken? Gidah sonoh ke dapur” Jawab Babeh Misar yang gw sambut dengan anggukan kepala, lalu mulai bangkit dari atas balai dan berjalan menuju pintu rumah..
Sebelum mendorong pintu yang nampak lapuk dimakan serangga pemakan kayu, gw sempat melirik Babeh Misar yang sedang memegangi ujung rokok kreteknya menggunakan dua ujung ibu jari dan telunjuk.. Pandangan mata gw yang sempat tertegun tak mengerti akan apa yang sedang dilakukan Babeh Misar, seketika terbelalak begitu melihat ujung rokok kretek yang sudah diapit bibir hitamnya terbakar oleh api kuning..
Ridho juga terlihat melotot sambil memandang takjub ke api kecil berwarna kuning, yang tiba-tiba saja muncul dari dua ujung jari Babeh Misar dan membakar rokoknya.. Merasa sedang menjadi bahan tatapan, Babeh Misar menoleh ke arah gw..
“Ngapain lu ngedonga (bengong) bae disonoh, bukannya masuk ngambilin aer di dapur?” Bentak Babeh Misar, yg membuat gw langsung ngibrit masuk ke dalam rumahnya..
DUG...
Suara terbenturnya kening dan hidung gw saat menabrak pintu yang lupa gw dorong, terdengar bersamaan dengan munculnya rasa sakit.. Ridho yang melihat kejadian itu lantas tertawa terkekeh sambil membalas ucapan gw untuknya, saat ia di kepret Babeh Misar tadi.. Setelah sempat mengacungkan kepalan ke Ridho, gw perlahan mendorong pintu rumah Babeh Misar dan mulai berjalan masuk ke dalam terus menuju dapur.. Tiga gelas beling gw satukan dengan cara memegangnya menggunakan kelima jari tangan kiri.. Sementara, tangan kanan memegangi gagang hitam teko yang berisi air teh masih sedikit panas..
“Tong, tadi Babeh sempet liet lu masih bisa make tenaga dalem pas ngeladenin serangan.. Babeh liet, lu juga masih bisa mandang Jin cakep yang namanya si Roro Susanti ama Naga Wadas.. Emang lu semalem kaga begituan ama bini lu? ”
FUUUHHH...
Air teh yang awalnya sudah terkumpul dalam rongga mulut gw, seketika tersembur keluar membasahi tanah, begitu Babeh Misar selesai bertanya sekaligus salah menyebut nama Nenek Moyang gw.. Rasa pedih akibat sedikit air masuk ke dalam rongga hidung, membuat kedua mata gw berkaca-kaca.. Di tambah batuk yang melanda tenggorokan akibat terkejut mendengar pertanyaan si Babeh..
Sang Bajing Item sendiri mulai menggeser posisi duduknya hingga mendekat ke arah gw dan membantu meredakan batuk dengan cara mengusap-usap punggung ini.. Gw sempat melirik Ridho yang terlihat sedang menahan tawa sambil sesekali meminum air teh yang ada di gelas dalam pegangan tangannya.. Setelah beberapa saat, gw pun mulai bisa menguasai diri..
“Maksud Babeh apaan?” Tanya gw dengan kening berkerut seolah tidak mengerti, padahal dalam hati gw faham akan pertanyaannya tadi mengarah kemana..
“Ya, Babeh penasaran ama lu, Tong.. Setahu Babeh, semua turunan Ki Suta kesaktiannya bakalan ilang kalo dia abis begini sama bini nya” Jawab Babeh Misar sambil menaikkan tangan dan menunjukkan jari jempol nya yang tersembul keluar setelah di apit jari telunjuk dan jari tengah..
Sumpah, Bree! Gw faham akan arti tanda yang sedang ditunjukkan oleh Babeh Misar ditangannya.. Melihat hal itu, gw tak sanggup menahan tawa meski terpaksa membuang muka karena khawatir sang Bajing Item akan tersinggung.. Dilain pihak, disaat bersamaan, Ridho yang melihat tanda isyarat dari tangan Babeh Misar malah bergantian tersedak.. Sambil menahan tawa, Ridho nampak sampai menitikkan air mata karena harus pula menahan batuk yang melanda..
“Lahh, lu bedua ngapa pada nawain Babeh? Emang lu kaga ngarti tanda beginian?”
Pertanyaan Babeh Misar sontak membuat gw dan Ridho kembali terbahak-bahak.. Terlebih saat melihat ia dengan wajah polosnya malah mengarahkan tangan yang kedua jari tengah serta jari telunjuk masih mengapit jempol, bergantian ke arah kami berdua..
“Saya ngerti maksud Babeh.. Yang Babeh bilang tadi emang bener dan dialami juga sama sodara saya, Ridho.. Tapi, berhubung isteri saya katanya masih datang bulan, mau ga mau saya ga bisa beginian sama dia” Kata gw seraya menunjukkan tanda sama di tangan seperti yang telah ditunjukkan Babeh Misar sebelumnya..
Babeh Misar nampak menganggukkan kepala nya pertanda faham.. Sementara, Ridho nampak mencoba menahan tawa saat melihat tanda yang terbentuk di tangan gw..
“Kalo Babeh, dulu sempet kejer (nangis) pas abis begituan ama bini, tau-tau elmu Babeh ilang semua pagi ari nya.. Bini Babeh ampe maranin dukun, disangka nya Babeh ketemplokan setan.. Pas Ki Suta dateng terus nerangin semua, baru Babeh bisa diem, Tong” Terang Babeh Misar dengan suara bersemangat bercerita..
“Terus, dukun yang diparanin sama bini nya Babeh gimana tuh? Apa dia ga curiga Babeh punya ilmu?” Tanya Ridho dengan wajah antusias..
“Boro-boro curiga.. Nyang ada ntuh dukun abis Babeh dupakin (tendangin).. Pegimana Babeh kaga mo sewot, bukannya diemin Babeh dia malahan nyembur muka Babeh pake aer kobokan.. Mana congor nya bau banget jengkol lagi.. Samber bledeg banget ntuh dukun kalo Babeh inget-inget”
Mendengar celotehan Babeh Misar, gw dan Ridho kembali tertawa untuk beberapa saat.. Babeh Misar juga sempat tertawa sesekali, sambil terus menatap kosong ke arah pekarangan.. Mungkin ia juga merasa geli sendiri saat mengingat kejadian tersebut.. Hingga akhirnya Babeh Misar melirik gw dan Ridho secara bergantian, seraya menyimpulkan senyuman memandangi kami..
Gw yang menyadari diri sedang ditatap Babeh Misar, segera menghentikan tawa dan memberi kode berupa lirikan mata ke Ridho.. Suami nya Suluh langsung menganggukkan kepala dan sama menghentikan tawa.. Sambil menghela nafas panjang, gw membalas senyuman sekaligus tatapan panuh kasih dari sosok laki-laki tua yang sudah gw anggap seperti Kakek sendiri.. Babeh Misar kembali tersenyum, lalu menaikkan kedua lengan dan meletakkannya diatas punggung kami..
“Babeh bahagia, Tong.. Babeh bener-bener kaga nyangka bisa punya cucu kaya lu pada.. Sama-sama turunan Ki Suta.. Sama-sama punya elmu.. Babeh nyang ngerasa udah bosen idup, sekarang jadi be do’a.. Mudah-mudahan, Babeh masih dikasih umur panjang biar bisa liet ama bantuin momong cicit Babeh dari lu bedua.. Babeh ngerasa, lu bedua bakalan punya anak nyang beda.. Kalo kata orang barat mah spesial”
Ridho terlihat tertawa mendengar guyonan yang sengaja diselipkan Babeh Misar diujung kalimatnya.. Sementara, gw hanya tersenyum dengan benak yang kembali teringat akan ucapan Sri Baduga Maharaja tentang calon putera gw.. Calon generasi penerus, yang merupakan gabungan darah Braja Krama dan darah Sang Prabu..
Diubah oleh juraganpengki 05-07-2018 12:50
dodolgarut134 dan 17 lainnya memberi reputasi
16