- Beranda
- Stories from the Heart
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
...
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
166.5K
793
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
congyang.jus
#415
Part 50:Fluktuasi Glukosa
Gw membuka pintu rumah yang sekarang jarang gw kunjungi "Mom, Mbak.." gw sedikit berteriak
Langkah kaki gw menuju sebuah suara nyanyian seorang wanita.
Mbak Oliv melepas earphonenya, melirik sebentar ke arah gw yang sudah berdiri di depan pintu kamar yang terbuka lebar, lalu memasangnya lagi. Ia yang tadinya berbaring tengkurap, merubah posisinya menjadi duduk, bersandar di sandaran tempat tidur. Gw mendekatinya, kemudian tiduran di atas pangkuannya. Gw hanya melamun, sedangkan Mbak Oliv asik sendiri dengan gadgetnya, sesekali ia mendendangkan beberapa kata dari lagu - lagu yang didengar melalui earphonenya.
Tangan gw meraih tangan kanannya, mengarahkannya ke rambut gw, dengan maksud 'ingin diusap - usap'. Tak ada penolakan, Mbak Oliv pun mengerti maksud gw. Karena terlalu nyaman, gw tertidur. Tak beberapa lama, tamparan lembutnya membuat gw terbangun dengan sedikit terkejut.
Di kedua telinganya sudah tidak terpasang earphone, gadgetnya pun sudah tidak ditangan.
"Kenapa?.." kedua tangannya mengusap-usap rambut gw
"Aku udah ketemu Shinta" jawab gw
"Izal udah cerita semua ke Mbak.." balasnya. Sudah gw duga, mulut Izal ga bakal bisa diam tentang kejadian ini.
"Yaudah sih, kamu coba ikhlasin." Kata Mbak Oliv
"Dan kamu harus tetep semangat, jangan jatuh sampai berlarut - larut. Ojo nangis, sak kabehan'e wis digaris" lanjutnya
Lagi - lagi gw hanya bisa diam. Sebenarnya logika gw berusaha untuk ikhlas. Tapi hati kecil gw masih ga percaya, kalau hari ini gw harus menerima kenyataan 'tresnoku kepentok restune wong tuwo'
"Ayok temenin Mbak beli makan, kamu pasti juga belum makan to?" ajak Mbak Oliv, gw hanya menggeleng
"Ke K*C loh? Beneran ga mau?" Tawarnya lagi
Gw beranjak dari pangkuannya "sayap, french fries, sama mocha float". Gw bersemangat
Tak berapa lama, kami sudah di K*C sebelah Akpol yang terletak di daerah Candi Baru. Kami berdua duduk berhadapan di meja yang terletak di luar, dengan maksud agar gw bisa merokok.
"Biasanya kalo patah hati, kamu ga nafsu makan dek.." Mbak Oliv mengelap tangannya yang masih sedikit basah sehabis cuci tangan.
"Yang ini agak beda Mbak. Emang sih sama - sama sakit, tapi gimana ya, aku juga bingung. Yang jelas, patah hati yang ini bukan karena dihianati, jadi aku bisa sedikit legowo. Malahan jadi kayak sebuah pemicu buat ngebuktiin, kalo suatu saat, aku bakalan jadi sukses. Mematahkan semua opini orang - orang yang nganggep remeh seorang 'Londo'". Gw menghisap rokok, menyemburkan asap ke panasnya udara siang hari, lalu menjentikkan abu nya ke bungkus ayam yang haya tersisa tulang - tulang dan ceceran saus tomat.
"Itu baru adek ku" senyum lebar mengembang di wajahya
Langkah kaki gw menuju sebuah suara nyanyian seorang wanita.
Mbak Oliv melepas earphonenya, melirik sebentar ke arah gw yang sudah berdiri di depan pintu kamar yang terbuka lebar, lalu memasangnya lagi. Ia yang tadinya berbaring tengkurap, merubah posisinya menjadi duduk, bersandar di sandaran tempat tidur. Gw mendekatinya, kemudian tiduran di atas pangkuannya. Gw hanya melamun, sedangkan Mbak Oliv asik sendiri dengan gadgetnya, sesekali ia mendendangkan beberapa kata dari lagu - lagu yang didengar melalui earphonenya.
Tangan gw meraih tangan kanannya, mengarahkannya ke rambut gw, dengan maksud 'ingin diusap - usap'. Tak ada penolakan, Mbak Oliv pun mengerti maksud gw. Karena terlalu nyaman, gw tertidur. Tak beberapa lama, tamparan lembutnya membuat gw terbangun dengan sedikit terkejut.
Di kedua telinganya sudah tidak terpasang earphone, gadgetnya pun sudah tidak ditangan.
"Kenapa?.." kedua tangannya mengusap-usap rambut gw
"Aku udah ketemu Shinta" jawab gw
"Izal udah cerita semua ke Mbak.." balasnya. Sudah gw duga, mulut Izal ga bakal bisa diam tentang kejadian ini.
"Yaudah sih, kamu coba ikhlasin." Kata Mbak Oliv
"Dan kamu harus tetep semangat, jangan jatuh sampai berlarut - larut. Ojo nangis, sak kabehan'e wis digaris" lanjutnya
Lagi - lagi gw hanya bisa diam. Sebenarnya logika gw berusaha untuk ikhlas. Tapi hati kecil gw masih ga percaya, kalau hari ini gw harus menerima kenyataan 'tresnoku kepentok restune wong tuwo'
"Ayok temenin Mbak beli makan, kamu pasti juga belum makan to?" ajak Mbak Oliv, gw hanya menggeleng
"Ke K*C loh? Beneran ga mau?" Tawarnya lagi
Gw beranjak dari pangkuannya "sayap, french fries, sama mocha float". Gw bersemangat
Tak berapa lama, kami sudah di K*C sebelah Akpol yang terletak di daerah Candi Baru. Kami berdua duduk berhadapan di meja yang terletak di luar, dengan maksud agar gw bisa merokok.
"Biasanya kalo patah hati, kamu ga nafsu makan dek.." Mbak Oliv mengelap tangannya yang masih sedikit basah sehabis cuci tangan.
"Yang ini agak beda Mbak. Emang sih sama - sama sakit, tapi gimana ya, aku juga bingung. Yang jelas, patah hati yang ini bukan karena dihianati, jadi aku bisa sedikit legowo. Malahan jadi kayak sebuah pemicu buat ngebuktiin, kalo suatu saat, aku bakalan jadi sukses. Mematahkan semua opini orang - orang yang nganggep remeh seorang 'Londo'". Gw menghisap rokok, menyemburkan asap ke panasnya udara siang hari, lalu menjentikkan abu nya ke bungkus ayam yang haya tersisa tulang - tulang dan ceceran saus tomat.
"Itu baru adek ku" senyum lebar mengembang di wajahya
Quote:
delet3 dan 9 lainnya memberi reputasi
10