- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.9K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#1083
PART 74
“HOOAAHH…!” lenguh gue meregangkan tubuh. “Selesai juga KKN tak berujung ini!”
“Lega?” tanyanya dari kursi pengemudi.
“Bangetlah.” Gue buka tas kecil gue dan mengambil sepuntung rokok terakhir dari kotak, “Si Bull pasti nyariin.”
“Kamu ngerokok lagi, Yang?!” tanyanya dengan nada yang bikin gue tersudut. “Kamu kan udah janji!”
“Ya di kampung kan enggak ada tukang recoil, Yang,” kata gue beralasan. “Gimana mau nge-vape kalo gitu coba? Masa iya kawat item masih mau dipake?”
“Ya maka dari itu sengaja aku kasih vape biar kamu enggak nge-vape,” omelnya coba merebut rokok di tangan gue. “Harusnya tiga puluh hari bisa jadi habit yang lebih baik!”
“Kalo udah terlalu terbiasa,” ucap gue menyalakan rokok di mulut. “Mana bisa biasain sesuatu yang enggak biasa.”
Emil menghentikan mobil secara tiba-tiba. Kepala gue secara praktis kejedot kaca depan karena posisi menyalakan rokok. Dia turun dari mobil dan pindah ke kursi belakang.
“Sopirin aku kalo gitu!” ucapnya ketus. “Biar kayak sopir beneran!”
“Siap, Bos,” terima gue berpindah ke kursi sopir.
Kangen, ya, kangen banget. Kangen banget sama suasana kayak gini. Gue yang selalu bikin kesalahan tapi enggak ada kata maklum dari Emil. Kalo salah ya hukuman, kalo bener ya pujian. Hal simpel yang kadang kita lupain tapi bisa bikin pasangan kita makin betah.
Di tahun ke-enam gue kenal sama Emil, hubungan kita berdua makin baik. Ya meskipun kadang ada ribut yang kita berdua perlu menjauh buat sama-sama introspeksi diri dulu, tetep aja kita pasti bisa selesaiin. Percaya sama pasangan, dan buktiin satu sama lain. Ya, gue rasa itu udah cukup buat jalanin sbuah hubungan yang berdasarkan atas kepercayaan.
Sama halnya gue yang percaya buat ninggalin Emil sendirian di Jogja, Emil juga percaya buat melepas gue di Boyolali. Sama halnya gue yang tau Emil pasti ada masalah selama gue pergi, dia juga paham kalo gue pasti berhadapan sama masalah gue sendiri. Sama halnya gue yang percaya kalo dia pasti bisa selesaiin masalahnya, dia juga percaya sama gue kalo permintaannya soal ‘semua yang ada di KKN berakhir di KKN’ pasti bisa gue kabulin.
Gue seneng bisa jalanin hubungan kayak gini.
“Mudik, yuk?” ucapnya tiba-tiba.
“Mudik?” ulang gue meyakinkan.
“iya, mudik.”
“Kamu ngelindur, Yang?”
“Enggaklah.”
“Nah, terus?”
“Ya lagi pengin mudik aja.”
“Kok random banget tiba-tiba ngajakin mudik? Terus kerjaanmu gimana?” tanya gue. “Kalo aku sih KKN udah bener-bener selesai, tinggal nunggu pengumuman nilainya aja. Nah, kalo kamu gimana? Apa kabar pasien kamu?”
“Enggak jadi, deh.”
“Lhoh…,” gumam gue tersenyum. “Dasar.”
“Ih… aku lagi pengin berduaan!” kata Emil yang tiba-tiba pindah ke kursi depan. “Enggak peka banget, sih!”
“Yaudah…, maunya kemana?” tanya gue sambil menyentil bara rokok agar terbang lalu mengantongi puntungnya. “Hutan Pinus? Apa Kali Biru? Bebas.”
“Astaghfirullah hal adzim!” Emil segera menggapai tasnya yang ada di kursi belakang, “Kamu ngomongin Kali Biru aku jadi inget Masayu.”
“Kali biru? Waktu itu kan aku sama Ar–”
Mulut gue tertutup ketika Emil menunjukkan sebuah foto di hapenya. Gue pinggirkan mobil untuk menepi dan menarik tuas rem. Dengan tangan yang mulai lemas gue raih hape Emil.
“Maaf,” ucap Emil lirih. “Aku baru keinget soal dia, maaf banget, Yang.”
Emil mengusap air mata yang entah dari kapan mulai muncul di sudut mata gue.
“Inna lillahi wa inna ilayhi raji'un.”
“HOOAAHH…!” lenguh gue meregangkan tubuh. “Selesai juga KKN tak berujung ini!”
“Lega?” tanyanya dari kursi pengemudi.
“Bangetlah.” Gue buka tas kecil gue dan mengambil sepuntung rokok terakhir dari kotak, “Si Bull pasti nyariin.”
“Kamu ngerokok lagi, Yang?!” tanyanya dengan nada yang bikin gue tersudut. “Kamu kan udah janji!”
“Ya di kampung kan enggak ada tukang recoil, Yang,” kata gue beralasan. “Gimana mau nge-vape kalo gitu coba? Masa iya kawat item masih mau dipake?”
“Ya maka dari itu sengaja aku kasih vape biar kamu enggak nge-vape,” omelnya coba merebut rokok di tangan gue. “Harusnya tiga puluh hari bisa jadi habit yang lebih baik!”
“Kalo udah terlalu terbiasa,” ucap gue menyalakan rokok di mulut. “Mana bisa biasain sesuatu yang enggak biasa.”
Emil menghentikan mobil secara tiba-tiba. Kepala gue secara praktis kejedot kaca depan karena posisi menyalakan rokok. Dia turun dari mobil dan pindah ke kursi belakang.
“Sopirin aku kalo gitu!” ucapnya ketus. “Biar kayak sopir beneran!”
“Siap, Bos,” terima gue berpindah ke kursi sopir.
Kangen, ya, kangen banget. Kangen banget sama suasana kayak gini. Gue yang selalu bikin kesalahan tapi enggak ada kata maklum dari Emil. Kalo salah ya hukuman, kalo bener ya pujian. Hal simpel yang kadang kita lupain tapi bisa bikin pasangan kita makin betah.
Di tahun ke-enam gue kenal sama Emil, hubungan kita berdua makin baik. Ya meskipun kadang ada ribut yang kita berdua perlu menjauh buat sama-sama introspeksi diri dulu, tetep aja kita pasti bisa selesaiin. Percaya sama pasangan, dan buktiin satu sama lain. Ya, gue rasa itu udah cukup buat jalanin sbuah hubungan yang berdasarkan atas kepercayaan.
Sama halnya gue yang percaya buat ninggalin Emil sendirian di Jogja, Emil juga percaya buat melepas gue di Boyolali. Sama halnya gue yang tau Emil pasti ada masalah selama gue pergi, dia juga paham kalo gue pasti berhadapan sama masalah gue sendiri. Sama halnya gue yang percaya kalo dia pasti bisa selesaiin masalahnya, dia juga percaya sama gue kalo permintaannya soal ‘semua yang ada di KKN berakhir di KKN’ pasti bisa gue kabulin.
Gue seneng bisa jalanin hubungan kayak gini.
“Mudik, yuk?” ucapnya tiba-tiba.
“Mudik?” ulang gue meyakinkan.
“iya, mudik.”
“Kamu ngelindur, Yang?”
“Enggaklah.”
“Nah, terus?”
“Ya lagi pengin mudik aja.”
“Kok random banget tiba-tiba ngajakin mudik? Terus kerjaanmu gimana?” tanya gue. “Kalo aku sih KKN udah bener-bener selesai, tinggal nunggu pengumuman nilainya aja. Nah, kalo kamu gimana? Apa kabar pasien kamu?”
“Enggak jadi, deh.”
“Lhoh…,” gumam gue tersenyum. “Dasar.”
“Ih… aku lagi pengin berduaan!” kata Emil yang tiba-tiba pindah ke kursi depan. “Enggak peka banget, sih!”
“Yaudah…, maunya kemana?” tanya gue sambil menyentil bara rokok agar terbang lalu mengantongi puntungnya. “Hutan Pinus? Apa Kali Biru? Bebas.”
“Astaghfirullah hal adzim!” Emil segera menggapai tasnya yang ada di kursi belakang, “Kamu ngomongin Kali Biru aku jadi inget Masayu.”
“Kali biru? Waktu itu kan aku sama Ar–”
Mulut gue tertutup ketika Emil menunjukkan sebuah foto di hapenya. Gue pinggirkan mobil untuk menepi dan menarik tuas rem. Dengan tangan yang mulai lemas gue raih hape Emil.
“Maaf,” ucap Emil lirih. “Aku baru keinget soal dia, maaf banget, Yang.”
Emil mengusap air mata yang entah dari kapan mulai muncul di sudut mata gue.
“Inna lillahi wa inna ilayhi raji'un.”
JabLai cOY dan 2 lainnya memberi reputasi
3
