Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.

Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.

Quote:


Quote:


Spoiler for Sinopsis:


Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
pulaukapokAvatar border
genji32Avatar border
andybtgAvatar border
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.3K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#1069
PART 71

“Karena udah sama-sama matang kali ya makanya abang mimpiinnya mbak Melly,” papar Luther seenak jidat.
“Jadi selera abang tuh yang seumuran,” tambah Bull. “Pantesan dideketin sama Sasha lempeng aja. Gue sempat ngira bang Dawi tuh gay, lho. Ternyata selera emang enggak bisa dibohongi.”
“Gausah norak gitu,” timpal Yansa. “Dari awal kan emang selera orang beda-beda.”
“Lo bertiga kalo enggak bisa diem gue ceburin ini mobil ke sawah.”

Jam setengah dua siang kita berempat baru balik dari kelurahan. Bukan, kita bukan dari demo minta ganti lurah, bukan. Bukan juga dari godain anak unit lain yang kebetulan berangkat demo minta ganti lurah, bukan. Apalagi dari ngecengin perangkat desa yang kebetulan isinya cewek single dan matang semua yang tiap kita sapa selalu ngasih nomor hape dengan muka manis, bukan.

Kita baru aja memberikan kopian laporan akhir kegiatan kita selama di desa KKN sesuai yang kampus kita perintahkan. Kenapa harus berempat? Biasa juga si Bull sama Melly doang, kan? Pertanyaan yang bagus, tapi sebenernya pertanyaan yang enggak terlalu bagus juga.
Tadinya si Bull oke-oke aja anterin laporan itu sendiri, tapi begitu Luther pamer dia bisa santai-santai di rumah unit selama si Bull capek-capek ke kelurahan, dia jadi kesel. Ya mau enggak mau si Bull maksa Luther buat ikut. Gara-gara Luther ikut, si Yansa dipaksa ikut juga karena Luther enggak percaya dia bakalan enggak gunain waktu tanpa Luther buat deketin Dinda. Dan karena si Yansa ikut itulah gue juga terpaksa buat ikut karena kata Yansa, “Abang enak banget di sini sendirian! Ikutlah!”

Well, tau sendiri kan kenapa gue bilang pentanyaan yang enggak terlalu bagus juga. Luther adalah segala penyebab sesuatu yang enggak enak di masa KKN kita semua. Kalo tiba-tiba masakan Echa enggak enak, pasti itu ulah Luther. Kalo tiba-tiba cuaca enggak kondusif, pasti itu ula Luther. Dan bahkan, kalo lo ngalamin KKN, dan tiba-tiba ada satu hal yang enggak ngenakin. Gue yakin, itu pasti perbuatan Luther. Ya meski gue sadar kalian enggak kenal siapa itu Luther dan darimana dia berasal, tetep aja itu pasti ulah Luther. Percaya sama gue, Luther, itu pasti ulah Luther!

“Bahagia ya, Bang,” ucap Luther.
“Kenapa lo?” tanya gue mengambil rokok dari tangannya.
“Ya enggak,” katanya lagi. “Bahagia aja.”
“Konsep bahagia lo tuh sebenernya kayak gimana sih, Luth?” sahut Yansa. “Gue jadi penasaran.”
“Kalo lagi KKN nih ya, makan pagi makan masakannya Echa,” jelas Luther memperagakan sambil merem melek. “Apalagi sambil lihatin pohon-pohon di arah utara.”
“Arah utara?” tanya gue. “Bukannya itu arah kuburan?”
“Kebanyakan gaul sama Dinda begitu tuh,” timpal Bull. “Ngeri juga kan, Bang?”
“I-iya, sih.”
“Halah…, sirik aja kalian bertiga,” keluh Luther. “Kalo kalian bertiga bahagia waktu KKN itu gimana? Enggak boleh samaan!”
“Kalo gue sih… dapet sinyal buat telepon ke Jogja,” kata gue terus terang. “Itu bahagia gue.”
“Kalo gue bisa libur dari nganterin mbak Melly ke kelurahan,” ucap Bull. “Lega gila tidur di kasur kapuk walaupun enggak empuk-empuk banget.”
“Kalo lo, Yan?” tanya Luther.
“Bahagia KKN gue?”
“Iyalah.”
“Kalo buat saat ini kayaknya enggak ada, deh,” jawab Yansa seolah-olah bener-bener enggak ada momen yang membahagiakan.
“Kok enggak ada?” kata Luther enggak terima. “Lo enggak bahagia kenal sama kita?”
“Ya bukannya gitu ya, Luth,” jelas Yansa. “Kalo kenal sama anak-anak gue sih bahagia…, tapi kenal sama lo, gue enggak terlalu bahagi–”
“Baha apaan?”
Yansa menatap Luther dalam-dalam, “Bahagia KKN gue kalo KKN enggak ada lo.”

Gue, Bull, dan Luther seketika terhenyak. Suasana mendadak suram, dan penuh hawa kebencian. Yansa terlalu terus terang. Enggak cuma mungkin, tapi pasti perasaan Luther tersakiti mendengan perkataan Yansa.

“Gue setuju sih kalo itu,” timpal gue.
“Abang?!” seru Luther terdengar berat karena sulit menerima.
“I-iya sih,” tambah si Bull. “Kalo enggak ada Luther kayaknya KKN gue bakal lebih bahagia, deh.”
“Bener, kan?” tanya Yansa.
“Bodo deh sama enggak ada sinyal,” kata gue. “Enggak ada Luther gue lebih bahagia!”
“Anter mbak Melly kemana aja hayuk! Asal enggak ada Luther!”
“Dinda bantu aku Dinda,” ucap Luther merapalkan mantra dengan tangan mengepal di depan mulutnya. “Celakakanlah mobil kami, Dinda!”
pulaukapok
JabLai cOY
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.