- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#7260
Keputusan Sekar Kencana...
Sontak kedua orang tuanya Anggie menyunggingkan senyuman dan mulai kembali fokus mendengarkan ucapan lanjutan yang akan segera gw lisankan..
“Saya akan tinggal dirumah pemberian Papah dengan syarat, saya akan mencicil setengah dari harga rumah itu tiap bulannya.. Dan mohon maaf, keputusan saya sudah bulat tanpa bisa lagi di tawar-tawar” Lanjut gw dengan wajah menyiratkan ketegasan..
Untuk beberapa saat, Mamah dan Papahnya Anggie saling menatap.. Lalu hampir bersamaan menghela nafas panjang..
“Oke! Papah terima syarat kamu, Mam.. Ini kunci rumah kalian” Jawab Papahnya Anggie sambil menyodorkan serangkaian anak kunci..
“Satu lagi, Pah.. Saya harus diperbolehkan membawa Ibu dan Adik saya ke rumah itu, kapan pun saya mau”
“Tentu saja.. Itu hak kamu.. Karena memang rumah itu milik kamu dan Anggie, Mam.. Oh iya, soal cicilan rumah yang kamu sebutkan tadi, Papah rencana nya mau sedekahin uang dari kamu tiap bulannya ke Yayasan yang Papah jadi donatur rutin disana”
“Beneran, Pah? Subhanallah.. Rizki Papah pasti akan terus nambah nantinya” Sambar Anggie yang langsung memeluk Papahnya dengan sangat erat..
“Aamiin” Sahut Mamahnya Anggie yang seketika tersipu begitu Papahnya melirik ke arah beliau..
Gw yang mendengar keputusan Papah mertua barusan, ikut merasa bahagia.. Mudah-mudahan Papah mertua gw itu benar-benar sudah sepenuhnya berubah.. Ibu pun sempat menyimpulkan sebuah senyuman manis ke arah gw.. Tatapan mata tajam nya yang sedari tadi mengintimidasi diri ini, berganti sebuah tatapan penuh kebanggaan..
Selepas kedua mertua gw berpamitan, kami semua bergegas mencari kesibukan masing-masing.. Gw yang merasa lelah sehabis menjadi pengantin hampir setengah hari, memutuskan untuk beristirahat didalam kamar.. Sementara, Anggie diajak Ibu untuk menimpali ngobrol beberapa orang tetangga yang bertamu, karena kebetulan tidak bisa datang ke resepsi pernikahan kami di gedung tadi..
Sekar Kencana dan Bayu Barata yang sudah berada di dalam kamar gw nampak sedang terdiam tanpa ada satu pun yang memulai pembicaraan.. Entah lah, semenjak Bayu Barata mengungkap kan perasaannya yang selama ratusan tahun terpendam untuk Sekar Kencana, hubungan mereka berdua terasa kaku..
“Sekar, bagaimana hubungan mu dengan Jagat Tirta? Kau berjanji pada ku akan menceritakan soal itu setelah acara pernikahan ku selesai”
Sekar Kencana terlihat sedikit terkejut mendengar pertanyaan gw yang langsung to the point tanpa mengawalinya dengan basa basi.. Untuk sesaat, Jin penjaga gw yang pertama itu sempat melirik Bayu Barata.. Lalu, melempar pandangan kembali ke arah gw..
“Maaf, Raden.. Aku mohon izin untuk pergi sejenak.. Aku ingin menemani Ki Larang memperkuat Pagar Gaib buatan Sekar Kencana di luar rumah mu.. Setelah itu, aku akan menemani nya pula membuat Pagar Gaib yang sama di rumah yang akan ku dan isteri mu tinggali kelak” Kata Bayu Barata, yang sudah melayang berdiri dan merapatkan kedua telapak tangan didepan dada..
Gw yang baru mengetahui apa yang sedang Ki Larang lakukan saat ini, sempat berdecak kagum dalam hati.. Jin utusan Kakek Moyang nya Anggie itu ternyata sedang mempersiapkan penjagaan ekstra ketat selama gadis yang ia jaga tinggal disini.. Mungkin beliau tidak mau sampai kecolongan untuk kedua kalinya, seperti apa yang sudah Viny lakukan beberapa saat lalu..
Sebenarnya gw juga menyadari kepergian Bayu Barata meninggalkan tempat ini bukan semata-mata ingin menemani Ki Larang.. Namun lebih disebabkan karena ia tak mau ikut mendengar jawaban Sekar Kencana atas pertanyaan gw tadi.. Sesaat sebelum Bayu Barata menghilang, gw sempat melihat pandangan mata nya melirik sayu ke arah Sekar Kencana yang sedang menatap kosong dinding kamar gw sambil memilin ujung Selendang Emas.. Sorot mata yang menyiratkan kepedihan cinta yang tak terbalas, nampak jelas tersirat di kedua mata Bayu Barata..
“Bayu Barata telah pergi, Sekar,, Kau bisa menceritakan segala nya tentang hubungan mu dengan jagat Tirta tanpa harus merasa sungkan lagi”
Sekar Kencana terlihat menghela nafas dalam-dalam sambil menjatuh kan ujung Selendangnya dan berganti menumpuk kedua telapak tangan diatas paha nya yang tertekuk ke bawah tepian tempat tidur..
“Entah lah, Kang Mas.. Mungkin kau melihat perbedaan yang nampak diantara aku dan Bayu Barata.. Aku sendiri bingung harus bertingkah seperti apa jika sedang berada disebelahnya.. Aku sudah mencoba bersikap sangat biasa.. Namun jika aku kembali ingat akan perasaannya yang selama ini tersimpan dalam kurun waktu ratusan tahun, entah mengapa selalu timbul rasa bersalah dalam hati ini.. Aku merasa harus sangat berhati-hati dalam bertutur kata dan bersikap di dekat Bayu Barata.. Aku takut, perasaannya itu akan bertambah semakin kuat” Ucap Sekar Kencana yang berbicara sambil menatap gw dengan raut.wajah terlihat bingung..
Gw sengaja tidak segera memberikan komentar tentang penuturan Sekar Kencana barusan.. Karena ingin mendengar ia menjawab pertanyaan gw di awal tentang hubungannya dengan Jagat Tirta..
“Seperti yang kau ketahui, Kang Mas.. Ki Larang membawa ku dan Bayu Barata untuk mengembalikan ingatan kami yang sempat di pendam olehnya menggunakan Ajian Puter Angen.. Aku sebenarnya bahagia mengetahui segala kebenaran yang selama ini tertutupi, akhirnya terbuka.. Namun, bahagia ku tiba-tiba terasa hambar begitu melihat kedatangan suami ku, Kakang Jagat Tirta.. Kau tahu, Kang Mas.. Hati ini terasa sangat sakit seolah telah diluluh lantakkan sebuah Ajian maha dahsyat, kala melihat suami ku sendiri sedang menggenggam jemari Roro Suwastri sambil menatap wajah cantik cinta pertama nya itu dengan penuh kasih” Di kalimat ini, Sekar Kencana nampak menghentikan ucapan, karena terpaksa mengigit bibir bawah untuk mengurangi rasa sakit dalam batin yang terlihat kembali tersirat jelas di wajah cantiknya..
Gw yang melihat Sekar Kencana nampak sedang berusaha menahan air mata jangan sampai jatuh menetes dari kedua indera penglihatannya yang mulai berkaca-kaca, ikut merasa prihatin.. Jika ingat akan sikap plin plan Jagat Tirta di masa itu, gw juga menjadi geram sendiri..
Sekali lagi, Sekar Kencana terlihat menghela nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.. Lalu, ia dengan gerakan cukup cepat menyapu genangan air mata yang memenuhi kedua kelopak mata..
“Kakang Jagat Tirta sudah meminta maaf dan mengajak ku untuk kembali hidup bersama nya.. Tapi, aku menolak, Kang Mas”
Gw cukup terkejut mendengar kalimat terakhir yang dilisankan Sekar Kencana sambil menyimpulkan sebuah senyuman kecil..
“Mengapa kau menolaknya, Sekar? Bukan kah selama ini kau sangat mengidamkan hal itu.. Maksud ku, kau sangat ingin kembali bersatu dengan suami mu, Jagat Tirta kan?”
Sekar Kencana yang sempat menundukkan wajah, kembali menyimpulkan senyuman kecil saat ia mengangkat kepala dan menatap ke arah gw lagi..
“Selayaknya kaum mu, Kang Mas.. Jin seperti diriku pun memiliki perasaan yang cukup peka.. Hati yang berbeda bentuk nya dengan hati mu ini, bisa sangat mudahnya berdarah jika terluka.. Hati ini, bisa hancur berkeping-keping jika di hantam pengkhianatan.. Aku menolak ajakan Kakang Jagat Tirta, karena aku memerlukan waktu untuk kembali menyatukan pecahan-pecahan hati ku yang telah hancur.. Dan aku yakin kau pun tahu betapa sulitnya memulihkan hati yang telah hancur, seperti yang sempat kau alami dulu, Kang Mas?” Jawab Sekar Kencana dengan kalimat terakhir yang terasa sedikit menyindir..
Gw langsung menggaruk-garuk kepala yang tak terasa gatal setelah berhasil dipojokkan Jin Penjaga gw sendiri dengan sindiran halus..
“Ya elaaah.. Bisa banget balikinnya si Sekar” Ucap gw dalam hati dengan wajah tertekuk, yang ternyata membuat Sekar seketika tertawa terbahak-bahak karena mungkin mendengar keluhan dalam batin ini..
Perlahan, gw mulai bangkit dari bangku belajar tempat gw duduk, dan mengambil bungkusan rokok milik gw yang ada dalam laci meja belajar.. Masih dengan wajah masam, gw mengeluarkan sebatang rokok dan mematikan AC serta membuka jendela kamar selebar mungkin..
“Kang Mas, saran ku sebaiknya kau memakai benda yang bentuknya seperti tempurung kelapa itu terlebih dahulu jika ingin membakar dan menghisap benda ditanganmu.. Kau tahu isteri mu bisa kapan saja masuk ke dalam kamar ini, bukan?” Kata Sekar, sambil melirik ke arah Helm Full Face bercorak merah strip putih merk K*T NFR milik gw yang ada di atas lemari pakaian..
Membenarkan ucapan Sekar tadi, gw pun kembali memasukkan sebatang rokok dan duduk di atas meja belajar sambil memandangi suasana diluar rumah yang terpampang jelas dari balik jendela.. Sebenarnya, gw sedang sangat ingin sekali merokok.. Tapi, peringatan Sekar membuat gw memilih menyelamatkan kepala dari pada tetap nekat menghisap rokok namun akan di keprok Anggie dari belakang..
“Sekar, tentang Bayu Barata, aku rasa kau harus bisa bersikap biasa seperti dahulu sebelum ia mengungkapkan perasaannya yang terpendam kepada mu.. Aku tidak ingin hubungan kalian menjadi kaku satu sama lain.. Apalagi sekarang kau sudah memutuskan untuk menolak ajakan kembali bersama dari suamimu, Jagat Tirta” Ucap gw seraya meliriknya untuk sesaat, lalu memandang lagi ke luar jendela..
Sekar Kencana sendiri terlihat melayang bangkit dari sisi tempat tidur dan mendekat ke arah jendela.. Baik gw dan Sekar untuk beberapa lamanya tersenyum memandangi dua ekor burung gereja yang, nampak sedang terbang berkejaran dan sempat hinggap persis diatas lantai luar kamar gw, lalu terbang kembali begitu terdengar suara motor cukup bising diluar pagar..
“Aku berjanji akan mencoba nya, Kang Mas.. Meski aku tahu hal itu akan sedikit sulit untukku” Jawab Sekar Kencana yang membuat gw merasa jauh lebih lega..
Saat gw dan Sekar kembali terdiam menikmati pemandangan diluar kamar, mendadak dari arah belakang terdengar suara orang berdehem.. Sontak gw dan Sekar Kencana hampir berbarengan menoleh dan melihat isteri gw Anggie sudah berdiri sambil senyum-senyum sendiri..
“Aku ganggu yah?” Tanya Anggie yang sepertinya sengaja menggoda kami..
“Kang Mas, aku mohon diri untuk menyusul Bayu Barata dan Ki Larang” Kata Sekar, setelah menundukkan kepala tanda hormat sambil tersenyum ke arah Anggie..
Gw yang melihat reaksi Anggie yang membalas senyuman Sekar Kencana dengan senyuman lain sedikit nakal, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.. Lalu berjalan menuju pintu dan menutup serapat mungkin serta menguncinya dari dalam..
“Kenapa dikunci pintunya, Beb?” Tanya Anggie yang sudah duduk diatas tempat tidur..
“Engga kenapa-napa.. Aku gerah aja mau nyalain AC nya” Jawab gw seraya berjalan dan kembali menutup jendela yang terbuka lebar..
“Kamu sama Sekar kek nya deket banget ya, Beb?” Tanya Anggie lagi saat gw sudah duduk bersebelahan dengannya..
Gw sempat mengerutkan dahi mendengar pertanyaan aneh Anggie.. Lalu mengambil remote AC di samping dan menghidupkan alat penyejuk ruangan itu..
“Kamu koq tumben nanya gitu, Yank? Jealous yak?”
“Iiih, ngapain aku jealous coba.. Jin Penjaga aku juga ga kalah cakep.. Badannya atletis lagi.. Gak kek kamu yang kerempeng” Jawab Anggie dengan wajah tertekuk..
Gw yang mendengar jawaban sebal Anggie sempat tertawa, dan langsung memeluk tubuhnya serta merebahkan paksa gadis itu diatas tempat tidur.. Alhasil, Anggie seketika berteriak kencang.. Namun, gw cepat-cepat berpindah ke atas Anggie dan membungkam mulut gadis itu dengan sebuah ciuman, karena takut teriakan nya tadi terdengar oleh Ibu..
“Kamu apa-apaan sih?” Tanya Anggie dengan wajah sudah merona dan kedua pergelangan tangan tercengkram diatas tempat tidur..
“Aku lagi horny banget, yank.. Kamu beneran masih dapet yak?” Jawab gw sambil terus memegangi pergelengan tangan Anggie dengan sangat erat dan kembali mencoba mencium bibir nya..
Akan tetapi, Anggie berhasil berontak dan langsung memiringkan tubuhnya sambil tertawa dengan wajah tertutup.. Melihat hal itu, gw tanpa basa basi menghujani pinggang Anggie dengan kelitikan yang membuat gadis itu teriak-teriak meminta ampun..
“Udah, Beb.. Udah.. Aku paling ga sanggup kalo dikelitikin” Pinta nya dengan wajah memerah dan sesekali masih tertawa..
Posisi gw dan Anggie yang sekarang sudah sama-sama rebah diatas tempat tidur dengan posisi miring berhadapan, membuat jarak antara wajah kami berdua sangat dekat.. Anggie sempat bangkit untuk melepas hijabnya karena gerah dan kembali merebahkan diri seperti semula.. Dari jarak yang cukup dekat itu, gw sesekali tersenyum karena sangat menikmati kecantikan gadis yang sekarang statusnya sudah resmi menjadi isteri gw..
“Kamu beneran lagi horny?” Tanya Anggie setelah mengecup kening ini..
Gw mengangguk kan kepala dan mencoba mencium bibir Anggie.. Namun, gadis itu menutup mulut gw dengan dua jari telunjuk dan jari tengah..
“Ini hari terakhir aku dapet, Beb.. Jadi kamu mau ga mau harus sabar nunggu sampe besok, ga apa-apa kan?” Ucap nya dengan suara lembut..
“Yahh.. Ga bisa malem pertamaan donk nanti malem, Yank” Kata gw seraya menekuk wajah dan mengganti posisi menjadi duduk bersila diatas tempat tidur..
Anggie yang ikut bangkit, perlahan mengecup pipi kanan gw dan memeluk lengan ini dengan sangat erat..
“Maaf ya, Beb.. Ini kan emang udah jadwal rutin aku get period.. Tapi, kata Mamah kalo ada pengantin cewe yang menstruasi pas habis nikah, dia bakal cepet dapet keturunan loh”
“Masa sih, mitos itu mah, Yank?” Sela gw dengan wajah masih tertekuk..
“Eeh, beneran.. Bukti nya Mamah aku kek gitu, Beb.. Kamu coba tanya Ibu deh.. Pasti jawabannya sama” Sahut Anggie tak mau kalah..
Gw sempat mencibir omongan Anggie, namun dengan cepat gadis itu mencubit pinggang ini dan berganti membuat gw menjerit kencang.. Tiba-tiba, dari arah pintu terdengar ketukan cukup keras disusul panggilan Ibu setelahnya.. Sambil mengusap-usap pinggang yang terasa panas perih, gw berjalan menuju pintu dan segera membukanya.. Diluar, Ibu terlihat tertegun memandang gw dari atas kepala sampai ujung kaki..
“Kenapa, Bu?” Tanya gw yang memang bingung melihat wajah Ibu..
Bukannya langsung menjawab, Ibu malah menarik lengan gw hingga kami bergeser dua meter dari pintu kamar..
“Ibu kenapa sih, aneh banget dah?”
“Sssttt... Ibu mau tanya.. Kamu lagi begituan yah sama Anggie di kamar?” Tanya Ibu yang membuat gw cukup terkejut sekaligus geli mendengar pertanyaan nya..
“Ishh.. Ibu serius.. Kamu kalo mau begituan jangan siang-siang begini donk, Bang.. Tunggu nanti malem apa susahnya sih.. Manahan Ibu denger tadi Anggie pake segala jerit lagi.. Terus kamu juga ikut teriak kesakitan.. Kalo didenger tetangga kan malu, Bang”
Sontak gw tertawa terbahak-bahak sambil sempat melirik ke arah Anggie yang terlihat sedang berjalan keluar dari kamar dan menghampiri kami..
“Duhh.. Kamu kek nya seneng banget, Beb.. Abis dapet kabar apa nih dari Ibu?” Tanya Anggie seraya tersenyum ke arah Ibu..
“Itu, Yank.. Ibu lucu banget.. Masa kita disangka lagi begituan dikamar siang-siang begini” Jawab gw sembari sesekali suara tawa menyelingi kalimat..
Ibu sontak melotot ke arah gw dengan wajah yang sama merona nya dengan Anggie.. Lalu, wanita yang paling gw sayangi itu menjewer telinga kanan dan seketika membuat gw mengaduh kesakitan..
“Kamu tuh yah, kebiasaan mulutnya suka ga bisa di kontrol” Kata Ibu dengan nada sedikit membentak..
“Iya, iya maafin abang bu.. Abang cuma bercanda koq” Jawab gw dengan wajah meringis menahan sakit di telinga..
“Kami tadi cuma bercanda aja, Bu.. Lagipula, aku nya lagi halangan di hari terakhir” Kata Anggie, yang membuat Ibu langsung melepas jeweran dan berganti memegangi tangan menantunya itu..
“Beneran kamu lagi mens, sayang?” Tanya Ibu sambil menatap wajah Anggie dalam-dalam dan disambut anggukan kepala nya..
“Aduuh, Ibu koq jadi deg-deg an gini yah.. Biasa nya kalo pengantin wanita menstruasi di hari pernikahannya, dia bakal cepet hamil.. Mudah-mudahan kalian berdua bisa secepetnya kasih Ibu cucu yah”
“Aaminn Yaa Rabb” Sahut Anggie sambil memegangi perutnya..
“Nahh, kalo Ibu mau Abang kasih cucu cepet-cepet, besok malem Ibu sama Ayu tidurnya dari sore yah.. Kan abang mau proses dulu sama Anggie” Sambung gw dengan melingkarkan tangan dipinggang Anggie..
“Mulai lagi deh tuh mulutnya ga bisa di jaga.. Kek nya kuping yang iri enak buat di jewer nih”
Mendengar ancaman Ibu gw langsung ngibrit kembali masuk ke dalam kamar, disusul suara tawa Ibu dan Anggie yang terdengar dari arah belakang..
Malam harinya, selepas makan malam dan Shalat Isya berjamaah yang diimami oleh gw, kami semua beranjak ke ruang tengah untuk ngobrol ringan.. Gw sempat meminta izin ke Anggie untuk merokok di luar setelah makan.. Awalnya Anggie tidak mengizinkan, tapi karena ia tidak melihat gw seharian belum merokok, akhirnya diperbolehkan dengan syarat hanya satu batang saja tidak lebih..
Tepat pukul setengah sepuluh malam, Anggie nampak sudah beberapa kali menguap.. Gw yang melihat kedua mata isteri gw itu mulai merah karena mengantuk, berinisiatif untuk mengajaknya istirahat didalam kamar.. Dengan hanya memakai singlet dan boxer hitam, gw mulai merebahkan diri diatas tempat tidur dengan dipeluk oleh Anggie yang juga sudah rebah di sebelah..
“Beb, kamu ngerasa ini semua kek mimpi ga?” Tanya Anggie sambil memainkan alis mata gw yang cukup tebal hampir bersambung..
“Maksud kamu?”
“Engga.. Maksud nya, aku ga nyangka aja kita akhirnya bisa menikah.. Kamu kan tau sendiri hubungan kita dulu kek gimana.. Banyak banget ujian yang harus kita hadapi.. Bahkan kita berdua pernah hampir sama-sama ingin menyerah, karena ngerasa ga sanggup buat lanjutin.. Tapi, takdir Allah itu memang indah ternyata.. Segala ujian yang kita berdua pernah lewati, akhirnya bisa berbuah manis.. And I’m feeling so much happy at the moment” Ucap Anggie dengan kedua mata nampak mulai berkaca-kaca..
Gw yang melihat Anggie hampir menangis karena terharu, perlahan mengecup keningnya dan menarik kepala isteri gw itu hingga rebah diatas dada..
“Alhamdulillah Yaa Allah, akhirnya kau menyatukan kami berdua dalam ikatan tali suci.. Hamba berjanji akan menjaga ikatan ini dan terus mencintai serta menjaga wanita yang kau ciptakan dari tulang rusuk hamba selama nya.. Aamiin” Ucap gw yang tertuang dalam doa di sanubari, dengan kedua mata mulai terpejam..
Sontak kedua orang tuanya Anggie menyunggingkan senyuman dan mulai kembali fokus mendengarkan ucapan lanjutan yang akan segera gw lisankan..
“Saya akan tinggal dirumah pemberian Papah dengan syarat, saya akan mencicil setengah dari harga rumah itu tiap bulannya.. Dan mohon maaf, keputusan saya sudah bulat tanpa bisa lagi di tawar-tawar” Lanjut gw dengan wajah menyiratkan ketegasan..
Untuk beberapa saat, Mamah dan Papahnya Anggie saling menatap.. Lalu hampir bersamaan menghela nafas panjang..
“Oke! Papah terima syarat kamu, Mam.. Ini kunci rumah kalian” Jawab Papahnya Anggie sambil menyodorkan serangkaian anak kunci..
“Satu lagi, Pah.. Saya harus diperbolehkan membawa Ibu dan Adik saya ke rumah itu, kapan pun saya mau”
“Tentu saja.. Itu hak kamu.. Karena memang rumah itu milik kamu dan Anggie, Mam.. Oh iya, soal cicilan rumah yang kamu sebutkan tadi, Papah rencana nya mau sedekahin uang dari kamu tiap bulannya ke Yayasan yang Papah jadi donatur rutin disana”
“Beneran, Pah? Subhanallah.. Rizki Papah pasti akan terus nambah nantinya” Sambar Anggie yang langsung memeluk Papahnya dengan sangat erat..
“Aamiin” Sahut Mamahnya Anggie yang seketika tersipu begitu Papahnya melirik ke arah beliau..
Gw yang mendengar keputusan Papah mertua barusan, ikut merasa bahagia.. Mudah-mudahan Papah mertua gw itu benar-benar sudah sepenuhnya berubah.. Ibu pun sempat menyimpulkan sebuah senyuman manis ke arah gw.. Tatapan mata tajam nya yang sedari tadi mengintimidasi diri ini, berganti sebuah tatapan penuh kebanggaan..
Selepas kedua mertua gw berpamitan, kami semua bergegas mencari kesibukan masing-masing.. Gw yang merasa lelah sehabis menjadi pengantin hampir setengah hari, memutuskan untuk beristirahat didalam kamar.. Sementara, Anggie diajak Ibu untuk menimpali ngobrol beberapa orang tetangga yang bertamu, karena kebetulan tidak bisa datang ke resepsi pernikahan kami di gedung tadi..
Sekar Kencana dan Bayu Barata yang sudah berada di dalam kamar gw nampak sedang terdiam tanpa ada satu pun yang memulai pembicaraan.. Entah lah, semenjak Bayu Barata mengungkap kan perasaannya yang selama ratusan tahun terpendam untuk Sekar Kencana, hubungan mereka berdua terasa kaku..
“Sekar, bagaimana hubungan mu dengan Jagat Tirta? Kau berjanji pada ku akan menceritakan soal itu setelah acara pernikahan ku selesai”
Sekar Kencana terlihat sedikit terkejut mendengar pertanyaan gw yang langsung to the point tanpa mengawalinya dengan basa basi.. Untuk sesaat, Jin penjaga gw yang pertama itu sempat melirik Bayu Barata.. Lalu, melempar pandangan kembali ke arah gw..
“Maaf, Raden.. Aku mohon izin untuk pergi sejenak.. Aku ingin menemani Ki Larang memperkuat Pagar Gaib buatan Sekar Kencana di luar rumah mu.. Setelah itu, aku akan menemani nya pula membuat Pagar Gaib yang sama di rumah yang akan ku dan isteri mu tinggali kelak” Kata Bayu Barata, yang sudah melayang berdiri dan merapatkan kedua telapak tangan didepan dada..
Gw yang baru mengetahui apa yang sedang Ki Larang lakukan saat ini, sempat berdecak kagum dalam hati.. Jin utusan Kakek Moyang nya Anggie itu ternyata sedang mempersiapkan penjagaan ekstra ketat selama gadis yang ia jaga tinggal disini.. Mungkin beliau tidak mau sampai kecolongan untuk kedua kalinya, seperti apa yang sudah Viny lakukan beberapa saat lalu..
Sebenarnya gw juga menyadari kepergian Bayu Barata meninggalkan tempat ini bukan semata-mata ingin menemani Ki Larang.. Namun lebih disebabkan karena ia tak mau ikut mendengar jawaban Sekar Kencana atas pertanyaan gw tadi.. Sesaat sebelum Bayu Barata menghilang, gw sempat melihat pandangan mata nya melirik sayu ke arah Sekar Kencana yang sedang menatap kosong dinding kamar gw sambil memilin ujung Selendang Emas.. Sorot mata yang menyiratkan kepedihan cinta yang tak terbalas, nampak jelas tersirat di kedua mata Bayu Barata..
“Bayu Barata telah pergi, Sekar,, Kau bisa menceritakan segala nya tentang hubungan mu dengan jagat Tirta tanpa harus merasa sungkan lagi”
Sekar Kencana terlihat menghela nafas dalam-dalam sambil menjatuh kan ujung Selendangnya dan berganti menumpuk kedua telapak tangan diatas paha nya yang tertekuk ke bawah tepian tempat tidur..
“Entah lah, Kang Mas.. Mungkin kau melihat perbedaan yang nampak diantara aku dan Bayu Barata.. Aku sendiri bingung harus bertingkah seperti apa jika sedang berada disebelahnya.. Aku sudah mencoba bersikap sangat biasa.. Namun jika aku kembali ingat akan perasaannya yang selama ini tersimpan dalam kurun waktu ratusan tahun, entah mengapa selalu timbul rasa bersalah dalam hati ini.. Aku merasa harus sangat berhati-hati dalam bertutur kata dan bersikap di dekat Bayu Barata.. Aku takut, perasaannya itu akan bertambah semakin kuat” Ucap Sekar Kencana yang berbicara sambil menatap gw dengan raut.wajah terlihat bingung..
Gw sengaja tidak segera memberikan komentar tentang penuturan Sekar Kencana barusan.. Karena ingin mendengar ia menjawab pertanyaan gw di awal tentang hubungannya dengan Jagat Tirta..
“Seperti yang kau ketahui, Kang Mas.. Ki Larang membawa ku dan Bayu Barata untuk mengembalikan ingatan kami yang sempat di pendam olehnya menggunakan Ajian Puter Angen.. Aku sebenarnya bahagia mengetahui segala kebenaran yang selama ini tertutupi, akhirnya terbuka.. Namun, bahagia ku tiba-tiba terasa hambar begitu melihat kedatangan suami ku, Kakang Jagat Tirta.. Kau tahu, Kang Mas.. Hati ini terasa sangat sakit seolah telah diluluh lantakkan sebuah Ajian maha dahsyat, kala melihat suami ku sendiri sedang menggenggam jemari Roro Suwastri sambil menatap wajah cantik cinta pertama nya itu dengan penuh kasih” Di kalimat ini, Sekar Kencana nampak menghentikan ucapan, karena terpaksa mengigit bibir bawah untuk mengurangi rasa sakit dalam batin yang terlihat kembali tersirat jelas di wajah cantiknya..
Gw yang melihat Sekar Kencana nampak sedang berusaha menahan air mata jangan sampai jatuh menetes dari kedua indera penglihatannya yang mulai berkaca-kaca, ikut merasa prihatin.. Jika ingat akan sikap plin plan Jagat Tirta di masa itu, gw juga menjadi geram sendiri..
Sekali lagi, Sekar Kencana terlihat menghela nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.. Lalu, ia dengan gerakan cukup cepat menyapu genangan air mata yang memenuhi kedua kelopak mata..
“Kakang Jagat Tirta sudah meminta maaf dan mengajak ku untuk kembali hidup bersama nya.. Tapi, aku menolak, Kang Mas”
Gw cukup terkejut mendengar kalimat terakhir yang dilisankan Sekar Kencana sambil menyimpulkan sebuah senyuman kecil..
“Mengapa kau menolaknya, Sekar? Bukan kah selama ini kau sangat mengidamkan hal itu.. Maksud ku, kau sangat ingin kembali bersatu dengan suami mu, Jagat Tirta kan?”
Sekar Kencana yang sempat menundukkan wajah, kembali menyimpulkan senyuman kecil saat ia mengangkat kepala dan menatap ke arah gw lagi..
“Selayaknya kaum mu, Kang Mas.. Jin seperti diriku pun memiliki perasaan yang cukup peka.. Hati yang berbeda bentuk nya dengan hati mu ini, bisa sangat mudahnya berdarah jika terluka.. Hati ini, bisa hancur berkeping-keping jika di hantam pengkhianatan.. Aku menolak ajakan Kakang Jagat Tirta, karena aku memerlukan waktu untuk kembali menyatukan pecahan-pecahan hati ku yang telah hancur.. Dan aku yakin kau pun tahu betapa sulitnya memulihkan hati yang telah hancur, seperti yang sempat kau alami dulu, Kang Mas?” Jawab Sekar Kencana dengan kalimat terakhir yang terasa sedikit menyindir..
Gw langsung menggaruk-garuk kepala yang tak terasa gatal setelah berhasil dipojokkan Jin Penjaga gw sendiri dengan sindiran halus..
“Ya elaaah.. Bisa banget balikinnya si Sekar” Ucap gw dalam hati dengan wajah tertekuk, yang ternyata membuat Sekar seketika tertawa terbahak-bahak karena mungkin mendengar keluhan dalam batin ini..
Perlahan, gw mulai bangkit dari bangku belajar tempat gw duduk, dan mengambil bungkusan rokok milik gw yang ada dalam laci meja belajar.. Masih dengan wajah masam, gw mengeluarkan sebatang rokok dan mematikan AC serta membuka jendela kamar selebar mungkin..
“Kang Mas, saran ku sebaiknya kau memakai benda yang bentuknya seperti tempurung kelapa itu terlebih dahulu jika ingin membakar dan menghisap benda ditanganmu.. Kau tahu isteri mu bisa kapan saja masuk ke dalam kamar ini, bukan?” Kata Sekar, sambil melirik ke arah Helm Full Face bercorak merah strip putih merk K*T NFR milik gw yang ada di atas lemari pakaian..
Membenarkan ucapan Sekar tadi, gw pun kembali memasukkan sebatang rokok dan duduk di atas meja belajar sambil memandangi suasana diluar rumah yang terpampang jelas dari balik jendela.. Sebenarnya, gw sedang sangat ingin sekali merokok.. Tapi, peringatan Sekar membuat gw memilih menyelamatkan kepala dari pada tetap nekat menghisap rokok namun akan di keprok Anggie dari belakang..
“Sekar, tentang Bayu Barata, aku rasa kau harus bisa bersikap biasa seperti dahulu sebelum ia mengungkapkan perasaannya yang terpendam kepada mu.. Aku tidak ingin hubungan kalian menjadi kaku satu sama lain.. Apalagi sekarang kau sudah memutuskan untuk menolak ajakan kembali bersama dari suamimu, Jagat Tirta” Ucap gw seraya meliriknya untuk sesaat, lalu memandang lagi ke luar jendela..
Sekar Kencana sendiri terlihat melayang bangkit dari sisi tempat tidur dan mendekat ke arah jendela.. Baik gw dan Sekar untuk beberapa lamanya tersenyum memandangi dua ekor burung gereja yang, nampak sedang terbang berkejaran dan sempat hinggap persis diatas lantai luar kamar gw, lalu terbang kembali begitu terdengar suara motor cukup bising diluar pagar..
“Aku berjanji akan mencoba nya, Kang Mas.. Meski aku tahu hal itu akan sedikit sulit untukku” Jawab Sekar Kencana yang membuat gw merasa jauh lebih lega..
Saat gw dan Sekar kembali terdiam menikmati pemandangan diluar kamar, mendadak dari arah belakang terdengar suara orang berdehem.. Sontak gw dan Sekar Kencana hampir berbarengan menoleh dan melihat isteri gw Anggie sudah berdiri sambil senyum-senyum sendiri..
“Aku ganggu yah?” Tanya Anggie yang sepertinya sengaja menggoda kami..
“Kang Mas, aku mohon diri untuk menyusul Bayu Barata dan Ki Larang” Kata Sekar, setelah menundukkan kepala tanda hormat sambil tersenyum ke arah Anggie..
Gw yang melihat reaksi Anggie yang membalas senyuman Sekar Kencana dengan senyuman lain sedikit nakal, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.. Lalu berjalan menuju pintu dan menutup serapat mungkin serta menguncinya dari dalam..
“Kenapa dikunci pintunya, Beb?” Tanya Anggie yang sudah duduk diatas tempat tidur..
“Engga kenapa-napa.. Aku gerah aja mau nyalain AC nya” Jawab gw seraya berjalan dan kembali menutup jendela yang terbuka lebar..
“Kamu sama Sekar kek nya deket banget ya, Beb?” Tanya Anggie lagi saat gw sudah duduk bersebelahan dengannya..
Gw sempat mengerutkan dahi mendengar pertanyaan aneh Anggie.. Lalu mengambil remote AC di samping dan menghidupkan alat penyejuk ruangan itu..
“Kamu koq tumben nanya gitu, Yank? Jealous yak?”
“Iiih, ngapain aku jealous coba.. Jin Penjaga aku juga ga kalah cakep.. Badannya atletis lagi.. Gak kek kamu yang kerempeng” Jawab Anggie dengan wajah tertekuk..
Gw yang mendengar jawaban sebal Anggie sempat tertawa, dan langsung memeluk tubuhnya serta merebahkan paksa gadis itu diatas tempat tidur.. Alhasil, Anggie seketika berteriak kencang.. Namun, gw cepat-cepat berpindah ke atas Anggie dan membungkam mulut gadis itu dengan sebuah ciuman, karena takut teriakan nya tadi terdengar oleh Ibu..
“Kamu apa-apaan sih?” Tanya Anggie dengan wajah sudah merona dan kedua pergelangan tangan tercengkram diatas tempat tidur..
“Aku lagi horny banget, yank.. Kamu beneran masih dapet yak?” Jawab gw sambil terus memegangi pergelengan tangan Anggie dengan sangat erat dan kembali mencoba mencium bibir nya..
Akan tetapi, Anggie berhasil berontak dan langsung memiringkan tubuhnya sambil tertawa dengan wajah tertutup.. Melihat hal itu, gw tanpa basa basi menghujani pinggang Anggie dengan kelitikan yang membuat gadis itu teriak-teriak meminta ampun..
“Udah, Beb.. Udah.. Aku paling ga sanggup kalo dikelitikin” Pinta nya dengan wajah memerah dan sesekali masih tertawa..
Posisi gw dan Anggie yang sekarang sudah sama-sama rebah diatas tempat tidur dengan posisi miring berhadapan, membuat jarak antara wajah kami berdua sangat dekat.. Anggie sempat bangkit untuk melepas hijabnya karena gerah dan kembali merebahkan diri seperti semula.. Dari jarak yang cukup dekat itu, gw sesekali tersenyum karena sangat menikmati kecantikan gadis yang sekarang statusnya sudah resmi menjadi isteri gw..
“Kamu beneran lagi horny?” Tanya Anggie setelah mengecup kening ini..
Gw mengangguk kan kepala dan mencoba mencium bibir Anggie.. Namun, gadis itu menutup mulut gw dengan dua jari telunjuk dan jari tengah..
“Ini hari terakhir aku dapet, Beb.. Jadi kamu mau ga mau harus sabar nunggu sampe besok, ga apa-apa kan?” Ucap nya dengan suara lembut..
“Yahh.. Ga bisa malem pertamaan donk nanti malem, Yank” Kata gw seraya menekuk wajah dan mengganti posisi menjadi duduk bersila diatas tempat tidur..
Anggie yang ikut bangkit, perlahan mengecup pipi kanan gw dan memeluk lengan ini dengan sangat erat..
“Maaf ya, Beb.. Ini kan emang udah jadwal rutin aku get period.. Tapi, kata Mamah kalo ada pengantin cewe yang menstruasi pas habis nikah, dia bakal cepet dapet keturunan loh”
“Masa sih, mitos itu mah, Yank?” Sela gw dengan wajah masih tertekuk..
“Eeh, beneran.. Bukti nya Mamah aku kek gitu, Beb.. Kamu coba tanya Ibu deh.. Pasti jawabannya sama” Sahut Anggie tak mau kalah..
Gw sempat mencibir omongan Anggie, namun dengan cepat gadis itu mencubit pinggang ini dan berganti membuat gw menjerit kencang.. Tiba-tiba, dari arah pintu terdengar ketukan cukup keras disusul panggilan Ibu setelahnya.. Sambil mengusap-usap pinggang yang terasa panas perih, gw berjalan menuju pintu dan segera membukanya.. Diluar, Ibu terlihat tertegun memandang gw dari atas kepala sampai ujung kaki..
“Kenapa, Bu?” Tanya gw yang memang bingung melihat wajah Ibu..
Bukannya langsung menjawab, Ibu malah menarik lengan gw hingga kami bergeser dua meter dari pintu kamar..
“Ibu kenapa sih, aneh banget dah?”
“Sssttt... Ibu mau tanya.. Kamu lagi begituan yah sama Anggie di kamar?” Tanya Ibu yang membuat gw cukup terkejut sekaligus geli mendengar pertanyaan nya..
“Ishh.. Ibu serius.. Kamu kalo mau begituan jangan siang-siang begini donk, Bang.. Tunggu nanti malem apa susahnya sih.. Manahan Ibu denger tadi Anggie pake segala jerit lagi.. Terus kamu juga ikut teriak kesakitan.. Kalo didenger tetangga kan malu, Bang”
Sontak gw tertawa terbahak-bahak sambil sempat melirik ke arah Anggie yang terlihat sedang berjalan keluar dari kamar dan menghampiri kami..
“Duhh.. Kamu kek nya seneng banget, Beb.. Abis dapet kabar apa nih dari Ibu?” Tanya Anggie seraya tersenyum ke arah Ibu..
“Itu, Yank.. Ibu lucu banget.. Masa kita disangka lagi begituan dikamar siang-siang begini” Jawab gw sembari sesekali suara tawa menyelingi kalimat..
Ibu sontak melotot ke arah gw dengan wajah yang sama merona nya dengan Anggie.. Lalu, wanita yang paling gw sayangi itu menjewer telinga kanan dan seketika membuat gw mengaduh kesakitan..
“Kamu tuh yah, kebiasaan mulutnya suka ga bisa di kontrol” Kata Ibu dengan nada sedikit membentak..
“Iya, iya maafin abang bu.. Abang cuma bercanda koq” Jawab gw dengan wajah meringis menahan sakit di telinga..
“Kami tadi cuma bercanda aja, Bu.. Lagipula, aku nya lagi halangan di hari terakhir” Kata Anggie, yang membuat Ibu langsung melepas jeweran dan berganti memegangi tangan menantunya itu..
“Beneran kamu lagi mens, sayang?” Tanya Ibu sambil menatap wajah Anggie dalam-dalam dan disambut anggukan kepala nya..
“Aduuh, Ibu koq jadi deg-deg an gini yah.. Biasa nya kalo pengantin wanita menstruasi di hari pernikahannya, dia bakal cepet hamil.. Mudah-mudahan kalian berdua bisa secepetnya kasih Ibu cucu yah”
“Aaminn Yaa Rabb” Sahut Anggie sambil memegangi perutnya..
“Nahh, kalo Ibu mau Abang kasih cucu cepet-cepet, besok malem Ibu sama Ayu tidurnya dari sore yah.. Kan abang mau proses dulu sama Anggie” Sambung gw dengan melingkarkan tangan dipinggang Anggie..
“Mulai lagi deh tuh mulutnya ga bisa di jaga.. Kek nya kuping yang iri enak buat di jewer nih”
Mendengar ancaman Ibu gw langsung ngibrit kembali masuk ke dalam kamar, disusul suara tawa Ibu dan Anggie yang terdengar dari arah belakang..
Malam harinya, selepas makan malam dan Shalat Isya berjamaah yang diimami oleh gw, kami semua beranjak ke ruang tengah untuk ngobrol ringan.. Gw sempat meminta izin ke Anggie untuk merokok di luar setelah makan.. Awalnya Anggie tidak mengizinkan, tapi karena ia tidak melihat gw seharian belum merokok, akhirnya diperbolehkan dengan syarat hanya satu batang saja tidak lebih..
Tepat pukul setengah sepuluh malam, Anggie nampak sudah beberapa kali menguap.. Gw yang melihat kedua mata isteri gw itu mulai merah karena mengantuk, berinisiatif untuk mengajaknya istirahat didalam kamar.. Dengan hanya memakai singlet dan boxer hitam, gw mulai merebahkan diri diatas tempat tidur dengan dipeluk oleh Anggie yang juga sudah rebah di sebelah..
“Beb, kamu ngerasa ini semua kek mimpi ga?” Tanya Anggie sambil memainkan alis mata gw yang cukup tebal hampir bersambung..
“Maksud kamu?”
“Engga.. Maksud nya, aku ga nyangka aja kita akhirnya bisa menikah.. Kamu kan tau sendiri hubungan kita dulu kek gimana.. Banyak banget ujian yang harus kita hadapi.. Bahkan kita berdua pernah hampir sama-sama ingin menyerah, karena ngerasa ga sanggup buat lanjutin.. Tapi, takdir Allah itu memang indah ternyata.. Segala ujian yang kita berdua pernah lewati, akhirnya bisa berbuah manis.. And I’m feeling so much happy at the moment” Ucap Anggie dengan kedua mata nampak mulai berkaca-kaca..
Gw yang melihat Anggie hampir menangis karena terharu, perlahan mengecup keningnya dan menarik kepala isteri gw itu hingga rebah diatas dada..
“Alhamdulillah Yaa Allah, akhirnya kau menyatukan kami berdua dalam ikatan tali suci.. Hamba berjanji akan menjaga ikatan ini dan terus mencintai serta menjaga wanita yang kau ciptakan dari tulang rusuk hamba selama nya.. Aamiin” Ucap gw yang tertuang dalam doa di sanubari, dengan kedua mata mulai terpejam..
dodolgarut134 dan 13 lainnya memberi reputasi
14