- Beranda
- Stories from the Heart
SULAKSMI
...
TS
meta.morfosis
SULAKSMI

PROLOG
“ semoga ini awal yang baik untuk karir gw dalam berwiraswasta...”
yaa...itulah sepenggal kalimat kebahagian yang terucap dari mulut bagus disaat sebuah berita baik terucap dari mulut bapak dan mamah, keinginan bagus untuk mempunyai sebuah usaha sendiri selepas masa perkuliahannya, kini mulai terwujud seiring dengan keinginan mamah yang menginginkan bagus untuk mengelola sebuah rumah yang merupakan rumah peninggalan dari orang tua mamah dan telah lama terbengkalai
kini bersama ketiga sahabat baiknya, bagus berusaha mewujudkan mimpinya itu menjadi sebuah kenyataan, seiring dengan berjalannnya waktu, akan kah semua usaha bagus itu akan membuahkan hasil yang memuaskan, atau kah ada sisi lain dari rumah tersebut yang bagus tidak ketahui dan akan menjadi penghambat usaha bagus untuk mewujudkan mimpinya tersebut....
Note :
* dilarang copy paste tanpa seizin penulis
* apa yang ane tuliskan hanyalah sebuah bentuk karya seni tanpa memperdebatkan nyata/fiksi
* update disesuaikan dengan RL penulis
terima kasih & selamat membaca

@meta.morfosis
Chapter demi chapter :
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
EPILOG
Diubah oleh meta.morfosis 16-01-2019 19:25
bonita71 dan 35 lainnya memberi reputasi
36
65K
197
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
meta.morfosis
#43
Chapter 8
detik demi detik yang terus berjalan, kini mengantarkan waktu menunjukan pukul delapan malam, tampak orang tua via, via serta vina sedang menikmati santap malamnya di ruang makan, sesekali terdengar canda tawa diantara mereka, sesekali tampak vina memperhatikan keberadaan gw bersama doni dan iyan di teras belakang, hingga akhirnya setelah kembali berbicara sebentar dengan via beserta keluarga, vina berjalan menghampiri
“ ehhh bang doni sama bang iyan baru kelihatan....tadi keman aja...?” tanya vina seraya mengambil posisi duduk di sisi gw
“ tadi kita baru selesai mandi vin, terus langsung sholat....” jawab doni yang berbalas anggukan kepala iyan
“ waduh...gw benar benar enggak nyangka...” ujar vina datar, pandangannya menatap ke arah perkebunan yang berselimut kegelapan malam, mendapati apa yang tengah dilakukan vina, dengan serentak doni dan iyan memandang ke arah perkebunan
“ maksud lu....enggak menyangka apa vin...?” tanya iyan dengan rasa was was, sepertinya kejadian pada malam beberapa waktu yang lalu masih membekas dalam ingatan iyan, kini dengan wajah serius vina mengarahkannya pandangannya kepada doni dan iyan
“ gw benar benar enggak menyangka kalau kalian sudah mandi bersama.....” jawab vina yang berbalas gelak tawa gw
“ makanya yan jangan serius serius....” ucap gw masih dalam gelak tawa, masih terlihat jelas kejengkelan yang diperlihatkan oleh iyan dan doni atas candaan yang dilontarkan vina
“ ihhh amit amit deh vin, candaan lu garing...” ujar doni masih dalam rasa jengkelnya, melihat hal tersebut, bukannya meredakan gelak tawa gw dan vina tapi justru semakin membuat gelak tawa ini terdengar semakin keras, hingga memancing pandangan dari via beserta keluarganya
“ ohh iya bang, kata bapak...lu sudah menanemi kebun itu ya...?” tanya vina seraya bangkit dari duduknya dan memandang lepas ke arah perkebunan, sesekali vina mendekapkan kedua tangannya untuk menghilangkan rasa dingin yang dirasakannya
“ iya vin, kebanyakan sih tanaman strawbery yang gw tanam, besok pagi sebelum lu berwisata...sebaiknya lu ajak via beserta bokap dan nyokapnya untuk melihat lihat kebun...” anggukan kepala yang diperlihatkan vina untuk merespon jawaban gw sepertinya menunjukan bahwa vina menyetujui ide yang gw berikan
“ oh iya vin, sebenarnya ada yang mau gw tanyakan juga sama lu....” ucap gw dengan ragu
“ mau bertanya apa bang...?” pertanyaan yang terlontar dari mulut vina kini mengiringi ekpresi wajahnya yang menunjukan tanda tanya
“ kemarin itu sewaktu gw merenovasi rumah ini, gw menemukan sebuah ruangan yang berada di dalam di dinding batu yang menjadi penunjang rumah ini, apakah lu masih ingat...?” untuk beberapa saat tampak vina terdiam, sepertinya vina mencoba untuk mengingat kembali tentang masa kecilnya di rumah ini
“ hmmm...sepertinya gw enggak ingat bang, karena gw enggak memperhatikan hal hal seperti itu, tapi kalau kamar yang gw dan via tempati sekarang, gw masih ingat karena itu adalah kamar yang dulu kami tempati sewaktu masih tinggal disini...dan kalau enggak salah, kamar itu juga merupakan kamar mamah sewaktu mudanya sebelum menikah dengan bapak....” terang vina dengan ekspresi wajah seperti menerawang ke masa lalu, kini nampak doni dan iyan ikut memperhatikan perbincangan ini
“ lalu kamar yang besar yang satunya lagi....?”
“ kalau kamar itu sih, kamarnya aki dan nini....intinya gw masih ingat, pada waktu itu ada beberapa orang yang merupakan orang orang kepercayaan dari aki dan nini tinggal di rumah ini....”
“ orang kepercayaan....?” tanya gw kembali yang berbalas anggukan kepala vina
“ iya...orang kepercayaan aki dan nini untuk mengurusi perkebunan serta rumah ini, tapi jauh sebelum itu sih, menurut apa yang gw dapat dari mamah...dulu banyak orang orang kampung yang membantu untuk mengurus perkebunan aki dan nini, karena dulu...perkebunan milik aki dan nini bukan hanya di tempat ini aja bang....tapi pengumpulan hasil panennya dilakukan disini....” keterangan yang meluncur dari vina kini semakin menambah rasa ketertarikan gw atas sejarah rumah yang sama sekali tidak gw ketahui
“ berarti saat lu lahir, aki dan nini hanya memiliki rumah dan perkebunan ini...lantas perkebunan aki dan nini yang lainnya kemana vin...?
“ entahlah bang....kalau itu gw enggak mengetahuinya, mungkin nanti saat lu pulang ke rumah, lu bisa menanyakannya langsung sama mamah...” jawaban yang meluncur dari mulut vina terasa masuk akal, karena vina tidak mungkin untuk mengetahui semua sejarah rumah ini, untuk sesaat lamanya, gw dan vina kembali terdiam memandang ke arah perkebunan, hingga akhirnya vina memutuskan untuk beristirahat
tepat pukul setengah sebelas malam, suasana penginapan mulai terasa sepi, sella yang memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu, kini hanya menyisakan, gw, iyan serta doni di meja penerimaan tamu, sedangkan mang edo memutuskan untuk mengantarkan pulang istrinya terlebih dahulu sebelum akhirnya nanti akan kembali lagi ke penginapan ini, seiring dengan pandangan mata gw yang menatap layar monitor, tampak iyan dan doni tengah asik dengan handphonenya masing masing
“ gus...nyalahin musiknya dong...sepi banget nih...” ujar doni sambil meletakannya handphonenya di meja, mendapati permintaan doni, kini sebuah lagu mulai terdengar memecah kesunyian, sesekali terlihat iyan menguapkan mulutnya
“ lu kalau ngantuk sebaiknya tidur aja yan....biar untuk sementara gw dan doni yang menjaga meja penerimaan ini...” ucap gw yang berbalas anggukan iyan
“ iya yan...kita bergantian aja, nanti lu gw bangunin kalau gw udah merasa mengantuk....” ujar doni dan kembali berbalas anggukan iyan, kini nampak iyan menyimpan handphonenya di saku celana
“ ya udah kalau begitu...gw istirahat duluan ya...” mendengar perkataan iyan gw dan doni serempak menganggukan kepala, kini terlihat iyan berjalan memasuki kamar
untuk beberapa saat lamanya, gw dan doni kembali menikmati alunan irama lagu yang terdengar pelan dari speaker komputer, keinginan gw untuk mengambil sebatang rokok dari sebuah bungkusan rokok yang berada di atas meja kini harus menemui kegagalan, sama sekali tidak terlihat adanya batangan rokok yang mengisi bungkus rokok tersebut
“ don...gw keluar sebentar dulu ya, bisa asem nih mulut gw...lu mau nitip apa...?” tanya gw saraya mengambil kunci mobil yang berada di laci meja
“ gw nitip makanan ringan aja gus, biar nih mata enggak ngantuk...” jawab doni tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphone, mendapati hal tersebut, gw segera berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman
hampir setengah jam lamanya gw mencari keberadaan warung yang masih buka di pinggir jalan, karena bukanlah hal yang mudah untuk mendapatkan sebuah warung yang masih buka disaat waktu sudah beranjak semakin malam, ditambah lagi tempat dimana penginapan gw berada, berlokasi cukup jauh dari pusat kota, hingga akhirnya setelah beberapa saat kembali menelusuri jalan, gw pun menemukan sebuah warung yang masih buka dan membeli semua kebutuhan yang gw perlukan, setelah merasa cukup dengan apa yang gw beli, laju kendaraan pun mulai meninggalkan warung tersebut untuk kembali menuju ke penginapan, seiring dengan laju kendaraan yang berjalan menembus gelapnya malam, suasana jalan yang terasa sepi kini telah membuat gw beberapa kali melayangkan pandangan ke sisi kanan dan kiri jalan, sepertinya kegelapan malam telah membuat beberapa pohon yang berada di pinggir jalan kini laksana sebuah bayangan hitam besar yang saling berkejaran dengan laju mobil yang gw kendarai, hingga akhirnya kini mobil yang gw kendarai mulai mendekati gerbang pagar rumah, seiring dengan pijaran cahaya lampu mobil yang menembus gelapnya malam, kini nampak terlihat sebuah papan kayu berukir yang berada di atas gerbang pagar terselimuti oleh kabut tipis, untuk beberapa saat lamanya gw menghentikan laju mobil dan memperhatikan papan kayu tersebut
“ yan...yan...nama penginapan sebagus ini, koq dibilang enggak membawa keberuntungan...” gumam gw pelan begitu membaca nama penginapan yang tertera dalam papan kayu tersebut, kini setelah gw merasa puas memandangi papan kayu berukir tersebut, gw pun mulai menekan pedal gas dan mobil pun mulai bergerak secara perlahan melewati gerbang pagar, seiring dengan gerakan laju mobil yang melewati gerbang pagar, disaat itulah pandangan mata gw menangkap keberadaan seorang wanita yang tengah menuruni tangga teras depan dan berjalan menuju halaman yang berada di samping rumah, keberadaan beberapa lampu taman yang menerangi halaman penginapan, serta cahaya terang dari lampu mobil yang terarah kepada sosok wanita tersebut, sepertinya tidak mampu untuk menyibak gelapnya malam serta kabut tipis yang seolah olah memudarkan keberadaan wanita tersebut
“ apakah ini wanita yang sama seperti apa yang telah dikatakan iyan malam itu....” tanya gw dalam hati seraya memarkirkan mobil di halaman rumah, tampak kini motor mang edo telah terparkir di halaman rumah, setelah terdiam beberapa saat di dalam mobil dan mengarahkan pandangan ke arah halaman samping, gw pun memutuskan untuk mencari keberadaan wanita tersebut, kini dengan bermodalkan cahaya lampu taman yang dibantu dengan cahaya terang dari sorotan lampu mobil yang masih menyala, gw pun mulai berjalan menuju ke halaman samping, hingga akhirnya sesampainya gw di halaman samping, gw sama sekali tidak melihat keberadaan dari sosok wanita tersebut, kini pandangan mata gw hanya menemui sudut sudut gelap berselimutkan kabut tipis yang seolah olah menyembunyikan keberadaan wanita tersebut
“ siapa sebenarnya wanita itu.....” tanya gw dalam hati seraya kembali melayangkan pandangan ke seluruh sudut halaman samping, hingga akhirnya kini tatapan mata gw terpaku pada pintu yang berada di dinding batu penunjang rumah
“ apakah wanita tadi itu bersembunyi di ruangan ini...” gumam gw pelan seraya melangkahkan kaki menuju pintu yang berada di dinding batu, kini setelah berdiri di depan pintu dan mendapati kenyataan bahwa pintu tersebut masih tertutup rapat dengan sebuah gembok baru yang melekat di daun pintu, kesimpulan gw tentang keberadaan wanita tersebut didalam ruangan sepertinya bukanlah praduga yang tepat, hingga akhirnya setelah gw kembali melayangkan pandangan ke semua sudut halaman samping, gw pun memutuskan untuk meninggalkan halaman samping dan beranjak ke dalam rumah, dengan terlebih dahulu mematikan mesin mobil yang masih menyala
“ lama banget sih perginya gus....” ucap doni begitu melihat kehadiran gw
“ lahh don, lu pikir gampang ya mencari warung di saat hari sudah beranjak malam seperti ini...” ujar gw sambil meletakan kunci mobil serta barang barang yang gw beli di atas meja
“ mang edo dimana don....?” tanya gw seraya menghempaskan tubuh ini di atas kursi yang berada di sisi doni
“ tadi sih katanya mau buat kopi di dapur....” seiring perkataan doni, terlihat mang edo berjalan menghampiri dengan dua buah gelas kopi panas berada di tangannya
“ wahhh, kalau tahu kang bagus udah pulang, saya buat kopinya tiga gelas nih...” ujar mang edo sambil meletakan gelas kopi di atas meja
“ enggak usah mang, biar saya joinan aja dengan doni...” ucap gw sambil mengembangkan senyum
“ mang.....”
“ ehh gus ada kabar baik nih, hampir aja gw lupa memberitahukannya sama lu...” perkataan yang terucap dari mulut doni kini memotong perkataan yang baru saja terucap dari mulut gw
“ kabar baik apaan....?”
“ sepertinya penginapan kita ini mulai terkenal, tadi saat lu pergi dan mang edo belum kembali ke penginapan ini....”
“ gw yakin kalau lu mau ngomong, bahwa lu sudah menerima seorang tamu wanita malam ini...” ucap gw memotong perkataan doni, mendengar hal tersebut tampak mang edo dan doni saling bertukar pandang dalam rasa terkejut
“ loh, koq lu tahu gus...?” tanya doni dengan rasa tidak percaya
“ ya tahu lah don, tadi gw melihat wanita itu turun dari teras depan dan menuju ke halaman samping, tapi saat gw periksa ke halaman samping, gw sama sekali enggak melihat ada wanita itu disana...” terang gw seraya memandang wajah doni dan mang edo
“ turun dari teras depan....?, ahhh ngaco lu gus...gw yakin lu pasti udah salah lihat.....” ujar dono yang berbalas anggukan kepala mang edo
“ maksud lu, gw salah lihat bagaimana...?”
“ ya salah lihat gus...udah jelas jelas wanita itu ada di dalam kamarnya, semenjak tadi itu gus, gw enggak pernah beranjak dari kursi ini, jadi gw akan tahu kalau wanitu itu hendak keluar menuju teras depan....” untuk sejenak gw hanya terdiam begitu mendengar keterangan yang meluncur dari mulut doni, tapi sepertinya keterdiaman gw itu telah memancing rasa curiga yang terlihat jelas di wajah doni dan mang edo
“ kenapa gus....?” tanya doni dengan penuh selidik
“ enggak tahu don, koq gw merasa ada yang aneh ya.....”
“ aneh apanya sih gus....” kini terlihat doni bangkit dari kursinya dan mengambil sebuah buku yang mencatat nama dari para tamu yang berkunjung ke penginapan ini
“ coba lu lihat nih....” ujar doni seraya menyerahkan buku yang di pegangnya ke tangan gw, kini gw bisa melihat sebuah nama yang tertera di sana, dan itu bukanlah nama dari vina, via ataupun kedua orang tua via
“ sulaksmi...?”
“ iya gus, itu namanya.....” ucap doni seraya memandang ke arah wajah gw, kini sebuah keterangan yang meluncur dari mulut doni mengenai ciri dari wanita tersebut dan keinginan dari wanita tersebut untuk menempati kamar yang kini telah ditempati oleh vina dan via, sepertinya sama persis dengan apa yang telah dikatakan oleh iyan malam itu
“ lahh...koq lu malah bengong gus, seharusnya lu gembira karena penginapan kita ini telah bertambah tamunya...” ucap doni kembali dengan wajah cerianya, mungkin andaikan doni tahu apa yang telah dialami oleh iyan malam lalu, tentu doni tidak akan memasang wajah seceria itu
“ mang edo...sepertinya saya merasa ada yang enggak beres nih...” ujar gw yang berbalas rasa bingung di wajah doni dan mang edo
“ enggak beres bagaimana kang....”
“ tolong bantu saya mang untuk memeriksa kamar wanita itu...” mendapati perkataan gw itu, tampak doni dan mang edo menampakan keterkejutannya
“ ahhh jangan gila lu gus, nanti kita bisa dianggap enggak sopan...” ucap doni merasa ragu dengan apa yang telah gw katakan
“ percaya sama gw don...gw merasa ini ada yang aneh,ayo mang...tolong bantu saya...untuk memeriksa kamar itu....” dengan sedikit ragu, terlihat mang edo bangkit dari kusinya dan berjalan menuju kamar yang ditempati wanita tersebut
“ lu yakin nih gus....” tanya doni diantara langkah kaki gw dan doni yang mengikuti mang edo menuju pintu kamar, tanpa mengeluarkan perkataan apapun untuk menjawab pertanyaan doni, gw hanya menganggukan kepala, kini setibanya kami di depan pintu kamar, tampak mang edo agak sedikit ragu untuk mengetuk pintu kamar
“ kenapa mang.....?” tanya doni begitu melihat mang edo tidak jadi untuk mengetuk pintu kamar, sepertinya keberadaan kamar yang gelap yang terlihat melalui celah pintu kamar bagian bawah telah menjadi alasan mang edo untuk membatalkan ketukannya
“ sepertinya tamunya sudah tidur kang, apa enggak sebaiknya besok pagi aja kita memeriksanya....?”
“ mang...!” kini suara teguran yang terucap dari mulut gw seperti sebuah kata penegasan kepada mang edo, agar mang edo melakukan apa yang telah gw perintahkan, kini setelah kembali terdiam beberapa saat, akhirnya mang edo mulai mengetuk pintu kamar
“ permisi....” ucap mang edo diantara suara ketukan tangannya, hampir beberapa kali mang edo melakukan semua itu, tapi semuanya berakhir dengan ketiadaan jawaban dari dalam kamar
“ bagaimana kang...apa perlu kita paksa buka....?” tanya mang edo, berharap adanya keputusan dari gw, lama gw berpikir dengan berbagai pertimbangan, hingga akhirnya gw memutuskan untuk membuka pintu kamar tersebut, begitu mendapati keputusan tersebut, kini mang edo segera memutar gagang pintu kamar secara perlahan
“ loh koq enggak di kunci ya kang....” ujar mang edo begitu mendapati pintu kamar telah terbuka dengan mudahnya, suasana kamar yang terlihat gelap, kini sama sekali tidak memperlihatkan bahwa ada seseorang yang telah mendiaminya, mendapati hal tersebut tampak doni hanya bisa berdiri terpaku dengan menunjukan ekspresi rasa bingung
“ loh...wanita itu kemana gus....?” tanya doni yang berbalas rasa bingung di wajah gw dan mang edo, diantara kebingungan yang gw rasakan entah mengapa gw merasakan seperti ada hubungannya kemunculan wanita tersebut dengan masa lalu rumah ini
“ sebaiknya kita keluar dulu don....” ucap gw mengajak mang edo dan doni keluar dari dalam kamar, seiring dengan pintu kamar yang telah tertutup, nyala terang cahaya lampu diluar kamar sepertinya tidak dapat menutupi rasa tegang yang gw rasakan
“ kenapa muka lu jadi tegang gitu gus, apa jangan jangan wanita itu adalah.....”
“ husss...enggak boleh ngomong gitu kang doni, enggak baik malam malam bicara seperti itu...” baru saja mang edo mengucapkan sebuah kalimat yang sama persis dengan apa yang telah di ucapkan oleh iyan, kini tatapan mata kami terpaku pada daun pintu kamar dari kamar yang di tempati oleh vina dan via, entah ini kejadian yang nantinya akan bisa dijelaskan oleh akal sehat gw atau tidak, kini gw melihat pergerakan dari gagang pintu yang berputar lalu diikuti oleh terbukanya pintu kamar secara perlahan...ya pintu itu kini telah terbuka, walaupun hanya sebatas sebuah kepala yang bisa memasuki celah pintu yang terbuka tersebut
“ vina...?” gumam gw pelan yang berbalas saling berpandangnya doni dan mang edo, untuk sesaat lamanya kami hanya bisa terpaku menatap pintu yang telah terbuka tanpa ada seorang pun yang berani untuk menghampirinya
“ gus....bagaimana nih....” tanya doni pelan dan berharap adanya keputusan dari gw, kini keterpakuan gw dalam menatap pintu kamar telah membuat gw terasa sulit untuk membuat sebuah keputusan, mungkin sejujurnya..gw bukanlah seseorang yang begitu saja mempercayai sebuah kejadian yang aneh akan tehubung dengan sesuatu yang aneh juga, tapi untuk beberapa kejadian yang telah gw alami di rumah ini, gw memang merasa ada sesuatu yang aneh telah terjadi di rumah ini dan itu sangatlah sulit untuk gw jelaskan dengan akal sehat, keawaman gw dalam menghadapi sesuatu yang mungkin bersinggungan dengan mahluk mahluk tak kasat mata, kini telah membuat otak gw terasa tumpul untuk membuat keputusan
“ gus....” tegur doni kembali begitu melihat gw yang masih saja terdiam, mendapati hal tersebut, kini nampak mang edo mengambil inisiatif untuk berjalan terlebih dahulu menuju ke pintu kamar
regmekujo dan 9 lainnya memberi reputasi
10