Kaskus

Story

meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
SULAKSMI
SULAKSMI



PROLOG




“ semoga ini awal yang baik untuk karir gw dalam berwiraswasta...”
yaa...itulah sepenggal kalimat kebahagian yang terucap dari mulut bagus disaat sebuah berita baik terucap dari mulut bapak dan mamah, keinginan bagus untuk mempunyai sebuah usaha sendiri selepas masa perkuliahannya, kini mulai terwujud seiring dengan keinginan mamah yang menginginkan bagus untuk mengelola sebuah rumah yang merupakan rumah peninggalan dari orang tua mamah dan telah lama terbengkalai
kini bersama ketiga sahabat baiknya, bagus berusaha mewujudkan mimpinya itu menjadi sebuah kenyataan, seiring dengan berjalannnya waktu, akan kah semua usaha bagus itu akan membuahkan hasil yang memuaskan, atau kah ada sisi lain dari rumah tersebut yang bagus tidak ketahui dan akan menjadi penghambat usaha bagus untuk mewujudkan mimpinya tersebut....

Note :

* dilarang copy paste tanpa seizin penulis
* apa yang ane tuliskan hanyalah sebuah bentuk karya seni tanpa memperdebatkan nyata/fiksi
* update disesuaikan dengan RL penulis


terima kasih & selamat membaca emoticon-coffee
@meta.morfosis

Chapter demi chapter :
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
EPILOG


Diubah oleh meta.morfosis 16-01-2019 19:25
indrag057Avatar border
bukhoriganAvatar border
bonita71Avatar border
bonita71 dan 35 lainnya memberi reputasi
36
65K
197
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
#42
Chapter 7





“ duh...tamunya kemana ya gus....?” tanya iyan dengan rasa bingung
“ lahh mana gw tahu yan....koq lu malah nanya sama gw....”
“ ahhh...ini gara gara lu sih kelamaan di dalam kamar mandi, mungkin tamu itu merasa kecewa dengan pelayanan kita yang teramat lama itu gus....” ujar iyan menunjukan rasa kecewanya, keinginan gw untuk membantah perkataan iyan kini terpaksa gw urungkan, gw tidak ingin hal ini akan menimbulkan perdebatan antara gw dan iyan
“ memangnya tadi itu ada berapa orang tamunya yan.....?”
“ ada satu orang gus...seorang perempuan muda.....” jawab iyan seraya mengikuti langkah gw yang memasuki rumah
“ perempuan muda....?”
“ iya gus...” jawab iyan singkat, kini iyan menghempaskan tubuhnya di kursi yang berada di sisi gw
“ memangnya tadi itu lu enggak melihat perempuan itu pergi gus...? “ tanya gw yang berbalas terdiamnnya iyan beberapa saat
“ enggak gus, justru saat gw balik dari kamar mandi, gw udah enggak melihat perempuan itu lagi, padahal sebelumnya dia udah berjanji mau menunggu.....” ucap iyan sambil bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu rumah, kini pandangannya kembali menatap halaman rumah
“ duhh...perasaan gw koq jadi enggak enak ya gus....” gumam iyan pelan seraya mengarahkan pandangannya ke arah gw, kini iyan kembali menduduki kursinya dan menceritakan apa yang telah dialaminya sewaktu gw masih berada di dalam kamar mandi
“ hahhh...jadi lu melihat perempuan tersebut sudah berdiri di depan pintu, dan saat lu menerangkan bahwa penginapan ini baru hendak dibuka dan semua kamarnya masih kosong...perempuan tersebut menginginkan untuk melihat lihat ke dalam kamar...?” sebuah kalimat pertanyaan yang berisi sebuah kalimat penegasan atas apa yang teleh di ceritakan oleh iyan kini meluncur dari mulut gw
“ iya gus, kan tadi gw udah bilang...perempuan tersebut menginginkan untuk melihat lihat ke dalam kamar karena dia tertarik untuk menginap, dan gw hanya menunjukan kamar kamar di bagian bawah, tapi sepertinya perempuan tersebut tertarik dengan kamar itu.....” jawab iyan sambil menunjuk ke sebuah kamar besar diantara dua kamar besar yang ada, mendapati hal tersebut, entah mengapa pikiran gw langsung teringat pada mimpi yang pernah dialami oleh sella
“ kamar itu...?”
“ iya kamar itu....tapi saat itu gw berpikir, dikarenakan penginapan ini belum buka secara resmi, maka gw harus bertanya sama lu dulu gus.....nah disaat itulah perempuan itu gw tinggalkan di meja penerimaan tamu, dan ternyata....”
“ menghilang...” ucap gw memotong perkataan iyan, kini terlihat iyan kembali menyulutkan sebatang rokok
“ andai perempuan itu besok kembali lagi gus, gw masih hafal dengan wajahnya, cantik, kulitnya bersih, dan tampilannya sederhana, sama sekali enggak terlihat seperti pelancong dari luar kota, bahkan bisa gw katakan kalau perempuan itu seperti gadis gadis desa......” terang iyan kembali
“ sumpah yan, semakin lu menerangkan cerita secara detile, gw malah merasakan semua ini terasa aneh.....” ucap gw seraya memandang wajah iyan
“ aneh bagaimana gus....?”
“ coba lu ingat ingat kembali yan, disaat perempuan itu tiba di penginapan ini, apakah lu melihat perempuan itu tiba dengan menggunakan apa....?” mendengar pertanyaan gw, iyan hanya menggelengkan kepalanya
“ nahh itu dia yan, walaupun mungkin saat itu lu sedang serius dengan pc ini dan mendapati perempuan tersebut sudah berdiri di depan pintu, bukankah seharusnya lu mendengar suara mesin motor ataupun mobil yang di gunakan perempuan tersebut, karena bukanlah suatu hal yang wajar jika perempuan itu mendatangi tempat ini dengan berjalan kaki...kan lu tahu sendiri kalau posisi penginapan kita ini agak jauh dari rumah rumah penduduk...belum lagi bisa dibilang tempat ini cukup sepi.....” ucap gw memberikan penjelasan atas kata aneh yang gw ucapkan, tampak terlihat iyan bisa memahami apa yang gw jelaskan itu
“ jadi maksud lu gus...perempuan itu....” seiring perktaannya, kini iyan menunjukan skspresi rasa takutnya
“ ya enggak gitu juga yan....ahhh lu sih selalu berpikiran yang aneh aneh, intinya apa yang gw jelaskan itu bukan berarti penjelasan gw itu benar, bisa jadi memang perempuan tersebut datang dengan enggak menggunakan kendaraan...dan bisa jadi yang lain juga....”
“ bisa jadi yang lain juga....maksud lu..?” tanya iyan dengan semakin menunjukan rasa takutnya
“ ahhh cape ngomong sama lu yan, apa apa selalu lu hubungin dengan hal yang aneh aneh, bukannya gw enggak percya dengan hal hal aneh semacam itu yan, tapi kalau bisa jangan segala sesuatu yang aneh lu hubungkan dengan yang aneh juga....” jawab gw sambil mengembangkan senyum, tapi sepertinya apa yang telah gw katakan itu tidak dengan serta merta menghilangkan ketakutan yang tengah iyan rasakan
“ udahlah yan...jangan dibahas lagi, gw enggak mau lagi mengalami sesuatu yang aneh gara gara lu selalu menghubungkan sebuah peristiwa yang aneh dengan sesuatu yang aneh.....” ucap gw seraya bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu rumah, lama gw kembali menatap halaman luar sebelum akhirnya menutup pintu rumah
“ memangnya lu mengalami sesuatu yang aneh apa gus...?” tanya iyan penuh dengan keingintahuan, mendapati pertanyaan tersebut, bukannya menjawab pertanyaan iyan, kini gw berjalan menuju pintu rumah yang mengarah ke teras belakang lalu menguncinya
“ gus...jujur aja, lu sebenarnya mengalami apa....?” tanya iyan kembali begitu melihat gw telah selesai mematikan lampu yang berada tepat di tengah ruangan
“ mengalami rasa ngantuk....udah ahhh lama lama gw bisa gila kalau harus ngomongin hal seperti ini terus.....” jawab gw sambil memandang ke arah iyan yang masih terbengong dengan rasa keingintahuannya
“ lahhh malah bengong...ya udah gw mau tidur duluan, kalau lu mau tidur...jangan lupa matikan komputernya...” kini tanpa menunggu jawaban dari iyan, gw segera berjalan menuju pintu kamar, mendapati hal tersebut, iyan segera mematikan komputernya dan berlari menyusul gw yang hendak memasuki kamar
tepat seminggu setelah kejadian aneh itu, usaha penginapan yang gw jalani masih belum juga mengalami kemajuan, berbagai macam strategi pemasaran yang dilakukan oleh iyan, doni dan mang edo masih juga belum menampakan hasilnya, tapi semua hal tersebut tidaklah dengan serta merta menyurutkan semangat gw, kegigihan gw untuk membuat usaha penginapan ini menampakan hasilnya sepertinya berimbas positif kepada iyan, doni serta sella, dan sebagai langkah awal gw untuk memberikan pelayanan terbaik di penginapan ini, gw mulai mempekerjakan istri mang edo untuk menjadi juru masak sekaligus menjadi orang yang akan melayani jika ada permintaan makanan dari tamu
“ gus, apa mungkin nama penginapan ini kurang membawa untung ya...sehingga penginapan kita ini sepi, padahal gw dan doni sudah berusaha keras loh.....” ujar iyan sambil mengamati sebuah papan kayu berukir yang dipasang tepat diatas pintu pagar
penginapan batu merah....ya itulah sebuah nama yang tersemat pada papan kayu tersebut, sebuah nama penginapan yang terlahir dari hasil pengamatan gw terhadap rumah ini, susunan batu kali bertumpuk yang menunjang rumah ini serta banyaknya tanaman strawbery yang menghiasi perkebunan, semuanya itu memberikan gw ide untuk menamakan penginapan ini dengan nama penginapan batu merah
“ jangan mulai lagi deh yan........lu hobi banget sih menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang enggak masuk akal...” ujar gw sambil beranjak pergi meninggalkan iyan dan doni yang masih terpaku menatap papan nama
“ kenapa lagi mereka gus...?” tanya sella setibanya gw di meja penerimaan tamu, terlihat sella mengarahkan pandangannya ke arah iyan dan doni
“ biasa deh sel, itu si iyan...masa menghubung hubungkan nama penginapan ini dengan belum adanya tamu di penginapan ini....”
“ masa sih gus...” ujar sella sambil mengeluarkan tawa kecilnya
“ iya...makin aneh aja tuh orang...” seiring dengan perkataan gw, suara bunyi handphone yang terdengar dari saku celana kini telah membuat gw untuk berjalan menjauh dari sella dan mengangkat panggilan tersebut
“ hahh...yang benar lu vin...memangnya ini udah masuk musim liburan ya...?” tanya gw dengan rasa tidak percaya
“ benar bang...makanya gaul bang..biar tahu perkembangan dunia sekolah....” ledek vina diantara gemersek suara handphone karena sinyal yang kurang baik
“ jadi kapan rencananya kalian kesini....?”
“ ini lagi dalam perjalanan bang, mungkin selepas magrib nanti kita udah tiba disana....” terang vina kembali, setelah beberapa saat kembali terlibat percakapan, akhirnya vina pun mengakhiri sambungan teleponnya
“ wahh...sepertinya ada yang habis dapat kabar baik nih...” gurau sella begitu gw menghampiri, sepertinya keceriaan yang terpancar dari wajah gw menjadi alasan sella untuk melontarkan gurauan tersebut
“ alhamdulillah sel...mungkin hari ini, penginapan kita ini akan mendapatkan tamu untuk yang pertama kalinya....” keceriaan yang semula hanya terpancar di wajah gw, kini laksana sebuah virus penyakit yang menular begitu cepat, kini keceriaan yang terpancar di wajah sella menunjukan bahwa sella merasa bahagia atas kabar berita yang didengarnya
“ hahh...yang benar lu gus...”
“ iya sel, nanti sore....mungkin setelah magrib, adik gw akan membawa teman beserta orang tuanya ke penginapan ini, rencana mereka sih akan berlibur selama lima hari.....”
“ waduh...kalau begitu biar gw siapkan segala sesuatunya dulu gus, ini adalah kesempatan kita untuk memberikan pelayanan terbaik...ya siapa tahu setelah mereka menginap, mereka akan memberitahukan kepada orang lain tentang pelayanan penginapan kita yang baik...” ujar sella seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu rumah, tampak kini sella memanggil doni dan iyan
“ ada apaan sel...?” tanya doni begitu tiba menghampiri
“ baru gw tinggal sebentar aja, udah kangen aja lu sel...” canda iyan yang berbalas cibiran sella
“ ehh..lu berdua sekarang persiapkan kamar untuk tamu, soalnya mang edo lagi keluar untuk membeli pita printer...” ucap sella yang berbalas rasa bingung sekaligus terkejut di wajah iyan dan doni
“ tamu......?” tegas iyan dan doni hampir berbarengan, untuk sesaat sella menjelaskan kepada iyan dan doni tentang rencana vina beserta temannya yang akan datang menginap pada hari ini
“ serius lu sel....ini enggak main main kan...” ujar iyan sambil mengarahkan pandangannya ke arah gw, mendapati hal tersebut gw hanya menganggukan kepala sambil tersenyum, dan sepertinya respon jawaban yang gw berikan itu sudah cukup untuk membuat iyan dan doni melonjak kesenangan laksana seorang anak kecil yang mendapatkan hadiah dari orang tuanya
“ ya tuhan...akhirnya berakhir juga kutukan tanpa tamu ini....” canda doni yang berbalas gelak tawa
“ ohh iya gus, rencana mereka itu akang mengambil berapa kamar...biar gw nanti bersama doni akan mempersiapkannya...” tanya iyan seraya berjalan menghampiri gw
“ sepertinya sih dua kamar....” jawab gw sambil mengarahkan pandangan ke arah dua kamar yang cukup besar
“ siap komandan....biar gw sama doni merapihkan kamar itu....” kini tanpa berbasa basi lagi, terlihat iyan menarik tangan doni menuju kamar yang akan dipersiapkan sebagai tempat bermalam vina beserta kawannya
tepat pukul tujuh malam, seiring dengan kabut tipis yang mulai turun serta suara serangga malam yang mulai terdengar, kini nampak sebuah mobil memasuki halaman rumah, mendapati hal tersebut, mang edo yang sedari tadi telah menunggu di teras depan, segera menyambut kedatangan vina beserta kawannya, beberapa buah tas besar tampak mulai dikeluarkan oleh mang edo dari dalam mobil dan memasukannya ke dalam rumah, tampak untuk beberapa saat lamanya, vina beserta kawannya mengamati lingkungan di sekita rumah, rasa rileks begitu terpancar di wajah mereka, hingga akhirnya setelah puas menikmati pemandangan malam di luar rumah, terlihat vina beserta kawannya memasuki rumah
“ selamat datang di penginapan batu merah...” sambut gw dengan gaya formil, dan hal itu jelas memancing gelak tawa dari vina beserta kawannya
“ oh iya bang...kenalin nih teman gw, namanya via...dan ini orang tua via....” ucap vina memperkenal, mendapati hall tersebut, gw dan sella segera menyalami mereka
“ kalau begitu saya ucapkan kembali selamat datang di penginapan batu merah bagi via, om dan tante...” mendengar perkataan gw, tampak via beserta orang tuanya mengembakan senyumnya, setelah beberapa saat gw menjelaskan keberadaan kamar yang tersedia di penginapan ini, akhirnya sesuai dengan yang gw perkirakan sebelumnya, kini orang tua via menentukan pilihannya pada dua buah kamar besar yang telah dipersiapkan oleh doni serta iyan, mendapati hal tersebut, dengan segera mang edo memasukan tas tas besar yang dibawanya ke dalam kamar
“ wah rapihnya...” ujar mamah via begitu memasuki kamar, seiring dengan ucapan tersebut, terlihat papah via mengamati dekorasi di dalam kamar, dan sepertinya mereka merasa puas atas dekorasi di dalam kamar
“ pintar kamu gus, menata barang barang tua ini....ini baru konsep tempo dulu tapi elegan...” mendapati sanjungan dari papah via, gw hanya mengembangkan senyum penuh dengan rasa bangga
“ mungkin om sudah mendengar sejarah dari rumah ini dari adik saya, yaaa...rumah ini adalah peninggalan dari mamah saya, jadi barang barang yang ada di rumah ini sebagian besarnya adalah barang barang tua tapi masih terawat dengan baik....” terang gw yang berbalas anggukan kepala orang tua via, setelah kembali berbasi basi sebentar, akhirnya gw pun meninggalkan kamar orang tua via dan menuju ke kamar yang di tempati oleh vina dan via, seiring dengan langkah gw meninggalkan kamar, terlihat istri dari mang edo membawakan makanan dan minuman penyambut tamu ke dalam kamar
“ bagaimana kamarnya vin....?” tanya gw begitu memasuki kamar vina dan via, tampak terlihat via dan vina tengah memasukan baju yang dibawanya ke dalam lemari
“ ya lumayanlah bang untuk kelas penginapan tanpa bintang seperti ini....” canda vina yang berbalas gelak tawa via, kini jendela kamar yang semula tertutup telah dibuka oleh via, bisa gw rasakan haw sejuk yang memasuki ruangan kamar
“ jadi apa rencana kalian besok....?” tanya gw kepada via dan vina
“ mungkin besok kita akan berwisata sekaligus mau menikmati hidangan tradisional di sini kang....” jawab via dengan santunnya, hal ini jelas berbanding terbalik dengan vina yang selalu berbicara ceplas ceplos, mendapati hal tersebut terlihat vina mengeluarkan candaannya kepada via, tampak muka via bersemu merah
“ cieeee...udah main kang kang aja...akang tukang bakso kali ya...” gurau vina yang berbalas gelak tawa, seiring candaan ini terlihat istri mang edo membawakan makanan dan minuman yang sama persis dengan apa yang dibawanya ke kamar orang tua via
“ terima kasih mba...” ucap vina yang berbalas senyum istri mang edo, kini terlihat istri mang edo keluar dari dalam kamar
“ ohh iya vin, mungkin besok abang enggak bisa mengantarkan kalian jalan jalan, kamu kan tahu sendiri, abang masih banyak kerjaan yang harus dibereskan di rumah ini...”
“ iya bang...gpp, gw maklum koq....oh iya bang....ada satu lagi yang mau gw omongin...” tampak vina menghentikan perkataannya seraya memandang ke wajah gw, senyumannya terlihat mengembang di wajahnya
“ apa vin...?”
“ kangen juga gw bang sama lu...udah lama juga enggak bisa ngusilin lu lagi....” ujar vina sambil berjalan menghampiri gw, kini tanpa rasa malu dengan keberadaan via yang memperhatikannya, vina memeluk gw dan mencurahkan kasing sayangnya sebagai adik kepada kakak
“ sama vin...gw juga kangen banget sama adik gw yang ngeselin ini...” melihat momen ini, tampak via mengembangkan senyumnya, setelah beberapa saat kembali terlibat dalam perbincangan, akhirnya gw pun meninggalkan kamar

pulaukapok
tet762
arip1992
arip1992 dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.