- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#7213
Semua Karena Cinta...
Ketiga saudara gw dan Arya serta Binar nampak mulai berjalan menuju ke arah Viny, bersamaan dengan melangkahnya kedua kaki gw ke arah sama.. Sekar Kencana nampak sudah siap sekali dengan posisi waspada.. Sementara Ki Larang terlihat sedikit bingung menyadari bahwa Viny masih bisa menyusul ke sini setelah berhasil ia lumpuhkan sebelumnya..
Gw sempat menoleh ke arah Rio dan ketiga sahabat baik sewaktu SMA serta beberapa petugas catering yang terlihat sedang memperhatikan kami.. Dari wajah Mail, Rendy, Joni dan Rio sama-sama menyiratkan kebingungan melihat Viny hanya berdiri mematung menghadap kami.. Gw sendiri terus menatap Viny dengan sorot mata tajam tak berkedip..
“Mo ngapain lu kesini, Vin? Belom puas lu jahatin Anggie?” Tanya gw dengan nada cukup keras yang membuat hampir setiap orang mengerutkan dahi karena bingung..
Anggie pun sama.. Isteri gw itu nampak menoleh dan memandangi wajah gw yang sudah memerah menahan emosi..
“Aku mo minta maaf, Mam.. Aku bener-bener nyesel udah lakuin semua” Kata Viny dengan wajah tertunduk..
Gw terdiam sambil tetap menatap nanar ke arah Viny.. Sebenarnya ada sedikit rasa iba melihat penampilan gadis itu yang nampak berantakan dengan rambut sebahu yang sudah tidak tersisir rapi dan beberapa sobekan di kaus ketat dan celana jeans panjangnya.. Kedua mata Viny terlihat masih basah oleh air mata yang membuatnya sembab.. Wajahnya pun sedikit pucat dengan ada nya sebercak darah kering di sela bibir, yang sesekali ia gigit sendiri seperti sedang mencoba untuk mengurangi rasa sakit.. Sementara, kedua tangan gadis itu nampak sama terkepal bukan karena menahan amarah.. Tapi lebih seperti sedang menggenggam sesuatu..
“Dulu.. Lu juga pernah bilang kata yang sama pas niat jelek lu ke gw gagal.. Waktu itu, gw masih bisa maafin lu, Vin.. Tapi sekarang, setelah lu nyoba jahatin Anggie, gw ga bisa lagi kasih maaf buat kedua kalinya.. Gw minta lu lebih baik pergi dari tempat ini, sebelum lu gw bikin nyesel” Jawab gw yang setelahnya menarik tangan Anggie untuk beranjak pergi..
“Imam, tunggu!!” Teriak Viny dengan suara cukup keras seraya hendak melangkah kan kaki ke arah kami..
Langkah kaki gw seketika terhenti saat Anggie menarik lengan ini dari belakang, dan melihat Viny sedang di halangi Sekar Kencana yang nampak sudah memanjangkan lima kuku di jari tangan kanannya..
“Denger penjelasan Viny dulu, Beb.. Kita ga boleh ngejudge orang lain yang punya niat baik buat minta maaf”
“Kamu ga tahu apa yang udah dia lakuin ke kamu, Yank.. Dia yang bikin kamu tiba-tiba jatuh sakit tadi” Jawab gw sambil menunjukkan jari telunjuk ke arah Viny yang membuat ketiga saudara gw dan Arya serta Rio terbelalak..
Untuk beberapa saat, Anggie juga sama terkejutnya mendengar pengakuan gw.. Lalu melempar pandangan ke Viny yang sedang menatap dengan wajah dibasahi air mata..
“Tahan emosi mu, Kang Mas.. Masih banyak orang lain yang ada disini” Kata Sekar yang suara nya terdengar dalam batin, tanpa sedikitpun menoleh ke belakang..
Gw tertegun mendengar saran Sekar Kencana.. Hampir saja gw terlupa akan kehadiran orang-orang lain yang tidak mengetahui jati diri ini sebenarnya.. Dengan menghela nafas panjang, gw mencoba menguasai amarah yang masih terasa membakar dada..
“Yang dibilang Imam bener, Gie.. Aku minta maaf.. Dari dulu aku selalu mencoba memisahkan kalian berdua.. Karena apa? Karena aku cinta Imam dan ga rela dia menjadi milik orang lain” Ucap Viny dengan suara bergetar dan mata masih berlinangan air bening..
“Heh, pramuria!!Lu tuh gila yah! Lu nyadar ga sih kalo lu tuh phsyco? Lu tau ga kalo Imam sama sekali ga punya rasa sama lu.. Imam udah resmi jadi suami nya Anggie.. Harus nya lu terima itu dan jangan lagi usik mereka berdua” Sela Suluh dengan nada suara tak kalah keras dan membuat semua orang menatap ke arahnya..
Ridho yang melihat isteri nya itu sedikit melewati batas, langsung merangkul lengan Suluh dan merapatkan tubuhnya sambil mengucapkan sesuatu yang terdengar lirih.. Gw sempat menoleh ke arah Rio yang sedang mengedarkan pandangan ke berbagai arah seperti sedang memastikan keadaan sekitar.. Lalu, sepupu gw itu berjalan mendekat dan berbisik..
“Lu mau gw kondisiin tempat ini ga, Bree? Maksudnya, biar gw usir dulu tuh tukang catering yang lagi pada kepo nontonin kisah drama cinta segitiga antara lu, Anggie sama Viny?”
Gw seketika melirik Rio dengan tajam tanda sedang tak mau diajak bercanda.. Rio sendiri langsung nyengir kuda sambil perlahan mengelus-elus bahu gw agar tidak marah..
“Woles, Bree.. Lu jangan goyang.. Biar gw kondisiin semua tukang catering ama cees-cees kita dulu.. Abis itu gw balik lagi kesini” Ucap Rio yang masih gw tatap dengan tajam..
Dengan gerakan cepat, Rio langsung berjalan menuju beberapa orang petugas catering yang nampak sengaja menyibukkan diri begitu ia berjalan ke arah mereka.. Mail, Rendy dan Joni yang diberikan kode untuk Rio juga perlahan berjalan mendekat dan sempat diberikan beberapa wejangan dari sepupu gw yang baru berpangkat Letnan Dua itu.. Lalu mereka berempat nampak memanggil semua petugas catering yang langsung berkerumun mendengarkan ucapan Rio dan selepasnya pergi satu persatu..
Viny yang masih sesekali masih melirik kesal ke Suluh, nampak menyeka kedua mata nya dan menghela nafas secara perlahan..
“Aku ga perduli ucapan orang lain yang bilang aku terobsesi.. Aku phycho.. Atau istilah lain yang jelas-jelas ngerendahin aku” Kata Viny sambil sempat melirik sekali lagi ke arah Suluh..
“Mereka semua ga ngerasain jadi aku, Gie.. Mereka ga tau perihnya derita cinta yang aku rasain.. Bilang ke aku, Gie.. Aku juga punya hak untuk bebas mencintai siapa saja.. Apa aku salah mencintai Imam sebesar ini? Apa aku salah punya hasrat untuk milikin Imam seutuhnya?” Sambung Viny masih dengan suara parau terisak..
Gw sempat kembali merasa geram mendengar kalimat demi kalimat aneh yang dilisankan Viny.. Bagaimana tidak, bisa bisa nya gadis itu menyuarakan hak nya untuk mencintai gw yang jelas jelas sudah resmi menjadi suami Anggie.. Bener-bener phsyco tuh cewe..
“Udah, Vin.. Percuma lu ngomong panjang lebar.. Hak lu untuk mencintai Imam udah gugur setelah sodara gw itu selesai ngucapin ijab qobul dan resmi jadi suami nya Anggie.. Lu harus buka mata dan hati.. Ga bisa lu terus paksain kehendak yang jelas-jelas salah” Kata Ridho yang tumben bisa berucap dengan begitu bijaksananya..
“Ga bisa!! Kalo gw ga milikin Imam berarti ga ada orang lain yang boleh milikin dia” Bentak Viny yang lalu berlari sangat cepat sambil menghunus sebuah belati kecil ke arah gw..
Gw yang melihat bahaya mengancam, segera berbalik ke depan Anggie untuk melindunginya.. Sekar Kencana yang nampak sama terkejut, langsung bergerak sangat cepat melemparkan selendang emas ke arah Viny dan seketika membelit tubuh gadis itu serta membuatnya jatuh menghantam lantai gedung..
Sambil menjerit-jerit tak karuan, Viny terlihat meronta mencoba melepaskan diri dari belitan Selendang Emas milik Sekar.. Gw yang melihat Viny terus menjerit histeris, sempat tertegun dengan menatap nanar ke sosok gadis yang dahulu pernah gw cintai itu.. Beberapa orang yang mendengar suara jeritan Viny, nampak berlari masuk ke dalam gedung untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi..
“Viny kenapa, Bree? Koq kelojotan sambil jerit-jerit gitu?” Tanya Rio yang sudah berdiri disebelah gw dengan pandangan menatap aneh ke Viny..
Dengan pandangan mata telanjang orang-orang yang tidak memiliki kelebihan, sosok Viny tak ubahnya terlihat seperti seorang gadis yang sedang kesurupan.. Dia terus menjerit kencang dengan kondisi badan yang kaku seperti sedang terikat oleh sesuatu tak kasat mata, yang tak lain adalah Selendang Emas milik Sekar Kencana..
“Gw ga tau, Bree.. Dia tiba-tiba lari ke arah gw sambil bawa belati.. Terus jatoh ke lantai dan teriak-teriak histeris.. Lu kalo punya kenalan polisi, coba hubungin dah.. Kalo ga panggil satpam gedung ini” jawab gw beralasan agar Rio tidak menganggap yang terjadi dengan Viny terkait sesuatu hal gaib..
Rio menganggukkan kepala dan berjalan keluar untuk memanggil satpam yang tak lama kemudian langsung datang sebanyak dua orang dan memegangi tubuh Viny..
“Ehh, mo ngapain lu berdua? Gw belom selesai sama Imam.. Gw mo Imam jadi milik gw.. Imam, tolongin gw donk sayang.. Gw ga mau di pegangin kek gini.. Lepasin gw.. Lepasiiiiin” Teriak Viny yang sudah berada dalam pegangan tangan dua orang satpam bertubuh kekar, sambil mencoba terus berontak melepaskan diri..
Sekar Kencana yang melihat Viny sudah diamankan, menarik kembali belitan Selendang Emasnya.. Lalu dari sebelah, Ki Larang nampak menyapu tangan kanannya ke arah Viny dan membuat tubuh gadis itu menegang kaku dan jatuh pingsan setelahnya.. Sepertinya, Jin Penjaga utusan Sang Prabu telah melayangkan sebuah totokan atau pukulan jarak jauh yang membuat Viny
“Ga nyangka gw, Viny bisa sampe kek begitu ya, Bree.. Asli, miris ngeliatnya” Kata Ridho yang masih memeluk lengan Suluh dari samping..
Gw tidak menimpali ucapan Ridho dan terus memandangi sosok Viny yang sudah terkulai tak sadarkan diri dalam pegangan tangan dua orang satpam..
Setelah insiden kecil yang membuat sedikit shock, kami semua pulang ke rumah masing-masing.. Gw memboyong Anggie ke rumah gw dengan diantar kedua orang tua nya.. Gadis yang sekarang sudah memutuskan untuk menggunakan hijab itu, nampak selalu tersenyum sambil terus memeluk lengan gw dalam mobil Niss*n J*ke miliknya yang gw kemudikan.. Mobil dengan hiasan khas pengantin itu memasuki gang rumah gw dengan disambut lambaian tangan beberapa orang tetangga.. Dilain pihak, Ibu dan adik gw Ayu, menggunakan mobil peninggalan Almarhum Ayah yang dikemudikan Rio.. Sementara, kedua orang tua Anggie menyusul dibelakang dengan dua mobil mewah yang berbeda..
Antara Mamahnya Anggie dan Papahnya memang sepakat untuk melupakan pertikaian diantara mereka dan berusaha menampilkan sosok orang tua yang ideal di pesta pernikahan puterinya.. Selepas acara resepsi selesai, mereka pun kembali berjauhan meski tidak terlalu terlihat lagi adanya percik api perseteruan diantara mereka..
Ki Larang, Sekar Kencana dan Bayu Barata nampak sudah melayang berdiri menyambut kami yang mulai turun dari mobil masing-masing..
“Menurut adat Betawi, kamu harus ngendong dulu selama tiga hari disini, Yank” Kata gw sambil menggenggam jemari Anggie dan mengajaknya berjalan menuju teras..
“Ngendong apa sih, Beb?” Tanya Anggie sambil mengerutkan keningnya yang sebagian tertutup hijab..
“Sleep Over alias Nginep.. Itu bahasa Betawi khas Depok, Yank” Jawab gw yang disambut anggukan kepala Anggie..
Adik gw Ayu yang berjalan beriringan bersama Ibu dibelakang, terdengar memanggil Anggie dan berlari menyusul kami.. Dengan sangat konyolnya, ia melepaskan pegangan gw dari tangan Anggie dan berganti ia yang menggenggam jemari isteri gw itu..
“Sekarang Kak Anggie udah resmi jadi Kakaknya aku kan, Bang?” Tanya Ayu yang sudah berada ditengah-tengah kami..
“Ya Udah lah.. Kak Anggie kan udah jadi isteri Abang”
“Assiiik.. Berarti, nanti malem Kak Anggie bisa nemenin aku tidur donk”
Gw yang mendengar ucapan Ayu sontak membelalakkan mata..
“Enak aja.. Ya tidurnya bareng Abang lah.. Kamu tidur minta ditemenin Ibu aja kek biasa,, Lagian, Kak Anggie ga bakal betah tidur dikasur kamu yang bau pesing tau” Sahut gw dengan gaya nyeleneh sengaja untuk membuat Ayu kesal..
“ IBUUUUU!!! Abang tuuuh!!!” Teriak Ayu yang membuat gw langsung mempercepat langkah memasuki rumah sambil tertawa..
Saat sudah berada dalam rumah dan membuka pintu kamar, gw cukup terkejut melihat keadaan kamar tidur gw yang biasa nya berantakan sudah tertata sangat rapih.. Seprai berwarna merah marun dengan banyak gambar bunga mawar menjadi alas pertama diatasnya.. Belum lagi bau harum dari beberapa kuntum bunga yang sama diatas meja belajar, memanjakan indera penciuman ini.. Rasa terkejut gw semakin bertambah dengan adanya sebuah foto mesra gw dan Anggie yang seharus nya berukuran kecil, kini sudah bertambah jauh lebih besar dan terpampang persis diatas kepala tempat tidur..
“Keren kan, Bree? Ide gw tuh” Kata Rio yang tahu-tahu sudah berdiri di belakang sambil bertolak pinggang..
Gw seketika mencibir Rio seraya berjalan dan duduk di atas pinggir tempat tidur..
“Kaga percaya gw.. Palingan ini kejutan dari Ibu”
“Ya elaaah, ga percaya amat lu, Mam.. Ini ide gw yang dipake Ibu.. Photo itu juga gw yang cetakin di studio” Sanggah Rio sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam celana panjang dan mengambil sebatang untuk dibakar..
“Bree, jangan ngerokok di kamar gw lah.. Sayang-sayang nih, udah wangi.. Lagian ntar bini gw kan tidur disini.. Kalo dia nyium bau rokok nanti disangka nya gw lagi”
Rio nampak gantian sekarang mencibir gw.. Kemudian, sepupu gw itu bangkit dan mulai melangkah kembali ke arah pintu..
“Mo kemana lu?” Tanya gw sedikit bingung melihat tingkah Rio..
“Pulang! Gw mo puas-puasin ngerokok di rumah.. Sekalian mo liet keponakan baru gw yang pasti sama tamvan kek Om nya ini”
Sontak gw tertawa mendengar candaan Rio.. Lalu melempar sebuah bantal ke arahnya yang langsung berlari keluar dari kamar.. Begitu sudah sendiri, gw berjalan menuju meja belajar dan mengambil sebuah pigura kecil yang berisi photo Ayah dan gw sedang berpose mengangkat kedua lengan untuk menunjukkan otot kami berdua..
“Yah, seandainya Ayah ada disini dan bisa liet Abang nikah tadi, pasti Abang, Ibu sama Ade bakal bahagia banget” Ucap gw dengan kedua mata mulai terasa perih..
Kesedihan yang gw rasakan kembali dala relung hati karena merindukan sosok seorang Ayah, perlahan lenyap saat seseorang dari belakang memeluk pinggang dan menyandarkan wajah diatas bahu kanan..
“Ayah pasti bahagia juga, Beb disana.. Aku yakin banget” Ucap Anggie dengan suara lembut..
Gw tersenyum mendengar ucapan Anggie dan menganggukkan kepala.. Lalu menarik bangku belajar dan duduk sambil memangku Anggie di atas paha..
“Ini menantu Ayah.. Nama nya Anggie Angelita Hapsari.. Cantik kan, Yah?” Kata gw seraya terus memegangi photo Ayah yang gw pegang di atas paha Anggie..
Anggie tersenyum dan memegangi pipi gw sambil menoleh ke belakang hingga jarak wajah kami hampir menempel satu sama lain.. Untuk beberapa saat, kami berdua sama tertegun saling tatap.. Kemudian, perlahan gw mencium bibir Anggie yang terasa manis dan melepasnya meski dahi kami masih saling menempel..
“I Love You So Much” Bisik gw dengan suara lirih, yang kemudian di balas Anggie dengan mengecup kening, kedua pipi dan bibir gw sekali lagi..
“I Love You Too, Beb.. With all my heart” Jawab Anggie sambil memegangi kedua pipi ini..
TOK.. TOK.. TOK..
“Abang, mertua kamu mau bicara diluar sebentar tuh” Kata Ibu yang diawali dengan suara tiga kali ketukan dipintu
“Astaghfirullah! Aku lupa, tadi aku disuruh manggil kamu di kamar sama Ibu” Ucap Anggie yang langsung melompat turun dari atas pangkuan gw dan segera menarik tangan ini untuk keluar kamar..
Diruang tengah, Papah sama Mamahnya Anggie yang duduk terpisah diatas sofa, sama-sama menyunggingkan senyuman manis ke arah kami berdua..
“Sini duduk, Mam.. Kamu juga sayang.. Ada yang mau Mamah sama Papah omongin ke kalian berdua” Kata Mamahnya Anggie sambil melemparkan pandangan ke arah sofa kosong disebelah Ibu..
Gw dan Anggie menganggukkan kepala dan duduk bersebelahan disana.. Sesaat, Anggie sempat menoleh ke arah gw dengan wajah seolah bertanya apa yang akan di sampaikan oleh kedua orang tua nya.. Gw sendiri hanya bisa membalas tatapan Anggie dengan mengerutkan dahi..
“Jadi begini.. Mamah diminta Papah untuk menyampaikan sesuatu ke kalian berdua yang memang telah resmi menjadi suami isteri.. Sebelumnya, Mamah secara pribadi sangat bahagia melihat hubungan kalian akhirnya bisa berakhir di pelaminan.. Mamah bisa lihat pancaran sinar kebahagiaan yang sama nampak di wajah kalian berdua.. Di wajah Bu Sumi sebagai orang tua nya Imam dan wajah Papah kalian”
Gw dan Anggie serta Ibu sama-sama menyunggingkan senyuman mendengar kan kalimat yang terlisan dari Mamahnya Anggie a.k.a Mamah mertua gw..
“Sebagaimana yang kalian tahu, sebentar lagi Papah kalian kan mau ke Luar Negeri.. Nah, sebelum pergi, Papah mau memberikan kalian berdua sebuah rumah yang memang dibangun untuk hadiah pernikahan kalian”
Sontak, pandangan mata gw terbelalak begitu maksud pembicaraan jelas sudah terlisan dari mulut Mamahnya Anggie.. Anggie sendiri perlahan menggenggam jemari gw karena tahu raut wajah ini berubah.. Sebenarnya, gw ingin langsung memberikan jawaban untuk menolak.. Namun saat pandangan mata ini melirik Ibu yang sedang menajamkan tatapannya, gw hanya bisa menghela nafas panjang..
“Papah faham sekali karakter kamu, Mam.. Papah tau kamu pasti akan menolak pemberian Papah.. Harga diri kamu sebagai seorang suami pasti muncul begitu Mamah tadi mengatakan soal rumah.. Tapi, tolong.. Terima pemberian ini.. Sebuah pemberian dari seorang Papah untuk anak perempuan satu-satu nya yang paling ia sayangi di dunia.. Maksud Papah sama sekali bukan untuk merendahkan kamu sebagai suami nya Anggie.. Papah tahu, kamu pasti akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan Anggie.. Sekali lagi, Papah mohon.. Terima pemberian Papah untuk kalian berdua” Ucap Papah nya Anggie dengan wajah memelas yang lalu mengeluarkans erangkaian anak kunci rumah dengan gantungan kayu bertuliskan ukiran nama gw dan Anggie dan meletakkannya diatas meja..
Gw sempat menatap nanar ke tiga buah anak kunci yang tergeletak di atas meja persis di hadapan.. Entah lah, benak gw terasa dipenuhi berbagai macam pikiran yang berkecamuk.. Berbagai kilasan masa lalu tentang perbuatan Papahnya Anggie seakan muncul kembali di pelupuk kedua mata.. Dari bagaimana ia memaksakan perjodohan anak gadis nya itu dengan Arya lewat penggunaan Ilmu hitam berjenis pelet, hingga bagaimana ia menginjak-injak harga diri gw dan keluarga di hari pertunangan rekayasa beberapa waktu silam..
“Bang, gimana jawaban kamu?” Tanya Ibu yang membuat lamunan gw buyar seketika..
“Papah janji tidak akan pernah mencampuri urusan rumah tangga kalian berdua.. Papah juga janji tidak akan mengungkit-ungkit pemberian ini kalau kamu takut, Mam.. Papah sudah benar-benar berubah dan sangat ingin melihat kalian berdua bahagia.. Semua Papah lakukan tidak lain hanya karena cinta Papah ke Anggie” Tambah Papahnya Anggie yang membuat gw kembali tertegun..
Sekali lagi, gw menghela nafas panjang dan menoleh ke arah Anggie yang nampak sedang tersenyum.. Lalu, gw melemparkan kembali pandangan ke arah kedua orang yang sudah menjadi mertua gw..
“Saya terserah Anggie saja, Pah.. Saya tahu, rumah itu memang dibangun untuknya.. Jadi semua keputusan saya serahkan ke Anggie” Jawab gw yang memang bingung untuk memberikan alasan apa sebagai jawaban..
Anggie yang mendengar jawaban gw, terasa mengencangkan genggaman tangannya di jari ini.. Papahnya Anggie yang juga mendengar jawaban gw, segera melempar pandangan penuh harap ke puteri semata wayangnya itu..
“Sayang, kamu mau kan menerima pemberian Papah?” Tanya Papahnya Anggie masih dengan wajah memelas..
Anggie untuk sesaat menatap gw dalam-dalam dari arah samping.. Kemudian ia terdengar menghela nafas dan menatap wajah Papahnya..
“Pah.. Anggie sekarang sudah jadi seorang isteri dari laki-laki pilihan Anggie.. Jadi sebagai seorang isteri, Anggie lah yang harus mengikuti kata suami.. Dimana pun suami Anggie akan tinggal nantinya, Anggie tetap harus bersama dia.. Entah dia akan menerima atau menolak pemberian Papah, Anggie serahin semua ke suami Anggie ini” Jawab Anggie sambil kembali mengencangkan genggaman tangannya..
Papah nya Anggie sendiri nampak mulai putus asa untuk membujuk kami berdua yang masih belum memberikan keputusan apapun terkait hadiah pemberiannya.. Gw yang sempat meliriik Ibu, kembali terintimidasi oleh tatapan tajam beliau yang seakan memaksa diri ini untuk segera mengambil sebuah keputusan..
“Pah, saya terima pemberian Papah tapi dengan satu syarat” Ucap gw yang membuat kedua orang tua nya Anggie saling tatap..
Ketiga saudara gw dan Arya serta Binar nampak mulai berjalan menuju ke arah Viny, bersamaan dengan melangkahnya kedua kaki gw ke arah sama.. Sekar Kencana nampak sudah siap sekali dengan posisi waspada.. Sementara Ki Larang terlihat sedikit bingung menyadari bahwa Viny masih bisa menyusul ke sini setelah berhasil ia lumpuhkan sebelumnya..
Gw sempat menoleh ke arah Rio dan ketiga sahabat baik sewaktu SMA serta beberapa petugas catering yang terlihat sedang memperhatikan kami.. Dari wajah Mail, Rendy, Joni dan Rio sama-sama menyiratkan kebingungan melihat Viny hanya berdiri mematung menghadap kami.. Gw sendiri terus menatap Viny dengan sorot mata tajam tak berkedip..
“Mo ngapain lu kesini, Vin? Belom puas lu jahatin Anggie?” Tanya gw dengan nada cukup keras yang membuat hampir setiap orang mengerutkan dahi karena bingung..
Anggie pun sama.. Isteri gw itu nampak menoleh dan memandangi wajah gw yang sudah memerah menahan emosi..
“Aku mo minta maaf, Mam.. Aku bener-bener nyesel udah lakuin semua” Kata Viny dengan wajah tertunduk..
Gw terdiam sambil tetap menatap nanar ke arah Viny.. Sebenarnya ada sedikit rasa iba melihat penampilan gadis itu yang nampak berantakan dengan rambut sebahu yang sudah tidak tersisir rapi dan beberapa sobekan di kaus ketat dan celana jeans panjangnya.. Kedua mata Viny terlihat masih basah oleh air mata yang membuatnya sembab.. Wajahnya pun sedikit pucat dengan ada nya sebercak darah kering di sela bibir, yang sesekali ia gigit sendiri seperti sedang mencoba untuk mengurangi rasa sakit.. Sementara, kedua tangan gadis itu nampak sama terkepal bukan karena menahan amarah.. Tapi lebih seperti sedang menggenggam sesuatu..
“Dulu.. Lu juga pernah bilang kata yang sama pas niat jelek lu ke gw gagal.. Waktu itu, gw masih bisa maafin lu, Vin.. Tapi sekarang, setelah lu nyoba jahatin Anggie, gw ga bisa lagi kasih maaf buat kedua kalinya.. Gw minta lu lebih baik pergi dari tempat ini, sebelum lu gw bikin nyesel” Jawab gw yang setelahnya menarik tangan Anggie untuk beranjak pergi..
“Imam, tunggu!!” Teriak Viny dengan suara cukup keras seraya hendak melangkah kan kaki ke arah kami..
Langkah kaki gw seketika terhenti saat Anggie menarik lengan ini dari belakang, dan melihat Viny sedang di halangi Sekar Kencana yang nampak sudah memanjangkan lima kuku di jari tangan kanannya..
“Denger penjelasan Viny dulu, Beb.. Kita ga boleh ngejudge orang lain yang punya niat baik buat minta maaf”
“Kamu ga tahu apa yang udah dia lakuin ke kamu, Yank.. Dia yang bikin kamu tiba-tiba jatuh sakit tadi” Jawab gw sambil menunjukkan jari telunjuk ke arah Viny yang membuat ketiga saudara gw dan Arya serta Rio terbelalak..
Untuk beberapa saat, Anggie juga sama terkejutnya mendengar pengakuan gw.. Lalu melempar pandangan ke Viny yang sedang menatap dengan wajah dibasahi air mata..
“Tahan emosi mu, Kang Mas.. Masih banyak orang lain yang ada disini” Kata Sekar yang suara nya terdengar dalam batin, tanpa sedikitpun menoleh ke belakang..
Gw tertegun mendengar saran Sekar Kencana.. Hampir saja gw terlupa akan kehadiran orang-orang lain yang tidak mengetahui jati diri ini sebenarnya.. Dengan menghela nafas panjang, gw mencoba menguasai amarah yang masih terasa membakar dada..
“Yang dibilang Imam bener, Gie.. Aku minta maaf.. Dari dulu aku selalu mencoba memisahkan kalian berdua.. Karena apa? Karena aku cinta Imam dan ga rela dia menjadi milik orang lain” Ucap Viny dengan suara bergetar dan mata masih berlinangan air bening..
“Heh, pramuria!!Lu tuh gila yah! Lu nyadar ga sih kalo lu tuh phsyco? Lu tau ga kalo Imam sama sekali ga punya rasa sama lu.. Imam udah resmi jadi suami nya Anggie.. Harus nya lu terima itu dan jangan lagi usik mereka berdua” Sela Suluh dengan nada suara tak kalah keras dan membuat semua orang menatap ke arahnya..
Ridho yang melihat isteri nya itu sedikit melewati batas, langsung merangkul lengan Suluh dan merapatkan tubuhnya sambil mengucapkan sesuatu yang terdengar lirih.. Gw sempat menoleh ke arah Rio yang sedang mengedarkan pandangan ke berbagai arah seperti sedang memastikan keadaan sekitar.. Lalu, sepupu gw itu berjalan mendekat dan berbisik..
“Lu mau gw kondisiin tempat ini ga, Bree? Maksudnya, biar gw usir dulu tuh tukang catering yang lagi pada kepo nontonin kisah drama cinta segitiga antara lu, Anggie sama Viny?”
Gw seketika melirik Rio dengan tajam tanda sedang tak mau diajak bercanda.. Rio sendiri langsung nyengir kuda sambil perlahan mengelus-elus bahu gw agar tidak marah..
“Woles, Bree.. Lu jangan goyang.. Biar gw kondisiin semua tukang catering ama cees-cees kita dulu.. Abis itu gw balik lagi kesini” Ucap Rio yang masih gw tatap dengan tajam..
Dengan gerakan cepat, Rio langsung berjalan menuju beberapa orang petugas catering yang nampak sengaja menyibukkan diri begitu ia berjalan ke arah mereka.. Mail, Rendy dan Joni yang diberikan kode untuk Rio juga perlahan berjalan mendekat dan sempat diberikan beberapa wejangan dari sepupu gw yang baru berpangkat Letnan Dua itu.. Lalu mereka berempat nampak memanggil semua petugas catering yang langsung berkerumun mendengarkan ucapan Rio dan selepasnya pergi satu persatu..
Viny yang masih sesekali masih melirik kesal ke Suluh, nampak menyeka kedua mata nya dan menghela nafas secara perlahan..
“Aku ga perduli ucapan orang lain yang bilang aku terobsesi.. Aku phycho.. Atau istilah lain yang jelas-jelas ngerendahin aku” Kata Viny sambil sempat melirik sekali lagi ke arah Suluh..
“Mereka semua ga ngerasain jadi aku, Gie.. Mereka ga tau perihnya derita cinta yang aku rasain.. Bilang ke aku, Gie.. Aku juga punya hak untuk bebas mencintai siapa saja.. Apa aku salah mencintai Imam sebesar ini? Apa aku salah punya hasrat untuk milikin Imam seutuhnya?” Sambung Viny masih dengan suara parau terisak..
Gw sempat kembali merasa geram mendengar kalimat demi kalimat aneh yang dilisankan Viny.. Bagaimana tidak, bisa bisa nya gadis itu menyuarakan hak nya untuk mencintai gw yang jelas jelas sudah resmi menjadi suami Anggie.. Bener-bener phsyco tuh cewe..
“Udah, Vin.. Percuma lu ngomong panjang lebar.. Hak lu untuk mencintai Imam udah gugur setelah sodara gw itu selesai ngucapin ijab qobul dan resmi jadi suami nya Anggie.. Lu harus buka mata dan hati.. Ga bisa lu terus paksain kehendak yang jelas-jelas salah” Kata Ridho yang tumben bisa berucap dengan begitu bijaksananya..
“Ga bisa!! Kalo gw ga milikin Imam berarti ga ada orang lain yang boleh milikin dia” Bentak Viny yang lalu berlari sangat cepat sambil menghunus sebuah belati kecil ke arah gw..
Gw yang melihat bahaya mengancam, segera berbalik ke depan Anggie untuk melindunginya.. Sekar Kencana yang nampak sama terkejut, langsung bergerak sangat cepat melemparkan selendang emas ke arah Viny dan seketika membelit tubuh gadis itu serta membuatnya jatuh menghantam lantai gedung..
Sambil menjerit-jerit tak karuan, Viny terlihat meronta mencoba melepaskan diri dari belitan Selendang Emas milik Sekar.. Gw yang melihat Viny terus menjerit histeris, sempat tertegun dengan menatap nanar ke sosok gadis yang dahulu pernah gw cintai itu.. Beberapa orang yang mendengar suara jeritan Viny, nampak berlari masuk ke dalam gedung untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi..
“Viny kenapa, Bree? Koq kelojotan sambil jerit-jerit gitu?” Tanya Rio yang sudah berdiri disebelah gw dengan pandangan menatap aneh ke Viny..
Dengan pandangan mata telanjang orang-orang yang tidak memiliki kelebihan, sosok Viny tak ubahnya terlihat seperti seorang gadis yang sedang kesurupan.. Dia terus menjerit kencang dengan kondisi badan yang kaku seperti sedang terikat oleh sesuatu tak kasat mata, yang tak lain adalah Selendang Emas milik Sekar Kencana..
“Gw ga tau, Bree.. Dia tiba-tiba lari ke arah gw sambil bawa belati.. Terus jatoh ke lantai dan teriak-teriak histeris.. Lu kalo punya kenalan polisi, coba hubungin dah.. Kalo ga panggil satpam gedung ini” jawab gw beralasan agar Rio tidak menganggap yang terjadi dengan Viny terkait sesuatu hal gaib..
Rio menganggukkan kepala dan berjalan keluar untuk memanggil satpam yang tak lama kemudian langsung datang sebanyak dua orang dan memegangi tubuh Viny..
“Ehh, mo ngapain lu berdua? Gw belom selesai sama Imam.. Gw mo Imam jadi milik gw.. Imam, tolongin gw donk sayang.. Gw ga mau di pegangin kek gini.. Lepasin gw.. Lepasiiiiin” Teriak Viny yang sudah berada dalam pegangan tangan dua orang satpam bertubuh kekar, sambil mencoba terus berontak melepaskan diri..
Sekar Kencana yang melihat Viny sudah diamankan, menarik kembali belitan Selendang Emasnya.. Lalu dari sebelah, Ki Larang nampak menyapu tangan kanannya ke arah Viny dan membuat tubuh gadis itu menegang kaku dan jatuh pingsan setelahnya.. Sepertinya, Jin Penjaga utusan Sang Prabu telah melayangkan sebuah totokan atau pukulan jarak jauh yang membuat Viny
“Ga nyangka gw, Viny bisa sampe kek begitu ya, Bree.. Asli, miris ngeliatnya” Kata Ridho yang masih memeluk lengan Suluh dari samping..
Gw tidak menimpali ucapan Ridho dan terus memandangi sosok Viny yang sudah terkulai tak sadarkan diri dalam pegangan tangan dua orang satpam..
Setelah insiden kecil yang membuat sedikit shock, kami semua pulang ke rumah masing-masing.. Gw memboyong Anggie ke rumah gw dengan diantar kedua orang tua nya.. Gadis yang sekarang sudah memutuskan untuk menggunakan hijab itu, nampak selalu tersenyum sambil terus memeluk lengan gw dalam mobil Niss*n J*ke miliknya yang gw kemudikan.. Mobil dengan hiasan khas pengantin itu memasuki gang rumah gw dengan disambut lambaian tangan beberapa orang tetangga.. Dilain pihak, Ibu dan adik gw Ayu, menggunakan mobil peninggalan Almarhum Ayah yang dikemudikan Rio.. Sementara, kedua orang tua Anggie menyusul dibelakang dengan dua mobil mewah yang berbeda..
Antara Mamahnya Anggie dan Papahnya memang sepakat untuk melupakan pertikaian diantara mereka dan berusaha menampilkan sosok orang tua yang ideal di pesta pernikahan puterinya.. Selepas acara resepsi selesai, mereka pun kembali berjauhan meski tidak terlalu terlihat lagi adanya percik api perseteruan diantara mereka..
Ki Larang, Sekar Kencana dan Bayu Barata nampak sudah melayang berdiri menyambut kami yang mulai turun dari mobil masing-masing..
“Menurut adat Betawi, kamu harus ngendong dulu selama tiga hari disini, Yank” Kata gw sambil menggenggam jemari Anggie dan mengajaknya berjalan menuju teras..
“Ngendong apa sih, Beb?” Tanya Anggie sambil mengerutkan keningnya yang sebagian tertutup hijab..
“Sleep Over alias Nginep.. Itu bahasa Betawi khas Depok, Yank” Jawab gw yang disambut anggukan kepala Anggie..
Adik gw Ayu yang berjalan beriringan bersama Ibu dibelakang, terdengar memanggil Anggie dan berlari menyusul kami.. Dengan sangat konyolnya, ia melepaskan pegangan gw dari tangan Anggie dan berganti ia yang menggenggam jemari isteri gw itu..
“Sekarang Kak Anggie udah resmi jadi Kakaknya aku kan, Bang?” Tanya Ayu yang sudah berada ditengah-tengah kami..
“Ya Udah lah.. Kak Anggie kan udah jadi isteri Abang”
“Assiiik.. Berarti, nanti malem Kak Anggie bisa nemenin aku tidur donk”
Gw yang mendengar ucapan Ayu sontak membelalakkan mata..
“Enak aja.. Ya tidurnya bareng Abang lah.. Kamu tidur minta ditemenin Ibu aja kek biasa,, Lagian, Kak Anggie ga bakal betah tidur dikasur kamu yang bau pesing tau” Sahut gw dengan gaya nyeleneh sengaja untuk membuat Ayu kesal..
“ IBUUUUU!!! Abang tuuuh!!!” Teriak Ayu yang membuat gw langsung mempercepat langkah memasuki rumah sambil tertawa..
Saat sudah berada dalam rumah dan membuka pintu kamar, gw cukup terkejut melihat keadaan kamar tidur gw yang biasa nya berantakan sudah tertata sangat rapih.. Seprai berwarna merah marun dengan banyak gambar bunga mawar menjadi alas pertama diatasnya.. Belum lagi bau harum dari beberapa kuntum bunga yang sama diatas meja belajar, memanjakan indera penciuman ini.. Rasa terkejut gw semakin bertambah dengan adanya sebuah foto mesra gw dan Anggie yang seharus nya berukuran kecil, kini sudah bertambah jauh lebih besar dan terpampang persis diatas kepala tempat tidur..
“Keren kan, Bree? Ide gw tuh” Kata Rio yang tahu-tahu sudah berdiri di belakang sambil bertolak pinggang..
Gw seketika mencibir Rio seraya berjalan dan duduk di atas pinggir tempat tidur..
“Kaga percaya gw.. Palingan ini kejutan dari Ibu”
“Ya elaaah, ga percaya amat lu, Mam.. Ini ide gw yang dipake Ibu.. Photo itu juga gw yang cetakin di studio” Sanggah Rio sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam celana panjang dan mengambil sebatang untuk dibakar..
“Bree, jangan ngerokok di kamar gw lah.. Sayang-sayang nih, udah wangi.. Lagian ntar bini gw kan tidur disini.. Kalo dia nyium bau rokok nanti disangka nya gw lagi”
Rio nampak gantian sekarang mencibir gw.. Kemudian, sepupu gw itu bangkit dan mulai melangkah kembali ke arah pintu..
“Mo kemana lu?” Tanya gw sedikit bingung melihat tingkah Rio..
“Pulang! Gw mo puas-puasin ngerokok di rumah.. Sekalian mo liet keponakan baru gw yang pasti sama tamvan kek Om nya ini”
Sontak gw tertawa mendengar candaan Rio.. Lalu melempar sebuah bantal ke arahnya yang langsung berlari keluar dari kamar.. Begitu sudah sendiri, gw berjalan menuju meja belajar dan mengambil sebuah pigura kecil yang berisi photo Ayah dan gw sedang berpose mengangkat kedua lengan untuk menunjukkan otot kami berdua..
“Yah, seandainya Ayah ada disini dan bisa liet Abang nikah tadi, pasti Abang, Ibu sama Ade bakal bahagia banget” Ucap gw dengan kedua mata mulai terasa perih..
Kesedihan yang gw rasakan kembali dala relung hati karena merindukan sosok seorang Ayah, perlahan lenyap saat seseorang dari belakang memeluk pinggang dan menyandarkan wajah diatas bahu kanan..
“Ayah pasti bahagia juga, Beb disana.. Aku yakin banget” Ucap Anggie dengan suara lembut..
Gw tersenyum mendengar ucapan Anggie dan menganggukkan kepala.. Lalu menarik bangku belajar dan duduk sambil memangku Anggie di atas paha..
“Ini menantu Ayah.. Nama nya Anggie Angelita Hapsari.. Cantik kan, Yah?” Kata gw seraya terus memegangi photo Ayah yang gw pegang di atas paha Anggie..
Anggie tersenyum dan memegangi pipi gw sambil menoleh ke belakang hingga jarak wajah kami hampir menempel satu sama lain.. Untuk beberapa saat, kami berdua sama tertegun saling tatap.. Kemudian, perlahan gw mencium bibir Anggie yang terasa manis dan melepasnya meski dahi kami masih saling menempel..
“I Love You So Much” Bisik gw dengan suara lirih, yang kemudian di balas Anggie dengan mengecup kening, kedua pipi dan bibir gw sekali lagi..
“I Love You Too, Beb.. With all my heart” Jawab Anggie sambil memegangi kedua pipi ini..
TOK.. TOK.. TOK..
“Abang, mertua kamu mau bicara diluar sebentar tuh” Kata Ibu yang diawali dengan suara tiga kali ketukan dipintu
“Astaghfirullah! Aku lupa, tadi aku disuruh manggil kamu di kamar sama Ibu” Ucap Anggie yang langsung melompat turun dari atas pangkuan gw dan segera menarik tangan ini untuk keluar kamar..
Diruang tengah, Papah sama Mamahnya Anggie yang duduk terpisah diatas sofa, sama-sama menyunggingkan senyuman manis ke arah kami berdua..
“Sini duduk, Mam.. Kamu juga sayang.. Ada yang mau Mamah sama Papah omongin ke kalian berdua” Kata Mamahnya Anggie sambil melemparkan pandangan ke arah sofa kosong disebelah Ibu..
Gw dan Anggie menganggukkan kepala dan duduk bersebelahan disana.. Sesaat, Anggie sempat menoleh ke arah gw dengan wajah seolah bertanya apa yang akan di sampaikan oleh kedua orang tua nya.. Gw sendiri hanya bisa membalas tatapan Anggie dengan mengerutkan dahi..
“Jadi begini.. Mamah diminta Papah untuk menyampaikan sesuatu ke kalian berdua yang memang telah resmi menjadi suami isteri.. Sebelumnya, Mamah secara pribadi sangat bahagia melihat hubungan kalian akhirnya bisa berakhir di pelaminan.. Mamah bisa lihat pancaran sinar kebahagiaan yang sama nampak di wajah kalian berdua.. Di wajah Bu Sumi sebagai orang tua nya Imam dan wajah Papah kalian”
Gw dan Anggie serta Ibu sama-sama menyunggingkan senyuman mendengar kan kalimat yang terlisan dari Mamahnya Anggie a.k.a Mamah mertua gw..
“Sebagaimana yang kalian tahu, sebentar lagi Papah kalian kan mau ke Luar Negeri.. Nah, sebelum pergi, Papah mau memberikan kalian berdua sebuah rumah yang memang dibangun untuk hadiah pernikahan kalian”
Sontak, pandangan mata gw terbelalak begitu maksud pembicaraan jelas sudah terlisan dari mulut Mamahnya Anggie.. Anggie sendiri perlahan menggenggam jemari gw karena tahu raut wajah ini berubah.. Sebenarnya, gw ingin langsung memberikan jawaban untuk menolak.. Namun saat pandangan mata ini melirik Ibu yang sedang menajamkan tatapannya, gw hanya bisa menghela nafas panjang..
“Papah faham sekali karakter kamu, Mam.. Papah tau kamu pasti akan menolak pemberian Papah.. Harga diri kamu sebagai seorang suami pasti muncul begitu Mamah tadi mengatakan soal rumah.. Tapi, tolong.. Terima pemberian ini.. Sebuah pemberian dari seorang Papah untuk anak perempuan satu-satu nya yang paling ia sayangi di dunia.. Maksud Papah sama sekali bukan untuk merendahkan kamu sebagai suami nya Anggie.. Papah tahu, kamu pasti akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan Anggie.. Sekali lagi, Papah mohon.. Terima pemberian Papah untuk kalian berdua” Ucap Papah nya Anggie dengan wajah memelas yang lalu mengeluarkans erangkaian anak kunci rumah dengan gantungan kayu bertuliskan ukiran nama gw dan Anggie dan meletakkannya diatas meja..
Gw sempat menatap nanar ke tiga buah anak kunci yang tergeletak di atas meja persis di hadapan.. Entah lah, benak gw terasa dipenuhi berbagai macam pikiran yang berkecamuk.. Berbagai kilasan masa lalu tentang perbuatan Papahnya Anggie seakan muncul kembali di pelupuk kedua mata.. Dari bagaimana ia memaksakan perjodohan anak gadis nya itu dengan Arya lewat penggunaan Ilmu hitam berjenis pelet, hingga bagaimana ia menginjak-injak harga diri gw dan keluarga di hari pertunangan rekayasa beberapa waktu silam..
“Bang, gimana jawaban kamu?” Tanya Ibu yang membuat lamunan gw buyar seketika..
“Papah janji tidak akan pernah mencampuri urusan rumah tangga kalian berdua.. Papah juga janji tidak akan mengungkit-ungkit pemberian ini kalau kamu takut, Mam.. Papah sudah benar-benar berubah dan sangat ingin melihat kalian berdua bahagia.. Semua Papah lakukan tidak lain hanya karena cinta Papah ke Anggie” Tambah Papahnya Anggie yang membuat gw kembali tertegun..
Sekali lagi, gw menghela nafas panjang dan menoleh ke arah Anggie yang nampak sedang tersenyum.. Lalu, gw melemparkan kembali pandangan ke arah kedua orang yang sudah menjadi mertua gw..
“Saya terserah Anggie saja, Pah.. Saya tahu, rumah itu memang dibangun untuknya.. Jadi semua keputusan saya serahkan ke Anggie” Jawab gw yang memang bingung untuk memberikan alasan apa sebagai jawaban..
Anggie yang mendengar jawaban gw, terasa mengencangkan genggaman tangannya di jari ini.. Papahnya Anggie yang juga mendengar jawaban gw, segera melempar pandangan penuh harap ke puteri semata wayangnya itu..
“Sayang, kamu mau kan menerima pemberian Papah?” Tanya Papahnya Anggie masih dengan wajah memelas..
Anggie untuk sesaat menatap gw dalam-dalam dari arah samping.. Kemudian ia terdengar menghela nafas dan menatap wajah Papahnya..
“Pah.. Anggie sekarang sudah jadi seorang isteri dari laki-laki pilihan Anggie.. Jadi sebagai seorang isteri, Anggie lah yang harus mengikuti kata suami.. Dimana pun suami Anggie akan tinggal nantinya, Anggie tetap harus bersama dia.. Entah dia akan menerima atau menolak pemberian Papah, Anggie serahin semua ke suami Anggie ini” Jawab Anggie sambil kembali mengencangkan genggaman tangannya..
Papah nya Anggie sendiri nampak mulai putus asa untuk membujuk kami berdua yang masih belum memberikan keputusan apapun terkait hadiah pemberiannya.. Gw yang sempat meliriik Ibu, kembali terintimidasi oleh tatapan tajam beliau yang seakan memaksa diri ini untuk segera mengambil sebuah keputusan..
“Pah, saya terima pemberian Papah tapi dengan satu syarat” Ucap gw yang membuat kedua orang tua nya Anggie saling tatap..
Diubah oleh juraganpengki 18-10-2023 14:20
dodolgarut134 dan 16 lainnya memberi reputasi
11