- Beranda
- Stories from the Heart
Berbeda Agama
...
TS
natgeas2
Berbeda Agama
~Berbeda Agama~
Saya cuma seorang anak penjual pastel yang mencoba mencari peruntungan untuk mengubah nasib dimulai dengan kuliah di Universitas Gedhe Mbayare, salah satu kampus tertua di yogyakarta bahkan di indonesia. Langkah yang cukup berani menurut saya, karena bagi seorang anak penjual pastel yang penghasilannya hanya cukup untuk sehari-hari, tidak sedikit yang mencibir bahkan memandang rendah bahwa saya dan keluarga tidak akan mampu menyelesaikan kuliah saya.
Udah segitu aja, karena saya bingung mau bikin prolog apa, ga pernah bikin prolog, ngikutin thread lain bagus-bagus prolognya, tapi saya ga bisa ternyata
Udah segitu aja, karena saya bingung mau bikin prolog apa, ga pernah bikin prolog, ngikutin thread lain bagus-bagus prolognya, tapi saya ga bisa ternyata

Daftar Karakter :

Arjuna
Karakter saya, ya bisa dilihat potongan saya seperti gambar diatas, tinggi, tegap, kepala cepak. ya walaupun gak mirip-mirip banget sama pak miller, tapi karena banyak orang yang bilang saya mirip pak miller ini, maka saya pasang saja foto pak miller sebagai representasi diri saya.

Ibu&Ayah
Ibu saya bernamaSri Hartuti, ayah saya bernama lengkap Hendrikus Leon. ibu ras jawa, ayah ras indonesia timur. mereka berbeda agama, walaupun pas nikah ayah pindah menjadi muslim, tak beberapa lama setelah menikah ayah kembali ke keyakinan asalnya. Ayah saya dulunya pengusaha kontraktor di bidang maintenance elektrikal, namun saat ini nganggur. ibu saya penjual pastel yang dititipkan di setiap warung sarapan pagi disekitar rumah.
Adik-Adik
Saya punya dua adik, satu bernama Desi, perempuan usianya lebih muda dari saya yang lebih mirip ayah saya warna kulitnya sehingga sering dipanggil Rihanna, dan satu lagi Henrysepuluh tahun lebih muda dari saya, walau secara kasat lebih mirip ayah, namun warna kulitnya mengambil warna kulit ibu.

Annisa
Perempuan idaman saya, berjilbab walaupun menurut sebagian manhaj tidak syar'i jilbabnya. wajahnya teduh, adem. siapapun yang memandangnya pasti akan jatuh cinta dengan wajah sendu-sendunya. pipinya bisa sangat merah jika tertawa dan malu.

Ibu dan Ayah Annisa
Ayahnya bernama santoso, seorang pengacara yang cukup terkenal di jakarta. ibunya, kita panggil saja ibu. ayahnya merupakan teman baik ayah saya dan ibunya merupakan teman satu kampung masa kecil ibu saya.

Dhanin
Walaupun wajahnya agak oriental, namun dhanin bukan lah ras china atau keturunan. dia lahir bandung, besar dijakarta. ayahnya seorang kristen yang taat dan seorang pengusaha besar yang bergerak dibidang properti dan perkebunan sawit. ibunya meninggal karena kecelakaan tragis di satu ruas jalan tol saat mengendarai mobil saat dhanin masih kecil.
Ayah Dhanin
Telah dijelaskan sebelumnya. oh iya tambahan, walaupun pengusaha yang bergerak dibidang properti, sebenarnya beliau adalah sarjana kedokteran hewan. keahlian bisnisnya didapat dari orang tuanya yaitu kakek dhanin yang berasal dari sumatra barat yang mempunyai bisnis kelapa sawit dan neneknya aseli bandung pengusaha properti yang masih merupakan keturunan raden patah.

Felisiana
Seorang wanita aseli solo. wajahnya khas wajah aseli cantiknya seorang wanita jawa. siapapun yang didekatnya pasti jatuh cinta dibuatnya. ayah dan ibunya adalah seniman internasional dibidang seni lukis dan fashion designer. entah mengapa dia berkuliah dijurusan teknik tidak mengikuti kedua orang tuanya.

Fauziyyah
Perempuan cantik berjilbab syar'i, walaupun kelakuannya agak sedikit maskulin. perbedaan keyakinan tidak menghalanginya menjadi "Teman baik" felisiana.
Yusuf
Teman felisiana dari SMA dulu, agak kemayu walaupun laki-laki. namun cukup bersih dan rapih dalam segala hal terutama perawatan wajah.

Annchi / Angchi
Seorang wanita chinese yang energik. salah satu anggota resimen mahasiswa kampus. kakeknya seorang pedagang terkenal dikawasan malioboro dan saya bekerja paruh waktu disana. oh iya dia menyukai salah satu teman kos saya.

Valerie
Agamis, professional, Pekerja Keras dan cantik, kombinasi sempurna dari seorang wanita idaman untuk pria yang mencari seorang istri, minus, menurut saya ya, walaupun sebenarnya bukan poin minus, pandangan islam dan politiknya bisa dibilang garis keras (PKS)
Band Saya

Ini adalah band saya yang beranggotakan enam orang,
Intan: Vokalis, badannya tinggi putih, rambutnya agak ikal dibawah dan panjang terurai, suaranya kayak mulan jameela.
Galih : Gitaris yang skillnya setingkat paul gilbert. mantap lah pokoknya ni orang.
Adi: Tambun, gemuk berkacamata, gak ganteng, tapi dialah otak dibalik semua lagu band kami.
Tanco/Ardi: salah satu personil paling tampan, putih ganteng, cuma sayang agak telmi.
Arrie: Drummer bermuka arab, walau aselinya dari sumatra utara medan.

Temen-temen Kos
Putra : Jawa timur, kalo ngomong kaya ngajak berantem bagi yang baru kenal, tapi sebetulnya baik.
Viki : Bocah gamers dari tangerang. pinter boy.
Mas Peri : Jenius. namanya memang benar2 hanya PERI, di KTPnya juga begitu, chinese.
Didit
Ternyata saudaranya fauziah, ga ada yang spesial

Myrna
Saudara kembarnya indra, campuran sunda banjarmasin, wajahnya ayu dan sangat putih, putihnya putih bening ya, bukan kaleng-kaleng apalagi pake pemutih yang bikin muka kaya zombi, macem orang-orang kota lah, dia nih cantiknya 100% natural.
Indra
Saudara kembarnya myrna, wajahnya mirip, ini laki-laki tapi cantik kalo saya mau bilangg, bersih, pinter, kutu buku, tapi doyan mabok, aduh susah dah dibilanginnya

Ciput
Si gingsul yang keibuan, pengertian dan penengah konflik yang handal
Nanti saya update lagi kalau ada tokoh-tokoh baru yang masuk dalam cerita, hehehe.. sementara itu dulu. mohon maaf jika ada kesalahan link pada index yang saya buat, karena baru dalam perapihan. biar enak dibaca awal-awalnya seperti thread2 yang lain hehehe...

Quote:
Diubah oleh natgeas2 03-01-2020 21:28
8
106K
694
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natgeas2
#21
Jogja Salah Paham
Pukul 04:00 pagi hari kereta yang saya tumpangi terhenti di stasiun lempuyangan. ini adalah langkah pertamaku di jogja. kulihat sekitar kehidupan seperti baru bergeliat diantaranya ada serang nenek yang menawarkan pecel yang bakwannya terlihat masih berasap, sangat menggugah selera karena memang perut ini belum terisi apapun sejak kemarin sore. sembari menunggu adzan subuh, saya pun memesan satu porsi nasi pecel yang rasanya sudah sampai tenggorokan saat melihat si nenek mengaduk bumbu kacangnya.
Dinginnya menusuk kulit, nafas ku pun terlihat berasap, saat itu mungkin suhu sekitar 16 derajat, suhu yang bagi warga kota panas berhutan beton terasa sangat dingin, tak kusangka jogja yang katanya hangat bisa sedingin ini. suara peringatan kereta tiba memecah keheningan, kereta berwarna kuning tiba dari arah yang berlawanan dengan kereta saya yang baru saja lansir. saat itu kulihat seseorang turun, seorang gadis berponi terlihat kesusahan dengan koper besarnya, ingin rasanya aku menolong tapi aku saat ini sedang menikmati nikmatnya pecel ini.
hehehe... dan ternyata ada seorang pria yang datang membantunya, bagus lah!
"berapa bu?
"tiga ribu dek"
Murah sekali, porsi banyak dan enak dan murah, benar-benar seperti jogja yang diceritakan. aku membayar dengan uang pecahan 5.000 dan secarik kertas ikut terjatuh dari saku saya, kertas lecek yang diberikan nisa awalnya saya pikir sebagai kertas lirik lagu yang saya tulis, namun sepertinya berbeda, dan ternyata benar itu berdeda, itu bukan kertas yang saya berikan ke nisa, sebuah kertas baru bertuliskan sebuah lirik lagu,tulisan tangan seorang yang sudah lama saya kenal. dengan emoticon "sad" pada sisi kanan dan kiri judul lirik tersebut.
:'( Jauh :'(
Hari kulalui tanpa hadirmu lagi
Kucoba ingkari sepi ini
Mengapa terjadi, hancur kau akhiri
Satu kata janji tak kembali
Seribu tanya sesak di dada
Haruskah bimbang meraja
Lelah tepis harapanku
Sendiri mencari bayangmu
Kutunggu dirimu
Selalu kutunggu
Walaupun kutahu
Kau jauh .. kutahu .. kau jauh
Biarlah semua seperti apa adanya
Kuterus mencoba relakannya
Satu yang kuminta, kembalilah padanya
Kutahu disana ada dia
saya bertany-tanya apakah maksud dari semua ini, "kembalilah padanya", apa maksudnya?. saya yakin dia pasti tau perasaan yang saya rasakan ke dhanin hanya sebatas adik kakak, saya sering mengatakan itu walau hanya sekedar implisit saat dalam obrolan. apa dia tidak mengerti lirik lagu yang saya berikan, atau bagaimana?. beribu pertanyaan berkecamuk dipikiran saya, tentang apa yang sebenarnya anisa rasakan terhadap saya. mengapa dia memberikan lirik ini, mengapa tidak dibalas dengan lirik yang sekiranya menyatakan cinta tanpa harus menyuruh saya pergi darinya.
"woi, ayo sholat subuh dulu, itu om nya riski udah dateng jemput" tepuk umar yang membangunkanku dari lamunan.
aku ingat, sangat ingat nomor HPnya, karena biasanya aku berSMS dengan HP ayahku tanpa menyimpan nomornya, segera aku mengambil HP yang ada di saku dan menekan nomornya. lama sekali hingga ia mengangkat, "assalamualaikum, ada apa dhanin?"
"dhanin? ini aku arjuna"
"hah? juna? kok pake nomernya dhanin?"
What the... ini nomor dhanin? nomor yang dikasih di HP ini nomor dhanin? bukan nomor baru, aduh kenapa saya ga ngecek dulu nomornya ya, nafsu banget main telpon aja, gimana ini ya, pasti dia mikir yang engga-engga. wadoooohh makin kacaaooo ini fikiran.
"dhanin ada disitu? dia ikut ke jogja?"
"eh engga, aku dikasih hanpdhone sama dia, ternyata nomornya, nomor dia,"jawab ku gagap terbata-bata.
"baik banget ya adik kamu itu, apa-apa selalu berusahan memenuhi kebutuhan kakaknya," ungkapnya sinis.
"bukan begitu nis, dengar dulu," tuut..tuttt.. tuut... entah bunyi kereta atau bunyi telpon yang ditutup. aku sama sekali tidak bisa membedakannya. oke fix anisa sangat-sangat benci sama saya
***
Akhirnya kami tiba dirumah pamannya riski, sebuah rumah kuna yang seluruhnya terbuat dari kayu cati kuat yang kokoh bahkan lantainya. klasik sekali, di antara kanan kiri rumah di kawasan dagen yang sudah berbata, rumah ini berdiri kokoh memperlihatkan keperkasaan bahwa alam pun sanggup melawan betonisasi. semilir angin dingin pun menyercap diantara celah celah kayu kamar saya yang saya tempati bertiga dengan umar dan kate.
Keindahan rumah jati ternyata tidak menjadi kenangan manis saat 6 bulan pertama di jogja. namun, saya bersyukur rumah ini menjadi rumah menempa jati diri sehingga saya menjadi lebih kuat menghadapi berbagai macam hentakan dan pukulan. ketika hingga umur 18 tahun saya hidup dengan orang tua yang senantiasa melindungi saya, ini terasa sangat berat, 12 orang yang saya harapkan kompak hingga lulus nanti ternyata memiliki tujuan dan misi masing-masing. bahkan kadang kala, salah seorang dari mereka mendorong saya hingga terhempas kedalam jurang yang sekiranya saat itu saya tidak akan dapat bangkit. hanya umar dan kate yang kadang kala menolong saya melewati beratnya kehidupan tanpa orang tua.
ketika kamu tidak memiliki uang yang cukup, kamu akan di anak tirikan. itulah yang saya rasakan kala itu, ada kalanya saya tidak makan karena kiriman uang dari orang tua yang alhamdulillah Rp.200.000 untuk 30 hari ternyata habis digunakan untuk segala macam keperluan dan ongkos. 200.000? ya betul uang itu untuk makan 30 hari, ongkos, fotokopi, biaya mandi, beli sabun cuci untuk baju dan segala macam. cukup memang? saat itu insya Allah cukup karena untungnya saya tidak merokok dan melakoni puasa daud yang membuat pipi saya semakin tirus.
saya ingin sebetulnya bercerita tentang kejelekan 11 orang yang tinggal bersama saya selama 6 bulan, namun tidak etis rasanya membicarakan kejelekan orang lain, cukup saya dan rumah jati saja yang mengetahui apa yang mereka lakukan kepada saya. bukan hal hal yang menyakitkan fisik memang, namun.... ah sudahlah. saya berterimakasih kepada mereka yang telah menjadikan saya menjadikan saya keras seperti strombreaker yang bahkan sanggup menembuh kulit tebal thanos.
***
Ternyata wanita berponi yang ada distasiun itu satu fakultas, satu jurusan bahkan satu kelas dengan saya! sebuah keberuntungan. namanya Felisiana, nama yang indah. Gadis yang cukup mandiri walaupun sepertinya dia salah pilih jurusan masuk ke fakultas yang mayoritas isinya laki-laki yang memegang perkakas. saya ingat saat itu pertama kali praktikum, semua sudah mendapat teman yang diisi tiga orang satu kelompok. hanya satu kelompok yang masih beranggotakan dua orang, ya kelompok felisiana dan yusuf dan disitulah saya bergabung.
"arjuna," saya mengajak bersalaman, kami memang sudah sekelas satu bulanan, namun baru kali ini saya berinteraksi langsung dengan mereka berdua.
"felisiana, yusuf" jawab mereka sambil membalas bersalaman.
"juna asalnya dari SMK atau SMA?" tanya yusuf
"aku SMK"
"alhamdulillah, kami berdua dari SMA jadi sama sekali awam masalah kelistrikan seperti ini,"
"oh kalau begitu tenang saja, saya akan bantu sebisa saya," jawabku sambil tersenyum. kulihat perasaan lega diwajah mereka, ternyata mereka satu sekolah saat SMA pantas saja terlihat begitu akrab dan sepertinya saya ingat pria yang menjemput felisiana di stasiun waktu itu, ya dia si yusuf ini. pantas dia menyandang nama yusuf dibanding saya yang mengepas-ngepaskan dengan cerita 12 orang keturunan yaqub. yusuf yang ini benar - benar tampan secara fisik, putih berkacamata, hanya saja kok agak "kemayu ya?". iya, "kemayu" apa ya bahasa istilahnya, ke-wanita-wanitaan engga juga sih cm ya kemayu.
"terimakasih ya juna, hari ini kamu sangat membantu," ucap felisiana.
"tenang saja, besok-besok di praktikum yang lain kita satu kelompok lagi sahaja,"
"wah ide bagus tuh,"jawab yusuf menimpali, "kamu kos dimana jun?"
"aku di daerah malioboro,"
"adoh temen kalau deket aku anter deh"
"aku aja yang anter jun, tapi kamu yang bawa motornya ya," ujar felisiana menawari bantuan.
"apa ga ngerepotin nih?"
"ayo udah jalan,"
"hati-hati ya kalian, jangan jadian ya, hahaha" tawa ucup sambil menyalakan motornya dan berlalu pergi.
"kamu lapar ga jun?" tanya dengan nada agak keras dari belakang saya, "kalau lapar kita makan dulu aku yang traktir"
wah boleh juga, batinku dalam hati "mau makan dimana fel?"

akhirnya kami berdua makan bersama, entah mengapa saya merasa sudah sangat akrab dengan perempuan ini. pembawaannya begitu humble dan bersahabat. parasnya yang njawani begitu enak dan sedap dipandang. kami pun beberapa kali tertawa oleh joke-joke kecil yang saya lemparkan dan alhamdulillah, dia yang bayar semua makanannya. bertambah lagi nyawa saya satu hari, hehehehe.
"aku lihat di tas kamu tadi ada alkitab, kamu kristen atau katolik?" tanyanya
"aku muslim," jawabku dibalas dengan raut wajahnya yang keheranan. pelan aku menjelaskan semua latar belakang keluarga ku yang berbeda agama dan pilihan yang terakhir jatuh kepada islam dalam pencarian jati diri saya. dia sesekali mengangguk-ngangguk mendengar penjelasan dari saya.
"menarik ya, cerita kamu itu," ucapnya antusias, "lalu sejak kapan kamu memutuskan untuk menjadi seorang muslim?"
tiba-tiba hp disakuku bergetar, ternyata ini panggilan yang sudah satu bulan aku tunggu semenjak terakhir aku menghubunginya, annisa akhirnya menelponku,
"halo salamualaikum"
"waalaikumsalam juna,"
"................." oke tidak ada kata-kata yang keluar, saya bingung harus bicara apa, ternyata dia juga hanya diam. aduh kok jadi awkward gini. mau ngomong apa ya, aku bener-bener merindukan suaranya, namun aku harus bicara apa?
"siapa jun?" tanya felisiana, "kok diem aja?"
tiba-tiba telpon terputus begitu saja dan bergetar sekali tanda sms masuk
"maaf aku ganggu" bunyi sms itu yang bertuliskan nama anisa sebagai pengirimnya.
Pukul 04:00 pagi hari kereta yang saya tumpangi terhenti di stasiun lempuyangan. ini adalah langkah pertamaku di jogja. kulihat sekitar kehidupan seperti baru bergeliat diantaranya ada serang nenek yang menawarkan pecel yang bakwannya terlihat masih berasap, sangat menggugah selera karena memang perut ini belum terisi apapun sejak kemarin sore. sembari menunggu adzan subuh, saya pun memesan satu porsi nasi pecel yang rasanya sudah sampai tenggorokan saat melihat si nenek mengaduk bumbu kacangnya.
Dinginnya menusuk kulit, nafas ku pun terlihat berasap, saat itu mungkin suhu sekitar 16 derajat, suhu yang bagi warga kota panas berhutan beton terasa sangat dingin, tak kusangka jogja yang katanya hangat bisa sedingin ini. suara peringatan kereta tiba memecah keheningan, kereta berwarna kuning tiba dari arah yang berlawanan dengan kereta saya yang baru saja lansir. saat itu kulihat seseorang turun, seorang gadis berponi terlihat kesusahan dengan koper besarnya, ingin rasanya aku menolong tapi aku saat ini sedang menikmati nikmatnya pecel ini.
hehehe... dan ternyata ada seorang pria yang datang membantunya, bagus lah!
"berapa bu?
"tiga ribu dek"
Murah sekali, porsi banyak dan enak dan murah, benar-benar seperti jogja yang diceritakan. aku membayar dengan uang pecahan 5.000 dan secarik kertas ikut terjatuh dari saku saya, kertas lecek yang diberikan nisa awalnya saya pikir sebagai kertas lirik lagu yang saya tulis, namun sepertinya berbeda, dan ternyata benar itu berdeda, itu bukan kertas yang saya berikan ke nisa, sebuah kertas baru bertuliskan sebuah lirik lagu,tulisan tangan seorang yang sudah lama saya kenal. dengan emoticon "sad" pada sisi kanan dan kiri judul lirik tersebut.
:'( Jauh :'(
Hari kulalui tanpa hadirmu lagi
Kucoba ingkari sepi ini
Mengapa terjadi, hancur kau akhiri
Satu kata janji tak kembali
Seribu tanya sesak di dada
Haruskah bimbang meraja
Lelah tepis harapanku
Sendiri mencari bayangmu
Kutunggu dirimu
Selalu kutunggu
Walaupun kutahu
Kau jauh .. kutahu .. kau jauh
Biarlah semua seperti apa adanya
Kuterus mencoba relakannya
Satu yang kuminta, kembalilah padanya
Kutahu disana ada dia
saya bertany-tanya apakah maksud dari semua ini, "kembalilah padanya", apa maksudnya?. saya yakin dia pasti tau perasaan yang saya rasakan ke dhanin hanya sebatas adik kakak, saya sering mengatakan itu walau hanya sekedar implisit saat dalam obrolan. apa dia tidak mengerti lirik lagu yang saya berikan, atau bagaimana?. beribu pertanyaan berkecamuk dipikiran saya, tentang apa yang sebenarnya anisa rasakan terhadap saya. mengapa dia memberikan lirik ini, mengapa tidak dibalas dengan lirik yang sekiranya menyatakan cinta tanpa harus menyuruh saya pergi darinya.
"woi, ayo sholat subuh dulu, itu om nya riski udah dateng jemput" tepuk umar yang membangunkanku dari lamunan.
aku ingat, sangat ingat nomor HPnya, karena biasanya aku berSMS dengan HP ayahku tanpa menyimpan nomornya, segera aku mengambil HP yang ada di saku dan menekan nomornya. lama sekali hingga ia mengangkat, "assalamualaikum, ada apa dhanin?"
"dhanin? ini aku arjuna"
"hah? juna? kok pake nomernya dhanin?"
What the... ini nomor dhanin? nomor yang dikasih di HP ini nomor dhanin? bukan nomor baru, aduh kenapa saya ga ngecek dulu nomornya ya, nafsu banget main telpon aja, gimana ini ya, pasti dia mikir yang engga-engga. wadoooohh makin kacaaooo ini fikiran.
"dhanin ada disitu? dia ikut ke jogja?"
"eh engga, aku dikasih hanpdhone sama dia, ternyata nomornya, nomor dia,"jawab ku gagap terbata-bata.
"baik banget ya adik kamu itu, apa-apa selalu berusahan memenuhi kebutuhan kakaknya," ungkapnya sinis.
"bukan begitu nis, dengar dulu," tuut..tuttt.. tuut... entah bunyi kereta atau bunyi telpon yang ditutup. aku sama sekali tidak bisa membedakannya. oke fix anisa sangat-sangat benci sama saya
***
Akhirnya kami tiba dirumah pamannya riski, sebuah rumah kuna yang seluruhnya terbuat dari kayu cati kuat yang kokoh bahkan lantainya. klasik sekali, di antara kanan kiri rumah di kawasan dagen yang sudah berbata, rumah ini berdiri kokoh memperlihatkan keperkasaan bahwa alam pun sanggup melawan betonisasi. semilir angin dingin pun menyercap diantara celah celah kayu kamar saya yang saya tempati bertiga dengan umar dan kate.
Keindahan rumah jati ternyata tidak menjadi kenangan manis saat 6 bulan pertama di jogja. namun, saya bersyukur rumah ini menjadi rumah menempa jati diri sehingga saya menjadi lebih kuat menghadapi berbagai macam hentakan dan pukulan. ketika hingga umur 18 tahun saya hidup dengan orang tua yang senantiasa melindungi saya, ini terasa sangat berat, 12 orang yang saya harapkan kompak hingga lulus nanti ternyata memiliki tujuan dan misi masing-masing. bahkan kadang kala, salah seorang dari mereka mendorong saya hingga terhempas kedalam jurang yang sekiranya saat itu saya tidak akan dapat bangkit. hanya umar dan kate yang kadang kala menolong saya melewati beratnya kehidupan tanpa orang tua.
ketika kamu tidak memiliki uang yang cukup, kamu akan di anak tirikan. itulah yang saya rasakan kala itu, ada kalanya saya tidak makan karena kiriman uang dari orang tua yang alhamdulillah Rp.200.000 untuk 30 hari ternyata habis digunakan untuk segala macam keperluan dan ongkos. 200.000? ya betul uang itu untuk makan 30 hari, ongkos, fotokopi, biaya mandi, beli sabun cuci untuk baju dan segala macam. cukup memang? saat itu insya Allah cukup karena untungnya saya tidak merokok dan melakoni puasa daud yang membuat pipi saya semakin tirus.
saya ingin sebetulnya bercerita tentang kejelekan 11 orang yang tinggal bersama saya selama 6 bulan, namun tidak etis rasanya membicarakan kejelekan orang lain, cukup saya dan rumah jati saja yang mengetahui apa yang mereka lakukan kepada saya. bukan hal hal yang menyakitkan fisik memang, namun.... ah sudahlah. saya berterimakasih kepada mereka yang telah menjadikan saya menjadikan saya keras seperti strombreaker yang bahkan sanggup menembuh kulit tebal thanos.
***
Ternyata wanita berponi yang ada distasiun itu satu fakultas, satu jurusan bahkan satu kelas dengan saya! sebuah keberuntungan. namanya Felisiana, nama yang indah. Gadis yang cukup mandiri walaupun sepertinya dia salah pilih jurusan masuk ke fakultas yang mayoritas isinya laki-laki yang memegang perkakas. saya ingat saat itu pertama kali praktikum, semua sudah mendapat teman yang diisi tiga orang satu kelompok. hanya satu kelompok yang masih beranggotakan dua orang, ya kelompok felisiana dan yusuf dan disitulah saya bergabung.
"arjuna," saya mengajak bersalaman, kami memang sudah sekelas satu bulanan, namun baru kali ini saya berinteraksi langsung dengan mereka berdua.
"felisiana, yusuf" jawab mereka sambil membalas bersalaman.
"juna asalnya dari SMK atau SMA?" tanya yusuf
"aku SMK"
"alhamdulillah, kami berdua dari SMA jadi sama sekali awam masalah kelistrikan seperti ini,"
"oh kalau begitu tenang saja, saya akan bantu sebisa saya," jawabku sambil tersenyum. kulihat perasaan lega diwajah mereka, ternyata mereka satu sekolah saat SMA pantas saja terlihat begitu akrab dan sepertinya saya ingat pria yang menjemput felisiana di stasiun waktu itu, ya dia si yusuf ini. pantas dia menyandang nama yusuf dibanding saya yang mengepas-ngepaskan dengan cerita 12 orang keturunan yaqub. yusuf yang ini benar - benar tampan secara fisik, putih berkacamata, hanya saja kok agak "kemayu ya?". iya, "kemayu" apa ya bahasa istilahnya, ke-wanita-wanitaan engga juga sih cm ya kemayu.
"terimakasih ya juna, hari ini kamu sangat membantu," ucap felisiana.
"tenang saja, besok-besok di praktikum yang lain kita satu kelompok lagi sahaja,"
"wah ide bagus tuh,"jawab yusuf menimpali, "kamu kos dimana jun?"
"aku di daerah malioboro,"
"adoh temen kalau deket aku anter deh"
"aku aja yang anter jun, tapi kamu yang bawa motornya ya," ujar felisiana menawari bantuan.
"apa ga ngerepotin nih?"
"ayo udah jalan,"
"hati-hati ya kalian, jangan jadian ya, hahaha" tawa ucup sambil menyalakan motornya dan berlalu pergi.
"kamu lapar ga jun?" tanya dengan nada agak keras dari belakang saya, "kalau lapar kita makan dulu aku yang traktir"
wah boleh juga, batinku dalam hati "mau makan dimana fel?"

akhirnya kami berdua makan bersama, entah mengapa saya merasa sudah sangat akrab dengan perempuan ini. pembawaannya begitu humble dan bersahabat. parasnya yang njawani begitu enak dan sedap dipandang. kami pun beberapa kali tertawa oleh joke-joke kecil yang saya lemparkan dan alhamdulillah, dia yang bayar semua makanannya. bertambah lagi nyawa saya satu hari, hehehehe.
"aku lihat di tas kamu tadi ada alkitab, kamu kristen atau katolik?" tanyanya
"aku muslim," jawabku dibalas dengan raut wajahnya yang keheranan. pelan aku menjelaskan semua latar belakang keluarga ku yang berbeda agama dan pilihan yang terakhir jatuh kepada islam dalam pencarian jati diri saya. dia sesekali mengangguk-ngangguk mendengar penjelasan dari saya.
"menarik ya, cerita kamu itu," ucapnya antusias, "lalu sejak kapan kamu memutuskan untuk menjadi seorang muslim?"
tiba-tiba hp disakuku bergetar, ternyata ini panggilan yang sudah satu bulan aku tunggu semenjak terakhir aku menghubunginya, annisa akhirnya menelponku,
"halo salamualaikum"
"waalaikumsalam juna,"
"................." oke tidak ada kata-kata yang keluar, saya bingung harus bicara apa, ternyata dia juga hanya diam. aduh kok jadi awkward gini. mau ngomong apa ya, aku bener-bener merindukan suaranya, namun aku harus bicara apa?
"siapa jun?" tanya felisiana, "kok diem aja?"
tiba-tiba telpon terputus begitu saja dan bergetar sekali tanda sms masuk
"maaf aku ganggu" bunyi sms itu yang bertuliskan nama anisa sebagai pengirimnya.
Diubah oleh natgeas2 17-09-2018 13:47
0