- Beranda
- Stories from the Heart
ASU AJAG PEGUNUNGAN TEPUS
...
TS
breaking182
ASU AJAG PEGUNUNGAN TEPUS
ASU AJAG PEGUNUNGAN TEPUS
Quote:

SINOPSIS
Quote:
Sekelompok anak muda dari universitas di Jogja yang sedang melaksanakan KKN di desa Telaga Muncar salah satu desa terpencil di kawasan Tepus Gunung Kidul. Tiga sosok anjing misterius mencegat salah satu dari mahasiswa itu yang bernama Zulham. Misteri berlanjut lagi tatkala sesampainya di base camp. Zulham harus dihadapkan dengan ketua kelompok KKN tersebut yang diterror oleh mahkluk –mahkluk asing yang memperlihatkan diri di mimpi –mimpi. Bahkan, bulu –bulu berwarna kelabu kehitaman ditemukan di ranjang Ida. Hingga pada akhirnya misteri ini berlanjut kedalam pertunjukan maut. Nyawa Zulham dan seluruh anggota KKN terancam oleh orang –orang pengabdi setan yang tidak segan –segan mengorbankan nyawa sesama manusia. Bahkan, nyawa darah dagingnya sendiri!
INDEX
Diubah oleh breaking182 22-02-2021 10:13
sukhhoi dan 35 lainnya memberi reputasi
32
110.7K
Kutip
378
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#130
KUTUKAN LAKNAT
Quote:
SORE ITU SUZANE dan Randu Alas duduk bersama Van Den Bach sang ayah sambil menikmati teh manis hangat di langkan samping rumah besar nan mewah kediaman mereka.
“Ayah, pemuda inilah yang menolong saya dari ancaman para begal –begal hutan Jati Kembar tadi pagi…” berkata Suzane.
Van Den Bach tersenyum.
“Aku gembira dan sangat lega kau tidak apa –apa Suzane. Aku juga mengucapkan terimakasih kepada kau Randu Alas …”
Randu Alas hanya tersenyum tipis seraya mengangguk dengan sopan. Entah mengapa dalam hatinya ia tidak merasa sungkan kepada Van Den Bach yang merupakan seorang kompeni yang tengah menjajah negerinya. Mungkin ia berharap dapat lebih dekat dan syukur – syukur dinikahkan dengan Suzanne gadis dari Nederland yang telah membuatnya jatuh hati.
“Lalu apakah ayah akan memberikan hadiah kepada Randu Alas …?” yang bertanya adalah Suzanne, sang anak.
“ Itu sudah barang tentu. Semua kebakan pasti akan ku imbal dengan pantas dan berlipat lipat! Kau minta hadiah apa Randu? “
“ Sudah katakan saja apa yang ingin menjadi keinginan mu Randu “
Suzanne setengah berbisik ke arah Randu Alas yang duduk tepat di sampingnya. Randu Alas hanya tersenyum.
“ Saya tidak menginginkan hadiah apa pun Tuan. Pertolongan yang saya berikan hanya sekedar pertolongan biasa. Saya harap jangan terlalu dibesar –besarkan “
“ Kau tidak usah sungkan dan malu Randu, katakan saja pada ku apa yang kau inginkan sebagai hadiah “
Randu Alas terdiam lamanya. Sejurus kemudian lelaki itu akhirnya menanggapi ucapan dari Tuan Van Den Bach.
“ Saya sebenarnya datang ke Mataram ini untuk mencari kerja. Kalau Tuan memaksa saya untuk meminta sesuatu sebagai imbalan. Saya minta pekerjaan saja. Sekiranya yang layak buat saya “
“ Kau memang lelaki yang baik Randu. Bukan seorang yang pemalas. Aku suka dengan sikap mu ini. Baiklah, kau akan ku berikan satu pekerjaan. Tolong bantu dan kawal aku selama aku bepergian dan menjalankan tugas ku di Mataram ini “
“ Terimakasih Tuan. Saya akan bekerja dengan giat dan tekun “
Maka, sejak hari itu Randu Alas menjadi pengawal pribadi Tuan Van den Bach. Sebenarnya maksud Randu Alas hanya ingin dekat dengan Suzanne. Anak gadis Van den Bach. Hari ke hari Randu Alas dan Suzane makin dekat. Tuan Van den Bach mengetahui hal itu. Sehingga akhirnya ia memutuskan untuk menikahkan anak gadisnya itu dengan Randu Alas.
Semenjak menikah Randu Alas mengabaikan perjanjian keramatnya dengan Nyimas Ratu, siluman anjing yang bersemayam di pantai Karang Bolong. Perihal perjanjian dengan siluman anjing itu Randu Alas menutup mulut erat –erat kepada istrinya. Ia tidak ingin membuat istrinya ketakutan dan khawatir.
“Ayah, pemuda inilah yang menolong saya dari ancaman para begal –begal hutan Jati Kembar tadi pagi…” berkata Suzane.
Van Den Bach tersenyum.
“Aku gembira dan sangat lega kau tidak apa –apa Suzane. Aku juga mengucapkan terimakasih kepada kau Randu Alas …”
Randu Alas hanya tersenyum tipis seraya mengangguk dengan sopan. Entah mengapa dalam hatinya ia tidak merasa sungkan kepada Van Den Bach yang merupakan seorang kompeni yang tengah menjajah negerinya. Mungkin ia berharap dapat lebih dekat dan syukur – syukur dinikahkan dengan Suzanne gadis dari Nederland yang telah membuatnya jatuh hati.
“Lalu apakah ayah akan memberikan hadiah kepada Randu Alas …?” yang bertanya adalah Suzanne, sang anak.
“ Itu sudah barang tentu. Semua kebakan pasti akan ku imbal dengan pantas dan berlipat lipat! Kau minta hadiah apa Randu? “
“ Sudah katakan saja apa yang ingin menjadi keinginan mu Randu “
Suzanne setengah berbisik ke arah Randu Alas yang duduk tepat di sampingnya. Randu Alas hanya tersenyum.
“ Saya tidak menginginkan hadiah apa pun Tuan. Pertolongan yang saya berikan hanya sekedar pertolongan biasa. Saya harap jangan terlalu dibesar –besarkan “
“ Kau tidak usah sungkan dan malu Randu, katakan saja pada ku apa yang kau inginkan sebagai hadiah “
Randu Alas terdiam lamanya. Sejurus kemudian lelaki itu akhirnya menanggapi ucapan dari Tuan Van Den Bach.
“ Saya sebenarnya datang ke Mataram ini untuk mencari kerja. Kalau Tuan memaksa saya untuk meminta sesuatu sebagai imbalan. Saya minta pekerjaan saja. Sekiranya yang layak buat saya “
“ Kau memang lelaki yang baik Randu. Bukan seorang yang pemalas. Aku suka dengan sikap mu ini. Baiklah, kau akan ku berikan satu pekerjaan. Tolong bantu dan kawal aku selama aku bepergian dan menjalankan tugas ku di Mataram ini “
“ Terimakasih Tuan. Saya akan bekerja dengan giat dan tekun “
Maka, sejak hari itu Randu Alas menjadi pengawal pribadi Tuan Van den Bach. Sebenarnya maksud Randu Alas hanya ingin dekat dengan Suzanne. Anak gadis Van den Bach. Hari ke hari Randu Alas dan Suzane makin dekat. Tuan Van den Bach mengetahui hal itu. Sehingga akhirnya ia memutuskan untuk menikahkan anak gadisnya itu dengan Randu Alas.
Semenjak menikah Randu Alas mengabaikan perjanjian keramatnya dengan Nyimas Ratu, siluman anjing yang bersemayam di pantai Karang Bolong. Perihal perjanjian dengan siluman anjing itu Randu Alas menutup mulut erat –erat kepada istrinya. Ia tidak ingin membuat istrinya ketakutan dan khawatir.
Quote:
UDARA MALAM itu terasa panas. Di atas ranjang di dalam kamar mereka, suami istri Suzanne dan Randu Alas tengah bermesraan.
“Setiap kau terlambat datang bulan, aku selalu merasa gembira karena kita bakal dikaruniai anak… Ternyata inilah saatnya…” berkata Randu Alas sambil mengelus perut istrinya yang nampak membuncit.
Suzanne menggeliat kegelian. Dia merangkul tubuh suaminya erat-erat dengan tangan dan kakinya. Ketika dia menaikkan kepalanya, tak sengaja dia memandang ke arah jendela yang tirainya tersingkap. Saat itulah dia melihat ada sosok tubuh memperhatikan ke arah dalam kamar. Langsung wajah Suzanne menjadi pucat dan sekujur tubuhnya bergeletar. Mula-mula Randu Alas mengira tubuh istrinya bergeletar karena rangsangan birahi. Namun ketika dilihatnya kedua mata Suzanne melotot ke arah jendela kamar dan mulutnya bergerak-gerak tapi tak ada suara yang keluar, Randu Alas cepat berpaling ke arah yang dipandang istrinya.
“Mahkluk itu datang lagi…” bisik Suzanne. Suaranya seperti kelu.
Beberapa kali Suzanne memang sering didatangi oleh sesosok tubuh ynag mengerikan. Mahluk-mahluk itu memiliki kepala berupa binatang yaitu kepala anjing, bertelinga runcing ke atas, bermulut panjang yang selalu menganga memperlihatkan taring-taring runcing dan lidah yang basah. Sepasang mata merah laksana menyala. Pada bagian atas kepalanya ada sebentuk mahkota kecil dihiasi batu-batu permata yang memancarkan sinar berkilauan.
Dia mengenakan pakaian sebentuk kemben berwarna merah di sebelah atas sedang di sebelah bawah memakai celana merah yang bagian atasnya lebih pendek hingga sebagian perutnya yang putih tampak tersembul. Mahluk ini miliki payudara yang luar biasa besarnya, putih menyembul diatas kemben. Dan sepasang tangan yang memiliki jari-jari berkuku runcing mengerikan!
Mengetahui sosok yang dimaksud oleh isterinya itu Randu Alas serta merta melompat dan mengenakan pakaiannya dengan cepat. Sebuah tombak pendek yang merupakan senjata andalan yang tergantung di dinding kamar di sambarnya. Lalu dia membuka pintu dan lari keluar.
“Mas Randu Alas! Jangan tinggalkan aku mas! Aku takut!” teriak Suzanne.
Tapi Randu Alas terus lari keluar. Saat itu sosok yang tadi tegak di luar jendela sudah lenyap. Randu Alas lari ke langkan depan rumah. Ia lalu segera melompat ke atas punggung kuda yang tertambat tepat di depan serambi. Mengambil sebuah obor yang tertancap di depan rumah lalu berkuda menuju bagian pinggir selatan kotaraja Mataram untuk memburu sesosok tubuh yang nampak berlari dengan cepat di depannya.
Dia memacu kudanya terus. Kuda gagah berwarna hitam pekat itu berlari seperti terbang. Tak lama kemudian ia memasuki satu jalan menurun. Di depannya terdapat sebuah jembatan bambu yang melintang di atas sebuah jurang dalam. Dulunya jurang itu merupakan sebuah aliran sungai. Namun karena tidak dialiri air lagi, sungai dalam itu berubah menjadi jurang. Randu Alas menarik tali kekang kudanya. Binatang itu pun berhenti dengan mengeluarkan suara ringkikan keras. Di depan sana, beberapa belas tombak dari jembatan bambu tampak sesosok tubuh berdiri tegak tak bergerak seolah-olah sengaja menunggu kedatangannya.
“Setiap kau terlambat datang bulan, aku selalu merasa gembira karena kita bakal dikaruniai anak… Ternyata inilah saatnya…” berkata Randu Alas sambil mengelus perut istrinya yang nampak membuncit.
Suzanne menggeliat kegelian. Dia merangkul tubuh suaminya erat-erat dengan tangan dan kakinya. Ketika dia menaikkan kepalanya, tak sengaja dia memandang ke arah jendela yang tirainya tersingkap. Saat itulah dia melihat ada sosok tubuh memperhatikan ke arah dalam kamar. Langsung wajah Suzanne menjadi pucat dan sekujur tubuhnya bergeletar. Mula-mula Randu Alas mengira tubuh istrinya bergeletar karena rangsangan birahi. Namun ketika dilihatnya kedua mata Suzanne melotot ke arah jendela kamar dan mulutnya bergerak-gerak tapi tak ada suara yang keluar, Randu Alas cepat berpaling ke arah yang dipandang istrinya.
“Mahkluk itu datang lagi…” bisik Suzanne. Suaranya seperti kelu.
Beberapa kali Suzanne memang sering didatangi oleh sesosok tubuh ynag mengerikan. Mahluk-mahluk itu memiliki kepala berupa binatang yaitu kepala anjing, bertelinga runcing ke atas, bermulut panjang yang selalu menganga memperlihatkan taring-taring runcing dan lidah yang basah. Sepasang mata merah laksana menyala. Pada bagian atas kepalanya ada sebentuk mahkota kecil dihiasi batu-batu permata yang memancarkan sinar berkilauan.
Dia mengenakan pakaian sebentuk kemben berwarna merah di sebelah atas sedang di sebelah bawah memakai celana merah yang bagian atasnya lebih pendek hingga sebagian perutnya yang putih tampak tersembul. Mahluk ini miliki payudara yang luar biasa besarnya, putih menyembul diatas kemben. Dan sepasang tangan yang memiliki jari-jari berkuku runcing mengerikan!
Mengetahui sosok yang dimaksud oleh isterinya itu Randu Alas serta merta melompat dan mengenakan pakaiannya dengan cepat. Sebuah tombak pendek yang merupakan senjata andalan yang tergantung di dinding kamar di sambarnya. Lalu dia membuka pintu dan lari keluar.
“Mas Randu Alas! Jangan tinggalkan aku mas! Aku takut!” teriak Suzanne.
Tapi Randu Alas terus lari keluar. Saat itu sosok yang tadi tegak di luar jendela sudah lenyap. Randu Alas lari ke langkan depan rumah. Ia lalu segera melompat ke atas punggung kuda yang tertambat tepat di depan serambi. Mengambil sebuah obor yang tertancap di depan rumah lalu berkuda menuju bagian pinggir selatan kotaraja Mataram untuk memburu sesosok tubuh yang nampak berlari dengan cepat di depannya.
Dia memacu kudanya terus. Kuda gagah berwarna hitam pekat itu berlari seperti terbang. Tak lama kemudian ia memasuki satu jalan menurun. Di depannya terdapat sebuah jembatan bambu yang melintang di atas sebuah jurang dalam. Dulunya jurang itu merupakan sebuah aliran sungai. Namun karena tidak dialiri air lagi, sungai dalam itu berubah menjadi jurang. Randu Alas menarik tali kekang kudanya. Binatang itu pun berhenti dengan mengeluarkan suara ringkikan keras. Di depan sana, beberapa belas tombak dari jembatan bambu tampak sesosok tubuh berdiri tegak tak bergerak seolah-olah sengaja menunggu kedatangannya.
Quote:
Tapi dia jadi kaget bukan main ketika tiba-tiba di hadapannya terdengar suara menggemuruh seperti deburan ombak. Lalu entah dari mana asal muasalnya tahu-tahu di hadapannya berdiri seorang perempuan muda memakai pakaian serba merah. Wajahnya sangat cantik dan rupawan tapi kedua telinganya lancip mencuat ke atas serta berbulu seperti telinga seekor anjing hutan. Sepasang bola matanya bercahaya merah dalam kegelapan malam. Sesaat Randu ALas tampak tercekat. Namun dia segera dapat menguasai dirinya.
Dalam hati dia membatin.
“Siluman wanita ini ternyata menagih janji. Ia sengaja merperlihatkan wujud aslinya untuk menggertakku. Aku harus waspada …”
“Randu Alas. Apa kau masih mengenaliku…?”
“Aku mengenali mu,” jawab Randu Alas.
“Katakan siapa diriku!” Gadis bertelinga srigala dan bermata merah menyala itu memerintah.
“Kau Nyimas Ratu. Pendatang dari dunia gelap. Penguasa rimba belantara alam gaib hitam…”
“Bagus! Kau ternyata tidak lupa siapa diriku. Tapi apakah kau juga ingat perjanjian yang kau buat dengan ku beberapa tahun yang lalu?”
Randu Alas terdiam.
“Jawab pertanyaanku Randu Alas!”
“ Aku akan menerima hukuman jika mengingkari kesepakatan “
“ Memang betul begitu. Tapi apa kau juga ingat apa yang harus kau lakukan untukku?”
Kembali Randu Alas tak bisa menjawab. perempuan berpakain serba merah dan bertelinga seekor anjing yang disebut dengan nama Nyimas Ratu tersenyum.
“Perjanjian yang kau buat ku mengikat dirimu dengan diriku. Sekarang kau harus menerima balasannya. Akan tetapi, kau akan ku biarkan kau hidup asalkan kau bunuh istri mu …” katanya.
“ Kau sanggup?!“
Randu Alas tampak tercengang di atas punggung kudanya. Hati lelaki ini bimbang. Tidak mungkin ia tega membunuh wanita yang sangat dicintainya itu. Di lain pihak ia juga sadar siluman anjing yang ada di depannya itu bukanlah tandingannya. Lalu perlahan –lahan Randu Alas turun dari punggung kudanya. Otaknya berpikir keras untuk keluar dari situasi berbahaya ini.
“ Baiklah aku akan mengikuti apa keinginan mu Nyimas Ratu “
“ Sekarang ikut aku…”
Nyimas Ratu segera menyambar tubuh Randu Alas. Lelaki ini merasakan tubuhnya dibawa melayang. Di lain kejap Randu Alas dapatkan dirinya berada di puncak pohon sangat tinggi. Nyimas Ratu mendudukkan Randu Alas di sebuah cabang besar yang diberi potongan-potongan kayu, dibentuk demikian rupa merupakan tempat tidur kayu.
Di hadapannya manusia siluman betina itu tegak dengan kedua kaki mengangkang dan tangan mendekap ke dada. Kepalanya mendongak ke atas, kedua matanya terpejam dan lidahnya menjulur basah. Dari mulutnya terdengar suara gerengan halus. Randu Alas
kemudian menyaksikan kejadian yang luar biasa. Sedikit demi sedikit bulu hitam telinga mencat panjang itu lenyap.
Bersamaan dengan sosok setengah anjing berbulu itupun berubah, berubah terus hingga muncul kepala seorang perempuan muda berkulit putih bersih dengan tubuh sekal pada bagian dada dan bagian pinggul. Dan yang membuat Randu Alas jadi menahan nafas ialah tubuh yang tadi pakai baju serba merah itu kini tampak tidak tertutup selembar benangpun!
Randu Alas menarik nafas panjang. Kesadarannya masih belum lenyap. Nafsunya masih di bawah kendali sepenuhnya.
"Waktuku tidak lama! Lekas berdiri. Tempelkan tubuhmu ke tubuhku! Dan dosa –dosa mu terhadapku akan terhapus " berseru Nyimas Ratu.
Randu Alas berdiri dan melangkah mendekati Nyimas Ratu. Ketika sesaat lagi tubuhnya akan menempel pada tubuh telanjang itu tiba-tiba ia mencabut tombak pendek dan terselip di pinggangnya. Senjata itu dengan cepat dihunjamkan tepat di dada siluman betina itu. Nyimas Ratu tidak menyangka akan diserang seperti itu.
Bilah tombak itu menusuk deras tepat di jantung dan tembus hingga ke punggung. Siluman anjing itu membeliak marah. Tubuhnya terjajar ke belakang. Terhuyung –huyung. Dari bekas lukanya mengepulkan asap berwarna hitam pekat.
“ Ini balasan mu kepada ku Randu Alas?! “
“ Baiklah...memang mungkin tubuhku akan musnah. Akan moksa. Tapi dengar! Kau dan anak keturunan mu akan menderita berkepanjangan. Kalian tidak akan pernah mati. Kalian bisa sakit, bisa sekarat tapi tidak akan pernah bisa mati! Dan satu lagi kalian akan menjadi seperti ku! Tidak ada satu pun yang bisa mematahkan kutukan ini! “
Dari mulut siluman betina itu terdengar lolongan setinggi langit. Tempat itu laksana mau runtuh. Sosok tubuh Nyimas Ratu bergoyang keras lalu berubah menjadi asap hitam. Dari hitam berubah jadi kelabu. Lalu berpendar diterpa angin. Bersamaan dengan lenyapnya tubuh Nyimas Ratu terjadi lagi satu keanehan. Pohon besar tempat Randu Alas itu tiba-tiba saja lenyap. Randu Alas dapatkan dirinya berada di satu daerah liar penuh semak belukar di kawasan selatan Kotaraja Mataram.
Randu Alas masih terpaku dari tempat berdirinya. Tombak pendek itu masih tergenggam erat di tangan kanannya. Pikirannya tiba –tiba merasa tidak enak. Apakah kutukan itu benar adanya? Apakah kelak anak cucunya akan mengalami hal yang buruk?!
Dalam hati dia membatin.
“Siluman wanita ini ternyata menagih janji. Ia sengaja merperlihatkan wujud aslinya untuk menggertakku. Aku harus waspada …”
“Randu Alas. Apa kau masih mengenaliku…?”
“Aku mengenali mu,” jawab Randu Alas.
“Katakan siapa diriku!” Gadis bertelinga srigala dan bermata merah menyala itu memerintah.
“Kau Nyimas Ratu. Pendatang dari dunia gelap. Penguasa rimba belantara alam gaib hitam…”
“Bagus! Kau ternyata tidak lupa siapa diriku. Tapi apakah kau juga ingat perjanjian yang kau buat dengan ku beberapa tahun yang lalu?”
Randu Alas terdiam.
“Jawab pertanyaanku Randu Alas!”
“ Aku akan menerima hukuman jika mengingkari kesepakatan “
“ Memang betul begitu. Tapi apa kau juga ingat apa yang harus kau lakukan untukku?”
Kembali Randu Alas tak bisa menjawab. perempuan berpakain serba merah dan bertelinga seekor anjing yang disebut dengan nama Nyimas Ratu tersenyum.
“Perjanjian yang kau buat ku mengikat dirimu dengan diriku. Sekarang kau harus menerima balasannya. Akan tetapi, kau akan ku biarkan kau hidup asalkan kau bunuh istri mu …” katanya.
“ Kau sanggup?!“
Randu Alas tampak tercengang di atas punggung kudanya. Hati lelaki ini bimbang. Tidak mungkin ia tega membunuh wanita yang sangat dicintainya itu. Di lain pihak ia juga sadar siluman anjing yang ada di depannya itu bukanlah tandingannya. Lalu perlahan –lahan Randu Alas turun dari punggung kudanya. Otaknya berpikir keras untuk keluar dari situasi berbahaya ini.
“ Baiklah aku akan mengikuti apa keinginan mu Nyimas Ratu “
“ Sekarang ikut aku…”
Nyimas Ratu segera menyambar tubuh Randu Alas. Lelaki ini merasakan tubuhnya dibawa melayang. Di lain kejap Randu Alas dapatkan dirinya berada di puncak pohon sangat tinggi. Nyimas Ratu mendudukkan Randu Alas di sebuah cabang besar yang diberi potongan-potongan kayu, dibentuk demikian rupa merupakan tempat tidur kayu.
Di hadapannya manusia siluman betina itu tegak dengan kedua kaki mengangkang dan tangan mendekap ke dada. Kepalanya mendongak ke atas, kedua matanya terpejam dan lidahnya menjulur basah. Dari mulutnya terdengar suara gerengan halus. Randu Alas
kemudian menyaksikan kejadian yang luar biasa. Sedikit demi sedikit bulu hitam telinga mencat panjang itu lenyap.
Bersamaan dengan sosok setengah anjing berbulu itupun berubah, berubah terus hingga muncul kepala seorang perempuan muda berkulit putih bersih dengan tubuh sekal pada bagian dada dan bagian pinggul. Dan yang membuat Randu Alas jadi menahan nafas ialah tubuh yang tadi pakai baju serba merah itu kini tampak tidak tertutup selembar benangpun!
Randu Alas menarik nafas panjang. Kesadarannya masih belum lenyap. Nafsunya masih di bawah kendali sepenuhnya.
"Waktuku tidak lama! Lekas berdiri. Tempelkan tubuhmu ke tubuhku! Dan dosa –dosa mu terhadapku akan terhapus " berseru Nyimas Ratu.
Randu Alas berdiri dan melangkah mendekati Nyimas Ratu. Ketika sesaat lagi tubuhnya akan menempel pada tubuh telanjang itu tiba-tiba ia mencabut tombak pendek dan terselip di pinggangnya. Senjata itu dengan cepat dihunjamkan tepat di dada siluman betina itu. Nyimas Ratu tidak menyangka akan diserang seperti itu.
Bilah tombak itu menusuk deras tepat di jantung dan tembus hingga ke punggung. Siluman anjing itu membeliak marah. Tubuhnya terjajar ke belakang. Terhuyung –huyung. Dari bekas lukanya mengepulkan asap berwarna hitam pekat.
“ Ini balasan mu kepada ku Randu Alas?! “
“ Baiklah...memang mungkin tubuhku akan musnah. Akan moksa. Tapi dengar! Kau dan anak keturunan mu akan menderita berkepanjangan. Kalian tidak akan pernah mati. Kalian bisa sakit, bisa sekarat tapi tidak akan pernah bisa mati! Dan satu lagi kalian akan menjadi seperti ku! Tidak ada satu pun yang bisa mematahkan kutukan ini! “
Dari mulut siluman betina itu terdengar lolongan setinggi langit. Tempat itu laksana mau runtuh. Sosok tubuh Nyimas Ratu bergoyang keras lalu berubah menjadi asap hitam. Dari hitam berubah jadi kelabu. Lalu berpendar diterpa angin. Bersamaan dengan lenyapnya tubuh Nyimas Ratu terjadi lagi satu keanehan. Pohon besar tempat Randu Alas itu tiba-tiba saja lenyap. Randu Alas dapatkan dirinya berada di satu daerah liar penuh semak belukar di kawasan selatan Kotaraja Mataram.
Randu Alas masih terpaku dari tempat berdirinya. Tombak pendek itu masih tergenggam erat di tangan kanannya. Pikirannya tiba –tiba merasa tidak enak. Apakah kutukan itu benar adanya? Apakah kelak anak cucunya akan mengalami hal yang buruk?!
User telah dihapus dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas