- Beranda
- Stories from the Heart
Mereka Yang Hidup Dalam Gelap Season 3 - FANA
...
TS
bakamonotong
Mereka Yang Hidup Dalam Gelap Season 3 - FANA
Tidak bisa kita elakkan bahwa kita selalu hidup berdampingan dengan mereka yang ada di dunia yang penuh kegelapan, tidak bisa kita pungkiri bahwa mereka bersanding hidup bersama kita, mereka yang kita kenal sebagai Mereka Yang Hidup Dalam Gelap.
Seakan tak pernah berhenti aku percaya bahwa mereka adalah satu sisi dari koin dan kita adalah sebaliknya, dan tanpa kita sadari kita hidup berkegantungan, bahwa manusia, dan kaum jin seperti mereka, terikat pada satu titik yang terhubung pada lini masa antar dimensi, sehingga kita secara tak sadar ada dan menjadi bagian dari mereka.
Silahkan baca Season 1 :
Quote:
dan lanjutkan ke season 2 :
Quote:
Dan disinilah kisah berikutnya akan dimulai tentang FANA
Story
Quote:
Diubah oleh bakamonotong 29-05-2023 10:32
kemintil98 dan 2 lainnya memberi reputasi
1
13.9K
49
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
bakamonotong
#2
Part 1 - Sebuah Gedung Bekas Belanda
Belanda memilik track record yang cukup panjang dan bersejarah di Indonesia, mempengaruhi beberapa bentuk gedung yang dibagun di Indonesia, salah satunya kampusku, yang memiliki gedung yang didesain mirip gedung- gedung jaman dahulu khas belanda, apalagi kini menjadi gedung cagar budaya atau heritage warisan dari nenek moyang, sehingga tidak bisa dirubah bentuknya, hanya bisa di cat atau di tambahi AC, tapi tidak terlalu banyak juga perubahan. Dan yang tak berubah adalah sosok- sosok yang telah menempati gedung tersebut dalam ratusan tahun bahkan yang lebih tua yang menduduki tanah tersebut sebelum gedung- gedung tersebut ada.
Hari pertama saat itu ospek kami di gedung besar milik Kampus tersebut (sebut saa gedung S), gedung S ini memang besar, dan luar biasa luas, biasa aku datang kemari jika ada pernikahan atau waktu ibuku wisuda s2, tapi kini aku menginjakkan kaki di gedung ini, sebagai mahasiswa baru yang disambut oleh para senior kami. Dan pertama kali kaki kuinjakkan, ku melihat sebuah gambaran gedung ini dengan hiasan emas, kain kain melintang diatas langit- langit. dan beberapa lampu menyorot ke arah bawah, bukan lampu lebih seperti lilin besar yang menyinari sekitar lantai gedung tersebut. Kulihat berdiri sesosok raksasa, tidak mengerikan, tapi berkulit kuning langsat dengan baju khas jawa dan selendang pria di sisi pinggangnya yang kemudian dia berbalik ke aku, menatapku heran dan memegang kepalaku, mendorongku kembali sadar dari lamunanku, yang kini aku tak sadar bahwa aku sudah duduk di sebuah kursi bersama teman- temanku.
kulihat ke arah panggung kini seperti biasa seperti layaknya gedung pertemuan atau gedung aula besar kosong, dan hanya beberapa senior memberikan sambutan. dan tak lama kami keluar dari sana, dan melanjutkan menuju lapangna bertemu dengan pembina kami masing- masing, saat itu aku berada di kelompok 110, cluster Borneo (oh iya waktu itu kami harus dibentuk kelompok dan membentuk pulau di Indonesia, dan menarikan sajojo sebagai puncak acara ospek universitas). kira- kira sekitar 20 orang kami satu kelompok, dan kami harus saling berkenalan dan berkoordinasi satu dengan yang lain. dan ya kami menjadi teman selama 3 hari ospek universitas, kami memutruskan mengerjakan tugas di satu tempat, tempat asrama putri kampus tersebut, yang berada di dekat fakultas kedokteran hewan, dan juga dekat lapangan sepak bola di kampus tersbut, dan saat itu malam menjelang dan kami harus memulai mengerjakan tugas hari pertama.
pukul 7 malam aku kesana mengendarai motor suprafit ku kala itu, santai menikmati malam hingga tiba- tiba seruak angin menyentuh lamunanku di jalan, membangunkan bulu romaku, dan membuat ku celingak- celinguk mencari apa yang terjadi dan mewmang kala itu hatiku sudah yakin bahwa ada sesuatu disini, sesuatu yang melewatiku, menyentuhku dengan sengaja, entah karena iseng atua tidak aku tak mengerti, hingga ku melihat sesosok wanita berbaju putih berdiri di depanku, dengan tatapan yang sendu, tapi tersenyum, memang aneh jika kalian melihatnya, aku berdiam hingga wanita itu pergi melayang ke atas, hilang dan tiba- tiba saja berada di lapangan bola tepat di sebrang jalan. ku masih tatapi wanita itu kulihat dia masih tersenyum hingga matanya mulai benar- benar menghitam dan mulai terdengar isak tangisnya, membautku sedikit ketakutan, dan mencoba menyalkan motor lalu pergi dari tempat itu secepat mungkin, tapi gagal wanita tadi duduk di kursi belakang dan berkata "Bolehkah kamu mengantarku sejenak?"
Belanda memilik track record yang cukup panjang dan bersejarah di Indonesia, mempengaruhi beberapa bentuk gedung yang dibagun di Indonesia, salah satunya kampusku, yang memiliki gedung yang didesain mirip gedung- gedung jaman dahulu khas belanda, apalagi kini menjadi gedung cagar budaya atau heritage warisan dari nenek moyang, sehingga tidak bisa dirubah bentuknya, hanya bisa di cat atau di tambahi AC, tapi tidak terlalu banyak juga perubahan. Dan yang tak berubah adalah sosok- sosok yang telah menempati gedung tersebut dalam ratusan tahun bahkan yang lebih tua yang menduduki tanah tersebut sebelum gedung- gedung tersebut ada.
Hari pertama saat itu ospek kami di gedung besar milik Kampus tersebut (sebut saa gedung S), gedung S ini memang besar, dan luar biasa luas, biasa aku datang kemari jika ada pernikahan atau waktu ibuku wisuda s2, tapi kini aku menginjakkan kaki di gedung ini, sebagai mahasiswa baru yang disambut oleh para senior kami. Dan pertama kali kaki kuinjakkan, ku melihat sebuah gambaran gedung ini dengan hiasan emas, kain kain melintang diatas langit- langit. dan beberapa lampu menyorot ke arah bawah, bukan lampu lebih seperti lilin besar yang menyinari sekitar lantai gedung tersebut. Kulihat berdiri sesosok raksasa, tidak mengerikan, tapi berkulit kuning langsat dengan baju khas jawa dan selendang pria di sisi pinggangnya yang kemudian dia berbalik ke aku, menatapku heran dan memegang kepalaku, mendorongku kembali sadar dari lamunanku, yang kini aku tak sadar bahwa aku sudah duduk di sebuah kursi bersama teman- temanku.
kulihat ke arah panggung kini seperti biasa seperti layaknya gedung pertemuan atau gedung aula besar kosong, dan hanya beberapa senior memberikan sambutan. dan tak lama kami keluar dari sana, dan melanjutkan menuju lapangna bertemu dengan pembina kami masing- masing, saat itu aku berada di kelompok 110, cluster Borneo (oh iya waktu itu kami harus dibentuk kelompok dan membentuk pulau di Indonesia, dan menarikan sajojo sebagai puncak acara ospek universitas). kira- kira sekitar 20 orang kami satu kelompok, dan kami harus saling berkenalan dan berkoordinasi satu dengan yang lain. dan ya kami menjadi teman selama 3 hari ospek universitas, kami memutruskan mengerjakan tugas di satu tempat, tempat asrama putri kampus tersebut, yang berada di dekat fakultas kedokteran hewan, dan juga dekat lapangan sepak bola di kampus tersbut, dan saat itu malam menjelang dan kami harus memulai mengerjakan tugas hari pertama.
pukul 7 malam aku kesana mengendarai motor suprafit ku kala itu, santai menikmati malam hingga tiba- tiba seruak angin menyentuh lamunanku di jalan, membangunkan bulu romaku, dan membuat ku celingak- celinguk mencari apa yang terjadi dan mewmang kala itu hatiku sudah yakin bahwa ada sesuatu disini, sesuatu yang melewatiku, menyentuhku dengan sengaja, entah karena iseng atua tidak aku tak mengerti, hingga ku melihat sesosok wanita berbaju putih berdiri di depanku, dengan tatapan yang sendu, tapi tersenyum, memang aneh jika kalian melihatnya, aku berdiam hingga wanita itu pergi melayang ke atas, hilang dan tiba- tiba saja berada di lapangan bola tepat di sebrang jalan. ku masih tatapi wanita itu kulihat dia masih tersenyum hingga matanya mulai benar- benar menghitam dan mulai terdengar isak tangisnya, membautku sedikit ketakutan, dan mencoba menyalkan motor lalu pergi dari tempat itu secepat mungkin, tapi gagal wanita tadi duduk di kursi belakang dan berkata "Bolehkah kamu mengantarku sejenak?"
regmekujo dan 7 lainnya memberi reputasi
6