Kaskus

Story

juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..

Prolog

Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..

Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)

SIDE STORIES

Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
uang500ratusAvatar border
devanpancaAvatar border
iskrimAvatar border
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
#7087

Insiden...

Gw yang melihat kemunculan Ki Larang, langsung menatap Beliau mencoba menanyakan dalam hati apa yang gerangan sedang terjadi dengan Anggie..

“Ada yang sengaja memanfaatkan kelengahan ku saat pergi untuk menemui Sang Prabu, Ngger.. Aku tidak akan melepaskan siapapun yang mencoba bermain-main dengan ku, sebagai Penjaga Keturunan Sang Prabu” Jawab Ki Larang sambil mengedarkan pandangan mata tajamnya ke setiap pelosok gedung..

Gw seketika menggemeratakkan gigi mendengar jawaban Ki Larang.. Hanya manusia berhati kerdil yang memanfaatkan situasi ini dengan mencoba menyerang isteri gw Anggie..

“Bang, sebaiknya Anggie kamu bawa ke ruang belakang dulu” Kata Ibu yang membuat gw langsung mengangguk setuju, meski diam-diam sudah menggunakan Ajian Tembus Pandang untuk ikut menyisir tiap tempat, saat Anggie sudah gw boyong dalam gendongan..

“Anggie kenapa, Mam?” Tanya Suluh begitu gw telah menuruni anak tangga panggung pelaminan..

“Ga tau, Suluh.. Nafasnya tiba-tiba sesak.. gw mo bawa Anggie ke ruang belakang”

Dengan diiingi Ibu dan kedua orang tua nya Anggie dibelakang, gw terus menggendong isteri gw itu menuju sebuah ruangan yang berada persis dibagian belakang panggung.. Sebuah ruangan cukup besar yang sepertinya sengaja di buat pihak pengelola untuk istirahat singkat para penyewa gedung.. Diatas sebuah tempat tidur berukuran single, yang tertata cukup rapi, gw merebahkan tubuh Anggie..

“Aku buka jilbab kamu yah, biar kamu ga gerah” Kata gw lembut ke Anggie..

Namun gadis itu menolak dengan menggelengkan kepala..

“Banyak orang, Beb.. Aku ga mau rambut ku di liat orang selain kamu.. Itu termasuk aurat” Jawab Anggie yang berbisik ditelinga gw..

Gw langsung menoleh ke belakang dan memang melihat ketiga sahabat baik gw semasa SMA termasuk Rio ada disana.. Persisnya dibelakang Suluh dan Ibu serta adik gw, Ayu..

“Subhanallah, aku bangga sama kamu, Yank” Ucap gw yang terharu akan keteguhan hati Anggie yang meski baru hari pertama menggunakan hijab, tapi jawabannya benar-benar membuat hati ini terasa sejuk..

Anggie menjawab ucapan gw dengan sebuah senyuman yang terpaksa ia selipkan di wajahnya yang meringis menahan sesak di dada..

“Bu, tolong jaga Anggie sebentar yah.. Abang mau lihat tamu” Kata gw beralasan ke Ibu, meski dalam hati sebenarnya ingin melihat Ki Larang, karena bgw benar-benar penasaran akan ucapan Beliau tadi tentang sosok yang telah mencoba memanfaatkan kelengahannya..

Ibu mengangukkan kepala ke arah gw, dan langsung mencoba membuat Anggie lebih baik.. Setelah meminta izin ke Anggie dan kedua orang tuanya, gw sempat mencium kening isteri gw itu.. Lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan menuju pelaminan bersama Suluh..

“Bree, Anggie kenapa?” Tanya Rio dengan wajah penasaran yang sama ditampilkan ketiga sahabat baik gw..

“Ntra aja gw ceritain, Bree” Jawab gw singkat sambil terus berjalan..

Saat sudah berada disisi pelaminan, gw sempat melirik ke arah para tamu yang nampak kebingungan.. Kemudian mengalihkan pandangan ke Ridho yang terlihat sedang berbicara empat mata ke wanita yang bertugas sebagai MC resepsi pernikahan gw.. Lalu, setelahnya ia menghampiri gw bersama Bimo dan Binar, bersamaan dengan terdengarnya suara MC yang menyuruh para tamu undangan untuk menikmati hidangan yang tersedia di tiap stand.. Sepertinya Ridho sengaja meminta MC untuk mengalihkan perhatian para tamu yang tadi sempat terlihat kebingungan..

“Anggie dimana, Bree?” Tanya Ridho yang langsung diapit isterinya, Suluh..

“Dia masih istirahat diruang belakang sama Ibu dan mertua gw, Bree.. Thanks yaa udah alihin perhatian tamu gw”

“Nah lu mo kemana sekarang? Bukannya nemenin bini lu”

“Gw ada urusan sedikit.. Kata Ki Larang, ada orang yang sengaja ngerjain Anggie.. Kalo sampe bener, gw ga bakal ampunin” Jawab gw sambil berbisik ke telinga Ridho, karena tidak mau ketigab sahabat baik semasa SMA mendengarnya..

Ridho nampak sedikit terkejut mendengar jawaban gw, namun hal itu sama sekali tidak gw hiraukan karena gw langsung membalikkan badan menghadap Rio, Joni, Rendy dan Mail..

“Bree, gw minta tolong lu kontrol semua stand makanan yak.. Sekalian kalo lu semua ketemu temen-temen SMA kita, lu ajak mereka ngobrol dulu.. Gw mau pergi sebentar mo nyari obat buat bini gw” Kata gw berbohong ke ketiga sahabat baik semasa SMA..

Serempak, Mail, Joni dan Rendy menganggukkan kepala dan langsung pergi meninggalkan gw menuju tiap stand makanan.. Tapi tidak dengan Rio.. Kedua mata sepupu gw itu nampak terpicingkan dan menatap wajah ini penuh kecurigaan..

“Bree, lu ga ikut mereka?” Tanya gw sengaja mengalihkan perhatian Rio ke arah ketiga sahabat baik yang sudah berkeliling di belakang..

Bukannya menjawab, Rio malah semakin memicingkan pandangannya..

“Intuisi gw sebagai seorang tentara bilang kalo lu lagi ngumpetin sesuatu.. Bilang ke gw, apa yang lagi terjadi, Bree”

Gw yang sempat menyisir tiap sudut gedung untuk mencari keberadaan Ki Larang, menggaruk-garuk kepala karena bingung harus menjawab apa atas pertanyaan Rio barusan.. Tiba-tiba, pandangan gw membentur sosok Jin berwujud laki-laki muda Penjaga Anggie sedang melesat melayang dan menembus dinding persis di sebelah kiri pintu masuk.. Dibelakang Ki Larang, nampak sosok Nyi Mas Roro Suwastri dan Sekar Kencana serta Bayu Barata juga ikut melesat menyusul..

“Dengerin gw, Bree.. Gw hargain perhatian lu sebagai sepupu.. Cuman, masalah yang sekarang gw lagi hadapi, ga bisa lu bantu sama senapan.. Lu tunggu aja disini.. Jangan kemana-mana, yak” Jawab gw sesingkat mungkin sambil sempat menepuk bahu Rio, lalu setengah berlari menuju tempat sama dimana keempat sosok gaib lenyap..

Di temani ketiga saudara dan Binar yang ikut berlari dibelakang, gw terus menuju pintu masuk dengan melewati banyak tamu yang terlihat sedikit bingung.. Akan tetapi, baru saja gw akan tiba beberapa tombak lagi ke tempat yang kami tuju, langkah gw dicegat oleh Singgih sambil menahan dada ini menggunakan telapak tangannya..

“Ga usah nyusul mereka, Mam.. Ini hari pernikahan lu sama Anggie.. Jangan sampe para tamu mandang lu berempat sambil mikir yang enggak-enggak” Kata Singgih dengan sengaja mengeraskan suara..

Gw yang tidak perduli akan ucapan gadis itu, menajamkan pandangan dan menampik tangannya di dada ini..

“Gw ga perduli.. Gw harus tau, siapa yang punya niat buruk ke isteri gw, Anggie”

Singgih nampak menajamkan kedua mata nya.. Tapi sama sekali tidak gw hiraukan.. Gw tetap meneruskan niat awal dan melangkah melewati gadis itu.. Namun, seseorang terap saja berusaha menghalangi dengan tiba-tiba menarik lengan jas pengantin gw dari belakang.. Rasa hati yang kian dongkol karena tak jua jadi menyusul Ki Larang dan ketiga sosok sahabat gaib lainnya, membuat diri ini berbalik seketika hendak menantang langsung siapapun yang memegangi lengan jas..

Dan ternyata Singgih yang ada dibalik timbulnya rasa dongkol.. Gadis itu nampak memegangi lengan jas gw dengan telapak tangan sedikit bergetar sambil menundukkan wajah, yang terhalangi rambut sebahunya.. Gw yang masih kesal, berniat melepaskan cengkraman tangan gadis itu dari lengan jas.. Tapi gw terpaksa mengurungkan niat, saat merasakan hawa kesaktian yang keluar dari tubuh Singgih, mendadak meningkat menjadi sulit diukur.. Bahkan nafas gw terasa langsung sesak karena hawa sakti dari tubuh Singgih seakan menekan jalan nafas..

Gw sempat melirik bingung ke arah ketiga saudara yang nampak sama-sama berkeringat dikening meski dalam ruangan berpendingin lengkap dengan suhu sekitar 18 ° Celsius.. Wajah Ridho, Bimo dan Suluh nampak sedikit pucat sambil memegangi tiap dada mereka.. Sepertinya ketiga saudara gw tidak termasuk Binar, merasakan sensasi sesak yang sama akibat tertekan oleh hawa sakti aneh dari tubuh Suluh..

“Dengarkann ucapan gadis ini, keturunan Braja Krama” Ucap Singgih dengan suara berat layaknya suara gagah seorang laki-laki yang tegas dan penuh wibawa..

Gw sempat tertegun dan mencoba mengingat suara tegas yang sama pernah terlisankan oleh Anggie.. Pandangan gw langsung membesar bersamaan dengan ciutnya nyali begitu tersadar bahwa suara barusan adalah suara khas Sang Prabu..

Perlahan, Singgih menoleh ke arah gw dan memandangi diri ini dengan dua bola mata putihnya..

“Biarkan Ki Larang menjalankan tugasnya.. Dan kau bergegaslah kembali ke isteri mu, karena aku sendiri telah memulihkan nya” Ucap Singgih lagi dengan wajah tanpa ekspresi..

“Ba..baik, Sang Prabu” Jawab gw, meski dengan suara lirih terbata-bata..

Selepas itu, Singgih terlihat melepaskan cengkraman tangannya dari lengan jas pengantin gw dan tubuh gadis itu nampak lemah hendak terjatuh.. Namun dengan gerakan cepat, Suluh menangkap tubuh Singgih yang kemudian tersadar.. Selepas tahu keadaan Singgih sudah baik-baik saja, gw langsung bergegas menemui Anggie di dalam ruangan dibelakang panggung pelaminan..

“Alhamdulillah” Ucap gw dalam hati, begitu melihat Anggie sudah berdiri dan menyambut gw dengan senyuman manisnya..

“Sayank, kamu udah baikan?” Tanya gw disusul pelukan Anggie yang tanpa malu-malu lagi ia layangkan ditubuh gw, dihadapan Ibu dan kedua orang tua nya..

“Alhamdulillah, aku udah enakan, Beb” Jawab Anggie, yang lalu mendekatkan wajahnya ke telinga gw..

“Tadi, aku sempet tiduran.. Terus mimpi Kakek Moyang aku dateng ngusap kepala aku sambil tersenyum, Beb.. Habis itu, dada aku rasa nya plong banget ga sesak lagi” Bisik Anggie di telinga gw..

“Bu Sumi, sebaiknya kita tinggalkan pasangan pengantin baru ini yang nampaknya sudah tidak sabar memadu kasih” Goda Papahnya Anggie sambil tersenyum ke arah Ibu gw yang langsung membalas dengan senyuman sama..

“Apaan sih, Papah.. Orang aku cuma bisikin Imam aja, koq” Balas Anggie dengan wajah merah merona..

“Eehh, sebagai seorang isteri, kamu ga boleh sebut nama Imam, sayang.. Pamali.. Kamu udah harus biasa bahasain Imam dengan sebutan suami kamu.. Atau kalau kalian sudah punya anak, kamu bisa sebut Imam sebagai Papahnya nama anak kamu nanti di depan orang lain” Sambung Mamahnya, yang membuat Anggie langsung menatap gw dan memeluk lengan ini..

“Iya, Mah.. Aku tadi cuma bisikin suami aku aja koq” Sahut Anggie yang sudah mengerti maksud Mamahnya dan kembali mengulang jawaban ke Papahnya tadi..

Sontak ketiga orang yang sama-sama kami hormati itu tersenyum bahagia.. Terutama Ibu, yang langsung berjalan menghampiri Anggie dan mengusap-usap punggung menantunya itu..

“Ya sudah, kalo kamu sudah enakan, sebaiknya kita semua kembali ke pelaminan.. Ini hari yang paling kalian berdua tunggu selama ini, iya kan?” Kata Ibu yang disambut anggukan kepala gw dan Anggie secara bersamaan..

Dengan lengan terus dipeluk Anggie, kami pun berjalan kembali keluar dari ruangan menuju panggung pelaminan, diikuti Ibu dan kedua orang tuanya.. Sementara, gw sesekali tersenyum melihat adik gw, Ayu yang nampak berlenggak-lenggok mengangkat bagian belakang gaun pengantin Anggie..

Begitu tiba dan duduk kembali di kursi pengantin, para tamu yang tadi hendak memberi ucapan selamat, terlihat mulai menaiki panggung pelaminan.. Diantara mereka ternyata ada beberapa teman SMA gw yang ternyata sudah datang.. Dengan selalu menyunggingkan senyuman bahagia, gw menerima ucapan selamat dari tiap tamu undangan dan sesekali melirik ke arah Anggie.. Sekali lagi, ucapan Puji serta syukur Alhamdulillah terucap dalam batin, melihat wajah cantik Anggie yang merah merona telah kembali.. Bukan hanya itu, Anggie pun terlihat menjaga jarak untuk tidak bersalaman dengan para tamu laki-laki selain mahromnya..

“Aaah, makin cinta aku yank sama kamu jadinya” Bisik gw dalam hati, sebelum juru photo mengabadikan moment pernikahan gw dengan beberapa tamu teman SMA..

Gw sempat mengacungkan jempol ke arah Mail, Rendy dan Joni yang sudah menjalankan permintaan gw untuk menemani tamu-tamu teman SMA, saat insiden kecil tadi terjadi.. Mereka semua membalas sapaan gw dengan acungan jempol yang sama, kecuali Rio.. Sepupu gw itu nampak sedikit bermalas-malasan mengangkat jempolnya.. Biarain aja lah, ntar gw ajak ngobrol si item kalo ada waktu senggang, biar dia ga ngambek lagi..

Saat benak gw masih memikirkan Rio, tiba-tiba Ki Larang muncul kembali dan melayang persis dua tombak disamping kursi Anggie.. Gw yang masih sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan, sempat melirik ke arah Beliau yang sedang menyunggingkan senyuman kecil.. Dilihat dari raut wajah tenangnya, gw yakin Ki Larang pasti sudah berhasil memberi pelajaran orang yang berniat buruk pada Anggie..

Dari bawah sebelah kiri panggung pelaminan, gw juga melihat Nyi Mas Roro Suwastri dan Sekar Kencana serta Bayu Barata sudah kembali.. Wajah mereka bertiga nampak sama-sama menyunggingkan senyuman manis yang hampir sama dengan Ki Larang.. Mengetahui satu masalah telah berhasil diselesaikan dengan bantuan sahabat-sahabat gaib, perasaan gw jauh lebih lega..

Saat menunggu para tamu yang sedang berjalan menuju panggung pelaminan, gw empat bercanda dengan isteri gw, Anggie.. Tawa yang terlihat dari wajah gadis itu nampak semakin membuatnya terlihat cantik.. Hingga, satu sosok yang sedang berjalan memasuki pintu membuat Anggie merubah tawa nya menjadi senyuman..

“Beb, liet tuh Arya baru dateng.. Dari muka nya yang kucel, kek nya dia baru bangun, Beb” Ucap Anggie sambil menunjuk ke arah seorang pemuda berambut sedikit gondrong yang berjalan diikuti sosok mahluk gaib berupa laki-laki tampan nan gagah..

Gw yang melihat kedatangan Arya bersama Jin Penjaga nya Pandu Rukmo, hanya bisa tersenyum kecut sambil melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang.. Setelah sempat bersalaman dengan Bimo, Binar, Suluh dan Ridho, Arya nampak tertegun memandangi sosok Singgih yang memang nampak cantik dengan setelan kebaya modern berwarna hitam dengan banyak hiasan bunga bercorak gold yang dipadu kain batik yang dibuat rok sedikit tinggi dengan warna sama..

Dari gelak tawa yang terdengar di arah mereka, gw yakin pasti Arya sedang dibully oleh Ridho, karena sempat memandangi Singgih dan lupa mengelap liurnya#Canda.. Terbukti dari wajah Singgih yang berubah memerah dan segera berjalan ke sudut ruangan sambil menarik lengan Binar.. Wajah gadis itu nampak tertekuk saat Nyi Mas Roro Suwastri sedang menanyakan sesuatu sambil menajamkan pandangan ke arah Pandu Rukmo..

Gw sempat merasa was-was melihat tatapan tajam Nyi Mas Roro Suwastri ke Arya dan Pandu Rukmo.. Khawatir Beliau akan mendamprat Pandu Rukmo dan akhirnya akan berlanjut ke duel.. Tapi, rasa was-was tanpa alasan yang tiba-tiba muncul dalam batin gw, seketika lenyap.. Saat melihat sosok Arya berbicara empat mata secara pribadi dengan Singgih.. Semantara, Pandu Rukmo nampak tertunduk diam manakala Nyi Mas Roro Suwastri mengucapkan sesuatu yang sepertinya sebuah peringatan atau mungkin ancaman..

Lalu, Arya yang nampak masih sedikit kusut perlahan menaiki anak tangga panggung pelaminan.. Gw dan Anggie sama-sama langsung berdiri untuk menyambutnya.. Seperti pada tamu laki-laki diluar mahrom nya, Anggie menerima uluran tangan Arya tanpa menjabat.. Awalnya Arya terlihat sedikit kaget, namun sebuah senyuman manis dia sunggingkan pertanda bahwa ia menghormati sikap Anggie..

“Selamat ya, Gie.. Akhirnya lu bisa bersanding dipelaminan dengan Imam” Ucap Arya yang dibalas dengan senyuman manis Anggie..

Lalu, sahabat baik gw itu memeluk diri ini dengan sangat erat..

“Selamat, Mam.. Janga lupa do’a in gw biar bisa cepet nyusul kalian berdua” Kata Arya yang masih memegangi bahu gw..

“Makasih, Ar.. Gw pasti do’a in lu koq biar bisa cepet jadian sama Singgih”

Arya nampak terkejut mendengar jawaban gw dan langsung mencengkram bahu ini dengan telapak tangannya..

“Darimana lu tau soal Singgih?” Tanya Arya yang nampak sedikit malu ditertawakan oleh Anggie..

“Ya elah, gw bukan anak kecil kali, Ar.. Gw bisa bedain cara natap lu yang ga ngedip kalo liet Singgih dari pertama kita ketemu.. Udah lah, tembak sonoh”

“Njiir, lu, Mam.. Lu kira penjahat maen tembak-tembak aja” Sahut Arya sambil sesekali melirik ke arah Singgih yang nampak sedang tertawa dengan Binar..

“Kata laki gw bener loh, Ar.. Kalo kalah cepet, ntar lu bisa keduluan orang lain.. Sodara gw itu cantik dan manis loh.. Dari tadi aja, gw sempet liet ada beberapa anak muda tamu nya laki gw, deketin Singgih buat ngajak kenalan” Tambah Anggie yang sengaja menimpali ucapan gw..

“Hah! Yang bener lu, Gie?” Tanya Arya dengan wajah panik..

“Ya udah deh, gw coba sekarang juga nembak Singgih yah.. Bodo amat dah mau diterima atau kaga.. Yang penting, dia udah tau perasaan gw yang sebenernya” Ucap Arya yang membalikkan tubuhnya dan berniat pergi menuruni panggung pelaminan..

Namun, dengan cepat gw tarik kerah kemeja Arya dan membuat pemuda itu terhenti langkahnya..

“Apaan lagi si?” Tanya Arya dengan wajah menyiratkan rasa tidak sabar..

“Tunggu dulu lah, Bree.. Kita photo-photo dulu lah.. Lagian, sesuatu yang terburu-buru itu ga bagus hasilnya.. Saran gw, mendingan lu nunggu moment yang tepat buat luluhin hatinya Singgih”

Arya nampak tertegun sesaat mendengarkan ucapan gw.. Lalu, gw menyuruhnya untuk berdiri disebelah dan memanggil juru photo.. Ridho yang melihat gw dan Anggie hendak berphoto bareng Arya, segera berteriak menghentikan sang Juru Photo.. Kemudian, sambil menarik lengan isteri nya Suluh, ia mengajak Bimo dan Binar yang juga mengajak Singgih untuk ikut naik ke panggung pelaminan..

Awalnya, gw melihat Singgih menolak ajakan Binar dengan gelengan kepala.. Namun, Anggie segera melambaikan tangan ke arah Singgih dan akhirnya gadis itu pun mau berjalan beriringan bersama-sama ketiga saudara dan Binar..

“Kamvret lu, Bree! Mo photo-photo ga ngajak2” Tegur Ridho sambil memasang wajah masam..

“Udah, ga usah banyak komplain.. Lu atur aja posisi lu dimana.. Jarang-jarang kan lu bisa photo bareng orang tamvan” Sahut gw dengan candaan..

Ridho langsung mencibir dan mulai mencari posisi terbaik bersama isterinya Suluh.. Pada Mulanya, semua wanita memilih berada di sebelah Anggie.. Dan Ridho, Arya serta Bimo berdiri disebelah gw.. Tapi, sang juru photo meminta posisi agar di tukar.. Mulailah Ridho menggeser posisi menjadi disebelah Anggie, disusul Arya dan Bimo.. Di sebelah gw sudah ada Suluh, Binar dan Singgih yang berdiri persis di ujung.. Sesaat sebelum sang juru photo bersiap mengabadikan moment tak ternilai ini, tiba-tiba terlintas ide konyol di benak gw..

“Mas, tunggu.. Saya mau rubah posisi lagi ga apa-apa kan?” Tanya gw yang membuat sang Juru Photo terlihat bingung..

“Ar, lu berdiri di sebelah Singgih deh.. Terus Binar disebelah Bimo.. Kasihan sama Bimo, kalo diphoto kepisah sama soulmate nya”

Sontak Arya dan Singgih sama-sama membesarkan kedua pasang mata mereka karena terkejut.. Untuk sesaat, baik Arya dan Singgih nampak diam tanpa ada satu pun yang menggeser posisinya.. Melihat hal itu, gw langsung mengedipkan mata ke arah Sang Juru Photo.. Dan untungnya ia menerima kode gw..

“Udah, mbak sama si mas nya yang gondrong tukar posisi.. Dari angle nya bakal kelihatan bagus banget nih” Kata sang Juru photo ke arah Binar dan Arya..

Tanpa ragu, Binar langsung berjalan menghampiri Bimo dan langsung memeluk lengannya.. Sementara, Arya nampak ragu dan berjalan lambat menuju Singgih.. Sesekali, pandangannya yang tajam melirik ke arah gw yang sedang senyum-senyum bersama Anggie..

“Buruan, Ar.. Jalan lu kek puteri keraton” Gerutu Ridho yang membuat Arya melotot..

Setelah tiba persis di sebelah Singgih, Arya sempat menyimpulkan senyuman manis terkesan kikuk.. Singgih sendiri nampak sedikit malas membalas senyuman sahabat baik gw itu..

“Mas gondrong bisa merapat sedikit lagi ke si mbak nya ga?” Tanya Sang juru photo..

Arya nampak sedikit ragu namun tetap menganggukkan kepalanya perlahan dan merapatkan sedikit badannya ke Singgih..

“Oke, saya hitung satu, dua, tiga” Ucap sang Juru photo..

CEKREKKK..

Itu lah moment pertama dan yang paling membahagiakan buat gw, karena bisa mengabadikan kebersamaan kami semua sesama mahluk ciptaan Tuhan yang lemah, namun dikaruniai sedikit kelebihan..
sampeuk
agoenglak819
leobersamage107
leobersamage107 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.