- Beranda
- Stories from the Heart
ASU AJAG PEGUNUNGAN TEPUS
...
TS
breaking182
ASU AJAG PEGUNUNGAN TEPUS
ASU AJAG PEGUNUNGAN TEPUS
Quote:

SINOPSIS
Quote:
Sekelompok anak muda dari universitas di Jogja yang sedang melaksanakan KKN di desa Telaga Muncar salah satu desa terpencil di kawasan Tepus Gunung Kidul. Tiga sosok anjing misterius mencegat salah satu dari mahasiswa itu yang bernama Zulham. Misteri berlanjut lagi tatkala sesampainya di base camp. Zulham harus dihadapkan dengan ketua kelompok KKN tersebut yang diterror oleh mahkluk –mahkluk asing yang memperlihatkan diri di mimpi –mimpi. Bahkan, bulu –bulu berwarna kelabu kehitaman ditemukan di ranjang Ida. Hingga pada akhirnya misteri ini berlanjut kedalam pertunjukan maut. Nyawa Zulham dan seluruh anggota KKN terancam oleh orang –orang pengabdi setan yang tidak segan –segan mengorbankan nyawa sesama manusia. Bahkan, nyawa darah dagingnya sendiri!
INDEX
Diubah oleh breaking182 22-02-2021 10:13
sukhhoi dan 35 lainnya memberi reputasi
32
110.7K
Kutip
378
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#120
BEGAL ALAS JATI KEMBAR
Quote:
KERETA yang dikemudikan kusir tua itu meluncur meninggalkan desa Karang Waru. Untuk mencapai Mataram kereta ini harus menempuh satu daerah berbukit-bukit kemudian melewati kawasan rimba belantara Jati Kembar. Hutan Jati Kembar merupakan hutan penghubung kawasan luar kota dengan pinggir barat Mataram yang ibukotanya telah dipindahkan dari Kotagede ke Pleret Bantul pada masa pemerintahan Amangkurat III.
Hutan ini menjadi pusat lalu lintas semua orang yang akan menuju ke Mataram atau sebaliknya. Hutan Jati Kembar tidak terlalu luas, tetapi pohon-pohon jati yang tumbuh di dalamnya besar-besar dan serupa sehingga diberi nama Jati Kembar. Di samping itu semak belukarnya pun lebat-lebat. Namun demikian, walau keadaannya seperti itu, tidak ada orang yang merasa takut melewati rimba belantara ini. Hutan Jati Kembar dikenal aman. Tak ada binatang buas seperti harimau atau ular. Bukan pula jadi tempat persembunyian atau sarang begal dan rampok.
Setelah melewati jalan menurun di kaki bukit, kereta yang dikemudikan kusir tua itu mulai memasuki hutan Jati Kembar. Saat itu tirai jendela depan kereta terbuka dan satu wajah cantik muncul. Perempuan itu memiliki rambut panjang berwarna pirang, sebuah topi lebar berwarna putih menutupi sebagian rambutnya. Matanya yang biru tampak bulat lebar bening mempesona.
“Gendruk, tak usah melarikan kuda terlalu cepat. Perlahan saja. Saya letih, mau mencoba tidur sebelum sampai di kotaraja Mataram”
Kusir kereta yang sebagian besar berambut putih itu menoleh.
“Saya menurut apa kata Suzanne saja. Tapi bukankah Tuan Van Den Bach berpesan agar kita cepat-cepat sampai di Mataram?”
“Kau betul, Mataram tidak terlalu jauh dari sini. Lagi pula hari masih pagi. Tidak perlu terburu – buru masa genting akibat pemberontakan Trunojoyo telah usai. Mataram telah aman lagi. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan “
“Baik. Saya akan menuruti apa kata Suzanne,” jawab kusir kereta.
Lalu sesuai dengan yang diperintahkan anak majikannya sang kusir kereta memperlambat lari kuda. Memasuki Hutan Jati Kembar udara terasa redup dan sejuk. Hari masih terlalu pagi. Belum ada satu orang pun yang berpapasan dengan kereta itu. Seringkali terdengar suara kicau burung-burung hutan yang bertengger di pepohonan atau berterbangan kian kemari.
Pada saat itulah tiba –tiba semak belukar di sekeliling tersibak. Dua belas orang berpakaian hitam dan berikat kepala kain merah muncul. Tampang mereka rata-rata angker dan masing-masing mencekal sebilah golok besar. Dua ekor kuda penarik kereta meringkik terkejut.
Pengemudi kereta kaget bukan main. Ia segera menarik tali kekang kereta kuda. Dan melihat gelagat yang tidak baik, ia bersikap waspada. Tangannya mengenggam erat hulu tombak yang ada di sebelah tempat duduknya. Seorang dari mereka melangkah maju. Rupanya dia yang menjadi pimpinan dari sebelas kawan-kawannya. Berewok dan kumisnya sangat lebat.
“Kau dari mana dan mau ke mana!?”
“Kami dari Magetan, dalam perjalanan pulang ke Mataram”
Si kusir kereta berusaha menjawab dengan tenang meskipun ketegangan di parasnya tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.
“Aku sudah menjawab. Sekarang beri jalan jangan menghalangi!”
Lelaki berewok berpakaian merah sesaat menatap kusir itu lalu menyeringai. Setelah itu kembali dia membentak. “Tinggalkan kereta mu beserta isinya! Aku Bahurekso pimpinan begal di hutan ini !”
“ Aku tidak membawa barang atau benda berharga.”
“Hemm… Begitu kau bilang?” orang berpakaian merah dengan berewok lebat yang bernama Bahurekso itu kembali menyeringai.
“Di rimba belantara ini aku yang punya kuasa. Aku yang memerintah. Hanya mereka yang ingin cepat mampus boleh unjuk lagak coba-coba membangkang!”
Suara bentakan itu telah membuat satu tangan halus menyibakkan tirai kereta dan memunculkan sebuah kepala perempuan muda belia berwajah cantik berkulit halus mulus.
“ Oh rupanya, kau jongos kompeni Pak Tua. Jadi kami tidak salah cegat. Segera tinggalkan perempuan beserta kereta itu. Nyawamu akan ku ampuni! “
Lutut perempuan di dalam kereta gemetar. Bulu kuduknya merinding melihat sosok-sosok orang berwajah sangar yang telah mengepung kereta sembari mengunus golok.
“ Suzane jangan takut. Saya akan melindungi mu dengan mempertaruhkan nyawa “
“ Berhati –hatilah Gendruk. Tampaknya orang –orang itu sangat kejam dan jahat “
Kusir kereta yang bernama Gendruk itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Berusaha menenangkan hati majikannya itu. Tiba –tiba kusir kereta itu segera sentakkan tali kekang. Dua ekor kuda melonjak dan melompat ke depan. Dua orang yang mengepung terlambat berkelit. Tubuhnya terpental beberapa tombak ke belakang lalu ambruk di semak belukar dengan dada remuk dihantam tapal kuda.
Melihat dua anak buahnya mati meregang nyawa. Pimpinan rampok itu menjadi geram.Di dahului dengan bentakan nyaring Bahurekso menghambur menyerang dengan goloknya ke arah Gendruk. Mengetahui serangan itu. Gendruk segera melompat dari kereta kuda sembari menusukkan tombak ke arah penyerangnya. Rupanya tidak lama setelah itu. Semua kawanan rampok ikut menghambur ke arena pertempuran.
Kawanan rampok itu masing-masing bersenjatakan sebilah golok sedang kusir kereta sebilah tombak panjang. Dari gerakan-gerakan mereka nyatalah bahwa Gendruk si kusir kereta memiliki ilmu silat yang cukup tinggi. Sampai sepuluh jurus ia sanggup membendung serangan-serangan sepuluh anggota rampok. Tapi walau bagaimanapun satu orang harus menghadapi keroyokan sepuluh orang. Sehingga jurus-jurus selanjutnya Gendruk terdesak hebat.
Terdengar satu jeritan tertahan. Salah satu kawanan rampok roboh dengan satu luka besar di dadanya! Tetapi hal itu dibayar mahal sebuah sabetan golok dan tendangan menghajar pundak dan bahu Gendruk. Lelaki tua kusir kereta itu terjajar ke belakang. Nafasnya tersengal – sengal. Darah segar mengucur dari bekas lukanya.
"Rasakan!" seringai pimpinan rampok tadi.
“ Mampus kau orang tua...hiatttt!!!”
Hutan ini menjadi pusat lalu lintas semua orang yang akan menuju ke Mataram atau sebaliknya. Hutan Jati Kembar tidak terlalu luas, tetapi pohon-pohon jati yang tumbuh di dalamnya besar-besar dan serupa sehingga diberi nama Jati Kembar. Di samping itu semak belukarnya pun lebat-lebat. Namun demikian, walau keadaannya seperti itu, tidak ada orang yang merasa takut melewati rimba belantara ini. Hutan Jati Kembar dikenal aman. Tak ada binatang buas seperti harimau atau ular. Bukan pula jadi tempat persembunyian atau sarang begal dan rampok.
Setelah melewati jalan menurun di kaki bukit, kereta yang dikemudikan kusir tua itu mulai memasuki hutan Jati Kembar. Saat itu tirai jendela depan kereta terbuka dan satu wajah cantik muncul. Perempuan itu memiliki rambut panjang berwarna pirang, sebuah topi lebar berwarna putih menutupi sebagian rambutnya. Matanya yang biru tampak bulat lebar bening mempesona.
“Gendruk, tak usah melarikan kuda terlalu cepat. Perlahan saja. Saya letih, mau mencoba tidur sebelum sampai di kotaraja Mataram”
Kusir kereta yang sebagian besar berambut putih itu menoleh.
“Saya menurut apa kata Suzanne saja. Tapi bukankah Tuan Van Den Bach berpesan agar kita cepat-cepat sampai di Mataram?”
“Kau betul, Mataram tidak terlalu jauh dari sini. Lagi pula hari masih pagi. Tidak perlu terburu – buru masa genting akibat pemberontakan Trunojoyo telah usai. Mataram telah aman lagi. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan “
“Baik. Saya akan menuruti apa kata Suzanne,” jawab kusir kereta.
Lalu sesuai dengan yang diperintahkan anak majikannya sang kusir kereta memperlambat lari kuda. Memasuki Hutan Jati Kembar udara terasa redup dan sejuk. Hari masih terlalu pagi. Belum ada satu orang pun yang berpapasan dengan kereta itu. Seringkali terdengar suara kicau burung-burung hutan yang bertengger di pepohonan atau berterbangan kian kemari.
Pada saat itulah tiba –tiba semak belukar di sekeliling tersibak. Dua belas orang berpakaian hitam dan berikat kepala kain merah muncul. Tampang mereka rata-rata angker dan masing-masing mencekal sebilah golok besar. Dua ekor kuda penarik kereta meringkik terkejut.
Pengemudi kereta kaget bukan main. Ia segera menarik tali kekang kereta kuda. Dan melihat gelagat yang tidak baik, ia bersikap waspada. Tangannya mengenggam erat hulu tombak yang ada di sebelah tempat duduknya. Seorang dari mereka melangkah maju. Rupanya dia yang menjadi pimpinan dari sebelas kawan-kawannya. Berewok dan kumisnya sangat lebat.
“Kau dari mana dan mau ke mana!?”
“Kami dari Magetan, dalam perjalanan pulang ke Mataram”
Si kusir kereta berusaha menjawab dengan tenang meskipun ketegangan di parasnya tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.
“Aku sudah menjawab. Sekarang beri jalan jangan menghalangi!”
Lelaki berewok berpakaian merah sesaat menatap kusir itu lalu menyeringai. Setelah itu kembali dia membentak. “Tinggalkan kereta mu beserta isinya! Aku Bahurekso pimpinan begal di hutan ini !”
“ Aku tidak membawa barang atau benda berharga.”
“Hemm… Begitu kau bilang?” orang berpakaian merah dengan berewok lebat yang bernama Bahurekso itu kembali menyeringai.
“Di rimba belantara ini aku yang punya kuasa. Aku yang memerintah. Hanya mereka yang ingin cepat mampus boleh unjuk lagak coba-coba membangkang!”
Suara bentakan itu telah membuat satu tangan halus menyibakkan tirai kereta dan memunculkan sebuah kepala perempuan muda belia berwajah cantik berkulit halus mulus.
“ Oh rupanya, kau jongos kompeni Pak Tua. Jadi kami tidak salah cegat. Segera tinggalkan perempuan beserta kereta itu. Nyawamu akan ku ampuni! “
Lutut perempuan di dalam kereta gemetar. Bulu kuduknya merinding melihat sosok-sosok orang berwajah sangar yang telah mengepung kereta sembari mengunus golok.
“ Suzane jangan takut. Saya akan melindungi mu dengan mempertaruhkan nyawa “
“ Berhati –hatilah Gendruk. Tampaknya orang –orang itu sangat kejam dan jahat “
Kusir kereta yang bernama Gendruk itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Berusaha menenangkan hati majikannya itu. Tiba –tiba kusir kereta itu segera sentakkan tali kekang. Dua ekor kuda melonjak dan melompat ke depan. Dua orang yang mengepung terlambat berkelit. Tubuhnya terpental beberapa tombak ke belakang lalu ambruk di semak belukar dengan dada remuk dihantam tapal kuda.
Melihat dua anak buahnya mati meregang nyawa. Pimpinan rampok itu menjadi geram.Di dahului dengan bentakan nyaring Bahurekso menghambur menyerang dengan goloknya ke arah Gendruk. Mengetahui serangan itu. Gendruk segera melompat dari kereta kuda sembari menusukkan tombak ke arah penyerangnya. Rupanya tidak lama setelah itu. Semua kawanan rampok ikut menghambur ke arena pertempuran.
Kawanan rampok itu masing-masing bersenjatakan sebilah golok sedang kusir kereta sebilah tombak panjang. Dari gerakan-gerakan mereka nyatalah bahwa Gendruk si kusir kereta memiliki ilmu silat yang cukup tinggi. Sampai sepuluh jurus ia sanggup membendung serangan-serangan sepuluh anggota rampok. Tapi walau bagaimanapun satu orang harus menghadapi keroyokan sepuluh orang. Sehingga jurus-jurus selanjutnya Gendruk terdesak hebat.
Terdengar satu jeritan tertahan. Salah satu kawanan rampok roboh dengan satu luka besar di dadanya! Tetapi hal itu dibayar mahal sebuah sabetan golok dan tendangan menghajar pundak dan bahu Gendruk. Lelaki tua kusir kereta itu terjajar ke belakang. Nafasnya tersengal – sengal. Darah segar mengucur dari bekas lukanya.
"Rasakan!" seringai pimpinan rampok tadi.
“ Mampus kau orang tua...hiatttt!!!”
Quote:
Gendruk hanya pasrah menerima nasib. Tatkala sabetan golok meluncur deras mengincar batang lehernya. Pada saat yang genting itu tiba –tiba sebuah bayangan berkelebat memapaki serangan Bahurekso. Terdengar suara dentingan keras dan percikan bunga api sewaktu golok besar dan mata tombak pendek beradu. Pimpinan rampok merasakan tangannya bergetar hebat tapi itu tak ada artinya karena di depannya dilihatnya bagaimana goloknya gompal besar!
Kaget Bahurekso bukan alang kepalang! Jika senjatanya yang paling diandalkan bisa dibuat gompal begitu rupa, ini sudah merupakan satu pertanda lebih baik dia angkat kaki dari pada meneruskan perkelahian! Tapi untuk melakukan hal itu tentu saja dia merasa malu terhadap anak buahnya yang berada ditempat itu.
Lewat jendela kecil di belakang kusir kereta itu, Suzane memandang ke luar, ke arah jalanan di depannya. Di sebelah sana dilihatnya seorang pemuda berambut panjang, berpakaian dan berikat kepala serba hitam berdiri tegak. Sebuah tombak pendek tergenggam erat di tangan kanannya.
“ Siapa kau?! Tidak perlu kau ikut campur dalam urusan ku ini ! “
Lelaki tadi hanya tersenyum tipis sembari berkata,
“ Segera saja kau dan anak buah mu minggat dari tempat ini. Atau sebentar lagi bangkai – bangkai anak buah mu dan mungkin juga diri mu akan terbujur di tengah rimba ini!”
Marahlah pimpinan rampok itu. Maka, diapun berteriak memberi perintah.
“ Bunuh baik ini! Cincang sampai lumat!”
Delapan orang bergerak. Delapan golok berkelebat. Saat itu lah terlihat sinar hitam menyambar - nyambar. Lalu…
Trang…!
Trang…!
Trang…!
Suara senjata beradu susul menyusul yang ditingkahi oleh suara jeritan-jeritan kematian! Empat anggota rampok tergelatak roboh mandi darah. Lalu menyusul dua orang lagi. Melihat ini dua orang lainnya menjadi ciut nyalinya. Hendak melompat mundur mereka takut pada sang pimpinan. Kalau maju terus pasti menerima nasib sama seperti enam kawan mereka itu! Mati kehilangan nyawa di ujung senjata lawan.
Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba terdengar teriakan Bahurekso.
“Mundur semua! Biar aku yang mematahkan batang lehernya! Akan kubetot jantung dan isi perutnya!”
Dari mulut Bahurekso terdengar suara berkeretekan rahang dan gerahamnya yang saling beradu. Matanya merah membara. Berewoknya dan kumis tebalnya berjingkrak. Dia melompat ke hadapan lelaki misterius bersenjata tombak pendek itu dengan golok terhunus.
Golok besar milik Bahurekso melesat ke arah batang leher si lelaki misterius. Lelaki itu cepat menunduk lalu hantamkan tinjunya ke perut lawan.
Buukk!
Jotosan itu tepat mendarat di perut pimpinan rampok. Mata orang ini membeliak besar dan mukanya yang kasar mengerenyit. Tapi tubuh dan kakinya tidak bergeming sedikitpun!
Lelaki misterius bersenjatakan tombak pendek itu memukul sekali lagi. Saat inilah tangan kiri Bahurekso berkelebat laksana pentungan menebas dari kiri ke arah batang leher lelaki yang menjadi lawannya itu sementara tangan kanan bersiap-siap untuk menggebrak dengan sabetan golok besarnya.
“Bedebah ini tahan pukulan rupanya. Aku mau lihat apa dia tahan yang satu ini.” Membatin lelaki misterius itu.
Lalu dia jatuhkan diri berlutut. Tangan kiri lawan menyambar di atas kepalanya. Tangan kanan yang berusaha membabat ke depan dengan golok dipukulnya dengan gagang tombak. Lengan dan hulu tombak itu beradu keras. Tetap saja Bahurekso tidak bergeming walau mukanya jelas mengerenyit menahan sakit. Lawan Bahurekso pergunakan kesempatan. Tombak pendek di tangan kanannya meluncur ke depan mengarah ke perut.
Bahurekso terpaksa berjumpalitan ke belakang. Sebelum sepasang kaki pimpinan rampok itu berpijak dengan benar. Lawannya telah mencecar dengan sapuan kaki yang deras, sang pimpinan rampok hilang keseimbangan lalu...
Brukk!
Dia jatuh terduduk di tanah!
Pada saat itulah lawannya menghantam kepala lawannya dengan gagang tombak. Terdengar jeritan keras. Tubuh pimpinan rampok itu terbanting ke tanah dengan kepala hancur. Darah muncrat membasahi semak belukar. Melihat pimpinannya tewas. Dua anggota komplotan rampok segera lari menyelamatkan diri.
Gendruk yang tengah terluka dan terduduk di bawah pohon jati besar dengan bersusah payah beringsut ke arah pemuda yang barusan telah menyelamatkan nyawanya.
"Anak muda!Aku mengucapkan terima kasih atas pertolongan mu ... "
" Lekas berdiri!" sentak pemuda itu ketika dilihatnya kusir kereta itu di hadapannya.
"Aku bukan Dewa atau Tuhan yang pantas kau sembah-sembah Dengar, aku akan pergi sekarang. Aku harus meneruskan perjalanan ku..."
Namun di belakangnya terdengar suara Suzane. Sejak tadi gadis ini telah memperhatikan pemuda yang tegak di depan kereta itu. Lewat jendela kecil di belakang kusir kereta Suzane berkata.
“Gendruk, suruh pemuda itu mendekat ke samping kereta. Saya mau berterima kasih dengannya.”
“Akan saya beritahu,” jawab kusir kereta.
Lalu dia berkata pada si pemuda.
“Anak muda, puteri majikanku ingin bicara denganmu. Temuilah dia.”
Lalu dia melangkah cepat-cepat ke samping kiri kereta. Saat itu pula kain tirai jendela tersingkap dan satu wajah jelita dengan rambut berwarna pirang menjulur keluar.
“Hemm… Ini rupanya sang puteri. Wajah dan dandanannya anggun. Aku yakin dia anak seorang anak tuan tanah. Kulitnya sangat putih tapi agaknya sudah agak berumur.” kata Randu Alas menilai dalam hati.
“Saudara, aku mengucapkan terimakasih kepadamu. Kalau tidak ada saudara tentu aku sudah disandera oleh kawanan begal itu “
“ Apa yang saya lakukan bukan hal yang terlalu dibesar –besarkan. Saya hanya kebetulan lewat saja “
Suzane tersenyum. Waktu tersenyum ini kelihatan lesung pipit muncul di kedua pipinya dekat dagu.
“ Apakah kau tinggal di sekitar sini?” tanya Suzane.
“ Saya datang dari jauh dan saya bermaksud untuk ke kotaraja Mataram. Barangkali nasib saya bisa mujur di sana.”
“Apakah kau punya nama?”
Pemuda ini tertawa lebar. “Setiap orang tentu saja punya nama…”
“ Lalu siapa namamu?”
“ Randu Alas…”
“ Apakah kau mau ikut bersama kami sampai di Kotaraja?”
Randu Alas tak menjawab.
Terdengar Suzane berkata lagi.
“ Hitung-hitung sebagai ucapan terimakasih. Toh, tujuan kita juga sama “
Randu Alas memandang pada kusir kereta yang telah berada di samping kereta.
Orang tua ini berkata setengah berbisik. “Ikuti saja permintaan anak majikanku !”
“ Baiklah, saya akan ikut bersama kalian.”
Suzane tersenyum gembira. Randu Alas melompat ke atas kereta bermaksud untuk menjadi kusir kereta menggantikan Gendruk yang terluka. Akan tetapi, orang tua itu melarangnya. Sehingga Randu Alas lalu duduk di depan di samping kusir tua. Si gadis berkata.
“ Jika kau mau kau boleh duduk di dalam sini.”
“ Terima kasih. Biar saya duduk di sini saja,” jawab Randu Alas.
Kusir tua menarik tali kekang kuda.
“ Siapa nama gadis cantik anak kompeni itu?” tanyanya.
“ Suzane,” jawab kusir kereta.
“ Nama bagus orangnya pun cantik…”
Baru saja dia berkata begitu tiba-tiba di sebelah belakang terdengar jeritan Suzane. Randu Alas singkapkan tirai jendela kecil di belakangnya. Suzane dilihatnya duduk ketakutan. Mukanya pucat dan matanya membeliak memandang keluar jendela.
“ Ada apa?” tanya Randu Alas sementara kuda penarik kereta memperlihatkan perilaku aneh.
“ Bin… binatang itu…” kata Suzane dengan suara gugup ketakutan. Dia menunjuk ke luar jendela dengan tangan gemetar. Dua ekor kuda penarik kereta tiba-tiba terdengar meringkik keras.
Randu Alas berpaling ke arah yang ditunjuk Suzane. Dia melihat apa yang menakutkan gadis itu.
Di balik semak-semak sepanjang jalan yang dilalui kereta, kelihatan bayangan sosok tubuh anjing besar dengan bulu berwarna kelabu kehitaman dan bermata merah. Binatang ini bergerak sejajar dan searah jalannya kereta. Kusir kereta sibuk berusaha menenangkan kuda yang tampak meringkik ketakutan.
“ Pak Tua,” kata Randu Alas,
“ Jalankan terus kereta ini.”
Lalu dia siap-siap melompat.
“ Kau hendak ke mana?” tanya kusir kereta.
“ Saya berusaha agar binatang itu tidak menyerang kereta,” jawab Randu Alas. Lalu dia melompat turun dari kereta dan berlari di sepanjang jalan antara binatang misterius berwujud anjing besar itu dan kereta. Di satu kelokan jalan anjing besar itu memutar larinya mendekati Randu Alas.
“ Anak muda, binatang itu hendak menyerangmu!” teriak kusir kereta.
Dari dalam kereta Suzane juga sudah melihat apa yang bakal terjadi. Gadis ini menutup wajahnya dengan kedua tangan seraya berdoa agar Randu Alas selamat dari binatang buas itu.
“ Jangan perdulikan saya!” teriak Randu Alas.
“ Larikan terus keretanya!” Lalu dia hentikan larinya.
Anjing besar bermata merah menyala itu berlari ke arah Randu Alas. Pemuda ini menggenggam hulu tombak pendek di tangan kanan dengan erat. Ketika binatang itu hanya tinggal lima langkah dari hadapannya dia segera angkat tangan kanannya untuk menyerang. Tapi anjing besar itu tiba-tiba hentikan gerakan dan berbalik arah. Lalu sosoknya menghilang di balik kerapatan semak belukar dan pepohonan jati yang menjulang tinggi.
Kaget Bahurekso bukan alang kepalang! Jika senjatanya yang paling diandalkan bisa dibuat gompal begitu rupa, ini sudah merupakan satu pertanda lebih baik dia angkat kaki dari pada meneruskan perkelahian! Tapi untuk melakukan hal itu tentu saja dia merasa malu terhadap anak buahnya yang berada ditempat itu.
Lewat jendela kecil di belakang kusir kereta itu, Suzane memandang ke luar, ke arah jalanan di depannya. Di sebelah sana dilihatnya seorang pemuda berambut panjang, berpakaian dan berikat kepala serba hitam berdiri tegak. Sebuah tombak pendek tergenggam erat di tangan kanannya.
“ Siapa kau?! Tidak perlu kau ikut campur dalam urusan ku ini ! “
Lelaki tadi hanya tersenyum tipis sembari berkata,
“ Segera saja kau dan anak buah mu minggat dari tempat ini. Atau sebentar lagi bangkai – bangkai anak buah mu dan mungkin juga diri mu akan terbujur di tengah rimba ini!”
Marahlah pimpinan rampok itu. Maka, diapun berteriak memberi perintah.
“ Bunuh baik ini! Cincang sampai lumat!”
Delapan orang bergerak. Delapan golok berkelebat. Saat itu lah terlihat sinar hitam menyambar - nyambar. Lalu…
Trang…!
Trang…!
Trang…!
Suara senjata beradu susul menyusul yang ditingkahi oleh suara jeritan-jeritan kematian! Empat anggota rampok tergelatak roboh mandi darah. Lalu menyusul dua orang lagi. Melihat ini dua orang lainnya menjadi ciut nyalinya. Hendak melompat mundur mereka takut pada sang pimpinan. Kalau maju terus pasti menerima nasib sama seperti enam kawan mereka itu! Mati kehilangan nyawa di ujung senjata lawan.
Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba terdengar teriakan Bahurekso.
“Mundur semua! Biar aku yang mematahkan batang lehernya! Akan kubetot jantung dan isi perutnya!”
Dari mulut Bahurekso terdengar suara berkeretekan rahang dan gerahamnya yang saling beradu. Matanya merah membara. Berewoknya dan kumis tebalnya berjingkrak. Dia melompat ke hadapan lelaki misterius bersenjata tombak pendek itu dengan golok terhunus.
Golok besar milik Bahurekso melesat ke arah batang leher si lelaki misterius. Lelaki itu cepat menunduk lalu hantamkan tinjunya ke perut lawan.
Buukk!
Jotosan itu tepat mendarat di perut pimpinan rampok. Mata orang ini membeliak besar dan mukanya yang kasar mengerenyit. Tapi tubuh dan kakinya tidak bergeming sedikitpun!
Lelaki misterius bersenjatakan tombak pendek itu memukul sekali lagi. Saat inilah tangan kiri Bahurekso berkelebat laksana pentungan menebas dari kiri ke arah batang leher lelaki yang menjadi lawannya itu sementara tangan kanan bersiap-siap untuk menggebrak dengan sabetan golok besarnya.
“Bedebah ini tahan pukulan rupanya. Aku mau lihat apa dia tahan yang satu ini.” Membatin lelaki misterius itu.
Lalu dia jatuhkan diri berlutut. Tangan kiri lawan menyambar di atas kepalanya. Tangan kanan yang berusaha membabat ke depan dengan golok dipukulnya dengan gagang tombak. Lengan dan hulu tombak itu beradu keras. Tetap saja Bahurekso tidak bergeming walau mukanya jelas mengerenyit menahan sakit. Lawan Bahurekso pergunakan kesempatan. Tombak pendek di tangan kanannya meluncur ke depan mengarah ke perut.
Bahurekso terpaksa berjumpalitan ke belakang. Sebelum sepasang kaki pimpinan rampok itu berpijak dengan benar. Lawannya telah mencecar dengan sapuan kaki yang deras, sang pimpinan rampok hilang keseimbangan lalu...
Brukk!
Dia jatuh terduduk di tanah!
Pada saat itulah lawannya menghantam kepala lawannya dengan gagang tombak. Terdengar jeritan keras. Tubuh pimpinan rampok itu terbanting ke tanah dengan kepala hancur. Darah muncrat membasahi semak belukar. Melihat pimpinannya tewas. Dua anggota komplotan rampok segera lari menyelamatkan diri.
Gendruk yang tengah terluka dan terduduk di bawah pohon jati besar dengan bersusah payah beringsut ke arah pemuda yang barusan telah menyelamatkan nyawanya.
"Anak muda!Aku mengucapkan terima kasih atas pertolongan mu ... "
" Lekas berdiri!" sentak pemuda itu ketika dilihatnya kusir kereta itu di hadapannya.
"Aku bukan Dewa atau Tuhan yang pantas kau sembah-sembah Dengar, aku akan pergi sekarang. Aku harus meneruskan perjalanan ku..."
Namun di belakangnya terdengar suara Suzane. Sejak tadi gadis ini telah memperhatikan pemuda yang tegak di depan kereta itu. Lewat jendela kecil di belakang kusir kereta Suzane berkata.
“Gendruk, suruh pemuda itu mendekat ke samping kereta. Saya mau berterima kasih dengannya.”
“Akan saya beritahu,” jawab kusir kereta.
Lalu dia berkata pada si pemuda.
“Anak muda, puteri majikanku ingin bicara denganmu. Temuilah dia.”
Lalu dia melangkah cepat-cepat ke samping kiri kereta. Saat itu pula kain tirai jendela tersingkap dan satu wajah jelita dengan rambut berwarna pirang menjulur keluar.
“Hemm… Ini rupanya sang puteri. Wajah dan dandanannya anggun. Aku yakin dia anak seorang anak tuan tanah. Kulitnya sangat putih tapi agaknya sudah agak berumur.” kata Randu Alas menilai dalam hati.
“Saudara, aku mengucapkan terimakasih kepadamu. Kalau tidak ada saudara tentu aku sudah disandera oleh kawanan begal itu “
“ Apa yang saya lakukan bukan hal yang terlalu dibesar –besarkan. Saya hanya kebetulan lewat saja “
Suzane tersenyum. Waktu tersenyum ini kelihatan lesung pipit muncul di kedua pipinya dekat dagu.
“ Apakah kau tinggal di sekitar sini?” tanya Suzane.
“ Saya datang dari jauh dan saya bermaksud untuk ke kotaraja Mataram. Barangkali nasib saya bisa mujur di sana.”
“Apakah kau punya nama?”
Pemuda ini tertawa lebar. “Setiap orang tentu saja punya nama…”
“ Lalu siapa namamu?”
“ Randu Alas…”
“ Apakah kau mau ikut bersama kami sampai di Kotaraja?”
Randu Alas tak menjawab.
Terdengar Suzane berkata lagi.
“ Hitung-hitung sebagai ucapan terimakasih. Toh, tujuan kita juga sama “
Randu Alas memandang pada kusir kereta yang telah berada di samping kereta.
Orang tua ini berkata setengah berbisik. “Ikuti saja permintaan anak majikanku !”
“ Baiklah, saya akan ikut bersama kalian.”
Suzane tersenyum gembira. Randu Alas melompat ke atas kereta bermaksud untuk menjadi kusir kereta menggantikan Gendruk yang terluka. Akan tetapi, orang tua itu melarangnya. Sehingga Randu Alas lalu duduk di depan di samping kusir tua. Si gadis berkata.
“ Jika kau mau kau boleh duduk di dalam sini.”
“ Terima kasih. Biar saya duduk di sini saja,” jawab Randu Alas.
Kusir tua menarik tali kekang kuda.
“ Siapa nama gadis cantik anak kompeni itu?” tanyanya.
“ Suzane,” jawab kusir kereta.
“ Nama bagus orangnya pun cantik…”
Baru saja dia berkata begitu tiba-tiba di sebelah belakang terdengar jeritan Suzane. Randu Alas singkapkan tirai jendela kecil di belakangnya. Suzane dilihatnya duduk ketakutan. Mukanya pucat dan matanya membeliak memandang keluar jendela.
“ Ada apa?” tanya Randu Alas sementara kuda penarik kereta memperlihatkan perilaku aneh.
“ Bin… binatang itu…” kata Suzane dengan suara gugup ketakutan. Dia menunjuk ke luar jendela dengan tangan gemetar. Dua ekor kuda penarik kereta tiba-tiba terdengar meringkik keras.
Randu Alas berpaling ke arah yang ditunjuk Suzane. Dia melihat apa yang menakutkan gadis itu.
Di balik semak-semak sepanjang jalan yang dilalui kereta, kelihatan bayangan sosok tubuh anjing besar dengan bulu berwarna kelabu kehitaman dan bermata merah. Binatang ini bergerak sejajar dan searah jalannya kereta. Kusir kereta sibuk berusaha menenangkan kuda yang tampak meringkik ketakutan.
“ Pak Tua,” kata Randu Alas,
“ Jalankan terus kereta ini.”
Lalu dia siap-siap melompat.
“ Kau hendak ke mana?” tanya kusir kereta.
“ Saya berusaha agar binatang itu tidak menyerang kereta,” jawab Randu Alas. Lalu dia melompat turun dari kereta dan berlari di sepanjang jalan antara binatang misterius berwujud anjing besar itu dan kereta. Di satu kelokan jalan anjing besar itu memutar larinya mendekati Randu Alas.
“ Anak muda, binatang itu hendak menyerangmu!” teriak kusir kereta.
Dari dalam kereta Suzane juga sudah melihat apa yang bakal terjadi. Gadis ini menutup wajahnya dengan kedua tangan seraya berdoa agar Randu Alas selamat dari binatang buas itu.
“ Jangan perdulikan saya!” teriak Randu Alas.
“ Larikan terus keretanya!” Lalu dia hentikan larinya.
Anjing besar bermata merah menyala itu berlari ke arah Randu Alas. Pemuda ini menggenggam hulu tombak pendek di tangan kanan dengan erat. Ketika binatang itu hanya tinggal lima langkah dari hadapannya dia segera angkat tangan kanannya untuk menyerang. Tapi anjing besar itu tiba-tiba hentikan gerakan dan berbalik arah. Lalu sosoknya menghilang di balik kerapatan semak belukar dan pepohonan jati yang menjulang tinggi.
Diubah oleh breaking182 20-06-2018 20:27
axxis2sixx dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Kutip
Balas