Kaskus

Story

erdygan123Avatar border
TS
erdygan123
[COPAS] THE MAD TRIP ( copas dari forum semprot)
Question & Answer
[COPAS] THE MAD TRIP ( copas dari forum semprot)



Kok judulnya ada copas dari forum sebelah bro?
Ya ane emang 100% copy paste tu cerita disini dari tu forum g ditambahin & g dikurangin

**edited: sekarang TS akan makai versi wattpad

Tambahan dari pembuat cerita


Quote:


kalau mu baca ini linknya https://www.wattpad.com/287011520-th...anda-dari-laut



eh lu mau bagi cerita stensilan ye copy dari forum tu?
SORY YE...ane bagi cerita ini karena prihatin aje cerita di forum tercinta ini sudah g ada fellnya/ kurang greget dari cerita tahun tahun dulu jaman pujangga lama dll...fellnya g dapat di cerita sekarang makenye ane nyoba bagi cerita ini biar jade ispirasi buat penulis baru disini


ini cerita bb+ dong kalau diambil dari forum itu
Anggap aja sebagai bumbu....tapi cerita ini intinya g bb+ itu kok ada makna dibalik cerita..cie ngelantur ane kalau ngomong



kok nggak ada indexnya bro emoticon-Mademoticon-Blue Guy Bata (L):
emang sengaja nggak dikasih indexemoticon-Ngakak (S)buka aja perhalaman biar fellnya dapet emoticon-Leh Uga
Diubah oleh dipretelin 27-06-2018 10:24
anasabilaAvatar border
nona212Avatar border
jokoariyantoAvatar border
jokoariyanto dan 3 lainnya memberi reputasi
4
96.9K
141
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
erdygan123Avatar border
TS
erdygan123
#58
Lanjutan

Ini orangtua kepo juga ternyata. Mau tau aja urusan anak muda. "Sebenernya mantan pacar, Koh. Tapi itu cerita di masa lalu. Engkoh sendiri kenal deket sama orangtuanya Aurel?"

"Kenal, kenal. Bisa dibilang, saya berhutang sama papanya anak itu." Pak Salim ngulas senyum getir. Ini Engkoh kenapa kalo mukanya sendu gitu bikin miris sih, ahelah! "Ini cuma tentang uang lima puluh ribu, di jaman delapan puluhan dulu. Tapi itu cerita di masa lalu. Hmm, hmm... sama seperti kamu."

Oke, beliau mulai ngeselin.

"Nak, saya mau cerita sama kamu," kata beliau tiba-tiba. "Saat kamu bilang kamu ini mantan pacarnya, saya jadi teringat sesuatu."

Oke, sekarang gue mau dijadiin temen curhatnya.

"Engkoh cerita aja. Saya pendengar yang baik kok, meski suka ngawur kalo ngasih saran."

"Hmm, hmm...." beliau sedikit bergumam. Gue mulai nebak, ini kayak jadi semacam kebiasaan beliau untuk nyusun kalimat supaya tertata dan nyambung pas disampein ke orang. Rasanya, gue jadi sedikit ngerti kenapa Pak Salim suka digosipin ngomong sendiri. Beliau jarang ngomong sama orang lain, dan kebiasaannya ini jadi semacam latihan bagi beliau supaya lancar pas ngomong sama orang lain.

Mungkin, itu karena beliau udah terlalu lama larut di kesendirian.

"Jadi begini nak," beliau nepuk bahu gue, "Dulu, saya sempat mau jodohken anak bungsu saya dengan anaknya Ardi Hartawan yang pertama ini. Menurut saya, ini penting. Selain untuk memperkuat jaringan bisnis diantara kami berdua, selain itu juga karena saya pikir Aurel ini gadis yang sempurna untuk anak bungsu saya.

"Nak, dia itu cantik, cerdas, pekerja keras dan ambisius luar biasa--namun ndak lantas menggunaken segala cara buat mencapai tujuannya. Apa lagi yang lebih baik dari itu semua? Jujur, saya utarakan langsung niat saya ke Ardi, tapi pria itu terlalu diplomatis. Bertiga, saya, Ardi dan anaknya, Aurel... bertemu di suatu siang. Disitu, niat saya ditolak secara halus. Tahu apa alasannya?"

Gue geleng kepala, pelan. Firasat bakal baper nih.

"Anak itu... sambil tersenyum dan mohon maaf berkali-kali, dia bilang ndak bisa menerima niat baik saya. Saya adalah orang yang ndak bisa menerima penolakan jika alasannya ndak tepat. Disana, Cici kecil itu terpaksa menjelasken alasannya. Di depan saya dan ayahnya sendiri. Dia bilang, dia masih menunggu seseorang. Alasan yang muluk-muluk, bukan?

"Saya langsung tersinggung waktu itu. Siapa orang yang dia tunggu? Apa orang itu lebih sukses dari anak saya? Pendidikannya lebih tinggi? Punya apa dia sampai anaknya Ardi malah memilih orang itu. Saya seketika pamit, tapi Aurel mengejar saya sampai keluar restoran. Di tempat parkir, anak itu membungkukkan badan seraya minta maaf sama saya.

"Meski saya sudah tua, tapi saya masih ingat betul apa kata-katanya waktu itu. Dia bilang, 'Saya betul-betul minta maaf, tapi saya tidak bisa menerima perjodohan ini. Saya sedang menunggu seseorang, berharap orang itu hadir kembali di hidup saya. Engkoh Salim, saya butuh sosoknya; untuk memastikan perasaan saya sendiri... juga perasaan dia. Apapun yang terjadi setelah itu, saya terima. Tapi bukan saat ini, karena saya masih menunggu dia hadir lagi.'"

Gue diem dengerin Pak Salim selesein ceritanya. Tapi, gue rasanya tau siapa orang yang dimaksud dalam cerita beliau. Bukan maksudnya kege'eran. Ini hanya, karena kami pernah bersama dan mengikat perasaan satu sama lain... gue jadi tau apa yang Aurel tunggu. Cowok bego dan ugal-ugalan bernama Febri ini.

"Nak, dari tatapan mata anak itu, sikapnya, caranya marah dan mencuri perhatian kamu... saya sudah tahu. Saya hidup setua ini untuk menikmati beragam pengalaman, dan menebak perasaan seseorang lewat tatapan matanya adalah keahlian saya. Kamu, adalah orang yang dia tunggu-tunggu," jelas beliau sambil ngeliatin gue.

Gue cuma bisa ngebales tatapan matanya lewat senyum kecil. Tapi Pak Salim ga tau, bahwa ada kisah yang hampir sama menyedihkannya dengan kisah gue sama Manda. Waktu sama Aurel. Bedanya adalah, gue waktu itu sama sekali ga berjuang; malah lebih milih kabur. Berharap keduanya sama-sama melupakan. Di kota yang baru, proses gue ngelupain Aurel dibantu oleh sosok Manda yang hadir perlahan di perasaan gue. Manda ga ngegeser Aurel, cewek itu masih tetep ada di salah satu bagian terdalam di hati. Manda justru ngebuat ruang baru di sana. Keputusan gue lah yang memilih buat simpen perasaan gue buat Aurel baik-baik, dikunci rapet dan ditinggal di masa lalu. Aurel ga ada lagi di proses gue berkembang dewasa.

Rasanya jahat, emang. Apalagi kenyataan bahwa cewek itu lebih milih nunggu gue. Lebih jahat lagi, gue ga ngasih dia kesempatan kedua buat hadir lagi di hidup gue ini. Dari sini, gue tau siapa yang ga pantes untuk siapa. Mulai dari strata materi dan sosial sampe kualitas perasaan. Gue ngerasa... gue ga sanggup bersaing dengan perjuangannya buat gue.

Bahkan sampe sekarang pun dia masih berjuang.

"Aurel itu... saya seakan bercermin kalau melihat dia." Pak Salim ngulas senyum kecil yang getir. Gue ngeliatin arah pandangan matanya, tertuju ke gundukan kecil berbingkai bata-bata monokrom yang ada di tengah-tengah danau. "Lihat foto yang di ruang tamu? Beberapa tahun setelah foto itu diambil, istri saya meninggal dunia. Istri saya itu... dia adalah wanita yang saya sayang dan cintai sampai mati. Kehilangan orang yang berarti untuk kita, akan mendatangkan kesedihan yang ndak bisa dijelaskan kata-kata. Sepeninggal istri, saya memaksaken diri tenggelam dalam pekerjaan. Berusaha melupakan rasa sedihnya ditinggalkan. Berhasil? Ndak. Saya sadar, itu cuma pelarian. Rasa sedih itu ndak akan pergi kalau ndak saya hadapi. Akhirnya, saya memutusken ndak lari lagi. Saya menerima kenyataan bahwa istri saya sudah ndak ada.

"Nak, Aurel yang setia menunggu kamu itu mirip seperti saya yang sedang menunggu waktu untuk bertemu dengan istri saya. Orang-orang yang menunggu ini diberi secuil harapan, bergantung pada asa yang rasanya mustahil itu. Bedanya, harapan Aurel masih ada di dunia, sementara harapan saya bukan di dunia ini lagi. Hanya dibalik saja persepsinya. Aurel menunggu semesta arahkan kamu ke dia; sementara saya menunggu semesta mengantarkan saya ke alam lain untuk bertemu kembali dengan istri saya. Menunggu itu lebih menyakitkan dari kehilangan, Nak. Hidup dalam ketidakpastian. Katakan... apa yang lebih pahit dari hidup bermodal harapan tanpa tahu hasilnya?"

Gue ikut-ikutan senyum getir. "Ada Koh. Hidup bermodal kesalahan dari masa lalu dengan kenyataan kita ga bisa merubah apa yang udah terjadi. Karena ga bisa ngerubah, kita jadi berharap sama hari esok. Berharap akan kesempatan kedua, yang ga tau kapan akan datang," jawab gue.

Yap, jawaban itu ngewakilin apa yang gue rasain sekarang. Perwakilan dari semua penyesalan, pilihan-pilihan salah yang gue ambil, dan rasa sakit yang mesti gue tanggung sendirian.

"Hmm... hmmm...." Lagi-lagi, beliau menggumam. "Jawaban yang bagus, Nak," katanya, sambil nepuk bahu gue lagi. "Nah, cerita saya selesai sampai disini. Sekarang, giliran kamu. Saya punya banyak waktu merentalkan kuping saya untuk mendengarken kisah muda-mudi," tambahnya.

"Ah, saya mana ada cerita muda-mudi Koh. Kalo cerita lucu, banyak."

"Hooo... saya sudah ndak kuat tertawa. Jangan, jangan cerita lucu. Bagaimana kalau saya sedikit ingin tahu kamu lebih jauh? Bisa dimulai dari... kamu lulusan sarjana jurusan apa?"

"Saya ga nerusin kuliah, Koh. Cuti, tapi kelamaan cutinya, ahahahaha."

"Hmm... hmmm... masih lebih baik anak bungsu saya. Cum Laude. Lalu, kamu kerja?"

Gue geleng-geleng, pelan. "Pengangguran ga jelas, Koh. Anak Engkoh Salim kerja?"

"Wah, kamu bercanda, Nak. Anak saya itu sudah kelola salah satu perusahaan saya. Jauh kamu dibanding dia soal materi," bales Pak Salim.

Oke, beliau mulai bikin gue emosi dengan banding-bandingin gue sama anaknya. Potensi gue selengkat entar, liat aja.

"Tapi Nak." Pak Salim lagi-lagi nepuk bahu gue. Hal ini bikin gue curiga kalo dia hobi nepuk bahu orang, dan bakal sakaw kalo sekali aja ga ngelakuin itu pas lagi ngobrol. "Sudah saya bilang, saya hidup setua ini untuk menikmati pengalaman. Salah satunya ya itu... melihat apa yang ndak dilihat lewat tampak luarnya. Kamu itu jauh lebih baik dari anak saya di bagian ini," beliau nunjuk kepala gue, "Dan disini," lalu beralih ke tengah dada gue.

"Kamu punya kualitas diri yang tinggi. Kritis, namun masih idealis," lanjut beliau. "Pada akhirnya, yang menentukan seberapa berharganya kualitas diri seseorang adalah pola pikir dan ketulusan hatinya. Bukan... bukan gaya hidup, atau seberapa besar materi. Namun kamu tetap butuh materi Nak, itu untuk modal kamu menjalani hidup ini. Tapi dapatken lewat cara yang baik. Saya percaya, suatu saat nanti kamu akan jauh lebih sukses dari anak saya--ketiganya. Itu kalau kamu mau berusaha keras. Saya harap, saya masih hidup sampai saat itu tiba."

Ah, nasehat yang baik. Beliau ngasih gue nasehat dari sudut pandang idealis gue, tapi masih ga ngelupain apa yang dibutuhin realita. Seketika, gue sadar. Gue yang sekarang belom cukup baik untuk bersanding dengan siapapun. Masih banyak yang mesti gue benerin, masih panjang jalan yang mesti gue lewatin.

Gue nangkep kesimpulan apa yang disampein sama Pak Salim. Gue harus jadi orang yang ngejalanin apa-apa aja yang tersaji di kehidupan nyata, tanpa harus ngebuang mimpi-mimpi dan harapan. Gue bisa jalanin keduanya. Mau orang bilang mustahil kek, omong kosong kek, ga akan kesampean kek, bodo amat. Intinya adalah, realita mengikuti mimpi-mimpi dan harapan.

Yap, realita menguji. Itu fakta. Kadang, kenyataan yang hadir seakan ngasih tau kalo kita mesti stop mimpi ketinggian dan hadapi kenyataan. Awalnya, itu juga yang gue liat. Tapi apa ga ada yang pernah mikir kalo kenyataan itu cuma menguji? Seberapa berkualitas mimpi dan harapan kita? Seberapa keras kita mau perjuangin itu semua? Seberapa tahan kita dihajar realita, lalu pantes nerima apa yang kita minta?

Gaes, Tuhan memberi apa yang kamu butuhkan. Tapi ga menutup kemungkinan Dia mengabulkan apa yang kamu inginkan, lewat kepanjangan tangan-Nya--semesta. Diatur sedemikian rupa lewat rintangan dan hambatan, supaya kita sadar... ini harga yang pantas untuk sebuah keinginan. Supaya kita sadar... untuk lebih menghargai apa yang kita dapatkan.

Asik. Gue keren banget untuk satu paragraf kuncian itu.

"Yah... ini saran dari orangtua. Kamu coba buka perasaan kamu lagi buat anak itu," lanjut Pak Salim--lengkap dengan tepukan di bahu untuk kesekian kali, sambil nunjuk ke Aurel. "Saya lihat kamu belum bisa terbuka lagi buat dia. Betul?"

Gue ngangguk. Begonya, kenapa gue setuju?

"Nah, itu dia. Rasanya ndak adil bukan, kamu buka hati lagi untuk gadis yang di sebelah sana," tunjuk beliau ke Manda yang lagi berenang ngasal di danau, "Sementara, kamu menjaga jarak untuk Aurel. Hmm... saya bukannya mau sok tahu, Nak. Tapi, kamu hanya takut kalau nanti kamu buka hati kembali untuk anak itu, kamu jadi takut untuk memilih. Kamu sadar betul, pilihan itu pasti akan datang. Dan kamu juga sadar, lebih mudah memilih yang mana."

BUANGSSSSAAAAAATTTT~~~~~! Ini engkong-engkong amoy kenapa bisa tau isi pikiran gue? Yang... yang... bahkan, belom gue deskripsiin di paragraf-paragraf di kisah ini sama sekali! Takjub sekaligus kaget dan kagum juga heran, gue tatap mata Pak Salim. Beliau, bales dengan kedipin sebelah mata. Njirr, genit juga dia.

"Lho, ndak usah kaget Nak." For another fucking time, Pak Salim nepuk bahu gue lagi. Oke, ini mulai ngeri. Dia nepuk bahu gue terus, dan ini ga bisa dibiarin. "Saya bisa baca dari sorot mata kamu. Orang-orang bilang, mata bicara lebih jujur daripada mulut. Ingat, saya hidup setua ini--"

"--Untuk menikmati pengalaman, I know that." Sengaja gue potong kalimat pamungkas beliau yang satu ini. Gue mulai hafal sama quotenya. Gue lalu meringis ke Pak Salim, memohon supaya berenti masuk lebih jauh ngebacain isi pikiran sama perasaan gue.

Sumpah, gue ga suka kalo ada orang yang bisa masuk ke bagian-bagian itu seenaknya. Seenggaknya, ini gue lakuin supaya ga bingung harus nentuin pilihan nanti.

"Nak Febri. Sejauh yang saya tahu, Aurel itu kuat. Kualitas perasaannya ndak perlu diragukan lagi. Untuk saat ini, pilihan hati memang sebaiknya jatuh ke dia," kata Pak Salim lagi. Asli, makin bawel ini orangtua. "Kecuali, kamu punya dasar pertimbangan untuk meneruskan pilihan kamu sekarang. Saya takut, gadis yang di sana hanya akan menimbulken luka untuk kamu," tambah Pak Salim sambil sekali lagi nunjuk Manda.

Woiya jelas ada alesan dan pertimbangan. Selalu ada, Pak Salim. Harus gue cerita sekarang?

"Koh, sebenernya...."

Dan cerita itu meluncur tanpa bisa di rem lagi. Gue nyerocos seada-adanya cerita mulai dari awal pisah sama Aurel, ketemu Manda, gimana lewat hal-hal beragam (yang konyol dan bahkan menyedihkan) gue dan Manda akhirnya bisa ngelewatin segala masalah bersama. Gimana kehidupan dia, masa lalunya, apa-apa aja yang mesti dia laluin buat jadi dirinya yang sekarang. Gue mau kasih pandangan baru ke Pak Salim, kalo....

"Rasanya ga adil kalo saya ga cerita tentang Manda ke Engkoh. Saya cuma mau kasih persepsi beda, gimana seseorang ngejalanin hidup. Saya cuma... mau jujur sama perasaan saya," bales gue.

Pak Salim keliatan lagi mikir keras sekarang. Begitu keras, sampe gue susah bedain sekarang beliau lagi pasang muka serius atau nahan boker. Sedikit lagi beliau belom bersuara, gue bakalan ngejauh aja sebelum kecium bau-bau busuk yang ga enak. Tapi tepat pas gue mutusin mau bangun, Pak Salim ngomong juga. Ternyata bener, beliau lagi mikir--bukan nahan cepirit.

"Nak, jadi kamu mau pilih yang mana?" tanya beliau, singkat. No bawel, no ceramah, no nasehat. Murni nanya.

"Saya udah bilang tadi Koh," gue senyum lebar ke Pak Salim, "Saya mau jujur sama perasaan saya. Aurel emang pernah ada di hati saya -acielah ngomongin hati- tapi perasaan itu tertinggal di masa lalu. Cukup masa lalu saya yang sayang sama Aurel, sedangkan... masa saat ini, mau saya pake untuk kejar kesempatan kedua. Saya tau banget hasil akhirnya gimana, tapi seenggaknya saya mau berusaha." Gue sengaja ngeja kalimat yang bakal gue bilang ini baik-baik, biar terkesan tegas gitu. "Saya-engga-mau-kabur-dari-kenyataan-lagi."

"Terus kalau hasilnya buat kamu kecewa? Kamu mau berpaling ke orang yang masih terus menunggu kamu?"

Gue, geleng tegas. "Saya ga mau jadiin orang lain pelarian. Kalo pun saya kecewa nanti, biar itu jadi urusan saya. Perasaan saya ada di Manda, dari masa lalu--yang ajaibnya bisa awet terbawa ke masa sekarang. Jadi, saya ga akan nyesel saat kecewa nanti. Karena saya menjemput kesempatan kedua, bukan cuma nungguin hal itu dateng aja."

Bersamaan dengan statemen ini, gue negesin hati. Gue ga ragu lagi buat berjuang kejar kesempatan kedua ini. Udah cukup main kabur-kaburannya. Udah cukup gue ngerasa ketakutan sendiri akan sakit hati yang berujung sama krisis kepercayaan kalo hubungan jarak jauh itu adalah bencana. Udah cukup gue ninggalin Aurel, lalu Manda--di tengah-tengah proses kita berdua menuju bahagia.

Gue ga nyalahin Bokap yang lebih milih balik lagi ke Jakarta di pertengahan gue semester pertama kelas tiga--borong sekeluarga ikut dia. Kepala keluarga emang harus ngambil keputusan terbaik untuk seluruh anggotanya. Ini murni kesalahan gue, yang ga bisa ngeyakinin diri sendiri dan Manda untuk tetep berjuang bareng-bareng meski kepisah jarak. Dan demi perbaikin kesalahan ini, gue coba lagi sekarang. Meski, momennya salah.

Meski, Manda udah jadi tunangan orang.

Hari ini juga, gue baru sadar. Manda adalah alesan kenapa gue ngerasa datar ngejalanin masa-masa pacaran sama mantan-mantan setelah dia. Ga ada yang bisa gantiin cewek itu; ga ada yang bisa nyamain rasa nyaman ketika sama dia.

Oh iya, gue juga kepikiran pertanyaan ini pas lagi proses mikir. Aurel dan Manda sama-sama bagian dari masa lalu gue, tapi kenapa cuma perasaan ke Manda yang gue angkat dari masa lalu ke perasaan saat ini? Pada akhirnya, ini tentang pilihan. Tentang jujur pada diri sendiri, dan mengais kembali harapan yang pernah dibuang--untuk kembali diperjuangkan.

Gue lalu bangkit, berdiri. Ngulet sampe semua otot kerasa renggang, terus gue pamit buat nyusul ketiga cewek yang ga ada bosennya main air dari tadi. Sebelum pergi, Pak Salim minta tolong dibangunin. Alesannya, udah tua, ga bisa bangun sendiri.

Lah ya keles, duduk bisa bangunnya engga. Gimana sih ini orang?

"Nak, saya mau cerita lagi." Pak Salim nepuk bahu gue lagi. Engga, kali ini bahu gue dipegangin biar ga ninggalin beliau. Oke, metode baru. "Di tengah-tengah danau, disana kuburan istri saya." Pak Salim nunjuk gundukan yang ada di tengah, dikelilingi air. "Saya sengaja tebar abu hasil kremasi jasad dia disana, karena saya tahu... istri saya sayang sekali dengan pulau ini. Satu-satunya yang masih membuat saya dekat dengan istri saya adalah pulau ini, pasir ini, villa disana, dan orang-orang di sekitar sini.

"Yang mau saya bilang adalah... jangan terjebak dengan masa lalu. Jangan seperti saya, terlalu lekat dengan masa lalu sampai-sampai ndak bisa lepas darinya. Fisik saya ada pada saat ini, tapi pikiran dan hati saya tertinggal di tempat ini, bertahun-tahun lalu. Mungkin, kamu dikirim semesta untuk memberitahu saya itu. Lewat cerita-cerita tentang Manda-mu. Mungkin...." Pak Salim tiba-tiba meluk gue erat.

Bukan, ini bukan pelukan homo cowok ke cowok lain. Ini pelukan seseorang yang menyimpan luka, menunggu orang yang tepat untuk menyembuhkannya. Ini pelukan seorang kakek tua yang menunggu kesempatan dan harapan, meski harus mengarungi waktu yang menjemukan. Ini pelukan dari ayah yang selalu melihat ke belakang, yang disadarkan anaknya bahwa selalu ada jalan di depan.

"Nak... mungkin kamu itu kiriman dari istri saya di atas sana, untuk menyadarkan saya untuk ndak menunggu waktu. Mungkin, kamu... lewat tangan-tangan semesta, adalah orang yang menjawab semua pertanyaan-pertanyaan saya yang ndak pernah ketemu satu jawaban pun sebelumnya. Terima kasih," kata Pak Salim, tulus... sambil jabat tangan gue.

"Terima kasih untuk mengingatkan saya di sisa waktu yang ndak banyak ini, bahwa masih ada masa depan. Istri saya bukan ada di masa lalu sana, Nak. Istri saya ada di masa depan, menunggu saya berjalan ke sana."

Yah, agak panjang dan bawel sih kalimat penutup beliau. Dramatis abis. Gue sampe hampir ikutan terharu, tapi gengsi gue lebih gede dong. Gue ga mau nanti cewek-cewek itu ngeliatin ada dua orang laki-laki lintas usia lagi mewek bareng-bareng.

It's so not manly, gaes.

Pak Salim pamit balik lagi ke villanya beliau. Sementara gue nyusul cewek-cewek itu untuk ngajak balik ke Tidung. Di akhir perjumpaan gue sama Pak Salim, ada satu harapan terucap dari bibir keriputnya. Semoga sukses, katanya. Entah untuk sukses yang mana. Pokoknya yang penting sukses.

Diskusi ngehek penuh baper bareng Pak Salim seakan jadi cerminan untuk satu sama lain. Gue belajar banyak, begitu pun beliau. Dan pelajaran ini gue jadiin momentum untuk mantepin hati, sementara Pak Salim jadiin momen buat pungut lagi waktu-waktu yang sempet tercecer karena selalu nengok ke masa lalu.

"Loh, Koh Salim kemana?" tanya Aurel pas gue nyamperin mereka.

Gue mesti kontrol mata gue mati-matian biar ga jelalatan ngeliatin daleman Aurel yang sekarang kecetak jelas akibat main basah-basahan. Yaelah, ngeliat juga kan akhirnya. Sementara Manda, jauh lebih... basah dari pas snorkeling tadi. Tahan, tahan... satu-satunya harapan gue itu nengok ke body Devi yang selama ini ga bikin gue nafsu sama sekali. Shit, gue nengok pas banget sama keadaan Devi yang lagi mantatin gue karena lagi nyari jepit rambutnya yang ilang di pasir. Duhilah itu pantat, bulet banget.

"Masuk duluan, mau istirahat katanya," bales gue.

Langsung aja buru-buru gue ajak mereka bertiga cabut dari sini. Setelah Aurel ambil tasnya di salah satu kursi di pinggir pantai, kita pun bertolak balik ke Tidung. Ribetnya, Aurel sama Devi minta ikut bareng naik kapal kayu, terus nyuruh speedboatnya berangkat sendiri.

BERSAMBUNG

Diubah oleh erdygan123 18-06-2018 21:49
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.